Sleepy Party
Summary: Menginap di rumah sahabat baru memanglah hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Namun apa jadinya jika di malam pertama saja sudah ada kejadian tak menyenangkan yang dialami oleh Hinata. Tak disangka tak dinyana, tak diduga tak ditanya, eh, ternyata eh ternyata, kejadian tersebut adalah awal kisah baru bagi sang Hyuuga muda kita... / Sorry, gak pandai buat summary... RnR please... ^^
Disclaimer: Masashi Kishimoto always
Pair: Gaara x Hinata [4ever ever after *?*]
Rated: T
Genre: Romance, drama, family, fluffy and humor [maybe]
Warning: OOC tingkat akut, AU, typo, gaje, abal, ide pasaran, dan warning-warning lainnya
DON'T LIKE DON'T READ
CHAPTER 6: Open Your Eyes
...
Sasuke menatap malas pada jendela samping kirinya dengan tangan bertopang dagu menghadapi gerombolan siswi yang tak lelah-lelahnya terus menggerombolinya semenjak ia pindah ke sekolah ini. Dicuekin, bukannya bertambah jera, makin hari malah makin banyak saja gadis yang terus menguntitnya hingga jam pelajaran kembali berbunyi. Yah... disaat seperti ini, waktu istirahat adalah waktu yang paling ditunggu bagi para murid, kecuali Sasuke tentunya.
Dari dulu -kecil- ia paling benci waktu istirahat yang hanya mampu ia umpat dalam hati. Mengira kehidupannya lebih baik dengan dipindahkan ke sekolah ini, nyatanya malah makin buruk saja bagi Sasuke.
Apalagi semenjak kecelakaan maut setahun lalu yang membuat kedua orang tuanya tiada, makin membuat Sasuke menjadi pemuda dingin tak berperasaan. Semua hal di dunia ini dianggapnya sama –tak terkecuali-. Hingga kadang jika pemuda itu sudah sampai puncaknya, tak segan dirinya akan terjerat dengan berbotol-botol minuman berbau menyengat sebagai 'teman' yang mengertinya.
Kakak yang sangat sayang padanya pun masih belum cukup untuk bisa mencairkan hatinya yang beku. Ia terlalu terbawa emosi mengetahui kematian orang tuanya –terutama Ibunya-. Setiap malam beberapa saat setelah pemakaman Mikoto dan Fugaku berlangsung, Sasuke hanya menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukkan. Ia masih muda memang. Tapi sifat dan pembawaannya bahkan hampir melebihi orang dewasa.
Itachi menyayanginya, tapi Sasuke tak terlalu menyukainya.
Itachi adalah kebanggaan keluarga Uchiha. Kebanggaan ayahnya. Sasuke iri, karena ayahnya sering kali membandingkannya dengan Itachi saat makan bersama. Meski begitu, masih ada sayang dan tekad Sasuke agar ia bisa diakui ayahnya. Ibunya selalu memberi dukungan dan sangat mencintai Sasuke. Apapun yang Sasuke alami, tak luput sedikitpun dari pantauan Mikoto karena putra bungsunya itu sering kali bercerita padanya. Sasuke kecil tumbuh menjadi Sasuke remaja.
Meski begitu, tak banyak yang berubah dari curhatan Sasuke pada Mikoto. Tentang Itachi dan ayahnya. Tentang Itachi. Dan yang paling sering adalah tentang kepopuleran yang membuat Sasuke risih. Dan apapun yang keluar dari mulut Mikoto selalu bisa membuat Sasuke tenang dan nyaman, meski kadang gelak tawa ibunya itu menjengkelkannya. Sasuke sangat menyayangi Mikoto, hingga kecelakaan itu merubah segalanya tentang Sasuke.
Wataknya yang memang dingin dan tak acuh semakin menjadi saat melihat peti berhiaskan lilium tenggelam dalam taburan tanah coklat yang semakin menghilangkannya dari pandangan Sasuke. Saat itulah, pemuda itu berubah. Dirinya bukanlah Sasuke yang dulu.
Meski sifat dinginnya tak berubah, tapi kini perilakunya yang berubah. Hanya diketahui beberapa orang saja, Sasuke adalah seorang ketua geng paling ditakuti di Oto. Dan sering kali ia main hajar menghajar dengan kelompok geng lain, balapan motor, dan penyelundupan senjata juga miras yang sangat lihai ia lakukan karena kejeniusannya.
Hingga kakaknya mengetahui hal itu dan memindahkannya ke Konoha. Sasuke tak peduli raut kecewa yang dipancarkan Itachi saat mengetahui kelakuan adiknya. Ia juga tak peduli saat Itachi murka dengan diamnya. Dan Sasuke bereaksi –menatap tajam- pada Itachi saat kakaknya itu memukul wajahnya karena ia bergeming.
Seolah kacau, Itachi balik menghantam tembok di sampingnya hingga tangannya berdarah. Sasuke tak menyadari atau tepatnya tak mau dirinya sadar bahwa semua itu karena ulahnya. Tapi karena rasa sayangnya yang terlampau besar pada adiknya, Itachi hanya bisa memperingati Sasuke dan memindahkannya ke Konoha, berharap ia menjadi lebih baik. Konoha dikenal sebagai kota maju karena prestasi budaya dan keramahtamahannya, dibalik daya pikat berkesan modern. Tapi bagi Sasuke, semua sama saja.
Bel masuk akhirnya berbunyi. Sedikit memberi oksigen bagi Sasuke untuk bernapas saat mendengar keluh-gerutuan kecewa para siswi yang perlahan meninggalkannya. Tak lupa kerlingan, tatapan mata manja, juga kiss bye menjijikkan –bagi Sasuke- ditujukan para gadis itu pada sang pangeran sebelum mereka benar-benar lenyap ditelan pintu kelas yang ramai dimasuki penghuni asli kelas XII-1.
%%%%%%%%%999999%%%%%%%%%
Hinata menyusuri koridor sekolah yang telah sejak tadi lenggang tanpa suara berisik pantulan sepatu seperti biasanya.
Ya, jam sekolah sudah berakhir semenjak tadi. Hinata baru bisa melangkahkan kakinya menuju gerbang setelah dirinya selesai tugas piket. Begitu banyak yang harus ia bersihkan. Dikarenakan tadi seisi kelas mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun wali kelas mereka, hingga membuat kelas tersebut bak kapal pecah. Malangnya lagi, keesokan harinya adalah tugas piket Hinata.
Dirinya yang memang selalu mengalah dan terlalu berbaik hati pada semua orang, hingga membiarkan saja saat teman sesama piketnya pamit pulang dengan berbagai alasan yang sudah jelas-jelas mereka buat untuk menghindarai kewajiban mereka. Mereka juga tahu, kalau Hinata pasti tidak akan marah dan mau saja mengerjakan semua sisanya –yang masih begitu banyak- sendiri. Bagaimanapun juga, perbuatan mereka itu membuat si Hyuuga kewalahan meski dirinya tak berani berpikiran buruk terhadap teman-temannya. Bahkan, karena tugas piket itulah dirinya pulang hampir larut begini sendirian. Semua murid kelas lain yang punya tugas piket besok pun sudah meninggalkan sekolah sejak tadi.
Hinata benar-benar merasa remuk hari ini.
"Tap... tap... tap..."
Hinata menolehkan kepalanya. Ia seperti mendengar suara reaksi antara sepatu dengan lantai. Matanya mencari-cari sosok yang berkemungkinan menimbulkan suara itu. Sedikit merasa takut juga Hinata jika membayangkan hanya dirinya saja yang ada di sekolah ini. Dengan keadaan hari hampir gelap dan tiba-tiba ada suara aneh yang didengarnya.
"Tap...tap...tap..."
Jantung Hinata mulai berdetak tak karuan. Ia mulai mempercepat langkah kakinya.
"Tap... tap... tap..."
Tapi suara itu masih bergaung memenuhi lorong sepi ini. Hinata tak berani menoleh ke belakang. Ia mencoba sedikit berlari. Dirinya benar-benar takut sekarang. Hanya tinggal beberapa meter sebelum ia bisa mencapai tangga di ujung lorong. Kakinya sedikit lemas karena takut.
Ia terlalu gugup, hingga tersandung salah satu kakinya sendiri.
"Pa-padahal sedikit lagi..."
"Tap... tap..."
Suara itu semakin dekat. Hinata tidak bisa bergerak. Ia hanya meringis dan pasrah akan keadaannya saat ini. Berdoa dalam hati agar Kami-sama memberikannya selamat.
"Tap..."
Jantung Hinata serasa berhenti berdetak.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Suaranya sangat dingin. Hinata terpaku tak bergerak. Keringat dingin mulai deras membasahi tubuh dan wajahnya. Gadis malang itu tak tahu harus bagaimana.
'Apakah ini akhirnya? Apa aku begitu tak bergunanya hingga harus berakhir disini? Kami-sama, padahal aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk bisa berguna pada orang lain...' batin Hinata.
"Oi, kau tuli? Apa yang kau lakukan di lantai, bodoh?" Hinata tak bisa tidak menahan rasa penasaran untuk melihat siapa yang ada di belakangnya sekarang. Setelah sekian lama tidak terjadi apapun, ia memberanikan diri melihat sosok yang berbicara padanya.
"...!"
Tatapan itu begitu tajam mengarah padanya. Seolah memandang rendah serta benci pada sosok lemah di hadapannya. Sedikit lama bagi Hinata untuk memproses data sosok yang sedang dilihatnya itu. Sosok itu mengenakan seragam yang sama dengannya, hingga ia sadar bahwa sosok itu adalah salah satu senpainya yang akhir-akhir menjadi berita heboh di sekolah. Terutama Matsuri yang selalu memperingatkannya agar jauh-jauh dari senpai baru tersebut. Meski tidak tahu mengapa, Hinata hanya menganggap peringatan Matsuri itu sebagai bentuk peringatan seorang fan girl terhadap idolanya.
"Selain tuli dan bodoh, kau juga tak punya sopan santun, eh? Kau menghalangi jalanku,"
Padahal masih banyak ruang untuk digunakan Sasuke melewati lorong itu –ya, sebenarnya yang tadi itu Sasuke-. Atau, dia memang sengaja melakukan itu untuk menghilangkan sedikit rasa kesalnya? Hari ini ia bertengkar lagi dengan Itachi -kakaknya-.
Hinata merasa sangat lega karena dugaannya salah. 'Sepertinya aku terlalu banyak menonton film.' Mencoba bangkit berdiri, Hinata merapikan rambut dan seragamnya yang berantakan. Ia melihat lututnya sedikit memar karena jatuh tadi. Ia membalikkan tubuhnya dan dengan menunduk, ia mengucap maaf berkali-kali sambil membungkuk pada Sasuke.
"Go-gomensai... gomenasai s-senpai... gomenasai..."
Hinata merasa bersalah lagi. Ia menyalahkan dirinya karena sudah merepotkan orang lain -lagi-. Padahal yang salah itu kan Sasuke. Memang sih, ia gak tahu kalo langkah kakinya yang cetarr itu nakutin si Hinata. Tapi, kalo liat cewek jatuh di depan matanya itu kan seharusnya ditolong, bukan malah dikatain n dijelekin. Tu kan namanya kagak gentle yah... *dijitak Sasuke
Sasuke hanya mendecih dan berlalu begitu saja. Hinata yang dicuekin permintamaafannya hanya meringis dan berjalan pulang dengan kaki agak pincang. Senpainya yang berjalan lebih dulu berlagak tak peduli padanya. Ia memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana dan berjalan cepat di depan. Hinata sangat lega dengan hal itu. Ia merasa lebih baik jika terabaikan setelah mengalami hal yang menurutnya memalukan dan menyusahkan orang lain. Meski menahan nyeri di kaki, ia tetap bisa tersenyum karena merasa telah terbebas dari hal yang membuatnya serasa mati rasa beberapa saat lalu.
Sasuke bersiap menjalankan motornya ketika melihat sosok gadis yang jatuh di depannya beberapa saat lalu berjalan di tengah lapangan sekolah dengan gaya berjalan yang aneh. Dia terlihat sedikit pincang. Sasuke merasa sedikit kasihan padanya. Ia tadi menggunakan gadis itu sebagai tempat menumpahkan umpatannya yang tak sempat terucap pada Itachi. Jika dipikir lagi, gadis itu tidak menjerit ataupun berjingkat seperti kebanyakan gadis lain ketika bertatapan langsung dengannya. *meski tadi Hinata bicaranya nunduk terus sih...* Sasuke memutuskan sesuatu.
"Uh, sssh... se-sepertinya aku sedikit terkilir.."
Brrrmm...
Hinata sedikit terkejut dan menolehkan kepalanya.
"Naik,"
Di sampingnya ada sebuah motor besar berwarna hitam dan seorang pemuda yang menyodorkan helm padanya. Sepertinya itu senpai yang tadi. 'Siapa ya namanya? Ah, aku lupa siapa namanya...'
"Eh, ti-tidak usah senpai,"
"Jangan sok jual mahal dan cepat naik! Kau ingin membuatku terlihat sedang menggodamu, hah?"
"Bu –bukan begitu..."
"Kalau begitu cepat naik!"
Hinata terbata-bata menerima helm hitam yang kebesaran sekali di keplaanya. Sedikit kesusahan untuk menaiki motor gede Sasuke, hingga Sasuke yang tak sabaran dengan kekikukan gadis pemalu itu, menarik tangannya dan meletakkannya di perut.
Hinata sedikit terpekik, tapi sudah terlambat.
Motor mulai melaju dengan kecepatan yang tak terduga. Sedikit ragu, apakah senpainya yang jadi idola sekolah itu tahu rumahnya. Ia tidak bertanya maupun memberinya kesempatan untuk berkata. Jadilah, Hinata cuma diam sambil memejamkan mata erat dengan laju motor Sasuke. Pemuda itu tak menghiraukannya dan seolah hanya menjadikan Hinata sebuah barang yang menumpang di motor hitamnya.
Sampai mereka mulai melaju pelan melintasi jalan sepi dengan deretan rimbun pohon cemara. Jalan setapak kecil yang tak beraspal. Hinata memberanikan diri menengok, dan sekonyong-konyong melayangkan protes pada Sasuke.
"A-ano, i-ini bukan jalan menuju ru-rumahku, senpai,"
Sasuke tak menjawab.
"S-senpai, i-ini bu-"
Setelah mengerahkan gas motor tiba-tiba untuk melewati sebuah undakan yang hampir membuat Hinata terjungkal, Hinata mulai terkagum-kagum dengan pemandangan yang tersaji di depan mata.
Sebuah permata biru yang luas dengan sosok tenggelam sang surya. Angin yang membawa aroma asin ke sekitar wajah dan cekcokan camar yang berterbangan melawan angin. Deburan keras ombak pada tebing tinggi yang berbatas sebuah pagar besi memanjang sepanjang jalan. Jalan itu berkelok. Menikung cukup tajam setelah tanjakan tadi. Dan tikungan yang dibuat aman dengan melebarkan lebih areanya, bagai sebuah pemberhentian untuk menikmati ciptaan Tuhan ini–seperti sengaja dibuat seperti itu-.
Motor menderu rendah dan akhirnya berhenti. Terposisi sejajar pada pagar pembatas dengan penyangga sudah menyentuh aspal. Mereka tidak turun. Atau tepatnya si penunggang enggan turun dan menyebabkan orang yang menumpang pada motornya juga sungkan untuk turun. Mereka memilih diam melihat pemandangan laut sore hari yang tenang tanpa gangguan.
Hinata melepas helmnya. Rambut panjang indah itu langsung berkibar indah layaknya rimbun pohon yang ada di belakang mereka. Tangannya sudah tak mau lagi berpegang pada perut Sasuke. Ia begitu malu mendapati dirinya memegang tubuh lelaki sampai selama dan sedekat itu. Itu terasa tabu -baginya-.
Di kejauhan terlihat melintas perahu nelayan mengarung luasnya samudera. Sasuke dengan mata elang yang menukik tajam melihat objek jauh itu bagai incaran. Begitu fokus dan seriusnya bagai ingin menenggelamkan perahu itu dengan tatapan tajamnya.
Ya, dengan begitu kepalanya bisa lebih ringan. Seolah dengan membuang setiap unek sampah di otak pada objek jauh itu, bisa meringankan beban hidupnya.
Itu adalah kebiasannya. Membuang segala masalah dengan fokus pada objek yang sulit untuk dilihat, semenjak ibunya tiada. Dan kebanyakan objek seperti itu bisa ia dapatkan disini -laut-. Tempat favoritnya semenjak pindah ke konoha.
Lalu jika ditilik dari kejauhan, dari balik tubuh mereka yang menutupi pandang sinar keemasan sang surya, mereka bagai sejoli nyata yang serasa-serasi. Sepasang kekasih yang nyatanya bukan siapa-siapa, melainkan hanya senior dan adik kelasnya yang ia buat pincang.
Tapi setiap orang pasti mengira mereka adalah pasangan kekasih yang sedang berkencan. Soalnya cocok banget sih, tubuh mungil yang elok dengan rambut panjang berkibar indah, dan pemuda gagah bertubuh tinggi yang elok parasnya. Duduk berdua di atas motor melihat matahari terbenam di laut barat. Semua orang pasti mengira mereka seperti itu.
"Senpai..." akhirnya Hinata berani membuka suara.
Si Uchiha bungsu menoleh sedikit dan melirikkan matanya dari dalam helm yang tak menurunkan kacanya. Ia baru sadar membawa seseorang dalam penumpahan emosinya yang aneh itu.
"Hn?"
"A-ah, maaf... a-aku hanya i-ingin pulang,"
"Hn, sebentar lagi,"
Diteliti dari cara bicaranya, si idola baru KHS itu mirip seseorang. Seseorang yang sejak kemarin membuat pikirannya galau. Seseorang yang sadar –atau tidak- telah membuat si Hyuuga kikuk itu menjadi gadis yang salah tingkah, tak tahu harus bersikap seperti apa. Menyesali atau tetap menjalani keputusannya. Bingung dengan perasaan dan menangis jika sudah tak kuat menanggung beban.
Siapa lagi seseorang itu kalau bukan si pemilik surai merah yang menyala, Sabaku no Gaara.
Hah... mengingat Gaara membuat hati kecilnya sedikit sakit.
Ia tak suka berbohong. Sedari dulu ia diajari untuk tidak pernah melakukan perbuatan nakal itu. Yang memang pada dasarnya si Hinata tak pandai berbohong, walau di keadaan mendesak sekalipun. Dan lihat sekarang! Ia bagai aktris teater berbakat yang mampu menyulap semua orang untuk percaya pada peran yang tengah ia mainkan. Seluruh keluarga Sabaku. Seluruh pemilik nama Sabaku –kecuali Gaara- telah menganggap dirinya adalah kekasih dari salah satu penyandang marga mereka.
Hinata menunduk, menyembunyikan wajah dibalik kibaran rambut yang kian menutupi wajah. Kemurungan yang jelas terlihat dan tak mampu membendung rasa penasaran pemuda di depannya.
"Kau kenapa?" baritone itu keluar dan seakan membangunkan si Hyuuga.
"T-tidak apa-apa, s-senpai,"
"Akan kuantar pulang sebentar lagi, kau tak usah khawatir,"
"A-aku tidak-"
"Wajahmu terlihat seperti akan menangis,"
"Eh?"
Hinata memeriksa wajahnya yang ternyata memang memanas, mata berkaca, dan bibir kering. Ia menelan ludah dan membasahi bibirnya. Mengusap mata yang untung saja belum sempat menumpahkan airnya. Ia sangat malu dengan keadaannya yang terpergok Sasuke. Sebenarnya ia tak keberatan jika senpainya itu mengajaknya ke tempat seindah ini sebelum diantar pulang ke rumah.
'Ah... kenapa aku bisa sangat cengeng begini karena Gaara-senpai? Bahkan kami tak memiliki hubungan apapun,' ia gigit bibir bawahnya tatkala pikiran itu melintas di benaknya.
"Pakai helmmu,"
"Eh?"
Lagi-lagi Hinata terbengong kayak sapi ompong. *dideath glare si Hime L
Sasuke cepat merubah topik satu ke topik yang lain. Membuat gadis tipe berpikiran lambat sepertinya mematung, lalu gelagapan ketika berhasil mencerna apa itu maksudnya. Sedikit tersendat ia ketika sadar dan langsung memakai helm di tangan dengan gaya yang kaku.
'Dia mudah sekali gugup,'
Tatapan datar Sasuke mengamati si Hyuuga dari balik kaca spion. Ia angkat penyangga motornya, menyalakan mesin, dan siap mengantar si Hyuuga menuju kediamannya.
"Dimana rumahmu?"
Dan selanjutnya mereka memulai perjalan kilat seperti sedia kala dengan Hinata yang tanpa sadar telah melingkarkan lengannya pada pemuda itu.
Sasuke diam. Ia bersikap biasa. Hinata juga bersikap biasa. Mungkin gadis itu bukan tipe berisik yang selalu penuh mengisi tiap keseharian Sasuke. Mungkin juga Hinata bisa dijadikan rekan perempuan pertama yang bisa Sasuke ajak bicara secara 'normal'. Apapun itu, si Uchiha bungsu ini seakan tak keberatan dengan kehadiran gadis itu yang menemani setiap detik di harinya itu. Ia merasa nyaman, tak terganggu, dan yang terpenting, ia merasa seolah memiliki teman untuk dijadikan kawan bersama untuk melihat 'lautnya'.
Ya, entah darimana juga sebuah pikiran abstrak terlintas di otak Sasuke.
'Aku akan mengajaknya lagi lain kali,'
%%%%%%%%%%%99999999999%%%%%%%%%%%%
Kediaman baru para Hyuuga di Konoha.
Rumah bergaya tradisional asri dengan banyak pepohonan rindang. Termasuk sakura bermekaran yang menghias beberapa sisi rumah. Halaman yang cukup luas, dengan rumput hijau lembut diselingi banyak bunga beraneka ragam. Di pagar depan sebatas dada orang dewasa, terdapat kanji 'Hyuuga' dan sederet nama manusia yang menghuni rumah itu. Rumah yang cukup besar, walau saat ini hanya ditinggali empat anggota keluarganya. Si sulung yang memutuskan tinggal di asrama, membuat satu-satunya anak lelaki di keluarga itu harus lebih lama tinggal di daerah dekat desa kelahiran daripada rumah barunya.
Sasuke tiba di depan gerbang para Hyuuga. Rumah itu cukup luas, tapi tak seluas kediaman Uchiha.
Si gadis yang mulai turun membuat Sasuke melepas helm yang sedari tadi ia kenakan.
"A-arigaou, senpai,"
"Hn"
Sasuke meraih helm yang Hinata sodorkan.
"Apa s-senpai mau m-mampir, dulu?"
Hinata ingat ayahnya masih pergi untuk urusan bisnis. Jadi ia berani mengajak seorang lelaki masuk ke rumahnya. Dan mungkin ibunya juga tak keberatan, mengingat ia yang selalu senang mendapati kunjungan tamu, apalagi itu teman dari anak-anaknya.
"Tidak usah, aku langsung pulang saja,"
"S-souka... A-arigatou, senpai... Itterashai..."
Dan deruman motor besar yang tadi membawanya itu kini melesat dengan kecepatan yang buat Hinata ngeri. Tak bisa percaya bahwa ia tadi juga menaiki motor itu dengan kecepatan dahsyat, bahkan lebih lambat dari yang barusan –dilihat dari tancapan gas Sasuke tadi-.
Membuka gerbang, Hinata berjalan santai menuju rumah. Sedikit heran karena ketika ia bilang 'tadaima' dari genkan depan, pasti ibunya akan langsung menjawab 'okaeri' dari dalam atau menghampiri lansung untuk menyambut dirinya dengan sebuah senyuman. Tapi suasana sepi yang ia dapat kini malah membuat ia penasaran.
'Apa Kaa-san sedang keluar?'
Itu mungkin saja karena ibunya adalah seorang ibu rumah tangga, yang sewaktu-waktu bisa keluar kapanpun ia mau.
Berjalan menuju dapur, ia mendapati pintu samping yang terbuka. Membuat angin dari gesekan pepohonan halaman masuk begitu saja. Hinata sedikit was-was.
Apa itu ulah pencuri yang menyatron rumah? Menyekap keluarganya dan ia berusaha mengambil barang-barang berharga?
'Ah, tidak! Tidak mungkin!'
Hinata mencoba berpikir positif. Ia tidak mau kejadian konyol di kediaman Sabaku saat itu terulang kembali. Mengingat ia dan keluarganya adalah orang pindahan dari desa tak lama ini. Tak mungkin para pencuri sudah mengincar rumah yang notabenenya baru bisa ditempati beberapa hari lalu.
'Mungkin Kaa-san lupa menutup pintu,'
Pikiran positif terus ia kumandangkan. Berjalan pelan menuju pintu yang terbuka lebar. Angin sejuk musim semi menghembus kencang. Ia beranikan diri dengan kekuatan hati yang terus memaksanya berpikir positif dan tidak boleh takut. Tapi sadar atau tidak, tangan kecilnya kini menggenggam sebuah sendok sayur besar yang siap ia lempar pada siapa saja. Berjalan pelan tanpa suara. Decit kayu yang bergema sedikit membuat ia berhenti sejenak dan memeriksa keadaan. Setelah dirasa aman, ia lanjutkan 'ekspedisi' aneh itu dengan melongokkan kepalanya menyembul melihat ke sekitar halaman rumah.
Tengok depan, kiri, dan tak menemukan siapapun. Tapi begitu ia menoleh ke arah kanan...
"Kyaaaa!"
Ayunan sendok sayur secara otomatis mengarah pada sosok yang membuat ia kaget setengah mati. Tatapan mata tajam yang menyeramkan. Manik hijau yang dilingkari pola hitam tebal dan rambut berwarna merah menyala.
Tunggu!
Itu kan...
Beberapa detik ia gemetar dengan sendok sayur teracung. Hinata baru biasa sadar siapa sosok yang buatnya jantungan saat ini. Dan lagi-lagi, mata mereka bersirobok, ekspresi berbeda terpancar meski hal itu mengingatkan mereka pada momen perdana yang selalu buat jantung deg-degan. Ya, kejadian itu membuat Hinata dan sosok di hadapannya terkenang pada masa yang buat mereka berinteraksi untuk pertama kali.
Gaara menatap datar gadis yang masih menyisakan raut ketakutan itu. Acungan sendok sayur memang masih mengarah padanya, meski posisi mereka berjauhan. Ia bersikap tenang dan santai. Walau hati bergolak tak karuan karena posisi dan keadaan ini membuatnya ingat dengan pertemuan pertamanya dengan gadis itu.
Ia sadar ada orang lain di kediaman Hyuuga selain dirinya, ketika mendengar suara deritan kayu pelan yang tertangkap indra tajamnya. Ia bersikap santai, menengok dengan tenang siapa gerangan yang akan muncul sebentar lagi. Kemungkinan besar itu adalah salah satu penghuni rumah ini. Ataupun jika itu bukan mereka dan adalah seorang penjahat, maka siap saja penjahat itu merasakan pukulan Gaara yang sudah terbiasa bergelut ganas dengan gerombolan berandal.
Menunggu dengan sabar. Yang entah kenapa membuat Gaara tiba-tiba teringat seseorang saat meneliti tingkah dan durasi geraknya yang samar terdeteksi. Sosok yang suka menendap, kikuk, dan gugup. Hingga firasat itu benar dan mengantarnya lagi pada situasi yang mirip pada kejadian di waktu hujan deras malam itu.
"G-ga-gaara-san?"
TBC
Hoooo... waya waya wayauooooo... haya waya haya uooooo auooooooo auoooooooo...
Waya waya haaaauoooo... hayaaaaaaooooooaaaaaaaaooooooo... haha woooooooyaaaaaaaa...
Haya waya-
#gedubrak! –dilempar panci-
Eh, ha, ha, ha, hhahaahaha...
Gomen reader-sama!
*author senyum canggung
Lama fict ini gak kesentuh dan baru sekarang akhirnya bisa update! Makanya author seneeeeng banget!
Yay!
*melompat gaje
Wah, gak tau juga, masih ada yang ngarep, atau malah ninggalin fict terbengkalai ini... padahal pair-nya kan kesukaan author...
*nangis lebay TT_TT
Gomen pembaca terhormat sekalian... Shiro jarang update, ngurus ff lain pula, ngurus ini itu pula, dan pada bulan puasa yang banyak nganggur karena libur, baru si author pemalas ini bisa mengurus fandom usangnya yang telah lama ditinggali.
Yah... banyak debu dan sarang laba-laba deh...
Tapi makasih banyak buat para pembaca yang masih setia membaca tiap karya Shiro. Shiro sangat menghargai dan seneeng sekali. Mudah-mudahan tetep dibaca dan review untuk mengkritik atau memuji karya author ini yah...
#jyiiiaaaahh... ngarep lu!
Yosh, see you in the next chap...^^
