Entah perbuatan gila nan super memalukan apa yang sedang terlintas dipikirannya saat ini. Ia mengunakan apron merah dan sedang menggoreng telur gulung, ia melakukannya dengan super hati-hati dan tidak seberisik mungkin. Berkali-kali dia mengumpat pada dirinya sendiri karena telah memasak untuk keluarga Yorozuya. Kenapa tidak ia langsung kembali memakai seragamnya dan kembali ke markas?
Kalau ada yang pikir, saat ini ia memasak karena cinta pada Gintoki. Itu salah besar! Ini bukan sinetron ataupun drama korea.
Ia menghela nafas mengingat kembali apa yang dilakukannya tadi pagi, sebelum ia melakukan hal yang dianggapnya bodoh ini
.
.
.
.
"hmm..." Hijikata mengerang, ia menoleh kesebelah, mukanya langsung bersemu merah ketika melihat wajah Gintoki yang tidur berada begitu dekat. Rupanya semalaman ia tidur di pelukan pemuda berambut perak tersebut
Dia merenung sejenak mengingat apa yang terjadi kemarin, tidak lama karena ia masih bisa mengingat semuanya. Ia menendang selimut yang menutupi kakinya dan mendorong Gin menjauh darinya, lalu bangkit berdiri
"dimana bajuku?" gumamnya sambil mengacak rambutnya sendiri dan berjalan keluar kamar setengah sadar. Ini pertama kalinya ia menelusuri tempat Yorozuya sendirian , berlahan detak jantungnya yang tadi normal berubah menjadi lebih cepat. Tanpa dia sadari ia telah membayangkan dirinya yang tinggal disini sebagai istri Gintoki
Dia menongok jam dinding di dekat kalender yang terpaku di dinding. Ia mengusap mukanya dengan kasar mencoba menyadarkan diri. Iya, dia harus kembali ke markas dan mengurus jadwal hari ini.
Masih mencari seragamnya. Ia membuka pintu geser ruangan sebelah. Ruangan itu begitu berantakan, rasanya lebih berantakan daripada ruangannya. Hanya rasanya. sebenarnya kamarnya lebih buruk daripada dapur yang wastafelnya penuh dengan piring kotor, sayuran yang berserak, masih ada gelas-gelas yang entah kenapa bisa berdiri tegak di lantai. Memang berantakan tapi jika dibandingkan dengan kamar Hijikata yang pengap penuh asap rokok, kertas berserak, baju tak terlipat, kaleng bir, botol mayones yang digeletakkan seenaknya, futon yang tak pernah terlipat, dan sebagainya. terlalu banyak hal yang membuat ruangan wakil komandan Shinsengumi tak sedap dipandang hal itu yang selalu membuat Yamazaki menjadi korban suruhan Hijikata untuk merapikan semua itu.
"ini dapur?" gumamnya tak begitu terkejut semenjak ia sendiri mengakui kamarnya yang seperti kapal pecah "pantas saja semalam ia tidak membiarkanku membantu" ia melangkah masuk ,tanpa pikir panjang ia memunguti gelas-gelas di bawah. Sampai dia ditengah mencuci piring ia baru sadar
"KENAPA AKU MELAKUKAN PEKERJAAN RUMAHNYA?!" ingin rasanya ia membanting piring ditangannya. Tapi ia memulai semuanya dengan menutup mulutnya terlebih dahulu baru pikirkan apakah pantas ia membanting piring orang
"apa ini ngelindur cara baru?" geramnya sambil melempar spons kuning kembali ke tempatnya dan mencuci tangannya yang terkena sabun. Ia tidak pernah melakukan pekerjaan seperti ini lagi semenjak ia bergabung dengan Shinsengumi . sudah berapa lama ia tidak masuk dapur ? pikirnya
Shinsengumi punya kantin yang besar, yang dia tahu hanya antri ambil makanan lalu duduk bersama yang lainnya dan menyantap hidangan.
"aku tidak tertarik" gumamnya seolah sedang memalingkan wajahnya untuk dirinya sendiri.
Mata birunya menyelidiki seluruh ruangan, ia menunduk menatap lantai saat ia melihat serakan daun dari sayuran di bawah kakinya dan sekitar. "..." seolah seperti terhipnotis ia mulai mengambil sapu
Kenapa tiba-tiba saja ia suka bersih-bersih? Jangan katakan kalau ia sedang melakukan semua ini tanpa sadar untuk Gintoki?
"ini bukan lelucan...kenapa aku melakukan ini?"bisiknya bertanya pada dirinya sendiri. Saat ini ia malah mulai mengeluarkan bahan makanan dari kulkas
.
.
.
.
...
"Hijikata?" Gintoki meraba-raba sekitarnya,dia tidak menemukan pujaan hatinya yang seharusnya tidur disampingnya "apa Shinpachi sudah datang ?" tanyanya seraya bangkit berdiri. Ia bisa mencium bau masakan dari kalau Shinpachi datang bau masakan akan tercium, semenjak Gintoki dan Kagura yang pemalas itu selala bangun kesiangan
Sambil membuka pintu geser, ia menghela nafas kekecewan saat berpikir Hijikata sudah pulang pagi-pagi sekali. Aah..ia benar-benar merasa kesepian sekarang.
"ohayo Gin-chan" sapaan Kagura membuatnya sadar dari rasa ngantuknya tadi sekaligus membuatnya senang semenjak di samping Kagura, Hijikata sedang duduk di samping rice cooker menyiapkan nasi untuk mereka bertiga
"...kau memasak?" tanyanya terheran-heran "kau tidak perlu melakukannya" ia memang berkata begitu tapi dalam hatinya, ia benar-benar senang "aku tak menyangka kau melakukan hal ini sebelum kita menikah" tambahnya sambil nyengir penuh percaya diri
"cuci mukamu lalu duduklah" tegur Hijikata menyembunyikan rasa malunya dengan kata-kata sedikit memerintah "kau mau makan atau tidak?"
"aku makan, aku makan~" segera pemuda berambut perak itu berlarian, melakukan apa yang diperintahkan pujaan hatinya
.
.
.
.
Di ruang tengah mereka makan bersama. Biasanya sih bertiga tapi kali ini orang ketiga bukan si tak berguna kacamataan tapi pemuda berambut hitam yang tampan, yang selalu menjadi pujaan hati Gintoki
Masakannya enak tapi entah kenapa hari ini ia tidak terlalu merasakannya. Gintoki terlalu sibuk memperhatikan Hijikata yang duduk di depannya, berdampingan dengan Kagura
kelihatannya kali ini mereka tidak berdebat. Topik pembicaraan Hijikata dan Kagura untuk pagi ini adalah Okita Sougo si remaja bengal yang baru saja meledakkan jembatan kayu kemarin. Sesekali Gimtoki tersenyum geli mendengar mereka berdua yang berlomba mengosipkan Sougo dengan mulut yang masih mengunyah. Terlihat sangat manis dan akrab. Seolah seperti sebuah keluarga.
Keluarga...
Sudah berapa lama ia menginginkan hal tersebut? Rasanya sudah satu abad berlalu untuk bisa sampai ketahap kehidupannya saat ini. Beberapa tahun yang lalu sebelum ia bertemu dengan Kagura, Shinpachi dan Tae. Ia berjalan menelusuri jalan kehidupannya sendiri. Si nenek Otose hanya diam meski tampaknya di masa lalu wanita tua itu ingin menegurnya untuk mencari teman, teman untuk dilindungi, teman-teman yang akan kau ajak gurau, makan bersama dengan mereka, tertawa bersama mereka. Menganggap mereka adalah keluargamu.
Akhirnya Gintoki menemukannya. Remaja berkacamata yang tak berguna, gadis rakus yang berpakaian China, wanita kabaret yang beringas, Madao yang ditinggal istrinya,gorila stalker kakap nan profesional ,ninja pengemar JUMP, ninja stalker tingkat dewa dan Maso , kucing jadi-jadian, robot wanita yang berbicara dengan peralatan listrik, pengeran sadis, inspektur culun dan...
Hijikata Toushiro
Pemuda berambut hitam tersebut menatapnya tajam dan berhasrat besar untuk membunuhnya saat mereka pertama kali bertemu. Pemuda yang mengayunkan katannya yang tajam hampir menusuk perutnya, setiap ayunannya memiliki ketuguhan dan kemantapan jiwa. Iya, laki-laki yang sekarang dicintainya itu pumya sesuatu yang dilindungi dengan pedangnya itu, dengan kemampuannya itu.
Semenjak ia mengalahkan Kondo(dengan cara curang) dan ditantang Hijikata, ia menemukan jika mata biru pemuda itu begitu menghanyutkan dan membuat jantungnya berdebar
Sebelumnya ia pura-pura lupa pada pemuda manis tersebut, rupanya karena ia takut untuk menjadi ingi, menginginkan pemuda tersebut
Dia punya tanggung jawab yang besar sebagai teman namun di sisi lain ia ingin menjadi seorang kekasih. Ya, kekasih Hijikata.
Sekaran inilah dia. Ditahap yang selalu dinantinya, Hijikata benar-benar sosok yang didampakannya dan sosok yang dimaksud Shoutou sensei
"Suatu saat nanti kau tidak akan sendirian. Di dunia ini tidak ada seorangpun yang ditakdirkan untuk sendirian"
"apa akan ada anak yang mau berteman denganku, sensei"
"tanpa kau sadari semua yang berada di sekitarmu adalah temanmu, dan aku yakin mereka semua akan selalu membantumu. Tapi untuk sosok yang ini berbeda Gintoki"
"sosok seperti apa ?"
"orang yang akan selalu mendampingi seumur hidup dan selalu membuat hatimu bahagia meski hanya ada disampingnya...untuk Gintoki yang laki-laki sih, mungkin seperto sosok seorang adik namun lebih intim dan dalam"
"aku tidak mengerti"
"kau harus selalu berada disisinya, menemaninya saat suka maupun duka. Sebagai gantinya dia akan melakukan hal yang sama malah mungkin melebihi dirimu padanya"
"lalu, dia menganggapku apa?"
"hmm...karena kau selalu melindunginya mungkin kau akan terlihat seperti kakak baginya. Namun tatap saja hubungan kalian lebih dalam daripada itu"
"mmm...aku masih tidak mengerti sensei"
.
.
.
.
.
Mungkin yang dimaksud sensei adalah seorang wanita, pendamping hidupnya. Tapi yang dicintainya Hijikata dan pujaan hatinya itu kuat hampir tak perlu ia melindunginya karenanya ada kekecewaan dalam hatinya terutama saat Hijikata pernah menolak kedatangannya dan mengatakan ia tidak membutuhkannya (dalam judul don't leave me)
Tapi tetap saja melihat Hijikata yang mengamuk melawan para teroris yang sering menghadangya di tengah jalan selalu membuatnya tersenyum sendiri terkagum-kagum.
Tidak ada yang salah dengan pilihannya. Hanya saja Hijikata adalah laki-laki mungkin itu yang membuat pengakuannya sedikit telat. Seandainya ia mengatakan kalau ia mencintai Hijikata lebih cepat mungkin sekarang mereka adalah suami istri.
Seandainya Hijikata adalah peremempuan. Tak akan pernah terlintas dalam pikirannya atau terlontar dari mulutnya. Ia mencintai Hijikata apapun dia, jujur saja ia tidak homo karena laki-laki yang bisa menarik hatinya hanyalah Hijikata seorang. Jika perempuan...
Ketsuno Ana,perawat,gadis kabaret (kecuali Tae), gadis berbikini, wanita dewasa yang seksi,
Matanya masih saja melirik kanan dan kiri mengagumi wanita-wanita yang menggoda imannya. Maa...dia benar-benar laki-laki yang besar di kabukichou
Tapi tak ada satupun yang mencuri hatinya selain Hijikata. Tak ada seorangpun yang bisa membuat jantungnya seperti ini, membuatnya seharian memikirkannya...
"Gin-chan...Gin-chan.."
"oi Yorozuya...hei..."
Panggilan mereka berdua membuyarkan lamunannya dan membuatnya tersentak kaget. Dia pikir ia akan tersedak namun tak ada nasi di dalam mulutnya karena...
"kau memasukkan sumpitmu ke dalam mulut tapi tak beserta nasi maupun lauk" ujar Kagura sambil nyengir "dan kau melamun"
"benar, mau sampai kapan kau memasang wajah bodoh itu. Bahkan terlihat lebih bodoh dari pada Yamasaki" sambung Hijikata sambi memasukkan sebatang rokok ke mulutnya lalu menyalakan pematik
"ti,tidak aku hanya" Gin berhenti untuk mengambil nafas sejenak. Melihat mangkok di depan Hijikata kosong ia mengganti topik "kau akan pergi ?"
"tentu" jawab Hijikata seraya memakai jaket hitamnya "disaat kau asyik melamun aku menerima panggilan dari markas. Aku harus segera kembali"
"oooh..." Gin menyembunyikan kekecewaannya dengan tersenyum tipis
Saat Hijikata berdiri, ia juga ikut berdiri menemaninya sampai pintu depan. Hijikata berjalan di depannya dan membuka pintu. Betapa sialnya Gintoki
Di saat Hijikata menaikan salah satu kakinya untuk melangkah keluar, langkah tersebut berhenti karena seseorang sudah berada di depan pintu menghalanginya.
"!" seketika itu juga mata Gin melebar melihat siapa yang saat ini dihadapan Hijikata. Seorang wanita cantik berwajah lembut yang selalu dilihatnya di TV saat ini sedang berhadap-hadapan dengan Hijikata yang baru saja kemarin menuduhnya selingkuh "K...Ketsuno?" panggilnya pada wanita tersebut
wanita itu mengabaikan Gin yang memanggil namanya dan malah mendongak melihat wajah Hijikata yang lebih tinngi darinya "bukannya dia?"
Hijikata menoleh kebelakang, memberi tatapan tajam penuh amarah dan juga kekecewaan pada dirinya lalu kembali menghadap wanita itu dan memberinya senyuman sebelum ia pergi
"Hijikata!" Gin berlari berusaha mengejarnya namun di bawah sana sudah ada Sougo yang menjemput Hijikata dengan mobil patroli. Pujaan hatinya pulang dengan kesalah pahamaman.
.
.
.
.
.
.
To be Continue...
