Disclaimer : Inuyasha belongs to Rumiko Takahashi
Pairing : SessInu (Inucest)
Rated : T
Genre : Fiction, Romance, Supranatural
Warning : Yaoi, M-preg, OOC, Gaje, alur cerita maju mundur, typo(s), Boys love Boys, Incest.
Don't like don't read!!!
Apa Keinginanmu
Inuyasha diam tak tahu harus bicara apa, dengan pernyataan Sesshomaru. Dia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.
Kakaknya, mengklaim kepemilikan atas dirinya.
Dirinya yang tak pernah dianggap eksistensinya di dunia ini. Oleh kakaknya sendiri.
Jadi apakah ini lelucon?! Inuyasha tak tahu.
Dan kecupan didahinya, Itu juga apa maksudnya?
Inuyasha kini menyesal. Kenapa tadi dirinya menyusul Sesshomaru. Menarik nafas..., lalu sekuat tenaga ia mendorong Sesshomaru, hingga pelukannya terlepas.
Inuyasha berbalik dan berjalan pergi, tanpa mengatakan apapun.
Sesshomaru yang melihat Inuyasha pergi, mengikutinya dari belakang. Ada sesuatu yang mengganggunya, dan tentu saja ada sesuatu juga yang ingin diluruskan diantara mereka.
-0-0-0-0-0-
.
Inuyasha sudah berjalan jauh ke dalam hutan. Jika biasanya ia cenderung menjauhi hutan, maka sekarang ia tak perduli.
Sedangkan Sesshomaru masih terus mengikutinya dari belakang tanpa suara.
Sesshomaru berhenti, ketika Inuyasha juga berhenti didepannya.
Inuyasha mendongak ke langit, ketika netra madunya menemukan ribuan bintang yang menghiasi langit malam.
"Tinggalkan aku sendiri! bisakan?" Inuyasha meminta sesshomaru pergi. Dirinya takut tak bisa menahan diri.
"Tidak sebelum kita bicara!" Namun jelas Sesshomaru tak akan menurutinya.
"Aku tak ingat ada hal yang harus kita bicarakan!" Inuyasha telah mengalihkan perhatiannya kepada Sesshomaru.
"Otouto...! ikutlah dengan ku! aku ingin tinggal denganmu." Ujar Sesshomaru, tanpa keraguan.
"Kau... apa yang baru saja kau katakan? Dan kenapa harus??" Inuyasha dengan cepat memutar tubuhnya, menghadap Sesshomaru. Dan berdesis padanya.
Wajahnya penuh dengan emosi namun anehnya Sesshomaru tidak tahu emosi macam apa itu. Sesshomaru sudah memperkirakan bahwa Inuyasha mungkin akan menolak ajakannya karena harga dirinya. lalu seperti biasa, adiknya akan menantangnya bertarung.
Sesshomaru tentu saja akan meladeninya, lalu melumpuhkannya. Menunjukkan kekuatan dan kekuasaannya yang sesungguhnya pada Inuyasha. Dan memaksa untuk mendominasi sang adik.
Setelah itu Sesshomaru akan membawa adiknya ke Istana Barat. Tidak perduli dengan cara baik-baik atau secara paksa. Dan setelahnya tak akan membiarkan sang adik pergi dari sisinya. Kalau perlu Sesshomaru akan merantai tangan dan kakinya, hingga Inuyasha tak bisa kabur darinya. Itu rencana awalnya.
Tapi sekarang, Sesshomaru mulai ragu dengan rencananya tersebut.
"Tak ada tempat yang lebih pantas untukmu di dunia ini, selain disisiku,Otouto."
"DIAM..! kau... berhenti bicara omong kosong..." kemarahan Inuyasha meledak seketika.
Inuyasha menatap Sesshomaru dengan nyalang.
"SUDAH KU KATAKAN TETAPLAH JADI SAUDARAKU YANG BAJINGAN!! brengsek!! apa sebenarnya maumu?" Inuyasha lantas berteriak dan mengumpat.
"Apa kau sengaja?..., sengaja ingin memanipulasiku?! kau tidak mampu merebut satu-satunya warisan yang ditinggalkan oleh ayah untukku. Karena itu sekarang kau mencoba menipuku..., lalu setelah itu apa? Kau akan membunuhku. Ia kan! JAWAB KEPARAT! JAWAB..!" Inuyasha kali menuding Sesshomaru dengan telunjuknya, dan menuduhnya.
Sesshomaru cukup terkejut dengan tuduhan Inuyasha padanya. Sesshomaru juga agaknya tersinggung. Bagaimanapun ia adalah DaiYoukai yang terhormat. Mendapat tuduhan seperti itu, jelas sangat menginjak egonya.
Apakah adik setengah darahnya ini mengira bahwa Sesshomaru tak mampu mengalahkan dirinya dengan mudah. Hingga adiknya sampai menuduhnya melakukan hal yang tak bermartabat seperti memanipulasi adiknya. Inuyasha tak tahu saja kekuatan sejati dari Sesshomaru. Kalau dia mau, dia sanggup melenyapkan Inuyasha semudah membalik telapak tangan. Tapi dirinya tak melakukannya, semata-mata karena rasa kasih dan sayangnya pada Inuyasha selama ini.
Pada hal Sesshomaru telah menelan mentah-mentah harga dirinya. Hanya untuk meminta adiknya, tinggal bersamanya. Apakah adiknya begitu bebal hanya untuk mengerti keinginan tulus Sesshomaru?
Bukankah ini yang adiknya mau? Diterima dan diakui keluarga olehnya?!? Sesshomaru saat ini tengah memberikan kesempatan itu.
Tapi kenapa? apa yang salah?
Di sisi lain Inuyasha bisa melihat ketidak-sukaan Sesshomaru dari tuduhannya. Dan bisa dengan jelas dirinya melihat ketulusan atau kejujuran pada diri kakaknya.
Tapi, bukan ini yang dirinya mau.
Bukan sebagai adik.
Bukan sebagai keluarga.
Dirinya bahkan tak berharap Sesshomaru mau menganggapnya adik.
Dia mencintainya, Inuyasha mencintai Sesshomaru.
Menggilainya!
Memujanya!
Dan jika memang harus tinggal disisinya, Inuyasha hanya ingin memiliki Sesshomaru sebagai yang dicintainya bukan yang lain.
.
-0-0-0-0-0-
.
Sesshomaru sungguh tak mengerti dengan emosi Inuyasha yang sekarang. Jelas dia telah menolaknya. Tapi masalahnya penolakan Inuyasha bukan karena harga dirinya tapi ada hal lain. Terlihat jelas karena Inuyasha begitu tertekan dan frutasi.
Dan apa itu??
Sesshomaru merasa tenggorokannya tercekat. Ketika aliran air mata mengalir di pipi adiknya. Seolah membentuk aliran sungai kecil.
Inuyasha menangis pilu tanpa isakkan. Menangisi kesakitan jiwanya yang dengan tak tahu malunya. Berani mencintai dan mengharapkan balasan cinta yang sama dari sang kakak.
Inuyasha terus meracau tak jelas, ia menarik rambutnya gusar. Entah kapan air matanya telah menampakkan wujud.
"Inuyasha!" Sesshomaru mencoba memanggil namanya. Sesshomaru tak mengerti akan alasan air mata adiknya.
Setinggi itu kah harga dirinya? Apakah airmata adalah harga yang pantas dengan ego sang Inu-Hanyou?
Tapi kemudian sesuatu menghantam kesadaran Sesshomaru. Ia kembali memperhatikan sang adik untuk memastikan sesuatu. Inuyasha masih mondar-mandir di depannya sambil terus meracau.
Mata Sesshomaru terbelalak. Positif. Ini bukan penolakan atau harga diri.
Itu bukan penolakkan.
Tapi itu sebuah ketakutan.
Tapi pertanyaannya adalah, ketakutan karena apa?
Meneguhkan diri, Sesshomaru mencoba menjangkau Inuyasha.
"Inuyasha..!"
"BERHENTI! BERHENTI DI TEMPATMU, KEPARAT!"
"Otouto..!" Tak menyerah, Sesshomaru masih terus mendekat.
Mata Inuyasha membelalak, dan air matanya semakin deras. Panggilan Sesshomaru padanya terdengar sangat mengerikan bagi Inuyasha. Dia tak mau jadi adik Sesshomaru.Tidakkah Sesshomaru menyadari hal itu.
"otouto, tidak jangan panggil aku dengan kata mengerikan itu"
"TIDAK ! JANGAN PANGGIL AKU DENGAN KATA MENGERIKAN ITU!" Inuyasha semakin histeris.
Melihat Inuyasha yang semakin histeris, membuat Sesshomaru tak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya.
"Ku mohon! jangan mengatakan kata mengerikan itu lagi..., hiks...hiks..jangan katakan lagi! aku tak mau mendengarnya." Inuyasha masih terus meracau meski tak histeris seperti tadi. Ia jatuh bersimpuh di tanah, menangis terisak-isak.
"ibu,ku mohon ! bawah aku Bu."
Sesshomaru berhasil mendekati Inuyasha, dan tanpa ragu menarik Inuyasha kepelukannya. Tapi Inuyasha tetaplah Inuyasha, yang keras kepala. Dia memberontak untuk lepas darinya.
Ia memaki, meracau dan mencakar Sesshomaru. Sesshomaru harus menggunakan moko-mokonya untuk melilit tubuh Inuyasha, tapi diusahakanya tak menyakitinya agar Inuyasha berhenti berontak.
"Maaf !"
Seperti keajaiban, Inuyasha berhenti.
Hanya satu kalimat, dan Inuyasha berhenti. Kedua tangannya yang tadi terus menyerang Sesshomaru, jatuh lemas seketika. Air matanya memang belum berhenti, dan tatapannya seperti hilang fokus, begitupun nafasnya yang masih tersengal-sengal. Sesekali isakkan juga masih lolos dari bibirnya.
Sesshomaru akhirnya mengerti. Inuyasha sama sekali tak menolaknya. Tapi Inuyasha menginginkannya, ingin tinggal bersamanya, tapi dirinya ragu.
Ya' Inuyasha takut, kalau Sesshomaru hanya mempermainkannya. Inuyasha takut Sesshomaru membohonginya, dan tidak sungguh-sungguh menginginkan Inuyasha.
Inuyasha takut percaya padanya, hingga adik setengah darahnya mungkin berpikir, bahwa apapun yang dikatakan oleh dirinya, hanyalah bualan semata.
"Sesak!" Inuyasha mencoba memberitahu Sesshomaru, di sela-sela isakkannya, kalau ia merasa sesak karena Sesshomaru memeluknya cukup erat. Meski dengan suara serak mencicit.
Sesshomaru yang mendengarnya,segera melonggarkan pelukannya. Dan melepaskan lilitan moko-mokonya. Tapi masih memeluk dirinya.
_-0-0-0-0-0-_
Jaken berbenah di dalam gubuk Inuyasha, ia membereskan sisa makan malam tuannya.
Tapi makanan yang sudah susah-susah ia siapkan, malah tak habis.
Ya, benar sekali! Jakenlah yang menghidangkan makan malam untuk duo Inu-bersaudara tersebut.
"Tapi di mana tuan Sesshomaru ya? ini sudah hampir pagi." Monolognya sendiri. Jaken, bingung ke mana perginya junjungannya itu.
_-0-0-0-0-0-_
Suasana yang tadi sarat akan emosi, kini menjadi lebih kondusif.
Satu jam berlalu, tapi baik Sesshomaru maupun Inuyasha masih betah dengan posisi mereka yang saling memeluk. tapi bedanya, sekarang Inuyasha duduk dipangkuan kakaknya seperti anak kecil.
Inuyasha sudah tak menangis lagi. Ia duduk dengan tenang di pangkuan Sesshomaru, kepalanya bersandar di pundak Sesshomaru, Dan salah satu tangannya bermain dengan memilin-milin tepian kimono kakaknya. Sesshomaru sendiri sudah melepas Armor-nya.
Sedangkan Sesshomaru, wajah datarnya sudah kembali sedia kala.
Beberapa jam lagi matahari akan menampakkan diri, tapi sepertinya dua insan itu, masih enggan memisahkan diri.
"Inuyasha!" panggil sesshomaru.
"hmnn..!" Inuyasha hanya menjawab asal dengan gumamam tak jelas.
"Inuyasha!" kembali namanya dipanggil. Kali ini Inuyasha mendongak untuk melihat wajah kakaknya. Tangan yang tadi memeluk sang adik protektiv, kini terangkat dan membelai pipi Inuyasha. Membuat sang Hanyou memejamkan mata, menikmati belaian sang kakak.
Inuyasha membuka matanya.
Ketika belaian itu, kini berpindah kerambutnya.
"Apa kau punya keinginan, yang ingin kau kabulkan?"
"Maksudmu?"
"Kalau ada katakan saja!"
"a-aku, ada keinginan! Tentu saja, ada!" seru inuyasha.
"katakan..!"
"a-apa?"
"katakan, keinginanmu!" Sesshomaru sedikit memaksa.
Inuyasha menjadi bimbang, haruskah ia mengungkapkannya.
Kembali tangan sesshomaru mengapit dagu inuyasha, dan mengangkatnya. Hingga tatapan mereka bertemu.
Inuyasha menjadi gugup seketika, masih sangat asing dengan perlakuan Sesshomaru yang sekarang.
Dia menelan ludahnya, dan mulai berkata...;
"A-aku ingin..., tidur denganmu! Inuyasha kembali menunduk, malu.
"Hmnnn...!" Respon Sesshomaru.
"Aku ingin dipeluk olehmu, saat tidur.
"lalu..."
"Aku ingin, saat bangun kau orang pertama yang kulihat! Kali ini Inuyasha memalingkan wajahnya ke samping. Semburat merah jambu terlihat jelas di parasnya.
"lanjutkan!"
"Aku ingin, kau selalu terlihat dalam jangkauan ku!"
Inuyasha kembali mempertemukan tatapannya dengan Sesshomaru.
"Aku ingin, pergi ke makam ayah, bersamamu! Aku ingin, tinggal, makan, dan tidur bersamamu." Tanpa terasa pipi Inuyasha kembali basah.
Sesshomaru yang melihat air mata Inuyasha kembali mengalir, akhirnya mengecup kedua matanya bergantian.
"Apa hanya itu?" Tak adakah yang lain?"
Inuyasha menggeleng, tanda tak ada lagi.
Sesshomaru mendesah, sedikit kecewa.
Inuyasha yang mendengar desahan Sesshomaru, menjadi cemas. Apakah Sesshomaru tak suka dengan semua keinginannya?
"Dikabulkan!"
"Eh, apa?" Inuyasha bertanya tak mengerti.
"Semua keinginanmu, akan aku kabulkan."
Inuyasha hampir tersenyum ketika Sesshomaru tiba-tiba berkata...;
"Tapi aku juga punya keinginan, yang harus kau penuhi!" ujarnya.
"tapi...,"
"Jangan potong ucapanku!"
Inuyasha mengangguk kecil.
"Aku ingin, tidur denganmu, aku ingin tidur memelukmu. Aku ingin, kau menjadi orang pertama yang kulihat saat bangun. Aku ingin kau selalu dalam jangkauan penglihatanku. Aku ingin mengunjungi makam ayahanda berdua denganmu. Dan aku ingin..., kau melahirkan anak-anakku!" Sesshomaru mengakhiri kata-katanya dengan kembali mengecup dahi Inuyasha, penuh sayang.
Suara Inuyasha tercekat, kembali air mata mengalir deras, tapi bukan karena sakit, melainkan terharu dan bahagia.
"Dikabul-hiks-dika-hiks-bulkan. Kau dengar-hiks breng-hiks-sek." Inuyasha dengan cepat mengalungkan tangannya keleher Sesshomaru..memeluknya.Membenamkan wajahnya ke dada kakaknya.
Dan Inuyasha terus menangis di pelukan Sesshomaru, sampai pagi.
T.B.C
