Phosphorescent

.

.

You better read this alone in the middle of the night, without a single light. And, who knows who will stay beside, maybe read along with you. Boo!

.

.

Sixth, Red Dress

.

.

Sehari setelah hari mengerikan itu terjadi, Shalom datang ke rumah Kyungsoo dengan raut wajah sayu dan kelelahan. Dia seperti baru saja dikejar-kejar dan kini tengah mengistirahatkan diri. Aku bertanya apa yang terjadi padanya sampai seperti itu, dan mengapa dia memaksakan diri mengunjungiku padahal kondisinya tak terlihat baik.

Dia memberi senyum kekanakan.

"Aku baru saja dihajar semalam, oleh tangan-tangan tak kasat mata. Tak apa, aku sudah kelewat biasa."

Dan Kyungsoo memilih ke dalam mengambilkan beberapa minuman dan camilan ringan.

Dia bertanya tentang keadaanku, apa yang aku lihat, dan apa yang aku rasakan. Aku memberitahu semua yang terjadi, cerita itu meluncur mulus tanpa beban. Shalom duduk diam, mendengarkan dengan wajah tanpa ekspresi.

Dia hanya berkata padaku. "Kau harus melakukan sesuatu, bukankah kau berjanji akan melakukannya?"

Aku menghela nafas, pertanyaan itu menyudutkanku. Aku berpikir untuk menuruti kata Mama soal hal ini begitu aku tertimpa musibah itu, tetapi, kini aku merasa ragu. Aku takut akan mengetahui hal-hal menakutkan yang tidak ingin aku ketahui. Seperti yang selalu aku lakukan tiga tahun lalu sebelum ulangtahunku yang ketujuhbelas; aku memilih menghindari kenyataan.

Karena seingatku; proses itu benar-benar menyakitkan. Aku takut melakukan hal yang sama namun membuahkan hasil yang sama pula; mereka kembali terlihat dan mengganggu dan aku benci kenyataan itu.

"Lantas kau memilih diganggu seumur hidup? Setahuku, sangat sulit menutup penglihatan semacam ini; mendekati tidak mungkin." Aku masih ingat Shalom mengalihkan pandangannya dariku saat mengatakannya.

"Kumohon jangan terpengaruh."

Kalimat-kalimat itu membuatku berpikir dua kali, tapi, saat itu aku menyerah. Aku tidak mau.

.

.

.

Siang itu aku baru saja menyelesaikan praktikum, dan aku masuk ke kafetaria memesan makan siang dengan tubuh masih beraroma cairan kimia. Astaga, aroma ini sungguh memualkan meski harusnya aku sudah terbiasa. Baekhyun dan Kyungsoo mengatakan mereka akan menyusul kemari setelah ke perpustakan, sesuatu tentang buku yang sudah kehabisan masa pinjam dan entahlah. Kurasa aku tak terlalu mendengarkan.

Seporsi mie pedas—yang aku tak tahu apa nama aslinya, tersaji cukup menggiurkan dengan sebotol air mineral dingin; sejujurnya aku tak tahu mengapa aku tidak bernafsu menghabiskannya, aku hanya merasa aku harus makan.

Aku memakannya pelan-pelan. Meski aku tak merasa lapar, aku harus menghabiskannya jika tidak ingin kehilangan tenaga.

Pada suapan kesekian kali saat mangkukku tinggal setengah, aku mulai merasakan hal aneh. Rasanya menjadi berbeda dan seketika aku tersedak. Aku terbatuk keras, setengah mati meraih botol mineral dan meneguknya cepat. Oh, astaga… Aku merasa tenggorokanku terbakar dan lambungku mual setengah mati.

Keringat dingin bercucuran dan aku merasa sangat gelisah. Aku meraih ponselku dan menghubungi Sehun.

"Ya? Halo?"

"Apa kau sedang sibuk sekarang?"

"Luhan kau ba—"

"Jika tidak cepatlah ke kafetaria, aku mohon."

"Hei Lu—"

Aku menutup panggilan itu dan melemparkan ponsel ke meja saat perutku melilit menyakitkan, lambungku mual namun aku tak merasakan makan siangku bisa keluar. Aku merasa panas dingin dan keringatku makin bercucuran.

Aku tak tahu berapa lama yang aku habiskan untuk membungkuk mencengkeram perutku, beberapa teman datang, bertanya apakah aku baik-baik saja dan aku hanya bisa menggeleng sekenanya. Ini benar-benar menyiksa.

Di antara pertanyaan-pertanyaan penuh kekhawatiran itu, aku mendengar suara Sehun memanggilku dan rengkuhan hangat di tubuhku; Kyungsoo.

"Klinik… Bawa kesana." Aku membisik lemah.

.

.

.

Saat aku membuka mata, yang kulihat samar-samar adalah plafon putih bersih. Aroma antiseptik menyengat tidak mengenakkan, dan aku merasakan sesuatu menusuk punggung tanganku dan terasa berat. Aku mengerjapkan mata, menoleh pelan ke sekeliling dan mendesah lemah.

"Aku bilang klinik… Bukan rumah sakit…" Aku mendengar suara serakku sendiri.

"Luhan?" Suara Mama mengejutkanku dan aku tersenyum begitu melihatnya mendekat dengan raut wajah khawatir. Dia terlihat pucat, sayu dan kelelahan. Mama, maafkan putrimu yang selalu membuatmu kesulitan ini.

"Apa yang kau lakukan, gadis nakal? Kau bahkan belum sepenuhnya pulih dan kau harus kemari, apa yang ada di pikiranmu itu?!"

Mama marah, namun terlihat sekali dia lebih khawatir.

"Aku baik-baik saja setelah pergi bersama teman-teman hari itu, Ma." Dan aku sejujurnya tak tahu bagaimana cara untuk memberitahu Mama perihal hari itu. "Kutebak, ada yang salah dengan makan siangku hari ini? Ini masih hari yang sama kan?"

Mama mendesah, duduk di sampingku dan mengelus rambutku yang lepek karena keringat. Dia mengangguk pelan. "Apa kau sudah merasa hebat sampai melupakan larangan Mama soal makan dengan banyak MSG?"

Oh, seperti dugaanku…

"Terlebih kau baru saja sakit, kenapa kau nekat makan makanan seperti itu?!" Mama mengerang kesal.

"Aku tak tahu kalau makan siangku akan mengandung banyak benda itu sampai membuatku terdampar ke sini, setahuku aku baik-baik saja." Aku menggunakan nada jenaka di sana, namun yang aku dapat malah wajah sedih Mama.

"Kau baik-baik saja sampai tadi."

"Maafkan aku, Mama…"

Mama mengecup keningku dan meraih sebuah apel dan pisau kecil. Mama tersenyum lembut. "Kata dokter kau harus banyak makan buah untuk membersihkan perutmu yang terkontaminasi MSG terlalu banyak; kau kuliah teknologi pangan tapi mengapa bisa hal ini terjadi padamu?!"

Aku tersenyum lemah, sambil bangkit dan menyandarkan diri ke bantal tebal.

"Katakan saja seperti dokter yang bisa sakit." Jawabku sekenanya.

Mama mendengus dan menyuapkan sepotong apel kepadaku. Rasa asam manis menyegarkan terasa di saraf pengecap, dan saat mereka meluncur turun aku merasa seperti terbasuh.

"Aku tidak separah itu, kan, Ma?"

Mama masih enggan menatapku. "Apa kau tidak ingat saat kau muntah-muntah kesakitan tadi siang?" Aku tidak ingat bagian itu, aku hanya merasakan sakitnya. "Besok Mama akan tinggal bersamamu sampai kau benar-benar sehat, Mama tidak menerima penolakan soal bekal yang akan Mama buatkan."

Aku mencebik tanpa sadar, bekal buatan Mama setelah aku mengalami hal ini pasti tak jauh dari makanan-makanan yang hanya tersentuh sedikit garam dan gula, atau bahkan hambar. "Bagaimana dengan Hana? Apa dia baik-baik saja bersama Papa di rumah?" Aku mencoba bernegosiasi.

"Adikmu akan baik-baik saja dan dia akan mengerti kakaknya sedang sakit."

"Ini akan membuatnya berpikir Mama lebih menyayangiku daripada dia." Aku tersenyum lemah, mengingat tatapan adikku yang sejujurnya tak pernah benar-benar hangat.

Mama menyuapkan sepotong apel. "Dia sudah lebih dewasa, dan tidak melihat kakaknya setelah sekian lama pasti membuatnya mengerti."

Kuharap begitu.

Suara grusah-grusuh terdengar dari kejauhan. Tirai yang mengelilingi ranjangku tersibak dan aku terkekeh melihat wajah khawatir Baekhyun yang berlebihan dan Kyungsoo yang tertekuk kaku, sementara Sehun bertahan dengan senyum tipisnya.

"Syukurlah kau sudah sadar…" Baekhyun mendesah lega sambil memberi pelukan ringan, di susul Kyungsoo dengan ucapan penyesalannya.

"Seharusnya kami datang lebih cepat." Aku mengeleng mendengarnya

"Satu-satunya yang aku sesali adalah kalian membawaku ke IGD, bukan ke klinik. Berlebihan sekali."

"Luhan jaga ucapanmu." Mama mendelik sadis dan aku hanya meringis. Mama membiarkan kami berbincang sejenak, dia berkata ingin membayar tagihan atau sesuatu lain. Mereka mengelilingiku dengan tatapan campur aduk dan aku berharap senyumanku bisa membuat mereka kehilangan rasa khawatir.

"Lu—"

"Pertama, aku sudah baik-baik saja. Ini tidak ada hubungannya dengan kejadian lalu, murni karena kondisiku yang belum pulih dan sepertinya bibi penjual sedang jatuh cinta berlebihan dengan benda bernama monosodium glutamat yang bermusuhan denganku sejak kecil."

"Kedua, berhenti mengkhawatirkanku karena sekali lagi, aku sudah baik-baik saja."

Aku mendapat usakan di rambut dan cubitan tak manusiawi di kedua pipi. Oh, aku menyesal menenangkan mereka.

"Setelah ini aku tak akan membiarkanmu makan sembarangan lagi." Kyungsoo berucap tegas dan aku hanya tersenyum kecil.

"Tenanglah, Soo. Aku hanya akan makan makanan hambar buatan Mama setelah ini. Oh iya, apakah aku bisa pulang sore ini? Atau malam nanti?"

Aku menyesal bertanya karena setelahnya aku mendapat cubitan lagi, kenapa capitan Baekhyun dan Sehun sama pedasnya?! Kyungsoo menatapku gemas. "Jangan harap kau bisa pulang cepat, mungkin kau harus pindah ke kamar rawat. Kau yang bilang kau belum sepenuhnya pulih dan benda laknat itu memperparah kondisi, setidaknya kau butuh dua sampai tiga hari."

Aku mengerang. "Dan aku melewatkan banyak sekali jadwal, bagus sekali, Luhan sayang."

"Kau bisa membayarnya saat kau pulih nanti, Sayangku…"

Dan aku benci dengan Sehun yang makin menyebalkan. Mereka terkekeh melihat wajahku yang mulai memanas dan aku benar-benar ingin membuat mereka segera pulang.

Kyungsoo menggantikan Mama mengupas apel untukku, dan aku merasa punya dua ibu sekarang. Baekhyun memakan jeruk yang ada di keranjang, dia melakukannya tanpa sungkan karena aku pun tahu dua keranjang buah itu tidak mungkin aku habiskan sendiri. Tipikal sahabat yang apa adanya dan sangat menyenangkan.

.

.

.

Aku dipaksa pindah ke kamar rawat; terimakasih pada kekhawatiran Mama dan provokasi mematikan dari Baekhyun dan Kyungsoo yang berakhir menyeringai puas. Sehun sama sekali tidak membantu, tampaknya dia di kubu seberang melihatnya lega aku dipindahkan.

Padahal aku merasa baik-baik saja. Oke, sedikit berbohong, perutku masih mual dan aku masih sulit menelan makanan dengan benar-benar nyaman. Pengecualian untuk buah, tapi tak mungkin aku selamanya makan buah, kan? Sejak kecil kondisiku memang sedikit menyebalkan, lambungku terlalu sensitif dengan penyedap buatan. Aku baru bisa menikmati makanan cepat saji tanpa efek menjengkelkan saat aku menginjak remaja, dan itu pun tak bisa setiap hari. Seseorang menyebutnya chinese restaurant syndrome; bagiku tidak dan itu terdengar ironi bagiku.

Aku dipindahkan ke kamar rawat bangsal dua karena bangsal tiga sudah penuh. Terdapat dua sampai tiga ranjang lain dalam satu ruang. Aku tidak mau sendirian dalam kamar rawat dan aku tahu keluarga kami tidak memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah maupun asuransi; Papa tidak menyukainya entah mengapa.

Di sini aku bersama seorang pasien lain yang ada di ranjang kiri, dia gadis seusiaku yang sepertinya baru saja mengalami kecelakaan. Perban melilit kepala dan tangannya yang diberi penyangga, aku belum pernah menyapanya karena dia terus tertidur. Apa yang aku harapkan dari pasien kecelakaan, astaga.

Mama sepertinya akan tidur di ranjang kanan yang kosong, ketika aku bertanya bukankah keluarga pasien sebelah sudah menggunakannya dan apakah akan ada tambahan charge, Mama menggeleng. Jam menunjukkan pukul lima sore, dan sesuai janji, Hana dan Papa datang menjenguk. Mereka membawa lemon madu dalam toples kaca dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh melihat potongan-potongan lemon di dalam sana.

"Hei, Hana kau tahu—"

"Aku tahu ini tak akan sebagus buatanmu, tapi aku melakukannya sampai mengiris jariku. Tidak mau tahu kau akan memakannya atau tidak."

Aku tersenyum mendengar ucapan judes itu, aku memberi gestur memintanya mendekat. Dan begitu Hana ada di hadapanku, aku langsung memeluknya. Erat, sangat erat. Aku mengelus rambutnya yang tergerai berantakan, dan sedetik kemudian, dia mulai terisak.

Kau tetap gadis judes yang masih empat belas, bukan begitu, Hana?

"Jangan sakit, kau menyebalkan membuat aku khawatir dan tidak bisa mengerjakan ulangan dengan baik, Kak."

Aku terkekeh. "Kau dan ulanganmu adalah urusanmu sendiri, gadis judes, dan sekarang kau bisa berhenti mengkhawatirkan aku; aku baik-baik saja sekarang."

Hana melepaskan pelukan kami dan dia mengulas senyum sembari mengusap air mata. Mama benar, dia sudah menjadi lebih dewasa. Aku menatap Mama dan Papa yang memberikan tatapan lembut.

Sejak tadi, Mama dan Papa belum sekalipun berbicara. Dan aku hanya bisa tersenyum kecil tanpa bisa berkata apa-apa.

"Papa senang kau baik-baik saja, lain kali perhatikan makananmu; kami tak bisa selalu di sampingmu untuk mengingatkan, oke?"

Kalimat itu membuatku tercubit, tapi aku mencoba baik-baik saja. Aku memberi cengiran kecil. "Tenang saja, Pa, Kyungsoo adalah mama kedua bagiku"

Papa tertawa lepas, tangannya yang besar dan hangat menepuk puncak kepalaku dengan sayang.

"Dan itu artinya dia sangat cerewet, bukan?"

"Hei!" Mama mendelik mendengarnya. Aku bertatapan dengan Hana, dan kami tertawa bersamaan.

"Ah, permisi saya mengganggu sebentar." Seorang nona perawat bersenyum manis datang dengan papan transparan yang menjepit beberapa lembar kertas, di sakunya terdapat pulpen dan beberapa barang lain. Sebelah tangannya membawa kotak kecil yang berisikan racikan obat; oh, aku benci yang satu itu.

"Silakan, Nona." Mama mempersilakan nona perawat itu mendekat.

"Apakah Nona Luhan sudah merasa baik-baik saja?" Perawat bername-tag Hwang Ji Eun itu memberi senyum menyenangkan, dan aku ikut tersenyum seraya mengangguk.

"Saya baik-baik saja, Nona Hwang. Banyak sekali apel yang saya makan."

Nona Hwang terkekeh sopan. Ia memeriksa infus dan tusukan jarumnya di punggung tanganku. Denyut nadi, segala macam prosedur lain yang kurasa agak tidak membuatku nyaman; aku dan rumah sakit bisa dibilang tak bersahabat.

Nona Hwang mencatat sesuatu di lembar kertasnya dan setelahnya menunjuk obat di nakas samping. "Makan malam akan datang sebentar lagi, maafkan keterlambatannya. Jangan lupa obatnya, Nona Luhan. Jika infusnya habis atau ada sesuatu hal, Nona bisa menghubungi saya. Semoga lekas sembuh, Nona Luhan."

Nona Hwang membungkuk sopan dan kami membalasnya. Mama terlihat terpana dengan kebaikan perawat itu sementara aku menemukan ekspresi lain pada Hana. Dia mengerutkan dahi dan berkata…

"Kenapa aku merasa dia sangat senang merawat kakak, ya? Padahal setahuku perawat itu hanya sekadar formalitas."

"Dan Hana jaga bicaramu." Mama mendelik. Aku terkekeh melihatnya mencebik kesal.

"Aku mengatakannya karena itu yang aku lihat saat menjenguk temanku di rumah sakit, perawatnya judes melebihi aku dan bahkan harus kami yang mengambil infus untuk temanku karena tidak datang-datang. Kakak, bukankah aneh?" Hana menatapku dengan binar mata, dia seolah mencari pendukung dan aku mengangguk sekenanya.

"Itu tentang jaminan kesehatan, Hana."

"Hah? Papa, apa maksudnya?"

Aku tertegun mendengar kalimat itu. Aku menyibak tirai yang membatasi ranjangku dengan ranjang lain. Dan aku hanya bisa terdiam melihat keadaan di ranjang milik gadis kecelakaan itu.

Seorang wanita paruh baya berpenampilan lusuh tampak sedang berbicara dengan Nona Hwang. Berkata sesuatu tentang infus—dan aku menoleh dan menyadari infusnya nyaris habis, dan hal lainnya. Ada banyak kata tolong di sana, tapi, aku tak menemukan senyuman yang tadi diberikan kepadaku pada perawat itu.

Wajahnya dingin, dan dia tampak tak peduli.

"Sebentar lagi akan ada rekan saya yang kemari. Tunggu saja. Permisi."

Aku mendengar perawat itu berucap dengan dingin dan segera melangkah pergi, ia seakan tak melihat wanita paruh baya yang memohon-mohon itu. Aku mengalihkan pandangan dan terkejut ketika mendapati gadis tadi sudah membuka mata.

Tatapannya begitu tajam, penuh rasa sakit dan kesedihan. Dan dia berkaca-kaca menatap wanita paruh baya tadi yang hendak mengejar Nona Hwang.

"Ibu, sudahlah…" Suara serak itu membuatku mencelos.

Aku menutup tirai itu dan mendapati Papa menatapku lembut sementara Mama tengah sibuk mendiamkan tingkah liar Hana yang tak mau rambut kusutnya diikat.

"Nanti, saat Papa memiliki lebih banyak uang, Papa akan mengasuransikan keluarga kita. Asuransi yang layak."

Aku tersenyum kecil dengan ucapan pelan itu. Sekarang aku mengerti, Papa.

.

.

.

Malam beranjak, dan Mama sepertinya sudah lelap di ranjang sebelah dengan selimut yang dibawakan Hana tadi. Pintu kamar rawat terbuka dan seorang perawat laki-laki datang dengan sekantung cairan infus, dia mengganti infus gadis tadi yang sekarang sudah mengering. Diiringi ucapan terimakasih bertubi-tubi dari Ibu gadis itu yang tampak sangat bersyukur. Mama sempat menawarkan kepada ibu itu untuk berbagi ranjang, tapi beliau menolak dengan sangat sungkan. Dan Mamaku tak bisa memaksa pada orang lain.

Perawat itu bergeming, tak berucap apapun membalas kata terimakasih itu dan melengang pergi dengan angkuh. Aku menutup tirai dan segera memejamkan mata. Hal itu membuatku mencelos dan aku kesal tak bisa berbuat apa-apa.

Suasana kamar rawat yang gelap seharusnya membantuku terlelap lebih cepat, tapi nyatanya tidak. Ada atmosfer lain yang melayang-layang di langit-langit dan lantai keramik. Aku merasa tidak tenang dan gelisah. Ada perasaan aneh yang menelusup dalam dadaku, sesuatu seperti rasa sedih, kecewa dan kemarahan. Mereka campur aduk dan membuatku sesak.

Suara gaduh membuatku membuka kelopak mata dan aku terkejut ketika ranjang sebelah kananku penuh dengan perawat. Seorang gadis dengan perban masih sangat merah dan basah dipindahkan dari brankar ke ranjang, infus dipasang dan dibenarkan. Gadis itu diselimuti dan aku melihat seorang pria baya menemani gadis itu di seberang ranjang, apakah itu ayahnya?

Dan, di mana Mama?

Gadis itu membuka matanya, dan aku tahu dia sangat kesakitan. Pria yang kutebak sebagai ayah dari gadis itu langsung membuka selimut melihat gadis itu mengerang kesakitan. Aku terkejut ketika bercak-bercak merah darah membasahi bagian kiri perut dan kakinya. Apa gadis itu mengalami kecelakaan yang sangat parah?

"Perawat, perawat tolong anak saya… Perbannya terbuka dan darah—" Kalimat ayah gadis itu dipotong begitu saja.

"Sebentar." Seorang perawat perempuan mendekat bersama perawat lelaki lain, memeriksa kondisi gadis itu. Sangat sekilas dan nampak tak peduli, perban itu dibenarkan asal dan aku merasakan diriku marah melihatnya.

Tapi, kenapa aku tak bisa membuka suara?

"Itu hal yang normal, lukanya masih terbuka." Ucapan dingin itu ikut membekukanku. Dua perawat itu pergi mendorong brankar. Dan ayah gadis itu mengelus wajah putrinya yang nampak kesakitan dengan perlahan.

"Maafkan ayah, Mi-ya. Maafkan ayah."

Gadis itu menggeleng dengan senyum kaku. Sebelah tangannya mencengkeram sprei kuat, dan aku melihat kemarahan dan kesedihan dari sudut matanya.

"Apa kau menginginkan sesuatu? Apa yang bisa ayah lakukan untuk membuatmu lebih baik, huh?"

Gadis itu menggeleng dan memejamkan mata. Aku tak kuasa melihatnya menggigit bibir kuat-kuat. Aku berpaling dan memejamkan mata. Aku terisak, namun suaraku hening. Aku tak bisa mengeluarkan suara apapun. Atmosfer berat menekanku dan perasaan-perasaan tadi makin campur aduk.

Aku merasa baru sejenak bisa memejamkan mata dan nyaris tertidur, ketika kegaduhan lain terdengar. Aku seketika membuka mata, menoleh kesana kemari dan aku nyaris tercekik melihat kondisi gadis di ranjang kananku.

Dia kejang-kejang, warna merah merembes membasahi selimut dan spreinya, cairan itu sampai menggenang di cekungan ranjang. Aku terkejut ketika melihat infus gadis itu sudah habis, bagaimana bisa kantung infus itu kering kerontang?! Gadis itu melotot kesakitan, tangannya tak henti mencakar-cakar sprei seolah sedang menyalurkan rasa sakitnya.

Tubuhnya kaku, dan aku melihatnya sangat kesakitan. Ayahnya panik bukan main, mencoba menenangkan anak gadisnya namun gadis itu masih kejang. Ayahnya berlari keluar mencari bantuan. Teriakannya sungguh menyayat hati. Gadis itu mengeluarkan suara tercekik yang menyakitkan.

Aku ingin turun, aku ingin membantu gadis itu!

Tapi aku kaku, aku tak bisa bergerak. Aku membeku seolah aku tidak diijinkan membantunya. Kumohon siapapun datang! Tolong gadis itu dia sekarat! Aku menangis terisak, dadaku menyempit dan aku kesulitan bernafas.

Aku mencoba berteriak, namun yang terdengar hanya desing angin lembut dan suara menyakitkan gadis itu. Matanya melotot, penuh rasa sakit dan kemarahan. Oh apa yang harus kulakukan? Tuhan aku mohon…

Nafas gadis itu tertarik berat, tubuhnya sampai terangkat melengkung. Dan setelah itu, tubuhnya lunglai. Lemas di atas ranjang dengan mata menyorot hampa. Dadanya tidak naik turun, hanya datar dan selebihnya seisi ruangan hening. Benar-benar keheningan yang mencekam. Oh, tidak… Tidak…

Aku memejamkan mata ketika suara langkah cepat banyak orang terdengar, ranjang itu dikelilingi orang dan aku ingin menutup telinga ketika suara tangisan ayah gadis itu terdengar begitu memilukan. Ayah gadis itu meraung memanggil nama gadis itu, berteriak frustasi dan penuh kesedihan.

"Jangan lepas infus Shinmi! Jangan lepas infus itu dia masih membutuhkannya! Kalian hanya perlu mengobati luka di perut dan kakinya kalian hanya perlu—"

Tidak… Mama, Luhan tidak mau mendengarnya…

Suara tangisan itu bergaung di pendengaranku, begitu menyakitkan dan aku nyaris muntah menahan sesak yang menggelegak. Hawa dingin menyelimutiku dan aku merasakan seseorang memanggil namaku dengan sangat lembut.

"Luhan…"

"Luhan…"

"Luhan…"

"Luhan Sayang, bangunlah…"

Aku membuka mata perlahan, dan menemukan Mama mengelus rambutku dengan sayang dan tersenyum kecil.

"Ini sudah pagi, kenapa tidurmu gelisah sekali semalam? Apa kau baik-baik saja?" Aku tak tahu, tapi aku ingin sekali menangis. Aku meraih Mama dan memeluknya erat.

"Aku mimpi buruk, dan itu menakutkan…" Aku masih terisak saat Mama menepuk punggungku perlahan. Mama membiarkan sampai aku tenang dan berhenti menangis.

Mama melepaskan pelukan itu, mengusap air mataku dan memberi senyum kecil. "Sudah merasa lebih baik? Sudah, jangan menangis. Sehunmu akan datang sebentar lagi, kau akan jelek nanti."

Aku terkekeh sumbang, namun membenahi wajahku yang benar-benar kacau.

Tirai yang menyelubungi tiap ranjang disingkap sepenuhnya, membiarkan udara berputar leluasa dan cahaya pagi dari jendela terbuka membuat kami sedikit hidup setelah semalaman penuh dikelilingi hawa dingin. Nona Hwang kembali datang dengan senyum menawan.

"Permisi, Nyonya. Ah, apakah Nona Luhan tidur dengan baik semalam?"

Aku mengusahakan senyum tipis. "Mengalami mimpi buruk, tapi selebihnya, saya baik-baik saja."

Perawat itu melakukan prosedurnya seperti kemarin dan mencatatnya dengan ringkas, ia memeriksa selang infusku dan mengaturnya sedemikian rupa. Aku menoleh sejenak dan mendapati gadis di sisi kiriku juga sudah bangun, dia bersandar, berbicara dengan ibunya dengan senyum lemah.
Dan infusnya sudah hampir habis.

Aku meraih lengan Nona Hwang dan dia menatapku penuh perhatian.

"Apakah Nona Luhan membutuhkan sesuatu? Sarapan akan datang sebentar lagi dan—"

"Bukan itu," Aku menyela. "Infus gadis di samping saya sudah nyaris habis, bisakah Anda mengambilkannya untuk dia? Semalam infus yang dibawakan rekan Anda terlambat. Kalau Anda yang mengambilkannya pasti akan cepat, kan?"

Terimakasih, Sehun… Kau mengajariku bagaimana membalut sarkasme dengan kover senyum manis.

Nona Hwang tampak kaku dan pipinya bersemu, kukira dia malu. Dia tersenyum kecil, dan sekarang senyuman itu tampak tak tulus. "Tentu saja, Nona Luhan."

Nona Hwang permisi dan beranjak menuju ranjang gadis itu, menyapa sopan dan memeriksa kantung infus gadis itu. Mengatakan sesuatu tentang ia akan segera kembali, dan perawat itu melengang pergi dengan langkah yang lebih cepat dibanding kemarin.

"Nona Luhan, benar?" Aku menoleh saat gadis di sampingku memanggil, suaranya serak, namun dia terdengar sedikit lebih cerah. Dia tersenyum dengan mata berkaca, aku terkekeh kecil sembari mengedipkan sebelah mata.

"Ya?"

"Terimakasih." Dia berucap tulus dengan senyuman yang hampir menenggelamkan matanya. Aku balas tersenyum.

"Itu hanya hal kecil." Balasku.

Langkah lain yang sangat aku kenali terdengar dan benar saja, aku melihat siluet Sehun di depan pintu kamar rawat. Aku segera berbaring dan menarik selimut sampai nyaris menutupi wajah. Sambil meringkuk dan merilekskan diri, aku berbisik lirih pada Mama.

"Katakan padanya aku masih tidur, Mama tahu bare-faceku jelek." Aku memejamkan mata dan mengabaikan kikikan Mama.

"Selamat Pagi, Nyonya. Apakah Luhan masih tidur?"

Kumohon, Mama… Jangan membuat aku malu. Dan sepertinya Mama bisa membaca pikiranku. "Dia masih tidur, semalam tidurnya gelisah dan baru bisa tenang menjelang dini hari."

Aku mendengar desah kecewa Sehun dan aku harus menggigit pipi bagian dalamku kuat-kuat, Luhan kau tak boleh tersenyum dan membongkar semuanya.

"Kalau begitu tolong katakan pada Luhan saya datang dan membawakan ini untuknya. Kemarin Luhan merengek meminta puding buatan Kyungsoo, sepertinya Kyungsoo dan Baekhyun akan datang nanti siang." Oh sial, kata siapa aku merengek? Aku hanya bilang aku ingin sekali.

Aku mendengar Mama seperti menahan kekehan. "Oh, tentu saja, Sehun."

Aku merasakan kecupan lembut pada sisi samping pelipisku dan sontak aku menegang. Kenapa bisa Sehun seberani ini di depan Mamaku?!

"Ehem!"

Aku mengerang tanpa suara saat mendengar deheman Mama.

"O-oh, maafkan saya… Saya tida—"

"Masih aku izinkan, kalau selebihnya, aku tidak menanggung jika ayah Luhan mendatangimu dengan wajah gahar dan Hana memberi tatapan judesnya, oke?"

Oh, astaga… Aku menarik selimut makin menutupi wajahku. Aku merasakan hembusan nafas hangat dan aku hanya bisa menggigit bibir saat Sehun berbisik lirih.

"Kau pintar sekali pura-pura tidur, heum? Lekas sembuh, agar aku bisa mencubitmu. Aku mencintaimu, aku akan datang lagi nanti."

Oh, astaga… Aku benar-benar akan tidur sekarang!

Sehun berpamitan, dan setelah yakin Sehun sudah tidak dalam lingkup ruang aku tak bisa menahan diri untuk tidak mengerang.

Mama terkekeh lepas, wajahnya sangat bahagia dan aku mendengar kikikan kecil dari seberang ranjang. Oh, tidak, aku malu sekali.

.

.

.

Mungkin karena semalam tidurku gelisah dan tidak nyenyak, aku kembali tidur setelah sarapan dan menelan obat. Kepalaku terasa ringan, nafasku sangat nyaman dan udara hangat membasuh tubuhku; hal itu membuatku terbuai.

Aku berbaring ke kanan, dan aku merasakan kecupan kecil dari Mama di keningku.

Aku masih sayup-sayup, di antara kesadaranku yang mulai menipis dan godaan pulau mimpi membuaiku untuk segera terlelap, mataku samar-samar menangkap bayangan seseorang.

Seorang gadis berambut panjang tergerai duduk di ranjang yang semalam Mama pakai untuk tidur. Gaunnya berwarna putih, namun bercak-bercak pola acak berwarna kemerahan menyebar sampai membuatnya terlihat seperti gaun merah. Wajahnya samar, tapi aku seperti mengenalinya. Dia gadis yang semalam ada dalam mimpiku.

Aku menangkap gestur bibirnya di wajahnya yang dilelehi cairan merah.

Terimakasih, ya?

Apakah dia berucap seperti itu tanpa suara tadi?

Aku memejamkan mata, dan aku merasa tak pernah tidur senyaman ini sebelumnya.

.

.

.

Worst dream ever; experience which has open-up my eyes about social issue. Perhaps when I'm at middle high.

.

.

.

Say hooray with 3800k words. Entah kenapa ini makin panjang saja, huhu…

Soal isu sosial itu, pasti paham dengan keadaan negara ini soal jaminan kesehatan dan pelayanan masyarakat, khususnya bagi yang kurang mampu. :")

Tidak bermaksud menjelekkan citra profesi/orang/instansi tertentu. Mohon dipahami dengan pikiran terbuka. ^^

Kenapa ini updatenya pagi hari? Saya lupa mau update tengah malam tadi, *cry

See ya next week. VvL kemungkinan petang nanti. Nunggu Chi soalnya.

.

Anne, 2018-02-18