ANDANTE
Chapter 4 : The Way We Felt the Distance
Cast:
Lu Han, Se Hun
EXO Members
Romance, Angst, a little bit Humor and Drama
This is Genderswitch. For Hunhan Indonesia GA Event
.
.
Berkat kalah dari pertandingan kertas gunting batu, Luhan harus pergi berbelanja untuk membeli makan malam. Berbekal uang seadanya hasil patungannya dengan Hyuwen, ia berjalan santai menuju kedai makanan langganan mereka. Setelah berjalan hampir setengah jam, rusa mungil itu akhirnya sampai juga di tempat tujuan.
Tidak ada yang istimewa dari kedai makanan itu, hanya rumah makan kecil yang sederhana menyajikan berbagai masakan rumah yang menggugah selera dengan harga yang bersahabat untuk orang-orang berkantong sederhana seperti Luhan dan Hyuwen.
Lima belas menit yang dihabiskan Luhan untuk bisa mendapatkan menu makan malam mereka. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang, gadis itu kemudian berjalan keluar kedai untuk pulang. Niatnya sih sehabis membeli makanan, ia akan berjalan-jalan sebentar hitung-hitung untuk menghabiskan waktu sebelum malam.
Luhan menundukkan kepalanya beberapa kali saat berpapasan dengan orang-orang yang lebih tua darinya. Nenek-nenek, seorang ibu yang lumayan berumur dan seorang kakek-kakek yang menjadi teman jalan santainya hari ini. Gadis itu tiba-tiba tersenyum sendiri ketika melihat seorang anak laki-laki tengah berjalan beriringan dengan ibunya. Dengan suara cemprengnya anak itu fasih melafalkan ceritanya hari ini. Anak itu mengingatkan Luhan pada konsumennya hari ini, si kecil dari sekolah itu. Anak laki-laki yang terus memandanginya tanpa berkedip sambil mengatakan betapa cantiknya Luhan itu tiba-tiba saja membuatnya merasa rindu. Rasanya agak gila jika ia berharap pelanggannya untuk seterusnya adalah anak laki-laki itu. Entah mengapa hatinya menghangat saat melihat wajah tampan si kecil.
Kaki kurusnya terus membawa Luhan berjalan entah kemana. Terkadang ia melompat kecil lalu sedikit berjalan cepat dan kembali santai. Ia juga tidak tahu ada apa dengan suasana hatinya yang mendadak menjadi bahagia setelah mengingat anak kecil itu. Dan, tidak tahu apa yang menyeret kakinya sampai ke tempat itu. Tempat penuh kenangan bahkan sampai sekarang.
Gedung kosong di samping sekolah terkenal.
Luhan menghentikan langkahnya dan berjalan perlahan menuju gedung kosong di hadapannya. Agak jauh dari pintu masuk yang membuatnya mengernyit tak senang. Mata rusanya menangkap semua yang ada di sana. Gedung tua yang jelek dan bertambah jelek. Pikiran sungguh sialan dengan mudahnya memutar semua kenangan yang ia dapatkan dari gedung tua itu. Kenangan di dalam gedung itu ia mendapatkan perlakukan tidak manusiawi dari seseorang yang ia sukai, melihat perbuatan mesum mereka yang bahkan sangat menyakitkan baginya sampai sekarang jika diingat. Dilecehkan, dipermalukan. Sementara di luar gedung itu, ia bertemu dengan seseorang yang ia sakiti hatinya.
Sehun.
Pria itu begitu tampan kala itu. Luhan tidak tahu apakah ia yang sudah gila atau Tuhan yang sengaja memberikan kelebihannya pada Sehun. Ia masih ingat Sehun yang bahkan hanya menggunakan baju seragamnya hari itu mampu menggetarkan hatinya. Bohong jika Luhan tidak jatuh cinta dengan Sehun pada pandangan pertama.
Si gadis sudah jatuh dalam pandangan pertama dan jatuh lebih dalam lagi sampai sekarang.
Sebenarnya lepas dari semua yang sudah terjadi padanya di masa lalu, ia benar-benar merindukan Sehun. Ia bisa saja muncul dihadapan pria itu dengan tidak tahu malunya dan mengatakan jika ia merindukan pria itu lalu memeluknya. Luhan bisa saja menjadi gadis rendahan seperti itu jika saja ia tidak ingat dengan semua perlakuan Sehun padanya.
"Mana saudaramu Lu? Apa keretanya belum sampai?" Luhan melihat bagaimana tangan Sehun yang masih mengandengnya lembut. Ia menahan semua tangisnya begitu melihat wajah anak laki-laki itu. Wajah yang akan selalu ia ingat bahkan jika ia tidak lagi diberikan kesempatan untuk melihatnya.
"Lu?" Sehun mengalihkan pandangannya melihat Luhan yang hanya diam saja. Sudut hatinya merasa tidak nyaman hingga rasanya ia ingin membawa Luhan pergi dari tempat ini. Namun demi Luhan, ia berusaha menyembunyikannya.
Luhan menghentikan langkahnya sehingga membuat Sehun yang berada di depannya juga tertarik mundur. Perlahan ia melepaskan pegangan tangannya pada Sehun dan berjalan menuju anak itu. Dengan semua keberanian yang ia punya, Luhan menatap Sehun dalam. Ia tidak boleh goyah. Semua harus berjalan sesuai dengan rencananya. Bukan, tapi semua harus berjalan sebagaimana mestinya.
Maka dengan perlahan Luhan menyentuh lembut kedua pipi Sehun, mengelusnya dan menariknya lebih dekat hingga ia bisa mencium anak laki-laki itu. Lembut, tegas dan menyakitkan. Itu yang Luhan rasakan begitu ia mencium bibir Sehun. Teksturnya yang lembut dengan rahangnya yang tegas terasa begitu menyakitkan baginya. Ini adalah ciuman pertamanya dengan Sehun dan mungkin menjadi yang terakhir.
Tanpa sadar Luhan menangis dalam ciumannya yang perlahan mulai mendapat balasan dari Sehun. Anak itu membalas dengan manis, teratur dan tulus. Semua terasa benar bagi Sehun saat ia mendapati Luhan yang tiba-tiba menciumnya dengan manis, gerakannya yang teratur dan tulus. Ia bahkan merangkulkan tangannya di pinggang Luhan untuk lebih mendekatkan gadis itu padanya. Walau Sehun merasa aneh mengapa Luhan menangis dalam pergulatan mereka, namun ia lebih memilih berpikir dengan arah yang berbeda.
Mungkin ciuman mereka terlalu memabukkan dan menyenangkan.
Kemampuan Luhan memang selalu dibawah Sehun dalam hal apapun. Ia yang memulai ia juga yang mengakhiri ciuman itu dengan luka. Luhan melepaskan dirinya dari pelukan Sehun dan bergerak mundur perlahan. Ia hanya tersenyum sebentar lalu berlari menuju kerumunan yang entah mengapa tiba-tiba memenuhi stasiun itu.
Sialan!
Sehun tahu ia akan kehilangan Luhan jika tidak menemukan gadis itu secepatnya. Kerumunan bodoh menghalangi pandangannya dari Luhan hingga ia sadar jika Luhan memang sudah menghilang dengan lirihnya yang masih terasa di telinganya,
"Aku mencintaimu Sehun."
Haa~ Kalau sudah mengingat itu semua, Luhan menjadi sedih sendiri. Ia bahkan memeluk dirinya sendiri untuk menghalau perasaan rindunya pada Sehun hingga ia tidak menyadari seseorang yang sudah berdiri di hadapannya.
Sepertinya Luhan memang ditakdirkan untuk hidup dalam permainan. Entah itu takdir atau perasannya, semuanya selalu terasa seperti omomg kosong atau Tuhan memang senang mempermainkan takdir dan perasaanya tapi persetan dengan itu semua. Pria itu begitu nyata dengan suaranya yang bergetar. Luhan membulatkan matanya begitu menyadari jika pria itu benar-benar ada di hadapannya sekarang.
"Luhan,"
Tidak, Tidak boleh. Sehun tidak boleh menemukanku!
.
.
"Moooom~" Leon terus merengek sepanjang perjalanan pulang meminta agar sang ibu mengizinkannya membeli ice cream. Ia benar-benar sangat ingin ice cream itu, selain rasanya yang enak di sana ia juga bisa menemukan anak perempuan mungil yang lebih muda darinya tapi sangat menggemaskan. Siapa lagi jika bukan Minji, anak teman pamannya yang sangat imut Aunty Minseok.
Sementara sang ibu masih berusaha menahan tawanya mendengar rengekan putra sewata wayangnya. Leon benar-benar menurunkan sifat manja Kris mutlak, anak itu akan terus merengek dan mengatakan kalimat-kalimat manis untuk meluluhkan hatinya.
"Mooom, satu cup setelah itu aku janji akan tidur cepat." Leon menggoyangkan badannya untuk menarik perhatian Sena agar satu cup ice creamnya bisa terpenuhi. Sialnya Sena malah tersenyum melihat tingkah putranya tanpa berniat menghentikan mobil mereka.
Mobil yang dikemudikan Sena melaju lebih cepat dari sebelumnya membuat Leon semakin panik jika ia tidak akan mendapatkan ice creamnya hari ini. Sekitar lima toko lagi dan mereka akan melewati kedai ice creamnya namun sang bunda tetap mempertahankan kecepatannya.
Si kecil itu kemudian bergerak-gerak tak jelas, memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil menghitung berapa toko lagi yang akan mereka lewati agar sampai di kedai ice cream. Anak itu berencana akan berteriak untuk berhenti jika sudah tinggal dua toko lagi. Namun apa daya, saat sudah sampai ke toko yang ketiga sang bunda sengaja menurunkan kecepatan mobilnya membuatnya tersenyum sumringah tapi saat hampir sampai di kedai ice cream, sang bunda malah menaikkan kecepatannya hingga kedai itu terlewat begitu saja.
"MOOOMMY! Ice creamku.." Seluruh wajah Leon menempel sempurna di jendela mobil sambil menatap pasrah ice cream nya yang semakin menjauh. Dari kejauhan itu juga ia bisa melihat Minji yang baru saja keluar bersama dengan Minseok aunty lengkap dengan satu cup ice cream di tangan kanannya.
Astaga mommynya benar-benar menyebalkan siang ini.
Mommy Daddy sama saja! Huh.
"Kau belum makan siang sayang, nanti perutmu akan sakit." Sena mengelus kepala putranya yang masih memandangi kedai ice cream kesayangannya. Ia tersenyum puas melihat putranya yang merajuk, walau sedikit sedih sih tapi melihatnya merajuk seperti sekarang benar-benar lucu.
Masa bodo dengan makan siang! Aku mau ice creamku!
Leon memperhatikan apapun yang ia lewati sepanjang perjalanan, mobil-mobil, sepeda, orang-orang berjalan kaki dan kakak cantik yang berlari. Leon sedikit mengernyit heran dengan kakak cantik yang sedang berlari sangat cepat itu. Ia bahkan sampai memutar kepalanya untuk melihat wajah kakak itu ketika mobil mereka mendahului si kakak.
Wajahnya terlalu familiar baginya. Si kakak cantik dengan rambut panjang yang indah. Leon memutar otaknya untuk berusaha mengingat siapa kakak cantik yang sedang berlari ketakutan itu. Ia bahkan tidak sadar jika mobil mereka sudah dekat dengan rumah. Kakak cantik, kakak cantik dengan rambut panjang dan wajah manis. Kakak cantik dengan..
Itu dia!
Mata Leon membulat ketika ia ingat siapa kakak itu.
"Mom! Itu tadi kakak cantik yang aku ceritakan." Jari si kecil menunjuk-nunjuk kaca heboh sambil menarik lengan baju ibunya.
"Yang suaranya lucu dan rambutnya panjang?" Sena menyalakan lampu peringatan membelok ke kiri sambil menyahuti ocehan putranya.
"Iya! Dia tadi berlari seperti di kejar-kejar mom! Ayo berhenti!" Leon bergerak-gerak lagi memohon agar ibunya mau menuruti permintaannya kali ini. Tidak apa tidak ada ice cream, tapi kalau soal kakak cantik ia tidak akan menyerah.
"Berhenti dimana sayang?" Ibu muda itu menarik tuas rem dan melihat kearah putranya yang heboh. Ia tersenyum ketika melihat putra kesayangannya yang terlihat terlalu bersemangat hari ini. Efek kakak cantk.
"Berhenti di-" Leon menghentikan perkataannya ketika ia melihat keadaan sekitarnya. Halaman luas, tanaman hijau dan sepeda birunya. Ia ingat ini dimana, ini di rumah!
"Mom! Aku melewatkan ice cream dan melewatkan cintaku!" Si kecil yang menghentak-hentakkan kakinya sambil bersedekap kesal tak ayal membuat Sena tertawa. Ya ampun sebegitu cantikkah gadis itu sampai membuat putranya tak sadar sepanjang perjalanan pulang? Astaga.
"Mungkin itu bukan kakak cantikmu sayang." Sena mencoba mengelus rambut putranya yang langsung menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan sang bunda. Oh~ Si kecil marah sungguhan ternyata haha.
"Itu pasti dia!" Leon kembali memandang ke arah jendela dan mengharu biru. Ia hampir saja menangis mengingat semua kesialan yang ia dapatkan hari ini. Tidak di jemput daddy, tidak dapat ice cream, pamannya yang hilang entah kemana, dan kehilangan kakak cantik. Sungguh malang nasibmu Wu Leon~
"Sayang coba telepon uncle Sehun dan ajak dia pergi membeli ice cream bersama, siapa tahu kau akan bertemu kakak cantik. Bagaimana?" Sena mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan menawarkannya pada Leon. Ia kasihan juga melihat putranya yang tampak sedih itu.
Mendengar tawaran sang bunda, dengan segera anak itu kemudian menjauh dari jendela dan menatap ponsel ibunya. Tanpa pikir panjang ia segera mengambilnya dan menghubungi paman kesayangannya itu secepatnya.
Bantu aku uncle!
.
.
Perlahan ia bergerak mundur menjauhi Sehun yang masih membatu di tempatnya. Luhan itu rusa maka begitu jarak sudah tercipta antaranya dan Sehun, ia berlari sekencang yang ia bisa dan bersembunyi, menghiraukan Sehun yang terus berteriak di belakangnya. Ia tidak tahu jika kekuatan Sehun semakin berumur semakin kuat.
Luhan menahan nafasnya dan merapatkan dirinya lagi agar Sehun tidak bisa menemukannya. Pria itu benar-benar kuat, bahkan sekarang ia sudah berdiri di depan tempat persembunyiannya. Tanpa sadar mata si rusa mengeluarkan air mata begitu ia melihat Sehun yang memandang ke arah tempatnya bersembunyi. Pria itu terlihat sangat kelelahan bukan karena berlari mengerjarnya namun lebih pada perasannya. Nafas Sehun tidak beraturan dengan keringat yang muncul di dahinya. Dalam keadaan begini pun dengan sumpah Luhan masih memuja pria itu.
Tumbuhan pinggir jalan itu sudah tumbuh sejak dulu dan Sehun menyakini itu. Seumur hidupnya ia tidak pernah merasa begitu penasaran dengan apa yang ada di balik rimbunnya mereka karena baginya bisa saja binatang liar seperti ular mungkin yang bersembunyi di sana. Namun entah mengapa hari itu ia begitu penasaran, ia bahkan bergerak semakin mendekati semak itu yang membuat si rusa semakin menyembunyikan dirinya.
Sehun semakin mendekati semak-semak tersebut sambil melihat ke sekitar sesekali. Agak aneh memang jika Luhan memilih bersembunyi di sini, tapi mengingat si rusa itu mungil maka bukan hal aneh jika ia memilih tempat bersembunyi yang agak antimainstream seperti ini.
"Ku mohon, jika kau Luhan maka keluarlah." Luhan tidak tahu apa maksud Sehun tiba-tiba berkata demikian. Dalam tangisnya ia berusaha tetap diam mendengar apa yang akan pria itu katakan selanjutnya.
"Lu, biarkan aku melihatmu."
Bohong jika Luhan tidak ingin menyerahkan dirinya kepada Sehun begitu mendengar pria itu memohon dalam kesakitan. Menyeka air matanya, rusa mungil itu sudah bersiap untuk keluar dari persembunyiannya dan menyapa Sehun namun gerakannya terhenti begitu pria itu membalik badannya dan berjalan meninggalkan tempat persembunyiannya perlahan. Tidak! Semua harus diselesaikan sekarang meskipun ia tahu tidak mungkin untuk menjelaskan semuanya kepada Sehun. Dengan cepat Luhan keluar dari semak dan berdiri sempurna di belakang pria itu.
"Sehun,"
.
.
Ruangan itu begitu minimalis dengan semua kesederhanaan yang terasa di sana. Dapur biasa dengan perlengkapan masak sederhana mengisi tempat itu dengan sempurna. Berbagai perlengkapan dapur tertata sedemikian rupa membuat ruangan itu terasa nyaman meski hanya berfungsi sebagai tempat mengolah makanan.
Aroma masakan yang tercium kuat dari sana di hasilkan oleh tangan seorang gadis berperawakan mungil di depan tungku kompor. Dengan lincah tangannya mengolah semua bahan makanan tersebut menjadi menu makan malamnya dengan sang kekasih. Sesekali ia mencicipi masakannya tersebut apakah sudah sempurna atau ada rasa yang tertinggal dan saat semua sudah sempurna sebuah senyum manis akan tersemat di wajahnya.
"Sehun mulai lagi." Perkataan Jongin sukses membuat Kyungsoo menoleh ke arahnya. Ia melihat pria itu membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol minuman dingin rasa jeruk lalu meminumnya tanpa ampun.
Si gadis hanya tersenyum mendengar perkataan Jongin. Ia sudah tahu apa yang dimaksud dengan 'Sehun mulai lagi' itu. Sahabatnya itu pasti sedang kembali memutar ingatannya demi gadis itu, Luhan. Walau sedih mengingat keadaan Sehun dulu tapi di dalam hatinya Kyungsoo merasa senang. Meski menyakitkan tapi Sehun benar-benar tulus pada Luhan dan itu membuatnya senang.
"Bisa-bisanya ia mengingat gadis itu lagi Kyung! Menyebalkan." Kyungsoo sedikit terkejut dengan pelukan Jongin di pinggangnya. Pria itu menyandarkan kepalanya di bahu kecil si gadis dan menghela nafas lelah. Sehun yang bodoh dan Luhan yang keparat –setidaknya itu yang sejak tadi berputar di kepalanya.
"Itu namanya cinta Jongin." Kyungsoo mematikan kompornya dan mulai memindahkan hasil olahannya ke tempat saji dengan Jongin yang masih terus menempel dipunggungnya. Jongin mendengus mendengar jawaban kekasihnya itu. Cinta apanya kalau pergi diam-diam? Itu namanya pencuri. Sayang sekali Luhan, walau cantik tapi ia benar-benar sialan.
Tanpa harus diperintah Jongin melepaskan pelukannya di pinggang Kyungsoo dan membantu gadis itu menata makan malam mereka. Ok, meskipun baru akan menikah bulan depan namun kedua sejoli ini sudah tinggal bersama sejak setengah tahun lalu, ya meskipun itu menyiksa Jongin dan hasrat kelelakiannya.
Kyungsoo itu mungil namun –sialnya ia juga seksi.
"Kyung," Kyungsoo hanya bergumam santai menjawab panggilan Jongin sambil melanjutkan pekerjaannya. Ia pergi ke dapur untuk mengambil beberapa perlengkapan makan mereka dan kembali lagi untuk menyusunnya.
Kebiasaan buruk Jongin yang selalu berbicara setengah-setengah terkadang membuat Kyungsoo kesal sendiri, namun semaikin lama bersama dengan pria itu membuatnya tahu mengapa kekasihnya itu memilih untuk berbicara setengah-setengah. Ada hal yang ingin pria itu tanyakan atau ada hal serius di balik itu semua.
Maka dengan anggunnya, Kyungsoo duduk di seberang Jongin sambil menyendokkan nasi untuk prianya itu. Ia mengisi piring Jongin dengan berbagai menu mereka malam ini lalu menyerahkannya pada Jongin. Kyungsoo sama sekali tidak berniat memancing Jongin untuk bicara apa yang mengganjal, ia membiarkan pria itu membuka mulutnya sendiri sementara ia mempersiapkan menu makan malamnya sendiri.
Beberapa saat berlalu namun Jongin tetap diam dengan pikirannya. Ia bahkan belum menyentuh makan malamnya kali ini, ia hanya menatap makanan itu sambil menghela nafas beberapa kali. Kyungsoo yang sudah memulai makan malamnya itu menghentikan makan malamnya dan menatap kekasihnya. Apa seberat itukah hal yang ingin Jongin katakan padanya sampai-sampai pria itu tidak makan sama sekali?
Apa masakannya tidak enak kali ini?
"Jong, apa masakanku tidak enak?" Jongin masih diam dalam bisu. Ia sama sekali tidak bergeming meskipun Kyungsoo memanggilnya. Gadis itu kemudian menyentuh tangan Jongin lembut sambil memanggil namanya sekali lagi yang langsung menyadarkan prianya itu. Jongin terlihat kaget dan bingung untuk beberapa saat.
"Sayang?" Suara Kyungsoo seakan membangunkan Jongin dari kebingungannya. Ia tersenyum dan membalas genggaman Kyungsoo lebih erat. "Tidak, kau sempurna." Tidak bisa berbohong, semburat merah muda itu muncul dengan nakalnya di kedua pipi Kyungsoo, seluruh hatinya menghangat mendengar ucapan Jongin barusan.
Gombal!
Tapi manis.
Aku suka.
"Bukan aku, tapi masakanku Jongin." Gadis itu menarik tangannya dari genggaman Jongin dan kembali menyantap makanan mereka. Sedikit menunduk untuk menyembunyikan rona merah muda tersebut walau sialnya Jongin sudah melihat hal tersebut.
Jongin berdiri dari bangkunya dan berjalan mendekati Kyungsoo. Ia merendahkan tubuhnya dan memeluk pinggang Kyungsoo serta menyembunyikan wajahnya di perut gadis itu. Entah apa yang merasuki Jongin sesaat tadi, namun rasanya ia akan bisa lebih parah dari Sehun jika ia kehilangan gadis yang sekarang ada di pelukannya. Mungkin Kyungsoo benar akan perasaan cinta Sehun pada Luhan, begitu kuat dan tulus sampai-sampai membuat pria itu menjadi hilang akal begitu gadis itu menghilang. Sejujurnya, walau ia begitu marah pada Luhan ia sama sekali tidak membenci gadis itu. Sisi lain hatinya tetap menyayangi gadis itu seperti teman-teman perempuannya yang lain. Ia masih berharap gadis itu mau kembali dan menyempurnakan Sehun seperti dulu.
Bukan menghancurkannya perlahan seperti sekarang.
"Ada apa sayang?" Jongin merasakan usapan lembut Kyungsoo di kepalanya yang membuatnya semakin mengeratkan pelukannya. "Kyung,.." Jongin mengangkat wajahnya dari perut Kyungsoo lalu menata Kyungsoo yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Ada apa?"
"Jadilah ibu untuk anak-anakku," Jongin semakin mengeratkan pelukannya membuat gadis mungil itu ikut memeluk leher Jongin, "dan jangan pernah pergi dariku barang satu detikpun." Kyungsoo menarik pria itu kedalam pelukannya dan mencium pucuk kepala Jongin sayang.
"Apa kau sedang merayuku untuk ke bercinta? Tunggu sampai bulan depan ya sayang."
Jongin hanya tersenyum masam mendengar ucapan gadisnya. Sial, memperalat Kyungsoo untuk bisa menyerahkan dirinya susah sekali. Bahkan rayuannya kali ini juga tidak mempan.
"Aku kalah lagi ya."
"Tahan tiga puluh hari lagi sayang."
"Tapi aku serius."
Kyungsoo melepaskan pelukannya dan menatap Jongin heran, "untuk? Ajakanmu?" Jongin menggeleng dan kembali menggelamkan wajahnya di perut gadis itu.
"Untuk tidak pergi barang satu detikpun dariku. Aku bisa lebih sakit daripada Sehun yang kehilangan Luhan jika aku kehilanganmu."
Jangan tanyakan bagaimana Kyungsoo sekarang kalau bukan wajahnya yang memerah dan hatinya yang sangat berbunga bahagia.
.
.
Seingat Sehun, ruangan tempatnya dan Jongin bekerja adalah ruangan yang paling dingin dan santai dari seluruh ruangan yang ada di kantor mereka. Tempat itu diisi dengan sebuah sofa ukuran sedang dengan dua beanbag, sebuah kulkas kecil, televisi, dua buah set komputer lengkap dengan speaker aktif dan papan gambar besar tempat mereka menempelkan deadline tugas dan hasil keluh kesah akibat pekerjaan.
Sekarang ruangan itu kurang lebih sama menyeramkannya dengan tempat interogasi. Terlalu dingin dan terlampau sepi. Sehun sengaja menyuruh Luhan untuk duduk di sofa sementara ia duduk di depan gadis itu dengan beanbagnya. Setidaknya kalau nanti ia akan mengamuk karena sesuatu hal, ia tidak akan menakuti Luhan –beanbag terlalu empuk untuk sekedar dibanting karena emosi, tidak akan pecah atau semacamnya, jadi semua akan tetap baik-baik saja.
Untung saja reflek Sehun masih sama seperti saat ia masih sekolah dulu jadi ketika ia berbalik dan melihat Luhan berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia segera berlari dan menghalau gadis itu agar tidak lagi menghilang.
Luhan lebih mirip makhluk halus daripada seekor rusa betina. Terlalu cepat menghilang.
Sepuluh menit.
Sudah sepuluh menit dua insan yang sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing itu berdiam diri tanpa ada yang berniat membuka suara sedikit pun. Dalam otaknya, Sehun terus berpikir apa yang harus ia tanyakan pada Luhan, mengapa ia pergi atau kemana saja ia selama ini atau malah bertanya apa kabar mungkin? Sementara Luhan, sejak tadi ia tidak bisa berpikir jernih setelah melihat Sehun berdiri di hadapannya yang kemudian membawanya sampai ke tempat ini. Ia memutuskan untuk tetap diam walau sejak tadi terlalu banyak kata-kata yang ingin ia sampaikan pada pria itu.
Sehun tidak tahu jika kegugupannya akan muncul bahkan sampai membuat telapak tangannya berkeringat saat bertemu Luhan untuk pertama kalinya. Berulang kali ia meremat jari-jari tangannya sendiri untuk menetralkan perasaan gugup dan menghilangkan keringat di telapak tangannya. Berulang kali ia menghela nafasnya untuk berusaha tenang bahkan ia sendiri tidak tahu sejak kapan ia menjadi berdebar-debar seperti sekarang.
Alih-alih bisa mengeluarkan suara, Sehun lebih memilih menikmati dulu apa yang sudah menjadi candunya sejak delapan tahun lalu itu. Luhan. Ia memilih untuk memperhatikan setiap jengkal makhluk menggemaskan yang ada di depannya sekarang. Dimulai dari rambutnya yang masih panjang, masih cokelat dan masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Tubuh itu masih mungil, masih lebih kecil darinya dan sialnya semakin menggemaskan serta –menggiurkan?
Matanya.
Mata si mungil juga masih sama seperti dulu, berbinar dengan indah. Bibirnya, hidungnya yang kecil, bahkan pipi putihnya yang menggemaskan semuanya masih sama seperti dulu. Luhan masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya.
Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Sehun berusaha membuka percakapan terlebih dahulu. "Hmm, tidak adakah yang ingin kau sampaikan?"
Ketimbang menjawab, Luhan lebih memilih diam. Terlalu banyak yang ingin ia jelaskan namun semua sepertinya sudah tidak perlu. Sehun tidak perlu tahu apapun yang sudah terjadi dan yang harus di jelaskan. Melihat bagaimana pria itu sekarang, sudah sukses dan berhasil di usia muda membuat Luhan semakin yakin untuk tidak mengatakan apapun.
"Hai Sehun."
.
.
Semua kekesalan Leon bermula dari sang ayah yang lupa menjemputnya, dilanjutkan dengan sang ibu yang sengaja melewati kedai ice cream kesayangannya tanpa berhenti untuk membelinya, lalu sang ibu yang juga membuatnya kehilangan jejak si kakak cantik yang menjemputnya dan berakhir dengan sang paman yang dengan kurang ajarnya tidak menjawab panggilannya.
Sejak sampai rumah, putra semata wayang pasangan Wu Kris dan Wu Sena itu sama sekali tidak keluar kamar. Ia hanya mengurung diri di kamar sambil mewarnai beberapa gambar ditemani berbagai cemilan yang ia ambil dari kamar sang paman, Oh Sehun.
Tok! Tok!
Leon melirik sinis pintu kamarnya yang kembali berbunyi ketukan khas sang bunda. Masa bodo ah! Intinya hari ini ia begitu kesal dengan semua orang rumah termasuk kucing abu-abu yang tengah tiduran malas di kandangnya.
"Apa BumBum! Kau mau membuatku kesal juga?" omel Leon ketika ia melihat Bumbum kucing abu-abunya terbangun dan menoleh ke arahnya. Si kucing hanya merenggangkan badannya dan kembali tidur lagi tidak menghiraukan ocehan Leon.
Tok! Tok!
Inginnya sih ia memakai headphone seperti yang biasa pamannya lakukan jika sedang tidak ingin diganggu, lalu membiarkan suara ketukan itu berhenti dengan sendirinya dan keadaan akan tenang lagi. Namun begitu ia melihat tumpukan bungkus cemilan yang sudah kosong ditambah ia juga belum makan siang membuat Leon mengalah pada keadaan. Si kecil kemudian meraup semua bungkus kosong cemilannya dan membuka pintu kamarnya yang langsung menampilkan wajah sang bunda.
"Itu semua cemilan punya Sehun?" tadinya Sena ingin membujuk putranya untuk turun dan makan tapi begitu melihat apa yang sedang putranya genggam membuat perhatiannya teralih. Bukan karena si kecil memakan banyak cemilan tapi itu adalah cemilan seorang Oh Sehun. Sena belum siap untuk menerima ocehan panjang dari adiknya yang tampan itu ketika tahu semua cemilannya menghilang dimakan putranya.
"Ini punya uncle dan semua sudah habis. Aku mau membuangnya."
"Kau sudah izin pada Sehun untuk memakannya?"
Si kecil hanya menggeleng menjawab pertanyaan bundanya. Sial! Kenapa juga ia bisa lupa untuk mengatakan pada pamannya jika ia ingin meminta cemilannya. Pasti pamannya akan mengomel dan tidak mau bermain dengannya.
Ah, kesialan selanjutnya.
Melihat putranya murung, Sena segera mengambil semua bungkus cemilan yang ada ditangan jagoannya, "Sekarang, kau pergi mandi. Biar Mommy yang bicara pada Sehun." Ia mengusap lembut kepala Leon dan membubuhkan kecupan manis disana. Sang jagoan kecil pun mengangguk dan segera bergegas mandi.
Urusan Sehun urusan mommy!
Butuh waktu tiga puluh menit untuk Leon menyelesaikan kegiatan untuk mandi. Ia sangat senang main air seperti anak seusianya. Dengan semua perlengkapan mandi, si bebek karet kuning yang berjumlah lima buah siap menemaninya bermain air bersama.
Bercermin sebentar sambil mengeringkan tubuh mungilnya, pikiran Leon kembali menuju kakak cantik yang menjemputnya sepulang sekolah tadi. Tiba-tiba saja entah ide darimana ia ingin sekali memperkenalkan kakak cantik itu kepada pamannya. Kalau mereka bisa berteman bukan tidak mungkin jika ia bisa menghabiskan banyak waktu bersama kakak cantik tersebut.
Menemaninya bermain jika pamannya sedang banyak kerjaan, menjemputnya pulang sekolah dan mengantarnya berlatih sepak bola, menemani makan ice cream bersama dan tentu saja ia akan memamerkannya pada bibi Zizi jika ada gadis yang lebih cantik darinya.
Haha!
Dengan membayangkannya saja sudah mampu membuat Leon tersenyum girang. Ia jadi tidak sabar menunggu waktu yang tepat untuk memperkenalkan kakak cantiknya dengan paman tampannya.
Clek.!
Leon benar-benar bahagia sampai ke ubun-ubun. Ketika membuka pintu kamar mandi, ia langsung mendapati sang paman sedang berbaring di tempat tidurnya sambil memeluk boneka kesayangannya. Si kecil langsung berlari menerjang Sehun tanpa peduli ia bahkan belum berpakaian.
"Uncle!" Tangan kecil Leon memeluk leher Sehun sambil menciumi seluruh permukaan wajah pria itu, sementara sang paman hanya tersenyum mendapat perlakuan demikian dari keponakannya.
"Aigo, kau bahkan belum berpakaian." Sehun mengendong tubuh mungil Leon dan membawa duduk di pangkuannya. Ia menyisir rambut Leon dengan jarinya dan merapikan handuk yang dipakai si kecil di tubuhnya. Lindungi asetmu Leon-ah!
"Aku mencarimu seharian Hun. Uncle kau kemana saja?" Bibir Leon yang sedikit mengkerucut saat berbicara membuat Sehun gemas sendiri. Ia kemudian mencondongkan wajahnya menuju bibir Leon dan menciumnya.
Cup!
"Aku? Tentu saja bekerja. Pakai bajumu dulu baru kita bermain lagi, ok?" tawar Sehun yang langsung dihadiahi kecupan di seluruh wajahnya dari bibir Leon. Anak pasangan Sena dan Kris itu kemudian melompat turun dari pangkuan Sehun dan memakai pakaiannya sendiri.
Leon memang manja tapi ia adalah Ssang Namja!
Begitu kata Uncle Jongin.
Maka secepat kilat Leon memakai pakaiannya lengkap tanpa ada yang tertinggal. Bibir mungilnya menggumamkan urutan pakaian yang harus ia kenakan terlebih dahulu agar tidak ada yang terlewat. Sehun yang melihatnya tidak bisa untuk menyembunyikan senyumnya. Keponakannya yang satu ini memang penuh kejutan. Pertumbuhannya yang pesat membuat Sehun merasa tua sebelum waktunya. Kalau sudah begini, ia jadi ingin cepat-cepat punya anak.
Pasti akan sangat menyenangkan bisa melihat buah cintanya tumbuh kembang setiap saat. Melihat bagaimana nantinya ia belajar bicara, belajar berjalan, bahkan berlari. Pria itu berikrar dalam hati kecilnya akan mengajari anaknya bela diri tidak pandang bulu perempuan atau laki-laki yang penting anak seorang Oh Sehun harus jago berkelahi.
Ia tak sadar sudah senyum-senyum sendiri membayangkan wajah polos anak-anaknya saat tertidur nanti. Deru nafas mereka pasti menjadi alunan musik terindah baginya. Membayangkan anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berprestasi membuat hatinya menghangat.
Belum lagi ia akan melihat perwujudannya sewaktu kecil pasti akan tercetak sempurna pada wajah anak-anaknya nanti. Ia membayangkan bagaimana wajah si kecil yang akan menurun dari wajahnya dan pendamping hidupnya kelak. Mereka pasti sempurna.
Tentu. Mereka adalah anak-anaknya,
bersama Luhan.
Sial!
Sehun tersentak kaget begitu mendapati Leon yang meletakan tangan mungilnya pada dahi Sehun. Kedua matanya yang benar-benar menurun dari Sena menatapnya penuh dengan binar kebingungan dan khawatir. Dalam otak si kecil terus berputar pertanyaan 'mengapa uncle itu senyum-senyum sendiri? Apa uncle sakit?'
"Uncle baik?" tanyanya begitu ia melihat Sehun memandangnya.
Sehun yang masih dalam kondisi setengah melayang akibat khalayannya hanya mampu mengangguk menjawab pertanyaan Leon. Setelah sadar, ia kemudian tersenyum melihat ulah keponakannya tersebut. Si kecil pasti berpikir ia sedang sakit makanya ia meletakan tangan mungilnya di dahi Sehun.
"Ayo makan, Mom sudah memanggil kita."
"Ok." Leon kemudian mengenggam telunjuk Sehun dan menarik pria itu turun dari tempat tidurnya untuk segera makan. Selain sang mommy sudah ribut, cacing dalam perutnya juga sudah konser sejak tadi.
Sejak kapan uncle memakai perban? Uncle sakit. Aku harus memberitahu mommy!
.
.
Sehun tidak bisa untuk tidak terkejut mendengar suara Luhan. Bukan karena suara gadis itu semakin menyenangkan untuk didengar namun lebih kepada apa yang baru saja di katakan gadis itu. Dari sekian banyak kata mengapa hanya sekedar sapaan –hai?!
"Hai? Hanya Hai?" Luhan menatap Sehun tidak mengerti. Bukankah tadi pria itu bertanya adakah yang ingin ia sampaikan, dari sekian banyak pemikiran ia lebih memilih membuka percakapan dengan kalimat sapaan, apa itu salah?
"Dari sekian banyak penjelasan yang harus kau jelaskan, kau hanya mengatakan Hai?!" Sehun berusaha untuk tidak emosi dengan perilaku Luhan. Ok delapan tahun sudah terlewati, tidak banyak yang berubah dari Luhan kecuali ia berubah menjadi menyebalkan.
"Aku menyapamu Sehun."
"Menyapaku? Aku tidak butuh sapaan apapun darimu." Sehun dapat melihat Luhan sedikit terkejut dengan nada bicaranya yang kelewat ketus. Tidak tahu kenapa ia mendadak menjadi sebal dengan tingkah Luhan.
"Lu,"
Jangan menangis Luhan, tidak boleh lemah.
"Kau belum membalas sapaanku Sehun."
Sehun menarik nafasnya tidak percaya dengan apa yang barusan Luhan katakan. Belum membalas sapaannya?!
Ia berdiri dari beanbag, membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya tanpa ampun. Semoga saja aliran air dingin di dalam tubuhnya bisa meredakan emosi yang sudah mulai muncul.
Sehun meletakan botol mineral itu agak keras di meja dekat Luhan. Ia mendekatkan tubuhnya pada gadis itu, begitu dekat hingga ia sendiri bisa mencium aroma Luhan yang berubah semakin manis dan memabukkan, " Aku serius Lu."
"Aku juga." Mata Luhan menangkap bagaimana Sehun bergerak mundur menjauhi tubuhnya. Begitu pria itu bergerak, aroma tubuhnya ikut menguar dan mengunci Luhan dalam kenangan. Jari-jari tangannya saling bertaut berusaha untuk meredakan ketegangan yang mulai menggodanya. Ia tidak boleh lengah ataupun lemah bahkan di depan Sehun.
"Lu," Sehun mensejajarkan wajahnya dengan Luhan hingga ia bisa melihat lebih dalam lagi pada mata gadis itu. Kebohongan. Luhan berbohong padanya. Ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan darinya dan ia merasakan itu begitu kuat, "Tolong setidaknya, setelah menghilang tanpa alasan seharusnya ketika kembali kau membawa penjelasan padaku."
"Maaf Sehun, aku-"
"Aku tidak butuh maaf Lu, aku butuh penjelasanmu. Sekarang." Sehun menatap lebih dalam lagi mata Luhan yang membuat gadis itu menundukkan wajahnya. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada gadis itu hingga jarak tak lagi terasa dengan dahi mereka yang saling bersentuhan. Hembusan nafas yang keluar secara teratur dari hidung Luhan tidak seberapa memabukkan daripada aroma tubuh gadis itu yang entah mengapa menguar begitu kuat dari jarak seperti ini. Sehun harus bisa menahan dua hal gila yang sedang mengerayangi tubuh dan pikirannya.
Emosi untuk tidak memaki Luhan atau Emosi untuk tidak mencium bibir gadis itu.
Sialan, kau begitu memabukkan Lu.
Sehun menahan kedua tangannya tetap di samping tubuh Luhan yang semakin merapatkan duduknya serta memundurkan tubuhnya. Ia harus kuat menahan godaan untuk memainkan tangannya di tubuh Luhan dan membawa gadis itu pada pelukannya.
Tidak sebelum gadis itu menjelaskan semuanya. Omong kosong jika Sehun tidak membutuhkan penjelasan apapun. Ia butuh walau hanya segelintir saja untuk mengobati semua lukanya.
"Lu, Kumohon,"
Luhan mengangkat wajahnya menatap Sehun semampunya. Hatinya sakit menangkap pancaran mata pria itu mulai meredup. Wajah tegas itu kini tidak lagi sesegar dulu, raut kelelahan sudah terlihat jelas di sana.
"Tidak ada yang bisa dijelaskan Sehun, tidak ada."
Sehun membawa tubuhnya menjauhi Luhan, "Tidak ada?! Yang benar saja!"
Tidak tahu sejak kapan yang jelas Sehun sudah berdiri menghadap tembok dan membelakangi Luhan. Tangannya sudah terkepal di kedua sisi tubuhnya. Ternyata lebih sulit untuk menahan emosi untuk tidak memaki Luhan ketimbang nafsunya pada gadis itu.
"Sehun,"
Brengsek!
"Apa kau tahu aku sudah seperti orang gila saat kau hilang di stasiun!"
Bugh!
Sehun melayangkan satu pukulannya ke tembok di samping kepalanya. Ia tidak peduli besok akan meninggalkan bekas memar atau bahkan cidera yang jelas ia ingin sekali menghancurkan sesuatu sekarang.
Sialan!
Bugh!
"Apa kau tidak tahu aku nyaris bunuh diri saat tahu kau benar-benar tidak bisa aku temukan dimana pun!"
Persetan denganmu Luhan!
Bugh!
"Dan sekarang, kau hanya mengatakan tidak ada yang bisa dijelaskan setelah semua sikapmu padaku!"
Prang!
Figura itu melayang begitu saja mengenai tembok belakang Luhan. Sebuah serpihan bahkan mengenai pipinya membuat segaris luka dan sedikit mengeluarkan darah. Gadis itu hanya diam menahan tangisnya melihat Sehun yang mengamuk seperti sekarang. Ini semua memang salahnya tapi apa yang bisa ia lakukan?
"Kau anggap aku apa Luhan!"
Luhan tidak bisa untuk menahan air matanya lebih lama lagi. Mereka jatuh begitu saja saat ia melihat Sehun yang juga melihat kearahnya dengan tatapan terluka. Pria itu, si tangguh yang selalu melindunginya dulu sekarang sangat rapuh. Matanya tidak lagi memancarkan kehangatan melainkan kesatikan dan kekecewaan. Air mata juga mengalir dari kedua mata pria yang mengagumkan itu.
Tubuhnya kaku entah apa sebabnya. Hatinya terlalu sakit bahkan untuk sekedar merasa nyaman barang sedetikpun. Besar keinginannya untuk berjalan mendekati Sehun, merengkuh pria itu dan mengucapkan berjuta maaf padanya. Menghapus air matanya dan membawa lagi kebahagian untuknya. Sekuat itulah perasaannya pada Sehun maka sekuat itu juga kilasan kejadian malam itu terulang. Perasaan hina dan kotor terus membayangi Luhan sampai sekarang.
Pria itu sudah sukses dengan semua cita-cita dan pencapainnya, maka sanggupkah ia merusaknya hanya dengan keadaannya yang sama sekali tidak bisa dibilang baik?
Ia sudah rusak maka sebelum ia merusak Sehun, ia harus berhenti.
"Sekarang," Sehun berjalan gontai mendekati pintu lalu membukanya, "Kau tahukan dimana letak pintu keluarnya." Luhan hanya diam melihat Sehun sekarang. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi untuk mengelak dari Sehun.
"Katakan Lu, atau kau pergi sekarang"
Tidak. Tidak bisa Sehun! Kau akan semakin terluka.
Luhan memilih untuk berdiri dari duduknya dan bersiap untuk pergi. Perkara Sehun akan mencari atau tidak ia sudah tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah ia pergi dari ruangan ini, tidak melihat Sehun dengan semua kesakitannya yang semakin nyata. Luhan takut jika semakin lama ia berada di sini maka akan semakin goyah keyakinannya.
Maka gadis itu menguatkan hatinya untuk melangkah menuju pintu keluar sampai ia mendengar Sehun berkata lagi, "Dan jangan pernah kembali lagi."
Luhan mematung begitu kalimat sialan itu keluar dari mulut Sehun.
Jangan pernah kembali lagi.
Sebenarnya Sehun, jika kau mau tahu Luhan sangat ingin kau memintanya kembali atau paling tidak memaksanya lebih keras lagi untuk mengatakan semuanya dan ia akan mengeluarkan semua tanpa sisa padamu. Namun, ia bisa apa? Bagi Luhan sudah cukup ia menghancurkan hidup sempurna Sehun begitu ia menuruti pria itu untuk masuk ke dalam ruangan ini. Dengan melihat keadaan pria itu sekarang, Luhan sudah sangat puas akan semuanya.
Hatinya seperti di remas begitu kuat saat ia melihat Sehun yang sama sekali tidak bergeming di samping pintu. Pria itu berdiri dengan angkuh tanpa memberikan kesan membuka kesempatan lain. Maka Luhan berjalan dengan keyakinan yang sudah menghilang menuju pintu keluar dan berharap sebuah keajaiban terjadi walau nyatanya ia hanya mendapati Sehun yang tetap tidak bergerak dari posisinya bahkan enggan melihatnya.
Sehun mengusirnya.
Setidaknya itu yang ia pahami ketika pria itu membiarkan ia keluar dari pintu itu. Bukankah ini lebih baik daripada ia yang harus melukai Sehun terlalu dalam, akan lebih mudah untuknya jika Sehun yang menendangnya keluar lebih dulu bukan?
Sehun , kau tidak perlu tahu apapun, tidak perlu memikirkan apapun. Kau tidak perlu tahu, cukup nilai aku buruk Sehun dan lupakan aku.
Terima kasih.
.
.
Tbc,
Maapkeun aku hihi~ tenang, ff ini akan tetap aku lanjutkan sampai selesai kok walau eventnya sudah selesai. Aku juga minta maaf kepada penyelenggara lomba dimana aku tidak bisa menyelesaikan tepat waktu.
Maafkan aku~
Selamat membaca semuanya. Terima kasih atas review, saran bahkan kritik kalian semuanya. Aku sangat berterima kasih untuk itu semua.
