Jingga dan Senja
Main Cast : Sehun, Baekhyun, Kai, Luhan, Chanyeol,
Pairing: Kaihun?or Hanhun?
Genre : Drama, romance, slice of life
Disclaimer : saya repost cerita punyanya kak Esti Kinasih yang judulnya Jingga dan Senja, ada yang tau? Ini versi buat anak exo nya tapi.
Aduh saya salah orang bukan sexkai tapi sehuniesm. Thanks banget buat idenya. Aku jadi inget kalau rival Kai itu Luhan, dan inget banget Wolf drama version/3 ok daripada banyak bacot mending langsung baca aja part 6 nya nih
Part 6
Pulang sekolah Sehun dan Baekhyun berjalan menyusuri tepi lapangan basket menuju pintu gerbang, masih dengan pembicaraan seputar Kai. Informasi yang disampaikan Amber dua hari yang lalu rupanya membuat Kai tetap menjadi objek pembicaraan hangat sampai hari ini.
"Aku yakin dia itu sebenernya baik kok, Baek."
"Mungkin saja. Tapi kan tak ada yang tau bagaimana dia sebenernya. Aku masih tak percaya cerita Amber. Ajaib banget kalau tidak ada satupun yang tau di mana rumahnya."
"Iya, ya…" Sehun mengangguk. "Kenapa tak ada yang mencoba mengikuti dia diam-diam gitu ya?"
"Aku rasa tak ada yang berani. Atau mungkin, menghargai hak dia untuk merahasiakan di mana dia tinggal."
"Iya juga sih." Sehun mengangguk lagi.
Mendadak muka kedua gadis itu menegang. Pembicaraan tentang Kai juga langsung berhenti, karena sang objek pembicaraan berada tidak jauh di depan. Berdiri di trotoar di depan sekolah bersama teman-temannya.
"Sst, Kai!" bisik Baekhyun.
"Sudah tau!‖" balas Sehun.
"Jangan diliatin dong!"
"Siapa juga yang ngeliatin?"
Kedua cewek itu berjalan dengan tatapan lurus-lurus ke depan. Tapi Sehun tak mampu menahan diri untuk tidak melirik. Bahkan saat didapatinya pria itu dengan sebatang rokok terselip di bibir, terang-terangan merokok di area sekolah, Sehun tetap merasa sebenarnya Kai baik.
Tiba-tiba Kai menoleh. Sehun terkesiap. Tatapan mereka bertumbukan tak terhindarkan. Muka Sehun langusng merah. Tapi Kai terlihat tak acuh. Sambil mengisap rokoknya dengan tarikan panjang, Laki-laki itu menatap Sehun dengan sinar datar. Hanya sesaat, kemudian perhatiannya kembali ke teman-temannya. Sehun menarik napas panjang diam-diam. Lega, tapi agak sedih juga. Dua kejadian yang telah membuat hati dan pikirannya kacau ternyata bagi Kai sepertinya bukan apa-apa.
"Ya ampun!" seru Baekhyun tiba-tiba, seketika berhenti melangkah. "Buku cetak matematikaku tadi kan dipinjam Jimin, anak kelas sebelas. Belom dibalikin. Gawat! Besok ada matematika juga. Mana ada PR, lagi. Kau tunggu di sini sebentar ya, tau masih ada orangnya."
"Telepon aja dulu. Nanti taunya sudah pulang, lagi. Dia kan pulangnya lewat pintu belakang."
"Oh iya." Baekhyun segera mengeluarkan ponselnya lalu menekan sederet angka. "Masih ada. Dia nunggu di gerbang belakang," katanya kemudian. "Sebentar ya, Huna." Baekhyun langsung balik badan dan berlari kembali ke halaman sekolah.
Sehun terpaksa menunggu. gadis itu menatap jalan di depannya dengan gelisah, karena Kai hanya berjarak kira-kira sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Teman-temannya sudah pergi. Tinggal tersisa satu orang yang bediri tepat di depan Kai. Kedua laki-laki itu sedang terlibat pembicaraan serius.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan Sehun. Begitu sang pengendara membuka kaca helmnya, kedua bola mata Sehun kontan terbelalak. Pria pentolan Busan High School itu!
"Hai," laki-laki itu menyapa dan tersenyum. "Mau balikin kamus." Diturunkannya resleting jaketnya. Kamus Bahasa Inggris-Korea milik Sehun langsung menyembul dalam posisi berdiri bersandar di dada pria itu. "Nih." Diambilnya kamus itu kemudian dia ulurkan kepada sang pemilik.
Sehun langsung teringat lagi peristiwa pemukulan membabi buta yang dilakukannya. Diterimanya kamusnya dengan muka yang sekarang jadi merah.
"Ngg… itu… waktu itu maaf ya? Maaf banget," ucapnya terbata-bata.
"Tak masalah." Luhan tersenyum lunak. "Aku paham. Waktu itu kau pasti refleks, kan?"
"Iya." Sehun tersenyum malu.
Di tempatnya berdiri, Kai langsung menghentikan isapan rokoknya begitu dia mengenali wajah terbungkus helm itu. Kedua matanya langsung menajam. Luhan pura-pura tak melihat. Namun, lewat sudut mata dipantaunya setiap gerak-gerik Kai dengan waspada.
"Kepalamu tidak sampai benjol, kan? Apa tulang-tulangmu ada yang patah?" Tanya Sehun dengan nada cemas. Pria di depannya menggeleng.
"Tidak juga, cuma kata dokter, Aku sedikit kena gegar otak ringan," jelasnya dengan muka serius.
"Iya!? Kau serius!?" Sehun terpengarah. Seketika ekspresi penyesalan muncul di mukanya. Benar-benar terlihat jelas, membuat Luhan jadi ketawa geli.
"Bercanda. Bercanda. Aku tidak sampai seperti itu. Cuma kamus Inggris doang. Sempet nyut-nyutan sih. Tapi cuma sebentar kok. Sekarang udah baikan."
"Aku serius tau. Kau ini, menakuti ku saja." Sehun menarik napas lega. Pria di depannya menyeringai.
Menyaksikan keakraban itu, Kai jadi geram. Dibantingnya rokoknya ke trotoar jalan. "Kurang ajar. Udah sengaja didiemin biar nggak bonyok, malah nantang!" desisnya.
Kai menghampiri keduanya dengan langkah-langkah panjang. Luhan segera menghidupkan mesin motornya. Bukannya takut, tapi tindakannya ini memang atas nama pribadi dan ditujukan untuk Kai pribadi. Sama sekali bukan dari Busan High School untuk Seoul High School
"Aku balik ya, Hun"
"Mian," sekali lagi Sehun meminta maaf.
"It's okay. Tak usah dipikirin." Luhan tersenyum sambil mengacungkan jempol kanannya, kemudian melesat pergi. Satu seringai lebar menghiasi bibirnya, menggantikan senyum yang tadi diberikannya untuk Sehun.
"Ngapain dia?!" tiba-tiba saja Kai sudah berada tepat dibelakang Sehun. gadis itu menoleh kaget.
"Ngembaliin kamus," jawab Sehun spontan.
Tanpa merasa perlu minta izin, Kai mengambil kamus itu dari tangan Sehun lalu membukanya. Selembar kertas kecil meluncur dari sana. Dengan cepat Kai menahannya dengan satu jari. Keningnya sedikit mengerut membaca tulisan yang tertera di sana.
'Hai, Sehun. Salam kenal ya. Aku Luhan'
Sehun melirik takut-takut. Dia sendiri belum sempat memeriksa kamusnya, untuk mencari surat izin yang dituliskan mamanya untuk diserahkan pada Jessica Seongsaenim. Jadi dia tidak tahu bahwa pria tadi menyelipkan secarik kertas di dalamnya.
"Dia ngajak kenalan," kata Kai pendek. Tapi tidak dia tunjukkan kertas itu kepada pemilik sahnya. "Jadi namamu Sehun?"
"Ng…. iya." Sehun mengangguk. Rasa takut yang perlahan merayap membuat dadanya berdebar. Kai mengangguk-angguk.
"Tau namaku, kan?"
"Iya." Sehun mengangguk lagi.
"Bagus. Jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri."
Sehun tetap yakin cowok yang berdiri di belakangnya sebenarnya baik, tapi tetap saja Kai adalah biang keroknya Seoul High School. Sehun tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak merasa waswas.
"Nih." Kai mengembalikan kamus yang dipegangnya pada Kai, tapi tidak lembar kertas itu. Dia melipatnya lalu memasukkannya ke saku kemeja. Pria itu kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan Sehun yang menatapnya dengan mulut ternganga. Sehun sudah akan mengucapkan "kertas itu kan buat aku?" , tapi urung.
Biarin aja. Daripada nanti urusannya malah jadi runyam. Tak lama Baekhyun muncul.
"Payah ah si Jimin Sunbae. Dasar pelupa. Masa dia lupa udah pinjem…," kalimatnya tidak sempat selesai, karena Sehun keburu menarik satu tangannya dan berbisik di telinganya dengan nada tegang.
"Yuk, pulang cepetan! Ada yang mau aku certain!"
Keduanya berjalan menyusuri trotoar dengan langkah cepat. Sehun dengan muka tegang, Baekhyun dengan wajah tegang.
Penyerangan itu terjadi saat pulang sekolah. Tanpa prasangka, siswa-siswa Seoul High School berjalan keluar dari gerbang sekolah mereka. Sampai tiba-tiba dari arah perempatan berhamburan siswa-siswa Busan High School, musuh bebuyutan mereka, yang berlari kearah sekolah mereka dengan teriakan dan lemparan-lemparan batu.
Seketika suasana menjadi kacau. Siswa-siswa Seoul High School yang masih berada dekat gerbang sekolah seketika berhamburan kembali ke dalam area sekolah. Sementara yang sudah terlalu jauh dari gerbang, tidak mungkin kembali, berlarian dengan panik ke segala arah. Jerit dan teriakan terdengar di sana-sini. Yang pertama kali merespon serangan itu jelas anak-anak kelas dua belas, yang udah terbiasa terlibat tawuran, yang tidak peduli risiko apa pun yang menanti di depan. Sementara yang tidak ingin terlibat, pilih menunggu tawuran usai di dalam ruang-ruang kelas.
Kai yang saat itu berada tidak jauh dari gerbang sekolah segera mengoordinasi teman-temannya. Yang pertama dia perintahkan untuk menyambut serangan itu adalah sekelompok laki-laki yang disebut "Pasukan Kamikaze". Sekelompok laki-laki yang bangga balik ke sekolah dalam keadaan benjol, memar-memar, babak-belur, bahkan berdarah-darah, tidak peduli sanksi apa pun yang akan mereka terima dari pihak seklah nantinya. Mereka rata-rata penembak jitu, alias timpukan batunya jarang meleset. Mereka di-backup seksi perlengkapan tempur, yang segera mengeluaran bom-bom Molotov padat alias batu, dari tempat-tempat penyimpanan rahasia di dalam dan di sekitar area sekolah.
Kemudian Kai memerintahkan junior-juniornya yang masih kelas sepuluh untuk masuk ke ruang-ruang kelas. Mereka belum lama menjadi anggota keluarga baru di Seoul High School, jadi bisanya cuma panik doang. Sama sekali tidak berguna dan cuma bikin repot. Sementara siswa-siswa kelas sebelas yang telah
terdoktrin atau terjangkit virus patriotisme salah kaprah menyambut serangan itu bersama senior-senior mereka.
Kai memandang berkeliling. Area depan sekolah yang terdiri atas dua lapangan futsal, satu lapangan voli, dan satu lapangan basket itu sudah clear. Hanya berisi anak-anak yang akan menggantikan mereka yang kembali dalam keadaan luka-luka.
Sementara itu para guru hanya bisa menatap dari mulut koridor utama tanpa bisa berbuat apa-apa. Dalam situasi tawuran, beberapa anak didik mereka seperti Kai dan teman-temannya itu memang sama sekali tidak mempan bentakan, teriakan, pukulan penggaris besi, bahkan ancaman hukuman dari skala ringan sampai sangat berat.
Kai segera menggabungkan diri ke kancah pertempuran. Berlari menembus kekacauan dan hujan batu. Tiba- tiba langkahnya terhenti. Kedua matanya menyipit, menatap tajam ke kejauhan.
Sehun dan Baekhyun berdiri saling merapat dengan wajah pucat pasi. Keduanya terjebak di tempat yang sangat strategis. Trotoar jalan antara sekolah dan perempatan, tepat di pertengahan jarak. Rasa takut—terlebih-lebih panik karena ini untuk pertama kalinya mereka berada tepat di tengah-tengah tawuran—membuat keduanya tidak melihat peluang untuk melarikan diri yang sebenarnya sangat besar, lari secepat-cepanya kembali ke sekolah.
Mereka berdiri rapat di balik satu-satunya pelindung, kalau bisa disebut begitu. Sebatang pohon peneduh jalan yang belum lama ditanam. Yang batangnya Cuma sedikit lebih besar dari butiran batu-batu yang beterbangan. Singkat kata, Sehun dan Baekhyun berdiri di tempat yang paling strategis. Ditimpuk batu dari arah mana pun dijamin kena.
Kai langsung mengenali Sehun yang memang selalu penuh dengan nuansa orange.
"Sial! Si oranye itu kena kutuk, kali ya? Lagi-lagi kejebak tawuran!" desisnya. Kai lalu menoleh ke arah teman-temannya. "WOI! COVER-IN!" teriaknya.
Teman-temannya langsung mengerti. Dengan perlindungan teman-temannya, Kai berlari menembus hujan batu, berusaha mencapai tempat Sehun dan Baekhyun berdiri. Bukan apa-apa. Dia paling malas kalau ada wanita yang terlibat, apalagi terjebak tawuran. Soalnya mereka sering jadi korban, tapi lebih sering lagi dijadikan sandera. Akibatnya, Kai dan teman-temannya terpaksa mengaku kalah. Harga kompensasi agar gadis yang dijadikan sandera tidak diapa-apakan. Yang terakhir itu yang selalu membuat Kai kesal.
Sementara itu dari arah berlawanan, juga dengan perlindungan beberapa temannya, Luhan berlari cepat menuju titik yang sama.
Tiba-tiba pria yang berada di sebelah kanan Kai roboh. Satu lemparan batu yang benar-benar jitu membuatnya terkapar di aspal jalanan dengan lengan kanan berdarah. Beberapa orang segera maju untuk melindunginya, juga melindungi Kai yang posisinya jadi sedikit terbuka. Sementara dua orang segera menarik laki-laki yang roboh itu sampai berdiri lalu memapahnya menuju sekolah.
Tapi, seberapa cepat pun usaha penyelamatan itu dilakukan, mereka tetap kehilangan waktu. Begitu Kaii menoleh karena teriakan beberapa orang temannya, dilihatnya Luhan sudah hampir mencapai tempat Sehun dan Baekhyun. Dua orang teman Luhan dengan mengendarai motor, membayanginya di kiri-kanan.
"MAJU! MAJU!" teriak Kai keras.
Serentak seluruh anak-anak Busan High School yang berada di posisi depan berlari kencang ke arah lawan. Sementara yang berada di posisi tengah semakin gencar menghujani lawan dengan lemparan batu supaya teman-temannya bisa maju lebih cepat. Sayangnya mereka sudah kalah jarak.
Luhan bersama kedua temannya yang mengendarai motor sudah sampai di depan Sehun dan Baekhyun. Melihat itu Kai dan teman-temannya berlari seperti kalap. Namun jarak yang masih terbentang cukup jauh, membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa saat kedua gadis itu diseret ke motor dan dipaksa naik. Jerit dan pemberontakan mereka sama sekali sia-sia. Kedua motor itu segera melesat pergi, dengan Sehun dan Baekhyun di boncengan masing-masing.
Di tengah hujan batu, di tengah teriakan, di antara teman-temannya yang siap melindungi, Luhan berdiri menyongsong Kai. Kedua alisnya terangkat tinggi-tinggi. Senyum mengejek bercampur kemenangan tercetak di bibirnya, yang bahkan bisa dilihat Kai dari jarak yang cukup jauh. Membuat kemarahannya semakin menggelegak.
Luhan yang bisa melihat kemarahan Kai memuncak, semakin menikmati kemenangannya. Dia berdiri tenang dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan senyum tercetak semakin lebar di bibirnya. Meskipun demikian, pria itu tetap waspada. Menjelang Kai mencapai jarak yang dianggapnya batas siaga, Luhan memerintahkan teman-temannya untuk mundur.
Serentak seluruh gerombolan Busan High School itu balik badan, berlari ke arah perempatan dan menghilang di sana. Kai dan teman-temannya tersentak dan semakin mempercepat lari mereka. Tapi saat sampai di perempatan jalan dan berbelok ke kanan, mereka hanya melihat sisa-sisa murid Busan High School masuk ke sebuah jalan kecil. Tak lama kemudian delapan unit mobil melesat keluar dari sana, dengan teriakan dan tawa kemenangan yang bisa didengar Kai dan teman-temannya.
Mereka terpaksa menghentikan pengejaran. Kai berdiri di tempat dengan kedua rahang terkatup rapat. Mati-matian menahan kemarahannya agar tidak semakin membludak. Kemudian dia balik badan.
"Chan, ambil motorku!" serunya sambil melempar kunci. Chanyeol menangkap kunci itu dan segera berlari ke sekolah. Anak-anak yang lain, yang rata-rata juga membawa kendaraan ke sekolah, langsung mengikuti. Tak lama terdengar deru nyaring di kejauhan. Tapi yang kembali hanya Chanyeol.
"Semua kendaraan ketahan, Kai," lapor Chanyeol sambil menyerahkan motor itu pada sang pemilik. Kemudian dia ulurkan jaket yang diambilkan Kris, salah seorang teman mereka, dari kelas.
"Udah tau," jawab Kai pendek sambil mengenakan jaket hitamnya. Setiap kali terjadi tawuran, pihak sekolah memang selalu langsung menutup kedua akses ke sekolah. Alasan kenapa motor itu bisa lolos adalah karena motor itu milik Kai, plus ancaman ke Security yang berjaga di gerbang depan.
"Nanti kalo Kai ngamuk, Ahjussi tanggung jawab ya?"
"Jadi gimana?" Chanyeol menatap Kai, menunggu instruksi selanjutnnya.
"Biar aku sendiri yang ke Busan."
"Kau Gila!" Chanyeol melotot. "Jangan! Jangan! Tunggu bentar deh. Anak-anak lagi nyetop taksi."
"Bodoh! Mana ada taksi yang mau ngangkut anak-anak yang mau tawuran? Usul siapa sih?"
"Hehe, Aku." Chanyeol meringis malu.
"Tsk! Duduk di sebelahku tak ada gunanya ya?" sesaat Kai menatap Chanyeol dengan lirikan tajam. Kemudian pria itu menggas motornya dan langsung melesat pergi.
"WOI, KAIIIIII!" teriak Chanyeol, melengking keras. Jelas sia-sia
Apa yang bakal terjadi sama Kai? Terus gimana nasib Sehun dan Baekhyun? Apa yang bakal Luhan lakukan? Keep Review ya guys:-D
