HALO XD KETEMU LAGI DGN SAIA YG UDAH ILANG ENTAH KEMANADUARR!
okee, saia berhasil buat chapter 6nya, dan yeaah di sini mungkin chapternya lebih banyak dari yang sebelumnya? rencananya pengen post dua chapter, mengejar ketinggalan fic ini selama saia pergi T_T
DISCLAIMER: SQUARE ENIXX
Chapter 6: Light and Dark
"Seperti ini?"
"Tepat seperti itu," Terra mengiyakan sambil menodongkan keybladenya pada Sora. "Sekarang, kau hanya perlu menyeimbangkan kekuatan itu dengan kekuatanmu. Jangan salah sangka, aku tahu kau kuat tapi Darkness Mode cukup berbahaya."
Sora mengangguk. Dengan Darkness Modenya, ia kembali melawan Terra dengan beberapa hentakan dari keybladenya, dan menangkis beberapa serangannya di tempat. Sora menggunakan satu tangannya untuk menggenggam bilah keyblade dengan kuat, dan satunya lagi menahan ujungnya agar keyblade itu membentuk posisi bertahan setiap kali Terra membalasnya dengan beberapa serangan. Ketika ia tahu Terra memusatkan serangannya kali ini dengan lebih kuat, Sora mengambil kesempatan untuk mundur ke belakang, menghindarinya.
Tebaran debu di sekitar keyblade Terra yang menghantam pasir telah menghilang, membuat Sora kembali melihat Terra dengan jelas. Ia masih ingin bertarung lagi, tapi lelah telah mengalahkannya. Staminanya terkuras habis, ia bahkan tidak yakin ingin melanjutkannya atau tidak. Perlahan-lahan, beberapa helai rambut Sora yang berwarna hitam berubah kembali menjadi coklat, menandakan Darkness Modenya telah habis. Terra pun menyadari hal itu.
"Kau harus lebih menggunakan Darkness Modemu, Sora. Kunci dari latihan hari ini adalah itu," kata Terra sambil menumpu kedua tangannya di atas keybladenya yang ia istirahatkan di atas pasir. "Kau masih belajar, setidaknya tidak apa-apa kalau kau menggunakannya terus. Tapi ketika kekuatan itu semakin besar dan kau tidak bisa mengendalikannya, saat itulah kau harus meredakannya."
"Itukah yang terjadi pada Vanitas?"
Terra tidak menjawab. Atau mungkin, tidak mau dan tidak akan menjawab. Walaupun begitu Sora tahu sendiri apa yang akan diucapkan Terra bila pria itu menjawabnya. Itulah yang terjadi pada Vanitas. Dan Vanitas tidak berhasil meredakannya.
"Darkness Mode memang melelahkan," gumam Sora pada akhirnya. "Kukira akan lebih seperti... membuka keran dan membiarkan airnya keluar."
Terra tertawa, "Akan menjadi semudah itu kalau kau mau belajar. Untuk pemula? Tidak mudah."
Sora ikut tertawa. Ia tahu permintaannya egois, tapi ia tidak tahan dengan perasaan lelah yang ia alami. Mempelajari Darkness Mode sangatlah sulit. Ketika ia menggunakan Limit Break, kekuatan barunya itu muncul tiba-tiba tanpa kehendaknya, dan ketika ia membutuhkan Darkness Mode, kekuatannya itu tidak sesuai dengan harapannya. Sora berpikir bahwa untuk menggunakan Darkness Mode mungkin ada hubungannya juga dengan Limit Break, jadi ia harus segera mencari cara.
"Kalau kau berpikir bahwa Limit Break ada hubungannya dengan Darkness Mode, maka kau benar," kata Terra sambil mengangguk. "Tetapi dengan menggantungkan kehadiran Darkness Mode dengannya tidak akan membantu. Hal itu hanya membuatmu semakin sulit untuk mengendalikannya."
Sora harus mengakui bahwa Terra cukup berpengalaman tentang hal ini, membuatnya semakin penasaran dari mana Terra mendapatkan kekuatan Darkness Mode itu seperti dia. Padahal Mickey sangat jelas mengatakan bahwa Darkness Mode hanya dimiliki oleh Vanitas dan tak lain lagi Xehanort. Tanpa berpikir panjang Sora bertanya, "Dari mana kau mendapatkannya?"
"Mendapatkan apa?"
"Darkness Mode."
Terra terdiam. Sora menatap wajahnya, mengharapkan jawaban walaupun dari tampangnya ia tahu bahwa Terra ragu ingin menjawabnya atau tidak. Sambil menghela nafas, Sora berkata, "Ini sedikit canggung, ya? Kau tidak perlu menjawabnya kalau kau tidak mau."
"Aku punya dua pilihan di saat yang sama. Yang pertama adalah tidak ingin menjawabmu, dan yang lain lagi adalah menjawab pertanyaan itu. Aku tahu keduanya adalah benar, tapi semuanya bercampur menjadi satu. Dan untuk saat ini, aku akan memilih yang pertama."
"Kau sungguh bijak," gumam Sora. "Tapi aku ingin yang nomor dua."
"Aku akan menjawabnya kalau kau berhasil menguasai Darkness Modemu dengan sempurna."
"...Eeh, sempurna biasa atau sempurna sangat sempurna?"
Terra menyeringai sambil menjawab, "Sempurna sangat sempurna."
Mickey melangkahkan kakinya perlahan ketika ia melewati lahan gersang di sekitarnya yang tampak seperti gurun. Tempat di mana terakhir kalinya ia melihat Vanitas. Dan Xehanort. Tempat yang dinamakan Keyblade Graveyard. Entah kenapa, setiap kali ia menyusuri tempat itu, ia jadi teringat semuanya yang terjadi saat itu. Padahal, tujuannya datang ke sana bukanlah untuk bernostalgia, melainkan untuk mencari sesuatu yang menjadi petunjuk. Petunjuk untuk menemukan Ven.
"Yang Mulia, kurasa radar menangkap sesuatu di antara bebatuan itu," perkataan Donald menyadarkan Mickey dari lamunannya. "Sinyalnya tidak terlalu kuat, menunjukkan bahwa yang ditangkap radar adalah sebuah benda yang tidak dipengaruhi oleh sihir atau apapun. Perlukah kita memeriksanya?"
Mickey menunjuk ke arah bebatuan itu sambil berkata, "Periksa. Kita tidak tahu apa yang kita temukan di balik batu itu."
Goofy menurut sambil mengangkat batu-batu itu dari tempatnya dan membersihkan benda tersebut dari debu pasir. Ia meniup debunya, lalu sambil terkejut ia berkata, "Ini sebuah buku, Yang Mulia."
Mickey mendekati Goofy bersama dengan Donald lalu mengambil buku berwarna coklat tua itu sambil memeriksa keadaan buku itu dengan teliti. Buku itu tidak terlihat seperti buku biasa, sampulnya terbuat dari kulit, menandakan bahwa buku itu bukan buku sembarang. Ia membuka isinya perlahan, dan bersyukur bahwa kertasnya tidak rusak, walaupun masih ada pasirnya. Ia menatap kedua rekannya sambil berkata, "Mari kita kembali ke Destiny Island. Selama perjalanan, aku akan mengisi waktuku dengan membaca isi buku ini."
Ketika Mickey bersama Donald dan Goofy kembali ke Gummy Ship, sebuah lampu merah di atas tulisan Message berkedip-kedip. Goofy berkata pada Mickey, "Sir, kita dapat pesan dari Chip dan Dale."
"Tunggu apa lagi, buka pesannya di layar," kata Mickey. Goofy menekan tombol Message itu dan seketika, di layar besar mereka muncullah sebuah pop up yang menampilkan dua tupai bernama Chip dan Dale. "Ada apa, Chip? Dale?"
"Yang Mulia! Yang Mulia! Anda tidak akan percaya apa yang baru saja kami temukan!" Chip berkata duluan. Dale hanya mengangguk-angguk, mengiyakan perkataan Chip. "Kami menemukan glider milik Ventus!"
Mickey, Donald, dan Goofy terkejut. Mata mereka membesar dan mulut mereka menganga. Sebelum Mickey dapat berkomentar apa-apa, Dale menimpali, "Tapi kami menemukan sesuatu lagi di sana dan kami tidak berani membukanya sebelum Anda kembali."
"A-Apa yang kalian temukan lagi?" tanya Mickey.
Chip dan Dale saling bertatapan lalu mereka memperlihatkan sesuatu dari belakang mereka. Sebuah kertas berwarna putih gading yang dilipat dengan rapi, di depannya tertera satu huruf abjad: F.
Itu sebuah surat.
"Oi, Sora," suara Riku membawa Sora kembali dari lamunannya. "Kenapa tiba-tiba melamun?"
Sora langsung menggelengkan kepalanya lalu kembali memakan makan siangnya. Tak lama kemudian ia kehilangan nafsu makannya. Ia menelantarkan makanan yang disediakan kantin sambil berkata, "Kurasa aku mual. Kalian makanlah tanpaku. Dan ketika bel berbunyi, duluanlah tanpaku."
Roxas terlihat tidak setuju, "Kau sakit lagi? Mau kuantar ke UKS?"
"Tidak, terima kasih. Aku akan ke kamar kecil sebentar, " gumam Sora. Masih melihat tatapan khawatir dari sahabat dan saudaranya, Sora meyakinkan, "Sungguh, aku tidak apa-apa. Perutku hanya... tidak mau diajak berkompromi saat ini." Walaupun begitu, semua itu bohong.
Sora berjalan keluar dari kantin menuju ke arah toilet laki-laki sambil mengingat percakapannya dengan Terra kemarin.
Flashback
"Kerja bagus, Sora!" Terra tertawa bangga melihat hasil latihan mereka seharian ini. "Setelah ini kau akan lebih mudah menggunakannya daripada sebelumnya. Lebih seperti keran yang dibuka dan membiarkan air mengalir."
Sora tertawa penuh dengan puas karena pada akhirnya ia menguasai Darkness Modenya dengan lebih leluasa dibanding sebelumnya. Ia tidak lagi mengandalkan Limit Break untuk membiarkan Darkness Mode keluar, tapi ia hanya cukup memanggilnya dan mengendalikannya dengan mudah. "Apakah Darkness Mode hanya segini saja?"
"Tidak, kalau kau mau memodifikasikannya," jawab Terra. "Tapi hal itu terlalu sulit, yah setidaknya untukku. Kau adalah reinkarnasi Vanitas, Darkness Modemu sama besarnya dengan dia. Itu akan membuatmu lebih mudah menaikkan level Darkness Modemu. Dan seperti yang kubilang sebelumnya, Darkness Mode cukup berbahaya. Kusarankan agar kau lebih bijak menggunakannya atau kau akan bernasib sama dengan Vanitas."
Sora menelan ludah yang tercekat karena merasa gugup. Namun, ia menyadari bahwa ada hal yang belum dilakukan Terra setelah latihan ini. "Hei, aku sudah menguasai Darkness Modeku dengan sempurna sangat sempurna. Jadi, masih tertarik untuk memberi tahuku jawabannya?"
"Jawaban ap—oh," Terra mengangguk-angguk. Sora heran apakah itu anggukan tanda setuju atau karena ia teringat ke mana percakapan ini berlangsung. Namun, Sora cukup terkejut ketika ia mengetahui bahwa apa yang dikatakan Terra selanjutnya adalah jawabannya.
"Dulu, ada sebuah insiden," katanya. "Antara aku, Aqua, Ven, dan...," Terra berhenti sejenak, seakan-akan mual untuk mengatakannya. "Dan Vanitas. Kami latihan di bawah Master Eraqus. Tiba-tiba saja, di tengah latihan, Vanitas tidak sengaja mengeluarkan Darkness Modenya. Di sekitar tubuhnya muncul sebuah aura hitam dan tidak sengaja menarik Ven ke dalamnya. Aku dan Aqua berusaha menariknya, tapi aura itu terlalu kuat. Vanitas berusaha menghentikan, tapi kekuatannya pun tak mau mendengarkan. Master Eraqus mengambil keybladenya dan... saat itulah muncul kejadian yang tidak kuduga."
"Apa kejadian itu?"
Terra terdiam sejenak sebelum menjawab, "Master Eraqus... berusaha membunuh Vanitas."
Kali ini Sora yang terdiam. Terra melanjutkan, "Aku tidak tahu mengapa Master berusaha melakukannya, karena ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Vanitas sama seperti kami bertiga ketika Xehanort memberikan Vanitas padanya. Aku dan Aqua memang tidak terlalu dekat dengan Vanitas dibanding Ven, tapi kita tak bisa membiarkan Master Eraqus membunuhnya begitu saja. Jadi... aku meminta Aqua untuk menahan Master walau hanya sesaat."
"Bagaimana dengan Vanitas?"
"Awalnya ia ketakutan ketika ia mendengar apa yang Master katakan saat itu. Percayalah, kau tak mau tahu. Kemudian, ia menepis semua perasaannya itu dan membantuku mengeluarkan Ven. Tetapi ketika aku berusaha mengeluarkan Ven, aku tidak menyadari bahwa salah satu aura hitamnya itu masuk ke dalam diriku. Aku masih terlalu naif saat itu, tapi lama-lama aku mulai mengetahui keberadaan Darkness Mode dalam diriku tak lama kemudian. Aku bersyukur bukan Ven tidak mengenainya."
"Apakah... begitu buruk?" Sora bertanya lagi. "Maksudku, ketika kau mengetahuinya?"
Terra menggeleng, "Tidak cukup buruk. Kalau kau punya hati yang kuat."
"Setelah itu? Apa yang terjadi?"
Terra menatap Sora dengan heran, "'Apa yang terjadi' bagaimana? Kalau kau mengharapkan alternate endingnya, jangan harap. Itulah akhirnya."
"...Entah mengapa aku merasa bahwa kau menyembunyikan sesuatu dariku, Terra."
"Sebaiknya begitu," Terra berkata sambil memainkan keybladenya. "Semakin sedikit yang kau tahu, semakin baik."
Sora tidak percaya Terra tidak ingin melanjutkan ceritanya. Memang, cerita tadi sudah termasuk jawaban dari pertanyaan sebelumnya, tapi rasa penasaran membunuhnya. Sora ingin tahu lebih riwayat Terra ketika ia bersama Ven, bahkan dengan Vanitas. Terlebih lagi, dirinya sendiri adalah reinkarnasi Vanitas. Dan mendengar perkataan Terra tadi, Sora tahu bahwa pria itu salah. Namun, melihat tampangnya saat itu, Sora tahu bahwa ia serius, dan Sora tidak berani menggubrisnya kembali.
End of Flashback
"Jadi intinya, kalau aku tidak bisa mengontrol Darkness Modeku seperti Vanitas," gumam Sora sambil menatap bayangan wajahnya di cermin. Maka aku akan berakhir sama dengan Vanitas.
Sora dapat merasakan tubuhnya sendiri gemetar. Bukan karena air dingin dari keran yang mulai membasahi tangannya, tapi karena ia masih memikirkan hal Vanitas tadi. Memang, dirinya adalah reinkarnasi Vanitas, membuatnya berpikir bahwa suatu hari nanti ia akan mengalami apa yang dialami Vanitas saat itu. Hal itu membuat Sora takut. Bukan takut karena kegelapan hati Vanitas, tapi karena takut kehilangan teman-temannya. Bagaimana kalau suatu hari nanti ia tidak dapat mengontrolnya dengan baik, yang justru membuat teman-temannya terluka? Sanggupkah ia menatap mata mereka ketika ia melihat mereka ketakutan? Karena dirinya?
Memikirkan hal itu saja membuatnya sakit hati.
Bel masuk telah berbunyi, menyadarkan Sora dari lamunannya bahwa ia tak punya waktu untuk memikirkan hal itu dulu karena ia harus masuk kelas dan meneruskan pelajarannya. Sambil berjalan dengan sedikit lemas, ia berjuang untuk kembali ke kelas. Tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di kepala seperti habis dipukul dengan pemukul baseball. Awalnya Sora mengira bahwa ada yang memukulnya dari belakang, tapi ketika ia berusaha melihat dengan pandangan sedikit kabur, ia tidak menemukan siapapun bersamanya. Kepalanya terasa sakit untuk kedua kali, dan tubuhnya yang lemas tidak sanggup menahannya.
Sora pun terjatuh.
Ia sedang berdiri di atas dahan pohon. Mungkin lebih tepatnya adalah berdiri sambil berpegangan, karena ia memegang dahan pohon yang ada di depannya dan berdiri di atas dahan pohon lain. Ia menatap kosong ke luar, menemukan betapa indahnya sinar matahari ketika tenggelam di Barat. Dari dulu ia selalu bertanya-tanya ke manakah matahari ketika mulai tenggelam? Apakah Bumi menelannya agar manusia tidak mendapatkan keindahannya selamanya? Atau apakah ini semacam perjanjian, di mana Bumi akan memperkenankan manusia melihat keindahan matahari dan saat malam menjelang Bumi akan kembali merenggutnya agar ia mendapat giliran untuk menatap sosok indahnya itu? Negosiasi yang aneh.
Karena lapar, ia memetik salah satu apel yang bergelantungan di atasnya, lalu memakannya. Sari buahnya yang mengisi isi mulutnya setiap kali ia menggigit daging buahnya, dan kesegaran yang ia dapatkan ketika mengunyahnya, membuatnya semakin lapar. Mungkin laparnya akan hilang kalau ia pergi ke ruang makan? Ah, ia tahu mereka akan lebih nyaman apabila dirinya tidak bergabung dengan mereka saat makan malam tiba. Lagipula, tak ada yang menginginkannya. Dan kalaupun ada, maka itu akan menjadi kesalahan terbesar.
"Hei."
Ia menatap ke bawah. Seorang laki-laki sebayanya menatapnya dengan ramah. Anak kecil tadi yang sepantaran dengannya. Sepertinya anak yang baik, terpampang jelas di wajahnya. Sambil tersenyum, anak itu bertanya, "Kau tidak masuk ke dalam?"
"Tidak," jawabnya singkat.
"Kau yakin?" anak itu bertanya lagi. "Di luar dingin."
"Dingin adalah temanku," jawabnya. "Ia selalu menemaniku. Sahabat dari kecil."
"Kenapa?"
"Dingin selalu mengingatkanku pada diriku. Inilah caraku mengenal diriku sendiri," ia menoleh ke arah anak itu, "bagaimana denganmu? Kau bilang di luar dingin, kenapa keluar?"
"Aku mencarimu," jawab anak itu. "Hari mulai gelap. Kau tidak takut?"
"Kenapa takut?" tanyanya balik. "Gelap itu selalu ada. Ke manapun kau pergi, seberapa jauh kau pergi, itu akan selalu mengikutimu. Percuma untuk bersembunyi, kalau yang kau temui semua hanyalah gelap."
Anak itu terdiam sejenak sebelum berkata, "Gelap akan selalu ada kalau tidak ada yang menyalakan terang. Gelap, terang. Kedua kata itu saling membutuhkan. Gelap tidak akan disebut gelap apabila tidak ada terang, begitu pula sebaliknya."
"Kebenaran apa yang berusaha kau sampaikan?" ia bertanya dengan nada frustrasi.
"Kau bilang 'percuma untuk bersembunyi, kalau yang kau temui semua hanyalah gelap' dan hal itu benar. Namun, kau tidak akan menyebutnya 'gelap' kalau kau tidak melihat terang, kan? Kalau kau menemukan gelap, maka kau menemukan terang."
Kali ini ia terdiam. Selain tidak tahu apa yang harus ia katakan selanjutnya, ia justru tidak mengerti apa alasan anak itu berkata seperti itu sebelumnya. Ia hanya menatap sebelum anak itu mengulurkan tangannya ke atas, entah memintanya untuk turun dari pohon agar ikut makan malam dengan yang lain atau ingin ikut naik. Ternyata, bukan keduanya.
"Kenalkan," anak itu berkata. "Namaku Ventus. Kau bisa memanggilku Ven, semuanya memanggilku seperti itu."
Ia heran mengapa anak itu tiba-tiba memperkenalkan dirinya. Ia berkata, "Nama yang bagus."
"Kau tidak akan memberitahuku namamu?"
"Untuk apa aku memberitahumu namaku kalau kau sudah tahu?" Ia menatap anak bernama Ven itu dengan putus asa. "Di saat kalian semua tahu kalau namaku itu hanya penuh dengan kehampaan?"
"Setidaknya kau punya nama," kata Ven. "Bersyukurlah kau punya satu."
Ia terdiam. Ventus masih menatapnya. Lalu, dalam suasana yang masih hening antara mereka berdua, ia berkata, "Vanitas. Namaku Vanitas."
Ventus tersenyum sambil membungkukkan tubuhnya dari bawah. Ventus berkata, "Salam kenal, Pangeran Vanitas."
Sora membuka matanya perlahan, agar tidak terlalu sakit ketika kelopak matanya mempersilahkan berkas-berkas cahaya lampu di langit-langit meneranginya. Rasa sakit di kepalanya tidak terlalu terasa lagi, tapi tubuhnya terasa kaku. Ia mencoba bergerak sebelum ia mulai menyadari bahwa ia bukan di tempat terakhir kalinya ia pingsan. Ia di atas kasur empuk UKS. Siapa yang membawanya ke sini?
"Ah, kau sudah bangun," suara feminim terdengar di belakangnya ketika ia berusaha untuk duduk. Ia mendekati Sora lalu duduk di sebelahnya sambil bertanya, "Aku menemukanmu pingsan. Kau tidak apa-apa?" Sora mengangguk. "Bagaimana perasaanmu?"
"Tidak enak," jawab Sora enteng, walaupun sebenarnya kondisinyalah yang tidak enteng. "Siapa saja yang tahu kondisiku saat ini selain kau?"
Kairi menjawab, "Tidus, Wakka, dan Selphie. Mereka bertiga sedang bersamaku ketika melihatmu terkapar di lantai. Tidus dan Wakka membawamu ke sini, sedangkan aku dan Selphie memberi tahu Riku dan Roxas tentang keberadaanmu. Mereka akan segera menemuimu."
Sora tersenyum kecil sambil berkata, "Arigatou ne, Kairi."
Kairi mengangguk lalu bertanya pada Sora sambil menepuk pelan pundak kanan Sora, "Apa kau yakin kau tidak apa-apa, Sora? Tubuhmu lemas, apa kau sudah makan? Mungkin kau harus segera ijin pulang., bagaimana?"
Sora menggeleng. Ia tak mau pulang ditemukan dalam keadaan lemas oleh Mickey dan yang lainnya dan lebih memilih pulang dengan saudara dan temannya sampai keadaannya pulih kembali sehingga sampai di rumah kelihatannya seperti mainan yang masih baru. "Aku akan di sini saja sampai aku pulih kembali. Lagipula, Riku dan Roxas suka mengomel kalau aku pulang meninggalkan mereka tanpa memberi tahu."
Awalnya, Kairi ingin membantah, tapi melihat kondisi Sora mau tak mau ia menurut. Ia berdiri sambil mengatakan bahwa ia akan kembali ke kelasnya dan berharap agar Sora cepat sembuh. Sora, yang menyadari betapa khawatirnya Kairi terhadapnya hanya tersenyum sambil tertawa kecil dan berkata bahwa Kairi sudah bertingkah seperti ibunya. Setelah itu, ia kembali ke kelas, meninggalkan Sora di UKS untuk beristirahat. Sora menatap ke arah langit-langit sambil berusaha mengingat mimpi tadi. Mimpi tadi adalah ingatan Vanitas. Sora berasumsi bahwa itu adalah pertama kalinya mereka berbicara. Dan percakapan itu mengubah semuanya.
"Guru tadi membagikan lembaran tugas," cerita Riku di tengah perjalanan pulang. Ia mengambil secarik kertas bertuliskan soal lalu memberikannya pada Sora. "Tapi kalau kondisimu masih kurang sehat untuk mengerjakan soal itu, jangan lupa beristirahat. Aku bisa disalahkan guru kalau nilaimu di tugas itu jelek."
"Terima kasih," sahut Sora sambil menerima soal itu.
"...," Roxas diam saja selama perjalanan pulang tanpa berkata apa-apa. Sora heran melihat tingkahnya lalu menyenggol Riku sambil menganggukkan kepalanya ke arah Roxas. Riku menggelengkan kepala sambil menaikkan kedua bahunya. Lalu ia berbisik, "Ia jadi seperti itu setelah kau pergi ke toilet."
"Roxas," kata Sora sambil menepuk bahu saudara kembarnya itu, membuatnya tersentak sedikit. "Kau tidak apa-apa? Kau tadi melamun."
"Be-benarkah?" tanya Roxas, memperoleh anggukan dari Sora dan Riku. "Kurasa aku hanya lebih suka melamun akhir-akhir ini, itu saja."
"Apa ada masalah?" tanya Sora penuh rasa ingin tahu. "Kau kelihatan pucat, Rox. Kau yakin kau sehat-sehat saja?"
Roxas mengangguk. Setelah itu, ia tidak mau mengungkit-ungkitnya lagi. Sora dan Riku menghargai privasinya, sehingga berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka ke hal lain yang akhirnya membuat Roxas berbicara kembali. Setidaknya ia tidak melamun lagi seperti tadi.
Sesampainya di rumah, Sora disapa hangat oleh Mickey, Donald, Goofy, Aqua, Terra, dan The Four. Ibu sedang keluar untuk belanja, sehingga Mickey menggunakan kesempatan ini untuk mengadakan semacam pertemuan. Agak sulit untuk menenangkan yang lain, mengingat suasana ruangan memang ramai. Apalagi ketika Zack menggoda Aqua yang membuat Terra geram dan Aerith harus menjewer telinga Zack untuk menghentikan niatnya mengajak Aqua untuk kencan. Namun, pada akhirnya untuk beberapa menit kemudian mereka kembali tenang. Mickey berdeham sebelum berbicara.
"Aku, Donald, dan Goofy melakukan pencarian. Selain kita bertiga, aku juga mengirim beberapa kelompok pencarian untuk mencari jejak Ven," mendengar nama Ven membuat wajah Aqua dan Terra cerah, "dan di Keyblade Graveyard aku menemukan ini."
Mickey menaruh sebuah buku yang ditemukannya ke atas meja dengan bunyi 'debam' yang menggema di ruangan. Ia menatap Aqua dan Terra sambil bertanya, "Aku berasumsi kalian mengenal buku ini?"
Kedua warrior itu terkejut lalu mengangguk pelan. Tak lama kemudian, mereka berdua mengalihkan pandangan mereka dari buku tersebut, seakan-akan buku itu adalah sesuatu yang tidak boleh—atau yang tidak ingin mereka lihat. Mickey menghela nafas panjang sambil berkata, "Ini buku Vanitas, apa aku benar?"
Sora dan yang lain terkejut kecuali Mickey, Aqua, dan Terra. Sekali lagi, kedua warrior itu mengangguk. Sora tertegun melihat buku dengan sampul kulit yang ada di tangan Mickey itu. Entah mengapa, ia merasa ada sebagian dirinya yang merasa senang melihat buku itu. Sora berusaha menjaga keinginannya untuk menyentuh buku itu setidaknya untuk sekali saja. Ia mendengarkan Mickey berkata, "Buku ini akan kuberikan pada Sora."
Seluruh isi ruangan terkejut. Aqua dan Terra kelihatannya tidak setuju. "Tapi, Yang Mulia—"
"Aku tahu Vanitas akan dengan senang hati menerima kembali bukunya," kata Mickey. Ia menatap Sora lalu bertanya, "Apakah kau merasa begitu, Sora?"
"Tapi kita tidak tahu apakah isinya sebuah sihir hitam atau sesuatu yang berbahaya, Yang Mulia!" seru Aqua khawatir ketika Sora mengulurkan tangannya untuk menerima buku itu dari Mickey.
"Ya, bagaimana kalau buku itu berisi jebakan?" tanya Zack. "Terlebih lagi... kutukan?"
"Berhenti menakut-nakuti, Zack," kata Aerith mengingatkan.
"Buku itu ditemukan dalam keadaan yang aman. Tidak ada sihir, tidak ada aura, hanya buku biasa," kata Mickey, "lagipula, aku sudah melihat isinya."
"Ini buku diari," kata Sora sambil menerima buku itu dari tangan Mickey dengan senyum senang. Ia tidak tahu mengapa ia merasa senang, dan hal itu membuatnya tersenyum ketika ia merasakan sampul kulitnya itu. Seakan-akan ia merindukan buku itu setelah sekian lamanya berpisah.
"Bagaimana kau tahu kalau itu adalah diari?" tanya Terra.
"Aku hanya... tahu," jawab Sora. "Aku hanya tahu," Sora membuka depan sampulnya, dan melihat bahwa di halaman pertama terdapat sebuah simbol.
Mickey, yang melihat ekspresi Sora pun bertanya, "Kau mengenal tanda itu, Sora?"
"Kehampaan," jawab Sora sambil mengangkat kedua bahunya. Ia menatap Mickey dan yang lainnya lalu menunjukkan gambar simbol di halaman pertama itu kepada yang lain. "Aku tidak pernah melihat simbol ini, tapi di saat yang sama aku merasa pernah. Ini artinya kehampaan."
"Bagaimana kau tahu tentang simbol itu?" tanya Tifa.
Sora menggeleng. "Aku mengenalnya, tapi aku tidak tahu apa simbol itu. Yang jelas, simbol itu menunjukkan arti kehampaan, kurasa. Kalau ada yang bertanya-tanya dari mana aku tahu artinya, aku hanya tahu. Sungguh," lalu ia menatap Cloud, "dan Cloud, kurangi kecurigaanmu."
Mickey mengangguk. Sepertinya Sora mulai dapat menunjukkan tanda-tanda Vanitas dari dalam dirinya. Tanda-tanda pangeran yang muncul dalam diri Sora bisa jadi berita baik dan buruk. Berita baik, Mickey dapat memprediksi kapan pangeran itu muncul sehingga ia dapat siaga. Berita buruknya adalah kalau pangeran itu sendiri kelewat batas. Mickey berdiri lalu berkata, "Baiklah. Simpan buku itu baik-baik. Jagalah seperti kau menjaga nyawamu sendiri. Itu milik Vanitas, mungkin kalau kau membacanya kau bisa mengerti apa yang ada di pikirannya."
"Tunggu, kau sudah membacanya?"
Mickey mengangguk pelan. Ia menjawab, "Sudah. Bocah yang sama malangnya dengan Ventus." Mickey lalu berdiri dan berkata, "Satu hal lagi, aku menemukan petunjuk mengenai keberadaan Ventus," seisi ruangan terlihat senang sebelum Mickey melanjutkan, "tapi aku harus menyelidikinya dulu. Karena yang kutemukan adalah sebuah surat. Chip dan Dale menemukan glider milik Ven."
"Benarkah?" tanya Aqua. "Tunggu, surat? Surat apa? Dari siapa? Apakah dari Ven? Apakah dia masih hidup?"
"Jangan tinggi harap dulu, Aqua, bahkan aku sendiri belum yakin," kata Mickey. "Walau aku juga ingin berpikir bahwa ia masih hidup, tapi saat ini kita harus menghadapi kenyataan terlebih dahulu. Ia hidup di zaman yang berbeda dengan dunia kita. Aku tidak ingin tinggi harap kalau situasinya begitu."
Aqua dan Terra terlihat kecewa. Perkataan Mickey memang ada benarnya, dan tidak ada gunanya untuk menyangkal. Ventus menjalani kehidupannya di dunia dengan waktu yang berbeda. Mereka berdua harus menerima kenyataan itu.
"Baiklah. Pertemuan hari ini selesai," kata Mickey. "Hanya itu yang kusampaikan hari ini, kalian diperbolehkan pergi."
Setelah Mickey membubarkan pertemuan, The Four, Donald, Goofy, Aqua, dan Terra keluar dari ruangan. Sekarang tinggal Mickey, Sora, Roxas dan Riku yang tersisa di ruangan. Sora dan Riku masih shock berat karena berita tadi. Namun, Roxas terlihat merenung.
"Roxas?" panggil Mickey.
"Hm?" Roxas sadar dari renungannya lalu menatap Mickey, siap mendengarkan.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"
Sejak awal pertemuan, Mickey merasakan ada yang menganggu pikiran Roxas. Seharian ini, ia tidak mendengar bocah itu riang seperti biasa tapi terlihat sedikit diam daripada biasanya. Mickey tidak bisa bilang ia tidak khawatir, terlebih lagi Roxas adalah keturunan Ventus yang sangat mirip dari segala halnya; fisik, ekspresi, sikap, dan sifat.
Roxas terkesiap, tapi ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Ti-tidak. Sama sekali tidak."
"Baiklah," Mickey mengangguk, walau ia masih mencurigai Roxas karena merasa ada sesuatu yang disembunyikannya. "Kalau kau ingin berbicara, berbicaralah. Aku siap mendengarkan."
Malam semakin lama semakin gelap saja. Seluruh isi rumah tidur terlelap dilahap kesunyian. Tidak ada yang mengganggu kenyenyakan tidur mereka karena Roxas mencoba untuk melakukannya sendirian. Malam ini ia tidak bisa tidur. Ia masih teringat dengan perkataan Aqua kemarin, ketika wanita itu melatihnya dan Riku selama Sora dilatih Terra. Aqua mengatakan kalau ia merasakan bahwa sebagai seorang pemegang keyblade, auranya jauh lebih kuat dari pemegang keyblade biasa umumnya. Aqua tidak dapat menebak apa, tapi ia tahu ketika ia merasakannya.
Roxas menunggu, menunggu, dan menunggu. Ia melirik ke arah jam dan melihat bahwa jam wekernya menunjukkan pukul dua belas malam. Ia menunggu beberapa detik lagi. Setelah Aqua memberi tahu bahwa Roxas memiliki aura yang kuat, ia mulai mendengarkan suara. Suara yang lembut dan ringan seperti malaikat. Ia menunggu lagi... tapi suara yang didengarnya kemarin tak kunjung terdengar. Di saat Roxas mau menyerah, suara itu akhirnya muncul.
Roxas. Roxas mendengarnya cukup jelas. Roxas.
"Kau terus-terusan memanggilku," bisik Roxas. "Tapi, kau tidak pernah mengatakan padaku apa maksudmu memanggilku. Apa kau mencoba untuk bermain-main dengan kepalaku? Lagipula kau tidak memberitahuku namamu."
...Namaku tidak penting. Kumohon, dengarkan aku.
Roxas sedikit terkejut ketika suara itu membalas apa yang baru saja dikatakannya. Tapi seperti permintaan suara tadi, ia mendengarkan.
Jangan mau bergabung dengan mereka. Mereka itu berbahaya, Roxas.
"Siapa 'mereka' yang kau maksud berbahaya itu?" bisik Roxas.
Suatu hari nanti kau akan tahu. Aku tidak bisa memberitahumu. Mereka akan menghukumku.
"Menghukum?" tanya Roxas dengan suara agak keras. "Menghukummu untuk apa? Berbagi informasi denganku?" suara itu tidak menjawab. Roxas menghela nafas lalu berkata, "Setidaknya berikan aku petunjuk."
...Organisasi. Aku tidak tahu mengapa mereka beranggota dua belas orang dan hitam. Maaf, aku tidak bisa lebih jauh lagi, mereka akan tahu.
Roxas semakin bingung, karena ia tidak tahu apa yang dibicarakan suara itu. Ia bertanya, "Apakah hanya aku yang tahu mengenai hal ini?"
Hanya kau. Mereka hanya mengincarmu.
"Mengapa hanya aku?"
Sulit untuk menjelaskannya, suara itu memelan. Cepat atau lambat mereka akan mempunyai akses untuk mendengarkanku berbicara padamu. Setelah ini, kumohon segera lupakan aku.
"Melupakanmu?" Roxas mencoba membantah. "Mengapa? Setidaknya, tolong beri tahu aku siapa namamu."
Untuk beberapa saat Roxas tidak mendengarkan suara itu lagi. Ia menghela nafas menyerah sebelum suara itu muncul kembali.
Aku tidak bisa memberitahumu. Tidak bisa.
Roxas mendesah. Ia dapat merasakan keputusasaan dalam suara tersebut sehingga ia tidak mendorongnya untuk menjawab lebih jauh lagi. Ia menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal sambil bertanya, "Akankah aku mendengar suaramu lagi besok malam? Mungkin untuk sekedar berbicara?" Roxas menunggu beberapa detik untuk jawaban tersebut sebelum akhirnya terjawab.
Ya.
Untuk sekadar mencairkan suasana, Roxas menyeringai sambil bertanya, "Apa kau seorang gadis? Karena suaramu terlalu indah untuk seorang laki-laki."
Tak lama kemudian, Roxas mendengar suara itu tertawa kecil. Tawanya terdengar indah di telinganya, seperti suara lonceng kecil yang berbunyi di hari natal. Lalu, suara itu menjawab: Ya. Bukankah sudah jelas?
Setelah mendengar jawaban itu, Roxas tersenyum. Akhirnya ia bisa tidur dengan nyenyak.
Mickey tidak tidur. Ketika ia yakin seisi rumah telah tertidur, ia bangkit dari tempat tidurnya lalu pergi ke luar melalui jendela. Ia berjalan sambil mendengar suara jangkrik di malam hari, yang mengingatkannya pada teman lamanya, Jiminy. Mickey senang dengan suasana malam hari, membuatnya tenang dan berpikir jernih. Terutama, karena malam hari adalah di mana Ventus mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Sangat menyakitkan.
Mickey pergi menuju ke pulau kecil, lalu duduk di atas pohon sambil menatap bulan purnama yang bersinar tepat di depannya. Sama seperti menonton matahari yang tenggelam, tapi ini di malam hari. Mickey merogoh-rogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan secarik kertas berwarna putih gading. Surat yang ditemukan di glider milik Ven. Perlahan-lahan, Mickey membukanya lalu membaca isinya. Ia terkejut karena tulisan tersebut bukan milik Ven. Isi surat itu begini:
Untuk Yang Mulia Mickey,
Anda masih ingat saya? Sebelumnya saya ingin memohon maaf atas permintaan saya yang egois ini. Tapi seperti janji saya, saya telah menaruhnya di tempat yang aman dari mereka. Mereka tidak akan pernah menyakitinya lagi selagi ia tertidur. Dan kalau Yang Mulia telah menemukan cara membangunkannya, kumohon, bangunkanlah dia. Jagalah dia untuk saya, karena saya tahu bahwa saya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Mereka akan mencari tubuhnya, dan saya akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk melindunginya.
Mickey berhenti membaca sebentar. Surat ini memberitahunya lokasi Ven berada. Tapi entah kenapa, penulisnya tidak menuliskannya di surat ini. Ah, benar, mereka. Penulis surat tersebut tidak akan menuliskan lokas Ven karena terlalu beresiko mengingat masih banyak mereka yang mencari Ven. Tentunya, bukan suatu ketidaksengajaan kalau surat ini terselip di glider milik Ven. Kalau begitu, ada alasan mengapa surat ini ada di sana. Glider Ven adalah petunjuk lokasinya.
Mickey kembali membaca sebelum ia menyadari bahwa surat tersebut hanya berisi tulisan tadi. Ketika ia merasa akan menyerah, Mickey melihat ada tulisan lagi di paling bawah surat tersebut. Ia membacanya sekali lagi.
NB:
Aku mencintainya, Yang Mulia. Ketika ia bangun, sampaikanlah padanya.
Mickey tersadar. Setelah membaca surat tersebut, ia hanya bisa tersenyum sedih. Malangnya, ditinggal tidur oleh pria yang dicintainya. Kalimat pertama dari isi surat itu terngiang di kepalanya, Anda masih ingat saya?
"Tentu saja, aku masih ingat," kata Mickey. "Ventus sangat menyayangimu, bagaimana aku tidak ingat?"
Hari pertama aku menulis isi buku ini.
Aku telah diambil alih oleh seorang master bernama Eraqus. Master Xehanort mengatakan bahwa Master Eraqus adalah sahabatnya dulu. Ia mengatakan bahwa dirinya udah cukup tua untuk mengajariku lagi dan meminta sahabatnya untuk melatihku. Ayah telah mengijinkan agar aku dibawah ajaran Master Eraqus. Aku selalu bertanya-tanya, apakah yang kurang dariku? Aku sudah menguasai jurus-jurus, sihir, semua yang diajarkan Master Xehanort padaku dan aku masih harus mengikuti pelajaran itu lagi dari master yang berbeda? Hari pertamaku sangatlah biasa. Semua yang diajarkan Master Eraqus, aku sudah mempelajarinya. Lalu, apa alasannya Master Xehanort memberiku padanya? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan Master Xehanort dariku?
Aku harus segera berhenti bertanya-tanya sebelum kepalaku meledak.
Oke, di sini aku terjebak bersama ketiga orang ini, yang kuketahui salah satu namanya adalah Ventus. Bocah itu aneh, tapi ia sangat baik harus kuakui. Berbeda dengan kedua temannya yang kelihatannya berusaha menjaga jarak denganku, Ventus cukup baik untuk menerimaku. Aku tidak melihat rasa takut di matanya, dan hal itu membuatku nyaman. Diam-diam, aku menyelidiki sejarah mereka bertiga sebelum berada di bawah ajaran Master Eraqus. Ternyata pria kekar bernama Terra itu adalah anak seorang Blacksmith, sangat sinkron dengan otot-ototnya. Lalu yang seorang wanita sebayanya, Aqua, adalah anak seorang ilmuwan. Aku jarang melihat mereka berdua, tapi aku familiar dengan wajah Ven karena ia adalah anak dari petinggi kuil di kerajaanku. Mungkin ketika aku naik takhta, ia pun menggantikan ayahnya? Mungkin...
Pertemuan kami tidak terlalu formal dan sangat biasa. Sama seperti ayahnya, kata-katanya terkadang penuh makna. Namun, satu-satunya yang menggangguku adalah perkataan Ventus saat itu. Ia berkata bahwa gelap dan terang saling membutuhkan. Gelap tidak akan disebut gelap apabila ada terang, begitu pula sebaliknya. Aku terlahir dalam gelap, dan aku tidak melihat terang, tanpa terang pun aku menyebut gelap adalah 'gelap'. Kalau duniaku tidak sesuai dengan yang dikatakan Ven, apakah tidak apa-apa? Apakah itu normal? Aneh? Atau hanya aku yang seperti ini?
Aku benci pertanyaan.
OKE, ada misteri baru di sini yang bakal terungkap untuk beberapa chapter ke depaan/
ada yang tahu siapakah yang menulis surat itu? atau mungkin ada yang tahu siapa suara yang ngomong sama Roxas? hohohoho, masih banyak misteri tentunya terutamaaa APAKAH VEN MSIH IDUP? JDER
nah, sekian dari chapter ini, saya usahakan updet chapter tujuhnya sekilat mungkin (?) dan OH saya juga ngasih cuplikan (bukan untuk chapter selanjutnya) hanya tambahan...
Enjoy.
Di tempat lain, dalam kegelapan, seorang laki-laki berambut cepak-cepak berwarna hitam yang duduk di singgasananya terbangun dari tidurnya yang amat panjang sejak terakhir kalinya ia bertemu dengan temannya. Ia kesal karena telah dikutuk untuk selama ini, tapi ia puas sekarang karena dapat bergerak seleluasa mungkin. Ia masih memakai baju pangerannya yang berwarna hitam dan kalung kerajaan. Ia merenggangkan tubuhnya sebentar sebelum menyadari bahwa ia bukan di dalam tubuhnya sendiri. Tapi tubuh baru.
Sambil menyeringai dengan tatapan anak nakalnya yang khas, laki-laki itu bergumam di tengah kegelapan yang menyelimutinya. Gema yang ditimbulkan kegelapan itu menghasilkan suaranya terdengar lebih jelas untuk beberapa saat.
"Jadi inikah tubuh baruku?" tanyanya. "Wow, Ven. Kau telah menghasilkan keturunan yang luar biasa, kita lihat apakah ia mampu bertahan. Kali ini, siapa yang akan menang; kau atau aku."
HAYOO siapa ituu...
REVIEW yaa kawan.. kalau ada yang bingung tanya ajaa ;D
