Being together
A/N: Shounen-ai, K+, Angst, Humanized, AU, Second Point of View
The Penguins of Madagascar © Tom Mcgrath/Eric Darnell – Nickelodeon/DreamWork
~~xxXxx~~
"Ada ide kita kemana sekarang?"
"Tidak ada kata kita dari awal, ekor cincin." geramanmu semakin kau pertegas dengan setiap kata yang keluar dari mulutmu.
"Heh, tidak perlu berubah menjadi pinguin yang sedang mengamuk, pinguin."
"Hentikan panggilan pingu–"
"Hei, bagaimana kalau kita pergi berpasangan?"
"H-hah?" rasa ingin mencekik pria berambut hitam dengan highlight putih di depanmu ini semakin menggebu-gebu. Andai tatapan bisa membunuh dan mengunci targetnya, Julien sudah pasti berada di alam baka tiga menit yang lalu. Tatapan membunuh pun membutuhkan pengunci target untuk membunuhnya karena orang ini, seakan ada tameng atau apalah yang memantulkan laser amarah dari matamu. Menyebalkan tapi, kenyataan.
"Berpasangan?"
"Betul sekali, pinguin kecil! Dan karena aku sudah bosan dengan kau dan si pinguin bos itu berpasangan, kali ini aku akan mengacaknya!" kau lampiaskan kekesalanmu dengan menepuk telapak tanganmu pada wajahmu. Tidak perlu membuka mata untuk melihat apa reaksi Rico. Orang itu jelas akan memutar bola matanya.
"Maurice, kau dengan si psikopat. Mort, kau dengan si bos dan aku dengan si kecil ini. Jenius bukan?" Rico memberi tatapan kau-lebih-baik-bercanda-atau-akan-kubuat-wajahmu-berciuman-dengan-lantai, Maurice mengekspresikan sesuatu mirip dengan pandangan yang-benar-saja, Mort hanya menyengir seperti biasa, dan kau. Kau memberikan tatapan akan-kubuat-kau-menarik-ucapanmu-itu-bahkan-dalam-mimpi-sekali-pun terbaikmu.
"Tidak akan–"
"Kita bertemu disini setelah parade kedua!" entah kenapa kau hanya bisa diam ketika kalimatmu dipotong oleh Julien yang dengan seenaknya menarik Private pergi. Secepat itu dia memotong kalimatmu, secepat itu pula dia menyeret Private ke antara kerumunan orang-orang. Di sebelahmu berdiri Rico yang masih dengan tatapan ingin menghajarnya, anehnya di sisi lainmu berdiri bocah berambut coklat pendek. Dengan mata coklatnya yang besar menatapmu dengan tatapan khasnya.
"Aku mau kembang gula." bersama Rico dan Maurice, kalian menoleh secarah berbarengan ke arah Mort.
~xXx~
"Aku mau naik kincir angin, tuan pinguin."
"Mort, kau lebih baik pergi dengan Maurice. Dan hentikan sebutan pinguin itu."
"Baiklah~" kau menggelengkan kepala ketika bocah itu berlari ke arah pria tua yang berdiri di dekat sebuah kios. Setelah memastikan anak itu tidak akan mengikutimu lagi, matamu kembali dialihkan pada sebuah teropong, mencari kemana dua orang yang tadi sedang kau intai. Rico yang berada di sebelahmu juga mengikuti kemana pandanganmu tertuju. Kau terus memperhatikan gerak-gerik dua orang itu tanpa memikirkan orang lain yang memandang aneh kalian berdua. Kalian tidak akan seaneh itu kalau kalian mengenakan jas hitam daripada kemeja dan kaus. Setidaknya kesan agen rahasia lebih biasa untuk di kota seperti New York. Dimana adegan dua orang mengintai seseorang dari bayang-bayang menggunakan teropong canggih terlihat normal-normal saja. Terima kasih kepada seluruh film-film Hollywood.
"Ayo naik roller coaster!" kau mengerutkan dahimu, tidak peduli kalau hal itu hanya akan mempertua wajahmu. Rasa sebal dengan pria yang sedang kau intai semakin membesar ketika orang itu menarik lengan anak buah kesayanganmu. Dengan seenaknya menyeret Private ke wahana yang berada tepat di depan mereka.
Dua menit kau dan Rico menunggu di kursi karnaval, dengan rasa kesal menunggu kedua orang yang tadi naik wahana tersebut turun. Dan ketika orang yang kau nanti keluar dari arena roller coaster, kau mau tidak mau segera mengikuti mereka yang langsung menuju wahana lainnya. Dari carousel hingga ferris wheel, apa yang bisa kau lakukan hanya mengumpat sembari melihat cintamu diajak mondar-mandir oleh Julien. Sebal, tentu saja. Bosan, apalagi.
"Hei," kau menoleh pada Rico, matamu seakan berkata apa-yang-akan-kau-katakan-sebaiknya-penting-sampai-berani-mengganggu-konsentrasiku ketika bertemu dengan tampangnya.
"Apa–" kau tidak sempat menyelesaikan kata-katamu, tanganmu keburu ditarik oleh pria di sebelahmu. Pikiranmu kosong mendadak saat diseret Rico ke sebuah tempat. Tanpa kau sadari, kau sekarang malah berdiri mengantri untuk giliran latihan menembak.
"Heh, yang benar saja." kau kembali melirik Rico, hanya untuk mendapat dia berdiri bangga dengan wajah tidak bersalah. Polos yang dibuat-buat.
"Mumpung ada disini." kau mendengus mendengarnya, tapi perlu kau akui perkataan Rico ada benarnya.
Dua menit mengantri kau habiskan dengan mengedarkan matamu pada keadaan sekitar. Tidak ada yang mencurigakan maupun spesial dari pemandangan sekitar, hanya ada beberapa stand makanan serta permainan. Menghabiskan waktu, kau memperhatikan dua orang; sepertinya pasangan, berdiri di sebuah stand permainan lempar cincin. Kau memperhatikan pasangan laki-laki dan perempuan itu, terlihat berumur tujuh belas tahunan. Dari tingkah mereka, tentu tertebak bahwa mereka jelas pasangan. Kau menaikkan satu alismu ketika si laki-laki berhasil melempar cincinnya ke pin bowling yang tersedia, kau memperhatikan bagaimana reaksi perempuannya. Dengan senangnya melompat dan memeluk pasangannya, lalu memeluk boneka yang menjadi hadiah. Sesaat kau yakin pikiranmu menggambarkan bahwa adegan tadi diperankan oleh dirimu dan Private. Terlalu berharap.
"Oi, maju."
"E-eh?" kau kebingungan ketika Rico mendorongmu, tidak sadar bahwa antrian sudah berakhir dan sekarang giliran kalian. Kau masih juga kebingungan ketika sampai di bilik nomor enam, bersebelahan dengan Rico. Apalagi ketika melihat lagi-lagi dua orang pasangan berada di bilik sebelah lewat kaca pembatas. Diam-diam matamu melirik bagaimana si laki-laki mengajarkan cara memegang pistol pada si perempuan, bagaimana pasangan itu dengan romantisnya bersentuhan. Sesaat kau teringat bahwa Private bukanlah penembak yang handal. Dan kembali, pikiranmu membayangkan dirimu mengajarkan Private cara menembak. Keromantisan bayanganmu buyar ketika tiba-tiba, tanpa diinginkan, gambaran Julien yang mengajarkan Private muncul. Kesal, segera kau pakai kacamata pelindung dan mengambil pistol yang disediakan. Tanpa segan-segan menarik pelatuknya dan menembak ke sasaran. Ketika delapan peluru yang tersedia habis dan kau melepas kacamata pelindung, kau sadar hanya dua tembakan yang berhasil mengenai sasaran tengah, dua lainnya masih berada di lingkaran sasaran, tapi sisanya malah berada pada bagian putih di luar sasaran. Memalukan kalau mengingat kau adalah penembak kedua terhebat dalam timmu. Kau melirik ke arah bilik Rico, orang yang kau lirik tampak sedang berdiri sambil menyeringai bangga. Kau tolehkan matamu pada sasarannya, kedelapan peluru semuanya berada dalam lingkaran sasaran. Tidak, yang membuatmu terkejut bukanlah karena semua peluru Rico berada di bagian tengah sasaran, itu terlalu biasa untuk ukuran dirinya. Daripada menjadi satu bolongan besar, kedelapan peluru tersebut membentuk sebuah wajah tersenyum. Dua peluru menjadi mata dan sisanya menjadi mulut, memang tidak salah kalau Rico memegang predikat penembak terbaik di timmu, bahkan dalam organisasimu.
Ketika Rico membalas lirikanmu dan pandangan kalian bertemu, kau mendengus. Rico yang berada di sebelah malah memperlebar seringainya secara sengaja, seakan tahu hal itu semakin membuat kesal dirimu. Ketika kau melihat mata pria berambut jabrik itu menoleh pada sasaranmu, sontak kau segera melepas penutup telinga yang disediakan dan buru-buru berjalan keluar dari tempat tersebut. Kau tidak memperdulikan Rico yang juga buru-buru melepas atributnya dan menyusulmu.
"Tumben-tumbennya, ada masalah, eh?" kau mendengus keras mendengarnya. Daripada terdengar cemas, perkataan Rico lebih terdengar menyindir.
"Ada yang mengganggu pikiran?"
"Bukan urusanmu."
~xXx~
"Hei, parade pertama sudah mau dimulai." kau menoleh pada Rico dari kursi, rasa kecewa sedikit menggelitik ketika sadar ini baru parade pertama, parade kedua baru akan mulai jam empat nanti.
"Oh, ayolah, kita di sebuah tempat untuk bersenang-senang, setidaknya buang tampang masam-mu itu." Rico menatapmu sebal, siapa yant tidak kesal melihat tampang kecut seperti itu. Terlebih jika tahu alasannya hanya karena Private diajak pergi oleh Julien. Orang seperti dia tidak mungkin macam-macam dengan Private, jadi tidak ada gunanya mengumpat.
Kau menghela napas panjang, lalu berdiri di sebelah Rico yang terlebih dahulu sudah berdiri di dekat garis pembatas untuk parade. Dengan rasa malas kau mengambil tempat di sebelah Rico. Tak lama kerumunan yang mengitari kalian semakin bertambah, semakin banyak orang yang berdiri sambil memegang kamera atau alat perekam. Kau hanya menatap kosong ketika satu per satu atraksi lewat. Penari-penari, kendaraan yang dihiasi hingga terlihat seperti patung berjalan, marching band, badut-badut, hingga maskot dari karnaval itu sendiri lewat tepat di depan matamu. Kau melihatnya dengan setengah antusias, bahkan pikiranmu sendiri hanya seperempat yang berada sekarang, sisanya beterbangan entah kemana. Ketika parade sudah mulai selesai, ketika semua pertunjukan-pertunjukan berkurang, kau melihat sekilas siapa yang berdiri di seberang pembatas. Julien dan Private berdiri bersebelahan di ujung sana, sontak kau segera melambaikan tanganmu, berharap mendapat perhatian Private. Akan tetapi kau menyadari seorang pria mendatangi mereka, tepatnya mendekati Private. Sesaat, kau merasa pernah melihat atau mengenal pria tersebut. Segera kau berlari menuju mereka ketika pria itu mengajak Private keluar dari kerumunan. Ketika kau berhasil mengikuti mereka yang berjalan menuju sebuah tempat dekat arena pertunjukan air, kau segera bersembunyi di balik salah satu kios yang ada. Kau perhatikan bagaimana mereka berbincang, bagaimana wajah Private memerah sedikit dan pria mencurigakan itu tersenyum. Kau keluarkan teropongmu, mengarahkan pada mereka. Terima kasih kepada Kowalski karena telah menciptakan sebuah teropong pintar dan berlengkapkan alat penyadap suara. Kau mengikuti mereka yang sekarang duduk di bangku sambil mengobrol.
"Tidak disangka bisa bertemu disini, eh?"
"Ahaha, sudah berapa tahun, ya? Tiga atau dua? Tidak terasa memang."
"Jadi bagaimana dirimu setelah kuliah selesai, Neil?" ah, jadi pemuda berpakaian rapi itu bernama Neil. Wajahnya terlihat terlalu familiar di matamu.
"Bekerja di sebuah tempat, ya, bisa dibilang bisnis. Kau sendiri bagaimana?"
"Masuk ke sebuah kemiliteran, ehehe." kau menaikkan alismu mendengarnya, tidak menyangka Private selama ini mengira ia berada di sebuah kemiliteran.
"Eh? Tidak disangka untuk ukuran sepertimu, Private." kedua alismu kini bertautan, agaknya terkejut mendengar pria ini mengetahui nama Private.
"P-panggil James saja, julukan itu memalukan." rasa kesal karena karena pria ini mengetahui lebih banyak tentang Private memenuhi dirimu, terlebih karena Private memerah untuknya.
"Panggilan itu padahal lucu. Hmm, atau kau mau dipanggil dengan julukan yang satunya?" alismu terasa berkedut sesaat.
"J-jangan! P-Private saja kalau begitu." warna merah pada wajah anak buahmu semakin bertambah, begitu pula dengan kekesalanmu. Atau kecemburuan, tepatnya.
"Ahahaha, kau memang tidak berubah, ya."
"N-Neil!"
"Mmh, kudengar mereka juga punya atraksi lumba-lumba, mau lihat?"
"Meh, sendirinya juga tidak berubah, masih suka lumba-lumba." tiba-tiba kau teringat sesuatu. Ah, kini kau sadar siapa pria berambut kelabu-kebiruan ini, siapa pria yang bersama Private. Rasa horor mulai bersarang dalam benakmu, panik ketika melihat Private digenggam tangannya oleh Neil dan diajak menuju tempat atraksi mamalia air tersebut. Segera kau susul mereka, tanpa kau sadari Rico juga menyusulmu dari belakang.
~~xxXxx~~
"I cannot do it myself, I need you to be always with me." - Torinoko City / Hatsune Miku ft. 40mP
~~xxXxx~~
Author's note: Ahaha, lama update-nya ya? Maaf, habis banyak tugas dan sedikit writer's block. Bingung mau bilang apa, jadi akhir kata seperti biasa, semoga menikmati ceritanya dan mengerti maksudnya. Maaf bila ada typo, salah penyebutan maupun lainnya.
Thank you for reading
