Title: Is this wrong or true?

Author: Ovieee

Cast: Kim Jongin

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Do Kyungsoo, and other

Rated: M

Genre: Drama, Romance

Disclaimer: Cast milik diri mereka sendiri dan cerita milik Ovie.

YAOI! BOYS LOVE! GAY! HOMO! Homophobic? Get away!

Summary: Jongin tidak tahu apa yang dilakukannya benar atau salah.

.

.

Happy Reading

.

"..In, Jongin, bangun sayang" Jongin membuka matanya perlahan dan nampaklah kekasih mungilnya yang sudah rapi dengan kemeja baby blue-nya. "Badanmu masih panas?" Baekhyun meletakkan tangannya di kening Jongin dan merasakan kulitnya yang masih cukup hangat.

"Masih terasa pusing?" Jongin mengangguk lemah sebagai jawabannya. "Baiklah, aku antar kau pulang sekarang. Maaf Jong, aku lupa kalau hari ini ada presentasi penting karena aku sebentar lagi akan koas" Jongin lagi-lagi mengangguk sebagai jawabannya. Ia tahu betapa sibuknya seorang mahasiswa kedokteran, dan ini adalah tahun-tahun dimana Baekhyun akan bergelar Dokter setelah melaksanakan tugas koas-nya di daerah tertentu nanti. Jongin bangkit dari tidurnya dan dibantu Baekhyun untuk mengenakan jaketnya.

"Aku ke kampus juga hari ini" Baekhyun tecengang ditempatnya, memandang Jongin tidak percaya.

"Apa? Tidak, tidak. Kau harus istirahat sayang"

"Aku tak bisa membiarkan kau masuk sendiri" Baekhyun berdiri lalu berkacak pinggang dihadapannya.

"Kau pikir aku bayi yang harus di jaga setiap waktu, kemanapun dan apa yang aku lakukan? Tidak, pokoknya kau harus istirahat hari ini. Seharian" Jongin berdiri dan menangkup wajah Baekhyun lalu memberikannya sebuah kecupan yang basah dan Baekhyun memerah akan hal itu.

"Ah, manisnya~" kemudian Jongin tertawa melihat wajah Baekhyun yang ia tarik kedua sisi pipinya. Baekhyun menampiknya dan member Jongin sebuah deathglare yang sangat—tidak- menakutkan miliknya itu. "Ayo berangkat, sudah hampir jam masuk, bukan?" mencoba mengalihkan perhatian agar tidak merusak mood seorang Byun Baekhyun. Kekasih mungilnya itu berbalik membelakangi Jongin dan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun Jongin melihatnya dan ia mengucapkan—

"Jangan mengalihkan topik"—apa yang ingin Baekhyun ucapkan dengan gaya bicara serta nada yang sama seperti tadi malam membuat yang lebih pendek segera membalikkan tubuhnya dengan tangan mengepal—hendak memukul Jongin. "Baik, baik. Ayo berangkat" Jongin mengalah dengan wajah menahan tawa. Baekhyun sendiri mendengus saat kekasih hitam-nya itu merangkulnya dan melanjutkan langkah mereka yang tertunda tadi. Jongin itu sakit apa tidak sih, batinnya menggerutu.

.

.

.

Jongin masuk ke kediamannya diiringi dengan Baekhyun yang berjalan berdampingan bersamanya sembari memeluk lengan kekasih hitamnya itu, ada kemungkinan bisa saja ia tiba-tiba terjatuh dan pingsan ditengah-tengah rumahnya yang super besar itu sehingga tidak ada yang melihat membuat kekasih hitamnya meninggal dalam hitungan menit. Bbbrr… pikiran macam apa itu untuk seseorang yang sudah semester akhir menjadi mahasiswa kedokteran. Diam-diam Baekhyun merutuki otak dangkalnya kali ini.

"Ibu, aku pulang.." Jongin berseru pelan, mereka hendak mendudukkan bokong mereka di salah satu sofa. Namun suara langkah kaki dari tangga membuat keduanya mendongak dan mendapati si sulung Kim disana. "Hyung" sapa si bungsu, sang kakak hanya tersenyum kearahnya dan juga Baekhyun, yang dibalas bungkukkan oleh yang paling mungil.

"Kau sudah pulang"

"Hm.. mana ibu?" Dan Jongwoon mengarahkan dagunya kearah dapur memberitahukan kalau ibu mereka sedang berada disana. Jongin bergegas kearah dapur sembari menarik pergelangan Baekhyun yang pasrah saja mengikutinya.

Jongin berjalan pelan didekat ibunya dan langsung memeluknya dari arah belakang, bergelayut manja disana. "Ibu~"

"Aigoo, Jongin. Kau membuat ibu terkejut" Ibunya mengelus dada dan Jongin sendiri hanya terkekeh sembari mengecup pipinya dengan sayang. Ibunya berbalik lalu menangkup wajah putra kesayangannya itu dan mengernyit. "Kau hangat," dan meraba-raba wajahnya hingga leher.

"Jongin sedang demam bu"

"Oh! Baekhyun kau disini juga. Maaf ibu tidak melihatmu karena si manja ini" Baekhyun tersenyum manis menanggapinya. Jahil terselip dihatinya saat Nyonya Kim mengatakan manja untuk kekasihnya itu, namun ia harus mengubur itu karena kekasihnya sedang terserang demam yang cukup membuatnya kewalahan. "Tunggu,kau bilang Jongin demam?" Baekhyun mengangguk.

"Sejak kemarin, maaf aku tidak member kabar. Tidak terpikirkan olehku untuk memberitahu ibu karena Jongin yang terus-terusan mengigau dan panasnya sulit turun" Jelas Baekhyun membuat Nyonya Kim menatap Jongin yang sedang menyandarkan kepala dibahunya. Nyonya Kim tersenyum sembari mengelus punggung bayi manja-nya itu.

"Tak apa Baek, maaf merepotkanmu"

"Tidak masalah bu,"

"Kau mau ke kampus?" Nyonya Kim masih mengelus punggung Jongin dan pegal mulai terasa pada kakinya.

"Iya bu, aku lupa kalau hari ini ada jadwal yang cukup penting maka dari itu aku mengantar Jongin kesini" Baekhyun berujar tidak enak dengan menggaruk tengkuknya canggung. Sedangkan Nyonya Kim hanya tersenyum melihatnya.

"Tidak apa Baekhyun-ah. Sekarang berangkatlah, Jongin sudah aman disini. Jangan galau karena Jongin tidak ada disampingmu ya" Wajah Baekhyun memerah mendengar godaan Nyonya Kim yang tengah tertawa sekarang, tak merasa ternganggu dengan Jongin yang bersender padanya—sepertinya anak itu tertidur dipelukan ibunya.

"B-baiklah aku berangkay sekarang. A-annyeong" Baekhyun membungkuk cepat dan melesat keluar dari mansion besar itu dan menelpon Kris untuk menjemputnya di kediaman Jongin karena ia tadi mengemudikan mobil Jongin. Meninggalkan Nyonya Kim dengan bayi besarnya yang sedang sakit.

"Kenapa Baekhyun lari seperti itu?" Oh, itu Jongwoon yang baru memasuki dapur. Masih dengan baju santainya karena kantor hari ini masuk sedikit siang. Nyonya Kim terkekeh mengatakan kepada anak sulungnya bahwa ia telah menggoda Baekhyun. Dan Jongwoon hanya merespon dengan anggukan sebelum melihat adiknya yang bergelantungan di tubuh ibunya. "Ada apa dengan anak itu?" Instingnya sebagai kakak muncul.

"Nah, karena kau bertanya. Bisa kau bawa dia kekamarnya? Adikmu sakit, tidak biasanya" Jongwoon diam memperhatikan Jongin yang memejamkan mata dengan damai. "Cepatlah, bayi besarku sanagat berat tahu" dan setelahnya Jongwoon meletakkan Jongin pada punggungnya dan membawa anak itu menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ibu tidak berlebihan mengatakan Jongin itu berat.

Sial, besok aku bisa terkena rematik, batinnya saat merasakan berat badan Jongin yang luar biasa itu. Badannya saja yang terlihat kurus, tapi beratnya tidak usah ditanya, bisa kita lihat dari usaha Jongwoon yang menggendong adiknya itu.

Jongin mengeratkan pelukannya pada leher kakaknya saat merasa nyaman pada tubuh seseorang. "Chanyeol hyung" lirihnya hampir tak terdengar namun Jongwoon mendengar itu semua karena bibir Jongin yang berada tepat pada telinganya. Anak itu tersenyum samar pada tidurnya, tidak tahu kalau kakaknya saat ini terdiam ditengah-tengah anak tangga dengan tangan yang mengepal kuat . sekarang kecurigaannya terbukti, siapa pelaku yang membuat adiknya seperti ini.

.

.

Is It Wrong or True?

.

.

Dua hari berlalu dan keadaan Jongin sudah sepenuhnya membaik, bahkan di hari pertama masuk—setelah demam yang menyiksanya—ia mengecat rambutnya dengan warna perak dengan gaya sengaja ia acak-acak. Sedikit mengambil kharismatik seorang Kim Jongin dan tak lupa juga paras manisnya yang tidak bisa disembunyikan. Dirinya tersenyum miring didepan cermin dan menyemprotkan sedikit parfum mahalnya lalu mengambil tas-nya dan disampirkannya dibahu sebelah kanan.

"Kau memang tampan kawan" monolognya seorang diri lalu terkekeh kecil. "Aku memang tampan" sambungnya lalu meninggalkan kamarnya, menghampiri keluarganya yang sedang menikmati sarapan. "Selamat pagi ibu, ayah, hyung" sapanya ceria.

"Pagi" jawab ketiganya serentak dan nada ibunya-lah yang paling antusias.

"Ah, bayi-ku yang manis. Ayo duduk kita sarapan bersama" Jongin merengut—oh terlihat imut sekali.

"Aku tampan ibu" Ibunya hanya terkekeh dan mengambilkan Jongin roti bakar selai kacang miliknya dengan segelas susu dihadapan Jongin.

"Oh ya tampan sekali sampai wajahmu terlihat seperti bocah"

"Apa sih Hyung" Jongin tak menghiraukan ucapan kakaknya dan hanya berkutat pada sarapannya sendiri. Sang kepala keluarga hanya diam dan sibuk dengan Koran paginya saja. Ibunya masih mengoleskan selai kacang pada roti Jongin. Dan kakaknya yang memandang dirinya tanpa berkedip, membuat si bungsu Kim menelan roti bakarnya menggunakan bantuan susu.

"Kalau kau sudah selesai kau bisa berangkat sekarang Jongwoon, tak usah menatap adikmu seperti itu"

"Ya, aku tahu kau iri dengan ketampananku Hyung" Jongwoon hanya memutar bola matanya lalu berdiri dengan tas jinjing kerjanya.

"Aku tidak percaya ibu mengusirku hanya karena menatap bocah tengik itu"

"Yak! Jaga mulutmu bocah tengik!" Jongin menunjuki kakaknya dengan telunjuknya.

"Hah, aku tidak akan menatapmu seperti tadi kalau aku tidak tahu apa penyebab seorang Kim Jongin sakit" ucap Jongwoon santai, Jongin menurunkan tangannya dan mulutnya berhenti mengunyah.

"Memangnya apa yang membuat Jongin sakit? Ibu yakin pasti ia hanya kelelahan" Ibunya berujar tidak yakin sembari mengusap rambut si bungsu. Jongwoon hanya mengedikkan bahunya kemudian berlalu setelah pamit tentunya. Menutupi kecurigaan yang ada, Jongin kembali mengunyah rotinya dengan mengedikkan bahu pula. Sedangkah jantungnya bertalu dengan cepat, berpikir apakah Jongwoon mengetahuinya.

.

.

"Wah, uri Jonginie akhirnya menampakkan wajahnya!" Jongin yang baru memasuki kelasnya tersentak dengan keras saat indera pendengarnya menangkap suara yang sangat merusak gendng telinga itu. "Aku merindukanmu sobat" Jongin hanya memutar bola matanya saat Bobby—teman sekelasnya yang sangat berisik itu—menepuk-nepuk punggungnya dengan kencang.

"Woy aku bisa mati tahu!" sembur Jongin saat anak itu tetap saja menepuk punggungnya dengan kencang, dan Bobby hanya terbahak.

"Hey, begitukah sikapmu kepada orang yang sudah mengeluarkan suaranya dengan cuma-cuma hanya untuk menyambut sahabatnya yang baru sembuh?"

"Lagipula tidak ada yang menyuruhmu untuk itu. Dan dari siapa kau kalau aku sakit?" Jongin mendudukkan tubuhnya di kursi paling depan pojok, tempat istimewanya, dekat dosen. Diikuti Bobby yang duduk dibelakangnya, anak itu tidak mau duduk didepan katanya, takut-takut disuruh dosen menjelaskan. Hah, Jongin saja tidak pernah disuruh apa-apa. Memang dasarnya tukang gossip ya sukanya duduk dibelakang.

"Dari Sehun tentu saja, dan jangan tanya dari mana ia tahu pula" Jongin hanya mengangguk paham, karena ya ingat saja Sehun itu memiliki kekasih. Dan kekasihnya Sehun itu adalah sepupu Baekhyun yang otomatis kekasih Jongin sendiri-lah yang memberitahukan. Jongin meletakkan kepalanya dimeja dengan alas kedua lengannya, mengabaikan Bobby yang mengoceh entah tentang apa."Kau tidak mendengarku hitam?" Jongin hanya diam tak memberikan respon dan Bobby menggerutu setelahnya. Lalu anak itu bangkit meninggalkan Jongin, entah mungkin ke kantin. Jongin tak peduli, ia hanya ingin menghilangkan pusing yang kembali menderanya. Lagipula masih ada lima belas menit.

.

"Jongin.. Bangun" Jongin mengerjabkan matanya dibalik lipatan tangannya lalu menoleh kearah Bobby yang ada dibelakangnya dan mulut anak itu mengatakan kalau mereka sudah kehadiran dosen. Jongin segera menegakkan tubuhnya dan langsung mengambil bukunya. Tak berani menatap kedepan, takut-takut kalau dosen mereka yang baru itu adalah seorang yang killer, dan ia berlagak seakan tidak terjadi apa-apa.

"Aku ketinggalan apa saja?" Jongin kebelakangkan kepalanya dan berbisik pada temannya yang sialnya memilih duduk dibelakang itu karena ia merasa sulit untuk menanyakan hal-hal yang ketinggalan ia pelajari.

"Banyak, kau banyak sekali ketinggalannya Jong" Bobby mengatakannya seakan-akan Jongin tidak masuk selama satu semester saja. Jongin mendengus lalu mengambil catatan Bobby yang berada di atas mejanya, setelahnya Jongin hampir saja melepaskan makiannya untuk manusia tonggos yang sayangnya temannya itu jika tidak mengingat didepan sekarang sudah hadir dosen yang tidak memulai pelajarannya. Jongin sedikit heran akan hal itu. Namun mengingat catatan Bobby yang berada ditangannya ia tidak peduli pada dosen yang ingin memulai pelajaran atau tidak itu.

"Selembar kau bilang banyak?" Tanya Jongin sarkas. Namun Bobby tidak menjawab dan berakting seperti anak pinar saja. "Dasar tonggos"

"Aku mendengarmu hitam. Kutunggu kau di lapangan setelah ini" Oh, ancaman yang sangat membuatku takut, cibir Jongin dalam hati, tak ingin memperpanjang masalah yang tidak berfaedah ini.

Saat ia serius dengan catatan Bobby dan menyalinnya sekilat mungkin, Jongin merasakan mual mendadak saat mendengar suara dosen baru yang mengingatkannya pada seseorang yang tengah dirindukannya. Apa? Tidak, maksudnya sangat dibencinya. Jongin meremas pena yang berada di genggamannya dengan erat.

Tidak, itu tidak mungkin, batinnya panik. Bulir keringat menetes di keningnya.

"Baik, apa ada yang kurang mengerti dengan penjelasan saya?" sang dosen baru bertanya dan Jongin senantiasa menundukkan kepalanya. Lalu terdengar sang dosen mempersilahkan seseorang yang bertanya.

"Pak, kenapa bapak sangat tampan?" setelahnya sorakan memenuhi ruangan, bahkan Bobby pun ikut menyoraki perempuan yang bertanya itu. Tak ada balasan dari si dosen baru selain kekehan. Jongin masih tak berani mengangkat kepalanya, suara itu terlalu mirip dan perutnya semakin mual. Ia tidak lagi mendengar sorak-sorak temannya yang semakin berisik, yang ada hanyalah dengungan sebelum Bobby menepuk bahunya, Jongin segera menegakkan tubuhnya dan kepalanya terangkat. Matanya tepat menatap manik dosen yang sedang di godai oleh teman-teman sekelasnya.

"Jong, kau baik-baik saja?" Bobby berpindah duduk disebelah Jongin saat anak itu tak memberi respon selain badan yang kaku. "Jong, kau berkeringat" tak dihiraukannya Bobby berbicara.

Dan ternyata benar. Sang dosen baru, dosen yang mengajar di kelasnya saat ini. Orang yang selama ini sudah membuat Jongin menderita. Kepalanya mendadak pening dan mual diperutnya menambah siksaan Jongin begitu pula dengan tatapan si dosen yang seakan menelanjanginya. Diam-diam pipi Jongin bersemu dan iamengutuk hal sensitive itu saat bertemu muka dengan makhluk tinggi tersebut.

"Park—sialan-Chanyeol" Lalu Jongin mendengar nada panik Bobby dan terakhir, wajah Chanyeol yang berada didepan sana sedang berlari kearahnya dengan wajah panik pula, sebelum semuanya gelap dan Jongin tak mendengar apapun.

.

TBC

.

.

Huahh.. apa masih ngaret? Enggak kan yaa.. ehehe.. Gimana nih? Si Jongin kesiksa banget gitu ya, barusan sembuh malah ketemu sama si jidat trus pingsan pula. Wkwk

Buat yang penasaran kenapa Nini sama Yeol pisah, chapter depan bakal terkuak semuanya. So, stay dengan ff ini . bhubayy

EXO-L Jjang!