PERFECT MAID

An EXO Fanfiction

Pairing: HunKai, Sehun and Kai, ukeKai

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin/Kai, Luhan, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jonmyeon, Kim Minseok, Wu Xiaoliu, Byun Baekhyun, Lee Taemin, Do Kyungsoo.

Warning: BL/YAOI

Rating: T-M

Halo semua ini chapter lima maaf telat update, menata hati, ini tanggungan tulisan yang harus saya selesaikan, happy reading all kalo masih ada yang mau reading hehehe maaf atas segala kesalahan…

Previous

BRUGH! "Sehuuunn!" Jongin berteriak protes bersamaan dengan Sehun yang menindih tubuhnya. "Apa yang kau lakukan?! Menyingkir! Berat!"

"Apa? Berat? Aku tidak mendengarmu, kau mengejekku serigala kelaparan, berarti aku kurus. Seharusnya kau bisa menyingkirkan tubuhku dengan mudah."

"Kau berat! Menyingkir dariku sekarang!" Jongin kembali berteriak kali ini sambil meronta dan berusaha menendang Sehun. "Aku bilang lepaskan?!" keduanya bertatapan, Sehun diam tak memberi reaksi. "Apa yang kau inginkan? Kenapa diam saja?! Jangan macam-macam denganku!"

Sehun menyeringai kemudian menyingkir dari tubuh Jongin, berdiri tegap. "Memang apa yang aku inginkan? Jangan berpikir macam-macam, dari ujung rambut dan ujung kakimu." Sehun menatap Jongin meremehkan. "Kau sama sekali bukan tipeku tuan Kim. Jangan berharap apa-apa atau kau akan kecewa."

"Kau juga bukan tipeku!" dengus Jongin. "Serigala kelaparan."

"Apa kau bilang?"

Jongin juga berdiri sekarang, menatap Sehun. "Mulai sekarang aku akan memanggilmu serigala kelaparan."

"Untuk apa? Agar kita terdengar akrab?"

"Tidak. Jika aku menyimpan kontakmu dengan nama Sehun akan berbahaya."

Sehun mengangguk-angguk pelan. "Ya benar juga, kalau begitu aku akan memanggilmu beruang gendut."

"Terserahlah." Jongin langsung memutar tubuhnya melangkah menuju pintu meninggalkan Sehun.

CHAPTER ENAM PARK CHANYEOL

"Kenapa tatapanmu seperti itu Kim Jongin?" Sehun bertanya dengan nada mengejek. Melirik Jongin yang duduk di sampingnya memasang wajah masam, bosan, dan mengantuk. Hari ini Sehun mengerjai Jongin, dan Sehun benar-benar puas dengan wajah Jongin sekarang.

"Aku mengantuk." Jongin membalas singkat.

"Kau kan harus mengikuti kegiatanku jadi harus bangun pagi."

"Pembohong!" Jongin mendengus malas.

"Apanya yang pembohong? Aku memang ada pekerjaan di pagi hari."

"Aku bisa bangun pukul sembilan pagi dan tetap bisa menyiapkan sarapan untukmu, kita berangkat pukul sebelas dan kau menyuruhku bangun pukul lima pagi. Benar-benar perbudakan."

Kening Sehun seketika berkerut mendengar kalimat Jongin. "Darimana kau tahu istilah pintar seperti perbudakan?"

"Aku kan pernah sekolah."

"Hah, aku yakin kau tidak pintar."

Jongin memilih bungkam, demi apapun kedua matanya sangat berat sekarang, dia hanya ingin tidur tidak ingin membuang energi dengan berdebat. Cadangan energinya pada taraf memprihatinkan.

"Hari ini aku akan syuting iklan dengan Chanyeol, Park Chanyeol kau kenal dia kan? Paling tidak kau pernah melihat wajahnya di media masa." Sehun menoleh menatap Jongin yang masih memalingkan wajahnya ke jendela mobil. "Jongin!" kesal Sehun sambil menarik bahu kanan Jongin.

"Apa?!" jengkel Jongin.

"Kau jangan histeris, jangan kampungan, jangan berteriak jika bertemu orang terkenal, jangan membuatku malu."

"Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal yang membuatmu malu."

"Ah benarkah? Bisa saja kau lupa janjimu karena terpesona nanti."

"Aku tidak akan terpesona aku sudah bertemu dengan Chanyeol sebelumnya."

"Ah benarkah?!"

"Apa?" Jongin menoleh karena Sehun tiba-tiba memekik cukup keras.

"Kau sudah bertemu dengan Chanyeol?"

"Benarkah aku mengatakan hal itu?" pertanyaan Jongin dihadiahi tatapan datar oleh Sehun."

"Sudahlah aku tidak ingin membahasnya lagi. Jangan kampungan, itu saja."

"Hmmm." Jongin hanya menggumam pelan. "Sehun iklan apa?"

"Kenapa kau ingin tahu."

"Ibumu yang bertanya." Jongin menunjukkan ponselnya pada Sehun.

"Dasar!" dengus Sehun kala Jongin menarik ponselnya menjauh.

"Kau kan sudah membaca pesan yang ditulis ibumu kenapa mau memegang ponselku? Mau tahu isinya ya?" goda Jongin.

"Aku tidak tertarik!" Sehun memekik kencang entah untuk yang keberapa kalinya hari ini.

"Sudah jawab saja iklan apa, ibumu sudah tidak sabar."

"Es krim."

"Hmm es krim." Jongin menggumam sambil mengetik pada ponselnya. "Sudah aku kirim."

Mobil berhenti, pintu terbuka dan Sehun melangkah keluar terlebih dahulu. Menejernya yang membukakan pintu, Jongin melangkah turun mengikuti Sehun sambil membenahi ransel di punggungnya. Ransel berisi kotak makan dan botol minum untuk Sehun.

Syuting iklan ternyata dilakukan di tepi danau dengan wahana permainan raksasa dari karet, entah apa, Jongin tidak tahu namanya. "Pasti menyenangkan jika bisa bermain air," Jongin menggumam pelan tanpa sadar.

"Kau tunggu di sini saja dan awasi aku." Perintah Sehun.

"Menunggu dimana?" Jongin bingung sendiri.

"Duduk di sini." Tegas Sehun sambil mendorong tubuh Jongin membuat Jongin terjengkang ke belakang dan langsung terduduk pada sebuah bangku kayu. "Kenapa wajahmu ketakutan seperti itu?!" Sehun menggodai Jongin. "Kau pikir aku akan mendorongmu ke danau, wajahmu menggelikan." Berikutnya Sehun tertawa dengan keras dan sangat menyebalkan. Jongin hanya melempar tatapan datar. "Aku pergi dulu." Sehun berlari menuju para kru dan wajah Jongin semakin bosan.

"Apa aku hanya duduk menunggu seharian di sini….," keluh Jongin. "Bisa mati bosan aku." Sambungnya.

Perhatian Jongin tertuju pada dua sedan mewah yang berhenti beberapa meter di hadapannya. Pintu depan terbuka, seorang laki-laki tinggi dengan rambut putih, kacamata hitam, kaos putih berlapis jaket hitam dan jins hitam yang robek pada bagian lutut kanannya. "Apa dia Chanyeol, warna rambutnya berbeda." Jongin menggumam pada dirinya sendiri.

Jongin mengalihkan pandangannya ke arah danau, di tengah udara panas seperti sekarang ia ingin berenang di air danau yang dingin dan segar. "Aku ingin berenang."

"Kau! Yang aku tumpahi kopi kan?! Kim Jongin ah kalau tidak salah itu namamu kan?!"

"Apa? Siapa?" Jongin meluruskan pandangannya, mendongak menatap Chanyeol yang kini berdiri di hadapannya.

"Kau, Kim Jongin kan? Apa kau lupa padaku?" Jongin tak langsung menjawab. Dia tidak mau Sehun salah paham dan berakhir dengan mengejeknya sepanjang sisa hari ini. "Ah sayang sekali kau lupa padaku, kenapa kau ada di sini? Kau ikut syuting iklan?"

Jongin tertawa pelan. "Tidak mungkin aku ikut syuting."

"Kau bisa saja jadi artis."

"Ah sudahlah Chanyeol." Entah kenapa Jongin merasa malas menanggapi keramahan dan lelucon Chanyeol.

"Apa kau haters ku?"

"Apa?!" Jongin memekik, ia tidak mau dituduh macam-macam oleh Chanyeol. Jika penggemar Chanyeol salah paham, habislah.

"Aku sudah menyambutmu dengan ramah tapi tanggapanmu dingin sekali, jadi selain haters apa lagi aku tidak bisa mengategorikan kau itu siapa. Ah kau fans Sehun?!"

"Bukan. Aku bukan fans juga bukan haters."

"Lalu kau di sini untuk apa?"

"Bekerja."

"Tadi kau bilang tidak terlibat dalam syuting? Aku benar-benar bingung."

"Aku mengikuti Sehun."

"Stalker?" Chanyeol menunjuk Jongin.

"Bukan!"

"Lalu apa?" tuntut Chanyeol.

"Chanyeol ayo!" teriakkan salah satu kru menghentikan maksud Jongin untuk memberi penjelasan.

Keduanya bertatapan. "Aku bukan stalker." Tegas Jongin.

"Kau berhutang penjelasan padaku." Chanyeol berucap singkat sebelum berlalu meninggalkan Jongin.

"Runyam…," Jongin mengeluh tiba-tiba menyesal menerima pekerjaan merepotkan ini. Seharusnya dia bersabar dan berhemat, lalu bekerja serabutan di stan makanan atau kasir swalayan dua puluh empat jam. Pekerjaan ini menguras emosi dan energi.

"Pembantu Sehun."

"Astaga siapa lagi….," Jongin mengeluh pelan sambil meluruskan pandangannya lagi. "Ah laki-laki cantik di apartemen Sehun." Balas Jongin disertai tatapan datar terbaiknya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Bagian pekerjaanku yang sudah disepakati dengan nyonya Oh." Balas Jongin.

"Ahhhh rupanya seperti itu. Kau akan menunggu di sini sampai selesai?"

"Ya."

"Lalu apalagi?"

"Itu rahasia pekerjaan." Luhan hanya tersenyum miring menanggapi jawaban Jongin.

"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu selamat menunggu."

Jongin menggaruk pelipis kanannya sambil memperhatikan dari kejauhan Sehun dan Chanyeol dirias. Ah Luhan juga. "Laki-laki mungil itu artis? Kenapa aku tidak pernah melihatnya? Apa aku yang jarang menonton televisi? Ah malang sekali nasibku aku ini hidup di zaman apa….," keluh Jongin kemudian diiringi dengan hembusan napas kasarnya.

Mengusir bosan Jongin memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar danau yang tidak dijadikan sebagai lokasi pengambilan gambar. Jongin bersiul-siul sambil sesekali menendangi kerikil memasukkannya ke dalam danau. Sebenarnya dia ingin bermain game, tapi kalau batrei ponselnya habis dia tidak bisa melaporkan kegiatan Sehun kepada nyonya Oh.

.

.

.

"Jongin!"

"Ah laki-laki mungil."

"Luhan, aku punya nama."

"Maaf." Jongin membalas santai.

"Aku mencarimu dan ternyata kau justru berjalan-jalan di sini."

"Maaf, aku bosan menunggu makanya aku jalan-jalan, ada apa?"

"Syutingnya selesai, kemarikan ranselnya. Biar aku yang memberikan makanan dan minumannya untuk Sehun."

"Sehun yang memintanya?"

"Ya."

Jongin masih berpikir namun Luhan sudah merebut ranselnya. "Luhan!" Jongin mencoba mencegah Luhan namun sayang Luhan sudah berlari cepat meninggalkan dirinya di tepi danau.

"Semoga tidak apa-apa." Harap Jongin.

"Ahhhhh…., kenapa dia berjalan ke sini? Aku hanya ingin kedamaian hari ini apa itu sangat sulit?" Jongin mengeluh kala dilihatnya Chanyeol yang berjalan ke arahnya beberapa saat setelah kepergian Luhan.

Kemeja putih kebesaran dan celana selutut hitam. Ada dua es krim di tangan Chanyeol. "Kau tidak berniat untuk melarikan diri kan?"

"Tidak, aku bukan stalker."

"Baguslah jika kau melarikan diri maka aku benar-benar menganggapmu stalker."

"Aku tidak peduli yang penting aku bukan stalker." Balas Jongin tanpa rasa takut. "Apa?" Jongin mengamati es krim yang disodorkan padanya.

"Untukmu." Chanyeol berucap singkat.

"Terimakasih." Jongin menerima es krim pemberian Chanyeol.

"Ini bagian pekerjaanmu?"

"Ya."

"Hmmm…, baiklah aku percaya, selain itu jika kau stalker kau pasti sudah mengambil banyak video dan gambar. Dan dari pengamatanku kau bahkan tak mengeluarkan ponselmu."

"Percayalah aku bukan stalker dan aku tidak punya niatan menjadi salah satu dari mereka."

"Maaf mencurigaimu." Ucap Chanyeol kemudian tersenyum lebar diakhir kalimat.

"Pertemuan kita tidak pernah menyenangkan." Canda Jongin yang disambut oleh tawa renyah Chanyeol.

"Makan es krimnya sebelum mencair, udara hari ini benar-benar panas."

"Hmmm." Jongin menggumam kemudian mulai menikmati es krimnya yang ternyata memiliki campuran rasa vanilla dan stroberi, stroberi salah satu buah kesukaannya.

Kedua mata bulat Jongin menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja lewat di hadapannya, Sehun bermain ski air dengan Luhan. "Kurasa mereka akan lama di sini?" Chanyeol berucap pelan sementara Jongin masih terbengong-bengong. Ayolah dia tidak mau berubah jadi fosil menunggui dua pasangan kasmaran itu.

"Ya, aku juga berpikir seperti itu." Jongin menjawab dengan lemah sebelum menjilati es krimnya kembali. Dia sudah membayangkan betapa membosankannya, menunggui orang yang sedang dimabuk cinta.

"Kau mau bermain?"

"Apa?!" Jongin memekik pelan sambil menoleh menatap Chanyeol. "Apa?" ulang Jongin, ia tak terlalu yakin dengan pertanyaan Chanyeol tadi.

"Kau mau bermain air?"

"Aku tidak membawa baju ganti."

"Ahhhh sayang sekali. Aku tahu!" Jongin melihat kedua mata bulat Chanyeol yang nampak berbinar. "Kita bisa bermain flying fox, bagaimana? Apa kau takut ketinggian?"

"Tidak." Balas Jongin.

"Baguslah, ayo kita main setelah es krimnya habis, lalu jika Sehun masih sibuk dengan kekasihnya kita bisa makan di kafe yang ada di sini."

"Apa kau tidak memiliki acara lain setelah ini?"

"Ada, tapi nanti malam jadi aku masih memiliki banyak waktu."

"Terimakasih banyak Chanyeol."

"Untuk?"

"Mengajakku bermain padahal kita belum lama kenal."

"Itu bukan masalah besar bagiku."

Jongin menoleh dan melihat Chanyeol dengan senyum lebarnya. "Ayo." Ajak Chanyeol, Jongin mengangguk pelan dan berjalan mengikuti Chanyeol sambil berusaha untuk menghabiskan es krimnya sebelum permainan dimulai.

Keduanya berjalan menaiki anak tangga yang berjumlah ratusan untuk mencapai menara. Jongin berjalan di samping Chanyeol, tangga cukup lebar untuk dinaiki dua orang berjajar secara bersamaan. "Dari sini danaunya terlihat indah kan?"

"Hmmm." Jongin menggumam, ia lantas menoleh menatap Jongin yang ternyata sedang melahap cone es krimnya. Kedua pipi Jongin menggembung lucu membuat Chanyeol menahan tawa.

"Jangan sampai tersedak jangan membuat gigimu ngilu." Nasihat Chanyeol.

"Hmmm." Jongin kembali menggumam, sementara Chanyeol memilih untuk memakan es krimnya yang tersisa dengan santai. Jongin berlari untuk menaiki sepuluh anak tangga terakhir. "Wah tinggi sekali….," Jongin terkagum dengan kedua mata berbinar.

"Kau tidak takut kan?"

Jongin menoleh ke belakang menatap Chanyeol. "Tidak." Jongin melihat Chanyeol berjalan mendekati petugas, dan mengatakan keinginan mereka untuk mencoba flying fox.

"Baiklah, siapa yang pertama?" tanya si petugas.

"Jongin." Jawab Chanyeol.

"Aku?" Jongin menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa harus aku?"

"Es krim milikmu sudah habis jadi kau bisa meluncur lebih dulu." Sungguh, alasan yang tidak masuk akal.

"Baiklah." Jongin membalas santai ia tak takut dengan ketinggian jadi tak masalah mau meluncur yang pertama atau yang terakhir. Setelah memakai peralatan standar keamanan seperti tali pengaman dan helm, Jongin berdiri di tepi menara. Dan sekarang dia baru sadar jika danau dalam keadaan sepi.

"Apa danau ditutup hari ini?" Jongin bertanya pada petugas flying fox yang berdiri di sisi kirinya.

"Ya, untuk kenyamanan syuting."

"Hmmm…, begitu."

"Siap?"

"Siap."

"Meluncur saja ini aman, kau lihat tali merah yang menggantung di ujung lintasan?"

"Ya.

"Setelah melewati tali merah itu tari tali ini dengan tangan kirimu, untuk melambatkan laju meluncurmu."

"Mengerti?"

"Ya."

"Ulangi lagi."

"Setelah melewati tali merah tarik tali ini dengan tangan kiriku perlahan untuk melambatkan laju meluncur."

"Bagus. Kau bisa meluncur kapanpun kau siap."

"Hmmm." Jongin menggumam pelan. Jongin menarik napas dalam-dalam kemudian meluncur, awalnya sedikit menakutkan berada di ketinggian dengan kecepatan yang bisa dibilang lumayan. Namun, lama kelamaan terasa sangat menyenangkan, degup jantung kecemasannya kini berubah menjadi degup jantung bahagia.

Lintasan flying fox cukup panjang, ketika meluncur Jongin melihat ke bawah ke arah danau dan melihat dua orang yang sedang berenang di dekat trampoline raksasa, mungkin mereka baru saja melompat dari trampoline ke dalam air dari menara yang tak terlalu tinggi jika dibanding dengan menara untuk flying fox.

"Tali merah." Ucap Jongin iapun menarik tali sesuai instruksi perlahan dengan tangan kirinya. Kecepatannya mulai berkurang dan akhirnya benar-benar berhenti di ujung lintasan flying fox.

"Menyenangkan?" tanya salah satu petugas yang berjaga di ujung lintasan.

"Ya, menyenangkan." Jongin menjawab diiringi senyuman lebar. Jongin turun setelah semua tali pengaman di tubuhnya dilepas. Ia memutar tubuhnya dan melihat Chanyeol yang sedang bersiap untuk meluncur. Jongin mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi melambai kepada Chanyeol. Chanyeol membalas lambaian tangannya sebelum meluncur.

"Yaaaaaaa!" Chanyeol berteriak kencang, Jongin tertawa keras di ujung lintasan. Ia yakin Chanyeol sebenarnya tak terlalu berani bermain flying fox. "Jonggiiiinnnnnn!"

Tawa Jongin semakin menjadi mendengar teriakkan Chanyeol yang memanggil namanya. "Chanyeolll!" Jongin berteriak ketika Chanyeol mendekat, kemudian tertawa keras.

Chanyeol sampai di ujung lintasan kedua mata lebarnya menatap Jongin dan tersenyum lebar. "Seru!" Chanyeol memekik keras.

"Ah!" Jongin memekik tertahan saat Chanyeol menghambur ke arahnya dan memeluknya dengan erat, hanya pelukan singkat. Jongin yakin karena Chanyeol terlalu bahagia.

"Iya sangat menyenangkan." Jongin membalas dengan ceria.

"Lain kali mungkin—kita bisa bermain bersama lagi? Bagaimana?"

"Mungkin. Aku juga tidak tahu." Jongin lantas tersenyum meminta maaf.

"Ah aku tahu, bagaimana jika kita bertungkar nomor ponsel?"

Kening Jongin berkerut ia memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Chanyeol, Chanyeol mengekori Jongin seperti anak anjing yang lucu. "Kau tidak mau?"

"Bukannya tidak mau tapi apa tidak apa-apa bertukar nomor ponsel? Kau kan terkenal kalau terjadi sesuatu aku bisa repot."

"Tidak akan terjadi sesuatu, kau temanku." Chanyeol menjawa keraguan Jongin dengan keyakinan, ia lantas merangkul bahu Jongin dengan akrab.

"Kau menganggapku teman?" Jongin benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Chanyeol. "Kita baru berjumpa dua kali secepat itu kau menganggapku teman?"

"Ya."

"Jangan mudah percaya pada orang lain secepat itu Chanyeol, bagaimana jika aku berniat jahat padamu?"

"Apa kau akan berniat jahat padaku?" Jongin tidak menjawab, dia mengingat-ingat sepanjang sejarah hidupnya kejahatan yang dia lakukan hanya membolos sekali saat kelas lima SD. "Jongin?" ulang Chanyeol.

"Sejauh ini—aku tidak memikirkan apa-apa tentangmu."

"Bagus, ayo bertukar nomor ponsel."

"Tetap saja Chanyeol jangan mudah percaya dengan orang lain. Itu akan berbahaya untukmu."

"Aku yakin kau orang baik, dan biasanya firasatku hampir selalu benar."

Jongin mengulurkan tangan kanannya pada Chanyeol. "Ponselmu, akan aku ketikkan nomorku." Chanyeol mengangguk pelan kemudian tersenyum lebar.

"Ponselku ada di tangan menejer."

"Ah!" Jongin memekik pelan ia teringat sesuatu. "Ponsel dan dompetku ada di ransel dan Luhan membawanya!"

"Jongin?!" Chanyeol meneriakkan nama Jongin sambil berlari menyusul laki-laki berkulit kecoklatan itu yang kini berlari cepat meninggalkannya.

Ponsel dan dompet adalah dua barang yang sangat penting, Luhan dan Sehun sudah menghilng dari area bermain di sekitar danau. "Gawat….," Jongin menggumam cemas.

"Jongin."

"Ah Sehun?" Jongin melihat Sehun duduk di bangku taman tempatnya menunggu tadi. "Apa kau sudah menunggu lama?"

"Belum, ayo kita harus pergi ke tempat selanjutnya."

"Hmmm." Jongin menggumam pelan dan melangkah pelan mendekati Sehun.

"Jongin." Panggilan lain membuat Jongin berhenti dan menoleh ke belakang. "Nomor ponselmu?" Chanyeol berdiri di samping laki-laki yang terlihat lebih pendek dan lebih tua darinya, pasti menejer Chanyeol. Pikir Jongin. Dan yang terpenting Chanyeol menyodorkan ponselnya.

"Sebentar Sehun." Jongin berucap cepat sebelum berlari menghampiri Chanyeol. Mengambil ponsel laki-laki jangkung itu dan mengetikkan nomor ponselnya. "Sudah."

"Terimakasih Jongin." Chanyeol tersenyum lebar, Jongin mengangguk pelan.

"Ayo Jongin."

"Aku pergi dulu Chanyeol, terimakasih untuk hari ini selamat tinggal." Jongin tersenyum, melambaikan tangannya kepada Chanyeol kemudian berlari mengejar Sehun yang sudah berjalan menuju mobil.

Sehun berdiri menunggu Jongin. "Masuk." Jongin tak menjawab dan melangkah memasuki mobil. Sehun menyusul keduanya memakai sabuk pengaman hampir bersamaan. "Kau meninggalkan ponsel dan dompetmu di dalam ransel."

"Luhan mengambil ranselku begitu saja, ah merebutnya. Tapi aku juga lupa sebenarnya."

"Kau orang yang pelupa?"

"Ya." Jongin membalas singkat.

"Kenapa kau terdengar bangga dengan kebiasaan burukmu?" cibir Sehun.

"Sisi mana yang terlihat membanggakan?"

"Sudahlah." Putus Sehun jika dilanjut tidak akan ada habisnya. "Kau bisa memanfaatkan Chanyeol."

"Apa maksudmu?"

"Untuk terkenal, banyak orang yang melakukan hal itu untuk terkenal, mendekati orang yang sangat terkenal."

"Tidak mau. Aku tidak mau terkenal." Jongin membalas tegas.

"Ah benarkah?" Sehun bertanya dengan nada mengejek.

"Kau pikir setiap orang di dunia ini ingin terkenal?"

"Itu yang aku tahu."

"Aku tidak termasuk, aku tidak mau terkenal dan terus diberi komentar. Aku mau menjalani hidup dengan tenang."

Sehun menjulurkan lidahnya menanggapi ucapan Jongin. Jongin menggeram pelan namun tak membalas, memilih untuk mengacuhkan Sehun dan memandang keluar jendela.

"Jongin." Panggil Sehun, pada dasarnya Sehun tidak suka diacuhkan hanya saja dia hanya menunjukkan hal itu pada orang-orang tertentu saja.

"Apa?" Jongin menjawab tanpa menoleh.

"Aku melihat ponselmu salahmu tidak mengunci ponselmu dengan aman."

"Lihat saja tidak ada apa-apanya, aku pelupa jika mengunci dengan pola rumit yang ada aku tidak bisa membuka ponselku."

"Tapi kau memberi kode untuk pesanmu."

"Itu kan pribadi."

"Ini." Ucap Sehun sambil meletakkan ransel yang tadi ada di pangkuannya ke pangkuan Jongin. "Kupikir kau akan mengambil banyak gambarku lalu menjualnya. Ternyata tidak ada apa-apa bahkan fotomu saja tidak ada di dalam ponselmu."

"Aku tidak terlalu suka berfoto, dan aku bukan fans, haters, dan stalker, jadi singkirkan pikiran-pikiran seperti aku mengambil gambar dan videomu lalu menjualnya. Aku tidak berminat dengan hal-hal seperti itu."

"Hmmm." Sehun hanya menggumam. "Maaf aku menyinggungmu."

"Apa?" Jongin menoleh kepada Sehun melempar tatapan tidak percaya.

"Kenapa menatapku seperti itu?" Sehun menatap Jongin bingung.

"Apa kau baru saja meminta maaf padaku?"

"Ya, apa itu terdengar aneh di telingamu."

Jongin mengangguk pelan. "Aku hanya tidak menyangka jika kau akan minta maaf padaku. Ternyata kau bisa juga meminta maaf."

"Apa aku sangat buruk dimatamu?"

"Mungkin…..," Jongin menggantung kalimatnya kemudian memilih untuk kembali mengamati keadaan di luar jendela mobil.

"Kau!" dengus Sehun.

"Sehun kali ini jadwalmu apa?"

"Ah kau tidak mengacuhkan aku lagi?" sindir Sehun.

"Ibumu yang bertanya."

"Iklan lagi dengan Byun Baekhyun."

"Yang lengkap iklan apa?"

"Pembersih wajah."

"Hmmmm." Jongin menggumam pelan dan mengetik pada layar ponselnya dengan cepat. "Selesai!" pekik Jongin bahagia. Sehun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah antik Jongin.

"Apa kau tahu Byun Baekhyun?"

"Aku pernah mendengar namanya." Jongin menjawab tak acuh.

"Ingat pesanku jangan kampungan."

"Iya."

.

.

.

Jongin duduk di samping Sehun menunggu Sehun yang akan dirias. "Luhan tidak datang ke sini menemanimu?"

"Luhan sibuk sendiri."

"Hmmm…, begitu."

"Kenapa bertanya?"

"Ibumu bertanya tapi aku belum menjawabnya, apa aku boleh membalas tentang Luhan pada ibumu?"

"Bagaimana pertanyaan Ibu?"

"Apa Luhan ada bersama Sehun?"

"Berapa kali Ibu mengirim pesan seperti itu?"

"Berkali-kali tapi aku tidak menjawabnya."

"Baguslah kalau begitu, sekarang jawab saja Luhan tidak ada bersamaku."

"Hmmm." Jongin menggumam pelan.

"Aku dirias kau bisa menunggu atau pergi membeli minuman, di gedung ini ada mesin penjual minuman dan ada snack bar, kau melihatnya kan tadi?"

"Ya."

"Jadi?" Sehun menatap Jongin menuntut jawaban.

"Jadi apa?"

"Kau menunggu atau membeli sesuatu?"

"Membeli sesuatu." Sehun tak membalas kemudian pergi menghampiri staf yang akan menangani penampilannya untuk syuting iklan. "Kau mau Sehun?"

"Tidak." Sehun membalas singkat. Jonginpun beranjak dari duduknya dan pergi menuju snack bar.

"Aku lapaaarrrr…," Jongin mengeluh pelan. Senyum lebar mengembang di wajahnya melihat aneka makanan ringan yang menggiurkan. "Aku mau membeli minuman, lalu roti, lalu keripik kentang. Hmmmm, sempurna Kim Jongin."

Jongin membawa semua makanan ringan yang baru saja dia beli dengan bahagia. Hingga sebuah suara membuatnya merasa tidak enak. "Aku ingin yang stroberi, sayangnya sudah habis." Jongin mengangkat bungkus roti berkrim stroberi di tangan kanannya.

Jongin ingin acuh tapi entah kenapa dia merasa tidak tega. "Kau ingin roti krim stroberi yang seperti ini?" Laki-laki berwajah tampan yang berdiri cukup jauh darinya mengangguk pelan. "Ini. Aku bisa memakan yang rasa lain, kebetulan aku membeli banyak."

"Ah tidak usah."

"Tidak apa-apa, sepertinya kau benar-benar menginginkan yang krim stroberi."

"Benar tidak apa-apa?" laki-laki berwajah imut itu terlihat ragu.

Jongin mendekat, menyodorkan rotinya yang masih terbungkus rapi. "Tidak apa-apa ambil saja."

"Terimakasih." Laki-laki berwajah imut itu terlihat bahagia kemudian merogoh saku jasnya.

"Tidak." Jongin berucap cepat. "Tidak perlu diganti, selamat menikmati."

"Kau benar-benar baik, terimakasih banyak. Aku Byun Baekhyun."

"Kim Jongin." Jongin tersenyum manis. "Ah Byun Baekhyun senang bertemu denganmu." Keduanya berjabat tangan singkat.

"Aku juga senang bertemu denganmu. Kau membeli banyak sekali?"

"Ya, aku kelaparan." Jongin tersenyum polos diakhir kalimat.

"Kau model?"

Jongin menggeleng pelan. "Aku bekerja untuk Oh Sehun."

"Menejer?"

"Yah…., bisa dibilang seperti itu." Jongin malas menjelaskan jika dirinya berkata yang sebenarnya tentang pekerjaannya.

"Aku bekerja dengan Sehun hari ini." Terang Baekhyun.

"Hmmm, Sehun sudah mengatakannya padaku."

"Wah enak sekali!" Baekhyun memekik pelan Jongin hanya tersenyum, keduanya berjalan bersama kembali ke taman belakang gedung.

TBC

Terima kasih untuk semua yang sudah bersedia membaca cerita saya di tengah serangan Negara Api hehehe. Terima kasih reviewnya andiasli99, Rey16, yoo jay hyeon, ohkim9488, Park Rinhyun Uchiha, Shafira, BabyCevy67, elferani, marisa, Rei14, NishiMala, rofi mvpshawol, aaaa, ucinaze, exofujosh, Jeyjong, kaila, alv, cute, KrisnaAnggaDewi, LangitSenja, Athiyyah417, typo's hickeys, myungricho, diannurmayasari15, Baegy0408, saya sayya, chocomilkfaza, dearkimkai, GYUSATAN, vivikim406, Jongina88, ulfah cuittybeams, jjong86, Qyunjaakkamjjong, Kim Jongin Kai, KaiNieris, novisaputri09, adindanurmas, Oh Kins, tobanga garry, geash, nha shawol, Tikha Semuel RyeoLhyun, Deviadevilcute, ArkunaKim, NisirnaHunkai99.