A/N: Luna sungguh nggak sadar betapa tergila-gilanya Luna dengan One Piece, sampai-sampai cuma plot One Piece ajah yang terus terbawa sampai ke dalam mimpi T_T. Maaf bagi teman-teman yang menanti The Legend of Nine Tails Phantom Thief, masih belum bisa diapdet lagi…berhenti di tengah-tengah gara-gara kepikiran One Piece ini… Maaf, ya? Harap sabar, …dan maklum? *digiles* TT_TT

Disclaimer: Odachi adalah dewa pencipta One Piece berserta seluruh characternya, Luna cuma pinjam buat main kok

Warning: AU, hints ZoSan, bahasa kasar dan kekerasan…lainya dicoba saja sambil jalan…^^;

Makasih ShinomoriNaomi yang sudah membeta story ini~ XDD


The Meaning of a Family

Bagian 6

Sejak kecil Sanji punya impian besar menjadi petualang yang mengarungi samudra untuk menemukan harta tersembunyi. Yah, biarpun di tengah jalan (sejak kematian ibunya dan dia menemukan kesenangan dalam memasak) mimpi itu berubah menjadi menjelajah dunia ini untuk menemukan bahan makanan tebaik dan resep masakan sensasional untuk menjadi koki terhebat di dunia. Kemudian akhir-akhir ini, semakin dewasa dirinya, semakin berkurang juga semangatnya dalam mengejar mimpi tersebut karena terbentur oleh dinding yang disebut 'kenyataan,' yang tentu saja tak semudah bermimpi.

Di dunia ini, untuk mewujudkan mimpi diperlukan materi yang luar biasa banyaknya; dan Sanji… karena masih berumur 17 tahun, tentu belum bisa melakukan hal itu. Oleh karena itulah sekarang mimpinya sangatlah simpel. Melewati masa SMA dengan bersenang-senang dan melakukan apapun yang bisa dilakukan—yang ingin dilakukan—dengan sebebas-bebasnya dan dengan damai dan tenang.

Namun, sepertinya untuk melewati masa SMA dengan tenang, santai dan damai pun… hanya bakal menjadi mimpi tak kesampaian bagi Sanji…

Sanji berjalan di koridor dengan setumpuk kertas tugas teman-teman sekolahnya karena mendapat giliran piket pengurus kelas hari ini. Dia memasang wajah tanpa ekspresi, dan tiap kali dia lewat di depan murid-murid lain, mereka mulai melirik ke arahnya dan berbisik-bisik dengan wajah aneh. Meskipun Sanji mencoba untuk tidak menggubris suara-suara dan kasak-kusuk menyebalkan itu, tetap saja dia punya telinga yang sensitif.

"Eh, itu kan…?" "Yang di poster tadi pagi, kan?" "Katanya dia berminat ke lelaki, lho…" "Pantas saja dia tak betah dengan satu perempuan lama-lama…" "Ternyata dia begitu, ya…"

Ikh, Sanji tak tahan lagi dan menoleh ke arah siswa-siswi lain yang menggosipkan dirinya, dengan tatapan setajam pisau, membuat semua orang kontan mengalihkan pandangan darinya, pura-pura tak melihat. Sanji mendengus kesal. Meskipun yang menggosipkannya itu para siswi cantik sekalipun, Sanji tetap tak tahan dengan rumor aneh tak benar yang menyebar dengan cepat di sekolahnya.

Ini semua salah si marimo sial itu…!—gerutu Sanji dalam hatinya dengan tampang bersungut-sungut.

Makin parah lagi, setelah kejadian yang begitu heboh kemarin, pagi ini ada yang usil menempel poster dengan foto Sanji bersama Zoro, sang tokoh utama, tengah berpose mencurigakan seperti yang kemarin itu, di papan pengumuman sekolah.

"SCOOP! Sanji si Kekasih Para Wanita ternyata sudah memiliki kekasih hati! Apakah ketidakseriusan Sanji dengan para wanita selama ini diakibatkan oleh si Pria Misterius yang lebih muda itu!? Roronoa Zoro, si Murid Pindahan misterius yang dikejar-kejar Sanji!"

Anggota klub koran memang kurang ajar! Dasar tak sopan! Aku selalu serius dengan para gadis, tahu!—pikir Sanji berang. Wajahnya jadi merah padam saat teringat isi tulisan poster tadi pagi. Berani-beraninya mereka menulis yang aneh-aneh soal hubunganya dan Zoro. Mereka memang cari mati!

Tentu saja, sesaat setelah melihat poster menjijikan itu Sanji langsung menendang papan pengumuman sampai jebol lalu segera merobek-robek poster nista itu dengan wajah marah dan aura berapi-api. Melihat keadaannya sekilas saja, semua orang pasti sadar kalau Sanji akan segera mengamuk. Dia juga sudah melabrak klub surat kabar dan mengancam akan membakar klub itu dan mengirim semua anggotanya ke rumah sakit sampai setengah mati kalau mereka berani menulis macam-macam tentang dia di koran sekolah setelahnya. Gara-gara itu, saking hebohnya, dia sampai dipanggil ke ruang bimbingan dan dimarahi habis-habisan oleh komite kedisiplinan, wali kelas, dan kepala sekolahnya.

Itu semua belum apa-apa. Gara-gara poster sial itu juga, sekarang setiap saat ada saja serangga aneh yang menggodanya. Rupanya Sanji tidak hanya populer di kalangan wanita, tapi pria juga. Dia tak pernah tahu hal itu karena dia selalu keras dan kasar pada para lelaki, tak pernah memberi mereka kesempatan dan selalu bersikap tanpa ampun. Namun, ternyata di antara mereka, ada juga yang masochist dan suka padanya gara-gara kekasarannya itu.

Ih~! Dasar orang-orang gila! Abnormal! Sinting!—pikir Sanji lagi makin marah saja.

Ditambah lagi, sekarang ada klub (fansclub) rahasia (tak resmi) yang diam-diam mengidolakan Sanji berpasangan dengan Zoro. Rumornya sih semua anggota klub itu perempuan dan pencetusnya (menurut Nami) adalah makhluk-makhluk berkacamata bulat dari klub penelitian literatur, sastra, dan komik di SMA Grand Line itu. Vivi adalah salah seorang anggotanya (meskipun dia tidak berkacamata, dan entah apa jabatanya di sana) dan gadis cantik—yang diam-diam ternyata seorang fujoshi—itu pun mulai mengamati setiap gerakan Sanji (dan mungkin Zoro juga) untuk dilaporkan di klubnya itu. Sampai-sampai dia suka bertanya hal yang aneh-aneh tentang mereka berdua. Apalagi Nami juga mulai ikut-ikutan menggodanya tiap kali ada sesuatu yang hijau di barang-barang Sanji.

"Wah, tempat makan hijau, nih~? Jadi ingat seseorang, ya, Sanji-kun?" tanya Nami sambil meringis penuh godaan.

Kalau saja Nami-san itu bukan wanita…!—pikir Sanji tegang sampai-sampai mematahkan sumpit makanya. Baru kali ini dia ingin berteriak dan mengomel pada Nami, dan sedikit saja, barusan dia berpikir dia benci perempuan satu ini.

Tapi kalau hanya godaan sebegitu saja, bukan Sanji namanya kalau tak bisa tahan. Memang imej-nya jadi hancur berantakan, semua wanita jadi melarikan diri darinya, dan tentu saja dia juga langsung diputus oleh cewek yang dikencaninya saat ini—rusak sudah rekornya yang selalu menjadi pemutus hubungan (dan bukan yang diputus) selama ini—, tapi bukan itu yang membuat Sanji paling jengkel.

Lagi-lagi… si marimo sial itu menjauh dan menutup diri darinya. Mungkin Zoro cuek saja dengan gosip tentang dia dan Sanji yang bertaburan di sekolah. Sepertinya dia tak terlalu peduli dengan itu karena reaksinya biasa saja (lain halnya dengan Sanji yang begitu mementingkan imej-nya), tapi posisinya dan Sanji sekarang jadi kembali ke nol lagi, tidak, mungkin malah jadi lebih jauh dari sebelumnya!

Minus empat atau lima…? Jangan-jangan malah minus sepuluh!—Sanji sampai menghela nafas panjang dengan lemas. Entah kenapa cuma padanya saja si marimo sial bereaksi dengan berlebihan.

Marimo sial itu tak lagi bicara dengan Sanji. Dengan hari ini, berarti sudah dua hari! Tiap kali Sanji mencarinya, Zoro selalu melarikan diri darinya. Di rumah pun, Sanji sama sekali tak melihat batang hidung si lumut busuk itu. Zoro selalu bangun pagi-pagi, tak mau ikut sarapan, dan meninggalkan rumah sebelum Sanji sempat menyapanya. Dia juga selalu pulang malam, jadi selalu melewatkan makan malam. Biarpun baru kemarin dan hari ini… Sanji benar-benar kesal dibuatnya.

Si Marimo brengsek itu… menghindariku dengan terang-terangan… berlaku seolah-olah aku tak ada di sana!—Sekarang Sanji jadi semakin marah dan menikam bekal makan siangnya dengan sumpitnya yang patah. Aura membunuhnya kembali menyebar ke mana-mana. Dia itu paling benci diabaikan! Sanji terlihat begitu marah, kesal, dan frustasi. Pembuluh-pembuluh vena pun bermunculan di muka dan di kepalanya.

Melihat sobatnya yang tengah gundah itu, Nami jadi tak tega menggodanya lebih jauh. Siswi berambut orens itu menghela nafas dengan wajah prihatin. "Sanji-kun, sepertinya kau kebingungan, ya?" tanya Nami dengan wajah paham.

"Nami-san… kumohon jangan ingatkan aku tentang hal itu…," rasanya Sanji mau menangis saja.

Nami tertawa melihat wajah Sanji yang menyedihkan itu. "Sepertinya Vivi-chan sudah membuatmu stress, ya? Dia bertanya tentang hubunganmu dengan Zoro lebih jauh?" Dasarnya Nami itu memang sadis, sama sekali tak peduli betapa nama marimo itu sangat tak ingin didengar oleh Sanji saat ini. Yah, sesadis apapun, Nami tetap malaikat bagi Sanji.

"Nami-san… tolong berhenti menambah stressku… Meskipun itu cobaan cinta darimu, tapi kalau begini terus aku bisa gila…," Sanji betul-betul merengek sekarang.

Lagi-lagi Nami tertawa sepenuh hati. "Tapi… kalau mau jujur aku lebih suka Sanji-kun yang sekarang, lho," kata Nami tiba-tiba, membuat Sanji memandang gadis itu dengan heran. "Soalnya, Sanji-kun jadi lebih berekspresi dan kelihatan lebih asyik dibanding yang biasanya!" lanjutnya dengan senyum ceria.

Lebih asyik… di mananya?!—pikir Sanji tak paham dengan ekspresi aneh.

"Sanji-kun yang sekarang ini… jauh terlihat lebih hidup daripada yang biasanya. Yah, bukanya Sanji-kun yang biasanya itu membosankan, sih, tapi entah kenapa Sanji-kun yang jujur dengan perasaanya sendiri itu… jauh lebih berwarna," lanjut Nami senang.

Jujur… dengan perasaan sendiri…?—pikir Sanji masih heran.

"Eeh… aku selalu jujur dengan perasaanku sendiri kok," kata Sanji sedikit memprotes.

"Maksud Nami bukan begitu, Sanji!" Tiba-tiba Luffy muncul dan memeluk leher Sanji dari belakang dengan erat, mengagetkan Sanji.

"Luffy! Sudah kubilang jangan muncul tiba-tiba begitu dan mengagetkanku!" protes Sanji sambil berusaha berontak dari pelukan Luffy yang over ceria seperti biasanya, tapi pelukanya kuat sekali sampai Sanji menyerah melepaskan lilitan ular piton alias tangan lentur Luffy itu.

Luffy tertawa senang saat Sanji menyerah. "Hei, adikmu itu orang yang seru dan menyusahkan, ya? Kau jadi kewalahan menghadapinya?" tanya Luffy.

"Iya, dan itu sama sekali tidak asyik!" kata Sanji mengeluh.

"Oya? Tapi kau tertantang, kan?" Pertanyaan Luffy barusan membuat Sanji sedikit membatu. "Kadang-kadang mencoba memahami sifat orang itu menyenangkan, kan, Sanji? Biasanya kau terlalu cuek dan serba tak mau tahu urusan cowok lain sih, tapi kalau bisa mengenal seseorang lebih jauh—meskipun harus sampai sedikit frustasi—, tentu jadi jauh lebih puas dan asyik, kan?" Luffy meringis sekarang sambil tersenyum penuh arti ke arah Sanji.

Sekejap saja, Sanji merasa Luffy kelihatan jauh lebih dewasa darinya. Padahal dia selalu bertingkah seperti bocah berumur 12 tahun, tapi kadang-kadang Luffy bisa mengucapkan sesuatu yang begitu dalam. Yap, simpel tapi mengena. Benar-benar anak yang ajaib.

Sanji menghela nafas panjang dan mengacak-ngacak rambut Luffy yang menyandarkan dagu di pundak kananya. "Baru kali ini aku merasa bingung bagaimana menghadapi orang…," kata Sanji pelan. "Kenapa dia begitu sulit dipahami, ya…?" lanjutnya sedikit patah semangat. Ia begitu ingin masuk dengan paksa, tapi dia juga takut melukainya lebih jauh.

Apa membina hubungan keluarga yang sebenarnya itu… sesulit ini, ya?—pikir Sanji sambil memejamkan mata dan menghela nafas panjang lagi.

Luffy tersenyum saat melihat wajah Sanji yang benar-benar terlihat bingung itu. "Kenapa tidak mengajaknya ngobrol, Sanji?" tanya Luffy. "Kadang ada juga hal yang harus diucapkan untuk membuat orang lain mengerti niat dan perasaan kita. Kurasa masalah antara kalian itu hanya kurangnya komunikasi," kata Luffy lagi. Mungkin Luffy memang cuek pada sekitarnya, tapi dia tak akan meninggalkan sahabatnya yang kesulitan.

Kemarin Luffy sudah membuktikan kata-katanya dengan ngobrol bersama Zoro. Seperti dugaanya, Zoro sama sekali tak memahami maksud perhatian Sanji dan keinginanya untuk membangun persaudaraan. Mungkin Zoro mengalami sesuatu yang traumatis sampai dia hanya bisa menganggap hubungan antarmanusia itu sesuatu yang menakutkan dan tak bisa dicapai dengan cuma-cuma. Mungkin selama ini… Zoro harus membayar mahal untuk mendapatkan hubungan tersebut. Apa Sanji juga berpkir seperti Luffy? Luffy tak begitu yakin kalau dia juga memahaminya.

"Bagaimana mau mengobrol? Dia kabur terus tiap aku mendekat…," gerutu Sanji kembali teringat, dan jadi kesal.

"Bodoh, kau kan tidak sendirian di sini. Kalau memang sulit sendirian, ada orang yang bisa kau minta kerja samanya, kan?" kata Usopp yang entah dari mana muncul dan langsung ikut nimbrung.

Semuanya, terutama Sanji, terdiam beberapa saat. Sanji melirik ke arah Nami yang mengacungkan jempol, ke Luffy yang meringis, lalu ke Usopp yang membuat tanda peace di depan wajahnya. Kemudian, Vivi pun lewat di depanya dan berhenti sejenak, menoleh ke arah si pirang itu sambil melempar senyum penuh arti.

Sanji kontan meringis, tiba-tiba merasa bersemangat. "Mari kita berburu marimo," katanya dengan seringai usil di wajah.

OoooZxSoooO

Zoro tengah mencoba memahami kenapa x + y + z bisa sama dengan 30 di perpustakaan. Sepertinya pelajaran matematika sedikit menyusahkan baginya.

Chopper ada di depanya, duduk dengan tenang, mengawasi secara diam-diam sambil membaca novel dengn judul Petualangan Mengarungi Samudra Biru. Sesekali dia menurunkan bukunya dan mengintip ke arah Zoro, yang masih berkutat dengan tugas matematikanya, dengan wajah ingin menyapa, tapi dia takut kalau malah akan mengganggu, jadi dia tetap diam meski penasaran. Padahal kalau Zoro mau minta tolong, dengan senang hati Chopper akan membantunya.

Bocah berambut cokelat itu menghela nafas panjang dan megangkat bukunya lagi untuk meneruskan novelnya, tapi saat melihat wajah Zoro yang frustasi itu, akhirnya Chopper menyerah. Dia menutup bukunya dan menjulurkan badanya sedikit ke depan, mencoba mengintip soal seperti apa yang membuat Zoro kesulitan itu.

Dengan cepat Chopper membaca soal itu dan meramu formula yang tepat di kepalanya. Lalu dia mengangguk saat meyakinkan dirinya sendiri. "Um… itu menggunakan rumus Phytagoras," katanya pelan, sedikit mengejutkan Zoro yang baru sadar kalau di depanya ada orang, saking seriusnya dia mengerjakan.

Zoro melihat Chopper dengan satu alis mata terangkat, heran. Chopper kelihatan ragu sebelum memandang Zoro dengan sedikit takut-takut. "Maaf, aku mengganggu, ya? Kau kelihatan kerepotan, jadi… So-soal itu bisa dipecahkan kalau memakai Phytagoras, lho. Segitiganya kan siku-siku… pasangan yang jumlahya tiga puluh kalau dicari dengan Phytagoras…," Chopper menjelaskan secara singkat dan Zoro benar-benar mencoba rumus itu dan ketemulah jawabanya.

"Lima, dua belas, dan tiga belas, ya…," gumam Zoro pelan sambi menulis di buku tugasnya. Sesaat kemudian dia menghela nafas dan mengangkat wajahnya ke arah Choper. "Thanks, sudah membantu," katanya sambil sedikit tersenyum.

Wajah Chopper langsung merah padam. "Bi-biarpun kau memujiku, bukan berarti aku senang, lho! Bodoh!" katanya dengan wajah canggung hampir tersenyum tapi alisnya juga berkerut, Zoro yang melihatnya jadi harus menahan diri supaya tidak tertawa. Wajah Chopper lucu sekali soalnya.

Zoro… senyumnya kereeen!—pikir Chopper takjub. Dia memegang pipinya yang masih memerah. Duh, gimana nih… aku kepingin ngobrol sama Zoro! Apa dia akan marah kalau aku ajak ngobrol?—lanjut Chopper dengan bingung.

Saat melihat wajah Chopper yang bingung, sedikit ragu, dan takut itu, Zoro jadi teringat. "Hei," panggil Zoro pada Chopper pelan. Chopper buru-buru mengangkat wajahnya ke arah Zoro dengan terkejut, tak menyangka kalau Zoro yang akan mulai bicara. "Tempo hari… waktu tiba-tiba aku berkata kasar padamu… aku minta maaf," kata Zoro sambil menggaruk-garuk pipinya dengan satu jari. "Aku tidak bermaksud bersikap buruk… hanya saja aku teringat sesuatu dan tiba-tiba jadi marah. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa," lanjut Zoro tanpa melihat Chopper, dia terlihat sedikit menyesal dan malu karena tak bersikap dewasa. "Makanya… kau tidak usah takut kalau ingin mengatakan sesuatu," lanjutnya pelan.

Asalkan tidak terlalu dekat, kurasa tidak akan apa-apa…—pikir Zoro dalam-dalam.

Chopper benar-benar terkejut saat mendengar permintaan maaf Zoro. Dia benar-benar tak habis pikir kalau Zoro ternyata kepikiran soal kejadian itu. Padahal Chopper sendiri sudah lupa. "Ah, aku juga minta maaf kalau sudah berlebihan saat itu, ya, Zoro," kata Chopper dengan wajah masih bersemu merah, tapi senyum lega berkembang juga di wajahnya. Entah kenapa dia merasa senang sekali, senaaang sekali sampai merasa melayang dan mau pingsan. Ternyata Zoro memang keren dan baik seperti dugaanya. Dia cuma pemalu saja! XD

"Makanya, itu bukan kesalahanmu. Kau tak usah minta maaf," sekarang malah Zoro yang salah tingkah.

Chopper tersenyum manis ke arah Zoro sekarang. "Kalau begitu, aku tak akan sungkan bertanya, ya, Zoro!" kata Chopper lagi. Zoro mengangguk. "Nah… langsung saja deh… Apa benar kau dan Sanji punya hubungan seperti itu!?" tanya Chopper tiba-tiba dengan antusias.

Kontan Zoro terjatuh dari kursinya saking kagetnya dia dengan pertanyaan yang tidak tanggung-tanggung itu. Benar-benar… sama sekali tak sungkan…—pikir Zoro dengan linangan air mata dalam kepalanya. Pelan-pelan dia bangkit dan duduk lagi di kursinya. Wajahnya sedikit memerah dan bulir-bulir keringat berjatuhan dari belakang kepalanya.

"Rumor tentang kau dan Sanji di sekolah luar biasa, lho, Zoro! Apa itu benar?" tanya Chopper lagi dengan wajah benar-benar penasaran.

"Tentu saja itu tak benar. Itu hanya rumor," kata Zoro dengan dahi berkerut, sedikit memprotes. Dia sama sekali tak mengerti kenapa semua orang begitu meributkan masalah pribadinya dengan Sanji.

Kalau mau menyalahkan orang, salahkan saja si alis keriting! Semua ini gara-gara dia, pakai mengejarku segala sih…—pikir Zoro lagi teringat kejadian kemarin. Kontan wajahnya jadi memerah lagi dan dia menghela nafas pnjang dengan lemas. Aku masih belum bisa bertatapan langsung denganya… Kalau diabaikan begitu, apa dia bakal marah ya…?—pikir Zoro lagi sedikit cemas.

"Oh, cuma rumor rupanya…? Soalnya ramai sekali, sampai ada poster itu segala, sih. Sanji sampai mengamuk di ruang klub surat kabar, lho," kata Chopper sambil berpikir.

Zoro haya bisa diam selama sepuluh detik sampai dia berkata, "Eh?" dengan wajah bingung.

"Lho, Zoro tidak tahu?" tanya Chopper heran. "O iya, kau telat datang sih, ya? Tadi pagi heboh sekali, lho. Fotomu dengan Sanji dalam posisi kemarin… ada yang membuatnya jadi poster dan menempelkannya di papan pengumuman. Sanji sampai menghancurkan papan pengumuman itu dan disidang di ruang bimbingan gara-gara merusak properti sekolah," Chopper tertawa. "Padahal kalau cuma rumor dia tak perlu semarah itu, kan, Zoro?" Mendadak Chopper heran karena Zoro hanya diam saja.

Wajah Zoro sudah pucat pasi saat mendengarnya. Kalau ini sih… bukan marah lagi…—pikir Zoro dengan keringat dingin mengucur. Sanji pasti bakal mencincangnya setelah ini!

Di saat Zoro tengah meratapi nasib mematikan yang bakal menjemputnya setelah ini, tiba-tiba saja Nami dan Vivi muncul di perpustakaan. Celingak-celinguk, kanan-kiri, dan segera setelah menemukan tempat Zoro berada, mereka berjalan mendekati si marimo yang sekarang tengah menghela nafas lemas lemas.

Begitu sampai di belakang Zoro, Nami langsung, "Roronoa Zoro-kun?" memanggil nama Zoro dengan suara kelewat manis, Chopper saja sampai terheran-heran dibuatnya.

Zoro merinding sejenak sebelum menoleh ke arah pemilik suara memuakkan barusan. Ia mendongak sedikit untuk melihat wajah Nami dan Vivi yang senyam-senyum mencurigakan. "A-ada perlu apa, ya?" tanya Zoro waspada.

"Nami, Vivi!" Chopper pun menyapa kedua gadis itu dengan terkejut dan kaget.

"Chopper," Vivi tersenyum manis ke arah Chopper. "Kebetulan kau juga ada di sini," katanya dengan suara penuh arti.

"Hah?" Chopper kembali memandang Vivi dan Nami bergantian dengan wajah sedikit bingung.

"Sebetulnya kami ada perlu sama Zoro sebentar," kata Nami lagi, masih tersenyum dengan ekspresi teramat mencurigakan sampai Zoro mau kabur rasanya. "Kau tak keberatan pergi dengan kami, kan, Roronoa Zoro-kun?" ajak Nami sok imut.

Kenapa dia pakai nama panjang sih…?—pikir Zoro heran. Sepertinya perempuan ini punya maksud tersembunyi dan dia terang-terangan menunjukanya. Bahkan sama sekali tak berniat menyembunyikan maksudnya, ya…? Di luar dugaan jujur juga, tampangnya…

"Apa aku harus menyingkir?" tawar Chopper yang sadar kalau dua temanya ingin bicara dengan Zoro.

"Tidak, kok, Chopper. Kau ikut saja dengan kami," kata Vivi, masih tersenyum dengan ekspresi tak terbaca.

"Iya, Chopper. Lagipula kita akan pergi ke belakang sekolah kok," kata Nami mengikuti.

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo, Zoro," kata Chopper sambil menoleh ke arah Zoro dengan ekspresi yakin.

Zoro tampak ragu-ragu sebentar sebelum berdiri mengikuti Chopper, memutuskan untuk menurut dan ikut saja. Toh mereka cuma gadis-gadis tak berbahaya…. Yah, Chopper sepertinya menganggap para gadis ini tak berbahaya, tentunya mereka memang tak ada maksud buruk, kan? Akhirnya Zoro pun mengikuti ketiga orang itu keluar dari perpus menuju halaman belakang sekolah.

Begitu menginjak halaman belakang, tiba-tiba Zoro merasakan perasaan tak enak karena melihat Luffy ada di sana. Di sebelahnya, lelaki berhidung panjang yang rasanya pernah dia lihat entah di mana, tapi dia tak bisa ingat. Ia berhenti berjalan saat ingatan terbesit di kepalanya.

Gadis-gadis itu…!—Zoro tiba-tiba ingat pesta pernikahan ibu dan ayahnya. Gadis berambut orens dan gadis berambut biru… Mereka bukanya orang-orang yang berkumpul di sekitar si alis keriting?

Saat Zoro teringat, sosok Sanji pun ikut terlihat di sana. Kontan dia mundur dua langkah melihatnya, menarik perhatian Nami, Vivi, dan Chopper di depanya.

"Ada apa, Zoro?" tanya Chopper heran dengan ekspresi Zoro yang terlihat kaget dan waspada sekarang.

"Kami ingin bicara di sana, lho, Zoro-kun," kata Vivi sambil tersenyum menunjuk ke arah tempat Sanji dan Luffy bediri.

"Soalnya ini penting," lanjut Nami dengan nada suara sedikit memaksa.

"Kalian ini… suruhanya si alis keriting, ya?" kata Zoro dengan pandangan curiga dan menuduh.

"Waduh, tak sopan sekali mengatai kami pesuruh. Sanji-kun harus membayar mahal kalau mau menjadikanku pesuruh," kata Nami sambil menyeringai.

"Wah…, jadi ketahuan," Vivi menyibakkan rambut birunya ke belakang dengan senyum yang sekarang terlihat sedikit menakutkan di mata Zoro.

Zoro jadi mundur satu langkah lagi ke belakang, keringat dingin sudah mulai bermunculan lagi di wajahnya. Chopper melihat Zoro, Nami, dan Vivi dengan wajah sangat heran, tak paham dengan situasinya.

"Ah, itu dia! Nami dan Vivi sudah membawa Zoro!" tiba-tiba Luffy melihat mereka bertiga dan berteriak. "Ada Chopper juga, lho!" tambah Luffy saat melihat bocah berambut cokelat itu.

Zoro kontan tersentak kaget. Usopp dan Sanji pun segera menyusul Luffy dan bertemu pandang dengan Zoro. "Zoro," panggil Sanji tiba-tiba yang membuat bulu kuduk Zoro berdiri semua. Tiba-tiba saja dia jadi panik dan ingin segera melarikan diri dari tempat itu.

Zoro segera mundur beberapa langkah lagi, tapi entah sejak kapan, Nami dan Vivi sudah pindah posisi. Sekarang mereka ada di belakang Zoro dan menutupi jalur kaburnya dengan wajah tersenyum percaya diri. Kontan Zoro paham kalau dia baru saja dijebak.

"Hei," Sanji hampir melangkah mendekatinya saat tiba-tiba,

"Jangan mendekat!" Zoro berteriak dengan keras. Sanji jadi kaget dibuatnya dan berhenti di tempat. "Dasar licik! Kalau memang mau berkelahi, katakan saja dengan jelas! Tak usah pakai acara keroyokan segala!" lanjut Zoro dengan wajah marah.

"Apa maksudmu keroyokan? Aku kan, cuma minta bantuan mereka untuk mencarimu. Kau ini selalu bereaksi berlebihan, deh," kata Sanji dengan tampang aneh, membuat Zoro makin kesal.

"Kenapa sih… kau selalu saja melakukan hal yang tak perlu! Ini benar-benar mengganggu, tahu," kata Zoro mulai emosi. Dia kelihatan sangat marah sekarang.

"Hei, aku cuma mau bicara. Tak perlu bersikap sedingin itu, kan?" tambah Sanji mulai kesal juga.

"Kalau begitu cepat katakan. Buang-buang waktu saja!" Zoro membuang muka dari Sanji dengan wajah sangat tak suka. "Kenapa kau harus selalu melakukan hal-hal yang menyebalkan begini? Tindakanmu ini egois, tahu! Merepotkan saja!"

Melihat sikap Zoro yang sangat anti-pati padanya seperti itu, Sanji hanya bisa terbelalak dan tediam seribu bahasa. Dia tak mengerti harus bersikap seperti apa sekarang.

"Apa… katamu?" Tiba-tiba saja darah langsung naik ke kepala Sanji dan dia jadi tak mampu lagi menahan diri dan amarahnya saat urat kesabaran terakhirnya baru saja putus. "Ba… bagaimana aku bisa mengatakanya langsung!? Kau sendiri yang kabur begitu aku mendekat, kan!? Kenapa sih, kau selalu begitu!? Apa salahnya seorang kakak ingin ngobrol dengan adiknya!? Apa salahnya kalau aku sedikit khawatir dan ingin bicara!? Kenapa kau selalu menjauhkan diri tiap aku mencoba mendekat!? Aku cuma ingin jadi kakak yang baik!! Apa salahnya, coba!? Apa sampai segitunya kau membeciku!? Apa sampai segitunya kau tak ingin aku masuk ke dalam kehidupanmu!?"

Sanji benar-benar kehilangan kontrol diri sekarang. Baru kali ini dia merasa begitu marah, begitu frutasi, dan begitu terpukul gara-gara seseorang. Bahkan wanita tercantik di sekolah pun tak bisa membuatnya sampai sepusing itu. Sanji sama sekali tak memahami permasalahanya. Dia tak mengerti kenapa Zoro begitu menutup diri. Dia kesal karena tak bisa memahami si marimo itu. Padahal dia hanya ingin jadi kakak.

Kenapa begitu sulit? Kenapa… marimo itu tak bisa menerimanya seperti dia menerima si marimo itu!?

Setelah berteriak-teriak di hadapan teman-temanya yang kelihatan sangat terkejut itu, Sanji menutup wajahnya. Dia tak percaya dia bisa kehilangan kontrol sampai seperti itu gara-gara si marimo. Dia sampai terengah-engah begitu.

"Ingin jadi kakak… katamu?" tiba-tiba suara Zoro merendah sampai sedingin es. Ia menatap Sanji dengan tatapan setajam pisau, semua sampai merinding melihatnya. "Kenapa… kau harus melakukan hal yang tak berarti? Kakak? Jangan bercanda…! Meskipun kita hidup bersama sebagai keluarga, kita tidak memiliki hubungan darah. Apa kau mengerti kata-kata macam apa yang kau katakan barusan? Aku tak berniat membangun hubungan palsu seperti main rumah-rumahan begitu, tahu! Aku tidak berminat!"

Apa dia tak mengerti betapa berbahaya ucapanya barusan!? Apa dia tak sayang nyawa sendiri!?—pikiran Zoro berteriak marah.

"Jangan menekanku untuk alasan egois seperti itu! Kau itu BUKAN SIAPA-SIAPAKU!!" teriak Zoro akhirnya meledak sengit.

Saat mendengar hal itu, Sanji begitu naik pitam dia bahkan tak sadar dengan apa yang dia lakukan. Sejenak, pandanganya jadi gelap dan begitu sadar, tinju amarahnya sudah melayang ke pipi Zoro dan membuat si marimo terpental dua meter ke belakang.

"SANJI!" Luffy berteriak kaget dan segera menahan kedua lengan Sanji dari belakang. Chopper juga berteriak panik dan lari ke sana kemari bersama Usopp. Nami dan Vivi menjerit kaget dan ketakutan.

"Jadi begitu…? Itu pikiranmu selama ini, hah?" Sanji masih mendelik penuh amarah ke arah Zoro yang sudah mulai bangkit dan mencoba mengelap ujung bibirnya yang sobek dan berdarah. "Kalau begitu lakukan saja sesukamu, Roronoa Zoro! Aku tidak akan peduli lagi!" kata Sanji sambil melepaskan diri dari Luffy dan dengan langkah keras dan berat, dia meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Aduh…gimana ini? Gimana ini…!? Zoro terluka, dia harus dibawa ke UKS, tapi… tapi Sanji juga…!—Chopper sangat bingung dan panik dengan situasi ini. Dia khawatir Sanji akan berbuat hal bodoh, tapi yang secara fisik sedang terluka adalah Zoro.

"Chopper," tiba-tiba Luffy memanggilnya. Chopper melihat ke arah Luffy dengan wajah sangat bingung. "Kejar Sanji. Pastikan dia baik-baik saja. Biar aku, Vivi, dan Nami yang mengurus Zoro," kata Luffy pelan dengan wajah tersenyum menenangkan, tapi nada suaranya sedikit serius.

"Ah, iya!" kata Chopper tak bingung lagi. Dia percaya kalau keputusan Luffy selalu benar dan bisa diandalkan. Buru-buru Chopper berlari ke arah Sanji pergi.

Usopp segera mengikuti Chopper, sekedar jaga-jaga kalau bocah itu tak bisa mengatasi Sanji sendirian. Yah, bukanya dia bisa mengatasi Sanji yang sedang mengamuk, tapi setidaknya dengan kemampuan bersilat lidahnya, dia bisa sedikit membantu menenangkan Sanji.

Sekarang keadaan di halaman belakang jadi sunyi, Zoro masih terduduk di tanah, tak mengatakan apa-apa dan tak melihat siapa-siapa. Luffy berdiri di depanya, memandang Zoro dengan wajah serius. Nami dan Vivi tetap di tempat saling memandang dengan khawatir dan menelan ludah saat merasakan atmosfer berat di hadapan mereka. Mereka tahu betapa Luffy menyayangi sahabat-sahabat dekatnya, terutama sahabat se-geng mereka. Zoro tak akan lolos dengan mudah setelah melukai Sanji seperti tadi. Meskipun tidak secara fisik, luka yang diderita Sanji jauh lebih parah dari luka di wajah Zoro sekarang. Kalau dua wanita itu tak begitu kaget, shok, dan ketakutan sekarang ini, mereka juga pasti bakal menghajar si rambut hijau itu sampai babak belur.

Tiba-tiba Luffy berjongkok di depan Zoro, mengejutkan kedua wanita tadi, tapi tidak untuk Zoro. Zoro masih diam saja, tak melihat ke arahnya. Luffy menghela nafas. "Caramu tak akan berhasil membuat Sanji membencimu," kata Luffy tiba-tiba, membuat Zoro membelalakkan matanya.

"Eh?" Nami dan Vivi menatap Luffy dengan kaget. Mereka tak menyangka reaksi Luffy akan setenang itu dan apa maksud kata-katanya tadi?

Zoro mengangkat wajahnya dan menatap Luffy dengan wajah sangat kaget, sangat… shok. "Kenapa… apa maksudmu…!?" Zoro memicingkan matanya lagi.

Luffy mengulurkan tanganya ke arah Zoro dan menyentuh luka di pinggir bibirnya. "Ini… yang aku maksud," kata Luffy dengan wajah tersenyum, membuat Zoro membeku di tempat. "Kau sudah mengobarkan api… yang tadinya hanya secuplik lilin di hati Sanji," lanjut Luffy dengan suara rendah dan datar, ibu jarinya mengusap-usap luka Zoro dengan lembut. "Kobaranya begitu dasyat… sampai-sampai dia menggunakan tanganya untuk memukulmu," lanjut Luffy lagi.

Nami dan Vivi langsung tersentak kaget. Benar juga, baru kali ini mereka melihat Sanji memukul orang dengan tangan. Padahal dia bilang tangan adalah nyawa seorang koki, dan dia punya prinsip tak akan memakai tangan dalam berkelahi. Apa artinya ini?

"Apa… maksudnya?" tanya Zoro tak paham. Dari tadi bocah aneh ini mengatakan hal-hal yang tak dimengertinya.

"Hmm…," Luffy lalu melepaskan tanganya dari wajah Zoro. "Tangan itu… memeluk seluruh mimpi dan impian Sanji dalam hidupnya, dan dia baru saja menggunakan tangan yang lebih berharga dari nyawanya itu untuk memukulmu. Apa Kau tak paham maksudnya?" tanya Luffy sambil sedikit menyeringai.

Tiba-tiba saja Zoro menjadi sangat takut. Bukan takut teradap Luffy tapi takut pada sesuatu yang menghampirinya dari dalam hati. Samar-samar dia mulai merasakan kekhawatiran itu. Rasa takut tak tertahankan yang selama ini selalu menyertai hidupnya semenjak kematian Kuina.

"Itu artinya… Sanji…!" Tiba-tiba tangan Zoro terangkat dan menutupi mulut Luffy yang hendak bicara. Wajah si marimo terlihat sangat pucat, keringat dingin mengalir ke dagu dari pelipisnya. Ekspresi wajahnya… sangat ketakutan, bahkan tangan yang saat ini menutupi mulut Luffy sedikit gemetar.

"Jangan katakan…!" kata Zoro dengan suara bergetar juga.

Luffy yang tadinya sedikit membelalakan mata, ekspresinya mengendur. Ia mundur sedikit supaya tangan Zoro terlepas darinya. "Kau sadar, kan?" tanya Luffy lagi. "Sanji yang seperti itu… hanya demi kau seorang…,"

"Jangan katakan!" teriak Zoro lebih keras, tapi Luffy tak peduli,

"-akan tanpa ragu membuang nyawanya," lanjut Luffy menjatuhkan bom.

Zoro kontan bergerak dan menyerang Luffy dengan mencengkeram kerah seragam Luffy dengan kasar sambil melotot panik.

"Memukulku pun percuma, lho. Soalnya ini tentang Sanji," lanjut Luffy masih tetap tenang. "Kau sendiri yang paling paham, kan? Sanji… terlanjur menyayangimu, Zoro. Kau tak bisa melakukan apa-apa lagi…. Rencanamu… sudah gagal," kata Luffy sambil melepaskan cengkeraman Zoro yang tiba-tiba mengendur karena kehilangan tenaga setelah mendengar vonis Luffy barusan.

"Kenapa… kenapa untuk orang sepertiku…!?" Zoro memejamkan matanya dan menggertakkan giginya dengan ekspresi yang sangat menyedihkan.

Luffy menghela nafas panjang sambil duduk sekarang. "Apa boleh buat… kau terlalu menarik, sih," kata Luffy.

"Aah? Apa maksudnya itu?" tiba-tiba Nami dan Vivi sudah mendekati mereka lagi dan bertanya pada Luffy dengan tak mengerti. Bahkan Zoro juga memandang Luffy dengan tatapan aneh dan heran, tak paham. Bagian mana dari dirinya yang menarik? Sifatnya kan jelek sekali (ternyata dia sendiri sadar dan mengakuinya).

"Zoro mungkin tidak menyadarinya, tapi tipe tsundere seperti itu… sangat disukai Sanji," Luffy meringis sekarang.

Tsundere?—pikir Zoro tak mengerti, malah tambah bingung.

"Luffy, dari mana kau mendapat kosa kata macam itu?" tanya Vivi kaget.

Luffy hanya tertawa saja. "Shanks banyak mengajariku soal ini, sih," katanya mengaku.

"Apa maksudnya?" tanya Zoro tetap tak paham, sedang Nami dan Vivi sedang bergumam kalau hobi Shanks itu mesum dan sedikit berbahaya dengan wajah sebal.

"Intinya, Zoro… semakin kau mencoba menjauh karena ada rasa pada seseorang, semakin menariklah dirimu di mata orang itu," kata Luffy.

"Ugh… siapa… YANG ADA HATI DENGAN SI ALIS KERITING ITU!?" teriak Zoro dengan wajah merah padam.

"Lho, tak ada yang menyebut tentang Sanji, lho," kata Luffy sambil meringis penuh arti. Wajah Zoro makin merah saja mendengarnya. Nami dan Vivi langsung tertawa keras melihat wajah Zoro yang sangat lucu itu.

"J-jangan tertawa! Tidak ada yang lucu!" teriak Zoro marah dan sangat malu.

Luffy dan para gadis makin keras tertawa. Kalau saja Zoro membawa shinai barunya, dia pasti sudah menghajar mereka bertiga sampai babak belur.

"Ga-gawat, Zoro… kau benar-benar tipe tsundere!" kata Luffy masih terpingkal-pingkal. Zoro sudah tak lagi menggubrisnya saat itu. "-dan Zoro… aku tak tahu apa yang pernah terjadi padamu dulu, tapi ketakutanmu itu tak beralasan," kata Luffy lagi sesudah mulai tenang.

"Aku cuma tak mau… membuat orang lain terluka dan dalam bahaya…," kata Zoro sambil memandangi kedua tanganya. "Aku masih… belum cukup kuat. Kalau harus menambah sesuatu yang penting dalam hidupku… aku tak yakin mampu melindunginya…," lanjut Zoro sambil memejamkan mata.

Kuina…!—Zoro mengencangkan tinjunya dengan ekspresi terluka.

"Justru karena itulah, kau harus memiliki lebih banyak sahabat," Luffy berkata tiba-tiba, mengejutkan Zoro yang lalu menatapnya dengan heran.

"Luffy benar, Zoro," kata Vivi menyertai.

"Hal yang tak bisa Kau lakukan sendiri, jadi bisa kau lakukan kalau kau memiliki tempat untuk bergantung," lanjut Nami dengan wajah penuh percaya diri.

"Paradigmamu yang memandang orang yang dilindungi sebagai suatu kelemahan itu salah besar, tahu. Justru karena ada orang yang harus dilindungilah, manusia bisa menjadi lebih kuat lagi," kata Vivi lagi sambil mengepalkan tinjunya.

"Rasa kehilangan adalah pemicunya. Agar suatu saat tak lagi mengalami perasaan sepedih itu… carilah teman sebanyak-benyaknya! Jadi jauh lebih kuat lagi! Lalu… bersama sahabat-sahabat itulah… kita bisa saling menjaga… dan saling melindungi!" lanjut Nami sambil tersenyum cerah.

"Aku juga… masih lemah, Zoro," kata Luffy perlahan. "Tapi dengan bersama sahabat-sahabatku, aku menjadi… jauh lebih kuat," lanjutnya sambil tersenyum yakin penuh percaya diri. "Karena mereka menjaga punggungku… rasa percaya itulah yang membuatku tak kenal takut!"

Tiba-tiba saja Luffy jadi terlihat begitu besar dan bersinar, terlihat… begitu kuat.

Teman… sahabat….

Zoro memandang tanganya lagi dengan wajah tersadar. Aku ini…orang paling bodoh sedunia…!—Zoro menutup wajahnya dengan menyesal. Seandainya saat itu aku memilki lebih banyak sahabat…! Mungkin Kuina juga akan…!

Luffy, Nami, dan Vivi saling memandang dengan senyum lega sekarang. Setelah ini, mungkin Zoro masih memerlukan beberapa penyesuaian, tapi tak ada salahnya menariknya ke kelompok Topi Jerami. Tinggal menunggu kemajuan hubunganya dengan Sanji setelah ini…

OoooZxSoooO

Sanji berlari keluar sekolah dengan wajah kacau dan terluka. Dia bodoh sekali. Sejak awal, Zoro tak pernah memikirkan kemungkinan mereka bisa jadi keluarga. Berusaha keras sendiri, bingung-bingung sendiri… benar-benar… terlihat seperti orang bodoh!

Sanji berhenti di dekat sungai dan menendang rerumputan tinggi sambil mengamuk.

Bodoh! Bodoh! AKU ORANG PALING BODOH SEDUNIA!!—pikir Sanji kalut dan marah pada diri sendiri. Berharap terlalu tinggi dan akhirnya jatuh dengan memalukan… Benar-benar dungu!

Sanji terpeleset embun dan jatuh terduduk. Nafasnya terengah-engah tak karuan. Dadanya terasa sakit sekali.

"Kau bukan siapa-siapaku!"

Sanji teringat kata-kata si marimo sial itu dan detak jantungnya makin menggila. Rasanya nyut-nyutan dan sakit sekali sampai dia seperti akan menangis. Selain itu… tangan kanan yang tadi dipakainya untuk memukul si marimo busuk itu juga nyut-nyutan.

"Sakit nih…!" gerutu Sanji sambil memeluk lututnya dengan tangan kiri, membiarkan tangan kananya tergeletak di rerumputan pendek, dan menyembunyikan wajahnya dengan menundukan kepalanya di balik lutut itu.

Beberapa saat kemudian Chopper dan Usopp berhasil menyusul si pirang dan melihatnya sedang duduk meringkuk di dekat rerumputan tinggi di pinggir sungai. Mereka menghampiri Sanji perlahan-lahan supaya tak mengejutkanya.

"Sanji…," panggil Chopper pelan. Punggung Sanji tersentak sedikit dan menegang, tapi dia tak mengatakan apa-apa. "Hei… kau baik-baik saja?" Bahkan untuk Chopper sendiri, pertanyaan itu terdengar bodoh. Tentu saja Sanji tidak baik-baik saja. Dia pasti terluka cukup dalam setelah dikatai seperti itu oleh Zoro… adiknya sendiri.

"…kit…," Sanji bergumam pelan.

"Kau berkata sesuatu?" tanya Usopp seraya berjongkok dan mendekat ke arahnya.

"…tanganku sakit…!" gerundel Sanji sedikit lebih keras.

Chopper dan Usopp berpandangan sejenak dan menghela nafas panjang. Chopper mendekati Sanji dan melihat tangan kananya yang memang sedikit terluka, sobek dan berdarah. Mungkin kena gigi Zoro saat dia memukul si marimo itu. "Wah, berdarah, lho, Sanji. Biar kuobati, ya?" tawar Chopper ramah.

Sanji tak berkata apa-apa, hanya mengangguk ringan. Chopper dengan cermat melihat tangan Sanji dan menginspeksi lukanya. Dia bertanya apa Sanji masih bisa menggerakan jari-jarinya dengan leluasa atau ada tahanan. Cuma untuk memastikan tulang-tulang tangan Sanji tidak ada yang fraktur. Setelah pemeriksaan singkat, Chopper merasa luka itu hanya karena benturan dan berdarah karena gigi. Sedikit keseleo mungkin, tapi tidak ada yang retak. Dengan bebat sederhana dan atibiotik dan istirahat beberapa hari saja pasti bisa sembuh dan kembali normal.

Chopper selalu membawa kotak P3K kemana-mana. Dia kan, dokter. Setelah mengobati luka di tangan Sanji, Chopper meminta Usopp menjauh sedikit untuk memberi kesempatan Sanji bicara empat mata dengan Chopper. Yah, untuk alasan etika dan privasi.

Kedua orang itu terdiam beberapa saat sampai Chopper yakin sanji sudah tenang dan bisa diajak biacara. Biarpun sambil memunggunginya, Chopper tidak keberatan. "Sanji," Chopper memanggil lagi dengan nada suara yang menyejukan dan menenangkan. "Kau boleh bercerita apa saja lho, aku siap mendengarkan," lanjut Chopper dengan penuh perhatian. Suaranya tenang dan bernada lembut, tak memaksa Sanji untuk bicara kalau sobatnya tidak menginginkanya.

Sanji belum mengatakan apa-apa sampai tiga menit dan Chopper masih menunggunya dengan sabar. "Aku ini…," tiba-tiba Sanji bicara, suaranya lirih, tapi tidak lagi bergetar seperti saat dia mengeluh tanganya sakit tadi, "-kakak yang payah, ya… tidak dewasa," lanjutnya pelan.

Chopper menunggu sampai beberapa saat, tapi karena Sanji tak menunjukan gelagat untuk bicara lagi, Chopper memutuskan kalau Sanji menginginkan pendapatnya. "Sanji… 17 tahun itu belum dewasa," kata Chopper lagi. "Masih remaja, lho," lanjutnya tenang.

Sanji terkekeh pelan mendengarnya. "Maksudku bukan begitu…. Aku ini… tidak sabaran dan marah hanya karena hal sepele begitu, sampai-sampai memukulnya…."

"Sanji, itu bukan hal sepele," bantah Chopper tidak menunggu lagi. "Kemarahanmu itu sesuatu yang wajar. Aku juga… kalau dikatai seperti itu oleh orang yang kusayangi, pasti akan marah," lanjut Chopper paham. "Yah, meskipun tidak sampai memukul, soalnya nanti jadi tambah sakit, sih. Sudah hati terluka, tangan terluka pula. Kalau aku sih, maaf saja," tambahnya setengah bercanda.

Sanji tertawa pelan lagi, masih belum menoleh ke arah Chopper, tapi dia sudah mengangkat wajahnya. "Kau benar. Itu masuk akal," kata Sanji lagi seraya menghela nafas. Lalu dia mengangkat tangan kananya dan memandangi perban yang melilitnya. "Meninju orang lain itu… tenyata yang sakitnya bukan hanya sepihak, ya? Yang meninju pun tanganya terasa sakit. Aku tak pernah sadar karena selama ini cuma menendang orang," kata Sanji sambil mendongak memandang langit tak berawan itu. "Luffy… tiap kali berkelahi apa juga merasa sakit begini, ya?" tanya Sanji.

"Kurasa semua orang akan merasa sakit saat memukul orang, tak terkecuali Luffy. Namun, karena alasan Luffy memukul orang bukan karena kemarahan semata, tapi juga karena ada yang harus dia lindungi, Luffy tidak takut terluka," kata Chopper mengeluarkan pendapatnya.

Sanji kembali terdiam masih sambil memandangi langit. "Apa dia… juga terluka, ya… saat dia berkata seperti itu?" tanya Sanji pelan.

Chopper tersenyum. "Dia terluka…," kata Chopper lembut. "Yang paling terluka karena kata-katanya itu pasti… Zoro sendiri," jawab Chopper yakin.

Sanji menoleh ke arah Chopper sekarang, terlihat telah memutuskan sesuatu. "Kalau aku ketemu dia lagi… yang pertama kulakukan adalah meminta maaf," janji Sanji bukan pada siapa-siapa, tapi pada dirinya sendiri.

"Un!" seru Chopper sambil mengangguk dan tersenyum bersemangat. "Kurasa… Zoro juga menyukai Sanji, lho," kata Chopper lagi. Sanji jadi sedikit memerah mendengarnya. "Entah kenapa aku bisa melihatnya. Saat Zoro memandang Sanji sambil mengucapkan kata-kata menyakitkan itu, dia terlihat takut," kata Chopper. "Mungkin Zoro… cuma takut kehilangan saja," lanjutnya. "Makanya dia bereaksi seperti itu. Aku sedikit paham sih, soalnya kehilangan itu… benar-benar sesuatu yang menyakitkan. Kalau pernah merasakanya, orang akan takut menyayangi lagi, takut mencintai lagi… Rasa takut itu… benar-benar menyeramkan. Kalau tidak ada Luffy yang meyakinkanku, dan membuatku jadi kuat, pasti saat ini… aku akan jadi sama seperti Zoro," kata Chopper lagi dengan wajah lembut.

"Begitu ya…," Sanji paham sekarang. Zoro bukanya membencinya, justru… dia takut karena dia sendiri… mulai menyayanginya. Entah kenapa Sanji ingin tersenyum saat menyadari hal itu. "Baiklah…! Lihat saja, kalau perlu akan kupaksa dia menerimaku! Akan kubuktikan kalau dia tidak perlu lagi takut untuk menyayangi! Karena aku… KUAT!" teriak Sanji bersemangat sekarang. Dia berdiri dan mengulurkan tanganya pada Chopper. "Terima kasih, Chopper!" kata Sanji senang.

Chopper menyambut tangan Sanji dan dia langsung ditarik ke pelukan sobat pirangnya itu dengan antusias. "Aku tak akan pernah lupa… percakapan kita hari ini," kata Sanji lagi, memeluk tubuh kecil Chopper dengan sayang.

"Iya," kata Chopper sangat senang.

Sahabat itu sesuatu yang luar biasa. Di mana pun, kapan pun, mereka bisa menjadi kekuatan hati seseorang.

Usopp memandang kedua sobatnya itu dengan tatapan lembut. "Yep, sekarang tinggal memberi informasi untuk yang di sana," ia meringis dan meninggalkan Sanji berdua dengan Chopper.

OoooZxSoooO

Biarpun pada akhirnya hari itu Sanji dan Zoro tak sempat ketemu lagi karena jam istirahat habis (lagi-lagi Sanji terlambat masuk kelas dan diomeli gurunya, Chopper sih tenang-tenang saja karena dia bisa beralasan menangani pasien darurat dan dia sama sekali tidak bohong karena pasien daruratnya itu Sanji ^__^), dan sepulang sekolah Zoro harus kerja sambilan di dojo, Sanji di Baratie, keduanya sudah memutuskan untuk berbaikan malam ini.

Sanji sedang berbelanja untuk makan malam. Dia berencana membuat makanan favorit Zoro. Hari ini spesial sebagai tanda permintaan maaf. Kali ini Sanji memutuskan untuk bergerak perlahan-lahan dan tidak buru-buru seperti kemarin-kemarin itu. Dimulai dengan mengenali kesukaan masing-masing. Kalau perlahan-lahan pasti… kali ini Zoro tak akan menjauh.

Sedangkan Zoro… ketika tengah melatih kendo, Yuu perhatikan, ia lebih hidup dari biasanya meskipun wajahnya sedikit lebam dan ada plester di ujung bibirnya. Paman baik hati itu tersenyum memperhatikan setiap gerak-gerik anak didik yang sudah dia anggap seperti puteranya sendiri.

Selesai latihan, Zoro duduk bersimpuh di hadapan Yuu. Wajahnya tenang dan terlihat lega karena hari ini pun, dia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.

"Kau terlihat senang hari ini," kata Yuu sambil meminum tehnya. "Ada hal menyenangkan yang terjadi?" lanjutnya sambil tersenyum ramah. Dalam hati Yuu bisa sedikit menebak. Mungkin ini berkaitan dengan saudara tirinya, Sanji.

"Sensei…, aku baru sadar kalau sahabat itu sesuatu yang luar biasa," kata Zoro sambil tersenyum kalem.

"Begitu…, apa kau sudah menemukan sesuatu yang penting, Zoro?" tanya Yuu lagi.

"Iya…. Entah kenapa, aku merasa sudah menemukanya…," lanjut Zoro menjawab dengan helaan nafas lega.

Sementara itu, sekarang Sanji dalam perjalanan pulang ke rumah. Dia memeluk belanjaanya dengan wajah senang. Dia bahkan berjalan sambil bersenandung. Namun, dalam beberapa menit, tiba-tiba Sanji merasa kalau dia sedang diikuti.

Sanji melirik ke belakang. Ada dua orang yang mencurigakan di belakangnya. "Siapa…?" Sanji tidak mengenal mereka, tapi sepertinya mereka mengenal Sanji. Dua orang itu berbadan besar. Yang seorang berambut pirang dengan badan tinggi yang seorang lagi paman-paman dengan potongan sangat pendek, hampir botak dengan wajah yang agak garang.

Sanji mempercepat langkahnya dan memancing dua orang itu ke gang yang lebih sepi. Saat Sanji berbelok dengan cepat di tikungan, dua orang itu juga berlari dan cepat-cepat mengejarnya ke tikungan. Saat itulah Sanji mengageti mereka dengan muncul tiba-tiba di depan mereka. "Kemampuan kalian membuntuti orang itu payah, dasar Paman-paman mesum!" ejek Sanji sambil menyeringai.

"Wah, ketahuan," kata si pirang dengan wajah sok bangga.

"Ya sudah, bawa saja dengan paksa," kata si botak dengan wajah malas.

"Paman-paman ada perlu denganku?" tanya Sanji sok pe-de.

"Blackleg Sanji, kan?" tanya si pirang dengan wajah merendahkan. Sanji langsung merasa benci dengan orang ini. "Bos kami ingin bicara denganmu, ikutlah dengan kami," katanya dengan nada suara rendah.

"Enak saja, etika yang benar itu ya, yang ada perlu yang menghampiri, bukan sebaliknya. Kalau bosmu ingin bicara denganku, suruh dia yang datang ke tempatku," kata Sanji dengan wajah tak senang.

"Sayangnya, bos kami sibuk, jadi kau yang harus menemuinya," kata si botak dengan nada sedikit mengancam.

"Kalu begitu aku menolak. Aku juga sibuk tahu. Harus segera membuat makan malam," kata Sanji tak menggubris dan langsung membalikan badan.

"Jangan sombong, dasar anak bau kencur!" tiba-tiba si pirang menyerang, untung saja Sanji cekatan dan segera menghindar, tapi belanjaanya lepas dari tangan dan jauh semua.

"AAH! Belanjaanku!" kata Sanji marah. "Kalian… membuang-buang bahan makanan itu dosa tahuuu!" dia langsung melotot marah ke kedua paman itu. "Bersiaplah… kuabuat kalian mencium tanah!"

OoooZxSoooO

"Ng?" Usopp baru saja kembali dari studio tempat dia belajar melukis. Kebetulan dia lewat di dekat gang tempat Sanji berkelahi dan dia melihatnya.

Dasar Sanji…, bukanya baik-baik di rumah malah berkelahi di sini…—pikir Usopp sambil geleng-geleng kepala. Ya, setidaknya aku berjaga, deh. Siapa tahu ada polisi datang, jadi aku bisa memperingatkan Sanji sebelum dia ketangkap—pikir Usopp lagi sambil menghela nafas panjang. Lawan Sanji cuma dua, tak akan lama deh, perkelahianya.

Begitu pikir Usopp, tapi ternyata Sanji salah perhitungan. Ia tak menyangka kalau dari dalam sisi gang masih ada lebih banyak orang lagi, dan lebih payahnya, mereka itu perempuan.

Sanji… tidak bisa menendang perempuan.

"Sial!" kata Sanji kaget melihat gadis manis berambut pink itu tersenyum ke arahnya dengan tatapan dingin. Tiba-tiba saja dari belakang Sanji muncul beberapa wanita lagi dan salah seorangnya memegang sapu tangan yang dengan cepat membekap wajah Sanji.

Chloroform—pikir Sanji sangat kaget mencium bau itu dan tiba-tiba pandnganya berkunang-kunang. Sialan…! Sanji pun terjatuh tak sadarkan diri.

Usopp yang melihatnya sangat kaget. "Oi, oi…serius nih—!?" gumam Usopp tak percaya. Lalu ada mobil hitam muncul entah dari mana dan Sanji dibawa masuk ke mobil itu. "Sanji—!" Usopp langsung mengingat-ingat nomor polisi mobil mercedes benz itu dan mencatatnya. Lalu dia segera mengambil telpon genggam.

Yang pertama kali ditelpon Usopp adalah Luffy.

Telpon berdering di ruang keluarga Luffy. Bocah berambut hitam itu segera mengangkatnya karena Ace pergi bermain keluar lagi. Katanya dia ada perlu dengan Smoker. "Halo, keluarda Monkey D. di sini," sapa Luffy.

"Luffy!"

"Ada apa, Usopp?" tanya Luffy heran karena suara Usopp terdengar sedikit panik.

"Ah, gawat lho…, Sanji… kayaknya diculik tuh," kata Usopp lagi, memberi informasi.

"Apa!?" Luffy kontan berdiri dengan kaget. "Di mana, kapan, oleh siapa!?" teriak Luffy.

"Ah, aku sudah mencatat nomor polisi mobilnya. Orang-orangnya sih, aku tak familiar, tapi banyak anak perempuanya," kata Usopp. "Aku akan telpon polisi," lanjut Usopp.

"Tunggu dulu, kau di mana Usopp?" tanya Luffy lagi.

"Di dekat studio tempat aku belajar melukis," kata Usopp.

"Oke, jangan buru-buru telpon polisi! Bisa runyam urusanya kalau terlibat sama kelompok aneh! Tetap di situ! Aku segera ke sana!" kata Luffy yang langsung menutup telponya. Lalu, Luffy mengambil HP-nya dan dompet, lalu segera keluar rumah, ke tempat Usopp. Di tengah jalan, dia memencet tombol nomor HP Ace di ponselnya.

"Halo, ini dengan Ace," sapa Ace dengan nada suara menggodanya.

"Ace, ini aku!" teriak Luffy sedikit panik sambil berlari.

"Luffy? Ada apa?" tanya Ace dengan suara agak khawatir mendengar suara panik adiknya.

"Ah, apa kau bersama Paman Asap sekarang? Tolong beritahu dia, Sanji diculik! Aku butuh dia datang ke studio tempat Usopp belajar melukis!"

"Apa!?

OoooZxSoooO

Beberapa saat kemudian telpon di rumah Sanji berdering.

Zoro baru saja pulang dari dojo dan entah kenapa ia menemukan rumahnya masih kosong. Sanji belum pulang. Aneh juga, biasanya dia sudah di rumah dan membuat makan malam jam segitu. Lalu, mendengar dering telpon di ruang tengah yang terus-terusan, Zoro segera ke sana dan mengangkatnya. "Halo," katanya.

"Ah, Zoro, itu kau?" Ternyata itu suara Luffy di telpon.

"Luffy?" tanya Zoro heran.

"Hei, dengar dan jangan kaget, ya, Zoro… ini tentang Sanji," kata Luffy dengan nafas sedikit memburu.

"Ada apa dengan si alis keriting?"tanya Zoro merasa aneh.

"Ah, sebetulnya—." Luffy menjelaskan situasinya dan Zoro hanya bisa membelalakan mata mendengarnya.

"Apa…!? Sanji…"

DICULIK!?

Bersambung…


A/N: Hahaha…cliffy emang evil ya? Yah, tiba-tiba saja plotnya jadi meledak begini T_T Maaf yang tiba-tiba merasa kaget. Well, emang sudah direncanakan sih… Kira-kira gimana lanjutanya yaaa? Silakan ditunggu chapter selanjutnya! XD

With Love,

Lunaryu~~~