2/1/18 & 05.15
All characters' name of Naruto belong to Masashi Kishimoto
"SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING"
By Kohan44
Ada yang bilang, "biarkan waktu yang menyembuhkan luka", dan aku pikir perkataan itu ada benarnya juga. Seiring berlalunya waktu, berita buruk tentang Uchiha Sasuke akhirnya kandas, dan bagai angin lalu, Kiba dan lainnya kembali berbaikan hanya dengan permintaan maaf kecil. Begitu sederhana anak muda, membuatku iri.
Menjelang ujian akhir, nilai-nilai Sasuke kembali membaik. Kepala Sekolah berhenti memberiku teguran. Beberapa guru menanyaiku tentang apa yang telah aku perbuat untuk memperbaiki itu. Beberapa di antara mereka mencibir dan menuduhku hanya bermain-main dengan nilai Sasuke, sebab aku tak menjawab tuntas pertanyaan mereka. Bagaimana bisa aku menjawab mereka dengan perasaan yang tak menentu?
Berita buruk permasalahan homo di kalangan anak-anak telah pergi, tapi jika kuceritakan bagaimana prestasi Sasuke kembali membaik, mungkin berita buruk tersebut kembali semerbak di kalangan guru, dan hal yang paling ku benci adalah berita itu melibatkan Naruto. Aku tidak berbuat apa-apa pada Sasuke. Aku hanya berkata-kata baik pada Naruto, lalu membiarkan segalanya mengalir dengan alami. Takdir yang membawa mereka. Tak ada yang tahu kemana arahnya, bagai angin yang membawa musim. Para ahli iklim selalu menyebutnya 'ramalan cuaca', dan bukan 'berita cuaca nanti', karena begitulah ketidakpastian terjadi di sekitar kita. Mereka bertiup ke arah yang tak pernah kita ketahui. Tapi orang-orang suka sekali berpendapat meskipun tidak pernah diminta. Di antara mereka ada yang suka berspekulasi dengan nada menuduh lalu menyebarkannya, padahal semua itu belum tentu benar. Jadi lebih baik aku berbicara sedikit saja.
.
.
SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING
.
.
"Kenapa masih berdiri di sini?" kata Sasuke yang tiba-tiba datang menepuk pundak Naruto, sampai Naruto terlonjak kaget. "Di depan papan pengumuman udah mulai kosong."
"Bisa gk datengnya gk ngagetin?"
"Hehehe maaf. Kita ke sana, yuk!"
Naruto diam tak yakin. Matanya berkaca-kaca mengarah ke papan pengumuman besar yang ditempeli banyak kertas. Beberapa saat lalu pemandangan di sekitarnya nampak dramatis dan kontras. Ada yang tertawa sampai menangis bahagia, dan ada yang terisak-isak tak bisa menerima kenyataan. Bahkan banyak murid yang membawa orangtuanya untuk menyaksikan keputusan tes seleksi masuk SMA X, supaya mereka bisa berbangga, atau menjadi penyokong ketika hasilnya tak sesuai yang diinginkan.
Aku seorang guru, jadi pada hari pengumuman itu aku pun sibuk di sekolahku dengan hal serupa. Aku tak bisa menemani Naruto, dan hal serupa terjadi pada keluarga Uchiha. Kedua orangtua Sasuke mungkin sedang ada bisnis di luar kota atau barangkali luar negeri, sementara Itachi, yang terakhir kudengar, sedang ada penelitian di Kyushu. Aku tidak tahu apakah aku harus senang Naruto memiliki teman senasib, karena jika temannya itu Sasuke… aku… ah, aku mulai cemas lagi.
"Huff…" Naruto membuang nafas dalam. Tangannya mengibas-ngibaskan kemeja. Entahlah kenapa alasannya, dia tidak merasa gerah, tapi tangannya yang berkeringat dingin bergerak dengan sendirinya.
"Ayo!"
Sasuke meraih tangannya, menggenggam tangan yang dingin membeku oleh rasa gugup, lalu menariknya mendekati papan keputusan 3 tahun masa depan mereka. Sasuke membuat jalan di antara kerumunan yang semakin sepi, dan menguatkan pegangan tangannya supaya Naruto bisa mengikuti langkahnya dan tak terlepas dari Sasuke, atau itu hanya karena Sasuke ingin memberi dorongan mental bahwa apapun hasilnya, Naruto tak sendirian.
"Ini diurut sesuai ranking tes, ya?" kata salah satu anak di dekat papan pengumuman. Mendengar itu, Naruto mengerang merasa makin gugup. Hatinya langsung berteriak meyakini namanya akan berada di ranking paling bawah. Tak tahan dengan perasaannya sendiri, Naruto mengeratkan genggaman tangannya, membungkus tangan Sasuke dengan kedua tangannya yang dingin. Kepalanya bersembunyi di belakang bahu Sasuke, sementara Sasuke mulai mencari nama mereka berdua di antara sederetan nama yang lolos seleksi.
"Wah… waw, Shikamaru ranking satu. Enak banget, sekali lihat langsung ketemu." Kata Sasuke dengan kata-kata kaget, tapi bernada biasa saja.
"Aku lihat daftar yang gk diterima aja." Celutuk Naruto dan segera bertolak dari papan tersebut. Namun Sasuke menariknya, menahannya tetap berdiri di sana. Naruto tak berkata-kata lagi, matanya terpejam erat. Sasuke merasa tangannya semakin basah. Ketika melirik Naruto, dia mendapati tubuh Naruto mengerut membelakangi papan, bukan cuma mata yang terpejam, Naruto pun menutup sebelah telinganya.
"Naruto,"
"Aku gk lulus kan?"
"Kamu masuk 50 besar."
"Tuh kan… aku emang gk akan bisa lulus. Maafin aku, Sasuke… kita gk bisa bareng."
"Hahaha…"
"Huwaaa…." Naruto merengek, dan benar-benar menitikkan air mata, membuat Sasuke terpingkal. Naruto baru menyadari dirinya lulus setelah Sasuke mencubit pipinya.
"Kamu lulus, Naruto. Selamat ya!"
Tak mempedulikan dimana mereka, siapa yang melihat, atau kabar-kabar miring yang pernah ada, Naruto menghambur memeluk Sasuke. Meskipun sudah tahu lulus, tetap saja Naruto menangis.
"Huwaaa… makasih, Sasukeee…"
Iya, aku pun harus katakan, terimakasih, Sasuke. Berkat kamu, Naruto memiliki keinginan masuk sekolah terfavorit, dan bahkan belajar keras melebihi dari apa yang aku duga. Aku berusaha membesarkan Naruto menjadi anak yang baik, dan kamu banyak membantu. Seterusnya, karena sekarang aku tak bisa sepenuhnya memantau kegiatan Naruto di sekolah, aku meminta bantuanmu, Sasuke. Tolong jaga dia.
Uh… aku sangat tak mengira suatu hari aku berkata begini padamu. Cukup kutulis saja di sini.
.
.
SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING
.
.
"Gimana ini? Kita kesiangaaan…." Naruto merengek di depan gerbang sekolah yang tertutup rapat.
"Kamu sih, susah banget bangunnya." Sasuke melipat kedua tangan di depan dada. Bohong kalau dia bilang tidak sebal karena kesiangan menunggu Naruto.
"Lagian gk masuk akal! Masa jam 6 pagi udah harus di sekolah?!"
"Namanya juga ospek!"
"Huwaa… gimana ini, Sasuke?"
Sasuke menyikut Naruto ketika salah satu anggota OSIS lewat di depan gerbang, menyuruhnya diam.
"Kak!" panggil Sasuke kepada anggota itu. "Kakak!"
Anggota OSIS itu menoleh, dan tak langsung menjawab ketika menatap wajah Sasuke. Begitu sadar, anggota OSIS tersebut menghampiri pintu gerbang dengan langkah-langkah angkuh.
"Begitu ya cara kamu memanggil kakak kelas?"
Sasuke tersenyum kaku, tak yakin harus menjawab apa, karena dia memang lupa aturan sapaan. Jadi dia hanya membaca papan nama anak itu lalu berkata, "halo, Kak Haruno… nama saya Uchiha Sasuke."
"Oooohh… ini ya yang dari keluarga Uchiha itu. Hmph! Baru masuk, sudah bertingkah." anak itu melipat kedua tangan di depan dada, dagunya naik, dan dadanya membusung. Sasuke tak tahu kenapa anggota OSIS ini harus membusungkan dadanya. Padahal tanpa dibusung-busungkan begitu, bentuk dadanya sudah nampak.
Naruto melirik Sasuke. Naruto hampir tak bisa menahan tawa ketika menemukan raut muka Sasuke tersenyum kaku. Naruto sadar betul Sasuke jarang beramah tamah.
"Maaf, Kak…" kata Sasuke. Naruto mengerti maksud dan tujuan Sasuke, tapi dia tak terdengar seperti sedang meminta maaf sama sekali. "Temenku sering kena masalah perut pagi-pagi. Aku nunggu dia karena dia belum hafal jalan ke sekolah. Kak, tolong izinin kami masuk. Ini pertama kalinya kami kesiangan, dan kami cuma kesiangan dua menit. Tolong, ya, Kak?" Sasuke mengeluarkan raut rayuan maut. Kegantengan mutlak, hakiki, absolute, atau apapun lah itu. Pokoknya dia terlalu ganteng untuk ditolak. Sampai-sampai Haruno Sakura menahan nafasnya sejenak.
"Peraturan tetap peraturan," kata Haruno Sakura, kalimat dan nadanya terdengar bertolak belakang.
"Kak, please…"
Aku yakin aku pernah bercerita soal Sasuke ketika dia tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Jika belum, sekarang aku akan katakan dengan cepat dan jelas, dia bukan Cuma akan tumbuh menjadi laki-laki tampan, dan gadis ABG macam Haruno Sakura pasti tidak akan bisa menolaknya, tapi kecerdasan yang dia miliki membuatnya manipulatif. Sakura melirik kiri-kanan, seolah memastikan sesuatu.
"Tapi ada syaratnya." Kata Sakura dengan suara direndahkan. "Beri aku nomer ponselmu."
Naruto terhenyak, tak mempercayai pendengarannya sendiri. Baru masuk sekolah, seorang kakak kelas, berdada oke, berparas cihuy, sudah meminta nomer ponsel?! Astaga! Naruto, kamu harus belajar banyak dari Sasuke.
"Iya, Kak.. boleh." Sasuke membalas enteng, dan Naruto rasa-rasanya ingin menampar pantat Sasuke yang dengan mudahnya memberikan nomer ponsel. Tapi dengan begitu, mereka bisa masuk dan menghadiri serangkaian kegiatan ospek.
"Ini hanya rahasia kita saja, ya!" kata Haruno Sakura setengah berbisik. Sasuke mengangguk mengiyakan. Tak lupa, Sasuke pun memberinya senyuman maut. Sementara Naruto langsung bergegas menuju aula pertemuan.
"Pamer banget," desis Naruto, dan tak pernah menunjukan rasa terimakasih kepada Sasuke ataupun kakak kelas yang membukakan gerbang untuknya itu.
.
.
SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING
.
.
Naruto menyeruput minumannya sambil menonton dengan jengkel Sasuke yang tak melepas ponselnya sedari sebelum mereka tiba di kantin. Matanya terus saja menatap ponsel, dan jarinya bergerak tak henti, sampai makanan Sasuke kehilangan uap panas.
Pasti nge-SMS Kak Haruno, pikir Naruto dalam hati.
"Nge-SMS siapa sih?"
"Aku lagi main game." Kata Sasuke tanpa melepas pandangan dari layar ponsel, dan Naruto merutuk dalam hati, bohong! Bohong! Bohong! Pasti bohong!
"Udah dong… kita kan lagi di kantin."
"Bentar. Tanggung."
Naruto mendesis sebal, lalu beringsut dari kursi.
"Eh!" Sasuke buru-buru menarik kemeja Naruto, kemudian menjeda permainan dan menyimpan ponsel di meja sampai Naruto kembali duduk. Tapi meskipun Sasuke sudah tidak bermain dengan ponselnya, mereka malah tak mengobrol apapun. Sasuke sibuk mengunyah jajanan.
"Sasuke,"
"Hm?"
"Kamu terkenal, ya?"
Sasuke tak menjawab.
"Semenjak ospek, banyak kakak kelas cewek yang kayaknya suka sama kamu. Belum lagi temen-temen seangkatan. Aku masih gk percaya, Kak Har-"
PING!
Ponsel Sasuke berdering. Layarnya menyala menampilkan satu pesan diterima. Dengan sigap, Sasuke meraih ponselnya, melihat nama pengirim pesan tersebut lalu melepasnya kembali untuk menyantap makanan.
"Siapa?" tanya Naruto.
"Sakura."
"Gk dibales?"
Sasuke tak menjawab. Dia nampak sibuk menghabiskan makanan.
"Oh, kalian suka SMS-an, ya?" kata Naruto bernada kasual. Matanya melirik-melirik penuh curiga ponsel Sasuke yang masih menyala. Tuh kan.. tuh kan.. tuh kan… kata Naruto dalam hati.
"Iya."
Naruto menjerit frustasi di dalam hati mendengar jawaban Sasuke.
"Kita jarang SMS-an." Kata Naruto.
"Tiap hari kita ketemu."
Naruto beringsut, dan kali ini benar-benar meninggalkan meja. Sasuke tak sempat menahan Naruto. Dengan gerakan cepat, Sasuke menyuap satu sendok penuh makanan, menelannya bulat-bulat sampai mulutnya penuh dibantu dorongan minuman yang ditinggalkan Naruto. Dia sambar ponsel, lalu bergegas mengejar kemana Naruto pergi.
"Naruto!"
Sasuke menarik bahu Naruto, menyodorkannya layar ponsel yang menunjukan nomer ponsel Haruno Sakura. Dengan sekali sentuhan jari, nomer telepon itu terhapus dari ponsel.
"Ha?" Naruto merengut. Keningnya saling bertaut.
"Aku gk akan SMS dia lagi." Kata Sasuke menjelaskan.
"Kenapa?"
Sasuke mengangkat kedua bahu, lalu menjejalkan ponselnya ke saku.
"Kamu gk perlu hapus nomernya."
"Kamu gk suka kan aku SMS dia?"
Naruto terdiam. Ketika dia membuka mulut lagi, yang dibicarakannya malah hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan Haruno Sakura. Tangannya bergerak-gerak ketika bercerita dengan semangat. Suaranya lantang sampai beberapa murid menoleh ke arah mereka. Ada perasaan lega dan gembira. Meskipun menghapus nomer Sakura itu bukan hal yang perlu dilakukan, tapi melihat Sasuke melakukan itu dan menunjukannya di depan mata Naruto telah memberinya perasaan ringan.
.
.
SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING
.
.
"Hari ini mau main ke rumahku tidak? Tante bikin pai apel kemarin." Kata Naruto sembari bermain-main dengan es batu di dalam gelas minumannya.
"Nggk." Kata Shikamaru singkat tanpa melepas pandangan dari ponsel.
"Aku heran. Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang lengket dengan ponsel. Apa menariknya sih ponsel?"
"Kalau aku sih, mungkin karena baru diberi ponsel sekarang."
"Kalau Sasuke? Sejak SMP, dia sudah punya ponsel, dan selalu ponsel yang paling bagus. Kapanpun, dia sering sibuk dengan ponsel."
"Dia suka main game, kan?"
"Bukan. Dia suka nge-SMS."
"Kalau tahu alasannya, kenapa bertanya?"
"Aku heran saja. Dia bilang, dia gk suka SMS aku gara-gara kami sering bertemu di sekolah. Padahal, orang yang sering dia kirimi SMS juga masih sekolah di sini."
"Itu sih karena dia suka sama orang itu."
"Tahu darimana?" Naruto menyahut cepat. Sorot matanya berubah sinis ketika Shikamaru berpendapat. Soalnya, meskipun Shikamaru itu cerdas, kali ini Naruto merasa Shikamaru itu terlalu sok tahu. Bagaimana bisa Shikamaru menilai seseorang menyukai seseorang lain hanya karena mereka saling bertukar SMS? Ini pendapat lemah karena buktinya lemah juga.
"Aku juga begitu. Kalau bukan karena orang yang aku suka, aku gk akan lama-lama main ponsel."
"EH?! SIAPA?" Naruto terhentak menggebrak meja. Lehernya menjulur-julur berusaha mencari tahu isi layar ponsel Shikamaru. "Siapa? Siapa orang yang kamu suka? Kenapa aku baru tahu? Aku kira kamu sibuk main game."
Shikamaru menutup layar ponselnya. Sambil menatap mata Naruto, dia berkata, "ra-ha-si-a."
"Jadi kamu bermain rahasia sekarang?"
"Kita selalu bermain rahasia dari dulu."
"Apa? Apa yang aku rahasiakan? Nilai ujianku? Nilai rapotku? Jumlah uang didompetku? Sifat-sifat buruk Tante? Apa?"
"Orang yang menciummu waktu SMP."
TAK!
Terdengar seperti ada tamparan di dada yang menohok ulu hati. Naruto tak mengira Shikamaru masih mengingat soal itu.
"Oh, yasudah… kita main rahasia-rahasiaan saja." Kata Naruto mengakui kekalahan mutlaknya, kembali duduk tenang dan dingin.
"Aku tidak akan memaksa kalau kamu gk mau bercerita." Kata Shikamaru.
Obrolan mereka terpenggal oleh nada dering ponsel Naruto. Tak menunggu lama, Naruto mengangkat panggilan itu.
"Halo? ….iya, ini Naruto. Ini siapa? ….Oh, Kak Temari. …..iya, Kak. Saya lagi di kantin. …iya, nanti saya ke sana. ….oke, Kak. " Lalu panggilan berakhir. Ketika Naruto hendak melanjutkan obrolannya dengan Shikamaru, Naruto langsung dikejutkan dengan raut Shikamaru yang melotot terbelalak ke arahnya.
"Shi-Shikamaru? Kamu kenapa?" kata Naruto ragu-ragu.
"Barusan… yang nelepon… beneran Temari?"
"Iya."
"Temari kelas 2-3?"
"Iya, kenapa?"
"Kamu manggil nama belakangnya?!"
"Kenapa sih? Barusan, kamu juga panggil nama belakangnya."
"O-oh, ng-nggk kenapa-kenapa." Shikamaru tertawa garing. Alisnya berkerut sedikit dan itu membuatnya terdengar tidak tertawa setulus hati. "Ternyata kamu juga dekat dengan kakak kelas, ya. Sampai-sampai kamu manggil nama belakangnya."
"Tidak seperti itu juga sih."
"Buktinya Kak Temari sampai meneleponmu."
"Aku juga kaget, darimana dia tahu nomerku ya?"
"Wow," Shikamaru menyahut, dan Naruto kebingungan mendengar nadanya, sedikit mengingatkan Naruto dengan reaksi Sasuke di hari pengumuman hasil tes seleksi masuk SMA. Kata dan intonasinya tidak saling berkesinambungan.
"Sejak kapan kamu kenal Kak Temari?" kata Shikamaru.
"Sejak ospek."
"Wah!" Shikamaru menggebrak meja, membuat Naruto terperanjat. Tak biasanya Shikamaru bereaksi begini. "Kamu dekat ya dengan Kak Temari?"
"Soalnya kami satu klub."
"Kamu ikutan basket?!"
"Kan aku udah bilang. Waktu itu aku juga ajak kamu, tapi kamu bilang males."
"O-oh iya?" Shikamaru tertawa garing lagi di akhir, menyadari kebiasaan dirinya sendiri yang tak begitu memperhatikan dunia sekelilingnya. Shikamaru tidak benar-benar ingat Naruto pernah mengajaknya bergabung dengan klub basket. Sekarang, rasa-rasanya ada sedikit penyesalan.
"Sasuke kok belum keluar kelas, ya?" kata Naruto sembari menoleh ke segala arah.
"Udah keluar kok dari tadi."
"Masa?"
"Tadi sih aku lihat dia pergi ke arah teater terbuka sama Kak Haruno."
BRAK!
Naruto berdiri cepat sampai kursinya terdorong mundur. Sebelum sempat Shikamaru bertanya, Naruto sudah melesat meninggalkan kantin. Entah kemana.
"Bisa kan seenggknya basa-basi dulu sebelum pergi?"
.
.
SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING
.
.
Halo!
Terimakasih sudah menulis di kotak review! ^^
Saya baca berulang-ulang, seperti mengulum permen, pelan-pelan dinikmati sampai semuanya meleleh.
Oh, iya.. alasan fiksi ini di rate M karena mengandung konten eksplisit dan kisah (yang diharapkan) berat untuk pembaca dewasa hehe
