Title : Test for Kira

isclaimer : Gundam Seed punya bandai, sunrise, sunset, sunshine, dan se-mu-a-nyaaa~

Genre : Romance/Humor/Friendship/General/Campur/Sari/Bengkoang/Cantik/Menggoda

Halah…

Pairing : KiraXLacus, KiraXMeer

Warning : AU, OOC, Abal, norak, gaje, jayus, alur satsut (?), gak nyambung. Gitu lah.

A/N : Err, mulai dari mana ya *celingukan nyari mikrofon*. ah, jadi pertama-tama, saya minta maaf sedalam-dalamnya karena sudah mencampakkan fic ini selama berbulan-bulan *nunduk*. Maaf, ya Kira, Lacus, readers, dan save-an file yang gak pernah saya buka lagi…

Karena belakang ini saya kesambet WMB (writers mood block *ngasal mode) dan kalo saya ga mood dipaksa nulis malah jadi ngantuk. Huehue, sekali lagi maaf.

Dan untuk chapter kali ini saya kasih info aja, humornya gak begitu banyak atau ditekankan seperti chapter sebelumnya (emang di chapter dulu-dulu ada humornya gitu?). Karena saya membuatnya di tengah situasi rekan terhebat saya yang sedang sakit sampai harus dirawat di ibukota. Ia adalah rekan terhebat yang selalu membantu saya dalam berbagai tugas dan kebosanan. Oh, my PC, wish u get well soon. Sudah seminggu kau dibawah naungan garansi, moga kau akan ceria seperti dulu dan melantunkan lagu dugem untukku tiap malam. (?)

Tapi akhirnya saya bisa lanjut chapter ini jugaaaaa~ *gleparan di tanah*. Terima kasih banyak buat sun setsuna yang udah bela-belain ng-wall saya biar inget pada anak ketiga di rumah (?) nggak, maksudnya fic ketiga saya ini.

Ah, kembali saya ingatkan di chapter ini ga begitu banyak humornya, jadi sebelum menyesal, tombol silang warna merah di layar anda dipersilakan.

Yap, untuk terakhir kali…

Happy Reading! XDDDDDDD

.


Test for Kira

Chapter 6


.

Sudah tiga hari berlalu sejak 'perdamaian' antara Kira dan Lacus. Mereka kembali menjadi pasangan yang adem ayem di sekolah. Tambah mesra malah. Terkadang mereka bertukar sapa dengan panggilan 'honey' yang membuat orang-orang muak mendengarnya, apalagi Athrun dan Cagalli yang 80% terus bersama mereka di sekolah.

"Kira, kau tidak menyimak, ya?" gerutu Lacus dengan wajah cemberut, menunduk untuk menatap lurus-lurus wajah Kira yang sedang duduk bersila.

"Hnya? Maabh, gu rapaa zii," jawab Kira sekenanya, agak memundurkan badannya karena merasa ngeri dengan Lacus yang ngambek. Ia menjauhkan kotak bentou-nya agar tidak terancam keutuhannya.

"Telan dulu, honey!" perintah Lacus jengkel. Begitulah, kalau mereka berdua sudah saling greget, kesal, gomez—eh—gemes, atau hal-hal lainnya yang mendorong seseorang mengeluarkan kata-kata ala kebun binatang, mereka akan menggantinya dengan honey. Lebih baik kan? Iya gak? Ya, iyalah, masa' iya dong. Mereka aja sekolah bukan sekodong. Iya kaaaan?

.

...PIIIIIIP...

(Adegan pembantai Author, under age forbidden to see)

.

"Maaf. Aku lapar, Lacus. Aku dengar, kok. Tapi pendengaranku akan lebih baik saat perut kenyang," jawab Kira cengar-cengir.

Lacus hanya berkacak pinggang dan duduk di depan Kira. Ia lalu mengambil kotak bentou miliknya dan mulai melahapnya dengan cepat. Kira yang merasa tidak enak hati sekaligus hilang nafsu makan akhirnya menaruh kotak bentou-nya. Ditatapnya Lacus dengan wajah memelas.

"Marah, ya?"

"Au ah gelap."

Kira sweatdrop mendengar balasan Lacus. Darimana dia dapat slogan itu? Ah, iklan lampu. Ya, ya, iklan lampu. Pasti iklan lampu. Lampunya yang terang itu, yang warna putih. Bentuknya macam-macam, ada yang tornado, neon, kait, watt dan voltage-nya rendah lagi. Hmh~ lampu yang bagus. Lampu merek…

Oke, oke. Akan kulanjutkan.

Kira berdeham,"Baiklah. Kita beli lamp—eh, selesaikan acara makan kita lalu kita ulangi lagi. Suaramu juga pasti lebih bertenaga setelah makan."

"Aku ini serius, tahu, Kira! Hari ini latihan terakhir. Besok 'kan lombanya!"

"Aku juga serius, tahu, Lacus. My honey~ makanya sekarang isi perut dulu, ya. Biar makin serius," balas Kira tenang yang sebenarnya asal. Awalnya Lacus hanya diam dengan wajah cemberut. Dicubitnya pinggang kiri Kira lalu dipelintirlah kulit itu. Kira menjerit kaget dan meringis sambil mengelus-elus kulit pinggangnya. Lacus hanya terlihat cuek.

Setelah menyelesaikan makan mereka, akhirnya Lacus kembali mempresentasikan preshow-nya di atap seperti biasa di depan Kira. Pemuda berambut coklat itu duduk manis dan menyimak baik-baik tiap alunan nada yang mengalir. Begitu terhanyut seolah terbawa arus angin.

Sampai tidur.

"KIRAAAA!" Lacus mengayunkan tas berisi kotak-kotak bentou dan botol air tepat ke wajah sang pria idaman.

"GUAKH!"

Priiiit! Dua poin untuk Ms. Clyne!

.


.

"Kau kenapa, Kira? Wajahmu agak kempes di bagian depan. Mengikuti ciri khasnya si idola Author, ya? Yang pirang cepak panjang itu," sapa Athrun saat mereka berdua sedang berlari bersamaan mengelilingi lapangan sekolah untuk pemanasan.

Oalah, kenapa dibeberin di sini, sih, Ath?

"Nggak. Aku gak hobi yang begituan. Ini cuma tanda kasih sayang dari Lacus. Iri, ya? Gak pernah dapat dari Cagalli, ya?" jawab Kira sekenanya dengan wajah kusut. Sebenarnya ia agak malu mengikuti latihan dengan wajah agak 'nyungsep' seperti ini. Tapi berhubung ini latihan terakhir sebelum turnamen dan Lacus sudah mejeng di kursi pelatih untuk memastikan dia tidak bolos latihan, jadilah mau tak mau Kira menjalani takdirnya yang sudah digariskan. Empat garis lurus yang mengelilingi lapangan, lintasan berlari. Sebuah takdir yang kotak.

"Heh, kalau yang seperti itu, sih aku juga punya." Athrun menolehkan wajahnya untuk memperlihatkan pipi kirinya yang tak bisa dilihat Kira yang berada di kanannya. Terpampang lukisan tangan bercat merah di sana. "Keren, 'kan? Lebih rapi dari punyamu. Tanda cemburu Cagalli karena aku dekat-dekat dengan adiknya Luna. Keren 'kan? Cagalli perhatian padaku." Entah kenapa ia mengatakan hal itu dengan bangganya.

Kira hanya memasang tampang miris. "Pacar kita perhatian semua, ya?"

"Yap."

Mereka berdua kembali berlari dalam diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing di sela-sela teriakan pelatih yang menyuruh mereka cepat-cepat menyelesaikan pemanasannya.

"Tapi tetap saja rasanya sakit luar biasa," gumam Athrun dengan seulas senyum miris. Tak menghiraukan omelan pelatih di pinggir lapangan.

"Kau benar, sakit luar biasa," timpal Kira ngangguk-ngangguk. Tak peduli juga.

"Lalu besok bagaimana caranya kau menonton penampilan Lacus?" celetuk Athrun tiba-tiba.

"Yah, ngebut setelah pertandingan selesai. Itu pun kalau aku diturunin pelatih. Cagalli nonton yang mana?"

"Lacus. Dia lebih memilih nonton BFF-nya ketimbang pacarnya. Yah, gak salah juga, sih. Bagaimana pun teman lebih penting."

"BFF? Apaan? Istilahmu aneh-aneh, ya."

"Best Friend Forever. Kira, jangan bilang kau tidak pernah nonton Spongebob! Episode kotak rahasia!"

Kira hanya nyengir tanpa dosa. Menjengkelkan tapi… ah, sudahlah. Athrun harus menahan diri untuk tidak menjitak Kira kalau tidak mau ketiban sial karena Lacus.

.


.

Latihan sudah selesai pukul tujuh malam ketika tirai sulap sudah dibentangkan. Tirai gelap tipuan yang mampu menyembunyikan beribu-ribu benda tak terjamah di baliknya. Kira dan Lacus masih berdiri di dekat gerbang sekolah yang sudah ditutup untuk membicarakan sesuatu.

Sesuatu yang tiba-tiba. Kira mengajak Lacus kencan dengan gaya malu-malunya, membuat Lacus agak tidak tega.

"Tunggu sebentar, ya. Kuhubungi orang rumah dulu," pinta Lacus sesaat sebelum mengambil jarak dari Kira dan mengirimkan sebuah pesan.

.

To: La Choose Clean

Subject: Bales urub! Atau kau akan menyesal!

Message: Yo, mamen~! Bgg, ni. Kr tb2 ngjk date splg lat bl sr ni. Blh g? Gmn pun jg u 'kan BFnya!

.

Yap, pesan terkirim. Lacus—yang seharian ini ternyata Meer—menoleh sebentar untuk melihat apakah Kira mengintip atau tidak. Rupanya dia sedang sibuk main rantai kecerdasan yang diberikan Dearka tadi pagi. Sebenarnya rantai itu diberikan Yzak untuk Athrun, tapi dengan mudah Athrun melepas dan memasukkannya lagi. Diturunkanlah benda keramat itu ke Dearka yang sibuk meraung minta coba. Setelah beberapa jam, Dearka menyerah dan membuang—eh—menyerahkannya pada Kira.

Lampu ponsel Meer menyala dan langsung ia buka pesan itu.

.

From: La Choose Clean

Subject: Re: Bales urub! Atau kau akan menyesal!

Massage: Kenapa kau kirim pesan dengan semua kata disingkat maksa gitu, sih? makanya beli hape qwerty, dong. Oh, ya masalah Kira. Silakan saja. Tapi awas kalau lebih dari jam delapan dan macam-macam sama dia!

.

"Hoalah, macam-macam iku maksudte macam opo to, ndok?" Nah, Meer mulai OOC. Gimana ceritanya tokoh gundam bisa boso jowo maksa kayak gitu? Mampir ke Indonesia selama perang aja kagak. Ah, posisi saya di sini author, ya? Itu komentar ala readers, ya? Oke, akan saya beri jawabannya.

Jadi gimana bisa?

Inilah kehebatan author. Dunia tokoh di tangan ane. Madara Uchiha aja kalah sama kekuasaan ane! Menguasai dunia (NARUTO)? Hohoho, kecwil. Uangnya piro? Lumayan buat bayar denda pengambilan hak cipta.

.

...PIIIIIIP...

(Adegan pembantai Author Part 2, upper age forbidden to see)

.

"Jadi?" tanya Kira begitu melihat Lacus—kita sebut saja begitu—kembali.

"Ayo," jawab Lacus tersenyum manis. Membuat Kira blushing.

Dan mereka berdua pun menghabiskan malam minggu bersama-sama. Makan jagung bakar bersama di pinggiran taman, mampir ke beberapa pusat perbelanjaan, nonton film, bertukar permen kapas, dan melihat bintang di salah satu padang rumput di sisi sungai.

Ahaaai! Cocuitt banggetz si kaliaaaan! Bikin iri author aja. *hantamed*

Sampai akhirnya Lacus kelabakan saat mendapati jarum di jam tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam.

Takkan kubiarkan kalian bersenang-senang begitu saja. Gagagagaga! *hantamed part 2*

.


.

BIAR saya jelaskan terlebih dulu jika ada readers yang bingung kenapa scene ini tercipta padahal kalau dilihat menurut chapter sebelumnya, harusnya kesepakatan bertukar peran telah berakhir saat Lacus akhirnya dipanggil 'Lacus' oleh Kira dan hubungan mereka membaik.

Tapi sebenarnya, begitu pulang Lacus bicara lagi dengan Meer. Ia meminta Meer untuk bertukar peran dengannya untuk membuat Kira bisa membedakan dirinya dengan Meer—orang yang paling serupa dengannya. Mereka berganti tiap hari. Misal, hari ini Lacus asli, besoknya Meer, lusa Lacus lagi, begitulah. Dan yang membuat Lacus asli gondok sekarang adalah Kira mengajak 'Lacus' kencan selagi yang menjadi 'Lacus' adalah Meer, bukan dirinya sendiri. Sayangnya Kira masih belum bisa membedakan mereka sampai saat ini.

Complicated isn't it?

.


.

Hari yang ditunggu-tunggu tiba. sebuah hari Minggu dimana terdapat dua lomba yang diselenggarakan di waktu bersamaan. Lomba yang saling bertolak belakang. Seni Vokal dan Olahraga Sepak Bola. Berhubung hari ini hari spesial, Meer tidak takut muncul di permukaan—dengan beberapa penyamaran tentunya—saat Lacus juga muncul di permukaan. Meer sudah dipesankan tempat duduk dari Lacus dan sudah siap menonton aksi saudara sepupunya itu dari kursi paling depan. VVIP.

Cagalli yang duduk di sampingnya awalnya kaget bukan main karena mengira bayangan Lacus menghantuinya, tapi tidak. Cagalli hanya mengangguk-angguk setelah dijelaskan keseluruhan ceritanya atas izin Lacus asal Cagalli berjanji tak membeberkannya pada siapa pun. Termasuk Athrun.

Di sisi lain, yaitu stadion sepak bola yang dijadikan 'medan perang' bagi Athrun dkk, Kira mendapat kesempatan bermain dari babak pertama oleh pelatih yang agak ragu dengan keputusannya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Penonton yang datang melebihi dugaan dan pemain yang harusnya bermain di posisi Kira sakit perut karena demam panggung dan Kira mau tak mau harus menggantikannya.

Perlombaan berlangsung memanas. Lacus berhasil masuk ke babak final dan harus segera menyiapkan diri selama lima belas menit sebelum tampil lagi dengan lagu lain yang sudah ia siapkan, Lady Gaga – Poker Face.

Eh, maaf. Salah. Rihanna – Take a Bow.

Eh, bukan, lagu itu kurang cocok dibawakan di lomba formal begini. Justin Bieber – Never Say Never. Hoo, walau ia yakin para juri yang mayoritas perempuan juga menyukai lagu itu, tapi susah kalau tidak ada yang jadi Jaden Smith-nya.

Gee – SNSD? Nuooo wayyyy.

Jadi lagu apakah itu?

Anang – Separuh Jiwaku Pergi.

"Bukan juga, author bodoh. Berhentilah menebak, diam, dan lanjut menulis saja. Untuk lagu hanya aku, Yang Di Atas, dan penonton yang tahu," sela Lacus yang entah bagaimana masuk ke ruang lingkup author.

Yang di atas setahuku penata lightning.

Eits, stoop! Jangan buat adegan pembantaian author Part 3! Cukuup! Iya! Iya! Yang Di Atas dengan huruf awal kapital semua! Iya! Ngerti!

.


.

Waktu terus berlalu dan mentari mulai memperkuat sinyal dan meluaskan jaringannya, tepat berada di menutupi kepala orang-orang yang ada di stadion saat itu. Para pemain mulai mengucurkan keringat dengan jumlah spektakuler sampai lapangan jadi becek dan penuh kubangan. Hiperbola, aku juga tahu, kok. Orb High School yang secara ajaib bisa menembus babak final pun kini di ujung tanduk.

Skor masih 0-0 di menit ke 92—dengan additional time tiga menit. Kedua kubu benar-benar terlihat kehabisan stamina karena cuaca yang luar biasa panas. Untuk melakukan babak pinalti jika harus terjadi pun rasanya tak mampu.

Dengan segenap kekuatan yang tersisa, Dearka menggiring bola menembus pertahanan lawan yang mulai ngalur ngidul. Tapi arah lari Dearka pun tak kalah ngalur ngidul. Akhirnya Athrun yang masih 'waras' merebut bola dari kaki Dearka—kawannya sendiri—yang langsung tepar kehabisan tenaga. Wasit tidak meniup peluit karena tak ada pelanggaran dalam aksi itu.

Digiringnya bola itu menuju kotak pinalti yang kali ini pihak lawan berhasil menghadangnya. Athrun berhenti sambil berusaha mempertahankan kedudukan bola. Sudut matanya menangkap sosok berambut coklat di balik tubuh-tubuh lawan itu.

Tanpa ragu, diberikan umpan lambung tepat menuju orang berambut coklat itu. "Kira!" serunya untuk menarik perhatian si empunya rambut.

Tapi naas, sebuah pesawat terbang yang terbakar tiba-tiba jatuh dari langit dan menghancurkan seisi stadion. Suara ledakan menggema keras. Api menjalar hebat disertai bumbungan asap hitam yang mengalahkan gedung pencakar langit tertinggi di Orb. Mobil-mobil polisi, pemadam kebakaran, dan ambulans mulai mengepung TKP. Athrun mendapati dirinya tengah berdiri seorang diri di tengah lapangan yang sudah hangus, membakar rerumputan juga teman-temannya. Ia hanya diam. Tercengang, bengong.

Tapi ia akhirnya sadar bahwa udara panas sukses memancingnya untuk berhalusinasi, seperti di padang pasir. Deskripsi panjang yang tidak nyambung dengan cerita di atas hanyalah gambaran gejolak jiwa Athrun saat menyadari kalau orang yang disangka 'Kira' tadi bukanlah 'Kira' yang sebenarnya melainkan pemain pihak lawan yang memiliki potongan rambut sama, bergigi tonggos, dan berjerawat di sekitar hidungnya. Ia telah membuang kesempatan terakhir di dua puluh detik terakhir.

NOOOOOOOO!

"Olala~" gumam Athrun setengah pasrah dengan tatapan lurus mengikuti arah jatuhnya bola. Gerakan di stadion—yang masih utuh tentu saja—seolah bergerak lambat ala matrix.

Tapi tiba-tiba, sebelum si bolang—ehem—bola sampai di ujung penantian panjangnya…

"Ku akan menanti, meski harus penantian panjang.

Ku akan selalu setia menunggum—

Hoi! Siapa yang suruh puter soundtrack punyanya Nikita Willysekarang, hah!

Baiklah, kita ulangi sedikit…

.

"Ku akan menanti, meski harus penantian panjang..

.

BUKAN LAGUNYA YANG DIULANG! GAAAAH!

.

Di tengah kericuhan penonton yang ikut tegang, suasana yang kian memanas, dan penantian pan—oke, kita lewati bagian itu, seseorang baru saja menerjang bola yang terbawa gravitasi itu, menyundulnya kuat ke arah kanan depan, dan…

PRIIIIITT! PRIIIIITT! PRIIIIITT!

"GOOOLL! SAUDARA-SAUDARA DIMANA PUN ANDA BERADA, ANDA SEKALIAN BARU SAJA MENYAKSIKAN KESEMPATAN DALAM KESALAHAN PEMAIN SETIM, ATHRUN ZALA, SAAT MEMBERI UMPAN. TERNYATA UMPAN NYASAR TERSEBUT DAPAT DIUBAH MENJADI SEBUAH GOL TUNGGAL OLEH PEMAIN BERNOMOR PUNGGUNG DELAPAN BELAS, KIRA YAMATO! GOL INI SELAIN MENJADI JAMINAN KEMENANGAN ORB HIGH SCHOOL JUGA MENJADI PENANDA BERAKHIRNYA PERTANDINGAN PANJANG DI HARI YANG PANAS INI! PENONTON, BERI SAMBUTAN MERIAH UNTUK JAWARA KITA, PEMENANG TURNAMEN SEPAK BOLA ANTAR SMA SE-ORB, ORB HIGH SCHOOL!" komentar panjang yang hampir tanpa jeda dari komentator yang ada di atas ruangan berkaca di tribun menyulut sorakan ramai dari para penonton dan supporter yang datang.

Sedangkan para pemain Orb High masih terpaku. Belum sadar sepenuhnya akan apa yang terjadi. Menang pun mereka tak sadar sampai akhirnya kiper pemain lawan menepuk bahu Kira dan mengulurkan tangannya.

"Kalian hebat, kau juga. Pertandingan yang keren," ujarnya dengan senyum puas di balik wajahnya yang penuh peluh.

Kira memandang tangan yang dijulurkan itu untuk beberapa detik yang panjang. "Ah," ia tersadar. Dibalasnya jabat tangan itu, "ka-kalian juga um, hebat. Yaya, kalian hebat!" Sepertinya pikiran lelaki itu masih belum berkumpul sepenuhnya.

Si Kiper hanya terkekeh geli dan pergi setelah menyisipkan sebuah pelukan bersahabat pada Kira. Dijabatnya pemain-pemain lain dan ia terus menepuk punggung rekan-rekan setimnya untuk menguatkan mereka.

"Kita menang, nih?" tanya Athrun masih dengan ekspresi takjub saat menghampiri sosok Kira.

"Ya, sepertinya begitu. Aku juga tidak percaya," jawab Kira jujur. Ekspresinya juga tak kalah takjub.

"Aku sangat tidak percaya kita menang, berkat kau. Ya, aku tidak percaya kunci kemenangan kita adalah kau, Kira," koreksi Athrun 'tanpa' maksud menyinggung sama sekali. "Bahkan aku merasa tidak mendapat peran sama sekali dalam kemenangan ini."

Kini Kira hanya menatap sinis Athrun, merasa terhina. Diacak-acaknya rambut pemuda berambut biru itu brutal, "Apa maksudmu, hah? Tuan Rabun? Dan masalah peran, itu semua terserah author. Tanya saja ke dia." Athrun hanya berdecak malas. Entah kenapa sepertinya ia sangat membenci author ini...

Dan perlahan namun pasti, teman-teman yang lain, yang menunggu di kursi pemain cadangan dan pelatih di pinggir lapangan, serta rekan-rekan lainnya langsung bergerumul di sekitar kedua sobat itu dan berpelukan. Tak jarang ada yang menangis dan bertingkah seperti orang gila. Bersalto dan bergoyang.

Pandangan Kira tertuju pada jam digital di layar besar stadion. Matanya membelalak dan ia segera berlari ke luar kerumunan. Athrun yang menyadari tingkah anehnya langsung menyusul. "Kau mau kemana? Sebentar lagi penyerahan piala!" jeritnya agar suara bass-nya dapat terdengar di sela-sela histeria penonton.

"Gedung Seni di balai kota! Aku harus cepat kalau mau melihat penampilan Lacus! Nggak boleh ketinggalan!" jawab Kira tanpa menoleh sedikit pun. Tidak peduli apa Athrun masih ada di belakangnya atau jauh di belakang. Mereka berdua kini sudah ada di luar stadion dan masih berlari menuju jalan raya.

"Aku mengerti, tapi apa kita tidak menunggu bis saja? Atau pinjam kendaraan teman? Naik taksi?" balas Athrun dengan nafas terengah. Kadar staminanya sudah kedap-kedip.

"Lama! Kalau ada event kayak gini jalanan pasti ramai! Aku tahu jalan dalam yang tembus ke balai kota. Ka-kau sebaiknya kembali dan ikuti penyerahan piala saja!" Nafas Kira tak kalah menyedihkan. Ia berlari sekuat tenaga di ujung jalan keluar kawasan stadion dan berbelok ke kanan untuk menyusuri jalan ber-paving block yang dilindungi pohon-pohon.

Athrun menggertakan giginya. Enak saja menyuruhnya pulang setelah capek-capek lari mengejarnya seperti ini. Ia mempercepat laju larinya untuk menyusul Kira di depan. Tiba-tiba temannya itu berbelok ke gang kecil di sebelah kiri.

"HAAAAH! TUNGGU, KIRA!" sahut Athrun geram. Dadanya benar-benar sesak kekurangan oksigen.

.


.

Tepuk tangan riuh memenuhi Gedung Seni Balai Kota setelah Lacus Clyne, kontestan yang dijagokan banyak orang selesai menyanyikan lagu terakhirnya. Why oleh Ayaka yang menjadi soundtrack Final Fantasy VII Crisis Core.

Oyeaaah! Misteri lagu terakhir Lacus akhirnya terungkap saudara readers! Saya udah duga itu. Hm~ hm~ dugaan saya memang hebat. Daya pikir yang hebat ini karena minumun suplemen multi vitamin. Ya, ya, yang kemasannya botol, bentuknya tablet dan ada juga yang kapsul. Warnanya oranye. Yang modelnya cowok kribo. Hm~ hm~ multivitamin yang hebat. Multivitamin Cere—

Ah, kenapa iklan lagi yang muncul, sih?

Lacus segera pergi ke belakang panggung dimana Meer telah menunggunya.

"Penampilan yang hebat, sepupu! Tapi masih lebih hebat aku. Lagu tadi bisa dibuat lebih asyik, coba di remix ulang jadi musik dugem. Aish, ngebayanginnya saja rasanya mau joget, nih," sahut Meer girang. Digerak-gerakkan tangannya ke kanan-kiri, ke depan-belakang, lalu diputar-putar terus, rentangkan, seperti pesawat terbang.

Lalalalalala~

"Masa', sih? Kalau mau dibuat dugem liriknya gak cocok. Meer-chan mah hobinya ke klab terus," jawab Lacus dengan alis bertaut.

"Bukan klab, tapi Host Club. Lumayan buat cuci mata."

"Kau seperti tante-tante saja."

"Apa katamu?" Meer memberi deathglare tajam ke Lacus. Yang diberi hanya nyengir dan tertawa santai.

"Kira-kun belum datang, ya?" celetuk Meer. Sebenarnya hal ini yang terus mengganggunya sejak tadi.

"Ya, Athrun juga. Apa pertandingannya diperpanjang, ya?" Lacus membalas dengan gumaman. Matanya mulai menjelajah barisan penonton dari balik tirai yang ia singkap sedikit. Tapi sosok yang dicari belum juga muncul.

.


.

"Ki…ra… sam-sampai kapan… kita… harus lari…hah?" seru Athrun setengah mati dari belakang.

"Se-sebentar lagi, Athrun… sebentar… lagi," jawab Kira tak kalah sengsara. Walau begitu ia masih memimpin di depan. Matanya berbinar dan membulat begitu ia sampai di sebuah perempatan jalan yang ada di wilayah perumahan, seperti daerah rumah Nobita dan Doraemon.

Dengan cepat ia berbelok ke kiri, meninggalkan Athrun yang tersentak karena aksi tiba-tiba temannya. Di ujung jalan itu Athrun bisa melihat sebuah jembatan dengan panjang sekitar dua puluh meter dengan kilauan air sungai jernih di bawahnya. Ia pun ikut tersenyum melihat temannya berlari dengan girang. Jembatan itu adalah tanda bahwa balai kota sudah dekat, pantas saja Kira lebih semangat. Semoga kami tidak ketinggalan acara, pinta Athrun dalam hati.

"Hei, Kira! Aku tahu kau ingin cepat sampai, tapi kita belum keluar gang, tahu! Pelan-pelan! Nanti kalau tiba-tiba ada kendaraan menyambut kedatangan kita…"

CKIIIIITTT!

Athrun menghentikan kalimat sekaligus langkahnya setelah mendengar suara decitan itu. Suara yang membuktikan bahwa peringatannya benar terjadi, tepat di depan matanya. Ia membeku di tempat, menatap sosok teman baiknya yang kini tergeletak begitu saja di tengah jalan. Tak sadarkan diri. Tangan Athrun menegang dan kakinya gemetar.

"…kita takkan bisa ke Gedung Seni dan melihat penampilan Lacus…"

.


TBC


.

Yohohohoho! Gimanagimanagimana?

Apa yang akan terjadi dengan Kira dan Athruuun? Jengjengjengjeng! *nabuh gendang*

.

Duh, ga berani nambah A/N karena di atas udah banyak.

Pokoknya terima kasih banyak untuk yang udah mampir dan membuang waktu berharganya untuk membaca fic abal ini. Aku terharu… TAU GAK ARTINYA TERHARU? *killed*

Ya sudahlah. Sekali lagi terima kasih banyak, dan silakan tinggalkan review setelah menekan tombol piiip—tombol balon maksudnya. :3