Tittle : Read My Music
Author : GoodMornaing
Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO
Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Shin Jimin AOA, etc
Genre : Romance , Drama , and BxB
Rated : T - M
Summary :
Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun ku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."
.
.
Happy Reading
Chapter 6 : Little Byun Baekhyun
.
.
.
"Kenapa semuanya gelap."
"Oh.. aku lupa, hanya gelap lah yang dapat ku lihat."
"Aku mencoba mengingat tempat apa ini dan siapa saja yang berada disini. Menghirup aromanya, merasakan hangatnya cahaya matahari di kulitku, dan bagaimana terkadang semilir angin menerpaku. Namun seketika, nostalgia itu menyeruak kedalam diriku seperti tusukan ribuan jarum yang sungguh tajam didada."
"Tidak.. Tidak.. Tidak.. Tidak.. Tidakkkkkkk"
"AKU TAK INGIN BERADA DISINI LAGI, AKU TAK INGIN, AKU TAK MAU."
"Kau sudah bangun Tuan Muda?" Baekhyun membeku setelah mendengar suara menjijikan itu lagi, rasanya sungguh mual, suara wanita jahanam ini masih tetap sama, nadanya dibuat- buat semanis mungkin dan selalu menyebut Baekhyun dengan panggilan Tuan Muda namun dengan cara yang sungguh merendahkan.
"Noona ini bagian Mansion sebelah mana? Apakah ini taman belakang? Kenapa aku tidur ditanah? Bisakah kita ke Sayap Kanan lantai satu mansion? Aku lapar" Baekhyun yang mendengar suara dirinya sendiri yang masih kecil itu meringis.
"hiks.. Byun Baekhyun, mengapa kau sepolos itu, lari cepat lari... wanita itu jahat."
"Dia adalah wanita iblis."
Namun apalah daya Baekhyun, dirinya hanyalah penonton yang terjebak dalam memori. Baekhyun bertanya- tanya, mengapa dirinya harus mengulangi kejadian malam ini lagi.
Langkah kaki ber hak tinggi itu terdengar berjalan diatas tanah, mendekati Baekhyun, maksudnya mendekati Baekhyun yang dulu, si Baekhyun yang berumur 3 tahun.
"Baekhyun ah, bolehkah aku panggil kau begitu saja, kau terlalu kaya sehingga gadis 20 an seperti ku harus memanggil Tuan Muda kepada anak umur 3 tahun. Sungguh dunia yang tak adil." Baekhyun dewasa bergidik mendengarnya.
Wanita itu mengelus pipi kenyal Baekhyun yang berumur 3 tahun, yang anehnya hal tersebut juga terasa pada Baekhyun yang berumur 20 tahun. Dan rasanya sungguh menjijikan.
"HENTIKAN! JANGAN SENTUH AKU DENGAN TANGAN KOTOR MU. HENTIKANNN!!"
Percuma saja, Baekhyun berteriak seperti apapun mereka berdua tak akan bisa mendengarnya.
"Ini mimpi buruk..." Ujar Baekhyun dewasa dengan nada putus asa, sambil memilih duduk dan memeluk lututnya. Dirinya sudah tahu bagaimana ini akan berakhir. Yang dapat dilakukannya hanyalah menunggu dalam diam untuk mendengarkan segalanya, lalu berharap ini cepat berakhir, atau ada seseorang baik hati yang membangunkannya dari mimpi buruk ini.
Baekhyun muda justru terkikik, menurutnya dirinya mungkin masih berada didalam lingkungan mansion, karena Sunmi Noona ada disini bersamanya, dan mereka berdua tengah bercanda seperti biasa. Sunmi Noona memang suka memainkan pipi Baekhyun muda.
Sunmi Noona, begitulah Baekhyun muda memanggilnya.
Dia adalah pengasuh Baekhyun muda terhitung 6 bulan dari waktu kejadian yang tengah kita saksikan ini. Baekhyun muda sungguh menyukainya, orangnya sungguh ramah dan tak pernah bosan bermain dengan Baekhyun, Sunmi Noona juga tak bosan menemani Baekhyun saat si Tuan Muda kecil yang jenius itu belajar.
Didalam tubuh batita yang berumur 3 tahun. Baekhyun memiliki pengetahuan dan nalar seperti anak 12 tahun. Sehingga bila kau mengobrol dengannya, Baekhyun tak terasa seperti seorang batita.
"Baekhyun ah, kau tahu kan bagaimana dunia sungguh kejam padaku?" Napas wanita berumur 20 tahun itu menerpa wajah Baekhyun saat dia berbicara, aroma tembakau, Sunmi Noona adalah pecandu rokok akut yang sering merokok diam- diam.
Baekhyun muda mendengarkan, dirinya telah bersama wanita ini selama 6 bulan. Cukup mengenalnya, dan dirinya juga telah mengetahui beberapa hal singkat dari profil wanita didepannya.
Dia bernama Lee Sunmi dan berumur 21 pada tahun 1995 ini, sebatang kara dan dibesarkan di panti asuhan yang bukan milik BB Grub, gadis malang yang pada saat berumur 19 harus keluar dari panti asuhan, dan di ajak sebuah kelompok kerja, dan ternyata itu adalah sindikat perdagangan manusia.
Baekhyun diberi tahu oleh salah satu Maid yang membacakan profil Sunmi kepadanya, bahwa gadis itu dijual ke Bar dan menjadi pelayan disana.
Pertemuan dengan Sunmi juga sungguh tak biasa. 6 bulan sebelum kejadian ini, gadis itu tertangkap saat mencoba untuk menyusup dan mencuri di Mansion Byun. Serta, alasan dari penyusupan dan pencurian itulah yang membuat Baekhyun dan yang lain menjadi terenyuh.
Wanita itu mengatakan, dirinya kelaparan.
Jadi, daripada menghukumnya, semuanya sepakat untuk memperkerjakannya.
Meski memiliki catatan pekerjaan yang gelap, namun itu tak membuat Sunmi menjadi seseorang yang harus dijauhi. Gadis itu sungguh periang dan giat bekerja. Cukup pintar hingga dapat menjadi teman berdiskusi yang menyenangkan bagi si kecil Tuan Muda Byun Baekhyun.
Namun tak ada yang tahu
Dibalik semua keramahan Sunmi. Gadis itu memiliki satu sifat buruk yang sudah mendarah mendaging. Sebenarnya cukup sederhana, namun bila terus tertumpuk dihati, akan menjadi sesuatu yang mengerikan.
Gadis itu mudah iri
Setiap harinya saat mengobrol, Baekhyun muda akan mendengarkan setiap keluhan tentang betapa tidak beruntungnya gadis itu. Dia terus dan terus mengeluhkan tentang kenyataan bahwa teman- temannya dulu memiliki segala hal yang tidak dimilikinya.
Dia mengeluhkan tentang teman- temannya dulu memiliki orang tua, sedangkan dirinya tidak. Itu masih dalam batas wajar.
Dirinya mengeluhkan tentang teman- temannya dulu selalu dapat membeli baju- baju baru, sedangkan dirinya selalu memakai pakaian bekas yang disumbangkan ke panti asuhan. Setidaknya hal ini masih dapat diterima.
Namun hal itu menjadi semakin aneh untuk didengarkan. Bahkan dia akan mengeluhkan tentang hal- hal sepele sekalipun. Seperti rambutnya tidak selembut milik Baekhyun, kenapa kulitnya tidak seputih Baekhyun, kenapa Baekhyun yang bahkan baru berumur 3 tahun harus lebih cantik daripada dia.
Awalnya Baekhyun muda mengira itu semua adalah pujian untuknya, dan karena Baekhyun memang sudah terlampau sering dipuji dan Demi Tuhan, Baekhyun bahkan tak tahu wajah manusia yang cantik itu seperti apa. Sehingga dirinya menanggapi itu dengan amat sangat biasa.
Baekhyun sungguh tak tahu.
Dirinya sungguh tak tahu, bahwa respon tak acuhnya pada semua pujian Sunmi itu telah menyakiti hati gadis itu terus menerus.
Sunmi merasa bahwa Baekhyun tak bersyukur. Sunmi merasa bahwa Baekhyun tak menghargai segala hal yang dimilikinya. Dan Sunmi merasa bahwa Baekhyun, TIDAK PANTAS memiliki semua ini.
Dirinya lebih pantas, dirinya lebih ingin, dirinya akan lebih menghargainya bila dirinya terlahir dari orang tua yang kaya, bahwa dirinya mempunyai ratusan baju indah dilemari, dirinya akan senang bilang mempunyai puluhan Maid yang menyayanginya.
Tak seperti Baekhyun yang selalu bersikap seakan- akan punya uang banyak itu bukanlah hal spesial, memiliki wajah cantik itu bukanlah hal spesial, memiliki rumah semegah ini dengan Maid yang terus memanjakannya bukanlah hal spesial.
"Sunmi Noona, ayo ke ruang makan, aku lapar." Baekhyun muda berkata lagi dengan polosnya.
Dirinya tak tahu bahwa mereka sudah tak berada di Mansion lagi. Dirinya tak tahu bahwa mereka sedang berada di dalam hutan dengan pohon- pohon rindang, membuat cahaya matahari jam 11 siang tak langsung mengenai mereka.
Dirinya tak tahu, bahwa Sunmi sudah menggenggam sebuah batang pohon yang cukup kuat sedari tadi. Sambil menatap Baekhyun dengan tatapan merendahkan.
"Baekhyun, tahukah kau? Bagaimana kerasnya kehidupan ini?. Oh.. bodohnya aku, tentu saja Tuan Muda Byun kita yang tersayang tidak akan tahu hal tersebut."
Baekhyun muda mendengarkan itu dalam diam. Pikirnya, mungkin pengasuhnya ini akan mengeluhkan tentang hidupnya lagi. Sudah terlalu sering.
Anak kecil umur 3 tahun ini mencoba berdiri. Dirinya mulai mengangkat tangan, meraba- raba udara disekitarnya. Berharap menjumpai bunga- bunga yang banyak ditanam pada taman luas di Mansionnya.
Baekhyun sungguh mungil saat itu. Terhitung hanya 89,0 cm. Baekhyun bahkan belum mencapai satu meter. Saat dirinya berdiri tegak, orang lain akan melihat bahwa tinggi Baekhyun bahkan hanya mencapai pinggang Sunmi.
"Baekhyun ah, kau tahu apa yang akan terjadi pada anak nakal di panti asuhan?"
Baekhyun muda pun menggeleng, untuk merespon pertanyaan itu.
"Mereka akan dihukum Baekhyun ah, anak- anak itu akan dikurung dalam ruangan, akan dibiarkan kelaparan supaya tak memiliki tenaga untuk melawan, dan bahkan beberapa akan dipukuli."
Baekhyun muda terdiam berpikir sebentar, "Sunmi Noona pernah dihukum seperti itu? Jadi Noona adalah anak nakal? Kenakalan apa yang sudah Sunmi Noona lakukan?" giliran Baekhyun yang bertanya.
Jenius atau tidak, Baekhyun tetaplah anak- anak. Dengan tingkat rasa penasaran yang besar, serta keinginan mengetahui segala hal- hal baru yang menarik.
Malangnya, semua pertanyaan Baekhyun tadi justru membuat gadis didepannya semakin murka. Tanpa Baekhyun ketahui, pandangan mata gadis didepannya berangsur- angsur menjadi gelap saat menatap Baekhyun. Terlihat bengis dan mengerikan.
"MEMANGNYA KAU TAHU APA HAH? ANAK LAIN LEBIH NAKAL TAPI KARENA TIDAK KETAHUAN MEREKA MENJADI LEPAS DARI HUKUMAN. BAHKAN ADA BEBERAPA YANG MENJADI KESAYANGAN IBU PANTI HANYA KARENA MEREKA MEMBANTU- BANTU SEDIKIT, MEREKA ITU PENJILAT."
Gadis itupun naik pitam pada seorang anak kecil berumur 3 tahun yang tak tahu apa-apa.
Genggaman nya pada sepotong kayu itu menguat. Dirinya sudah menahan ini cukup lama. Akhirnya dapat mengeluarkan semua unek- unek hatinya, kepada seseorang yang-
"Baekhyun ah, kau ingin tahu bagaimana perasaanku saat semua memperlakukanku tak adil?"
- yang menurutnya tepat.
"Apa maksudmu Noona?" Baekhyun sungguh tak mengerti.
Sekarang Baekhyun mulai merasa janggal. Dirinya mencium aroma tanah yang sungguh apek berdebu, mendengar cuit- cuitan burung yang tak pernah dia dengar sebelumnya, Baekhyun juga mendengar daun- daun pohon yang bergesek saat angin menerpanya.
Ini bukan lagi lingkungan Mansionnya.
"Sunmi Noona, kita sedang berada di mAARRKKK!!" tanya Baekhyun yang justru berakhir dengan teriakan kesakitan.
"N-Noona.. kenapa kau menaAkh" kembali, ucapan Baekhyun justru berakhir dengan erangan kesakitan, sebab Sunmi menarik rambut hitam Baekhyun dengan sungguh kencang. Baekhyun kecil merasa rambutnya tertarik sampai ke akar- akarnya.
"BANYAK TANYA! BANYAK BICARA! BANYAK TINGKAH!! AKU MUAK DENGAN MU!!!"
PLAKKK!
Tamparan itu sungguh kuat. Bahkan terlalu kuat. Amat sangat kuat untuk anak laki- laki yang baru berumur 3 tahun. Baekhyun bahkan terbanting hingga setengah meter. Dengan pipi bengkak memerah dan sudut bibir yang berdarah.
"Hiks.. S- Sakit... hiks.." Si kecil Baekhyun pun mulai menangis.
"HUAHAHHAA.. Bagaimana? Sakit bukan? Itulah yang kurasakan selama ini, dasar kau anak yang tak pernah bersyukur." Sunmi justru tertawa girang mendengar semua rintihan dan tangisan Baekhyun, tawanya menggema di hutan entah dimana ini.
"Itu masih bukan apa- apa Tu-an Mu-da Byun-Baek-Hyun." Sunmi mengucapkan panggilan lengkap Baekhyun dengan nada mengejek yang sungguh menyebalkan.
"Tarik napas Baekhyun ah, acara kita masih panjang."
Sunmi melepaskan high heelsnya. Lalu berjalan mendekati Baekhyun dengan sengaja menyeret batang kayu yang dibawanya itu ditanah. Menciptakan suara gesekan yang mencekam antara kayu dengan tanah tersebut, yang mana suara itu semakin lama, semakin mendekati Baekhyun.
Dengan ketakutan Baekhyun kecil merangkak menjauhi suara apapun yang mendekatinya tersebut. Dirinya merangkak dengan seluruh tenaganya, anak laki- laki berumur 3 tahun itu bahkan tak sadar bahwa tangan mungilnya telah dipenuhi oleh lecet- lecet yang mengeluarkan bau anyir khas darah hasil gesekan tangan lembut itu dengan batu kerikil tajam yang ada ditanah.
"Dasar cacat, kau tak akan bisa lari kemanapun."
Sunmi berdiri menjulang didepan Baekhyun yang merangkak ditanah.
"Kau... harus merasakan semua kesakitan yang kurasakan..."
BUGH!
"AARGGGGG!" Teriakan kesakitan itu menggema saat Sunmi memukul punggung Baekhyun dengan batang kayu dengan sungguh keras.
BUGH! BUGH!
"ITU YANG KURASAKAN SAAT IBU PANTI MEMUKUL KU!"
BUGH! BUGH!
"ITU YANG KURASAKAN SAAT MEREKA MENYIKSA KU LALU MENJUALKU!"
BUGH! BUGH!
"ITU YANG KURASAKAN SAAT HIDUNG BELANG ITU MEMUKULI KU SAMBIL MENIDURIKU!"
BUGH! BUGH! BUGH!
"RASAKAN!!!! AHAHAHAA RASAKAN! SAKIT BUKAN?! ITULAH YANG KURASAKAN SELAMA INI!!"
Sunmi berjongkok, menarik rambut Baekhyun dengan kuat hingga anak malang itu harus berdiri setelah badannya sudah tak terasa seperti badan lagi berkat pukulan tajam dan kuat dari batang kayu tadi.
PLAK!!
Tamparan panas dipipi kembali membuat badan ringkih Baekhyun terpelanting. Baekhyun rasakan kepalanya sudah pening. Batita malang itu berangsur- angsur kehilangan kesadaran.
Dan siksaan itu terus berlanjut menit demi menit yang terasa bagai selamanya bagi Baekhyun.
Seluruh pohon- pohon, seluruh semak- semak, seluruh batu kerikil, dan bahkan mungkin ada kelinci- kelinci kecil yang menonton tanpa dapat bersuara, adalah saksi bisu.
Saksi akan bagaimana tubuh Baekhyun diperlakukan bahkan lebih kejam daripada hewan sembelih dipasar. Baekhyun merasakan kesakitan sampai ditingkat dirinya bahkan tak dapat membedakan itu adalah sakit atau bukan.
Andaikan tak ada dua pria dewasa yang sedang berburu lewat di hutan pada hari itu. Andaikan dua pria itu tak menolongnya, menyelamatkan Baekhyun dari iblis berwujud manusia didepannya, mungkin...
...Tuan Muda Byun Baekhyun, telah menyusul orang tuanya disurga.
.
.
.
Chanyeol menatap pemandangan didepannya dengan terkesima. Baekhyun sungguh cantik, oh! bahkan kata cantik pun kurang untuk mengungkapkan keindahannya, bagaimana bisa ada seseorang yang tampak sungguh nyaman dipandang seperti ini.
Baekhyun telah jatuh tertidur dengan posisi berbaring di sofa coklat yang sungguh besar itu. Dari lutut hingga kakinya menjuntai lembut keluar dari bagian sofa. Napasnya yang terdengar teratur. Menandakan Baekhyun telah masuk kedalam fase tidur nyenyak.
"Sekarang aku harus bagaimana?" Pikir Chanyeol bingung.
"Apakah suaraku membaca buku sungguh membosankan hingga membuatnya tertidur?. Apakah itu artinya aku tidak lolos audisi?. Haishh.. bagaimana ini.." Ucap Chanyeol dengan suara berbisik sambil mengacak rambut merahnya dengan frustasi, terlalu bingung dengan kenyataan didepannya.
Oh Chanyeol yang malang.
Andaikan kau tahu seberapa besar penghargaan yang akan diberikan oleh Baekhyun atas apa yang telah kau lakukan.
Chanyeol kembali melirik Baekhyun yang sudah tertidur dengan damai. Lalu secara otomatis pria tinggi itu langsung tersenyum.
"Aku rasa menunggu malaikat ini bangun dari tidurnya juga tidak merugikanku sama sekali."
Chanyeol lanjut memandangnya.
Rambut Baekhyun menjuntai menutupi dahi dan matanya. Selama ini Chanyeol merasa bahwa keberadaan pria cantik dengan mata sipit lucu, hidung mungil, dan bibir ceri yang terlihat selalu lembab seakan minta untuk dicium hanya ada di manga yang sering dibacanya.
Namun semua itu langsung dihancurkan dengan keberadaan Byun Baekhyun yang terasa real dan unreal disaat yang sama. Pria mungil didepannya ini terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Chanyeol bahkan masih setengah tak percaya bahwa Baekhyun adalah manusia.
Chanyeol menghela napas.
"Hufhh.. pantas saja dia memberikan tes kesabaran diawal tadi, ternyata disinilah kesabaranku sungguh di uji."
"Ow.. kesabaran apa maksudmu Park Chanyeol?, kesabaran untuk menunggu si Tuan Muda cantik ini bangun, atau kesabaran untuk tidak menerkamnya"
"Diamlah kau bisikan hati sialan.." Chanyeol mengumpat dengan suara mendesis kepada dirinya sendiri dengan segala pemikiran konyolnya.
Chanyeol mengipasi dirinya sendiri dengan buku ditangannya.
"Kenapa tiba- tiba terasa panas disini?" Tanyanya entah pada siapa.
"engh.."
"SUARA APA ITU?!!." Batin Chanyeol berteriak panik.
"Oh tidak.." Chanyeol memandang horor pada satu- satunya orang yang berada diruangan ini bersamanya.
"engh.."
Mata kelereng Chanyeol terbelalak, menampilkan mata hitam kelam itu yang sekarang memandang Baekhyun dengan nanar.
Seketika rona merah merambati wajah Chanyeol hingga ke leher dan telinganya. Pria berambut merah itu merona.
"Ayolahh.. apakah belum cukup kau mengujiku saat kau tidur dalam diam. Sekarang kau mengujiku dengan mengeluarkan suara aneh- aneh itu." Chanyeol mengeluh kepada Baekhyun yang bahkan masih terjebak didalam mimpinya sendiri.
"Hiks.. s-sakit.. hiks.."
Wajah Chanyeol yang tadinya memerah, sekarang justru berangsur- angsur menjadi putih kembali. Bahkan menjadi lebih pucat dari biasanya.
"T-Tuan Byun, kau tak apa?" Dengan sigap Chanyeol langsung mendekati pria mungil itu. Memposisikan diri berjongkok didepan sofa tempat Baekhyun tidur, tepat didepan wajah si Tuan Byun yang -tidak masuk akal- cantik.
"Hiks.. sakitt.. siapapun.. aku.. mohon tolong aku.." Chanyeol pun dengan tangan bergetar canggung, mencoba selembut mungkin menyingkap poni yang menutupi setengah wajah Baekhyun.
"Dia masih tidur." Pikir Chanyeol saat melihat bagaimana mata Baekhyun tertutup rapat dan napasnya yang masih naik turun teratur.
"Kurasa dia punya kebiasaan berbicara saat tidur." Chanyeol menarik kesimpulan dengan sungguh sederhana.
Dan setelah menyadari posisinya, yang tengah berhadapan dengan Tuan Byun dengan sungguh dekat. Wajah mereka bahkan hanya berjarak setebal buku yang tadi Chanyeol baca. Rona merah itu kembali merambati wajah Chanyeol. Percayalah, pria setinggi 185cm ini, hanya penampilannya saja yang sungguh sangar, namun kenyataannya sungguh polos bila berhadapan dengan seseorang yang menurutnya 'menarik'. Chanyeol terlalu sibuk mencari uang selama ini, pengalaman romansanya sungguh nol besar.
Kelopak mata dari mata lebar Chanyeol mengedip dengan sungguh lambat dan jarang. Lebih sering terbuka untuk melahap pesona seseorang didepannya. Dari jarak sungguh dekat ini banyak hal yang Chanyeol dapatkan.
Seperti bagaimana manisnya eyeliner yang Baekhyun pakai. Seperti bagaimana segarnya aroma Stroberi menguar dari rambut Baekhyun. Dan seperti ekspresi mengerut lucu namun tak wajar dari wajah Baekhyun. Baekhyun terlihat seperti orang kesakitan.
"Tolong..." Chanyeol mengerjap, nah.. Baekhyun mulai mengigau lagi. Membuat yang lebih tinggi bertanya- tanya, apakah isi dari mimpi yang lebih pendek.
"Hueee.. tolong aku..." Chanyeol sedikit tersentak, suara rengekan dan tangisan Baekhyun menjadi lebih nyaring.
Disertai dengan gerakan badan Baekhyun yang gelisah, kedua tangan Baekhyun menyilang memeluk dirinya sendiri, kakinya menendang kesana kemari dengan liar.
"Hentikan.. hentikan.. menjauh dariku.. hentikan!!" Chanyeol pun dengan panik mulai membangunkan Baekhyun saat pria mungil itu histeris dalam tidurnya.
"Tuan! Tuan! Bangunlah!" Chanyeol menepuk pipi Baekhyun pelan.
Namun Baekhyun tak kunjung bangun bahkan setelah puluhan kali Chanyeol memanggilnya.
"Menjauh dariku!! menjauh!" Semakin histerisnya Baekhyun maka semakin paniklah Chanyeol.
Dengan tenaga yang cukup kuat Chanyeol memposisikan kedua telapak tangannya di kedua bahu Baekhyun, lalu mengguncang bahu sempit itu dengan sekali hentakan, "BANGUNLAH BAEKHYUN AH!"
Baekhyun pun langsung tersentak bangun, kembali ke dunia nyata dengan kepanikan dan kesakitan yang masih dapat dirasakannya, membuatnya bangkit dan menggapai apapun yang ada didepannya, persis seperti seorang korban kapal karam dilautan yang akan tenggelam lalu menarik apapun untuk digapai menyelamatkan hidupnya.
Dan Chanyeol dengan amat kebetulannya berada pada posisi yang sungguh dekat untuk digapai.
Semuanya terjadi bagai kilatan cahaya bagi Chanyeol. Tanpa dia ketahui kapan dimulainya, dua tangan lentik itu sudah meremat bagian depan bajunya. Menarik Chanyeol mendekat. Dengan refleks karena terkejut, Chanyeol justru memundurkan tubuhnya untuk menghindar.
Sungguh kuatnya rematan tangan Baekhyun pada baju Chanyeol membuat pria itu ikut tertarik bersama Chanyeol. Dan karena tiba- tiba harus menanggung beban berat Baekhyun yang tak dia duga, Chanyeol -yang diikuti Baekhyun- terjatuh dengan posisi telentang pada permadani dilantai perpustakaan ini, bersama Baekhyun yang jatuh diatas tubuhnya.
"Hahh... Hahh... hahh..." Napas keduanya beradu dengan cepat.
Kepala Baekhyun tertidur dengan nyaman berbantalkan dada Chanyeol yang sungguh liat. Napasnya berantakan setelah baru saja terbebas dari mimpi mengerikan tadi. Baekhyun masih ketakutan, pria itu bahkan tanpa sadar masih meremat bagian depan baju Chanyeol dengan amat sangat kuat.
Sedangkan Chanyeol, pemuda itu tidur terlentang sambil menatap langit- langit dengan napas yang memburu. Terlalu banyak adrenalin sekarang, keterkejutan itu membuatnya terengah. Chanyeol merentangkan tangannya dilantai, sambil mengatur napasnya, dan sambil coba mengabaikan makhluk lain yang sedang berada diatas tubuhnya.
"Kau beraroma seperti kebun jeruk." Baekhyun berucap dengan suara yang sungguh pelan, namun cukup terdengar untuk mereka berdua.
"Itu karena aku menyemprotkan banyak pengharum ruangan ke bajuku, pengharum ruangan beraroma jeruk. Aku tak memiliki banyak uang untuk membeli parfum badan." Chanyeol menjawab asal sesuai kenyataan.
Tanpa mengetahui bahwa jawaban itu sungguh membuat Baekhyun tertengun.
"Sungguh?" dan Baekhyun mulai tersenyum lemah, kepalanya mendongak kearah Chanyeol, dia bangkit dengan masih berada diatas tubuh Chanyeol dengan bertumpu pada tangannya yang meremat baju bagian depan Chanyeol dengan erat.
Chanyeol menatap wajah diatasnya itu dengan nanar. Astaga... apakah dia tadi dijatuhi malaikat.
"Sungguh." Jawab Chanyeol singkat.
Tanpa diduga olehnya, Baekhyun justru tertawa renyah. Tawanya membuat siapapun yang mendengar akan ikut tertawa bersamanya, dan begitu juga Chanyeol. Keduanya larut dalam tawa yang menenangkan setelah beberapa saat lalu mengalami hal yang sungguh mengejutkan.
Lalu Baekhyun dengan perlahan kembali merebahkan kepalanya diatas dada Chanyeol, dan menumpukan seluruh berat tubuhnya diatas pemuda Park itu. Tanpa tahu bahwa Chanyeol sudah sekarat sekarang menahan letupan detakan jantung didada.
"Kau memanggilku apa saat membangunkanku tadi?" Baekhyun kembali bersuara dengan nada yang sungguh rendah.
Chanyeol ragu sebentar, lalu menjawab, "Baekhyun ah."
Baekhyun terdiam cukup lama, membuat Chanyeol harus menunduk untuk memastikan apakah Tuan Muda kesayangan semua orang itu kembali tertidur.
"Kau memanggil namaku dengan nama yang sama dengan bagaimana wanita itu memanggil, namun kau membuat namaku terdengar dengan suasana yang berbeda. Kau memanggil namaku saat menolongku, bukan menyiksaku. Aku rasa itu cukup untukku. Terima kasih Chanyeol, terima kasih sudah membangunkanku." Chanyeol tak menyela sedikitpun, terlalu menikmati suara Baekhyun yang berbicara dengan nada yang sungguh rendah lagi menghayutkan.
Sedangkan Baekhyun tanpa tahu malu kembali menyamankan posisinya diatas tubuh Chanyeol. Pria mungil itu kembali menutup matanya.
"Tepuk.." Ujarnya pelan sambil menutup mata.
Sedangkan Chanyeol, meskipun bingung dengan situasi ini, tetap menuruti keinginan Baekhyun. Dengan perlahan tangan kanan Chanyeol mendarat di punggung Baekhyun, menepuk- nepuk punggung itu dengan perlahan, seakan tengah menidurkan bayi.
"Aroma jeruk dan bukan aroma tanah dihutan, panggilan pertolongan bukan cemoohan, tepukan pelan bukan pukulan. Itu sudah lebih dari cukup. Sekarang aku percaya bahwa ini nyata dan aku telah bangun dari mimpi buruk itu. Bahwa sekarang semuanya baik- baik saja, wanita itu tak ada disini, dia sekarang sedang membusuk di penjara." Suara Baekhyun sungguh rendah, seperti bisikan namun juga seperti senandung merdu. Nada suaranya terdengar lelah.
Chanyeol bahkan sampai tak tega untuk bertanya siapakah wanita yang Baekhyun maksud.
Baekhyun makin meringkuk didada Chanyeol.
"Chanyeol, bacakan sesuatu" pinta Baekhyun.
Chanyeol terdiam sebentar. Merasa bahwa situasi ini sungguh mirip dengan bagian novel yang dirinya bacakan kepada Baekhyun sebelum pemuda itu tertidur tadi. Cukup mudah bagi Chanyeol yang terbiasa menghapal banyak lagu untuk mengingat puisi singkat yang tadi dibacanya.
Sambil memberikan tepukan- tepukan menenangkan dipunggung Baekhyun. Chanyeol mulai membacakan puisi "Gerobak-Dorong Merah" karya William Carlos Williams.
begitu banyak yang bergantung
pada
gerobak- dorong
merah
berlapis air
hujan
di samping ayam- ayam
putih.
Dengan mata yang semakin memberat, Baekhyun berusaha untuk berucap.
"Park Chanyeol, kau lolos audisi dariku." Sebelum kegelapan menjemputnya menuju tidur yang nyenyak tanpa mimpi.
Meninggalkan Chanyeol yang terpaku menatap langit- langit diatas mereka. Tanpa menyadari bahwa dirinya adalah orang pertama yang mendengar suara tawa Tuan Muda Byun Baekhyun lagi setelah sekian lama. Tanpa menyadari bahwa dirinya adalah orang pertama yang mendengar nada suara Baekhyun yang telah melunturkan kesopanan disetiap patah katanya, dan Chanyeol juga tak menyadari bahwa segala suasana ini membuatnya ikut terhanyut dalam tidur yang damai.
Dengan tangan yang semula menepuk punggung Baekhyun pelan, berubah menjadi mendekapnya.
Itulah yang terjadi sebelum akhirnya semua orang menyaksikan kedua orang ini beberapa menit kemudian.
.
.
.
Musim Semi 2011 di Mansion Byun
Semuanya terdiam dikoridor bagian sayap kiri Mansion Byun itu. Pintu perpustakaan kembali tertutup. Seolah semua orang memikirkan hal yang sama dan klop satu sama lain, akhirnya mereka semua membiarkan Tuan Muda Byun beristirahat bersama pemuda bernama Park Chanyeol itu.
Entah apa yang sudah terjadi diantara keduanya, biarkanlah menjadi kenangan diantara mereka berdua saja. Tak ada satupun dari mereka yang merasa berhak tahu hal itu.
Mereka terlalu menghormati privasi Tuan Muda mereka.
"Wow... Itu bukanlah pemandangan yang biasa aku lihat saat kesini." Suara yang sungguh ramah itu mengejutkan semua orang, membuat seluruh mata menyorot pada seorang pria berkemeja putih dan sedang berdiri santai dengan tangan yang dimasukkan pada celana kain hitamnya. Jangan lupakan dua kancing atas kemeja yang dibiarkan terbuka. Sungguh penampilan yang modis dan... seksi.
Semua orang langsung terkekeh kecil saat menyadari siapakah pria itu.
"Jongdae ahjussi!" dan pastinya, si cerewet Jimin yang lebih dulu bersuara.
"Hallo~ Hallo~ Sudah kubilang kan, panggil aku Chen Ahjussi, lebih keren" respon pria bernama Jongdae itu sambil melambai kepada semua orang yang berada disitu dengan akrab nan santai.
"Sejak kapan Chen Ahjussi ada disini?" Tanya Jimin dengan sungguh akrab.
"Humm.. coba aku pikir- pikir.. " Suara Chen sungguh jernih dan nada suaranya sungguh menyenangkan. Beberapa Maid bahkan menatapnya dengan memuja dan merona.
Dan dengan sialannya Chen malah mengedipkan mata, menggoda Maid yang sedang menatapnya penuh pujaan itu, menciptakan pekikan tertahan.
Lalu dengan santainya berjalan menuju Xiumin yang sedari tadi membeku dan tak dapat bicara. Matanya terlalu terpaku pada Chen yang menatap lurus padanya. Lalu pria Kim yang tahun ini memasuki umur 40 tahun itu dengan santai melingkarkan tangannya di bahu Xiumin dengan akrab.
"Kau tahu Jimin, aku sudah berada disini sejak lamaaaa sekali. Namun saat aku baru saja melewati gerbang depan, aku melihat seekor kucing yang berjalan dengan tergesa- gesa." Ucapannya memang tertuju pada Jimin, namun matanya justru terfokus pada Xiumin.
Membuat pria manis berwajah kucing itu memucat.
Beberapa Maid menundukkan kepala sambil menyembunyikan tawa. Dan satu- persatu memilih untuk pergi dari situ, melanjutkan pekerjaan mereka, sekaligus memberikan privasi pada tamu- tamu kesayangan Tuan Byun. Sepertinya musim semi tahun ini penuh dengan bunga cinta yang bermekaran, pikir mereka.
"Jadi Jimin, aku ikuti saja kucing lucu itu hingga ke depan pintu Mansion. Baru saja aku ingin memanggilnya, si adik kucing mendahuluiku. Dan yang kulihat selanjutnya adalah perkelahian dua kucing yang sungguh lucu, mengapa kakak kucing itu memarahi adik kucing tentang bolos sekolah, sedangkan ini adalah hari Minggu. Apa yang keduanya khawatirkan hingga melupakan nama hari."
Mendengar itu membuat Xiumin menutup mulutnya rapat. Sedangkan Jimin menepuk dahinya, merasa bodoh sekali. Yah.. walaupun gadis Shin itu memang tetap bolos les vocalnya, namun bukan bolos sekolah.
"Tapi tak apa, aku suka saat melihat bagaimana sayang dan khawatirnya kakak kucing itu kepada adik kucing. Aku bangga padanya." Chen menatap Xiumin dengan tatapan yang sungguh dalam. Lalu Xiumin balik menatap mata Chen.
Jimin menggigit bibirnya gemas melihat pemandangan didepannya, dirinya sudah terbiasa menjadi obat nyamuk bila Chen ahjussi bertemu dengan Minseok Oppanya.
Xiumin memutar bola matanya. Cukup sudah segala cerita tentang kucing- kucing ini, yang dirinya tahu pasti Chen tengah menyinggung tentang diri Xiumin sendiri. Dasar tua bangka playboy sialan, rutuk Xiumin dalam hati.
Xiumin menghempaskan tangan Chen dengan kasar. Lalu melewatinya begitu saja seakan tak ada orang disitu. Dirinya sedang tak ingin bertemu dengan pria berbibir keriting itu sekarang. Apalagi berbicara padanya.
"Jimin, bukankah tadi kita berencana untuk makan malam. Ayo.."
Xiumin berjalan menuju bagian kanan Mansion, meninggalkan adik sepupunya bersama -
"Kenapa Oppaku dingin padamu Ahjussi?. Tak seperti biasanya." Tanya Jimin penasaran.
"Oh... itu karena dia menyatakan perasaan padaku seminggu yang lalu."
Mata Jimin membelalak, "The What?! , lalu?"
Chen tersenyum menatap Xiumin yang sudah berjalan jauh didepan mereka, namun matanya menyorotkan kesedihan.
"Dan si tua bangka dan bodoh Kim Jongdae justru menolaknya."
- cinta tak berbalasnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
AN :
Aku tau kok sugar~
Aku udah kaya penulis bipolar yang awalnya bikin penyiksaan kejam, lalu masuk ke adegan Chanbaek yang semanis gula, lalu malah di epilog in sama cerita bittersweetnya Chenmin.
Ku juga bingung kenapa ku seperti ini. ahahaha.
Mungkin mulai Chapter depan, alur waktu kita bakalan cepat banget loncat- loncat kedepannya. Gak lagi merangkak kaya sekarang. Demi Tuhan yang baik, kita perlu sebulan cuma untuk menyelesaikan satu hari audisi kekekeke.
Selamat datang Chenie~~ di FF abal- abal ini. Ku sudah menyiapkan peran yang besar untuk mu. Huahahaha /ketawa jahat ala sunmi.
Ngomong- ngomong, ku minta maaf sebesar besarnya kepada seluruh Fansnya Sunmi karena memakai nama dia sebagai pemeran antagonis. Ku sungguh gak ada maksud jahat, ku bahkan suka banget sama dia. Maafkan aku ya, ku cuma pinjam nama, sedangkan karakter mereka murni ciptaan otak ku yang rada gak waras ini.
Thanks A LOT to :
Bubbleclay, chanyeoru, ChanBaek09, CHANBAEQ, danactebh, Cheonsa528, BabeBaekhyun, dan semua Guest
Terima Kasih juga kepada semuanya yang sudah Read, Favorite, dan Follow cerita ini. Guys, you know I love all of you right?
Semoga kalian semua Sehat dan Bahagia selalu. Semoga hari- hari terakhir puasanya lancar bagi yang menjalankan. Semoga kita bisa bertemu lagi di Chapter selanjutnya. Lets Love Eri!!/Bow
