Chapter 6 (Finale) Eternal Love
Sweet Lollipop Maap ya kalo alurnya kecepetan... Saya juga bingung mo bikin kayak gimana X3
(Watching Midori no Hibi)
When I noticed I was thinking about you...
I felt very embarrassed
And I really hate that feeling
That's because I'm afraid to convey my feelings
Even though I suppress it in my head
I can't do anything about my heart
I don't let you notice it when we meet
So it can be normal how I plan to talk to you
To act so composed has started to hurt
Lying to you I will put away... but
A little more... A little more...
If I can get closer to your heart
A little more... A little more...
So that this moment won't end
Please God, give me courage
OooooO
"Jadi ini perempuan yang akan kita buntuti itu?" Aku bertanya kepada Mello.
"Ya. Aku curiga dia tahu Kira karena itu, ikuti dia."
"Amane Misa, eh? Dia imut ya." Aku tersenyum.
"Cough!" Mello terbatuk-batuk, menumpahkan kopi ditangannya.
"Hahaha! Kamu harus liat tampangmu!"
"Diam kau! Sana jalankan tugasmu aja!!!"
"Hai, taichou!" Aku membungukuk, tertawa dan pergi.
OooooO
"Hmm, aku tidak melihat sesuatu yang aneh dalam kegiatannya... Pukul 10, belanja. Pukul 12, makan di restoran bersama teman-temannya, pukul 14, Spa..."
"Matt, jangan bilang kau mengintipnya di Spa." Kata Mello memotong kalimatku.
"Eh, tau aja." Aku tertawa. "Ngga deh... Bercanda..."
"Tenang aja Matt, aku ngga cemburu kok." Mello berkata terbata-bata.
"Boong..."
"Udah! Diem aja!!! target kita selanjutnya adalah Mikami Teru!"
"Ahh... Mello marah..."
"Siapa yang marah?!"
"Itu itu... Jangan marah dong."
"MATT, KELUAR SEKARANG!!!!!!!"
OooooO
"Mikami Teru, 80% second Kira." Aku berkata. "Mau memberitahu Near soal ini?"
"Ngga usah. Si albino itu pasti udah tau."
Aku tertawa sedikit, "Jadi kita harus mencari cara untuk membuktikan ini."
"Satu-satunya cara adalah bekerja sama dengannya."
"Heh? Bekerja sama? Mello dengan Near???"
"Matt! Aku melakukan ini karena aku ingin menyelesaikan masalah Kira ini!!!"
"Iya iyaaaa...! Jadi apa rencanamu?"
"Lebih baik kau menjauh dari yang satu ini. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tapi..."
"Begini. Aku akan menculik Kiyomi Takada setelah aku menyewa seseorang untuk mengalihkan perhatian publik dan dengan begitu aku bisa membawanya pergi." Mello berkata. "Dan kamu diam disini saja ya."
"Tapi Mello..."
"Kubilang ini akan berbahaya. Aku tak mau sesuatu terjadi padamu."
"Mello-"
"Kalau aku tidak kembali, jangan tunggu aku."
"MELLO!!!!!!!" Aku mencubit pipinya. "Kau bercanda ya?! Aku tak akan membiarkanmu mengerjakan ini sendirian! Kalau kau mati, aku mati bersamamu!!"
"Matt, kau tak usah sampai sejauh itu..."
"Aku ngga mau tau! Pokoknya kalo kamu mati aku bunuh diri!"
"MATT KAMU APA-APAAN SIH???" Mello tersipu.
"Ahhh Mello mukanya meraaah!!"
"DI-DIAM!!!!!"
OooooO
"Jadi aku yang menembak bom asap itu lalu kau menculik Kiyomi Takada... Oke, aku ingat sekarang."
"Ya ya, jangan lupa lagi ya."
"Oke bos!" Aku tersenyum. "Tapi..."
"Hm?"
"Aku punya perasaan buruk tentang ini."
"Matt, tenang saja. Dengan kemampuan menyetirmu, kamu pasti bisa lolos. Dan kamu tenang saja, aku akan kembali."
"Kamu harus janji, Mello."
"Ya, aku janji. Kamu juga harus janji kepadaku oke?" Katanya sambil menggenggam tanganku. "Dan setelah kasus ini selesai, kita akan kembali ke Wammy House."
"Ya pasti!! Aku janji aku akan baik-baik saja, Mello. Tentang Wammy House... Near tidak bisa kembali..."
"Ya, dia punya tugas sebagai L. Tapi aku yakin dia akan baik-baik saja."
"Haha, ya tentu saja!" Aku tertawa. "Mello..." Aku lalu mencium dahinya.
"Yeah, whatever." Katanya melemah dan membiarkanku merebahkannya di ranjang.
OooooO
"Kau siap, Matt?" Mello bertanya.
"Yup!" Aku mengacungkan jempol dan mengenakan sarung tangan hitamku. "All set!!"
"Aku pergi dulu." Katanya men-start motor miliknya lalu ia pergi.
"Ini akhir dari semuanya kan..." Aku memasuki mobilku dan menjalankannya.
Di tempat yang sudah diakatakan Mello sebelumnya, aku menembakan bom asap dan langsung mengendarai mobil itu pergi dari tempat itu. Banyak polisi yang mengejarku dan aku sedikit panik. "I will be okay." Tiba-tiba aku terkejut, polisi sudah mengepungku dan aku terpaksa mengerem hingga mobilku berputar. "Oh no." Aku keluar dari mobil itu dengan tangan diatas ketika melihat mereka mengacungkan pistol mereka kehadapanku. "Kalian tidak bisa membunuhku. Lakukan itu dan kalian tidak akan tahu lokasi Kiyomi Ta-"
Satu peluru menembus perutku diikuti dengan 12 peluru lainnya. Aku terdiam. "I'm sorry, Mello." Seketika itu juga, aku jatuh keatas mobilku dan menutup mataku. "I'll always love you..." Dan aku merasakan napasku berhenti.
OooooO
"Setelah masalah ini selesai, aku akan kembali ke Wammy House. Bersama Matt." Mello tersenyum. "Aku tidak menyangka dia bisa membuatku sampai suka kepadanya... Matt pasti sudah menyelesaikan tugasnya sekarang. Aku juga harus menyudahi ini. Kiyomi Takada pasti menyembunyikan Death Note di bagian tubuhnya. Aku akan turun dan menghentikannya sekarang juga." Ketika Mello hendak menyetop laju truk itu, dia melihat sesuatu di portable televisionnya.
"Seseorang telah ditembak jatuh oleh para polisi karena telah membuat kekacauan. Tubuh lelaki ini belum diketahui identitasnya."
Mello melihat ke layar televisi itu. "Tidak mungkin itu Matt... Dia sudah berjanji... Matt... Kenapa? Kau ingkari janjimu..." Mello menitikan air mata ke pahanya. "Baiklah Matt, sesuai katamu. Kalau kau mati, aku mati bersamamu." Mello terus mengendarai truk itu sampa ia merasakan sesuatu.
DEG
"Ini yang kutunggu." Ia tersenyum dan kepalanya membentur stir truk itu, Mello tidak bisa melihat apa-apa lagi.
OooooO
"A-Apa?!" Near berlari kearah truk yang sempat Mello kendarai itu dan menemukan tubuh Mello, tidak bernapas. "Kira... Kira... Light Yagami. Aku tidak akan mengampunimu. Pertama Matt, sekarang Mello. Apa maumu..." Near melihat kebelekang. "Bawa jenazah Mello. Kita akan menguburkannya di sebelah kuburan Matt. Because a couple are meant to be together."
"Baik."
Kasus Kira telah berakhir. Near menyempatkan diri mengunjungi Wammy House, tempat Matt dan Mello dikubur, bersebelahan. Di atas kuburan itu ada tanda salib besar dengan google dan rosary ditaruh diatasnya.
Near meletakkan bunga. "Dengan begini, Matt pasti bahagia." Ia menunduk kebawah dan mengelus matanya yang sudah mulai berair. "Matt, I will always love you. I still love you even though we wont be able to meet personally anymore."
~: O W A R I :~
OMAKE
"Apakah ini surga?" Aku membuka mataku dan melihat Mello dihadapanku. "Mello? Ini pasti ilusi." Aku mengucek mataku namun bayangan itu tak kunjung hilang."
"Kalau kau mati, aku mati bersamamu." Katanya pelan.
"Mello! Kamu-"
"I love you, Mail Jeevas." Mello memeluk tubuhku erat dan berbisik di telingaku.
"I- I love you too, Mello, Mihael Keehl."
"We wont be separated anymore, will we?"
"Not anymore, Mello. We finally meet in eternity." Aku balas memeluknya.
"Terima kasih atas kerja kerasnya." Kata seseorang tiba-tiba.
Aku dan Mello melihat orang itu dari atas sampai bawah dengan tampang yang ngga bisa digambarkan...
"L!???!?" Kita berdua langsung pingsan.
I know I can be a little stubborn sometimes (I say)
A little righteous and too proud
I just wanna find a way to compromise
Cause I believe we can work things out
I thought that I had all the answers
never givin in
but baby since you've gone
I admit I was wrong
All I know is I'm lost without you
I'm not gonna lie
how am I gonna be strong without you
I need you by my side
if we ever say we'd never be together
in the end you wave goodbye
dunno what I'd do
im lost without you
I keep trying to find my way
and all I know is I'm lost without you
I keep trying to face the day
I'm lost without you
How am I ever gonna get rid of these blurs
baby I'm so lonely all the time
everywhere I go I get so confused
your the only thing that's on my mind
FIN
"Because a couple are meant to be together..."
YAY!! Happy and angsty ending!!!!!!!! Makasih buat para pembaca dan terlebih reviewer... Fic ini dah tamat.
Review lagi ya! *ditampar*
