FF BAP ONE SHOT EXTRA 1 BOBBY/ DOUBLEB/ YAOI/APOLOGY/Part 5B

Title : Apology

Author : Bang Young Ran

Rating : T *sementara*

Genre : Yaoi/Friendship/Romance/Drama/Triangle Love/AU

Length : 1 to 6

Main Cast :

Kim Ji Won (IKON) as Bang Ji Won aka Bobby (A/N: D ff ni, Bobby lbih muda dari Hanbin)

Kim Han Bin (IKON) as Moon Han Bin aka B.I (Officially, he's on my freakin' bias lists now! Yeaaaaa~~\(=^0^=)/*screaming happily*)

Support Cast:

Kim Yoojung (Actress) as Moon Yoojung as Hanbin's sister

JongJae (Jong Up & Young Jae)

BangHim (Yong Guk & Him Chan)

DaeLo (Dae Hyun & Zelo)

Hyeri (Girls Day) as Jung Hyeri

Jaehyun as Jung Jaehyun & Taeyong *appears^o^* (NCT)

Probably all the BAP Casts from ONE SHOT ff*nyusul*

Nyusul...

Disclaimer: DoubleB, BAP, & Others is their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachh...*kechup basah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! STRAIGHT! DRAMA! TRIANGLE LOVE! CHEATING! NO PLAGIARISM! NO BASHING!

Author's Note(PENTING): Annyeong~^0^)/ Soooooo... it should be the last chap BUT sh*t happens n the stupid virus has 2 destroy all of my files that I'm stupidly never copied it 2 my PC, yet. Bloody hell... So, this is some that I can rescue so hardly out of my brain. It's not really same w the original one, of course, but I hope y'all can bare w me, Readers-nim. I'm so sorry. I'll try my best 2 finish n remember it. (-_-!)/ Bye!*kabur*

Summary: Like a criminal, I ran away.

.

.

.

APOLOGY

Part 5B

You were always at the same place

Waiting for me

"Kau hanya akan berdiri di sana, menatap punggungku, Bobby-ya?"

DEG.

Namja tampan yang ditegur tanpa menoleh itu, terlonjak kaget. Tidak menyangka sama sekali kalau Yoojung menyadari kehadirannya. Sudah belasan menit ia berdiri di sana, beberapa langkah dari posisi duduk Yoojung. Hanya berdiri, menatap punggung kecil tersebut dengan pikiran berkecamuk.

"Duduklah, Bobby-ya. Bukankah kita di sini untuk berbicara?"

Yoojung berbalik di kursi, menatapnya dengan mata membengkak yang terlalu nyata disembunyikannya dalam balutan make up. Untuk kali pertama setelah nyaris seminggu lamanya, Bobby akhirnya bisa melihat wajah cantik itu. Meski berbagai hal telah terjadi di antara mereka, Yoojung tetap tersenyum padanya; tersenyum begitu lembut hingga hati nurani Bobby serasa dihujati berjuta belati. Ia tahu, dirinya tidak pantas mendapatkan semua kebaikan itu. Akan lebih baik kalau Yoojung memakinya, bukannya tersenyum seperti ini.

"Bobby?"

Panggilan Yoojung lagi-lagi menyela pemikiran Bobby. "A-ah, ye, n-ne, Noona," sahutnya terbata. Terburu dengan langkah canggung, ia akhirnya mengambil duduk di seberang meja. Mereka berhadap-hadapan. Dulunya, di tempat ini, mereka selalu duduk berdampingan. Ini adalah cafe favorit mereka berdua saat berkencan.

Sekarang semua hanyalah memori.

"Bagaimana kabarmu, Bobby-ya?" tanya Yoojung, menatap lekat pipi namja tampan di depannya yang sebelumnya tidak setirus itu—sejak pertemuan terakhir mereka. Rahang Bobby yang runcing, semakin menonjol jelas. Sudut tulang tersebut seolah siap kapan saja menembusi kulit tipis yang menahannya. Bobby terlihat tidak sehat. Yoojung tidak suka itu.

"A-aku baik-baik saja, Noona. Ba-bagaimana denganmu? Kau... baik?"

Pertanyaan yang sangat konyol, eoh? Ne, Bobby tahu itu. Yoojung sama sekali tidak dalam kondisi 'baik'. Dia kehilangan banyak berat badan. Dan itu semua adalah kesalahannya.

Kali ini bukan lagi senyum lembut yang menghiasi wajah cantik tersebut, namun senyuman sendu yang ingin sekali Bobby hapus dari sana.

"Kita berbincang dengan canggung. Kita terdengar seperti orang asing," tutur Yoojung getir.

"..."

Bobby bungkam. Ya, mereka berbicara seperti orang asing. Haruskah mereka seperti ini? Apakah setelah berpisah, mereka akan menjadi orang asing bagi satu sama lain?

Tidak. Tentu saja tidak. Tidak boleh.

"Mianhe, Noona, aku—"

"Kau sudah terlalu banyak meminta maaf, Bobby-ya," potong Yoojung dalam bisikan lirih, menelan gumpalan tak kasat mata di tenggorokannya sebelum kembali tersenyum; senyuman tulus yang membuat kedua mata berkaca tersebut menghilang oleh lengkungan bulan sabit. "Jangan meminta maaf lagi."

"..."

Sekali lagi Bobby dibuatnya bungkam. Permintaan mustahil dari Yoojung. Dia tidak akan pernah bisa mengindahkan permintaan tersebut. Dirinya akan selalu mengucapkan permintaan maaf pada yeoja cantik ini. Bahkan berlutut, memohon pengampunan darinya, kalau perlu. Namun... Yoojung menatapnya lurus. Bobby melihat kerapuhan yang nyata di sana. Dia lah orangnya; penyebab dari kerapuhan yeoja tegar ini.

"Bisakah kau menjawab pertanyaanku dengan jujur?"

Deg!

"N-ne?"

Jantung Bobby serasa berhenti. Memang itulah tujuan pentingnya mengajak Yoojung bertemu. Mereka akan membicarakan kebenaran. Inilah saatnya. Tidak ada lagi tindakan pengecut melarikan diri. Kenyataan harus dihadapi, bukannya berpaling dan melarikan diri darinya.

"Orang yang kau cintai..."

Deg, deg, deg, deg...

Jika sebelumnya berhenti, sekarang jantung Bobby berdetak tidak karuan. Yoojung menyeret kejujuran lebih cepat ke dalam pembicaraan mereka dari yang ia perkirakan. Mereka benar-benar akan membicarakannya.

"... Apa itu adikku, Hanbin?"

DEG!

Bobby tersentak. Yoojung tidak bertanya. Yoojung menebaknya. "Ba-bagaimana..."

"Bagaimana aku bisa tahu? Aku hanya menggabungkan semua teka-teki yang ada. Kita baik-baik saja sebelumnya. Kau mulai berubah saat Binie kembali, dan kau... semakin berubah kacau saat Binie pergi. Dan lagi, satu-satunya orang yang dekat denganmu selain diriku adalah adikku. Aku tidak bisa membayangkan orang lain selain Binie, Bobby-ya."

Deg, deg, deg, deg...

Oh, bagaimana Bobby bisa lupa betapa jeniusnya yeoja cantik ini?!

"Kau baru menyadari perasaanmu terhadap Binie, ne?"

DEG!

Yoojung tiada henti menebaknya. Seolah... Bang Ji Won adalah buku yang terbuka; mudah untuk dibaca. Mudah untuk dipahami.

"A-aku..." Apa? Apa yang akan dikatakannya sebagai pembenaran akan tebakan tersebut? Tidakkah... jawabannya akan sangat menyakiti Yoojung? Menghina apa yang telah mereka miliki dan bangun selama ini?

Oh, sekarang Bobby mendustai diri sendiri.

Dia. Sudah. Melakukannya.

Ia sudah menyakiti Yoojung, mengingkari janji mereka karena dirinya, hatinya yang lamban dan pengecut, akhirnya menyadari betapa selama ini... hanya Moon Han Bin yang bertahta di sana. Jika saja dirinya menyadari lebih cepat hal itu... semua hal menyakitkan ini tidak akan terjadi kepada mereka.

Dan Hanbin...

Oh, Hanbin, Hyung Malaikat-Nya yang malang. Semua penderitaan itu... Hanbin tidak harus—tidak akan—menanggungnya seorang diri.

"Jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi, Bobby-ya. Cinta tidak pernah salah. Kau hanya manusia biasa yang mendengarkan kata hatimu. Lagipula..." Yoojung berkata, lagi-lagi secara ajaib membaca pikiran Bobby. "Everything happens for a reason. Dan setelah sekian lama, aku akhirnya memahami alasan Binie yang tiba-tiba memutuskan untuk kuliah di New York."

Deg!

Apa maksudnya memahami? Apa Yoojung...

Sret~

Selembar kertas persegi tersodor di atas meja. Memotong pergulatan kalut Bobby dengan pikirannya. Selembar foto. Potret polaroid dirinya yang... sama sekali tidak sadar bahwa ia telah difoto oleh seseorang. Huh? Apa Yoojung yang mengambilnya? Tapi... dari seragam dan suasana sekitar... bukankah itu potret saat pertama kali Bobby menghadiri penyambutan murid baru? Tahun pertamanya di sekolah Menengah Atas...

Deg.

Yoojung kuliah di Seoul saat itu.

"Noona, ini..."

"Itu milik Binie."

Bobby sudah menduganya.

"Aku tidak sengaja menemukannya di bawah tempat tidur saat membersihkan kamar Binie kemarin. Kurasa foto itu tidak sengaja terjatuh dan tertinggal olehnya. Kkkk, kau tahu? Ini seperti pertanda dari Tuhan untukku. Kurasa inilah alasan dari semua kejadian ini."

Mwo?

Alasan? Pertanda? Apa yang sebenarnya sedang Yoojung bicarakan?!

Mungkin kebingungan yang Bobby rasakan tergambar begitu nyata dari wajahnya. Karena Yoojung akhirnya berhenti terkikik hanya untuk tersenyum. "Lihat ke balik foto, Bobby-ya," pintanya lembut.

Mengikuti Yoojung, Bobby membalik kertas persegi di tangannya. Err... di sana hanya ada lukisan cat air serumpun bunga kecil yang cantik dengan kelopak berwarna ungu. Dan juga... pada sudut kanan kertas foto, terdapat tanda tangan 'B.I' – tunggu, Hanbin bisa melukis? Sejak kapan?! Kenapa Bobby tidak pernah tahu?

"Noona, apa ini... Hanbin yang melukisnya?"

"Ne. Yeppeo ji?"

Bobby mengangguk sekilas, menyusuri permukaan kasar dari torehan cat air di setiap lekuk kelopak bunga. "Apa Hanbin belajar melukis saat tinggal di New York?"

"Ani. Binie sebenarnya sudah belajar melukis sejak berumur sepuluh tahun."

Wow.

Kejutan lainnya.

Sekarang hal yang Bobby tidak ketahui mengenai B.I semakin bertambah, eoh? Dan dia menyebut dirinya sebagai sahabat karib Hanbin?! Apa dia yakin akan hal itu?

"Jangan terlalu dipikirkan, Bobby-ya. Binie melukis hanya untuk kesenangan. Tidak ada yang tahu mengenai hal ini selain kami sekeluarga."

Meski Yoojung berkata begitu, tapi tetap saja, tidak akan cukup meredakan kekecewaan yang Bobby rasakan terhadap dirinya sendiri. Terlalu banyak hal yang tidak ia ketahui mengenai orang-orang di sekitarnya. Sementara... mereka membacanya bak sebuah buku yang terbuka.

"Kau tahu bunga apa itu?" tanya Yoojung tiba-tiba, yang hanya bersambut gelengan pelan dari namja tampan yang ditanyai. "Itu bunga lilac, Bobby-ya. Saat kami kecil, aku dan Binie suka sekali mempelajari bahasa bunga. Kami selalu menjadikannya semacam permainan tebak-tebakan setiap kali musim semi datang." Yoojung menjelaskan sembari tersenyum, sempat terlena oleh memori masa lalunya dan Hanbin sebelum kembali menatap Bobby. "Kau tahu, apa bahasa bunga dari lilac?"

Bahasa bunga? Bobby pernah mendengar istilah tersebut, tapi... tidak pernah sedikitpun ia tertarik untuk mempelajarinya. Well, apa gunanya? Apakah itu lebih penting, dibandingkan pelajarannya di sekolah kedokteran mengenai pembuluh darah yang menjalari seluruh sistem vital di dalam tubuh manusia?

"Tsk! Seharusnya kau mempelajarinya," gerutu Si Cantik, bersidekap. Bibirnya yang mungil dan lancip—seperti Hanbin—saling menekan, membentuk garis lurus, membuatnya terlihat bak bocah yang tengah berusaha keras memperlihatkan wajah merajuk. "Bahasa bunga dari lilac adalah cinta pertama, Bobby-ya. Cinta pertama Binie adalah dirimu!"

Tik,

Tik,

Tiiiiiiiiiikkk...

Yoojung terbelalak. Ketiadaan reaksi dari Bobby hanya berarti satu hal. Dia... "Kau sudah tahu?!" pekiknya tidak percaya.

"Err, saat kami hangout waktu itu... I kind of says something stupid and made Hanbin pissed off. He ended up blurting out everythings; including his feeling." Bobby menjelaskan sesederhana mungkin, mengesampingkan beberapa informasi yang mungkin, seharusnya, Yoojung tidak perlu tahu. Dia mencium Hanbin, misalnya.

Kedua telapak tangan berjemari lentik milik Yoojung saling berdekapan di depan mulut. Satu-satunya ekspresi yang menghiasi wajah cantiknya hanyalah syok. "O, My... jadi itulah alasan sebenarnya mengapa tiba-tiba Binie kembali ke New York?! Dia... kembali melarikan diri."

Suara Yoojung semakin berbisik di akhir. Bobby menyadari, senyum yang tadinya cukup mendominasi wajah cantik tersebut, sekarang berubah menjadi kerut kesedihan. Kekecewaan. Dan rasa bersalah—rasa yang seharusnya hanya Bobby yang boleh merasakan. Toh, semua kekacauan ini berakar dari kebodohannya. Kenapa dia dulu begitu buta?

"Bobby, kau harus menyusul Binie."

DEG!

What?!

"Noona, apa yang—"

Yeoja cantik itu tiba-tiba meraih ke atas meja, mendekap tangan Bobby yang masih memegangi foto polaroid, menatapnya lurus di kedua mata. "Hanya kau yang bisa membawa Binie kembali, Bobby-ya. Jika kau benar-benar mencintainya, beritahu dia. Jangan biarkan adikku terus-menerus berpikir kalau cintanya selama ini hanya bertepuk sebelah tangan. Binie berhak tahu, Bobby-ya."

Bobby tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya ini. Apakah... Yoojung bermaksud memberinya restu untuk bisa bersama Hanbin?

"... Kalian saling mencintai..."

Ya, memang itulah yang sedang Yoojung lakukan. Ia terus berbicara tanpa menyadari kalau namja di depannya, mulai memasang ekspresi keras. Kenapa? Kenapa Yoojung masih saja menjadi orang baik? Dia seharusnya marah! Bukannya membujuk Bobby dengan senyuman lembut seperti ini!

"... kalian akan bahagia—"

"Stop."

Satu kata yang terucap di antara gigi bergemeletuk, sontak membuat bibir mungil Yoojung terkatup rapat. Ia terpana mendengar desisan tajam itu, tidak mengerti kenapa Bobby tiba-tiba marah. "Bobby-ya, waegeu—"

"Kumohon jangan tersenyum di saat kau ingin menangis, Noona."

DEG.

"Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Kau pukuli saja aku. Maki aku. Jangan tersenyum dan bersikap seolah kau baik-baik saja! Aku tahu, Noona. Kau tidak baik-baik saja." Bobby membungkuk, menempelkan dahi pada tangan mereka yang saling berdekapan di atas meja. "Hiks... Aku tahu."

Ia menangis.

"..."

Untuk pertama kalinya semenjak mereka 'berbicara', Yoojung lah yang terdiam. Bobby menangis di depannya, menyembunyikan wajah di atas dekapan tangan mereka. Bahunya yang selalu tegap dan kokoh, sekarang bergetar hebat dalam gundah. Ketidak-berdayaan.

"Maafkan aku, Noona. Hiks... maafkan aku."

Tes~

Air mata yang sekuat tenaga Yoojung bendung, akhirnya menetes. Bobby benar. Dia tidak baik-baik saja. Semua ini begitu menyakitkan untuknya. Dia merasa dipermainkan oleh kenyataan. Oleh takdir. Ini tidak adil.

Akan tetapi...

Di antara ketidak-adilan yang dirasakannya, bagaimana dengan Hanbin sendiri? Bukankah selama ini adiknya hidup dalam ketidak-adilan tersebut? Ia melihat seseorang yang dicintainya, 'mencintai' kakak kandungnya sendiri. Bukankah Hanbin jauh lebih menderita? Bahkan... demi mereka, Hanbin merelakan cintanya dan pergi.

Apa yang Yoojung rasakan saat ini tidak ada bandingan dengan apa yang selama ini Hanbin rasakan. Dalam hal mencintai, Yoojung sudah kalah telak. Dia hanyalah angin sesaat dalam kehidupan Bobby. Sementara Hanbin... adiknya adalah pejuang, matahari yang berputar tangguh dalam porosnya. Energi tak berbatas. Dan Bobby... Bobby adalah pemuja matahari, yang terlalu lama terlena dalam semilir angin. Hingga tidak menyadari, betapa rindunya ia akan rasa hangat dari bermandikan cahaya.

Yoojung bukan tandingan Hanbin.

Jika adiknya bisa merelakan... kenapa Yoojung tidak?

"Hiks, aku memaafkanmu, Bobby. Aku memaafkanmu."

Karena cinta tidak pernah salah.

Air mata bukanlah pertanda bahwa seseorang itu lemah. Air mata adalah puncak dimana hati manusia akhirnya menerima segala hal yang terjadi. Air mata adalah proses menuju kedamaian. Ibarat hujan yang jatuh membasahi bumi, saat mereda... satu-satunya yang tersisa hanyalah kedamaian.

Bukankah sesudah hujan, biasanya akan muncul pelangi yang cantik?

#########\(^0^)/\(^3^)/#########

Gerimis telah mereda, menyisakan kabut tipis yang menggantung, bergumul dalam lembabnya udara menjelang petang. Himchan seketika melarikan kedua tangan, memeluk dirinya sendiri yang mulai menggigil. Dia tidak seharusnya terus-menerus bertahan berdiri di teras depan rumah mereka. Namun, keinginan untuk segera bertemu dengan Sang Putera Bungsu lebih kuat ketimbang dinginnya udara yang menelusup ke dalam pori-pori kulitnya. Himchan mencemaskan Bobby.

"Hime?"

Panggilan bersuara berat yang berasal dari dalam rumah membuat Himchan menoleh. "Aku di teras depan, Gukie!" sahutnya, sedikit meninggikan suara. Ia langsung tersenyum begitu wajah tampan Sang Nampyeon muncul dari balik pintu. Sebuah selimut kecil tersampir di bahu. "You look handsome~"

Menyipitkan mata sangsi, Yongguk berjalan mendekati Himchan. Tanpa menunggu langsung membentangkan lebar selimut di bahunya, menyelimuti tubuh mereka berdua dengan memeluk Si Cantik dari belakang. "Don't distract me, Hime. Aku tidak akan termakan rayuanmu."

Komentar tersebut mau-tidak-mau mengundang kekehan dari Himchan. Apa dia terlalu mudah dibaca sekarang? "Yah, aku hanya ingin memuji Nampyeon-Ku. Apakah itu salah!?"

"Aku tahu kau melakukannya karena tidak ingin menerima omelanku, Hime. Kenapa kau berdiri di luar saat cuaca dingin begini, eoh?"

Ya, ia memang terlalu mudah dibaca. Lebih tepatnya, Yongguk lah yang terlalu mudah membacanya sekarang. "Tsk. Aku sedang menunggu Jiwonie, Gukie. Aku... cemas. Bagaimana kalau permasalahannya bersama Yoojungie semakin rumit?"

Yongguk menghembuskan nafas panjang, memeluk punggung dalam dekapannya semakin erat. "Hime, Baby, putera kita sudah dewasa. Jiwonie bisa mengurus masalahnya sendiri. Sebagai orang tua kita hanya bisa memberinya saran, memberi arahan. Selebihnya? Semua tergantung pada Jiwonie."

"Huft, aku tahu itu, Gukie. Hanya saja... aku melihat bagaimana semua ini mempengaruhi putera kita. Demi Tuhan, anak itu bahkan tidak pernah menghadapi permasalahan berat apapun dalam hidupnya! Satu-satunya moment yang pernah kulihat Jiwonie menangis, adalah saat dia mengantar Hanbin ke bandara untuk kuliah ke New York. Tapi sekarang... dia sering memasang wajah sedih itu dan menangis."

Himchan benar. Putera bungsu mereka jelas tengah menghadapi ujian perdana—sekaligus terbesar—dalam hidupnya. Jiwonie, putera bungsu mereka yang tangguh dan periang, sekarang...

"Kita harus percaya pada Jiwonie, Hime. Aku melihat keyakinan itu dari matanya. Percayalah, dia akan menyelesaikan semua ini."

Tapi tak apa. Yongguk akan berpegang teguh, yakin, dan menyerahkan semua pada putera mereka. Sudah waktunya Bobby menjadi dewasa. Toh, langit mendung hanyalah kumpulan dari awan kelabu. Langit biru akan selalu berada di atas mereka. Tidak pernah beranjak.

~~~~~~~~\(=^0^)/\(0o0=)/~~~~~~~~

I miss you so bad...

Punggung tegap yang membelakanginya tampak lebih kecil dari biasanya. Punggung itu terlihat kesepian. Bobby ingin sekali mendekat dan memeluknya erat dalam dekapan. Namun... semilir angin di awal musim semi berhembus, membelai surai fluffy itu pelan. Teriknya matahari menambah efek, membuat pemandangan imaginer yang hadir dalam bentuk nyata—aesthetic.

Bobby tidak ingin secepatnya menampakkan diri. Ini momen berharga. Dia ingin menikmati waktunya; menatap dalam lena figure sempurna Moon Han Bin yang tengah berdiri pada pagar beton pembatas atap gedung, mendongak, menikmati hembusan angin. Pemandangan yang menakjubkan.

Surai fluffy selembut sutera yang biasanya sewarna dengan arang itu sekarang berwarna cokelat hangat. Mengingatkan Bobby akan selai cokelat hazelnut yang menjadi favoritnya dan Minki sewaktu keci – oh, oke, sekarang pun mereka masih menggilai selai yang sama.

Akan tetapi...

Kenapa Hanbin tidak kunjung menurunkan wajahnya dari posisi mendongak? Apa yang Hanbin lakukan? Tidakkah sinar matahari menyengat ma – tunggu,

What the...

Memang itulah yang sedang Hanbin lakukan! Apa dia gila!? Perbuatannya itu sangat berbahaya! Sinar matahari bisa merusak kornea—

"Shit!"

Hanbin mengumpat.

Tap.

Langkah Bobby seketika terhenti. Hanya dalam hitungan detik, namja berwajah menggemaskan yang diamati menurunkan kepala, mengusap matanya yang kemungkinan perih oleh sengatan matahari menggunakan kerah lengan kemeja. Tsk! Apa yang Hanbin pikirkan dengan melakukan hal seperti itu, eoh?!

"I need a vacation, really."

Bobby mendengarnya menggerutu. Dia hanya bisa membayangkan dari posisinya berdiri sekarang, bagaimana bibir penuh Hanbin semakin mengerucut maju, membentuk pouty lucu yang nyaris membulat sempurna. Bobby masih mengingat dengan jelas saat telunjuknya yang jahil menekan-nekan daging berisi tersebut berkali-kali, hanya untuk menggodai Sang Pemilik.

Ctes~

What the...

Euforia masa lalu membuat Bobby tidak melihat pergerakan Hanbin yang merogoh ke dalam saku celananya, mengeluarkan sebungkus rokok beserta lighter, kemudian menyelipkannya di antara bibir, dan... menyalakannya.

WHAT THE F*CK! Sejak kapan Hanbin merokok?!

Fiuuuuhh~

Dari caranya menghembuskan kepulan asap rokok ke udara, mendongak, hanya untuk tersenyum penuh lena setelahnya... Bobby yakin, ini bukanlah hisapan Hanbin yang pertama. Dia ahli. Menikmati racun dari nikotin bak menikmati sepotong cokelat terlezat di dunia. Dia... kecanduan? Sudah berapa lama Hanbin menghisap stik kanker itu?

"Apa Samcheon tahu kau merokok?" Bobby tidak bisa menahannya. Dia harus menghentikan Hanbin dan kecanduannya yang berbahaya ini. "Kurasa Youngie Samcheon tidak akan senang mendengar hal ini."

Set!

Hanbin berbalik cepat, menatap Bobby dengan marbel cokelat hangat yang... menghipnotis itu. Dalam sekejap Bobby melupakan alasannya menegur Hanbin. Satu-satunya yang tersisa hanyalah rasa rindunya yang begitu besar terhadap namja manis ini.

"B-Bob – mmh..."

Ia bahkan tidak memberi Hanbin kesempatan untuk sekedar menyebut namanya terbata. Menarik tengkuk jenjang itu, Bobby menciumnya; mencium bibir penuh, lancip, dan kenyal milik Hanbin. Dia menciumnya. Lama. Menghiraukan rasa dari tembakau yang membayangi manis dan kenyalnya bibir penuh tersebut.

Ckmph~

"I miss you so bad, B.I."

Yeah, merindukannya melebihi apapun. Bobby bisa saja menjabarkannya dengan lebih men-detail lagi, mengungkapkan segala yang ia rasakan untuk namja manis ini. Hanya saja... 'I miss you so bad' rasanya cukup membantu.

"Apa yang k-kau lakukan di sini, Bobby?!"

Paling tidak sebelum Hanbin tersadar.

"Aku? Menurutmu apa yang kulakukan di sini, Binie?" Entah kenapa Bobby merasa perlu bermain kata di saat-saat seperti ini. Jika dia menanggapi dengan serius, kemungkinan besar namja manis pemilik wajah dalam tangkupan kedua tangannya ini akan jauh lebih panik dari yang sekarang.

Hanbin bergerak mundur beberapa langkah setelah menepis kedua tangan Bobby dari rahangnya. Ia langsung berjalan bolak-balik, mengacak surai cokelat hazelnut miliknya kacau. "You tell me! Gosh! W-what in the hell... apa noona-ku tahu kau ke sini?"

"Apa hubungannya kedatanganku ke sini dengan Yoojungie Noona?"

"YAH!" hardik Hanbin geram, melempar rokok yang baru ia nikmati dalam satu hirupan panjang ke lantai beton, menginjaknya padam menggunakan ujung sepatu. Dia benar-benar tidak habis pikir, apa ini saat yang tepat bagi Bobby untuk bertele-tele seperti ini?! "Tentu saja semua ini berhubungan dengan noona-ku, Bobby! A-apa yang akan noona-ku pikirkan nanti?! Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini!? Jawab aku dan berhentilah berte—"

"Aku datang untuk membawamu kembali, Binie. Yoojungie Noona memintaku, meyakinkanku, untuk membawamu kembali."

DEG!

Mwo?

#########\(^0^)/\(^3^)/#########

"Sudah ada kabar dari Jiwonie?" Hyeri bertanya kepada Yoojung di seberang sana. Mereka tengah mengobrol melalui telepon. Earphone kecil terselip nyaman di telinga kanannya.

"Dia sudah tiba di New York. Belum lama ini dia menghubungiku. Dasar, Bocah Itu! Dia tidak ingat kalau di Korea sekarang lewat dari tengah malam?!"

Hyeri terkekeh. "Yah, Eonnie, kau juga sama saja. Lihat? Apa kau sadar kalau sekarang kau menghubungiku jam tiga pagi? I need my beauty sleep, ya' know?!" omelnya, berusaha keras agar terdengar jengkel meski gagal total dikarenakan tawa yang pecah di akhir. Tidak perlu menatap langsung untuk mengetahui kalau Yoojung di seberang sana mengerucutkan bibirnya maju.

"Yah, apa beauty sleep-mu lebih penting dari eonni-mu ini?! Aku butuh teman bicara."

Melirik jam digital LED di meja nakas, Hyeri berjengit. Dia salah mengira, bukan jam tiga, ini masih jam dua pagi! "Tsk, tidak bisakah kau menunggu pagi saja, Eonnie?"

"In case you didn't notice, Honey, it's actually morning already."

Yoojung dan penjabaran faktanya. Hyeri tidak kuasa menahan dengusan. "Yang kumaksud adalah pagi hari dengan cahaya matahari di langit, Lady Einstein..."

"Apa kau tahu? Di malam hari pun, saat langit gelap bertabur bintang, ahli kecantikan kulit menganjurkan kita untuk tetap memakai tabir surya saat keluar rumah? Malam hari bukan berarti cahaya matahari tidak bersinar, Hyeri-ya. Kita akan tetap terkena paparannya. So, alasanmu sama sekali tidak valid." Yoojung mengakhiri penjelasan panjangnya dengan penekanan pasti.

What the heck...

Yeoja cantik di seberang sukses membuat Hyeri melongo di tempat. Kenapa tiba-tiba Yoojung membuatnya merasa seolah sedang berada dalam kelas debat, eoh? What's with the fun fact anyway?!

"Alright, alright... Kau menang. Sekarang katakan, kau ingin membicarakan apa?"

"Yah, kenapa kau berbicara sangat tidak formal? Dan juga, kenapa kau terdengar tidak bersemangat!? Kau seharusnya menghiburku, Jung Hye Ri, bukannya membuatku semakin murung. Kau juga seharusnya... blablablabla~"

Untuk omelan yang berikutnya, Hyeri dengan sengaja memekakkan telinga. Besar bersama dengan Yoojung membuatnya cukup ahli melakukan hal tersebut. Dia hanya perlu membayangkan bermandikan sinar mentari pagi yang hangat, dan suara ombak... ah, untuk yang terakhir tidak terlalu sulit membayangkannya, toh, kediaman Jung Family hanya beberapa meter jaraknya dari bibir pantai. Suara ombak terdengar landai di luar sana.

"... Hyeri-ya, kau tidur?"

Omo, eonnie cantik-nya ini sudah selesai mengomel?

"Ani. Aku mendengarkanmu, Eonnie. Kau sudah selesai?" Hyeri bertanya tanpa sedikitpun merasa bersalah. Membuat Sang Eonnie berdecih karena tahu betul, dia sama sekali tidak mendengarkan.

"Kau tidak mendengarkanku. Kau pikir aku tidak tahu itu, You Brat?"

Tawa Hyeri meledak sebelum ia sempat menghentikannya. Kemungkinan besar dia akan diomeli umma-nya saat sarapan nanti. "Hahaha, there you go. You know me so well, Eonnie~" dendangnya, menyingkirkan selimut, dan bergerak turun dari ranjang hanya untuk terperanjat saat sesuatu berbulu lembut membelai pergelangan kakinya. "Oh! Nomnom! Kau terbangun, Chagi? Mianhe~"

"Nomnom? Hyeri-ya, aku ingin menyapa Nomnom!"

Yoojung tiba-tiba berseru heboh, mengundang desisan terganggu dari Hyeri karena secara tidak langsung yeoja cantik itu berteriak di telinganya. "Ish, arraso..., arraso. Kau tidak perlu berteriak, Eonnie. Aku bisa tuli."

Mengangkat Nomnom, pomerian berbulu putih peliharaannya dari lantai, Hyeri mengecup moncong makhluk mungil tersebut penuh kasih. Lalu kemudian memeluknya ke dalam pangkuan sembari berjalan menuju balkon kamar. Paling tidak dengan berada di luar, mereka tidak akan mengganggu umma-nya yang sedang tertidur pulas.

"Here you go."

Meski mengomel, Hyeri melepaskan earphone, mendekatkannya pada telinga runcing berbulu putih milik Nomnom. Ia terkekeh begitu makhluk mungil dalam pangkuannya seketika ber-'awk' heboh, mendapati suara familiar mengajaknya berbicara dari seberang. Yoojung dan Nomnom memang sangat akrab. Hyeri tidak jarang menitipkan anjing peliharaannya tersebut pada Sang Eonnie.

Beberapa detik membiarkan keduanya 'mengobrol', Hyeri memasang kembali earphone ke telinga. "Kalian sudah puas, berbicara tanpaku?" gerutunya main-main.

"Wae? Kau tidak boleh jealous. Kau selalu bersama Nomnom. Kau bisa mengajaknya berbicara setiap hari, Hyeri-ya."

Hyeri mengulum senyum, memilih untuk tidak memberi respon. Ia hanya menatap jauh ke depan, dimana sinar rembulan telah merubah warna laut berombak menjadi keperakan. Mereka tinggal di surga dunia; surga eksotis yang selalu menjadi impian kebanyakan orang. Hyeri tahu itu.

Namun, bukan keindahan tersebut yang sedang menjadi fokus pikiran yeoja cantik ini.

"Kau tahu, Eonnie? Tempat kita tinggal adalah surga yang tidak bisa tergantikan oleh apapun. Aku suka pantai. Kita semua, The Mato's, menyukai kawasan pantai melebihi apapun di muka bumi ini. Kkkk... Kecuali Youngie Samcheon dan Himchanie Umma, tentu saja."

"..."

Tidak ada komentar apapun dari Yoojung. Dia membiarkan Hyeri berbicara. Dia tahu, yeoja cantik bermata besar dan berbibir penuh itu ingin menyampaikan sesuatu padanya.

"Menurutku... anggota keluarga kita yang pergi jauh dari 'rumah' adalah orang-orang tangguh. Bisa kau bayangkan, Eonnie, betapa beratnya meninggalkan semua yang menyayangimu dan pergi ke antah-berantah? Appa-ku dengan tujuan mulianya, Jaehyunie Oppa yang mengejar cintanya, dan Binie... yang mencoba menyelamatkan hatinya. Mereka ke tempat asing, yang sangat jauh dari rumah kita."

Yoojung di seberang sana menghirup nafas bergetar. Entah karena hembusan hangat udara malam yang menerpa dan memasuki ruang paru-parunya, atau karena kata-kata Hyeri yang membuatnya semakin menyadari, betapa besarnya penderitaan Hanbin selama ini untuk kebahagiannya dan Bobby. "Kau benar, Hyeri-ya. Mereka adalah orang-orang yang tangguh." Ia bergumam pada akhirnya, menatap jauh permukaan air laut yang berwarna keperakan dari jendela kamar.

"Eonnie-ya?"

"Hmm?"

"Aku senang kau kembali."

Seringkali terdapat sejuta makna hanya dengan satu kalimat.

Senyum lembut menghiasi wajah cantik Yoojung di seberang sana. Hyeri mungkin tidak bisa melihatnya, namun ia dapat membayangkan hal tersebut dengan jelas. Moon Yoo Jung yang sebenarnya adalah gadis periang yang dipenuhi semangat dan selalu tersenyum lembut, bukannya gadis rapuh dengan mata membengkak dikarenakan terlalu banyak menangis. Hyeri merindukan sosok Moon Yoo Jung yang sebenarnya.

"Yeah, aku juga, Hyeri-ya."

Hidup sering kali tidak berjalan seperti yang kita mau. Manusia tidak akan pernah terhindar dari rasa sakit. Biarlah waktu yang akan menjawab, menyembuhkan luka yang menganga, mengeringkannya hingga tidak terasa sakit lagi.

Mungkin luka tersebut akan meninggalkan bekas, namun, bukankah itu yang dinamakan hidup? Setiap bekas meninggalkan makna, memori penting dari perjalanan hidup kita di dunia. Rasa sakit membuat kita belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Because everything happens for a reason.

#########\(^0^)/\(^3^)/#########

"... Yoojungie Noona memintaku, meyakinkanku, untuk membawamu kembali."

What,

The...

Omong kosong apa yang sedang Bobby bicarakan? Kenapa noona-nya mengutus... err, kenapa harus Bobby? Dia sedang menjalani hidupnya yang baru di sini. Tidak bisakah Bobby membiarkannya tenang? Dia mengalami kesulitan melupakan namja itu, dan sekarang... tiga langkah jaraknya, Bobby berdiri di depannya, looking as gorgeous as ever in those black long coat, white loose shirt, black ripped jeans..., and those black leather boots...

Oh, Hanbin tidak bisa berpikir jernih.

Kehadiran Bobby membuatnya kehilangan fokus. Bobby tidak seharusnya berada di sini, menghirup udara yang sama dengannya, di depannya. Wae?! Kenapa Bobby harus datang untuk... menjemputnya? Hell! Memangnya Yoojung berpikir dia sedang apa di sini, eoh?! Liburan?! No! Dia bekerja. Terikat kontrak! Dia tidak bisa dengan seenaknya memutuskan pergi begitu saja.

"Pulanglah, Bobby. Kau pikir apa yang kulakukan di sini, huh?"

"You're... moping around," jawab Bobby berbisik pelan, meski tahu Hanbin tidak bermaksud benar-benar bertanya dengan ucapannya.

"I'm not moping around! Aku bekerja! Aku sudah memutuskan untuk menjalani hidupku di sini, Bobby-ya. Couldn't you see it?"

Bobby mendengus sinis, seketika membuat Hanbin terperanjat menerima reaksi tersebut darinya. "Ya, aku bisa melihatnya. Kau menjalani hidupmu dengan sangat baik di sini, Hanbin."

Deg.

Hanbin berjengit, merasakan aura sarcasm yang begitu kental dari setiap kata yang Bobby ucapkan. Namja itu memanggil namanya datar sekaligus sinis. Dan lagi... ada apa dengan semua ketidak-formal-an bocah ini, eoh? Bagaimanapun, dia lebih tua satu tahun dari Bobby, 'kan?!

"... Kau menikmati hidupmu yang baru dengan menghancurkan dirimu sendiri secara perlahan, eoh?" Bobby berkomentar, melirik stik rokok yang telah hancur lebur di antara kaki Hanbin sejenak, lalu kembali melirik marbel cokelat hangat tersebut. "Apakah kau sedang menjalani hidup sebagai pria 'cool' sekarang? Dulu kau pernah berkata kalau namja yang merokok itu adalah namja yang keren, 'kan?"

Yeah, Bobby masih mengingat dengan jelas berbagai pembicaraan mereka di masa lalu. Meski pembicaraan itu adalah hal ter-random sekalipun. Mengapa tidak ada astronot yang pernah mencoba mendarat di bintang, misalnya.

"Bobby, ini hidupku. Apa hakmu mengatur-ngatur hidupku?" Hanbin berujar tak kalah dingin.

DEG.

Menohok Bobby di ulu hati karena namja manis ini seolah mempertegas status mereka sebagai... apa? Apakah di mata Hanbin... mereka sudah benar-benar resmi menjadi orang asing sekarang?

"Binie," mulai Bobby pelan, menghapus semua kesinisan yang sebelumnya menguar di permukaan. Dia seharusnya bersikap tenang dalam menghadapi semua ini. "Aku peduli padamu. Aku tidak ingin kau jatuh sakit, apakah itu salah?"

"Stop."

Huh?

"Binie, apa yang—"

"BERHENTI MEMBUATKU SEMAKIN TERPURUK, BOBBY!" bentak Hanbin geram, tanpa diduga meneteskan kristal bening yang ia sendiri pun, tidak sadari telah menggenangi pelupuk matanya. Kehadiran Bobby begitu mempengaruhinya; membuatnya emosional dan tidak berdaya. "Hiks... Kau harus berhenti menunjukkan perhatianmu padaku. Tidakkah kau mengerti? I-ini semua... hiks, ini semua semakin membuatku berhalusinasi, kau tahu? Kau menciumku. Kau memelukku. Kau merindukanku... aku bingung, Bobby. Aku mulai ber – hiks! Aku mulai berhalusinasi kalau kau juga mencintaiku! Jadi berhentilah. Hiks, berhentilah membuatku salam paham, arraso?"

Tep, tep, tap!

Namun Bobby mendekat, berhenti melangkah saat jarak mereka hanya terpisah oleh celah kecil. Hanya beberapa centi. Hanbin dapat merasakan hangatnya nafas mereka beradu. Tangan lebar tersebut menyentuh kedua pipinya, menghapus air mata yang menganak sungai di sana. Marbel hitam Bobby menatapnya lurus, penuh puja, menyelami seolah ingin berbagi rahasia terdalam. Senyum tipis menghiasi bibir pink itu.

"Tapi kau tidak salah paham, Binie. Aku memang mencintaimu. Hanya kau lah satu-satunya orang yang kucintai."

Siiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnggg...

"M-mwo?"

"Aku dan Noona memutuskan untuk berpisah. Dia mengetahui kalau orang yang kucintai sebenarnya adalah dirimu—bukan dirinya, Binie"

DEG!

Hanbin lupa, bagaimana caranya bernafas.

#########\(^0^)/\(^3^)/#########

"Sudah ada kabar dari Bobby, Chagi?" Youngjae menghampiri Sang Puteri yang tengah duduk santai di beranda samping rumah mereka, menikmati hembusan pelan angin memainkan helaian rambutnya.

"Dia sudah tiba di New York, Umma. Kurasa sekarang Bobby dan Binie telah menyelesaikan masalah mereka."

Mengangkat sebelah alisnya, Yougjae mengambil duduk di samping Yoojung. "Hanya perasaanku saja, atau kau memang terdengar sangat yakin, Chagi?"

Alih-alih langsung menjawab, makhluk cantik yang tengah Youngjae usap kepalanya, memberi satu anggukan pasti. "E-heum. Mereka saling mencintai, Umma. Tidak ada manusia yang bisa berpaling dari hebatnya kekuatan cinta."

Yeah, Youngjae setuju akan hal itu. Tapi... mereka membicarakan putera semata wayangnya, yang begitu keras kepala. Hanbin selalu memegang teguh pendiriannya. Dia tidak mudah untuk digoyahkan. "Kau sudah menghubungi adikmu? Berbicara dari hati ke hati dengannya?"

O-ow...

Tersadar, Yoojung mengigit bibir bawahnya. Dia menangkap arah pembicaraan Sang Umma. "Aku... belum melakukannya," cicitnya lirih, sejenak merasa konyol karena telah melewatkan hal penting.

"Huft, Chagi, kau tahu sendiri bagaimana adikmu itu, 'kan? Binie tidak akan mendengarkan Bobby. Apapun yang Bobby sampaikan padanya, hanya akan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Adikmu bebal. Dia akan teguh pada pendiriannya – well, itu bagus." Youngjae mengoreksi setelah berpikir. "Tapi hal itu terkadang tidak menguntungkan baginya! Umma hanya takut... adikmu akan mengambil keputusan yang salah lagi."

Yoojung menghela nafas, meraih jemari Sang Umma dan menggenggamnya di kedua tangan, memberi remasan menenangkan. "Umma, ada Bobby di sana. Kita harus mempercayai Bobby. Dia tidak akan membiarkan Binie melakukan hal yang sama, menyakiti dirinya sendiri. Umma tenang saja, aku akan menghubungi Binie, berbicara dengannya. Aku hanya... perlu waktu." Ia berbisik lirih, menatapi jemari mereka berdua.

Youngjae tersenyum lembut, mengerti. Semua ini tidak mudah. Terlalu banyak pengorbanan serta ketabahan hati yang harus puterinya hadapi. "Umma mengerti, Sayang. Kau tahu? Umma sangat bangga padamu. Kau mencoba belajar untuk melepaskan Bobby. Pengorbanan bukanlah hal yang mudah."

"Aku tidak berkorban apapun, Umma. Binie lah, yang selama ini telah berkorban banyak. Aku hanya mengembalikan kebahagiaan yang seharusnya memang sudah menjadi miliknya." Yoojung tersenyum, akhirnya menaikkan wajah untuk menatap Sang Umma lurus, tepat di kedua mata. "Jika Binie bisa, kenapa aku tidak?"

Deg~

Jika saja marbel cokelat tersebut tidak menatapnya berkaca, Youngjae mungkin akan salah mengira, berpikir kalau puterinya yang cantik ini sangat tegar. Tapi lihatlah? Siapa bilang tersenyum tulus sembari menangis itu mustahil?

"Owh..." Youngjae menarik kepala bersurai panjang selembut sutera tersebut ke dalam pelukan, menyembunyikan wajah cantik itu di dadanya yang dalam sekejap, dibasahi oleh air mata. "Ssh, Chagi... Ne, Umma percaya kau pasti bisa. Kau sudah melakukan hal yang benar. Umma sangat bangga padamu."

Air mata ibarat hujan yang turun di awal musim semi, mencairkan es yang masih tersisa pada kuncup bunga, membangunkannya dari tidur musim dingin yang panjang. Itulah sebabnya, Youngjae tidak akan menghentikan air mata Sang Puteri. Dia akan membiarkan semua kegundahan bercampur resah itu tercurah dalam bentuk kristal bening yang menganak sungai. Berharap suatu saat nanti—kalau bisa secepatnya—semua akan mereda, menjadi lebih baik lagi.

#########\(^0^)/\(^3^)/#########

Pip.

Cklek~

Hanbin memasuki apartemennya, diikuti oleh Bobby yang langsung mengedarkan pandang ke sepenjuru ruangan, berlagak dirinya adalah petugas inspeksi kesehatan.

"Heum, paling tidak kau tinggal di tempat yang layak di sini."

Ya, Bobby sedang menginspeksi kediamannya. Membuat Hanbin meliriknya sembari mengangkat alis dari balik pintu kulkas yang ia buka. "Wae? Kau berpikir aku akan tinggal di apartemen tua beratap tinggi dengan cat dinding mengelupas?"

Bobby mengangkat bahu sembari menghempas duduk di atas sofa, mengabaikan kopernya di pintu masuk. "Well, actually, I quite expecting something like that," jawabnya terus terang.

"Tcih! Berhentilah menggilai Marvel, Bobby-ya. Kau pikir aku ini apa? The unfortunate Peter Parker?"

Terkikik, namja tampan di sofa menerima botol soda yang Hanbin sodorkan padanya. "Hei, Peter Parker tidak begitu buruk! Dia jenius. And you just asking for the impossible, Binie. I love aaaaall my MARVEL collections!"

Namja manis berbibir penuh tersebut mencibir. Bobby dan obsesinya terhadap super hero. Pantas saja kamarnya di Busan tidak pernah berubah, eoh?! Orang-orang yang memasuki kamarnya, mungkin akan salah sangka, mengira kalau kamar itu dihuni oleh seorang bocah delapan tahun.

"Itu kamar tamu." Hanbin berkata, menunjuk kamar di ujung kiri apartemen, jauh berseberangan dengan kamarnya—dia sangat bersyukur akan hal itu. "Ada kamar mandi di sana. Bersihkan dirimu dan beristirahatlah sejenak. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita."

"Kau... tidak lelah? Kau baru saja pulang, mungkin kita sebaiknya memesan delivery saja? Kudengar pizza di New York—"

"Kau datang jutaan mile jauhnya, dan kau berpikir aku akan memberimu pizza delivery sebagai makan malam?" Hanbin tidak bertanya, dia menghakimi Bobby keras.

"Err... yea?"

"No! Aku akan membuatkan makanan kesukaanmu. Sekarang pergilah mandi. Jangan lupa bawa kopermu ke kamar, arraso?"

Baru saja Hanbin melangkah saat telapak tangan Bobby yang lebar meraih pergelangan tangannya. "Kau belum mengatakan apapun mengenai pernyataanku, Binie."

Deg, deg, deg, deg...

Itulah yang sedang Hanbin coba hindari. Apa Bobby tidak menangkapnya? Dia tidak siap menghadapi semua kekacauan ini! Kedatangan Bobby tidak pernah terhitung dalam rencananya. Wajah tampan dengan gigi seri menyerupai kelinci tersebut seharusnya hanya mengisi bunga tidurnya; di alam mimpi, bukannya realita.

Lalu... pernyataan cinta tiba-tiba itu... Hanbin tidak siap. Dia bingung. Dia tidak mengerti.

"..."

Alhasil, hanya keheningan yang menjawab pertanyaan Bobby.

Seolah sudah menduganya, namja tampan tersebut menghela nafas berat. "Apakah kita... bahkan akan membicarakannya?" Ia bertanya dengan suara pelan yang nyaris berbisik, mata nanar, menatap sendu tangannya yang memegangi sempurna pergelangan kurus itu.

Hanbin selalu terlihat kurus. Dia memiliki postur yang sedikit berbeda dari namja kebanyakan. Meski berbahu tegap dan bidang namun... pinggang kecil, langsing, serta perut rata tersebut membuatnya nyaris memiliki tubuh menyerupai yeoja.

"Beristirahatlah di kamar, Bobby-ya. Kau membutuhkannya."

Mereka tidak akan membicarakannya. Tidak hari ini.

Memberi remasan pasti nan lembut, Bobby akhirnya melepas pergelangan tangan itu. "Baiklah, Binie," gumamnya lirih. Tidak ada gunanya memaksa Hanbin sekarang. Lagipula... dia tidak akan ke mana-mana. Masih ada hari esok.

Tanpa berpaling, atau mengucapkan sepatah kata pun, namja manis berbibir pouty yang Bobby tatapi punggungnya berlalu pergi, menghilang dari balik pintu kamar. Seandainya saja Hanbin tahu, Bobby tidak akan pernah kembali ke Korea sebelum dia mendapat kepastian darinya. Sekarang waktunya Bang Ji Won yang berjuang untuk cinta mereka. Kebahagiaan mereka semua.

"Watch me, B.I. I'm gonna make everything better again. I'm gonna make you happy."

Itu bukanlah bisikan semata. Bobby mengikrarkan janji. Sesuatu yang seharusnya ia lakukan sedari dulu.

~~~~~~~~\(=^0^)/\(0o0=)/~~~~~~~~

Musim semi adalah musim terindah di Korea. Pada musim ini masyarakat biasanya berbondong keluar bersama orang terkasih untuk menyaksikan bunga cherry bermekaran. Tidak jarang para pelancong dari luar negeri juga ikut berdatangan untuk menyaksikan moment menakjubkan tersebut.

Namun berbeda dengan sepasang kekasih yang baru saja melangkah keluar dari terminal bandara kedatangan luar negeri ini.

"Apa kita tidak sebaiknya menghubungi orang rumah, Jae?"

Lee Tae Yong, namja cantik mempesona bermata besar itu bertanya pada Sang Kekasih, Jung Jae Hyun. Mereka berdua mengunjungi Korea bukan untuk berwisata. Mereka akan menghadiri pernikahan pertama dalam keluarga besar The Mato's. Mereka menuju rumah, berkumpul bersama orang-orang terkasih.

"Dan kau bisa melepas tanganku, Jae. Who do you think I am? Anak kecil?"

Begitu banyak yang mereka bawa. Tidak hanya pakaian, mereka juga membawa banyak oleh-oleh beserta kado pernikahan spesial untuk Sang Hyung Tercinta, Bang Min Ki. Anehnya, Jaehyun tampak begitu enteng mendorong trolli 'segunung' itu hanya dengan menggunakan satu tangan, sementara tangannya yang lain menggenggam jemari kiri Taeyong erat. Seolah namja cantik tersebut akan menghilang, tersesat di lingkungan bandara layaknya bocah.

"Ani. Kau sering melamun, Babe. Kau bisa saja tersesat. Kau tidak begitu mengenal bandara di sini. Kau bahkan tidak begitu fasih berbicara bahasa Korea. Dan no, kita tidak akan mengabari orang rumah. Ini kejutan. Aku tidak ingin menambah pikiran orang-orang di rumah. Aku yakin mereka sedang sibuk mengurus pernikahan Minie Hyung."

Ah, ya.

Meski jawaban yang diberikan kekasihnya begitu panjang—juga menguliahi—Taeyong tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Dia teringat percakapan mereka bersama Minki melalui ponsel beberapa minggu lalu. Namja cantik itu sempat mengancam kalau dia akan membenci mereka selamanya, jika seandainya mereka berdua tidak pulang. Well, tanpa ancaman pun, Taeyong dan Jaehyun tidak akan melewatkan acara sakral dalam keluarga besar The Mato's.

"Ne, semua orang begitu excited. Aku jadi merasa tidak enak, Jae. Seharusnya kita kembali lebih cepat dan membantu Minie Hyung melakukan persiapan."

Jaehyun sontak terkekeh, menarik tubuh Taeyong mendekat padanya hingga bahu mereka yang berbalut mantel saling bersentuhan. "Hei, you knew so well that My Dearest Mom not gonna allow you doin' anything heavy and make yourself tired, 'aight?"

"Tsk! By helping, it doesn't mean I'm gonna do a heavy lifting, Jae. I can help them choosing the bouquet, decoration or something."

"That's exactly what I'm talkin' about, Babe. Kau akan banyak berpikir. Banyak berpikir bisa mempengaruhi pikiran yang mengacu pada stres dan kelelahan. Tubuh serta otot manusia sering kali bereaksi berdasarkan sugesti dari otak, kau tahu?"

O-kay... that was the most random thing that Jung Jae Hyun could've ever said.

Taeyong memutar bola mata, memberi jarak pada tubuh mereka walau hanya sejengkal. "You're crazy, Jung Jae Hyun. You know that?"

"Crazy for your love? I knew that~" jawab Jaehyun cheeky, mendekati wajah cantik Taeyong hanya untuk menggusaki puncak hidung mereka, lalu menarik diri tanpa melepas tatapan memujanya dari Sang Kekasih. "Apakah hari ini aku sudah mengatakan kalau kau terlihat sangat cantik?"

"Kkkk, shut up, You Dorky." Taeyong melepas tautan jemari mereka, beralih mengalungkan kedua tangan pada salah satu lengan kekar Jaehyun. "Jadi kita akan mengendarai mobil ke Busan?" tanya-nya excited, mengikuti langkah lebar namja tampan tersebut dengan sedikit lompatan pelan.

"E-heum. Temanku yang meminjamkan mobil sudah menunggu kita di luar. Kita akan pergi makan dulu bersama teman-teman kuliahku. Kau masih ingat mereka, 'kan?" Jaehyun hanya menunggu sepersekian detik setelah anggukan dari kepala kecil Taeyong sebelum akhirnya kembali berbicara. Dia terkadang rewel seperti ini—Taeyong memakluminya. "Setelah itu kita baru berangkat. Sounds good?"

"Aye, aye! That's sounds perfect, Captain!"

Seruan kekanakan tersebut, dan juga satu tangan yang melakukan posisi salute, membuat Jaehyun tertawa renyah. Taeyong sering kali protes saat diperlakukan Jaehyun seperti anak kecil—mengingat akan fakta kalau dia lebih tua empat tahun dari Jaehyun—tapi lihatlah, Taeyong bahkan tidak sadar telah bersikap seperti apa yang Sang Kekasih selalu katakan tentangnya. Namun untuk kali ini, Jaehyun akan melepaskan kesempatan menggodai Taeyong. Dia akan menikmati tawa riang yang menghiasi wajah cantik itu, setelah bertahun-tahun hanya melihat kepanikan di sana.

Pandangan Jaehyun refleks tertuju pada tangan Sang Kekasih yang dipenuhi guratan. Germaphobia sekaligus OCD adalah kombinasi buruk. Tiada hari yang Taeyong lewatkan tanpa merasa cemas kuman-kuman kecil akan menggerogoti tubuhnya. Dia menjadi seorang clean freak, sering bersih-bersih dan mencuci tangan dalam jumlah yang tidak wajar hingga menyebabkan tangannya lecet, dipenuhi guratan kasar. Bekas luka yang akan sangat sulit dihilangkan. Bertahun-tahun lamanya Taeyong menyembunyikannya dalam balutan sarung tangan.

Tapi sekarang tidak lagi.

Ada jaehyun di samping Taeyong. Ada Jaehyun yang mencintainya, dengan segala kekurangan yang ia miliki. Ada Jaehyun yang akan selalu memuja Taeyong dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan bila dua anak manusia saling memiliki satu-sama-lain, 'kan?

#########\(^0^)/\(^3^)/#########

"Fufufufu~"

Siulan berirama saling memantul di antara dinding persegi, sebuah puncak tertinggi dari apartemen tua. Kesunyian di sekitar membuat siulan tersebut terdengar begitu nyaring, mengaburkan keramaian background lalu lintas kendaraan di bawah sana. Si Pesiul sesekali terkikik, satu mata terpejam, membiarkan mata yang lainnya fokus menatap teropong pembidik pada puncak senapan laras panjang canggih di kedua genggaman.

"Stop playing around, Jung Dae Hyun!"

Suara statik yang menyertai hardikan dari seberang, membuat Si Pesiul, Daehyun, berjengit. Earphone rusak ini mengganggunya. Well, dia seharusnya lebih berhati-hati dari awal, bukannya ceroboh meletakkan asal benda canggih dan mahal tersebut di kaki tempat tidur dan menginjaknya. "Argh, I'm not playing around, Captain. I just... kkkk, enjoying my time~"

"Stop it! Just shot the Goddamn terrorist, will you?!"

Hardikan lain.

Bzzzztt...

Dan suara statik itu.

Argh! Seorang Jung Dae Hyun akan tuli setelah menjalankan misi terakhir ini! Pemerintah harus membayar konsekuensi bila hal itu benar-benar terjadi padanya. Menjadi sukarelawan bukan berarti dia akan merelakan begitu saja indera pendengarannya, 'kan?

"Shot him down, now!"

"Alright, alright..." sahut Daehyun jengah, secara rahasia mendendangkan you're so annoying luar biasa pelan. 'Hadiah kecil'nya untuk Sang Kapten. "I'm gonna—"

DEG.

Daehyun tercekat, berhenti berucap. Jantungnya menghentak, berdetak keras dikala menyaksikan teroris yang sedang menjadi incaran mereka berjalan dengan santainya tanpa... ransel yang sedari tadi disandangnya.

Deg, deg, deg, deg...

Bukan di tubuh, bom berada di dalam ransel!

DI MANA RANSEL ITU?!

"Holysh*t!"

Kelabakan, Daehyun melempar senapan ke lantai. Dia langsung berlari cepat keluar dari kamar apartemen, menghempaskan pintu dalam prosesnya. Daehyun bahkan tidak mempedulikan jika kakinya melompati dua hingga tiga anak tangga sekaligus.

"JUNG! WHAT THE HELL IS WRONG?! Why don't y—"

"His backpack has gone!"

"What are you talk—"

Bzzzztttt...

"The bomb in the backpack!" pekik Daehyun keras sembari menyentak earphone rusak tersebut lepas dari telinga, membuangnya asal. Sang Kapten bisa mengomelinya nanti karena memutus sepihak pembicaraan mereka. Yang terpenting sekarang, puluhan jiwa, bahkan mungkin ratusan, terancam melayang. Dan Daehyun akan memastikan, hal itu tidak akan terjadi; tidak dalam sepengetahuannya.

Oh, seandainya saja lift di apartemen tua ini masih berfungsi, dia tidak akan kehabisan nafas seperti ini setibanya di lantai bawah.

"Hosh, hosh..."

Alhasil, Daehyun terpaksa berhenti sejenak, mengatur nafasnya sebelum kembali berlari, ke luar dari apartemen... melewati parit, lorong, jalanan, hingga akhirnya ia sampai di persimpangan jalan ramai Akihabara yang terkenal, hanya untuk berlari layaknya orang kehilangan akal di antara para pejalan kaki. Well, mereka bisa menatapnya aneh sekarang. Seandainya orang-orang ini sadar kalau kemungkinan besar, mereka tidak akan menyapa matahari yang selalu mereka puja keesokan harinya.

"Frack! Di mana bajingan itu meninggalkan tasnya?!" teriak Daehyun frustrasi, menelusur di sekitar tepian gedung, tempat yang sebelumnya Si Teroris lewati sebelum kehilangan ranselnya.

Tap, tap, tap, tap...

Kepanikan sering kali membuat Daehyun merasa sendiri. Setiap langkah yang diambilnya terdengar begitu nyaring di telinga. Seolah hanya ada dirinya di sana. Jantungnya yang berdegup kencang juga tidak membantu.

Deg, deg, deg, deg...

Gosh, Daehyun tidak pernah se-frustasi ini bertarung dengan waktu. Dia sama sekali tidak bisa berpikir jernih! Sementara di suatu tempat, sebuah ransel berisi bom tengah bersembunyi.

Tik, tik, tik, tik...

Dia bahkan berhalusinasi, mendengarkan detik mundur... mundur... FOR A GOD SAKE! DI MANA SEBENARNYA BOM ITU BERADA?!

"Kore wa kaban desu ka?" /Ini tas punya siapa?/

Krak!

Leher Daehyun berderak saking cepatnya ia berpaling ke sumber suara.

DEG.

Ransel itu.

Tas maut yang Daehyun cari berada dalam genggaman... seorang gadis remaja berseragam sekolah. Jiwa polos yang tidak tahu apa-apa. Jiwa polos yang tidak akan pernah menyadari jika benda di tangannya akan meledak sewaktu-waktu. Membunuh dan melukai banyak nyawa dalam sekejap mata.

"Sore wa watashi no kaban desu!" /Tas itu milikku!/ Daehyun berseru keras. Dalam sekejap berlari ke samping Si Gadis, merebut tas dan membukanya di tempat. Daehyun tidak bermaksud ceroboh membuka tas yang kemungkinan besar berisi bom di hadapan penduduk sipil namun, dia tidak mempunyai pilihan lain. Dia perlu memastikan berapa lama waktu yang mereka punya. Mungkin timnya masih berkesempatan menjinak—

... 00:06

... 00:05

00:04...

no.

Mereka kehabisan waktu.

Menaikkan zipper tas dalam kecepatan luar biasa, Daehyun menyalurkan segenap tenaga pada tangan kanannya, mengayun ransel tersebut, melemparnya ke udara. Tanpa menunggu diraihnya gadis remaja yang menemukan ransel, membawanya membungkuk ke lantai beton trotoar dan...

... 00:00.

DHUAARRRRRRRRRRR!

Ledakan besar terjadi di udara. Gelombang serta gema suara dari besarnya ledakan membuat kaca-kaca di sekitar gedung pertokoan pecah. Semua orang sontak panik. Persimpangan Akihabara yang sebelumnya ramai namun rapi, sekarang kacau. Tak ubahnya sarang semut yang diusik oleh sekawanan lebah. Semua berteriak, berlari. Ada pula yang menangis.

Tapi Daehyun...

Nnnnngggggggg~

Ia telah berbaring, menatap udara mendung yang masih berhiaskan percikan api.

Nnnnnnnngggggg...

Telinga tiada henti berdengung. Hening. Tidak ada suara lain selain dengungan. Well, sekarang kemungkinan misi terakhir ini akan menyebabkannya tuli sangatlah besar.

TBC

NB: Once again, I'm so sorry 4 my clumsyness, Reader-nim m(_ _)m I'm NOT abandoned this fic. Don't worry. HIDUP DOUBLEB! DOUBLEB! BAP!\(=^0)/\(0^=)/*sorak dulu kya biasa*