: The Omega :
.
.
.
.
Luhan itu... Pemarah.
Dia Luhan, dia tengah hamil muda dan sangat sensitif pada apapun. Dia selalu marah dengan kesalahan kecil bahkan itu tak bisa dikatakan kesalahan.
"Sehun jangan duduk di sana!" Lihat wajahnya, dia mempelototiku hanya karena aku duduk dengan Jongdae. "Kau tak menyukaiku hari ini? Baiklah!" Dia menarik Minseok agar duduk dekat dengannya lalu memeluk lehernya.
"Hei kau akan membunuhku!" Jerit Minseok.
Minseok tak bisa bernafas, aku mencuri kekehan sebelum Luhan akhirnya terus mempelototi berusaha keras membuatku takut. Aku beranjak, menghampirinya dan menarik kursi Yixing yang belum hadir di kantin. Memandangnya lama agar dia menghentikan wajah menggelikan itu. "Aku menyukaimu hari ini, disetiap harinya aku selalu menyukaimu." Aku merayunya dan berhasil memancing rona manis di pipinya.
Seruan teman-temanku semakin memperjelas rona merah itu.
"Hentikan, hentikan, kalian membuatku ingin muntah." Baekhyun menyembunyikan wajahnya dilipatan lengannya.
"Katakan kau juga menyukaiku~" Minseok bertingkah imut, suara dan tingkah bak anak kecil itu sangat imut walau dia tercekik oleh kekasihku.
"Ackh!"
Aku mengerjap melihat Luhan mencekik Minseok sebelum melepaskannya, dia mendorong Minseok hingga tersungkur jauh dari meja kami. Minseok menjerit berlebihan untuk kulit yang bergesekan sedikit dengan lantai itu. "Ada apa denganmu Luhan?" Protesnya.
Sebelum menoleh untuk memperlihatkan wajah protesnya Minseok terlebih dahulu mendongak untuk seseorang di depannya. "Hei kau baik-baik saja?" Tanyanya.
Kami semua menaruh perhatian kami pada Minseok yang terlihat tak mau bangun karena seseorang di depannya, menunggu orang itu membantunya mungkin? Minseok itu kadang-kadang terlalu repot menurutku.
"Hei Daniel, bantu dia." Kataku.
Ya namanya Daniel, temanku. Daniel baru saja dipindahkan ke sekolahku untuk alasan yang tak kutanyakan karena sepertinya dia tak ingin memberitahunya. Kami juga pernah bertetangga sebelum keluarganya memutuskan tinggal di luar negeri.
Daniel mengulurkan tangannya untuk membantu Minseok, Minseok tersenyum agak aneh menurutku sebelum bertanya cukup konyol. "Hei Daniel, namamu keren. Dari luar negeri?"
Aku tersenyum geli, membiarkan Minseok membuat Daniel pusing dengan celotehannya. Luhan di sampingku benar-benar gawat, aku menurunkan tanganku untuk mengusap perutnya secara perlahan selagi semua fokus teman-temanku pada Minseok dan Daniel.
"Apa yang membuatmu marah sayang, hm?" Tanyaku pelan tepat di depan telinganya.
Aku menyusupkan wajahku pada perpotongan lehernya, menyesap bau manis yang selalu menguar membuatku tak terkendali. Aku menarik pinggangnya semakin dekat denganku bahkan aku hampir membuatnya duduk di atas pahaku. "Katakan, aku tak akan melakukan apapun lagi yang membuatmu marah."
Tanganku terus mengusap kulit lembutnya, membuatnya bergerak tidak nyaman karena tanganku. Pipinya yang manis mulai memerah, rona yang semakin membuatku tak terkendali dengan bibir yang dia gigit secara tidak sadar.
"Sehun..." Dia menyentuh tanganku di balik seragamnya, menuntun tanganku untuk melakukan lebih selain mengusap.
Aku melakukannya, menyentuh sesuatu yang Luhan ingin aku menyentuhnya. Puting mungilnya ku sentuh dan dengan cepat benda imut itu mengeras hanya karena sentuhanku. Aku mencubitnya karena gemas dan secara tak sadar Luhan menjerit.
"Hei hei dua orang ini berbuat yang tidak-tidak!"
Baekhyun memergoki kami, selain karena jeritan Luhan dia memang ada di sampingku. Aku terkekeh lalu membenarkan posisi dudukku setelah mengeluarkan tanganku.
"Di mana Daniel?" Tanyaku setelah menyadari Daniel dan Minseok tak ada di sini.
"Sudah kubilang kan dia berbuat yang tidak-tidak sampai tidak tahu apa yang terjadi." Celetuk Baekhyun.
"Teman, aku pergi." Baekhyum beranjak dari kursinya dengan membawa kaleng sodanya.
"K-kau mau kemana?" Tanya Luhan.
"Perpustakaan." Jawabnya.
"Sejak kapan Byun Baekhyun pergi ke tempat seperti itu?" Tanya Jongdae tanpa menoleh pada orang yang dimaksud, dia sedang fokus pada buku catatan Yixing untuk mencocokan dengan buku catatannya.
"Sejak berteman akrab dengan Kyungsoo dan mantan kekasihnya."
Yixing baru saja tiba, dia merangkul Baekhyun lalu menyapukan pandangannya pada kami. "Mana Tao?" Tanyanya menyadari jumlah kami. " Dan Minseok?"
"Tuan Zhang, berhenti bertemu diam-diam dengan Tuan Kim dan datanglah tepat waktu agar tahu apa yang terjadi." Baekhyun membalasnya.
Kami berseru menangkap keterkejutan Yixing dan rona samar di pipinya.
"Aku t-tidak bertemu di-diam-diam!" Yixing menyangkalknya.
Aku tahu Yixing dan Kim Junmyeon memang terlihat sangat dekat akhir-akhir ini, mereka akan datang berlatih bersama dan mereka sama-sama terlambat untuk alasan yang tidak jelas. Yixing terliat marah, dia menghampiri Jongdae lalu mengambil buku catatannya.
"Kau sudah selesai? Aku akan mengambil ini dan akan pergi mencari Tao dan Minseok." Yixing pergi sebelum Jongdae mengeluarkan suaranya.
"Baek kau tahu betul Yixing itu sangat sensitif." Luhan berujar menyalahkan Baekhyun.
"Ya, aku bahkan hampir menyelesaikannya!" Protes Jongdae.
Baekhyun memutar matanya. "Dah!" Baekhyun pergi tak ingin membuat dirinya semakin terpojok.
"Sehun!"
Aku menoleh setelah mendengar panggilan seseorang.
"Ya, Minki?" Sahutku ketika mengetahui itu adalah Minki.
Minki menghampiriku, mendekatkan bibirnya padaku lalu berbisik dan aku tersenyum mendengarnya.
"Kupikir Yixing butuh bantuan untuk mencari Tao dan Minseok," Luhan berdiri, aku memperhatikannya dan Minki berhenti berbisik karena aku menoleh pada Luhan. "Dah!" Luhan. menghentakan kakinya sebelum benar-benar pergi.
.
.
.
"Hei mau kemana?"
Luhan menghalangi jalanku, membentangkan tangannya tepat di depan pintu kelasku, menghalangi bukan hanya aku tapi juga teman-teman sekelasku yang lain. "Latihan," Jawabku. "Pulang dan istirahatlah sayang, hari ini aku tak bisa mengantarmu." Aku menggantungkan tasku di bahu.
"Oh jadi begitu? Aku masih anggota tim dan kau seenaknya melupakanku?" Dia bersedekap dada dan menatapku seolah aku telah melakukan kesalahan fatal.
"Dengar sayang, kau tahu bukan-"
"Baik, bersenang-senanglah kapten, aku hanya pemain cadangan bukan?"
Untuk sesaat aku merasa benar-benar buruk pada Luhan, mata cantik itu berkilauan karena air mata dan dia menatapku sangat terluka.
"Kau tak pernah menganggapku, aku membencimu!"
Dia berlari pergi meninggalkanku dan seketika aku merasa pening. Dia seperti itu mungkin karena dia sedang hamil, ini sangat merepotkan dari Luhan yang biasanya jujur saja.
Alasanku menempatkan Luhan diposisi itu bukan karena aku tak menganggapnya, di sana masih ada Jackson dan aku tak bisa menggantikannya karena sejak awal sebelum tim terbentuk pelatih memang sudah merencanakan bahwa Luhan akan menjadi pemain cadangan.
Saat berada di lapangan Luham berubah menjadi egois, walau sudah diperingatkan dia tetap secara tidak sadar mengulangnya, dia menguasai bola sendirian.
Aku bergegas untuk menyusul langkah tak tentu arahnya, tentu aku tak bisa membiarkan Luhan berkeliaran dengan air mata dan berakhir berbicara yang tidak-tidak. Aku kehilangan jejaknya karena dihadang wajah polos Chenle dan anak kelas dua; Jisung.
"Uh... Bukannya lapangan sepak bola ada di sana?" Tanyanya sembari menunjuk ke arah kanan.
"Luhan menangis tadi," Dia memberitahu sebelum aku menjawab karena Chenle tahu aku tengah mengejar Luhan. "Dia bilang itu karena salahmu."
Aku tak bisa membiarkannya berkeliaran sebelum dia tahu apa maksudku melakukan itu. Seharusnya dia sudah tahu dan mengerti apa maksudku melakukan ini namun Luhan akhir-akhir ini selalu menggunakan emosinya daripada otaknya. "Dia mengatakan kemana dia akan pergi?" Tanyaku.
Chenle menatap Jisung bertanya sedangkan anak itu sama bertanya-tanya seperti dirinya. Aku mendesah jengkel lalu menepuk kepala Chenle dan melanjutkan langkah terburuku tanpa menunggu jawaban mereka.
"Lapangan basket mungkin? Semua orang ada di sana!" Teriak Chenle pada akhirnya.
.
.
.
Aku hari ini rela tak latihan demi untuk membujuk Luhan di lapang basket, padahal latihan hari ini penting mengingat satu minggu lagi tim kami akan diseleksi untuk tim nasional.
Aku menghela nafas ketika melihatnya bergelayut manja pada Changwook, aku tak melihat Baekhyun atau yang lain bersamanya. Aku menghampirinya, menariknya agar menjauh dari Changwook, dia tersentak sebelum menyadari akulah yang menariknya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Dia meronta dan aku melepaskan lengannya karena aku tak mau menyakitinya.
Dia ketakutan namun tetap berusaha berani padaku. "Kau harus pulang." Kataku.
Dia berbalik dan hendak pergi dari hadapanku namun aku lebih cepat menangkap tangannya. "Tidak!" Dia menolak dan kembali meronta.
"Aku bilang tidak! Sehun lepaskan Aku! Aku tak mau pulang bersamamu aku membencimu!" Dia berteriak memamcing perhatian orang-orang.
Aku tak mengiyakannya, tetap mencengkram tangannya dengan hati-hati dan kembali menariknya keluar dari lapangan indoor ini. "Sehun kau egois! Sehun kau bajingan, aku membencimu bajingan, lepaskan aku!" Dia benar-benar ingin aku mendapat cap buruk, aku menariknya hingga wajah kami sangat dekat, menatapnya dengan tegas dan aku bisa merasakan dia sangat ketakutan.
Dia mundur setelah aku melepaskannya, berharap dia mengerti namun dia tak mengerti juga. Dia berlari pada Changwook seolah meminta pertolongan, aku sangat geram, ada apa dengannya?
"Luhan!" Panggilku.
Semua orang tersentak, aku tidak sengaja membentaknya dengan suara keras menggema. Aku mengabaikan tatapan semua orang, aku fokus menatap Luhan dan kilauan air matanya. Dia akan menangis namun dia tetap menghampiriku.
"Ayo pulang." kataku dengan intonasi normal.
Dia mengikutiku namun tak berapa lama Changwook bertanya dan membuat kami berhenti. "Sehun ada apa denganmu?"
"Seperti yang kau lihat, aku menyuruhnya pulang." Jawabku tak ingin basa-basi.
"Kau tak bisa memaksanya jika dia tak ingin." Kris menambahi.
Aku melirik Luhan dan sekarang dia menunduk. "Benar begitu Luhan?" Tanyaku. "Kau tak ingin pulang?"
Dia mendongak, menatapku dengan air mata menuruni pipinya. Aku tak bisa melihatnya menangis namun kali ini aku harus bersikap tegas padanya, dia tak bisa bersikap seperti ini jika yang dia tahu hanya atas dasar emosinya.
"A-aku a-akan pulang," Jawabnya. "Ta-tapi tidak sekarang"
"Lihat? Sebenarnya dia tak ingin pulang, kau tidak bisa memaksanya hanya karena kau Alphanya, dia punya hak." Changwook menghampiri kami, bermaksud membawa Luhan kembali namun Luhan ketakutan dan pergi ke belakang punggungku karena aku mengeluarkan peringatan berbahaya yang hanya bisa dirasakan oleh Omega dan mate-ku
"Apa menurutmu aku akan membiarkannya yang tengah mengandung anakku pergi sendirian tanpa diriku? Alpha yang bertanggung jawab penuh atas mate-nya?" Semua orang tersentak dan aku sudah tidak peduli tentang perjanjian yang kami buat.
'Jangan katakan pada siapapun bahwa aku sedang mengandung sebelum perutku membesar!'
'Dan kau akan dapat service-ku setiap kau ingin.'
.
.
To be continued...
.
.
Udh setahun lebih loh Luhan sama Guanxianjing, kapan putusnya kalian hah? jujur ae gua gak mau Luhan sama cewek :) masalah? bodo amat gua udh terlanjur kerad gini :)
Duh maaf ngegas saya kesel banget udh setahunan nunggu berita putusnya Guanxianjing, mana Xianjing debut plagiat palette-nya IU lagi :) IU soloist favourite saya diplagiatin Xianjing? emang dasar anjing :)
Btw, mungkin ada yang bertanya2 kok saya tau jumlah siders ff ini? begini gays, saya liat kalian para siders difollowers dan favourites ff ini, tekun banget dah saya liatin nama2 akun kalian dikolom review sama difollowers/favourites :') yang saya itung ya kalian yang berakun aja eh tapi kalian yang guest sama yang gak foll/favo juga ngereview (walau saya tau gak semua), terus kalian yang foll/favo juga gak semua ngereview :')
saya senang dan dapat semangat dari review2 kalian untuk menulis jadi jika kalian para readers gak menyempatkan review ya saya males lanjutin karena merasa gak dihargai -_-
So, saya bukannya haus review saya cuma mau dihargai untuk karya saya yang gak seberapa ini tapi bisa sedikit menghibur kalian :)
Btw, untuk typo yang ada mohon dimaklumi, saya copas dan edit dari hengpong, pc saya rusyak :'v
