Good evening...

Oh My God! Finally!

I know, I know, it's been a really long time since the last time I put something out to this fandom.

And trust me, there's no one miss updating this fic more than I do. I mean it.

Anyway, this is it, after a lifetime battle against writer's block and everything, I did it! I updated this baby.

So I wish you all would enjoy it as I am when I wrote this.

Happy reading, guys~

P.S. Happy belated new year too~


Disclaimer: Mobile Suit Gundam SEED and all of its characters belongs to Yoshiyuki Tomino, Sunrise, and Bandai respectively

Rate: T, well, just let me know if I should change it, okay?

Genre(s): Drama, Tragedy, Friendship, Family, Hurt/Comfort, Romance, etc

Warning(s): AU, OOC-ness, Typo(s), ER, FT, etc

Pairing(s): Kira Yamato/Lacus Clyne, Athrun Zala/Cagalli Yula Athha


Piece by Piece

Part Six - Always

Kaoru Hiyama

2017


ORB, beberapa tahun sebelumnya...

"Studi kedokteran di PLANTs?" tanya Athrun dari seberang telepon. Suaranya terdengar tidak terlalu yakin, bahkan dengan pertanyaannya sendiri. "Kira, kau ini gila atau tolol sih?"

Pertanyaan itu membuat Kira bersungut-sungut. Ia mendengus, keras dan dekat dengan ponsel supaya terdengar. Seingatnya Athrun memang kritis, logis, dan lurus; ia tahu itu. Lagipula kedua alasan itu jugalah yang mendasari keputusannya membuka kembali jalur komunikasi sekunder dengan si sahabat lama setelah mereka berpisah bertahun-tahun yang lalu. Ia sampai rela tagihan teleponnya membengkak demi panggilan ini, dan belum semenit mereka berbicara, respon Athrun... begitu?

"Aku tidak gila, dan tidak tolol," ia membalas defensif. "Mana mungkin orang gila—atau tolol—mendapatkan peringkat pertama di ujian nasional se-Heliopolis."

"Baiklah," suara Athrun melunak, pertanda kalau ia memilih untuk mengalah. Ia juga menghela napas berat. "Kalau kau tidak gila dan tolol, lalu kenapa tiba-tiba pindah haluan ke PLANTs, jurusan kedokteran pula? Bukannya kau sudah mengantongi beasiswa lanjutan politeknik Heliopolis?"

Kira berkesah. Pikirannya melayang pada hari-hari di Heliopolis, kota terfuturistik kedua setelah PLANTs, yang dipenuhi ribuan calon insinyur muda. Ia sempat menjadi bagian dari kota itu selama tiga tahun, sebagai siswa SMA Politeknik Heliopolis. Ia begitu bangga dan gembira ketika pertama kali mendapatkan email mengenai penerimaannya. Terlebih di jalur beasiswa yang konon merupakan jalur penerimaan dengan seleksi paling ketat. Hanya saja, setelah dua setengah tahun...

"Aku bosan, Athrun."

Kira mendengar suara hela napas ringan dari seberang telepon dan tahu—dengan intuisi seorang sahabat yang sudah mengenal pemuda berambut biru tua itu cukup lama—bahwa dari suaranya, Athrun pasti sedang menampakkan ekspresi 'ayah bijak'nya. Ia berdecih, berani bertaruh seratus dolar kalau respon pertama Athrun setelah mendengar pengakuan singkatnya adalah...

"Sudah kuduga." Dan ia benar.

Ada jeda, kemudian. "Lalu? Menurutmu kalau kau mengambil studi kedokteran di sini kau tidak akan merasa bosan, huh? Kira... ada saatnya dimana kita semua merasa bosan, merasa seperti berjalan di tempat. Tapi tidak semua harus diselesaikan dengan cara seperti ini."

"Cara seperti ini?" alis Kira terangkat sebelah. "Apa maksudmu?"

"Melarikan diri."

Suara Athrun tidak tajam, tidak menggurui, tidak terdengar seperti cemoohan. Tetapi begitu mendengarnya, seluruh indera Kira serasa bagai disengat listrik. Kata-kata itu tidak menyenangkan untuk didengar, tapi ia juga tidak bisa menyangkalnya. Ada kebenaran di dalamnya, dan karena itulah Kira tidak bisa menyangkalnya, bahkan meski ia ingin sekalipun.

Athrun tampaknya menyadari hal ini. "Ada apa, Kira? Apa aku perlu meneleponmu supaya kau bisa berbicara lebih banyak? Atau kita harus bertemu? Katakan saja, Kira."

Kira terdiam. Pernyataan Athrun yang sebelumnya telah membuat ia mempertanyakan dirinya sendiri. Kira, Kira Yamato. Dengan segala trofi dan piagam yang berderet-deret di lemari, ia nyaris tidak bisa menemukan alasan mengapa ia ingin melarikan diri. Ia pelajar terhormat, semua guru dan teman-teman dekatnya mengaguminya. Kedua orangtuanya bangga padanya.

Jadi kenapa?

"Aku tidak tahu, Athrun. Dan kurasa aku tidak akan menemukan jawabannya dengan cepat. Tapi mungkin kau benar, aku melarikan diri. Aku melarikan diri dari semua trofi dan nama besar yang kumiliki di sini. Aku ingin menjadi... orang normal, Athrun."

"Astaga, Kira," Athrun berkesah pelan. Nada suaranya terkesan horor. "Kau benar-benar terdengar seperti orang yang butuh bantuan. Baiklah, aku akan membantu mengurus kedatangan dan tempat tinggalmu selama di sini."

"Apa?"

"Tidak dengar? Aku akan membantu mengurus kedatangan dan tempat tinggalmu selama di sini. Kau cukup mempersiapkan diri untuk seleksi masuknya."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi, Kira. Paman Haruma dan Bibi Caridad pasti kalang-kabut kalau mendengar berita ini. Jadi sebelum mereka meneleponku dengan panik, aku akan memastikan mereka tidak perlu melakukannya."

Kira mengernyitkan dahi. "Tapi, Athrun..."

Terdengar suara dengusan keras. "Kau tahu? Biaya penerbangan bolak-balik ke PLANTs tidak murah untuk kurs ORB atau Heliopolis. Belum lagi tempat tinggalnya. Apartemen atau asrama? Pusat kota atau dekat universitas? Orangtuamu pasti panik kalau mereka sudah mendengar niatanmu ini, jadi aku berasumsi mereka belum dengar dan sebelum mereka mendengarnya, aku ingin memastikan semua sudah terkendali. Katakan bagian mana yang salah?"

Kira terkesiap. Baru teringat kalau ia memang belum memberitahukan keputusannya ini pada kedua orangtuanya—sekalipun tahu mereka pasti mendukung—dan belum juga memikirkan masalah lain di luar ujian masuk. Ia bahkan terkejut Athrun langsung memikirkannya. Seperti ibu-ibu saja.

"Kau terdengar seperti ibuku," ia berkata santai. Berkat pembicaraan tadi ia jadi teralihkan dari pemikiran ala benang kusut mengenai kata 'melarikan diri' tadi dan ia harus berterima kasih pada Athrun untuk itu. Tapi tidak sebelum ia berhasil mengatakan hal itu.

"Hah?" Athrun terdengar emosi. "Aku bukan—"

Tetapi Kira lebih dulu memotongnya. "Terima kasih ya."

Dan percakapan itu berakhir. Kemudian mereka baru memulai percakapan basa-basi ala teman lama baru berbicara kembali yang seharusnya dibicarakan di paruh awal percakapan ini.

...


...

Lacus tersenyum. Tidak-tidak, ini sebenarnya adalah tawa yang ditahan karena tidak ingin terlalu menyakiti lawan bicaranya, dan karena yang melakukannya adalah Lacus, yang terhasil adalah sebuah senyum terkulum yang lembut dan anggun.

Ia melakukan itu selama beberapa menit. Lalu ketika akhirnya ia berhasil untuk berhenti, Kira berkata tanpa mengalihkan pandangannya makanannya di meja. "Barusan kau tertawa?"

Lacus mendadak merasakan perasaan seperti ingin tertawa lagi karena mendengar ucapan itu, namun kali ini ia menahannya dengan lebih baik. Ia kembali tersenyum—sungguhan. "Maafkan aku," katanya dengan nada bersalah, "Sungguh, aku sudah berusaha untuk tidak tertawa tapi bagian terakhir itu sungguh... di luar ekspektasiku."

Mereka saat ini sedang makan di restoran Silverwind, sebuah posh restaurant bergaya Eropa yang anehnya memiliki nama yang tidak terdengar seperti nama restoran. Ini—menurut penuturan Kira di jalan tadi—adalah salah satu restoran di dekat studio balet Cagalli yang kelihatannya cocok untuk dimasuki oleh Kira dan Lacus yang sudah terlanjur mengenakan tuksedo dan gaun. Sebenarnya baik Kira maupun Lacus merasa baik-baik saja untuk memasuki restoran keluarga dengan pakaian seperti itu, tetapi Athrun—teman Kira yang dimintai rekomendasi olehnya mengenai restoran di dekat tempat pertunjukkan—mengatakan bahwa itu adalah pilihan yang buruk. Terutama karena kebanyakan tamu di restoran keluarga pada sore hari membawa anak-anak yang bisa membuat keadaan restoran menjadi kacau balau dan membuat gaun atau tuksedo yang mereka kenakan menjadi kotor.

Kira mendengus. "Jadi kau benar-benar tertawa?"

Kemudian Lacus terkesiap. "Astaga!" ia menutup mulut dengan sebelah tangan dan tersenyum menyesal. Kedekatan mereka beberapa bulan ini membuat ia lupa betapa mudahnya pria itu menjebak atau membacanya dalam berbagai situasi. Malam ini tampaknya bukan pengecualian.

Kira mengamatinya dan menghela napas panjang. "Tidak perlu setegang itu, sungguh. Kadang-kadang aku juga menertawainya kok, bagian akhir itu."

"Oh," Lacus bisa merasakan ketegangan mereda di bahunya dan berusaha menepisnya secara menyeluruh dengan satu senyuman. "Tapi aku benar-benar minta maaf."

"Bukan masalah."

"Jadi?"

Alis Kira terangkat sebelah mendengar pertanyaannya. "Jadi... apanya?"

"Hm?" Lacus memiringkan kepala dan menatap Kira dengan pandangan bertanya-tanya. "Ceritamu, jadi bagaimana kelanjutannya? Apa kalian benar-benar baru saling bertanya mengenai kabar dan sebagainya itu? Setelah percakapan seru tentang PLANTs?"

"Oh," kata Kira. Mengangguk-angguk seolah ia benar-benar melupakan hal itu dan membuat Lacus kembali merasakan gejolak untuk tertawa. "Itu? Hmm... begitulah. Aku juga merasa itu aneh, sebenarnya."

Pria itu terdiam dalam pose seperti patung pemikir setelah mengatakan hal itu, dan Lacus menatapnya. Mencoba mencari tahu isi benaknya dan menemukan setidaknya dua gagasan. Satu, Kira tidak tahu apa yang harus diceritakan selanjutnya. Atau dua, ia tahu namun tidak bisa menemukan cara mengatakannya. Matanya lalu berpendar ke sekitar, mencoba mencari sesuatu untuk memulai pembicaraan baru namun tak berhasil menemukan apapun. Tidak, sampai alarm di ponselnya berbunyi. Alarm penanda waktu pertunjukkan tinggal satu jam lagi.

"Mmm... Kira," Lacus berkata dengan hati-hati. Pria itu mengerjap pada kata-katanya. "Mungkin kita bisa melanjutkannya nanti, waktunya..."

"Eh? Apa?" Kira memutar lengan dan menatap arlojinya. "Kau benar, ayo."

"Hm."

Seperti seorang gentleman, Kira berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangan. Lacus tersenyum, berdiri, dan meraih uluran tangan pria itu. Membiarkan dirinya dibimbing. Kira sudah berpaling, tangan mereka masih terkait, dan itu memberi Lacus beberapa menit untuk merona. Jantungnya berdegup dengan pelan, sungguh pelan. Meski hentakannya begitu keras hingga ia bisa mendengarnya di tengah-tengah alunan musik jazz yang melatari restoran tempat mereka makan saat ini.

Ia begitu hanyut dalam rasa malu dan gugup hingga saat tersadar, Kira sudah memberhentikan mobilnya di luar sebuah teater tempat pertunjukan Cagalli diadakan.

"Kau siap?"

Lacus tersenyum, lagi. "Siap," katanya, membiarkan Kira sekali lagi membimbingnya.

Gedung tempat pertunjukkan Cagalli digelar rupanya bukan tempat yang asing baginya. Ia pernah bernyanyi di gedung ini. Tetapi baru kali ini, ia datang bersama seorang laki-laki yang membuat jantungnya menyanyikan sebuah nada yang mengalun harmonis namun bertentangan dengan akal sehatnya. Dan semakin ia mencoba menyangkal keberadaannya, ia justru semakin jatuh ke dalamnya.

...


...

Giselle adalah drama balet dua babak yang pada pentas perdananya disebut-sebut sebagai drama yang sensasional. Kisah yang mengambil latar di Rhineland pada abad pertengahan ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Loys yang selalu menggoda gadis desa bernama Giselle.

Loys sebenarnya bukan pemuda desa, melainkan seorang bangsawan bernama Count Albrecht yang sedang menyamar. Giselle sama sekali tidak mencurigainya, tapi Berthe—ibu Giselle—sudah mencurigai Loys. Berthe lebih ingin Giselle menikah dengan Hilarion, sesama penduduk desa. Wanita itu mengkhawatirkan tentang Wilis—roh gadis-gadis muda yang cintanya dikhianati dan mati tanpa menikah—terjadi pada Giselle bila ia berhubungan dengan Loys. Menurut legenda, di saat gelap Wilis akan membunuh setiap lelaki yang berani mendekati pemakaman mereka yang terletak di hutan. Giselle tidak memedulikan cerita ibunya hingga ia dan Loys tetap mengikuti perayaan panen bersama. Giselle dan Loys pun saling jatuh cinta.

Ketika waktu berburu bagi para bangsawan telah tiba dan Loys harus mengikutinya, Hilarion melihat Loys berkumpul dengan sesama bangsawan untuk membicarakan waktu perburuan. Ini membuatnya mencurigai Loys. Maka diam-diam ia masuk ke rumah Loys dan menemukan identitas Loys yang sebenarnya.

Pesta perayaan panen pun digelar. Di tengah-tengah pesta tampaklah Bathilde, tunangan Albrecht. Bathilde yang terpesona dengan tarian Giselle memberikan kalung kepada gadis itu. Karena kelelahan habis berburu, Bathilde memohon agar diperbolehkan beristirahat di rumah Giselle. Di tempat lain, Hilarion makin yakin akan identitas Loys saat ia menemukan lambang di pedang milik Loys yang sama dengan lambang terompet perburuan. Hilarion mengganggu perayaan panen. Ia berusaha meyakinkan orang-orang bahwa Loys adalah penipu.

Kebenaran makin terungkap ketika Bathilde keluar dari rumah Giselle dan segera mengenali Loys sebagai Albrecht yang kemudian diperkenalkannya sebagai tunangannya. Mengetahui hal itu Giselle sangat terkejut sampai hilang kewarasannya. Giselle menjadi gila. Hingga suatu ketika Giselle mengambil pedang Loys dan bunuh diri mengunakannya.

Hilarion yang merasa sangat sedih atas kematian Giselle menyendiri di dalam hutan. Pada waktu tengah malam, roh gadis-gadis Wilis—yang dipimpin oleh Myrtha, ratu mereka—keluar dari peraduan. Melihat itu, Hilarion makin melarikan diri jauh ke dalam hutan.

Datanglah Loys yang meletakkan bunga lili di atas makam Giselle dan melihat bayangan gadis itu. Loys mengikuti bayangan Giselle. Sementara itu para Wilis telah mengelilingi Hilarion dan memaksanya menari sampai mati.

Kemudian Myrtha memerintahkan Giselle untuk menggoda Loys dengan keindahan tariannya, serta mengajak Loys menari sampai mati. Giselle ingin menolak perintah Myrtha dan menolong Loys, tapi ia digerakkan oleh sebuah kekuatan untuk menari, seperti halnya Loys. Sekuat tenaga Giselle melakukan segalanya untuk melindungi Loys sampai Loys mendekati kematian.

Akhirnya Loys terselamatkan oleh cahaya fajar pertama. Para Wilis menghilang perlahan dan Giselle pun terlepas dari mereka karena kekuatan cinta. Sementara, tinggallah Loys berduka seorang diri.

...


...

Riuh tepuk tangan para penonton yang hadir malam itu bergema di seluruh teater sementara tirai menutup pertunjukkan setelah para pemain berbaris dan membungkuk, memberi hormat pada penonton. Kira yang mendapat tempat duduk di bangku VIP, ikut memberi standing applause bersama orang-orang yang duduk si sana. Sementara di sampingnya, Lacus juga berdiri dan bertepuk tangan. Senyum di wajah gadis itu membuatnya lega karena ketulusannya. Ia lega untuk Cagalli, setidaknya ketulusan dalam senyum itu menunjukkan bahwa Lacus menyukai, dan menikmati pertunjukkannya. Tidak berpura-pura melakukannya.

Lampu teater kembali menyala dan para penonton mulai di arahkan untuk keluar dari pintu-pintu yang disediakan. Setelah memakai mantelnya, Kira mengulurkan lengannya dan kembali memimpin jalan. Kali ini menuju keluar. Ponselnya berdering dan ia membukanya untuk menemukan pesan dari Athrun yang mengajak bertemu di apartemennya. Kira memikirkan untuk langsung menerima ajakannya namun mengubah niatnya, menoleh pada Lacus, iapun bertanya. "Apa kau sudah mau pulang?"

Lacus tersenyum dan menggeleng. "Belum, aku sudah minta izin untuk pulang larut. Apa itu pesan dari Cagalli yang mengajak bertemu?"

"Athrun," kata Kira mengoreksi. "Tapi ya, dia mengajak bertemu di parkiran."

"Kalau begitu ayo. Mereka pasti sudah menunggu."

"Hm."

Kira menggandeng lengan gadis itu sewaktu mereka melewati lorong yang mengarah ke parkiran. Ia melihat beberapa orang yang tadi dilihatnya juga ada di dalam, menonton pertunjukan. Orang-orang yang familier karena ia juga pernah melihat mereka di pertunjukan-pertunjukan Cagalli yang lain. Tetapi ia tidak begitu memedulikan siapa mereka, sampai dirasakannya Lacus mengeratkan pegangannya dan mengambil satu langkah mundur. Seperti bersembunyi.

"Kau kenal siapa mereka?" tanya Kira sambil berbisik.

Lacus mengangguk dengan cepat. "Mereka kritikus drama. Orang-orang yang paling kuantisipasi kedatangannya sewaktu masih bermain di opera dulu."

"Lalu?" Kira mengangkat alis. Terkejut mendapati sisi Lacus yang belum pernah dilihatnya sebelum malam ini. Dalam hati ia berterima kasih pada Cagalli, karena tanpa undangan dari saudari kembarnya itu, ia tak akan pernah melihat Lacus bersikap seperti anak kecil begini—bersembunyi di balik orang yang lebih besar dengan raut yang menunjukkan ketidaksukaan.

"Mereka itu musuh semua artis muda, termasuk aku. Dan kalau mereka sampai melihatku di sini, manajerku akan mendapat mimpi buruk."

"Karena mereka melihatmu bersamaku?"

Lacus mengangkat pandangannya dan menatap Kira dengan sepasang mata biru-kelabu jernih yang membulat sempurna. Tatapan anak rusa yang hampir menangis mungkin tepat untuk mendefinisikannya, tapi Kira tahu itu adalah ungkapan rasa bersalah dan penyangkalan.

"Tidak," ia menggeleng, "kalau hanya itu... bagiku tidak masalah. Lagipula seandainya orang-orang mengira aku berpacaran dengan Kira pun... selama kau tidak menganggapnya masalah, aku juga tidak akan menganggapnya masalah."

Kira tidak tahu harus mengatakan apa pada pengakuan gadis itu. Benaknya tidak mau melepaskan satu bagian dari keseluruhan ungkapan itu. Satu bagian yang mengganggunya. Benar-benar mengganggunya.

"...Lagipula seandainya orang-orang mengira aku berpacaran dengan Kira pun..."

Lalu...

"...selama kau tidak menganggapnya masalah, aku juga tidak akan menganggapnya masalah."

"Lacus," ujar Kira. Kedua alisnya membentuk kedutan samar di dahinya. "Barusan katamu..."

Sebelah tangan gadis itu melayang menutupi mulutnya sementara kedua matanya semakin membelalak horor. Tarikan napasnya terdengar seperti orang panik, dan tanpa membaca pikiran pun, Kira tahu gadis itu menyadari dirinya telah mengatakan sesuatu yang salah.

Lacus berhenti melangkah dan Kira tahu dugaannya benar. Ia menghela napas, lalu menarik gadis itu menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil. Kira membuka pintu, masuk, dan menyalakan mobil. Lacus mengikutinya ke dalam. Mereka duduk bersebelahan tanpa seorang pun memulai pembicaraan. Keheningan yang tercipta terasa sama salahnya dengan saat Kira mengantarkan gadis itu ke rumahnya dulu. Meski alasannya berbeda.

"Kau mau kuantar pulang?" Kira akhirnya mengambil inisiatif dan membuka pembicaraan.

...


...

Lacus merutuki kesalahan ucapannya. Ini salah, ini salah, ini salah... ia menegur dirinya sendiri berkali-kali sejak di lorong tadi. Saat ini mereka sudah di mobil Kira, mesin sudah menyala, dan Kira bertanya padanya apakah ia mau pulang.

Masalahnya ia belum mau pulang.

Kepalanya terasa begitu penuh dengan berbagai gagasan yang berseliweran di benaknya sepanjang perjalanan sejak mereka keluar dari gedung teater tadi. Ia ingin memuntahkan segalanya. Memberitahu Kira bahwa ia sungguh-sungguh memaksudkan ucapannya tadi. Bahwa baginya tidak masalah bila orang-orang melihat mereka bersama dan beranggapan kalau antara Kira dan dirinya terdapat hubungan khusus yang bukan persahabatan. Tetapi lidahnya terasa begitu kelu setiap ia hendak mengatakannya. Begitu juga seluruh tubuhnya.

"...aku gadis yang hidup karena kematiannya." Itu masalahnya.

Sejak menerima donor dari Fllay hampir setahun yang lalu, Lacus selalu beranggapan bahwa sebagian dari perasaannya pada Kira terjadi karena sekarang Fllay adalah bagian dari dirinya. Bahwa alasan jantungnya berdentam seperti staccato saat bertemu pria itu karena jantung itu milik Fllay, bukan miliknya.

Aku merasa mencintainya karena jantung-nya berdegup untuknya.

"Lacus?" suara Kira mengejutkannya. Ia mengerjap, menyadari dirinya pasti telah terdiam begitu lama hingga Kira memanggilnya.

"Maafkan aku," ujarnya, berusaha terdengar baik-baik saja meski sulitnya bukan main. Alasannya jelas. Ia bahkan sudah mengakuinya sejak lama. Bahwa Kira adalah orang yang kepadanya Lacus tidak ingin berpura-pura, dan lebih dari itu, ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri. Tersenyum—dengan sekuat tenaga—Lacus kembali mengusahakan agar dirinya terdengar wajar. "Tidak, Ayahku tidak akan kembali sampai besok pagi, paling cepat. Dan aku tidak suka sendirian di rumah. Jadi... yah, begitulah."

Kira mengernyit mendengar jawabannya dan Lacus memalingkan wajah nyaris segera. Menyadari kemampuan berbohongnya benar-benar tidak efektif di hadapan pria itu. Terlebih setelah ia mendengar responnya terhadap ucapannya. "Oke, aku akan berpura-pura bodoh dan percaya pada kebohongan payahmu. Kau pembohong yang buruk, Lacus Clyne."

Lacus terenyak. Tertusuk dengan kata-kata tajam Kira, juga nada yang digunakannya. Nada yang begitu sinis dan penuh dengan amarah. Kata-kata menghilang dari benaknya begitu saja. Ia berulang kali mencoba mengucapkan sesuatu namun kata-katanya selalu menghilang di ujung lidah. Meski tidak demikian dengan airmatanya.

Airmatanya mengalir. Mengalir dan mengalir. Menetes tak terhenti sambil membawa warna-warni make-upnya dan menjatuhkannya ke mantel yang dikenakannya. Memberinya sentuhan warna baru serupa palet cat minyak yang berantakan karena pencampuran warna yang dilakukan sang pelukis.

"Aku..." akhirnya hanya itu yang bisa terlisankan dari bibirnya. Lacus mulai sesegukan, dan Kira... Kira menepikan mobilnya.

"Aku mau pulang," kata Lacus, sesegukan dan terbata karena tangisan. Pandangannya memburam tapi ia tahu Kira menatapnya seperti ia menatap pria itu. Yang ia tidak tahu hanyalah bagaimana cara pria itu menatapnya. Dengan kebencian? Dengan amarah? Atau dengan rasa bersalah?

"Kira, terima kasih untuk malam ini, untuk segalanya. Tapi aku harus pu... la—"

Begitu tidak terduga. Lacus tidak merasakan apa-apa kecuali airmata dan isak tangisnya yang berganti dengan sentuhan lembut di bibirnya. Juga kekokohan lengan pria itu di kedua bahunya. Kira menciumnya. Dengan lembut dan berlama-lama. Ia juga merasakan bagaimana ibu jari pria itu mengusap airmata dari pipi dan sudut matanya selagi keduanya berhenti untuk mengambil napas.

"Ki-ra?" Lacus menarik diri, tangannya melayang menutupi bibirnya.

Ia masih belum bisa membaca ekspresi di wajah Kira karena airmata masih mengaburkan pandangannya. Tetapi ada sesuatu dari cara pria itu menarik napas dan berdeham yang membuat Lacus merasa kalau Kira sama gugupnya dengan dirinya. Bahwa bahkan di saat ia masih meragu, Kira sudah membuat keputusan. Keputusan untuk mereka berdua.

"Aku menginginkanmu, Lacus. Kau, dan hanya dirimu."

...


...

Sudah hampir dua bulan sejak kejadian di malam hari tanggal 24 Desember itu. Hari-hari setelahnya begitu sibuk bagi keduanya. Kira menyibukkan diri di rumah sakit karena kenangan mengenai malam tahun baru masih membekas begitu nyata di benaknya. Seperti mimpi buruk yang tidak mau hilang. Begitu juga dengan Lacus, ia—dengan segala kegiatan pra-kuliahnya di kampus, dan persiapan apartemennya—nyaris tak menemukan kesempatan bahkan untuk sekadar menghubungi kekasihnya.

Lalu sekarang, pada tanggal empat di bulan Februari, Lacus Clyne untuk pertama kalinya tidak menemukan tulisan apapun dalam agenda yang dibuatnya. Sesuatu yang sangat jarang terjadi sejak ia mulai kuliah. Ia mendesah panjang, memandang langit-langit kamarnya di apartemen, dan membentuk kedutan muram di bibirnya.

Besok adalah hari ulangtahunnya dan satu-satunya pesan yang ia terima hari ini hanya berupa permohonan maaf dari ayahnya karena beliau mempunyai jadwal meeting di Copernicus yang tidak bisa ditinggal. Sesuatu yang kurang-lebih bisa diartikan sebagai pernyataan kalau besok, ia akan menghabiskan hari ulangtahunnya seorang diri karena teman-teman kuliahnya juga tidak ada yang bisa diajak jalan. Semuanya punya kesibukan masing-masing mengingat hari valentine sudah dekat dan mereka—katanya—belum menyelesaikan hadiah untuk pacar-pacar mereka.

Lacus tidak bisa bilang ia sudah menyiapkan sesuatu, tapi kalau ditanya, ia akan berkata begitu. Nyatanya ia masih terlalu frustasi dengan ulangtahunnya untuk memikirkan valentine yang tinggal minggu depan.

Ia sudah mencoba menghubungi Shiho kemarin-kemarin. Tapi seperti ayahnya, mantan kakak tirinya itu juga sedang sibuk. Shiho mengaku dirinya ditunjuk menjadi panitia acara kemiliteran oleh atasannya, dan ia tidak bisa berkata tidak kalau masih mau diaku sebagai tim elite. Dalam percakapan mereka, Shiho berulang kali mencaci-maki si atasan dan menuduhnya sebagai diktator. Tetapi karena tidak punya wewenang dan masih sayang jabatan, mau tidak mau Shiho pun harus melaksanakan tugasnya.

Ponselnya berdering tepat ketika Lacus sudah hampir tertidur saking bosannya. Ia bangkit dengan mendadak. Duduk di atas tempat tidur dan langsung meraih ponselnya dari meja belajar di samping tempat tidurnya. Perasaannya langsung membaik begitu melihat nama Kira tertera di layar sebagai penelepon.

"Kira! Hai... ummm... maaf, aku..."

Embusan napas yang terdengar dari seberang telepon membuat perut Lacus bergelenyar hebat. Kira tersenyum!

"Hai," Kira membalas sapaannya dengan suara separuh tertawa. Kemudian suara Kira menjauh—membuat Lacus mengangkat sebelah alis—dan tak lama kemudian kembali. "Diangkat pada dering pertama, huh? Apa kau se-kesepian itu?"

Lacus terperangah. "Kira!" ia mulai protes, tapi memilih tidak meneruskannya. Karena itu ia lalu berdeham, "Apa kabar?"

"Ehem. Karena sudah mendengar suaramu, aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong aku menelepon untuk mengabarimu kalau aku lulus ujian residensi," Kira mengumumkan dengan riang. Nada gembira dalam suaranya membuat Lacus ikut berbahagia, meski tidak begitu mengerti. Mengambil buku catatan kecil, Lacus menulis kata 'ujian residensi' dan mengakhirinya dengan tanda tanya. Lalu menambahkan teman sekelasnya—yang merupakan anak jurusan kedokteran—di bawah kata itu.

"Oh, selamat ya," katanya riang.

"Aku ingin merayakannya, berdua. Athrun dan Cagalli belum tahu soal ini, jadi kalau mereka bertanya bilang saja kau tidak tahu. Kapan kau ada waktu?"

Lacus melirik kalender di atas sandaran tempat tidurnya dan menghela napas. Memang, bukan perayaan ulangtahun seperti yang diinginkannya. Tapi menghabiskan satu-dua hari bersama Kira juga bukan hal buruk. "Aku tidak ada acara sampai tanggal enam. Apa kau mau aku kesana?"

"Tidak," kata Kira, terdengar begitu tegas. "Aku yang akan ke tempatmu. Kita bisa makan siang, setelah itu... entahlah. Kau lebih kenal Junius, bagaimana kalau kau yang atur saja? Lagipula kau tinggal di apartemen kan?"

Pernyataan ini membuat kedua pipi Lacus membara. Apa?

"Apa?" ia melafalkannya. Lalu menyesalinya, "Maaf, maksudku... ya. Aku tinggal di apartemen, bukan di asrama. Kau bisa menginap di sini kalau mau."

"Bagus, akan kukabari lagi besok," Kira menutup pembicaraan mereka. "Sampai jumpa, Lacus."

"Sampai jumpa, Kira."

Lalu Kira memutuskan sambungannya.

...


...

"Wow, Kira. Aku tidak tahu kau bisa seculas itu."

Kira melempar lirikan tajam pada saudara kembarnya, "Diam, Cagalli."

Tetapi Cagalli malah tertawa. Tawa renyah yang bagi Kira terdengar menyebalkan. "Hahaha, maksudku... Lacus benar-benar tidak curiga, huh? Kau? Kira si dokter magang tampan yang rajin, kan? Dia pasti akan curiga kalau tidak dibutakan dengan cinta."

"Ukh," Kira mendengus. "Hentikan. Tapi well, trims. Dia kedengarannya senang sekali."

Cagalli mengendikkan bahu. "Mau bagaimana lagi? Habis yang kudengar Siegel Clyne sedang sibuk mengurus bisnis di Copernicus sementara besok adalah ulangtahun Lacus. Oh, dia pasti uring-uringan sekali sebelum kau meneleponnya."

Kira menusukkan garpunya pada telur di katsudon yang menjadi menu makan siangnya hari ini. Ia sedang rehat, dan berencana makan siang sendiri di kantin rumah sakit ketika tiba-tiba Cagalli menelepon dan meminta bertemu di Kusanagi, lagi. Katanya ada urusan penting yang harus ia diskusikan dengan Kira dan tidak bisa menunggu.

"Ngomong-ngomong kau dengar dimana?"

Cagalli mengunyah potongan dragon roll sushi-nya sebelum menjawab. "Situs penggemar," ia berkata santai. "Aku mengikuti isunya sejak pertemuan kita—kau, aku, dan Lacus—di sini tempo hari. Kupikir karena kau tidak suka gosip, biar aku saja yang menjadi wingman-mu. Hitung-hitung memastikan gadis itu menjadi adik iparku."

"Cukup tentang aku—dan Lacus—bagaimana kabar hubunganmu?"

Raut wajah Cagalli mendadak berubah. Pipinya merona dengan kentara, dan suaranya menjadi ceria—baiklah, agak terlalu ceria. "Kami baiiiik-baiiiiik saja. Oh, tadi dia menitipkan pesan 'semoga sukses' untukmu juga."

"Tadi?" tanya Kira. Berusaha mengabaikan respon Cagalli yang menurutnya berlebihan. Terlalu dramatis, mungkin. Kalau tidak hanya terlalu ceria.

"Iya, tadi. Dia mengantarku menemui dokter kandungan."

Pernyataan ini membuat Kira tersedak. "Apa?"

"Mm-hm," alis Cagalli bergerak naik-turun. "Kami menemui dokter kandungan, Kira, karena aku sudah tidak datang bulan sejak pertunjukan Giselle. Apa? Kau mau mendengar detailnya?"

Kira meringis. "Tidak, terima kasih," katanya dengan ekspresi seperti melihat cacing atau ulat bulu. Campuran tidak harmonis antara takut dan jijik. "Simpan detailnya untukmu sendiri, Cagalli."

"Iya kan?" kata Cagalli, nadanya tidak terdengar seperti pertanyaan. "Athrun juga bilang begitu. Katanya, kalau kau pasti tidak mau dengar. Tidak seperti temannya di tempat kerja."

Kira menginterupsi sebelum Cagalli membahas lebih jauh lagi, "Aku benar-benar tidak perlu mendengar ini."

Kemudian ia menambahkan. "Jadi?"

Cagalli sempat menampakkan ekspresi seperti ingin bertanya tapi mengubahnya. Tersenyum, ia berkata dengan bangga. "Hasilnya positif."

"Oh," Kira ikut merasa gembira. "Selamat ya."

"Iyaaa~" Tetapi ia tetap merasa reaksi Cagalli berlebihan.

"Oke," Kira kembali memakan katsudon-nya. Sebuah pertanyaan tiba-tiba terbentuk di benaknya. "Bagaimana dengan kariermu?"

"Karierku? Oh!" Cagalli meneguk ocha panasnya. "Tidak ada masalah. Aku masih bisa latihan sebelum kandunganku membesar. Dan lagi pertunjukan balet kan tidak diselenggarakan sepanjang tahun, jadi... yah. Tidak ada masalah."

"Hmm..."

"Tapi aku senang sekali, Kira!" tiba-tiba Cagalli berseru. "Aku akan punya anak Kira! Anakku sendiri! Kau tahu, ini adalah berita paling menggembirakan kedua setelah konfirmasi bahwa kita adalah saudara!"

Kira tersenyum. Konsep apapun yang membuat Cagalli tampak begitu bahagia dan berseri-seri masih begitu abstrak di benaknya. Ia ikut senang mendengar berita itu, tapi masih bertanya-tanya dalam hati mengapa Cagalli bisa kelihatan sepuluh kali lebih gembira dari dirinya.

Pertanyaan yang akhirnya mewujud dalam satu bentuk. "Kenapa?"

Begitu spontan dan tidak terduga, Kira berharap Cagalli tidak mendengar pertanyaannya dan sakit hati karenanya. Tetapi sewaktu menatap Cagalli, ia tidak menemukan kesedihan di wajah saudarinya. Hanya sebentuk ekspresi ala ibu-ibu bijaksana, dengan alis menurun dan bibir tersenyum simpatik. "Kau akan tahu pada saatnya Kira. Tapi biar kuberi kau satu petunjuk."

Kira memperhatikan bagaimana Cagalli menarik napas panjang dan mengembuskannya ke samping. Lalu kembali menatapnya, dengan pandangan dan senyum simpatik yang sama. "Sebelum aku tahu kau saudaraku, Kira. Aku merasa sebatang kara. Athrun memang membuatku tidak merasa sendirian, tapi dia dan aku tidak sedarah, Kira. Nadi kami tidak dialiri darah yang sama, tidak seperti kau dan aku."

...


...

Lacus mematut dirinya di cermin sekali lagi, memastikan penampilannya sudah cukup—ia beranggapan kalau menggunakan kata 'sempurna' untuk mendeskripsikan penampilan sendiri adalah salah satu bentuk narsisme—dan tersenyum.

Dengan panjang yang sudah bertambah dalam dua bulan terakhir, Lacus membentuk gaya asymetrical bob untuk rambut ikal merah mudanya. Sementara wajah dan gaya berpakaiannya masih sama. Make-up natural bernuansa pinkish, halter dress selutut pink pastel yang simpel namun tetap sophisticated ketika dipadu bersama bolero putih rajut berlengan pendek dan sepasang high-heels sneakers putih dengan garis keemasan. Ia juga membawa tote bag berbahan kanvas simpel dengan tulisan I Love Junius—yang dibeli di toko souvenir universitas, kembaran dengan teman-teman se-prodinya—dan memakai kalung simpel berliontin cincin milik ibunya.

Ia membuka tas dan mengecek isinya, memastikan benda-benda esensial yang diperlukan ada dan menutup tasnya setelah memastikan kelengkapannya. Sesudahnya Lacus keluar apartemen, menguncinya, dan berjalan menuju tempat janjian yang lokasinya sudah ia beritahukan pada Kira melalui sms. Sebuah restoran di dekat kampusnya, yang menyajikan makanan bergaya Inggris di era viktorian, Eternal.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang ketika Lacus—yang mengunakan taksi karena baru bisa menyetir tetapi belum cukup percaya diri untuk membawa mobil sendiri mengingat ia masih mahasiswa baru—tiba di depan Eternal. Hatinya berbunga-bunga membayangkan akan bertemu dengan Kira di hari ulangtahunnya. Ia menantikan hal ini, dan menganggapnya cukup sebagai hadiah. Tetapi bila Kira membawakan sesuatu yang disebut hadiah, itu bisa disebut bonus. Lagipula, ia juga membawa hadiah untuk Kira berupa syal dan sepasang sarung tangan buatan sendiri, kembaran dengan miliknya dan polos sehingga tidak akan memalukan bahkan untuk dipakai oleh seseorang seperti dia.

Semalam ketika memberitahukan alamat restoran, Kira membalas informasinya dengan mengatakan kalau ia akan tiba sekitar jam setengah satu siang. Lacus tahu itu masih setengah jam lagi. Tapi ia terlalu gembira untuk membiarkan setengah jamnya tersia-sia di apartemen dengan rasa penasaran dan sebagainya.

Lacus membuka pintu, masuk, dan mendapati dirinya disambut oleh seorang pelayan berwajah ramah. Nametag di dadanya bertuliskan 'Julie'.

"Selamat siang, untuk berapa orang?"

Ia tersenyum."Saya sudah memesan tempat."

"Baik," Julie berjalan ke arah kasir. "Atas nama siapa?"

"Yamato."

Gadis itu mengecek daftar tamunya. "Ah, iya. Untuk dua orang atas nama Yamato. Silahkan, sebelah sini."

Tersenyum, Lacus mengikuti pelayan itu menuju satu meja di tempat yang nyaman di sudut restoran. Tempat yang terasa eksklusif karena jauh dari keramaian, namun bersih karena tidak dekat dengan dapur atau yang lainnya.

"Bagaimana? Apa Anda menyukai tempat ini?"

Ia mengangguk. "Ya, terima kasih."

"Silahkan," Julie mengeluarkan sebuah buku bertuliskan menu. "Kalau sudah siap memesan tolong tekan tombol ini," ia menunjuk sebuah tombol mungil di meja.

"Sekali lagi terima kasih."

Lalu Julie pun memutar tumit dan berlalu. Sementara Lacus membuka buku menu dan menelitinya sepeninggal Julie.

Sampai ponselnya berdering dan nama Kira memenuhi layarnya.

Lacus menekan tombol terima dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Kira, sudah dimana?"

Ia mendengar suara embusan napas dan menduga pria itu sedang tersenyum. "Aku baru melewati gerbang kota. Junius, cantik ya..."

Suara yang terdengar berikutnya membuat Lacus membelalak terkejut. Ada bunyi benturan keras, diikuti decitan ban mobil yang hanya terjadi bila si pengemudi mengerem dengan kuat, dan bunyi lain yang pernah didengarnya di film-film action; yaitu bunyi senapan yang dibuka.

"Kira?" tanya Lacus berhati-hati. Ia menelan ludah dengan keras, mencoba mengatasi rasa takut yang menjalari benaknya dengan cepat. Dan semakin cepat, karena suara-suara itu terdengar semakin keras, silih berganti, namun tidak memudar. "Kira!?"

"Lacus..." suara Kira akhirnya terdengar, terengah-engah seperti kelelahan, dan dipenuhi getaran parau—seperti orang yang sedang menahan tangis. "Aku ingin..."—kemudian terdengar suara decitan lagi—"Kau ingat..."

Suara benturan benda keras kembali terdengar, diikuti suara letupan senjata api yang begitu nyata. Begitu keras. Dan tidak hanya terdengar di telepon tapi juga di luar. Lacus terkesiap, kepalanya berputar dengan kaku ke arah sumber suara dan ia tidak sendiri. Semua orang yang ada di dalam restoran ikut menoleh ke arah yang sama.

Lalu... "Aku ingin kau ingat kalau aku cinta padamu. Selalu."

Kemudian sambungannya terputus.

Panik, Lacus memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan berlari keluar. Ia tidak peduli betapa orang-orang melihatnya dengan tatapan bertanya-tanya. Ia berlari, menyusuri jalan raya sejauh beberapa kilo yang membentang antara restoran tempat dirinya menunggu Kira sampai beberapa menit yang lalu dengan gerbang kota. Belakangan ia memikirkan bagaimana dirinya bisa berlari sejauh empat kilo tanpa berhenti mengambil napas walau sepanjang ingatannya, ia tidak pernah mempunyai nilai olahraga yang lebih dari batas kelulusan, dan berakhir pada asumsi bahwa adrenalin-lah yang menggerakannya.

Ia berlari, dan terus berlari. Sampai dirinya tiba di tempat kejadian perkara dan melihat... asap.

Mobil yang dikendarai Kira, terperosok dari bahu jalan dan jatuh ke dekat sungai Seven. Polisi sudah tiba di tempat itu, kemungkinan beberapa menit sebelum dirinya. Mobil itu berasap, namun... tidak ada seorang pun di sana.

Lacus menutup mulut dengan kedua tangannya. Mencoba untuk tidak berteriak histeris meski airmata mengalir di pipinya tanpa henti. Terus, dan terus mengalir. Kali ini tanpa Kira untuk berdiri di hadapannya, mengulurkan tangan, dan mengusapkan ibu jarinya untuk menghapusnya.

Ia berdiri. Sendiri. Menangis di bawah naungan salju yang berjatuhan.

"Kira..."


A/N:

Uuuuuu...

Did you think this is it? No!

This won't be how things end between Lacus and Kira. Well, some questions has been answered, others pops up.

From here on out, I will try my best to not fail you with some crappy actions. I'll do research so the action part would be nice, blood-thrilling, and well... T-rated kind, I hope.

Because I really don't want to make M-rated one, certainly not.

Anyways, I do wish you all a good day and good time. Be right back before you know it!

Cheers,

,

K. Hiyama

P. S. Let me know how you think of this story by send me reviews, constructive criticism and advice are the most welcome!