Previous chapter:

"karena Jongin adalah tunangan Luhan"

"APAA? TUNANGAANN?!"


Chapter 6.

Sehun and Luhan

.

.

.

.

Kyuhyun dengan jelas melihat keterkejutan dan kekecewaan luar biasa di wajah tampan Baekhyun. Jadi dia tidak mungkin melewatkan kesempatan mengerjai bocah sipit ini.

"kenapa kaget sekali Baek? Aahhh~~ sebegitu patah hatinya karena Luhan sudah tunangan?" Kyuhyun menggoda dengan seringaian evilnya.

"aniya" jawab Baekhyun pelan dan menggeleng lemah.

Luhan tidak berreaksi ketika Kyuhyun mulai menyerang Baekhyun dengan ucapan-ucapan yang menancap tepat di hatinya.

"sudah hampir gelap, aku pulang dulu yah." ucap Baekhyun masih pelan dengan wajah memelas. Jelas sekali jika ia sedang dalam kesedihan mendalam.

"berani-beraninya kabur! Kau belum bernyanyi dengan piano!" pekik Kyuhyun sembari menunjuk alat musik yang dimaksud.

"lain kali saja hyung. Luhan, hubungi aku jika butuh bantuan apa pun. Sampai jumpa" Baekhyun beranjak dari tempatnya duduk diikuti Luhan yang mengantarnya ke pintu.

"yah sayang sekali, padahal lagu miracle in december cocok dengan perasaanmu saat ini. Sudahlah jangan dipikirkan, tidak bisa jadi kekasih yah minimal berteman di sekolah nanti" ucap Kyuhyun sok bijaksana yang memang senang sekali memanas-manasi orang yang sedang patah hati.

Baekhyun terlalu hancur, sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Mendengar ucapan Kyuhyun membuat moodnya semakin buruk. Yang ia butuh sekarang hanya menjauh dari Luhan. Tidak sanggup melihat wajah cantik itu lagi.

"hati-hati dijalan, Baekki" ucap Luhan sedikit khawatir dengan keadaan teman barunya.

"nne, Lu. Kau akan pergi dengan tunanganmu kan? Kau juga hati-hati yah" ucap Baekhyun pesimis, setelah itu Baekhyun berjalan menjauhi kediaman Cho tanpa menengok ke belakang.

.i.i.i.i.i.i.i.i.i.i.i.i.

Setelah menutup pintu, Luhan langsung menatap tajam Kyuhyun yang masih duduk santai.

"paman! Jongin bukan tunanganku, dia hanya calon, calon!" ucap Luhan tegas.

"kenapa mengatakannya padaku? Aku sudah tahu, mestinya kau mengatakannya pada bocah itu" Kyuhyun hanya menaikkan bahunya tidak peduli.

"memang susah bicara dengan manusia tidak berotak!" Luhan setengah berteriak namun mendudukkan dirinya kembali di samping Kyu.

"dan apa-apaan tadi seenaknya mengatakan aku akan sekolah?"

"kau tidak mau?"

"aku mau! Tapi kenapa mendadak sekali? Aku harus memilih sekolah yang cocok"

"itu adalah sekolah yang cocok Luhan. Jaraknya paling dekat dari sini, itu juga sekolah yang berkualitas. Dan yang terpenting, ibumu juga alumni sekolah itu"

Ekspresi wajah Luhan langsung berubah murung, ia menyandarkan punggungnya dan membuat posisi senyaman mungkin sebelum menghela nafas panjang.

"benarkah? Dulu ibu sering bercerita tentang sekolah SMAnya padaku dan kembaranku. Bahkan ia berencana menyekolahkan kami disana juga. Jadi sekarang, jika aku harus sekolah disana sendirian tanpa Shi Xun... "

Luhan memotong sejenak kalimatnya, air mata yang sedari tadi ia bendung akhirnya tumpah juga.

"...sepertinya aku tidak akan sanggup..." Setelahnya Luhan terisak ketika mengingat masa lalunya.

"...saat itu Shixun lah yang paling antusias untuk sekolah disana. Ia ingin cepat-cepat besar agar bisa sekolah dan tinggal di Seoul. Andai mereka masih ada, mungkin sekarang aku dan dia sedang mengerjakan tugas sekolah bersama..."

Kyuhyun mengelus sayang rambut Luhan, berusaha menenangkannya yang tidak berhenti menangis. Terakhir kali ia tidak bisa menghentikan Luhan menangis, ia hanya bisa memeluk keponakannya dan menunggu agar tenang dengan sendirinya.

"sekarang mereka sudah tidak ada Luhan. Lakukan lah apa yang tidak bisa mereka lakukan. Karena mereka memperhatikanmu dari surga, buatlah mereka bangga."

\.^U^./

Sehun terjaga dari tidur siangnya pada sore hari.

Ia terbangun dengan keringat dingin dan jantung berdebar kencang.

"aahhh, mimpi itu lagi..." ucapnya dengan nafas terengah.

Tok tok tok. "Sehunnie..." terdengar suara wanita dari balik pintunya.

"eomma, masuklah..." Sehun menjawab dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Wanita tersebut terlihat muncul dari balik pintu kamar Sehun.

"OMMOO!" ia berteriak heboh melihat keadaan anak semata wayangnya. Segera ia peluk anak lelakinya.

"Sehunnie wae?" ucapnya sambil mengelap peluh di wajah Sehun dengan tangannya sendiri. Jelas sekali ia sangat mengkhawatirkan Sehun.

"mimpi itu lagi, eomma. Saat kita kecelakaan sepuluh tahun yang lalu. Aku terperangkap dalam mobil dengan langit sangat gelap dan hujan lebat..." jawab Sehun manja.

"lupakan mimpi itu, sayang. Yang penting kita semua selamat dari kecelakaan naas itu. Jangan takut lagi nne. Mmuah, eomma dan appa menyayangimu" ucap wanita itu sembari mengecup lama pipi Sehun.

"yak! Eomma! Aku sudah besar! Jangan cium-cium aku lagi" Sehun mengusap brutal pipinya, berusaha menghapus jejak bibir sang eomma.

"arraseoooo, aegy kecil eomma sudah besar. Sudah lebih tinggi dari eomma. Sudah bisa mengucapkan S dengan benaaar" sindir sang eomma dengan mengusak rambut Sehun.

Sehun mengerutkan bibirnya, selalu saja begini. Menyebalkan!

"mandi dulu sana, sebentar lagi appamu pulang. Jangan lupa kau pakai baju yang sudah eomma siapkan untuk menghadiri pesta ahjussi gendutmu itu hhhahaha" eommanya terkikik sendiri mengingat pesta siapa yang akan mereka hadiri.

"aaaaahhhhh, eommmaaaaa. Mau sampai kapan keluarga kita memakai seragam terus? Aku sudah besar, aneh sekali memakai baju yang sama seperti appa setiap kali kita menghadiri acara" rengek Sehun manja sembari menggoyang-goyang lengan eommanya.

"tidak sama sayang, hanya sekilas mirip hhehehe. Sudah yah, eomma juga harus bersiap-siap. Eomma menunggumu dibawah Sehunnie" eommanya berjalan menuju pintu.

BLAMM. Pintu kembali menutup.

"tsk! Kenapa eomma senang sekali mendandani aku dan appa?"

Sehun beranjak dari kasurnya, mencari baju yang eommanya siapkan.

Meskipun matanya tertuju pada kemeja abu-abu dan jas hitam di hadapannya, Sehun tetap tidak dapat melupakan mimpi itu. Mimpi yang akhir-akhir ini muncul di tidurnya.

Pagi yang gelap dengan hujan lebat, ia hanya anak kecil berusia tujuh tahun. Duduk di kursi belakang, ia tidak dapat melihat siapa dua orang di kursi depan mobil. Tapi ia yakin dua orang tersebut adalah eomma dan appanya.

Mereka bertiga menyanyikan lagu hujan dengan ceria. Sebelum...

Ckiiitttt. Dduaarrr. Braaakkkkk

Mobil yang dikendarai appanya mengerem mendadak, bertubrukkan dengan mobil lain lalu jatuh ke dasar jurang.

Semua gelap gulita seketika.

Sehun kecil merasakan perih dan remuk di sekujur tubuhnya. Seluruh tubuh bagian bawahnya terjepit mobil. Sedangkan dada hingga kepala menghadap ke langit.

Perih yang ia rasakan ketika luka di seluruh tubuh dan wajahnya tertusuk hujaman derasnya hujan sedikit demi sedikit membuatnya terbangun.

Perlahan ia membuka matanya, hanya sedikit karena seluruh otot wajahnya tidak mampu di gerakkan.

Saat itu lah, ia mendengar suara lirih seorang wanita. Suara yang sangat menakutkan. Tapi Sehun tidak tahu siapa wanita itu.

...ssuun, ba-ngunlah. K-kauu haruss sse-la-mat unh-tuk men-jaga ssaudarimuu...

Suara wanita itu lirih dan serak seperti setan wanita di film horor dengan kalimat terputus-putus, mengerikan sekali. Sehun tidak tahu rupa wanita itu, Sehun juga tidak tahu wanita itu bicara dengan siapa. Yang pasti ucapan wanita tersebut selalu menggema di pikirannya.

"sun? Nama yang aneh. Dan ughhh, mimpi yang menyeramkan" Sehun bergidik sendiri jika mengingatnya.

\.^U^./

Sehun keluar dari kamar dengan memakai baju yang sudah disiapkan eommanya.

Saat itu juga ia melihat baju yang persis sama seperti yang ia pakai sedang dipakai juga oleh appanya.

"Sehunnie! Yak! Lagi-lagi kau meniru penampilan appa!?" ucap pria berusia hampir empat puluh tahun tersebut.

"ugh, jika bukan terpaksa juga aku tidak mau memakai baju yang sama dengan appa."

"chagiyaaa~ tidak bisakah kau berhenti melakukan ini?" ucap appa Sehun pada istrinya dengan menunjuk baju yang ia dan Sehun kenakan.

"no,no! Tidak bisa. Lihat, kita keluarga Oh yang kompak" ucap eomma Sehun bangga dengan apa yang ia kenakan. Gaun warna senada dengan pakaian yang dipakai suami dan anaknya.

"tapi aku kasihan pada appa, eomma. Orang-orang akan memanggil kami Oh muda dan Oh tua." Ucap Sehun menekankan kata 'tua' dan otomatis mendapat pukulan di kepala dari sana appa. Membuat Sehun cemberut dan eommanya tertawa.

"berhenti memukul kepalaku appa!" appanya hanya cengengesan tanpa merasa bersalah sama sekali

"hhahaha. Tidak Hun-ah, Hae-ah... kalian cocok berpenampilan seperti ini. Appa memakai dasi panjang supaya lebih formal dan Sehunni memakai dasi kupu-kupu. Sempurna! Ayo berangkat. Pasti Shindong sudah menunggu kita" eomma Sehun yang bernama Hyuk Jae atau lebih dikenal Eun Hyuk itu menggandeng keluarga kecilnya.

\.^U^./

"Donghae! Eunhyuk! Sehun!" teriak Shindong ketika melihat tamu yang ia tunggu akhirnya datang. Shindong memeluk satu per satu anggota keluarga Oh tersebut.

"seperti biasa yah... pakaian kalian selalu eye-catching" entahlah itu pujian atau hinaan. Karena Donghae dan Sehun memutar matanya, namun Eunhyuk tersenyum lebar membenarkan ucapan Shindong.

Sehun langsung memisahkan diri dari orangtuanya dan pemilik pesta tersebut setelah berbasa-basi mengucapkan selamat ulang tahun, sebisa mungkin menghindar dan menjaga jarak dari appanya.

Ia menelusuri ruangan pesta tersebut, mencari seseorang yang mungkin ia kenal. Ini adalah pesta ulang tahun Shindong ahjussi, sahabat karib orangtuanya. Jadi sepertinya dia tidak sendiri, anak-anak dari sahabat orangtuanya juga pasti datang.

"Sehun!" ucap seseorang sambil menepuk bahunya. Membuat Sehun menoleh.

"hey, Minho hyung.." sapa Sehun setelah mengenali siapa yang memanggilnya.

"kau sendirian?"

"aku baru saja sampai dengan orangtuaku. Tumben hyung sendirian?"

"dasar anak tunggal! Kapan kau berhenti menempel dengan orangtuamu? Aku kesini dengan Taemin. Tapi entah kemana dia, kau tahu sendiri jika sudah bertemu Jongin ia akan lupa denganku. Dan tadi Jongin memperkenalkan kami dengan seorang gadis, langsung saja Taemin heboh. Dan sepertinya gadis itu habis di iinterogasi oleh Taemin" Minho menjelaskan panjang lebar dengan sedikit merajuk di akhir penjelasannya.

"Jongin bestfriend-nya Taemin itu? Dia juga diundang?"

"jongin yang mana lagi? Kata Shindong ahjussi, Jongin itu rekan bisnisnya. Oh iya Hun, Jongin yang gelap, pesek dan memakai tongkat saja bisa mendapatkan gadis cantik. Masa kau kalah? Aku yakin diluar sana kau sudah punya kekasihkan? Kenalkan padaku apa masalahnya?" goda Minho dengan manaikkan alisnya, dan tangannya merangkul bahu Sehun.

"kalah? Bukannya hyung yang jelas kalah darinya? Buktinya Taemin saja lebih memilih Jongin saat ini hhahahahaha" Sehun tertawa cekikikan dengan mata membentuk bulan sabit ketika melihat wajah Minho yang kesal.

"dongsaeng evil! Beraninya mentertawaiku lagi, habis kau!" ucap Minho dengan memiting leher Sehun.

"mianhae, hyung. Mianhae. Ahhh jangan rusak rambutku! Ahhh hyuuunggg... bajuku lecak hyung, nanti eomma mengomeliku" Sehun terus meronta, berusaha melepaskan diri dari Minho.

Minho mendengus kesal dan melepaskan Sehun sebelum benar-benar merusak rambutnya. "ahh, anak eomma! Tidak seru!"

"yaa! Tentu saja aku anak eomma-ku" Sehun menjulurkan lidahnya sembari merapikan letak jasnya.

Minho menyilangkan kedua tangannya, dengan tatapan menilai Ia memperhatikan Sehun dari atas hingga bawah lalu dari bawah ke atas lagi. Lalu dengan wajah penuh rasa kasihan ia menggelengkan kepalanya.

"ck ck ck, penampilan dan wajahmu itu menipu sekali. Tidak akan ada yang menyangka kau itu anak manja yang cerewet. Sudah berapa gadis yang menjadi korbanmu?" Minho kembali menggoda Sehun, ia benar-benar penasaran bagaimana selera seorang Oh Sehun.

"euughh, hyung! Aku bosan membahas ini denganmu. Aku belum pernah dekat dengan satu gadis pun. Aku ini free and single." Jawab Sehun malas.

Minho belum sempat menjawab karena melihat Taemin sedang memegang tangan Jongin ke arahnya dan Sehun. Hanya Jongin, entah kemana gadis yang yang dikenalkan Jongin tadi. Minho cemburu tapi juga khawatir, jangan-jangan gadis itu diusir dan disuruh menjauhi Jongin oleh Taemin.

"Hay Sehunnah" sapa Taemin riang, tubuhnya masih menempel pada lengan Jongin. Seakan tidak melihat jika di samping Sehun berdiri ada Minho, kekasih resminya. Sehun hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.

"ekkhemm ekkheemm" Minho berdehem seperti minta perhatian Taemin. Jongin yang hanya diam membuat Minho makin kesal.

"siapa kau?" tanya Taemin cuek dan malah mempererat pelukannya pada lengan Jongin. Sehun menahan diri agar tidak menertawai nasib hyung-nya.

"aku? Kau tidak tahu siapa aku? Aku Choi Minho!" ucap Minho kesal.

Jongin akhirnya ber-reaksi, ia melepaskan tangan Taemin yang membelenggunya dan membuat jarak. Tapi Taemin keras kepala. Ia tidak mau melepas Jongin.

Minho yang melihat interaksi mesra antara Jongin dan Taemin hanya bisa mendecih kesal, sedangkan Sehun mencuri-curi pandang ekspresi wajah kesal Minho.

"Jongin-ssi, mana gadis yang kau kenalkan tadi?" Minho bertanya dengan ketus, sekaligus menyindir Jongin dan juga Taemin. Akhirnya Jongin berhasil lepas dari Taemin.

"dia ke toilet sebentar" ucap Jongin dengan senyum manisnya.

"aku kira dia sudah pulang karena Taemin mengusirnya dan kau yang mengabaikannya" ucap Minho masih dengan nada sengitnya. Taemin memutar matanya mendengar ucapan kekanakkan kekasihnya.

Sehun merasakan hawa-hawa yang tidak enak, jadi ia memutuskan untuk meninggalkan mereka saja. Lagipula ia tidak mau terlibat lebih jauh. Tapi sebelum itu terjadi Minho menarik ujung bajunya yang berarti ia tidak boleh pergi kemanapun.

Jongin kembali tersenyum, "dia bukan tipe pecemburu yang takut melakukan sesuatu sendirian karena dia percaya padaku" ucap Jongin percaya diri, Taemin cemberut, dia tidak suka Jongin membela atau memuji gadis lain.

Minho memanas, jelas sekali kalau Jongin sedang menyindirnya barusan. Ia lalu menganggukkan kepalanya dan ber oh ria karena tidak menemukan jawaban untuk membalas Jongin.

"nah, itu dia" ucap Jongin sembari mengarahkan pandangannya pada seorang gadis yang memakai gaun berwarna coklat. Taemin kembali menempel pada Jongin dengan posesif.

Sehun mengikuti arah pandang Jongin tanpa minat, namun entah mengapa jantungnya berdebar kencang ketika melihat wajah gadis itu.

Seketika dunia memudar untuk Sehun, dan saat itu juga gadis yang samasekali tidak ia kenal menjadi dunianya. Hanya gadis itu.

Lalu pandangan mereka bertemu, Sehun seakan lupa cara bernapas. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tubuhnya berkeringat dingin dan hatinya merasa gugup juga gelisah.

Entah perasaan macam apa yang Sehun rasakan saat melihat gadis tersebut. Yang jelas ia gelisah dan takut.

"hai, aku Luhan"

Ketika Sehun tersadar, ia sedang berjabat tangan dengan gadis yang telah mengalihkan dunianya.

"hai, aku Sehun" dan tanpa sadar, kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyum yang indah. Pertama kalinya ia tersenyum begitu lebar pada orang asing.

.

.

.

.

Bersambung...

-o-o-o-o-o-

Hey readers semuaaaa! Lama tak bersua :D

Aku udah buat chapter tujuh lho! Hayoo komen yang banyak nanti aku upload chapter tujuh. Tapi kalo yang komen Cuma dikit, yaaa berarti tunggu update-an bulan depan :P chapter ini juga cepet kan updatenya? cuma dua minggu! ff 'ini cinta segi berapa' ama 'love in you krisyeol' aku lewatin begitu aja kkkekekekeke.

Lagi semangat nih ama ff ini, abis bangga ama bekyon yang dapet predikat most handsome sedunia hhahahahahahaha.

-o-o-o-o-o-