Title :

Orbis Terrarum [World]

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Amnesia © Touko Machida

Story :
©Rall Freecss

Cast :

Fem!Kuroko x GoM, etc

Warning :

GaJe, Typo Everywhere, Fem!Kuroko, OOC, etc :v


DRET! DRET! DRET! DRET!


From : Midorima Shintarou
To : Kuroko Tetsura
Subject : None

Aku ada di Maid no Hitsuji, ada yang ingin ku bicarakan. Aku akan menunggu sampai kau tiba.

-Midorima


Kuroko yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu apartementnya tercengang membaca pesan itu. Tidak hanya itu, ia juga merasa bingung pada kondisinya saat ini. Kenapa ia bisa ada di sana? Kenapa Midorima ingin bertemu dengannya? Kenapa?

"Apakah aku berpindah Orbis Terrarum lagi..?" gumam Kuroko.

Kini Kuroko duduk berhadapan dengan seorang pemuda bersurai hijau dan berkaca mata. Mereka duduk di salah satu meja yang ada di Maid no Hitsuji. Midorima memejamka matanya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Apa yang ingin dibicarakannya? Dia tampak marah.." batin Kuroko. Midorima menghela nafas, matanya terbuka perlahan sebelum akhirnya suaranya terdengar,

"Aku tidak bisa membaca pikiran orang lain. Aku tidak akan mengerti jika kau tidak mengatakannya padaku, nanodayo."

"Eh?"

Midorima menyeruput teh yang ada di depannya sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Aku mengerti jika kau tidak suka dengan sikapku padamu. Tapi, jika memang begitu, aku ingin kau berfikir dengan lebih jernih, nanodayo."

Kedua alis Kuroko bertaut, dahinya sedikit berkerut.

"Apa yang dia bicarakan?" pikir Kuroko. Gadis itu sama sekali tak bisa mengikuti pembicaraan ini. Bukannya tidak bisa, dia hanya tidak mengerti.

"Untuk mendekati wanita, aku sudah bersikap seperti yang ku baca pada novel romance ataupun film yang ku tonton. Bahkan aku mengikuti semua yang dikatakan ramalan zodiakku, nanodayo."

Midorima memperbaiki letak kaca matanya yang sedikit melorot.

"Jika memang aku melakukan kesalahan. Aku akan memeperbaikinya, nanodayo."

Pemuda itu menghela nafas panjang,

"Tapi pertama-tama, setidaknya beri tahu aku apa yang kau tidak suka, nanodayo." Kedua tangannya terlipat di depan dada, menimbulkan kesan angkuh yang selaras dengan wajahnya.

Kuroko menunduk, "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"

"Kuroko, kenapa kau hanya diam saja? Apakah kau tidak mendengar?"

Kuroko buru-buru mengangkat kepalanya dan menggeleng.

"Kalau begitu kenapa diam saja? Kau kehilangan kemampuan bicaramu atau apa?"

"Gomenasai, Midorima-kun. Aku... Aku sama sekali tidak mengerti..."

Kedua tangan Midorima yang awalnya terlipat bergerak ke atas meja. Tubuhnya sedikit condong ke depan. Wajahnya mendadak menampilkan ekspresi khawatir. Matanya terfokus pada mata bening Kuroko.

"Kenapa kau minta maaf, Kuroko. Jangan minta maaf tanpa sebab, nanodayo."

Midorima menarik kedua tangannya, tubuhnyapun kembali tegap seperti semula.

"Aku tidak menyangka kau akan meminta maaf padaku seperti ini. Ternyata masih ada banyak hal yang tak ku ketahui di dunia ini, nanodayo."

Kedua mata Midorima kembali tertutup, ia menghela nafas.

"Kuroko, um, bagaimana mengatakannya.." kata Midorima, "Aku juga minta maaf, nanodayo."

Mata Kuroko membulat ketika mendengarnya, ia merasa dia telah membuat kesalahan ketika meminta maaf tadi, namun sekarang perasaan itu menghilang.

"Aku tau kau pasti tidak suka pada sikapku yang sama sekali tidak dewasa. Aku juga minta maaf, nandayo." Ujar Midorima. Kuroko tersenyum tipis,

"Se-Sepertinya, aku sukses mengikuti jalan pembicaraan ini." Pikirnya.

Midorima kembali meneguk teh yang ada di depannya, begitu pula Kuroko, iapun menyentuh cangkir yang sedari tadi hanya diam di depannya itu. Ia meneguk teh yang beberapa waktu lalu dipesannya. Ah, benar-benar menyegarkan.

"Apakah, mau jalan-jalan sebentar, nanodayo?" "Um, boleh saja.."


Keduanya berjalan bersama di dekat stasiun kereta api. Memang berjalan bersama namun tidak beriringan. Langkah Midorima yang tergolong besar dan cepat, membuat Kuroko tertinggal di belakang.

Aneh, padahal saat berjalan bersama Murasakibara di Orbis Terrarum ketiga saja tak pernah ada kejadian Kuroko tertinggal seperti ini. Tapi kenapa?

Midorima yang menyadari Kuroko tertinggal jauh dibelakang berusaha memperlambat langkahnya. Ia berjalan mundur beberapa langkah agar kedudukannya sama dengan Kuroko. Namun, selang beberapa saat kemudian, jarak mereka kembali terpaut jauh.

Midorimapun mengehntikan langkahnya ketika mendapati Kuroko bernafas dengan terengah-engah. Ia berbalik dan menghadap gadis itu.

"Kau baik-baik saja, Kuroko?" Kuroko mengangguk pelan, ia berusaha mengatur nafasnya yang beralun dengan pola yang berantakan.

"A-aku... hh.. hanya sedikit lelah.." Kuroko mengelus-elus dadanya, Midorima hanya diam.

"Ano, kita akan kemana?" tanya Kuroko, Midorima memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot itu, saking sedikitnya, kacamata itu bahkan tak tampak melorot.

"Saat aku bertanya pada temanku, apa yang disukai orang yang baru pacaran, dia menyuruhku berjalan-jalan tanpa tujuan di sekitar stasiun kereta api, nanodayo."

"Eh? Jadi.. Midorima-kun ini..." "Kuroko..?"

Kuroko memegangi kepalanya, ia menggeleng pada Midorima,

"A-Aku tidak apa-apa.." Midorima menghela nafas,

"Kau harus pulang sekarang dan beristirahat, nanodayo." "Ayo, aku antar."


Kuroko duduk termenung di pinggiran tempat tidurnya, lagi-lagi ia berpindah Orbis Terrarum, dan ia harus kembali menyesuaikan diri dengan situasi sekitar.

"Sorcerer-san..." gumam Kuroko. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Tangan kanannya meraba-raba, berusaha menemukan ponselnya.

Begitu berhasil diraih, Kuroko membuka kotak masuk pesannya. Di sana ada banyak pesan dari Midorima. Tapi isinya, hanya 'Selamat Malam' atau 'Selamat Pagi'.

Kuroko menghela nafas, ia kembali meletakkan ponselnya di tempat semula. Tiba-tiba..

DRET! DRET! DRET!


From : Midorima Shintarou
To : Kuroko Tetsura
Subject : None

Besok aku akan latihan basket seharian, kalau ada waktu datanglah ke gedung olahraga –piiiip-,

-Midorima


Skip Time


Kuroko berdiri di dalam gedung olahraga yang dimaksud Midorima. Ada banyak orang di sana, Seorang pemuda bersurai hijau dengan jersey biru menghampirinya.

"Kau datang ya?" Kuroko mengangguk, pemuda itu membawa patung rakun di tangannya,

"Ano, Midorima-kun.. itu.." Kuroko menunjuk patung yang dibawa pemuda itu,

"Ini adalah Lucky Item hari ini, nanodayo." Midorima menoleh ke arah yang ditunjuk Kuroko. Kuroko ber-oh panjang, kemudian Midorima menyodorkan patung itu pada Kuroko.

"Kau bisa menjaganya untukku selama latihan? Yah, kalau kau tidak keberatan, nanodayo." Midorima mengalihkan pandangannya, Kuroko mengangguk pelan, dan meraih patung itu. Midorima tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat.

"Kalau begitu, tolong di jaga baik-baik ya, nanodayo." Kuroko mengangguk. Midorima berlari meninggalkan Kuroko menuju rekan satu timnya.

Kuroko duduk manis di bench dengan patung rakun itu di pangkuannya. Ia memperhatikan dengan seksama jalannya latihan. Keringat-keringat yang mengucur dari tubuh para pemain berkilauan di udara. Kuroko beberapa kali terperangah melihatnya.

Tiba-tiba saja, seorang gadis berambut smoke pink mengusap-usap kepala Kuroko. Kuroko buru-buru menoleh ke gadis itu.

"Ano, ada apa?" Gadis itu tersenyum lebar, tangannya masih sibuk memanjakan surai baby blue Kuroko.

"Ano..." Gadis itu menarik tangannya dari dari kepala Kuroko. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Gadis itu membuka suara,

"Jadi kau pacarnya Midorin yaa~" gadis itu memandangi wajah Kuroko dengan mata berbinar-binar. Kuroko mengangguk ragu-ragu.

"Loh, bukankah dia Momoi-san?" batin Kuroko, gadis itu menyodorkan tangannya.

"Aku Momoi Satsuki, salam kenal yaa~" Kuroko meletakkan patung rakun yang ada di pangkuannya di bagian bench yang masih kosong. Kemudian, disodorkannya tangan kanan untuk menerima uluran tangan Momoi.

"Un, Aku Kuroko Tetsura, salam kenal." Momoi langsung menarik Kuroko ke dalam pelukannya. Kuroko tampak terkejut,

"Yaaa, kamu ini imut sekalii! Sayang kalau harus jadi pacarnya Midorin yang kasar itu!"

Midorima yang baru saja akan melakukan shoot 3 point, membatalkan rencananya ketika mendengar perkataan Momoi. Gadis bersurai smoke pink itu menjulurkan lidah ke arah Midorima.

Kuroko yang kebetulan mendongakkan kepalanya dapat melihat hal itu dengan jelas.

"Ano, jangan seperti itu, Momoi-san." Momoi langsung memusatkan pandangannya pada iris baby blue yang kini tengah mengawasinya.

"Midorima-kun itu, orang yang baik." Midorima nun jauh di sana yang kebetulan mendengar langsung blushing tak jelas. Kise yang tak sengaja juga mendengarnya langsung menggoda teman satu timnya itu.

"Hee, Midorimacchi itu orang baik ssu." Ledek Kise sambil menepuk-nepuk punggung Midorima. Dahi pemuda berkacamata itu berkerut seribu, ia mengepal tangannya, siap meluncurkan pukulan pada si surai blonde cempreng itu.

"Ryouta hentikan, latihan dengan benar. Jangan main-main!" perintah Akashi tajam. Kisepun langsung menjauh Midorima dan kembali berlatih. Begitu pula Midorima, iapun kembali fokus pada latihannya.


Midorima menghela nafas, ia duduk di bench sambil menyeka keringatnya. Kuroko menyodorkan isotonic drink pada Midorima. Langsung saja pemuda penggila Oha Asa itu meneguk minuman itu.

"Arigatou, Kuroko." Kuroko mengangguk. Tangan Kuroko beralih pada patung rakun yang Midorima titipkan padanya.

"Ano, ini..." Midorima meraih patung rakun yang ini berada di tangan Kuroko.

"Arigatou, sudah menjaganya." Kuroko mengangguk, Midorima mengulurkan tangannya, ia hendak meraih puncak kepala Kuroko. Namun, ia mengurungkan niatnya, ia memandangi telapak tangannya yang besar itu dengan seksama, kemudian mengalihkan pandangannya pada kedua iris baby blue yang kini memandangnya bingung.

"A-ayo kita pulang, nanodayo." Midorima beranjak dari tempat duduknya dan menyambar tasnya dengan cepat. Kuroko sekonyong-konyong langsung berlari mengikuti Midorima. Tak lupa sebelum pergi Kuroko mewakili sang kekasih untuk berpamitan.

"Terimakasih atas kerja samanya!" Kuroko membungkukkan badannya, ia mempertahankan posisi itu selama 10 detik, sebelum akhirnya kembali berlari menyusul Midorima.


"Kuroko, Kuroko." Riko, manager di Maid no Hitsuju tempat Kuroko bekerja mencolek bahu pegawainya itu. Kurokopun menoleh,

"Apakah kau nanti akan mengenakan yukata?" Kuroko mengerutkan dahinya,

"Eh?" "Kau akan pergi ke festival kuil bersama Midorima bukan?"

Kuroko mengangguk pelan, "Iya, aku sudah menyiapkan yukatanya di rumah."

"Semoga berjalan lancar ya." Riko menepuk bahu Kuroko sebelum akhirnya berjalan menuju dapur.

"Hai', Arigatou gozaimasu."


Kuroko bersandar pada salah satu tiang yang menopang stasiun itu. Beberapa kali melirik gerbang, berharap Midorima muncul dari sana. Sesekali ia menghela nafas dan menoleh ke arah jam besar yang menempel di dinding stasiun itu.

"Apa waktunya salah ya?" Kuroko mencoba mencocokkan waktu yang dijanjikan di pesan dengan waktu saat ini. Tepat, tidak ada kesalahan sedikitpun. Apa mungkin harinya salah? Tidak, hal seperti itu tidak mungkin terjadi.

DRET! DRET! DRET!


From : Midorima Shintarou
To : Kuroko Tetsura
Subject : None

Kau pulang kerja jam berapa? Aku kan menjemputmu.
-Midorima.


Kuroko mengerutkan dahi, kemudian buru-buru membalas pesan itu,


From : Kuroko Tetsura
To : Midorima Shintarou
Subject : re:None

Aku sudah pulang. Sekarang aku berada di stasiun. Kita akan pergi ke festival kuil bersama bukan?


Kuroko menekan tombol 'send' pada ponselnya, kemudian meletakkan ponselnya pada tas kecil yang motifnya senada dengan Yukata yang ia kenakan. Beberapa saat kemudian sebuah panggilan masuk, dari ; Midorima.

"Sumanai, aku benar-benar lupa, nanodayo." "Eh?"

"Aku akan segera ke sana, nanodayo." "Tunggu aku, Kuroko!" Tuut Tuut Tuut.

Kuroko menutup flip ponselnya, ia kembali bersandar pada tiang itu. Memandangi langit biru yang dibanjiri bintang yang berkilauan.

5 menit berlalu, seorang pemuda berlari dengan nafas tersengal-sengal menuju Kuroko. Kacamatanya tampak melorot, kemejanyapun berantakan.

"Su-sumanai... Kuroko.." Pemuda itu berusaha mengatur pola nafasnya yang kini tak beraturan itu. Ia memandangi wajah Kuroko dengan ekspresi sangat menyesal. Kedua alisnya bertautan.

"Tidak apa-apa, Midorima-kun." Kuroko berusaha meyakinkan Midorima bahwa itu bukanlah kesalahannya. Midorima berkali-kali meminta maaf pada Kuroko, sebelum akhirnya keduanya benar-benar berangkat menuju festival.

Di kuil, ada banyak pengunjung. Mulai dari yang sendirian, bersama pasangan, hingga bersama keluarga besar. Seperti sebelumnya, langkah Midorima yang sangat cepat membuat Kuroko kewalahan. Ditambah lagi, kerumunan orang-orang yang bertubuh lebih besar dari Kuroko membuat gadis itu benar-benar kesusahan.

Beberapa kali ia disenggol oleh pengunjung lain, mungkin karena tubuhnya yang kecil dan hawa keberadaannya yang cukup tipis, membuat orang disekitarnya tak menyadari keberadaan gadis bersurai baby blue itu.

Midorima yang baru menyadari kondisi Kuroko saat ini, menghentikan langkahnya dan mengulurkan tangan kanannya pada sang gadis.

"Kau bisa memegang tanganku, agar kita tak terpisah, nanodayo." Perhatian Kuroko yang awalnya terpusat pada tangan yang terulur itu, kini beralih pada wajah sang pemilik tangan panjang itu.

"Ka-kalau kau tidak keberatan, nanodayo." Wajah Midorima memerah, ia memalingkan pandangannya. Kuroko tersenyum tipis, dan menerima tangan Midorima. Keduanyapun menelusuri festival itu sambil bergandengan tangan.

Mulai dari makan permen kapas, menangkap ikan mas, membeli topeng, hingga makan manisan apel. Keduanya benar-benar menikmati festival itu. Senyuman tipis tampak menghiasi wajah sepasang kekasih yang baru jadian itu.


Setelah menelusuri setiap celah yang ada di festival itu, keduanya kini duduk melepas penat di bangku taman yang ada. Kuroko menyodorkan sekaleng green tea pada Midorima. Pemuda itu menerimanya, namun kemudian ia memandangi kaleng itu.

"A-ano, apakah ada yang salah?" Kuroko melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Midorima.

"Ti-tidak" Midorima berdehem, "Green tea ya? Biasanya kau memberiku Black tea, nanodayo." Pemuda itu melirik wajah si gadis yang tampak panik.

"U-um." Kuroko mengangguk ragu-ragu. Midorima menghela nafasnya, berat, dan panjang. Ia meletakkan kaleng minuman itu di bangku yang ia duduki.

"Aku bohong, kau biasanya membelikanku red bean soup. Karena itu memang kesukaanku, nanodayo." Kuroko menelan air ludahnya. Gawat, Midorima tampaknya mengetahui bahwa faktanya, Kuroko mengalami amnesia saat ini.

"Kuroko, akhir-akhir ini sikapmu berubah drastis. Kau tidak seperti yang biasanya, nanodayo." Midorima mengadah, menatap langit yang ditaburi bintang.

"Menurut penelitianku, ini bukanlah karena kau tidak mencintaiku lagi atau semacamnya, nanodayo." Mendadak wajah Midorima memerah ketika mengucapkan kata 'mencintai'.

Ia berdehem, mencoba membuat wajahnya yang memerah kembali normal.

"Tapi, ini karena.. kau kehilangan ingatanmu, nanodayo." BINGO!

Tebakan Midorima tepat 100%. Kuroko terperanjat mendengarnya, keringat mulai bercucuran membasahi pelipis hingga wajahnya.

"Bagaimana? Kau akan menyangkalnya?" Kuroko hanya diam, tangannya gemetar, ia mengalihkan pandangannya.

"Ku rasa dia akan mengerti, Tetsura." Sesosok boneka dengan gaun era victorian muncul dari balik semak-semak. Gaun merah marun dengan renda berwarna hitam tampak selaras dengan rambut coklatnya.

"Sorcerer-san!?" Boneka itu meloncat menuju pangkuan Kuroko, tempat paling empuk di dunia ini *menurut Sorcerer*.

Midorima mengerjap-ngerjapkan matanya, ia tampak tak percaya dengan yang ia lihat saat ini. Beberapa kali ia mengelap kacamatanya, memastikan pengelihatannya tak sedang terganggu.

"Tu-tunggu sebenarnya ada apa ini, nanodayo!?" Midorima tampak panik, tangannya buru-buru meraih gunting silver yang merupakan Lucky Item hari ini.

"Ya, namaku Sorcerer. Salam kenal." Sorcerer berputar beberapa kali sebelum akhirnya membungkuk memberi hormat.

"A-ano, Midorima-kun... Sorcerer-san yang akan menjelaskan semuanya." Kuroko menatap wajah Midorima. Merasakan sorot mata yang agak berbeda dari iris baby blue itu, Midorimapun menuruti kata-kata Kuroko dan mendengarkan penjelasan dari Sorcerer dengan seksama.


Midorima mengusap-usap dagunya, ia berusaha mencerna penjelasan panjang lebar Sorcerer beberapa saat yang lalu.

"Bagaimana? Kau mengerti?" tanya Sorcerer, Kuroko menunggu respon dari Midorima dengan harap-harap cemas. Pemuda bertubuh tegap itu menghela nafas, ia menatap wajah Kuroko sejenak dan akhirnya mengedarkan pandangannya lurus ke depan.

"Aku mengerti secara garis besar. Intinya kau berpindah-pindah dunia atau Orbis Terrarum untuk menemukan orang yang cocok untukmu. Benar begitu, nanodayo?"

Kuroko mengangguk pelan, ia bersyukur Midorima akan percaya dan mengerti cerita yang agak tidak masuk akal itu. Midorima bertopang dagu. Ia kembali menghela nafas.

"Dan ini sudah dunia yang ke-5, benar?" Kuroko lagi-lagi mengangguk. Midorima memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot. Ia memandang Sorcerer yang duduk di pangkuan Kuroko.

Tangan Midorima bergerak perlahan menuju kepala Kuroko. Telapak tangan yang besar itu, mengelus-elus surai baby blue Kuroko lembut. Midorima memandangi kakinya yang dibalut sepatu sports putih.

"Pa-pasti sulit untukmu... merasakan kematian berkali-kali, nanodayo.." Kuroko terperangah atas perlakuan Midorima kepadanya. Entah ia senang atau bagaimana.

Midorima berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk memandang wajah Kuroko secara langsung. Nafasnya tampak tertahan, wajahnya merah padam saat ini. Mata keduanya kini bertemu saling memandang satu sama lain.

"A-aku berjanji.. aku tidak akan membiarkanmu merasakan yang namanya kematian lagi, nanodayo." Tekad Midorima, walaupun suaranya sedikit bergetar. Kuroko mengangguk pelan, kemudian bibir mungilnya tampak tersenyum. Begitu pula, boneka yang masih duduk di pangkuan Kuroko.

"Ki-kita pulang sekarang, nanodayo?" "Un, ayo."


Sepanjang jalan, keduanya berpegangan tangan. Midorima menggenggam tangan Kuroko erat, seolah ia tak ingin melepas gadis itu. Keduanya menyebrangi jalan melalui zebra-cross.

"Kuroko, besok juga, kita akan bertemu lagikan, nanodayo?" Kuroko mengangguk,

"Hai', pasti bertemu lagi." Midorima tersenyum tipis, tampak rona merah muncul di wajahnya.

Lampu lalu lintas berubah warna secara tiba-tiba, Midorima mempercepat langkahnya, diikuti Kuroko. Namun, seorang pejalan kaki yang nekat menyebrang saat itu. Ia berlari, tampak terburu-buru, tanpa sengaja ia menyenggol Kuroko dan membuat gadis itu terspisah dari sang Kekasih.

"Kuroko..!" "Midorima-kun...?"

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!

"Eh?"

"KUROKO!?"

To be Continued


Ya, akhirnya selese juga ini :3 Buat chapter berikut ini saya menyamakan beberapa scene dengan anime Amnesia eps.7, jadi yaa mirip-mirip gitu. /di tendang/

Ok, sudah di pastikan seperti biasa, ini benda ambigu saya harap dapat membuat readers-tachi puas yo. :3

Ok, last, mind to review? Karena saya ga yakin untuk melanjutkan kisah ambigu ini kalau reviewnya sedikit degeso ._. Arigatoouuu~