Hakyeon's Wolf

LEON FANFICTION

.

.

.

Jung Taekwoon

Cha Hakyeon

.

.

.

.

.

.

.

Terjemahan, dengan ubahan.

Dengan judul asli "Jaynel's Wolf"

Chapter 6

.

.

.

.

"Aku disini jika anda membutuhkan seorang gnome." Ucapnya dengan bahasa gnome. Berita tentangnya yang bisa bahasa gnome pasti sudah menyebar kemana-mana.

Hakyeon mendesah. Dia tahu hal seperti ini akan segera terjadi, tapi tidak secepat ini. Dia kira dia punya persiapan setidaknya beberapa hari sebelum mereka muncul. Para gnome sangat gampang tertarik dengan kekuatan sihir, itulah kenapa mereka kebanyakan bekerja di sekitar kejaksaan sihir, ataupun sekolah-sekolah dimana kebanyakan orang menggunakan sihir. Hakyeon dengan kekuatan sihirnya yang tanpa batas, tentu saja dengan mudah mengundang mereka mendatanginya.

Jalan keluar dari kekacauan yang mungkin diperbuat lima laki-laki dalam satu asrama muncul dipikirannya. Setelah mereka lulus, mereka pasti punya gnome sendiri. Namun sayangnya, di level ini mereka belum bisa kekuatan yang cukup untuk memiliki mereka.

"Mungkin aku butuh. Apa kualifikasimu?" sahutnya dalam bahasa korea.

"Kupikir kau bisa menggunakan bahasa gnome."

"Aku bisa. Tapi teman sekamarku tidak. Jika kau ingin bekerja padaku, mereka harus bisa berkomunikasi denganmu juga."

Sebelum gnome dihadapannya itu sempat menjawab, seorang gnome lain muncul disampingnya. Dia menggunakan dress warna merah muda dan anting di telinga kirinya.

"Selamat siang, Master. Aku dengan senang hati mengajukan diri menjadi gnomemu."

"Mundur, Calla. Aku disini lebih dulu." Ucap gnome dengan jaket kulit, cemberut.

"Tapi aku yakin, dia akan memilih seseorang yang sudah berpengalaman, Thorn." Calla mengedipkan matanya pada Hakyeon. "Aku sudah dilatih oleh ibuku yang bekerja sebagai gnome rumah selama ribuan tahun."

Percikan cahaya lain membawa dengan gnome dewasa dengan rambut perak yang tersenyum manis pada Hakyeon. "Salam, tuan. Apa kau membutuhkan gnome lain?"

Hakyeon menatap Taekwoon. "bagaimana dengan werehouse?"

"Werekin tidak bisa memiliki gnome." Ucap si rambut perak dengan halus. "walaupun mereka makhluk sihir, mereka tidak bisa mengawasinya."

Hakyeon mengangkat kedua bahunya. "Aku bisa mengurus sihirnya."

Ketiga gnome itu menatapnya dengan mata terbuka lebar.

"Apa?"

"Seberapa jauh kau bisa menanggung kami?" tanya si rambut perak, suaranya sekarang lebih terdengar tajam.

Hakyeon memikirkannya sebentar. "Yang palig jauh adalah untuk rumah nenekku, dan hanya satu bulan. Ketika dia meninggal aku melepas mereka." Hakyeon tidak bisa menyimpan gnome untuk rumahnya sendiri, karena ayahnya sangat pemilih untuk siapa saja yang diperbolehkan masuk kedalam rumahnya dan gnome termasuk dalam daftarnya.

"Apa maksudmu dengan menanggung para gnome?" tanya Taekwoon. "Seperti yang dia katakan,kita tidak memiliki shir jadi tak faham tentang menyimpan mereka."

"Para gnome biasanya hidup dan bekerja dirumah pemilik mereka karena mereka tetap harus berdekatan dengan kekuatan pemiliknya. Kebanyakan gnome bergantung kekuatan pemiliknya, agar tetap terikat. Aku bisa membuat kekuatan baru dan membiarkannya lepas dari sihirku tanpa membuat para gnome hidup bersamaku, tapi tetap memiliki batas jarak."

"dan jarak rumahmu dengan rumah nenekmu?" tanya Thorn. Mata hijau keperakannya bersinar dengan ketertarikan.

Hakyeon mengingat-ingatnya. "Mungkin duapuluh mil."

Dan keterkejutan yag diterimanya membuat Hakyeon menyadari sekali-lagi dia terlalu menunjukkan kemampuannya. Dia benar-benar harus menahan diri agar bisa bersekeloah dengan nyaman.

"Itu artinya aku bisa menjadi murid disebuah bengkel di kota." Ucap Thorn.

Taekwoon mengerutkan keningnya. "Ku pikir kau hanya ingin menjadi gnome rumahan."

Thorn menunduk. "Hanya tuan manusia saja yang kekuatannya bisa menganggung kami, dan para mekanik tidak cukup kekuatan untuk melakukannya. Tak banyak penyihir yang juga bekerja sebagai mekanik."

"Katakan keinginanmu, Thorn" ucap Hakyeon, menatap gnome muda penuh mimpi itu dengan mata berbinar. "Jika kau menemukan tempat untukmu bekerja di bengkel, aku akan menanggungmu. Tapi kau juga harus bekerja mengurus mobil-mobil para werewolf." Hakyeon tidak memiliki mobil, tapi dia tahu para gnome akan merasa berhutang jika dia tidak mengambil tawaran balasannya. Memang seperti itu.

Senyum Thorn sangat indah, "Baiklah, deal." Gnome itu lalu mengulurkan tangannya.

Hakyeon melingkarkan jemarinya di lengan gnome itu, dan ujung jarinya memercikkan cahaya. Tiba-tiba Thorn tertawa.

"Apa yang lucu?" tuntut calla.

"Ini geli." Jawab Thorn, tertawa lagi saat Hakyeon menarik tangannya lagi.

Si rambut perak menatap Hakyeon dengan tatapan kaget. "Ketika aku pertama kalinya membuat ikatan, rasanya terbakar."

Hakyeon tak tahu harus membalas apa. "Aku yakin teman sekamarku dan aku akan dengan senang memiliki gnome yang berpengalaman untuk kamar kami." Dia tidak ingin membuat gnome itu melanjutkan gosipnya tetang pemiliknya yang dulu.

Dengan perlahan Hakyeon mengulangi pengikatannya dengan dua gnome lain. "Aku hanya bisa mengikat setidaknya limabelas gnome, dan aku sudah tidak membutuhkan yang lain lagi untuk kamarku."

Dan dengan anggukannya ketiga gnome itu menghilang dari pandangannya.

Taekwoon menggelengkan kepalanya. "Tak pernah ada kejadian membosankan disekitarmu, kan?"

Hakyeon mengangkat bahunya. "Tak satupun bisa kutemukan. Aku tidak masalah merasa bosan sekali atau dua kali disela-sela kehidupan luar biasaku."

Dia bisa menangkap dari tawa Taekwoon bahwa dia menganggap dia sedang bercanda. Sedihnya, dia tidak. Dia tidak pernah mencari masalah, tapi hal itu tidak menyurutkan niat para masalah untuk datang padanya. Dan Hakyeon tida pernah bisa menolak mereka.

Taekwoon menepuk tangan Hakyeon. "Kau pikir teman sekamarmu akan menyukai mereka."

"Yah, mereka akan punya orang yang akan membersihkan kamar dan menata tempat tidur mereka. Jadi, kupikir mereka akan baik-baik saja." Hakyeon tidak pernah menemukan seorang pun yang menolak para gnome. Dan jangan lupakan, anak laki-laki dan ketidakrapian mereka.

"Ide bagus. Selain itu kau tidak akan terlalu sering melihat kamarmu jadi aku tidak terlalu peduli betapa bersihnya mereka membersihkan kamarmu. Sekarang kita resmi, dan aku ingin kau hidup denganku."

Hakyeon sudah akan mengelaknya, tetapi diam-diam dia setuju. Sebagai mate, serigala Taekwoon pasti ingin Hakyeon berada didekatnya ketika malam. Meskipun, dia sudah setuju untuk terikat dengan Taekwoon selamanya, itu bukan berarti dia akan menyerahkan segalanya. "Akan kupikirkan lagi."

Dia tidak ingin mengawali hubungan mereka dengan membuat Taekwoon berpikir dia akan menuruti semua keinginannya.

Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Taekwoon mengantar Hakyeon kembali ke asramanya, dan berhenti di tangga bawah.

"Aku harus kembali bekerja." Ucapnya.

Hakyeon memiringkan kepalanya dan menatap kekasihnya dengan tatapan ingin tahu.

"Apa yang kau lakukan?" malam sebelumnya, mereka lebih banyak mempelajari tentang spot-spot sensitif Hakyeon daripada membicarakan tentang karir Taekwoon.

"Aku adalah kaki tangan saudaraku. Tugasku menjadi penengah antara dia dan keluarga. Membedakan mana yang benar-benar membutuhkan bantuan Alpha dan mana yang hanya ingi komplain. Terkadang juga dipanggil untuk mengurus perang teritori antar keluarga werewolf karena aku yang paling kuat."

"Yah, berhati-hatilah dan jangan mulai pertarungan apapun tanpaku. Dan aku mengingatkanmu lagi tentang buku yang pernah kau janjikan."

"Aku harus masuk dan mengobrak-abrik isi perpustakaan untuk menemukannya. Akan kutemukan nanti malam. Aku masih sedikit heran kau tidak tahu sedikitpun tentang kami."

Hakyeon menyetujui ucapan Taekwoon. Werewolf itu benar. Fakta bahwa dia tidak tahu banyak tentang werekin itu aneh.

"Tidak seperti werekin diabaikan atau dianggap tidak penting, tapi ayahku tak punya buku tentang mereka, ata informasi yang cukup." Hakyeon mengerutkan dahinya. "Bisa dibilang koleksi ayahku adalah yang paling lengkap di dunia sihir, tapi aku tidak ingat ada buku tentang werekin. Aneh."

"Memang aneh," Taekwoon menyetujuinya, lau memeluk Hakyeon. "Mungkin dia tahu sesuatu dan dia tidak ingin membuatmu menduga-duga tentang werekin."

Bayangan-bayangan samar muncul diingatan Hakyeon dengan singkat. Sesuatu tentang ayahnya dan seorang tamu dirumahnya tapi dia masih terlalu kecil untuk memahaminya. Mungkin suatu saat akan muncul lagi dimimpinya. Hakyeon seringkali bermimpi tentang memori-memorinya.

Hakyeon mengangkat kedua bahunya. "Mungkin dia memiliki prasangka buruk tentang jenismu, dan aku tak pernah menyadari. Dan aku ingat kami tak punya banyak hubungan dengan para werekin –semua tutorku adalah penyihir."

"Apa dai pernah mengatakan sesuatu tentang werekin?" tanya Taekwoon. Dan memiringkan kepalanya seperti anjing penasaran.

Hakyeon meringis. "Ayahku tak pernah berkata buruk tentang seseorang. Dia Cuma seorang yang semacam itu." Ayah Hakyeon selalu jadi laki-laki yang manis dan ayah yang bertanggung jawab. Dia selalu merindukan istrinya lebih dari apapun, dan menginginkan putranya hidup dengan baik. Tanpa Hakyeon, mugnkin ayahnya sudah hidup ribuan tahun. Dan ahakyeon ingat ayahnya sering mengatakan bahwa lebih memilih hidup beberapa tahu bersamanya, daripada hidup berabad-abad tanpanya.

"Aku mungkin akan senang bertemu dengannya." Ucap Taekwoon.

Membayangkan dua laki-laki kesayangannya bertemu membuat Hakyeon tersenyum. "Dia pasti akan menyukaimu."

Ayahnya selalu bicara tentang betapa pentingnya memiliki pasangan yang memberinya bahu untuk bersandar dan menemani kehidupannya. Memori tentang ayahnya memenuhi matanya. Dan dengan cepat berkedip agar Taekwoon tak menyadarinya. Kebanyakan lelaki tak ingin punya kekasih yang cengeng, atau setidaknya menurutnya. Dia tak pernah punya kekasih sebelumnya. Dan pemikiran tentang itu membuat Hakyeon menatap Taekwoon lagi.

"Seberapa lama kau paling lama memiliki kekasih?"

"Kekasih? Aku tidak pernah punya." Ucap Taekwoon dengan senyum.

"Tidak pernah?"

Taekwoon menggelengkan kepalanya. "Aku selalu menunggu belahan jiwaku. Aku tidak akan berhenti dan berakhir dengan seseorang selagi masih punya harapan. Kebanyakan para werekin menunggu hingga hampir separuh hidup mereka sebelum akhirnya berakhir dengan sesorang yang bukan mate mereka."

"Jadi kalian hanya menunggu hingga kau menemukan yang cocok."

Taekwoon memiringkan kepalanya. "Yah, setelah dipikir lagi. Jika aku memutuskan bersama seseorang, dan tiba-tiba menemukanmu, aku tak akan dengan mudah meninggalkannya. Terlalu kejam. Lebih baik aku berkencan berkali-kali daripada harus merusak hidup seseorang."

"Masuk akal."

Satu tangan besar mengusap rambut Hakyeon. "Kalian para manusia memiliki urusan yang sangat rumit. Werekin lebih mudah. Setelah mencapai masa pubertas, kami melakukan seks dengan siapapun, kemudian berharap menemukan mate kami, lalu hidup tenang setelahnya."

"Bagaimana jika aku belum siap dengan hidup tenangmu?" Terucap sudah. Sekarang Taekwoon tahu apa yang dia rasakan. Dia hampir lupa bernafas saat menunggu jawaban Taekwoon.

Dan senyum manis Taekwoon menenangkannya.

"Aku lebih memilih kau hidup denganku, tapi bukan sebuah kewajibanmu. Jika kau lebih memilih tetap berada di sekolah, aku akan mencoba bersabar. Aku hanya memintamu menyelamatkan kehidupan dengan tidak membiarkan seseorang menyentuhmu."

Mata Taekwoon berubah kebiruanan beberapa saat. Dan Hakyeon punya perasaan serigala dalam diri Taekwoon punya pendapat berbeda untuk hal itu.

Hakyeon mengerutkan keningnya, mencoba memahami alur pemikiran Taekwoon. "Apa hubungannya dengan menyelamatkan kehidupan?"

Senyum manis Taekwoon berganti dengan sepasang taring yang muncul. "Karena kemudian, aku harus membunuhnya." Ucapnya dengan suara dalam, lebih rendah dua oktaf dari nada suara biasanya. Jika Hakyeon belum tahu bahwa werewolf dihadapannya itu adalah matenya mungkin dia sudah ketakutan. Mata Taekwoon sudah berubah warna menjadi biru sempurna pertanda serigalanya sudah ambil kendali. Dan satu jawaban salah akan mengubahnya jadi serigala sempurna.

Hakyeon mengusap dada bidang Taekwoon. "Santai, bocah serigala. Aku faham, selain itu aku sudah mengatakan padamu aku tak akan selingkuh. Aku tidak inging bertanggung jawab atas penganiayaan seseorang."

Dia tidak ragu serigala Taekwoon akan dengan senang memenggal kepala seseorang yang berani menyentuhnya. Namun sebenarnya Hakyeon harusnya lebih peduli tentang keposesifan Taekwoon yang membuatnya turn on.

Taekwoon lalu menggenggam jemari Hakyeon.

"Bagus," ucapnya dengan nada suara normalnya. "Walaupun sebenarnya aku siap memindahkanmu kedalam keluarga, aku mengerti jika kau masih ingin waktu lebih untuk keluar dan bersenang-senang. Tapi ingatlah untuk mengajakku ketika kau mau pergi minum. Aku tidak ingin kau masuk kedalam situasi yang tak bisa kau kendalikan. Dan selain itu, aku juga membenci banyak orang menempelimu dan meninggalkan bau mereka padamu."

"Aku bisa melindungi diriku sendiri." Dan pemikiran ada ditengah banyak orang membuat Hakyeon gugup. Tumbuh hanya dengan ayah dan tutor-tutor disekitarnya membuat Hakyeon tidak biasa dengan keramaian. Tapi dia tetap ingin merasakannya.

Taekwoon mencium keing Hakyeon. "Hanya karena kau bisa memlindungi dirimu sendiri tidak berarti kau harus melakukannya."

Mereka berciuman sekali sebelum akhirnya benar-benar membiarkan Hakyeon masuk asrama.

Hakyeon melamun sepanjang jalannya ke kamar. Bagaimana rasanya terikat dengan matenya selamanya? Sedikit kekcewaan muncul dipikirannya. dia akan dengan senang hati merasakan rasanya keliling dunia sebelum terikat dengan sesorang. Apa werekin ingin bepergian, atau Taekwoon harus ada disekitar keluarganya sepanjang waktu? Hakyeon Benar-benar membutuhkan buku yang dimaksud Taekwoon. Berharap buku itu menjawab pertanyaan-pertanyaanya.

Hakyeon mengela nafas. Melakukan seks dengan Taekwoon terasa sangat menakjubkan, dan dia sudah merindukan matenya.

Dengan pemikiran yang berputar-putar dipikirannya, Hakyeon akhirnya mencapai pintu kamarnya, tepat saat pintu itu terbuka. Ken, Devin, dan Dan keluar. Dengan baju berantakan.

"Apa yang terjadi?" tanya Hakyeon.

Ken meraih lengannya. "Hakyeon, akhirnya kau datang. Para gnome. Mereka berdatangan seperti tentara perempuan gnome, dan mereka bertengkar untuk siapa yang membersihkan toilet kita dan mencuci baju. Mereka bahkan membuang rotiku, aku berencana menggunakannya untuk sarapan." Ken menyilangkan tangannya didepan dada dan cemberut seperti bocah umur lima tahun.

"Ini jam 2 siang." Ucap Hakyeon, menatap teman-teman sekamarnya.

"Dan?" tanya Ken, men-death glare nya.

"Maaf, Ken." Ungkap Hakyeon. "Aku mengikat beberapa gnome untuk kamar kita. Harusnya ada dua disana."

Hakyeon meringis. Seharusnya dia mengingatkan mereka.

Dan angkat bicara. "Ada sekitar delapan disana."

"Delapan? Aku hanya membuat ikatan dengan dua gnome." Hakyeon menatap pintu kamarnya. Dan dia mendengar suara pertengkaran disana. "Akan kuurus ini. Kalian pergilah, dan makan sesuatu."

"Mereka membuang makananku," gerutu Ken.

"Ini," Hakyeon memberinya beberapa lembar uang. "Bawa semuanya keluar untuk makan saat aku bicara dengan para gnome."

Mata Ken melebar. "Keren, akan kukembalikan kembaliannya." Saat dia pergi, dia mendengar Kevin menggerutu lagi. "Mempesona, kaya, juga kuat. Betapa tak adilnya."

Dan Hakyeon hanya tertawa mendengarnya.

Hakyeon masuk.

Beberapa saat kemudian berhasil memberesi para gnome itu dengan memberi mereka ikatan dan membuat mereka bekerja dirumah Taekwoon.

tbc.

Aku gabut. Super gabut.

Chapter ini agak bosenin ya?

hehe.

Aku suka bete kalo update lewat app itu.

Editing textnya suka ke format.

yang harusnya miring, jadi nggak miring. dll.

dan karena koneksi jeleknya aku susah update pake laptop.

Dan juga Terima kasih nggak berujung huat pembaca yang sempet kasih review. Aku hargai, dan kritik-kritik yang masuk aku terima.