Pencurian di Ginza sudah selesai dan hasilnya sesuai dengan perkiraan Elizabeth, The Purple Nail bukanlah Pandora.
"Sia – sia kita membuat aksi yang begitu spektakuler. Hasilnya tidaklah seperti yang kita harapkan." Ujar Elizabeth sambil memasak makan malam untuk Kaito.
"Ehhh~ Tapi tetap menyenangkan bukan? Nee-chan sekarang menjadi lebih terkenal karena sosok Phantom Lady yang sangat berbeda." Jawab Kaito yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa.
"Tentu saja harus berbeda. Aku tidak ingin memakai perban di wajahku. Itu akan sangat menyusahkan." Balas Elizabeth.
"Tapi apa harus berganti pakaian sesering itu?" Tanya Kaito.
"Kau ingin aku bertingkah seperti seorang magician hebat bukan? Aku sudah melakukannya." Jawab Elizabeth Sambil memindahkan masakan yang sudah ia buat ke piring. Lalu ia meletakkan piring tersebut ke atas meja. "Makan malammu sudah siap." Lanjutnya.
Kaito langsung bangun dan segera beranjak menuju ke meja makan.
"Ne, nee-chan…" Panggil Kaito.
"Hmm?"
"Katamu kau akan pergi besok. Memangnya kau akan kemana?" Tanya Kaito.
Elizabeth hanya tersenyum kecil.
"Kau akan lihat besok."
Secret
.
KaiShin Story (Kuroba Kaito x Kudou Shinichi [Kuroba Kaito x Edogawa Conan])
.
Author : Elizabeth Lee
.
Warning : typo, OOC, boyxboy, OC!Elizabeth Anne Michaelis, demon!Elizabeth Anne Michaelis
.
Based on Detective Conan & Magic Kaitou 1412 Anime & Manga
.
Crossover : Detective Conan X Magic Kaitou 1412 X Kuroshitsuji (Black Butler)
.
Detective Conan & Magic Kaitou 1412 © AOYAMA Gosho
.
If you don't like, just read, don't bash
.
Don't You dare to copy this fanfiction WITHOUT my permission
Suasana di kelas 2 – B masih seperti biasanya. Ramai. Tapi masih belum terlalu ramai karena Kaito yang belum sampai juga di sekolah. Sampai wali kelas mereka sudah masuk ke dalam kelas, Kaito belum juga tiba di sekolah.
"Baiklah, sebelum aku mengabsen kalian, aku akan memperkenalkan dengan teman baru kalian." Ujar Konno-sensei yang disambut dengan teriakan dari penghuni kelas 2 – B.
Konno-sensei langsung menghadap ke arah pintu kelas bagian depan.
"Edogawa-kun, kau bisa masuk sekarang." Ujar Konno-sensei lagi yang kemudian masuklah seorang gadis ke dalam kelas.
"Woah~ perempuan."
"Beruntung sekali kelas kita."
"Lumayan juga…"
"Apanya yang lumayan, baka!"
"Baiklah tenang semuanya. Edogawa-kun, silahkan perkenalkan dirimu." Ujar Konno-sensei.
Gadis tersebut langsung tersenyum dengan lebar.
"I'm Elizabeth Anne Michaelis. Magician extraordinary. It's really nice to meet you all. Please, take care of me." Ujar gadis tersebut dengan menggunakan bahasa inggris. Yang tentu saja membuat beberapa murid kebingungan.
"Ah, bukan orang Jepang ternyata."
"Kita mendapatkan siswi dari luar negeri."
"Sama seperti Hakuba-kun."
"Sensei, kenapa sensei memanggilnya Edogawa-kun jika namanya saja kami tidak bisa mengingatnya?"
"Ne sensei…"
"Kalian bisa memanggilku Edogawa. Edogawa Yami." Ujar gadis tadi dengan bahasa jepang yang membuat murid – murid langsung terdiam.
"Y-Yami?"
"Yang benar saja?"
"Edogawa-san, kau sedang bercanda ya?"
"Darkness." Ujar Hakuba mengartikan nama dari Edogawa Yami.
"Tidak semua kegelapan memiliki arti yang menyeramkan." Ujar Elizabeth yang dengan tiba – tiba kelas 2 – B langsung diselimuti oleh kelopak mawar merah yang berjatuhan. Entah darimana datangnya. Disambut dengan gumaman kagum dari murid – murid kelas 2 – B.
Kecuali Koizumi Akako.
"Tapi kalian bisa mengartikan namaku sebagai kegelapan yang mencekam jika kalian mau." Ujar Elizabeth lagi yang kemudian semua kelopak mawar berubah menjadi hitam pekat. Membuat beberapa siswa berteriak ketakutan.
"Eh, jadi kita kedatangan seorang pesulap lainnya ya." Ujar Konno-sensei membuat suasana kelas tidak menjadi terlalu canggung. "Tapi kuharap Edogawa-kun tidak membuat kekacauan seperti yang dilakukan oleh Kuroba-kun ya…" Lanjut Konno-sensei membuat seisi kelas tertawa.
"Hadir!" Teriak Kaito tiba – tiba sambil membuka pintu kelas bagian depan. Membuat seisi tertawa makin keras.
"Kuroba-kun, darimana saja kau?" Tanya Konno-sensei. Trouble maker yang satu ini memang sangat sulit diatur.
"Gomen'nasai! Aku kesiangan, hehe…" Ujar Kaito sambil menggaruk belakang lehernya. Ini pertama kalinya ia kesiangan. Sehingga ia agak malu. Tapi kemudian, rasa malunya berubah menjadi terkejut saat melihat gadis yang berdiri di sebelah Konno-sensei.
"Nee-chan?! Kenapa kau ada disini?" Tanya Kaito sambil dengan tergesa – gesa menghampiri Elizabeth.
"Mhhh… Surprise?" Jawab Elizabeth dengan ekspresi wajah biasa.
"Nee-chan~ yang benar saja. Aku mencarimu karena kau tidak ada dimanapun." Ujar Kaito sambil memegang kedua bahu Elizabeth supaya gadis itu menatapnya.
"Oi! Oi! Aku 'kan sudah bilang kalau aku akan pergi. Kenapa kau mencariku?" Ujar Elizabeth yang sekarang sudah mulai sebal.
"Tapi kau tidak bilang kapan kau akan pergi. Ponselmu juga mati. Aku jadi tidak bisa menghubungimu. Aku sampai harus bertanya pada Conan." Jawab Kaito.
"Baka!" Balas Elizabeth sambil menyentil dahi Kaito.
"Kaito, kau mengenal Yami-chan?" Tanya Aoko tiba – tiba.
"Yami…chan?" Tanya Kaito dan Elizabeth bersamaan.
"Eh? Kau berbicara padanya tapi kau tidak mengetahui namanya?" Tanya salah satu siswa.
"Chottomatte! Kenapa dia memanggiku Yami mmhhhhhh…" Kata – kata Elizabeth langsung terputus karena Kaito yang menutup mulutnya.
"Ahhh… Aku mengenalnya dengan nama Elizabeth. Hehe…" Ujar Kaito.
"Ne sensei, dimana ne– ah, maksudku dimana Yami-san harus duduk?" Tanya Kaito pada Konno-sensei.
"Edogawa-kun bisa duduk di belakangmu." Jawab Konno-sensei.
"Arigatō! Ayo nee-chan, aku akan mengantarkanmu." Kata Kaito sambil melepaskan tangannya dan kemudian mendorong Elizabeth menuju kursinya.
"Baiklah, kita mulai pelajaran kita. Buka buku kalian halaman 130."
Bel makan siang sudah berbunyi dan semua murid langsung memasukkan buku mereka ke dalam laci, bersiap untuk makan siang. Kecuali Kaito.
Pria itu langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Elizabeth.
"Nee-chan, aku benar – benar butuh penjelasan sekarang." Ujar Kaito.
Sepanjang hari yang Kaito lakukan adalah berusaha meminta penjelasan dari Elizabeth. Tapi tentu saja, Elizabeth tidak akan menjawabnya karena masih jam pelajaran.
"Hey, aku juga butuh kesibukan selain menunggu di rumah." Ujar Elizabeth.
"Tapi kau 'kan bisa membicarakan hal ini terlebih dahulu."
"Kau bilang kau suka kejutan."
Dan Kaito tidak bisa menjawab lagi. Wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya ini memang tidak akan pernah kalah dalam adu argument. Dan kata – kata Elizabeth ada benarnya juga. Ia sangat menyukai kejutan.
Kaito hanya bisa menghelas nafas berat.
"Baiklah, baiklah, aku menyerah." Ujarnya. Yang membuat Elizabeth langsung tersenyum.
"Okay, kita makan siang sekarang?" Tanya Elizabeth sambil beranjak dari kursinya.
Kaito hanya menghela nafas lagi dan ikut beranjak dari kursinya. Elizabeth langsung mendekatinya dan merangkul lengan kanan pria yang sudah ia anggap seperti adiknya.
"Jangan cemberut begitu. Aku akan membuatkan chocolate cake kesukaanmu nanti sebagai dessert." Ujar Elizabeth. Karena Kaito yang merajuk seharian itu sangat menyusahkan.
"Aku ingin lemon pie untuk nanti malam." Balas Kaito.
"Baiklah, lemon pie untuk Kai-chan dan Shin-chan akan siap setelah makan malam." Ujar Elizabeth yang kemudian tersenyum hingga matanya terlihat tertutup.
Saat Kaito dan Elizabeth berjalan keluar kelas, tiba – tiba Elizabeth langsung berhenti. Kaito yang merasakan Elizabeth berhenti berjalan juga ikut berhenti.
"Nee-chan?" Tanya Kaito sambil menatap Elizabeth.
Ekspresi wajah gadis itu tidak terbaca. Elizabeth juga tidak menatapnya. Tapi menatap ke arah Koizumi Akako. Tapi tak berapa lama, Elizabeth kembali tersenyum dan menghadap ke arah Kaito.
"Daijōbu? Ada masalah dengan Akako?" Tanya Kaito.
"Bukankah menyenangkan menghentikan mantra – mantra jahat yang tertuju ke arahmu?" Tanya Elizabeth balik. Tapi saat mendengar kata – kata Elizabeth, Kaito langsung membulatkan matanya.
"Nee-chan–"
"Baiklah, ayo kita pergi makan siang." Potong Elizabeth sambil menarik tangan Kaito dan kembali berjalan.
Elizabeth tidak akan membuat Kaito khawatir hanya karena mantra bodoh yang tertuju ke arahnya.
.
.
.
To Be Continue
