…
Dugaannya terbukti benar. Kyungsoo marah besar setelah mengetahui kasus yang kemarin menimpa Baekhyun. Dia bahkan tidak segan melarang dirinya untuk bertemu dengan si kecil. Juga memilih homeschooling untuk Baekhyun pada akhirnya.
Chanyeol mengerti, Kyungsoo mungkin masih merasa trauma dan tak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Terlebih pada Baekhyun yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
Bahkan hingga saat ini Kyungsoo masih memeluk si kecil dengan erat di kamar, tak memperbolehkan siapapun membawanya. Itu yang Kai katakan saat berbicara dengannya lewat sambungan telepon pagi tadi.
Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Chanyeol menghela nafas kasar hari ini. Seolah beban berat menimpa kedua bahunya.
File diatas meja dia bawa sebagian, berjalan menuju sebuah ruangan dengan langkah tegas. Beruntung Suho masih mau memberi kesempatan, mengijinkannya kembali mengitrogasi Yifan sebagai terduga bersalah. Tentu dengan syarat jika dia tak boleh kelepasan kali ini.
"Baiklah kita mulai saja…"
Minggyu dan Jongdae berjaga diluar ruangan. Memantau lewat layar komputer juga kaca besar yang memang sengaja dipasang di bagian tengahnya, sekalian untuk mengantisipasi Chanyeol yang mungkin bisa mengamuk kapan saja. Sedang saat ini Suho tengah mencoba mengunjungi keluarga korban, meminta keterangan.
"Coba kau jelaskan maksud dari tulisan yang kau buat ini." Sehun menyodorkan selembaran kertas dengan satu tulisan dan symbol di sana.
Akan919 dan Love sign.
Yifan melirik kertas itu sekali sebelum membawa tatapan pada Sehun dengan tenang. Melipat tangan di dada sambil menelengkan kepala dan menjawab,
"Aku tidak tahu."
Chanyeol menghembuskan nafas lewat mulut, mencoba bersabar walau hati telah mendongkol. Sedangkan Sehun seperti biasa selalu berkata dengan begitu tenang, membiarkan tatapan matanya menajam. "Kutanya sekali lagi, apa—"
"Dan jawabanku akan selalu tidak tahu." Yifan memotong cepat, menjawab penuh penekanan disetiap kata seolah ingin memberitahu pada yang lainnya jika memang bukan dia pelakunya. "Aku bahkan tidak tahu apa arti tulisan itu." Ditatapnya obsidian Sehun dengan menantang, tersenyum miring pada sang detective.
"Dunia ini penuh misteri ya."
Dia tertawa pelan, bersandar sambil menatap langit-langit. Chanyeol hampir saja membuat kursi yang ia duduki tadi jatuh karna ulahnya ketika bangkit berdiri. Hembusan nafasnya sudah memburu, bagai seekor banteng ketika melihat warna merah. Berang dengan sikap main-main Yifan.
Sehun menahan lengan tangan Chanyeol ketika dia mulai melangkah mendekati Yifan, "Diam saja, biar aku yang akan membuat si keras kepala ini bicara."
Jika ditanya, Sehun jelas kesal juga. Bukan main kesalnya malah, hanya saja masih bisa dikendalikan. Bayangkan saja, sudah hampir 2 jam lamanya mereka terjebak di ruangan ini tanpa kejelasan.
Sejak awal jawaban Yifan tak berubah selain kata, 'Tidak tahu' atau dia akan terkekeh tanpa dosa ketika Chanyeol menghujamkan tinjuan pada wajahnya.
Bagi Sehun memang sudah konsekuensi menjadi bagian dari kepolisian menghadapi yang seperti ini, dulu bahkan dia pernah menangani yang lebih parah.
"Baiklah aku akan mengganti pertanyaannya."
"Silahkan saja tuan Detective."
Sehun berdehem, melirik sesaat pada Chanyeol untuk memastikan keadaan sahabatnya. Karena bagaimanapun pertanyaan ini bisa saja menyinggung amarahnya lagi nanti.
"Apa motifmu melakukan tindak pelecehan itu pada Baekhyun?"
Dan memang benar, fokus Chanyeol langsung tertuju sepenuhnya pada Yifan. Menantikan jawaban dengan rahang yang perlahan mengeras.
Yifan justru kembali mencondongkan tubuh, "Kalau itu sih…" Dia menangkup dagunya dengan kedua tangan, melirik ke atas seakan tengah memikirkan hal yang menyenangkan. Mengulas senyuman teramat tampan yang terkesan seperti ejekan bagi Chanyeol.
"Karena dia manis, hehe."
Chanyeol berteriak frustasi, "CUKUP!" Menarik dengan kasar bagian depan pakaian yang Yifan kenakan hingga membuat anak itu sempat terbatuk sebentar karna tercekik. "Aku bahkan menemukan cincinmu disana!" Menghempas lagi pria yang lebih muda pada kursi sebelum merogoh saku celana untuk menunjukan benda berkilap di dalam kantung kecil transparan tersebut.
Yifan tahunya terkesiap, meraih dengan segera bungkusan itu dengan senyuman cerah. "Di mana kau mendapatkan ini?" Tanpa segan mengeluarkan benda tersebut dan memakainya di ibu jari, membuat semakin jadi saja kemarahan seorang Park Chanyeol.
"Berhenti berpura-pura, brengsek!" Darah sudah naik ke ubun-ubun, membuat wajahnya memerah sampai ke telinga saking kesalnya.
Mungkin sebentar lagi meja dihadapan akan hancur atau minimal berlubang karna terus dihantam dengan kepalan tangan Chanyeol, "Aku menemukannya di dekat lokasi kejadian!"
"Sudah kubilang bukan aku yang melakukannya."
Pria itu berdecih sinis, meninju sekali lagi wajah yang telah membiru lebam di beberapa bagian itu hingga Yifan kembali tersungkur di lantai. "Keparat!"
Persetan dengan Yifan yang mungkin bisa saja mati di tangannya. Jangan kira Chanyeol akan percaya begitu saja pada semua ucapannya sedang bukti sudah di depan mata.
Yifan meludah ke sudut, mengusap jejak darah dari ujung bibir dengan ibu jari sebelum tertawa menyebalkan. Bangkit berdiri walau sedikit tertatih, "Baiklah," Dia menjeda kata, menatap tepat di mata sang detective Park yang tengah menggeram di hadapan.
"Kita lihat saja nanti…."
.
Come Back to Me
.
Pairing:
Park Chanyeol x Byun Baekhyun
.
Genre:
Crime. Drama. Mistery
.
Warn : Sinetronable. YAOI, BL. Reinkarnasi. Mpreg. Italic word for flashback. Banyak teka-teki.
.
Original Story by
Izahina98
Don't Like? Don't Read!
.
London, 6 Juni 1930. Tepat 30 hari setelah mereka terlahir ke dunia. Dalam keadaan sehat tanpa cacat. Menambah kebahagiaan pada keluarga kecilnya, juga membuat bibir tipis itu terus mengulas senyum.
Jackson Park dan Jesper Park. Terimakasih sudah terlahir.
"Ululu~ Anak Daddy kenapa tidur terus sih?" Chanyeol tak bisa berhenti, terlalu gemas untuk menjawil pipi tembam Jasper di dalam gendongan Baekhyun.
Terkekeh-kekeh saat anak itu mencebikkan bibirnya dengan alami. "Oh, lihat! Anak Daddy marah." Katanya begitu riang.
Baekhyun yang tengah bersandar pada headbed menanggapi dengan tawa, menepuk bokong sang bayi hingga kembali terlelap.
Kemudian bersiap bangkit untuk meletakkan bayinya ke dalam box berbahan dasar kayu kualitas tinggi di sudut ruangan. "Eits, kau tidak boleh banyak bergerak dulu." Namun Chanyeol menahan tubuh Baekhyun dengan segera, mendorong pelan bahu sempit itu untuk bersandar nyaman di tempat semula.
"Dokter bilang lukamu belum sembuh benar," Dia mengambil alih bayi laki-laki itu kedalam gendongan, meletakkan Jasper tepat di samping Jackson yang masih tertidur dengan pulasnya.
"Jadi kau hanya perlu diam dan aku yang akan mengurus semuanya."
Memiliki buah hati yang tampan juga menggemaskan memang sebuah anugerah. Namun, sepertinya dia akan berpikir ulang saat menginginkan anak lagi.
Pasalnya untuk sekali dalam seumur hidup dia merasakan ketakutan juga gelisah, mendapati suami mungilnya terduduk lemas dilantai, "Chanyeolie..hiks…sakit sekali." Merintih sambil memegangi perut besarnya hingga membuat panik terasa sampai ke tulang.
Di sepanjang perjalanan Baekhyun terus meremat perut, merintih pelan dengan urat-urat tipis di dahi juga lehernya. Belum lagi dia harus menanti persalinan yang tidak bisa dikatakan sebentar. Intinya Chanyeol berubah menjadi orang yang paling panik di dunia. Bukan seperti dia yang biasanya.
"Tapi aku bosan tiduran terus." Baekhyun mengerucutkan bibirnya, menyamankan posisi dengan jemari yang sibuk memainkan kancing kemeja Chanyeol. "Setidaknya biarkan aku keluar sekali saja, Chanyeolie."
Chanyeol mengecup sekali bibir ranumnya dan menjawab, "Tidak."
"Masih terlalu berbahaya untukmu keluar, Sayang." Dia melanjutkan.
"Tapi kan ada kau yang selalu menjagaku."
"Aku tidak yakin bisa terus menjagamu," Dia menjeda kalimat, meraih dagu Baekhyun untuk menatap kedua matanya.
"Kau ini bicara—hmpt."
Baekhyun terkesiap ketika Chanyeol menutup mulutnya dengan telapak tangan tiba-tiba, sedang kepala sang suami sudah menoleh kearah pintu dengan mata memicing curiga.
Walau samar, telinga Chanyeol masih bisa mendengar derap langkah kaki yang mendekati areanya. Chanyeol tahu benar, suatu saat ini akan terjadi cepat atau lambat.
Bahkan dia sudah memilih rumah yang jauh dari perkotaan untuk tempat persembunyian suami kecil juga anak-anaknya. Tapi dia tidak menyangka jika tempat yang ia anggap aman justru bisa di masuki juga.
Tirai pada jendela sedikit ia singkap, memandang dengan jeli bayangan-bayangan hitam di balik semak juga pohon di area depan. Berdecih kesal saat melihat beberapa penjaga sudah terkapar di tanah dengan pisau di dada.
"Sial!" Dia mengumpat kasar, berjalan cepat mendekati Baekhyun yang masih terdiam di tempat. Tak mengerti dengan jelas situasi yang terjadi sebenarnya.
"Ikuti aku dan jangan bicara apapun, kau mengerti?" Baekhyun langsung menganggukan kepala, tak berani bertanya. Namun dari raut wajah Chanyeol yang serius dia bisa menyimpulkan situasi.
"Kau bisa berjalan 'kan?" Kembali mengiyakan lewat anggukan kepala lalu meraih lengan pria yang lebih tinggi untuk dia peluk sebagai pegangan.
Chanyeol menuntunnya menuruni ranjang dengan perlahan, mengambil kedua bayinya kemudian.
Dia tidak yakin jika selain kamar ini kondisi masih aman, terlebih dia tahu betul bagaimana cepatnya pergerakan 'dia'. Jadi, dengan banyak pertimbangan. Chanyeol memilih untuk menyembunyikan Baekhyun di dalam lemari besar di sana.
"Diam dan jangan berisik," Chanyeol menyerahkan Jesper sebelum menangkup sebelah pipi Baekhyun. "Aku akan mengecoh mereka. Jangan keluar sebelum keadaan aman, kau paham?"
Baekhyun menggeleng brutal, menatapnya dengan pelupuk mata yang telah berair. "Bagaimana denganmu? Tidak bisakah kita pergi bersama?"
"Tidak bisa. Di luar sudah tidak aman." Pria itu tersenyum, mencoba meyakinkan yang lebih kecil untuk percaya pada ucapannya. "Ini demi anak kita juga." Perkataan itu sukses membuat Baekhyun gundah, tak ingin Chanyeol meninggalkannya namun tak ingin bayinya terluka.
"Percaya padaku dan semua akan baik-baik saja." Seolah mengerti kegelisahan si kecil Chanyeol berucap, mengecup kening Baekhyun lama sekali seolah memberikan keberanian. Kemudian mengecup dimasing-masing pipi buah hatinya sesaat.
"Aku akan menjemputmu nanti."
Perlahan namun pasti Chanyeol menutup pintu lemari tersebut dengan kedua tangan, menatap tepat pada obisidian terang milik Baekhyun diantara kegelapan. Terus memanjatkan doa dalam hati agar Tuhan selalu melindungi orang-orang yang paling berharga.
Chanyeol kemudian meraih satu revolver pada laci di bagian terbawah, memasukan persediaan pelurunya dalam saku sebelum berjalan mengendap keluar kamar. Hanya senjata ini yang sialnya tersedia di kamar, sisanya ada pada laci di meja kantornya. Pergerakan mereka benar-benar di luar rencana.
Kepala Chanyeol menoleh ke kanan dan ke kiri dari celah, mengunci kamar tersebut dengan segera setelah merasa keadaan aman.
"Sudah kuduga mereka masuk dengan cepat." Chanyeol merapatkan punggung pada dinding, melirik sekali pada pria bertubuh besar di ujung lorong lantai dua.
Dia harus berjalan lebih jauh agar tak ada satupun yang mendekati kamarnya. Tanpa menyadari jika ada seorang lainnya dibelakang, tersenyum miring hingga sepasang matanya kian menyipit.
"Aku mendapatkan kelemahanmu, Park."
Sebuah ancaman.
.
-Come Back to Me-
.
Nyatanya menjadi seorang anggota kepolisian tidaklah mudah. Terlebih menghadapi pelaku dengan sifat keras kepala untuk mengorek informasi, itu sulit. Sama seperti yang Sehun katakan. Remaja itu sangat suka bermain-main, lebih banyak tertawa dan membual. Tak terlintas rasa takut sedikitpun di wajahnya.
"Sunbae-nim, aku turun di depan saja." Minggyu menunjuk halte bus pada sisi jalan yang sepi, membuat Jongdae melirik sebentar dan bertanya, "Kau yakin?" Untuk memastikan.
Anggukan kepala mantab ia lakukan sebagai jawaban, berucap terimakasih pada yang lebih tua sebelum membawa kaki melangkah menjauhi sisi jalan.
Dia meniup kedua telapak tangan, membiarkan nafas hangat membelai permukaan itu. Membuat kepulan uap tipis muncul sebagai tanda betapa dinginnya cuaca malam dengan awan kelabu yang perlahan menggantung di langit.
"Untung saja aku bisa mendapatkan ini sebelum mereka membawanya."
Kasus yang selama ini tak pernah menemukan titik terang tentu membawa rasa kecewa juga marah dari banyak pihak, terutama kepala kepolisian. Mengancam dengan suara berat jika ini adalah kesempatan yang terakhir, juga tak akan segan untuk memecat semua anggota yang ada dan menggantinya dengan yang baru.
Lagipula hampir semua barang bukti di pegang di bawah kuasanya sejak dua korban terakhir di temukan.
"Aku anggota dari penyidik Seoul," Minggyu menunjukan tanda pengenal ditangan, "Bisakah aku bertemu dengan Profesor Yoon sekarang?" Dia bertanya pada seorang wanita muda di meja resepsionis, mencondongkan tubuh untuk kemudian berbisik sambil melirik sekeliling yang agak sepi, "Ini penting." Katanya menambahkan.
Sang wanita membaca cepat isi kartu, mengangguk sebelum bergerak untuk membuka sebuah jurnal di atas meja. Jari telunjuknya menyusuri tiap untaian kata di sebuah table yang ada di atas kertas, "Ah, Profesor Yoon kebetulan sedang ada tamu saat ini. Kau bisa menunggunya."
Minggyu berfikir sejenak dan menjawab, "Oke, tidak masalah."
Dia mengeluarkan plastik transparan berukuran kecil dari saku jaket boombernya, meneliti dengan seksama sesuatu di dalam dengan wajah serius. Sedang memori kejadian dua minggu yang lalu kembali terputar di pikiran,
"Itu dia!"
Siluet buram di gang sempit terlihat, membuat dia segera berlari menerjang untuk menarik jaket hitam orang di depan mata sedikit kasar hingga cengkraman pada si bocah terlepas.
"Brengsek!" Satu pukulan berhasil mengenai tepat di pipi, melirik sekali pada seorang anak yang sudah terjatuh di tanah dengan nafas tersengal.
"Akhirnya aku bisa menangkapmu juga! Kau harus membayar semua yang telah kau lakukan, sialan!" Umpatnya kesal, meraih baju bagian belakang pria bertopi sebelum meninjunya hingga tersungkur.
Merunduk untuk kembali memberi tinjuan namun dapat di tangkis dan beralih membanting tubuhnya, membuatnya jelas terkejut bukan main. Tidak menyangka.
Agak aneh namun dia segera membuang pikiran itu jauh-jauh ketika sang pelaku justru berlari menjauh.
"Sialan! Jangan lari kau!" Minggyu berteriak, membuat beberapa teman lain yang baru saja sampai refleks mengikuti Minggyu untuk berlari mengejar. Pria itu meraih sesuatu yang terjatuh pada tanah sebelum mengikuti dengan pistol di tangan.
Namun sayang, usahanya berbuah sia-sia. Minggyu menyisir rambutnya kebelakang dengan frustasi, berteriak marah dengan suara beratnya hingga terdengar menggema di dalam gang. Menatap langit dengan hembusan nafas kasar melalui mulut, memukul tembok berdebu sebagai pelampiasan kesal. Merasa bersalah saat lagi-lagi tak bisa mendapatkan pembunuh keji itu.
"Argh—brengsek!"
Jika mengingat itu saja rasanya sudah membuat hatinya begitu meradang. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Pelaku itu memang selalu saja berhasil melarikan diri dengan mudahnya, membuat dia terkadang memikirkan banyak hal tentang alasan dasar pelaku juga sosok sebenarnya pria berpakaian hitam malam itu.
Dan semua bisa terjawab jika dia berusaha lebih keras lagi untuk mencari bukti.
Setidaknya kali ini Dewi Fortuna tengah berpihak padanya, memberikan sesuatu yang cukup langka untuk bahan penyelidikannya.
Minggyu melirik pada jam Rolex yang melingkar di pergelangan kiri, mengetuk-ngetukan alas sepatu dengan lantai saking bosannya menunggu. Dia seharusnya memang melaporkan semua pertemuannya ini pada ketua, atau minimal sesuatu yang berhasil dia temukan. Tapi, Suho sendiri yang menyuruhnya untuk mendapatkan bukti sebanyak mungkin. Jadi apa masalahnya?
"Minggyu?"
Kepalanya refleks menoleh ke kanan, tersenyum teramat manis pada seseorang berjas putih di depan mata.
Dia bangkit, berdehem sesaat ketika orang tersebut memeluknya begitu erat. Membuat getaran aneh ketika jantungnya berdegub tak biasa.
"Sudah lama?"
Minggyu menggeleng sebagai jawaban, tersenyum sekali lagi untuk menyembunyikan raut gugupnya. "Tidak kok Hyung. Aku baru saja sampai." Ucapnya berbohong.
"Sudah lama tidak bertemu ya. Bagaimana kabarmu?" Pria itu menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga, mengernyitkan dahi saat berpikir. Membuat wajahnya semakin cantik.
Minggyu berdehem, "Bisa 'kah kita bicarakan itu nanti? Aku ada urusan yang sangat penting denganmu." Bukannya tidak mau. Dia memang jujur saat mengatakan itu barusan.
Profesor dengan nametag "Yoon Jeonghan" itu menganggukan kepala, mengerti dengan posisi Minggyu. Tentu saja ada maksud lain sampai-sampai anak itu mendatanginya di jam malam seperti ini.
"Baiklah, mari ke ruanganku."
Dari dulu tak pernah berubah, Minggyu menyadari itu dengan benar. Tidak banyak barang-barang di dalam ruangan, hanya dua rak buku, dua kursi berhadapan yang di pisah dengan meja kayu. Banyak sekali tumpukan berkas tebal di meja.
Jeonghan kemudian berkata, "Silahkan duduk." Pada Minggyu yang masih asik melihat interior sederhana ruangan.
"Jadi, ada apa gerangan kau kemari malam-malam begini?" Jeonghan membuka langsung pada inti, tak mau banyak berbasa-basi yang buka stylenya sama sekali. Lagipula ada seseorang yang sudah menunggunya di rumah.
"Begini," Dia menyodorkan dua plastik transparan pada Jeonghan, mencondongkan tubuh lalu berbicara hampir menyerupai bisikan.
Di sini memang tak ada siapapun selain mereka berdua, hanya saja dia ingin mengantisipasi orang-orang yang mungkin saja tak sengaja mendengar percakapan mereka nantinya. Biar bagaimanapun ini pembicaraan yang sangat serius, tak sembarang orang yang boleh mendengar.
"Aku membutuhkan bantuan Hyung untuk meneliti ini."
Terkadang ada untungnya juga memiliki kenalan seorang yang jenius seperti Jeonghan, dia bisa menjadi ketua peneliti di sebuah Univeritas ternama karena kecerdasan juga keuletannya di usia yang masih tergolong muda.
"Tentu, aku akan membantumu." Katanya sambil menarik ujung plastik, mengangkatnya keudara untuk menatap lamat-lamat isinya. "Tapi, kenapa kau ingin aku yang meneliti ini?" Lanjutnya lagi.
"Karna aku mempercaimu, Hyung."
Jeonghan tersenyum, mengangguk lalu menjawab. "Terimakasih." Dia membawa benda itu ke dalam saku, mengusak dengan gemas rambut Minggyu seperti layaknya seorang kakak pada adik kandungnya. "Aku akan berusaha secepat mungkin memberitahukan hasilnya. Terimakasih untuk percaya padaku."
"Tapi tolong jangan bicara dengan siapapun soal ini ya, Hyung."
Anggukan kepala pria cantik itu lakukan dengan sesegera mungkin, kembali bergumam terimakasih dengan ulasan tipis senyum di bibir. Membuat Minggyu tanpa sadar mencondongkan kembali wajah semakin ke depan, menarik rahang Jeonghan hingga pria cantik itu terkesiap dengan pupil mata membesar.
Kedua mata pria tan itu sontak terpejam ketika jarak kian terpangkas, menahan nafas ketika mengikuti insting gilanya. Biarlah dia melakukan ini sekali saja untuk setidaknya mengobati rasa sakit hatinya, menganggap ini kali terakhir sebelum dia menghapus semua perasaan yang ada pada pria yang lebih tua.
Tok. Tok.
Namun semua itu urung dilakukan ketika ketukan pada pintu terdengar, membuat degupan jantungnya semakin menggila karena terkejut. Juga membuat mereka berdiri refleks saat pintu ruangan terbuka kemudian.
"Oh?" Pria di sana sama terkejutnya, menatap bergantian Jeonghan serta Minggyu di dalam.
"Minggyu? Apa yang kau lakukan disini?" Dia bertanya, segera mendekat pada Jeonghan untuk melingkarkan tangan di pinggangnya.
Pria itu berdehem pelan, merasa kikuk saat tak menemukan jawaban apapun.
Tidak mungkin juga kan dia mangatakan jika ada keperluan tentang penelitian tadi? Bisa-bisa pria itu curiga dan bertanya lebih lanjut lagi. Tapi, tidak mungkin juga mengatakan secara gamblang jika dia ingin menemui calon suaminya itu. Minggyu sudah tahu betul sifat teman lamanya ini, bisa-bisa mereka adu tinju dadakan di ruangan ini nantinya.
"Ah! Seungchol itu…." Jeonghan segera berkata, menarik fokus pria di samping sebelum nantinya dia merasa curiga. "Tadi aku bertemu dengannya di depan. Jadi kupikir lebih baik mengajaknya mengobrol sedikit." Lanjutnya dengan suara melirih, agak gugup saat menyadari tatapan pria-nya yang tak biasa.
Keheningan menyelimuti mereka cukup lama, yang tahunya membuat jantung semakin keras berdentum.
"Baiklah, tidak masalah."
Jawaban itu tak sadar membuat dua orang lainnya menghembuskan nafas lega diam-diam.
Minggyu akhirnya memilih untuk segera berpamitan, melirik sekali lagi pada Jeonghan dengan pergerakan mulut samar. Sedang si cantik hanya mengangguk mengerti akan ucapan Minggyu yang seolah berkata tanpa suara,
"Aku mengandalkanmu, Hyung."
.
.
.
.
.
"APA?"
Wanita berpakaian formal itu jelas terkejut, hampir melompat kebelakang sebagai refleks rasa takutnya. Menyadari perubahan raut wajah yang kontras hingga membuat banyak kerutan dalam muncul seiring dengan kepalan tangan pria di hadapan yang kian mengerat.
Sekretaris itu beringsut mundur ketika atasannya membawa langkah tegas mendekat padanya, mengambil satu lembar kertas di tangan sang sekretaris dengan rahang mengatup geram.
"Kabar itu tidak boleh sampai tersebar," Berkata dengan nada meninggi sebelum meremat kertas berisi surat tentang penangkapan sang Anak.
Menggeram marah dengan gigi bergemeletuk yang nyata, dia meraih ponsel pada saku jas kemudian menekan sebuah nomor di layar dengan tak sabaran.
"Ne, Sajang-nim?"
Dia memejamkan mata, menghembuskan nafas perlahan untuk meredam emosi. Tak ingin bertindak gegabah hingga salah memilih tindakan. Biar bagaimanapun caranya dia harus membebaskan putra semata wayang yang sangat ia sayangi itu. Jadi, ketika seseorang di seberang sana kembali berkata dengan kalimat yang sama. Pria paruh baya dengan penuh wibawa itu berkata,
"Bereskan semua masalah dan jangan biarkan media tahu hal ini…."
.
To Be Countinue—"
.
.
.
Maaf, aku emang agak lemah buat penjabaran flashbacknya dan maaf buat masukin otp lain juga:'v
Q: Kok ngebosenin sih -_-
A: Makasih, ff ini emang sangat ngebosenin. Jadi ya seterah mau lanjut atau enggak. Mau di baca ya silahkan enggak yowesh ^-^
Di chapt ini emang sedikit Chanbaek nya. Tapi tenang aja, mereka punya bagian tersendiri. Mungkin sekitar dua part lagi bakal ketahuan siapa pelakunya. Jadi, bagi yang masih Setia mantengin ff ini, ngasih semangat dan segala macemnya. Makasih banyak banyak ya~ *ciumin atu-atu*
Fast Updated? Wajib Riview kalau gitu ~
#ChanbaekMenujuHalal2k17
