Sakura membuka matanya dan melihat sekelilingnya terlihat gelap. Bau pengap memasuki indra penciumannya, dia mencoba untuk bergerak, namun tidak bisa karena tangan dan kakinya diikat dengan tali. Emeraldnya memandang seorang gadis yang duduk tidak jauh darinya.
Gadis berambut pirang yang mengacungkan sebuah pisau di hadapannya. Bulu kuduknya berdiri melihatnya.
Tidak! Dia tidak ingin mati dengan cara seperti ini! Sasori-nii! Gaara-kun! Sasuke-kun! Siapapun! Tolong aku!
.
.
Revenge
.
.
.
Sasuke Uchiha, Sakura Haruno
.
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
(Jika tidak menyukai dengan cerita yang dibuat oleh Author atau adegan di dalamnya. Silahkan tekan tombol back. Author sudah memperingati sebelumnya)
DLDR! Dilarang keras untuk COPAS atau PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!
Selamat membaca!
oOo Revenge oOo
Sasuke memandang arlojinya. Ini sudah lima belas menit setelah Sakura pergi membeli teh hangat untuknya, namun gadis itu belum kembali juga. Firasat buruk mulai menyergapi hatinya. Bangkit dari duduknya, Sasuke mulai berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri taman bermain. Firasatnya benar-benar buruk kali ini.
Setelah setengah jam menyusuri taman bermain, dia tidak menemukan tanda-tanda Sakura dimanapun. Mengambil ponselnya, Sasuke menghubungi seseorang.
"Neji, aku butuh bantuanmu."
.
.
"Ini pasti gara-gara aku.. hiks.."
Sasuke terlihat mondar-mandir di dalam rumahnya. Ino menangis dalam pelukan Hinata. Sudah satu jam sejak Sakura menghilang dan mereka semua berkumpul di rumahnya. Neji sedang berkutat dengan laptopnya, mencoba mencari keberadaan Sakura, Naruto sendiri menelpon beberapa kenalannya untuk mencari Sakura. Sai mencoba menenangkan Ino bersama dengan Hinata.
"Ini pasti ulah Shion." Ino menghapus air matanya, "Andaikan saja aku tidak meminta Sakura untuk membantuku menghancurkan Shion, Sakura tidak akan menghilang seperti ini."
Itachi yang baru saja selesai menelpon polisi memandang Ino yang sesenggrukan dalam pelukan Hinata.
"Kalau begitu, kamu pasti memiliki dendam pribadi kepada Shion." Itachi buka suara.
Semua mata kini memandang Ino. Gadis berambut pirang itu semakin menangis sesenggrukan, dia sungguh merasa bersalah telah membuat sahabatnya itu masuk ke dalam dendamnya terhadap Shion.
"Ya, aku sungguh-sungguh membenci Shion."
Mereka semua memandang Ino dengan pandangan tidak percaya.
"Aku membencinya, dia gadis yang menyebalkan dan semua orang membencinya. Teman-temanku pernah menjadi korban bullynya ketika aku masih di sekolah menengah pertama. Aku tidak sampai sehancur teman-temanku karena aku langsung dipindahkan ke sekolah lain. Tetapi, dia pernah membakar sepatu baruku karena papaku membelikanku sepatu paling mahal dan keluaran terbaru saat itu. Lalu, dia pernah memotong rambutku karena aku memiliki rambut yang sama dengannya.
Namun, ayahku memindahkanku ke sekolah lain karena mengetahuiku menjadi korban bully Shion. Hingga akhirnya, Sakura, aku dan Hinata memiliki ide untuk membalas perbuatan Shion. Apa yang dia katakan kemarin itu benar, aku yang merusak mobilnya, merusak semua barang-barangnya. Sebenarnya, Sakura yang memiliki ide untuk melakukan itu, setelah aku memiliki rencana untuk membalas perbuatan Shion."
Semua yang ada disitu menahan nafas mendengar cerita yang keluar dari mulut Ino. Orang yang pertama kali bereaksi adalah Sasuke.
"Kamu tahu akibatnya telah melibatkan Sakura dalam tindakan bodohmu itu?!"
Naruto menarik nafas panjang dan menuntun Sasuke untuk duduk di salah satu sofa. Itachi sendiri baru kali ini melihat Sasuke begitu sensitif, sepertinya Sakura memang telah berhasil mengambil hati adiknya itu.
"Maafkan aku, Sasuke-senpai. Aku tidak tahu jika Shion akan melakukan tindakan seperti itu kepada Sakura. Jika aku tahu Shion akan melakukan tindakan seperti ini, aku tidak akan melibatkan Sakura."
"Tenanglah, Sasuke." Itachi mencoba menenangkan adiknya itu, "Sebentar lagi Sasori, kakak Sakura akan datang."
Tak berapa lama Sasori muncul bersama Gaara. Terlihat raut kekhawatiran di wajah keduanya.
"Apa yang terjadi, Itachi?"
.
.
Shion tersenyum dan berjalan mendekati Sakura. Dia menempelkan pisau yang terasa dingin di pipi Sakura. Gadis berambut pink itu memejamkan matanya.
"Kau takut, hn?" bisik Shion masih menempelkan pisau di pipi Sakura.
Mata Shion terbelalak kaget ketika Sakura meludahi wajahnya. Raut wajahnya berubah menjadi garang karenanya.
"Kau gadis sialan!" Shion lalu tersenyum manis, "Aku tidak akan membunuhmu sekarang, aku akan membunuhmu dihadapan gadis Yamanaka itu."
Shion tertawa dengan keras sebelum berjalan meninggalkan Sakura. Memejamkan matanya, Sakura berharap ada yang menyelamatkannya.
Kami-sama, tolong aku..
.
.
.
"Dimana Sakura sekarang?!" tanya Sasori.
"Kami sedang mencarinya, tenanglah." Itachi mencoba menenangkan Sasori.
"Bagaimana aku bisa tenang. Sakura adalah adikku, dia adalah satu-satunya yang kumiliki sekarang."
Sasuke menarik nafas panjang. Otaknya menjadi buntu, dia tidak bisa berfikir kemana Sakura dibawa oleh Shion.
Gaara bangkit dari duduknya, membuat semua mata memandang kearah pemuda berambut merah itu.
"Kamu mau kemana, Gaara?" tanya Sasori memandang pemuda panda itu.
"Aku tidak bisa berdiam diri disaat Sakura membutuhkan bantuan kita, aku akan mencarinya."
Gaara berlalu begitu saja dari sana. Sasuke memandang Neji yang masih berkutat di laptopnya.
"Apa ada perkembangan?" tanyanya.
Iris bulan Neji meneliti layar laptopnya, tiba-tiba gerakan jarinya terhenti.
"Aku menemukan sinyal GPS dari ponsel Sakura, terlalu lemah." Neji memandang Sasuke.
"Dimana sinyal itu berasal?" Sasuke bangkit dari duduknya.
"Hokkaido."
.
.
Gaara mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Iris jadenya memandang ponselnya. Hokkaido. Itu adalah tujuannya sekarang.
.
Gelap. Pengap. Seseorang, tolong aku!
Sakura membuka matanya ketika pintu gudang dibuka. Dia bisa melihat Shion datang bersama dengan lima orang pria bertubuh besar.
"Kalian melihat gadis yang ada disana." Shion menunjuk Sakura, "Dia adalah hidangan untuk kalian. Kalian boleh melakukan apa saja kepadanya."
Sakura tidak bisa melakukan apapun selain ketakutan. Kami-sama...
.
Gaara menghentikan motornya di balik semak-semak. Jadenya memandang ponselnya yang menampilkan sinyal GPS Sakura. Tadinya dia hanya iseng memasang GPS di ponsel Sakura, dia tidak tahu jika itu menjadi penting sekarang.
Melangkahkan kakinya perlahan, Gaara mengendap-ngendap masuk ke dalam gudang itu dengan pelan. Sedikit mengernyitkan alisnya, dia tidak mengerti mengapa gudang itu terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.
Telinganya bisa menangkap suara tawa dari sebuah ruangan diujung lorong. Gaara mencoba menajamkan pendengarannya.
"Aku sudah tidak sabar untuk menikmati tubuhnya."
"Nona Shion benar-benar baik telah memberikan daging empuk kepada kita."
"Sssshh.. jangan menangis, nanti kecantikanmu hilang."
Brengsek! Gaara benar-benar tidak tahan mendengar pelecehan tersebut. Jadenya mengintip dari celah pintu dan dia bisa melihat Sakura sedang dipaksa membuka baju. Rasanya amarahnya berada di ubun-ubun sekarang.
Dalam sekali dobrakan pintu ruangan itu terbuka. Kelima pria itu memandang kearah pintu yang didobrak paksa.
"Gaara-kun!" Sakura memandang Gaara yang berdiri di depan pintu.
"Aku akan menyelamatkanmu, Sakura."
.
.
Sasuke mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Hokkaido. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia tidak bisa menunggu Neji yang sedang menyusun rencana untuk melakukan penggrebekan bersama-sama, dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Sakura sekarang.
Tunggu saja, Sakura. Aku akan datang menyelamatkanmu.
.
"Lihat itu, siapa yang datang."
"Pengganggu."
Gaara langsung menghindari serangan yang dilakukan salah satu pria itu. Untung saja dia pernah belajar Judo walau hanya sebentar, setidaknya hal itu berguna sekarang.
Sakura mencoba melepaskan dirinya. Emeraldnya tidak sengaja bertatapan dengan jade milik Gaara. Tidak! Dia tidak bisa membiarkan orang yang dicintainya disakiti hanya untuk menyelamatkannya.
Gaara berhasil menendang pria terakhir dan melumpuhkan semuanya. Gaara segera mendekati Sakura dan melepas tali di tubuh gadis itu.
"Gaara-kun!" Sakura langsung memeluk Gaara setelah pemuda itu berhasil membuka ikatan tali.
"Syukurlah kamu selamat, Sakura."
Sakura terisak dalam pelukan Gaara. Dia bahagia karena Gaara yang datang menyelamatkannya.
Ceklek!
Sakura membelalakan matanya ketika melihat Shion berdiri tidak jauh dari mereka sembari menodongkan pistol di tangannya. Air mata semakin banyak merebak membasahi matanya.
"Kumohon.. jangan membunuh Gaara-kun, kamu boleh membunuhku tapi tidak dengan Gaara-kun," isak Sakura.
"Jangan membunuhnya?! Jangan berlagak sok baik, Sakura. Aku tidak akan puas jika belum menghancurkanmu dan juga orang-orang yang kamu sayangi." Shion tertawa puas, "Selamat tinggal. Aku harap kamu bahagia di neraka sana."
Dor!
Sakura membelalakan matanya ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya dan juga Gaara. Pemuda berambut merah itu juga tidak kalah terkejutnya.
"Sasuke-kun?!"
Sasuke tersenyum tipis, darah keluar dari sudut bibirnya.
"Sakura..."
Bruk! Sasuke ambruk tepat di hadapan Sakura dan juga Gaara. Shion membelalakan matanya ketika melihat peluru yang ditembakannya mengenai punggung Sasuke.
"Sasuke-kun!"
.
.
Ino langsung memeluk Sakura yang duduk di ruang tunggu rumah sakit. Gadis berambut pink itu balas memeluk sahabatnya itu. Ino bersyukur setidaknya Sakura tidak mengalami luka yang parah.
Gaara sendiri duduk tidak jauh dari keduanya. Sasori segera menghampiri Gaara dan menepuk bahunya dengan pelan.
"Terimakasih karena telah menyelamatkan Sakura, Gaara." Sasori tersenyum.
"Jangan mengucapkannya padaku, Sasori-nii. Ada seorang pemuda yang sedang berjuang di dalam sana demi menyelamatkan Sakura."
Sasuke langsung dibawa ke rumah Sakit tepat ketika Itachi dan yang lainnya datang. Shion berhasil melarikan diri namun berhasil di tangkap dan sekarang sedang di proses di kantor Polisi. Wartawan menjadi geger ketika mengetahui putri seorang menteri melakukan tindakan yang berada diluar akal sehat mereka.
Sasuke harus menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang menembus punggungnya. Sakura tidak akan bisa melupakan bagaimana wajah pucat Sasuke yang terkena tembakan hanya untuk melindunginya.
"Tenang saja, Sakura. Sasuke adalah orang yang kuat." Neji yang sedang menunggui Sasuke melirik Sakura yang masih sesenggrukan.
Itachi yang duduk di sebelah Sakura menarik nafas panjang.
"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh si bodoh itu, tetapi baru kali ini aku melihatnya bertindak nekat dan bodoh seperti itu."
Emeraldnya memandang pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Tegakah dia melihat Sasuke hancur? Pemuda itu telah menyelamatkan nyawanya hari ini.
oOo Revenge oOo
Sakura merapatkan jaketnya sebelum menarik nafas panjang. Tangannya terulur untuk membuka pintu ruang rawat dihadapannya. Emeraldnya memandang seorang pemuda berambut hitam yang sedang duduk diatas kursi roda. Posisinya yang menghadap jendela dan membelakanginya, membuat pemuda itu tidak menyadari kedatangannya.
"Ohayou, Sasuke-kun." Sakura meletakan bungkusan berisi bubur diatas meja dan menghampiri Sasuke.
Sasuke menolehkan kepalanya. Wajah pemuda itu terlihat kuyu dan pucat.
Sakura mengira, dia akan kehilangan pemuda yang telah menjadi kekasihnya itu. Namun, entah mengapa dia merasa lega ketika operasi pengeluaran peluru berhasil dilakukan.
Shion dibawa keluar negeri oleh kedua orang tuanya. Ayahnya memutuskan untuk mundur dari jabatan menteri karena merasa malu. Media massa banyak mengekspose apa yang dilakukan oleh putri dari seorang menteri tersebut.
"Hn." Sasuke tersenyum ketika Sakura berjongkok di hadapannya.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Sasuke-kun?" tanya Sakura menggenggam tangan Sasuke dengan lembut, "Aku pikir, saat itu kamu akan meninggalkanku."
Sasuke tersenyum tipis dan menyentil dahi Sakura dengan lembut.
"Itu tidak mungkin terjadi, Sakura. Karena aku mencintaimu."
Sakura membiarkan Sasuke mengecup bibirnya dengan lembut. Biar begitu, dia tidak akan melupakan dendamnya terhadap Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Balasan Review :
Azizaanr : ini sudah di update sekilat mungkin :3
Alin : nggak juga sih sebenernya..
Lightflower22 : apanya yang ditancep? :o
Cherryana24 : hihihi.. ini sudah dilanjut..
: yap.. makasih yaa..
Hanazono Yuri : sudah..
Misa safitri3 : Hahahaaa...
Kiki kim : sudah..
Pinktomato : sudaah..
Hyemi761 : Hahahaha,.. ini sudah di update paling kilat..
Shintaayumee : Hahaha.. nggak apa-apa kok, itu udah kebuka kok semuanya :3
Ini bisa di update kilat karena Sakura lagi sakit dan nggak sekolah.. karena ngganggur makanya bisa lanjut fict :3 terimakasih buat yang udah mau ngikutin fict gaje ini dari awal dan mau ngereview.. Saku cinta kaliaaaaannnn!
Sampai ketemu di chap selanjutnya!
-Aomine Sakura-
