WHEN REVENGE BECOME LOVE

Chapter Six

Distrik Mapo-gu

Jaejoong menaruh setangkai bunga mawar putih dikedua makam itu. Dua buah makam yang selalu ia kunjungi setidaknya sebulan sekali. Rasa rindunya selalu terobati hanya dengan menatap batu nisan tersebut.

Jaejoong berjongkok, kemudian tangannya menyapu permukaan batu nisan itu.

"Appa, Umma, apa kabar kalian disana ? Apa kalian bahagia ?" lirihnya.

"Appa, Umma, aku akan menikah. Apakah ini keputusan yang bagus untukku ?"

"Aku tidak tahu Appa, Umma. Aku tidak mencintainya. Aku.."

Airmatanya menetes membasahi batu nisan Umma-nya, kemudian dengan cepat ia menghapus airmatanya.

"Apakah aku bisa mencintainya ? Aku terlalu membencinya. Apakah Appa dan Umma mendengarku ?"

"Bila suatu saat aku mencintainya, apakah dia akan tetap mencintaiku bila mengetahui hal yang selama ini kusimpan seorang diri ?"

Angin berhembus dengan derasnya, menyentuh pipinya dengan lembutnya. Jaejoong kembali memakai kacamata hitamnya dan meninggalkan makam tersebut.

'Appa-ku menyuruhmu untuk menemuinya di kantornya sekarang, Jaejoongie.'

'Ne.'

Jaejoong mengirim balasan dari pesan masuk tersebut.

'Hati-hati dalam menyetir. Kenapa tidak datang ke kantor ?'

Sebuah pesan masuk lagi keponselnya, Jaejoong hanya melihat sekilas lalu melemparkan ponselnya ke kursi penumpang disebelahnya.

.

.

.

Nissan's Group Distrik Gangnam-gu

"Maaf apabila saya telat Tuan Jung."

"Tidak apa-apa, silahkan duduk."

"Ada keperluan apa Tuan Jung ?"

"Sebelum aku menjelaskannya, bagaimana kalau memanggilku Appa eoh ?"

"Oh, baik Tu..Appa."

"Nah, lebih baik bukan Jaejoong-ah ? Apa kemarin kamu sudah fitting gaun pengantinmu ?"

"Ne, Appa. Hyunjoong-ssi yang mengantarkan saya. Gaunnya sangat indah. Gomawo."

"Baguslah bila kamu menyukainya. Aku senang kamu tidak menolak pernikahan ini. Andaikan istriku bisa melihat saat-saat bahagia ini."

Jaejoong masih diam mendengarkan dengan seksama ucapan namja tua dihadapannya.

"Jaejoong-ah, belajarlah mencintainya."

"Mak..maksud Appa ?"

"Aku tahu kamu tidak mencintai Yunho karena kesalahan bodohnya, tapi belajarlah mencintainya. Bukankah sebentar lagi dia akan menjadi suamimu eoh ?"

'Ya, pernikahan yang sangat dipaksakan.' Katanya dalam hati.

"Saya akan berusaha."

"Hm, gomawo. Terimakasih telah menemuiku Jaejoong-ah, aku hanya ingin memastikan pernikahan ini akan baik-baik saja."

"Iya, saya permisi dulu Appa."

Pintu coklat itu pun tertutup. Tuan Jung masih menatap pintu tersebut.

'Aku telah menepati janjiku menyatukan anak kita berdua.' Gumamnya.

"Appa ?"

"Hm, ada apa ? Apa yang ada ketinggalan ?"

"Tidak ada, Appa bila aku menikah dengan Yunho, bisakah dia tidak satu kantor denganku ?"

"Alasannya ?"

"Aku tidak mau bila dia mengangguku disaat jam pekerjaan. Aku hanya ingin berkonsentrasi penuh disaat aku bekerja."

"Alasan yang cukup masuk akal, baiklah Appa ikuti kemauanmu, Jaejoong-ah."

"Gomawo Appa."

Jaejoong membungkuk memberi hormat kepada Tuan Jung, lalu benar-benar pergi dari gedung itu.

'Aku benar-benar berterimakasih kepadamu Appa.'

.

.

.

Yoosu's House

"Eonnie ! Silahkan masuk !"

"Ne, Junsu-ah. Tidak usah teriak-teriak eoh."

"Mianhe, hehe. Eonnie tidak kerja ?"

"Hari ini aku sedang santai. Dimana Yoochun ?"

"Dia sedang keluar, aku menyuruhnya membeli gimbap, entah kenapa akhir-akhir ini aku ingin memakannya."

"Oh, kalian berlibur kemana selama Yoochun cuti eoh ?"

"Kami hanya mengunjungi orang tuaku di Busan eonnie. Ah, eonnie mau minum apa ?"

"Apa ada soju atau semacamnya eoh ?"

"Ya eonnie ! Ini masih siang. Akan aku buatkan teh saja !"

Jaejoong hanya mendesah, dia menyalakan televisi sembari menunggu Junsu membuatkannya teh.

"Ini eonnie. Silahkan diminum."

"Gomawo Junsu-ah."

Jaejoong meminum teh yang masih panas itu, meniupnya untuk mengurangi rasa panasnya.

"Junsu-ah, aku ingin menyampaikan sesuatu, mungkin ini terdengar gila tapi ini kenyataannya." Jaejoong menghembuskan nafasnya. "Aku akan menikah dengan Jung Yunho."

"MWO ?!" Junsu tersedak ketika mendengar perkataan Jaejoong, ditepuk-tepuknya dadanya.

"Tidak usah berlebihan Junsu-ah."
"Bukankah eonnie membencinya ?"

"Ne, aku sangat membencinya. Tapi, aku tidak bisa menolak Appa-nya yang datang begitu saja ke apartementku dan meminta restu kedua orang tuaku."

"Lalu bagaimana eonnie ?"

"Aku..aku akan tetap membencinya apapun yang terjadi !"

Junsu merinding ketika melihat wajah Jaejoong yang terlihat seperti ingin membunuh orang itu.

"Hm, terserah eonnie saja."

"Ne, jika bukan karena Appanya saja, aku pasti akan mentah-mentah menolak ajakan menikahnya. Aku sendiri penasaran sampai mana pernikahan ini akan bertahan ?"

"Molla." Jawab Junsu seraya mengangkat kedua pundaknya.

.

.

.

Satu Minggu Kemudian

Yunjae's Wedding

"Hyunjoong-ssi, terimakasih atas bantuanmu."

"Sama-sama Tuan."

"Baiklah, 1 jam lagi pernikahan akan dilaksanakan. Apa bagian keamanan telah bersiap-siap ?" tanya Tuan Jung

"Sudah, Tuan. Sebaiknya anda juga bersiap-siap Tuan."

"Hm."

.

.

.

Bride's room

Jaejoong sedang berada disalah satu kamar hotel. Wajahnya sedang dirias oleh perias ternama. Sentuhan yang begitu natural namun menampilkan kesan glamorous.

"Sempurna. Anda bisa membuka mata anda, Nona."

Doe eyes itu perlahan membuka matanya, terpesona menatap dirinya sendiri. Polesan yang sangat alami. Tangannya memegang pipi putihnya, masih tidak menyadari dirinya.

"Bagaimana Nona ? Anda menyukainya ?"

"I..ini aku ?" tanyanya.

"Iya, Nona. Saya hanya memberikan make up tipis saja, karena wajah anda sudah cantik alami Nona. Anda pasti merawat wajah anda dengan sangat baik." Puji perias tadi.

"Gomawo."

"Baiklah, sebaiknya Nona memakai gaun terlebih dahulu. Karena pernikahan akan dilaksanakan 1 jam lagi."

"Iya."

"Mari Nona, saya akan membantu anda."

Sekali lagi Jaejoong merasa terpesona, mengagumi gaun pengantin itu. Terasa berbeda disaat dia fitting gaun tersebut. Gaun berwarna putih yang menampilkan bahunya, dan dengan perpotongan panjang hingga menyeret ke lantai ditambah dengan perpaduan kristal yang melekat indah digaun tersebut.

"Oh, Nona anda sangat cantik sekali."

Jaejoong tersipu malu, berkali-kali perias itu memujinya. Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.

"Ah, sudah waktunya." Gumamnya.

Perias tadi membuka pintu tersebut, dan masuklah sang Appa. Perias itu keluar meninggalkan Jaejoong dengan Appa angkatnya itu.

"Kamu cantik sekali Jaejoong-ah."

"Gomawo Appa."

"Apa sudah siap ?"

Jaejoong menghembuskan nafasnya. Pertanyaan mudah dari sang Appa tapi menuntut jawaban yang pasti darinya. Apa dia sudah siap ? Sejujurnya Jaejoong ingin menjawab tidak siap. Semuanya berlalu begitu cepat.

"Jaejoong-ah, besok hari pernikahanmu nak."

"Mwo ? Kenapa secepat itu Umma ?"

"Entahlah, Tuan Jung yang mempersiapkan ini semua. Umma dan Appa hanya bisa mengikuti kehendaknya."

"Tapi…aku…"

Tubuh Jaejoong berada didekapan sang Umma, merasakan hangatnya pelukan Umma angkatnya itu.

"Umma tahu,nak. Umma tahu kamu belum siap."

"Umma." Lirih Jaejoong

"Belajarlah mencintainya, dia namja yang baik."

Lagi-lagi perkataan itu, belajar mencintainya, Yunho. Tidak semudah itu.

"Apa aku bisa menolak bila aku bilang belum siap, Appa ?"

"Hm, ayo kita harus ke altar. Semua sudah menunggu putri Appa yang cantik ini. Ingatlah Appa dan Umma sangat menyayangimu."

.

.

.

Pintu ballroom hotel tersebut terbuka, Jaejoong berjalan digandeng oleh Appa-nya, semua mata para tamu undangan mengarah kepadanya, termasuk Jung Yunho yang telah berdiri di altar.

Yunho terpukau menatap calon pengantinnya yang menurutnya sangat cantik. Hingga tangannya terulur untuk menyambut tangan Jaejoong yang dilepaskan oleh Appa-nya.

"Aku titip Jaejoong kepadamu, jaga dia dengan baik." Kata Appa Shim.

"Ne."

.

.

.

"Jung Yunho, maukah saudara menerima wanita ini sebagai istri yang dijodohkan oleh Tuhan dalam pernikahan ini ? Maukah saudara mengasihi dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia baik pada waktu sakit maupun dia sakit maupun pada waktu dia sehat, serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudara berdua hidup didunia ini ?"

"Ya, saya bersedia !" jawab Yunho dengan tegas.

Beberapa pasang mata mulai menitikkan airmata, termasuk Tuan Jung dan kedua orang tua angkat Jaejoong. Terlihat pasangan Yoosu yang saling menggenggam tangan untuk mendengar kelanjutannya, berbeda dengan Shim Changmin yang memilih tidak melihat upacara pernikahan ini, karena dia tidak ingin melihat noona kesayangannya dimiliki oleh orang lain.

"Kim Jaejoong, maukah saudara menerima wanita ini sebagai istri yang dijodohkan oleh Tuhan dalam pernikahan ini ? Maukah saudara mengasihi dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia baik pada waktu sakit maupun dia sakit maupun pada waktu dia sehat, serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudara berdua hidup didunia ini ?"

Jaejoong belum memberikan jawabannya, jantungnya berdegup dengan kencang, apalagi semua yang hadir di ballroom hotel ini menatapnya dengan pandangan menuntut jawaban darinya. Jaejoong menundukkan kepalanya, tidak mampu melihat tatapan Yunho yang cemas.

"Kim Jaejoong ? Apa jawaban anda ?" Tanya sang pendeta lagi.

'Kumohon eonnie.' Batin Junsu yang semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Yoochun.

Tentu saja orang tua angkatnya terlihat panik, lantaran Jaejoong belum juga memberikan jawabannya. Tapi tidak dengan Tuan Jung yang masih terlihat tenang.

"Saya…bersedia."

"Oh Tuhan ! Terimakasih !" reflek Junsu berdiri sambil bertepuk tangan, diikuti oleh tamu undangan yang hadir, akhirnya yeoja cantik itu memberikan jawabannya.

Sebuah kotak cincin terbuka, dua buah cincin pernikahan telah berada dijari mereka berdua, cincin yang akan mengikat hidup mereka berdua.

Tanpa aba-aba, Yunho menarik Jaejoong dan menciumnya, melumat cherry lips kesukaannya, menarik tengkuk leher Jaejoong memperdalam ciumannya. Melupakan para tamu undangan yang menatap mereka. Hingga Jaejoong mendorongnya, melepaskan ciuman tersebut, mengusap bibirnya dengan sarung tangan yang dipakainya. Mengundang tawa seorang Jung Yunho.

"Saranghae, Kim Jaejoong."

.

.

.

Resepsi pernikahan pun berlangsung, para tamu undangan segera berjalan menuju hidangan yang dihidangkan, termasuk Changmin yang sudah mencicipi segala jenis makanan.

Jaejoong memilih duduk disalah satu meja, tangannya memegang wine, sesekali meminumnya, merasakan manisnya wine yang masuk ketenggorokannya.

"Jaejoongie, apa ingin makan sesuatu ?"

"Tidak, terimakasih."

"Baiklah, aku mau mengambil makanan dulu."

Yunho berjalan menuju hidangan yang beraneka ragam. Tidak sengaja ia menabrak bahu seorang yeoja.

"Mianhe."

"Tidak apa-apa, oppa."

Yunho merasa akrab dengan suara itu, Kwon Yuri.

"Yuri-ah, terimakasih sudah datang."

"Ne oppa, aku hanya kaget saja ternyata selama ini aku bekerja bersama anak Tuan Jung."

Yunho tertawa geli mendengar penuturan yeoja polos itu.

"Mau menemaniku makan Yuri-ah ?"

"Tapi, bagaimana dengan nona Jaejoong ? Apa tidak apa-apa oppa ?"

"Tenang saja."

Mereka berdua pun duduk disalah satu meja. Sesekali Yunho tertawa mendengar penuturan gadis polos tersebut, melupakan seseorang yang tengah menikmati wine-nya.

"Eonnie, selamat."

"Gomawo Suie."

"Dimana Yunho, eonnie ?"

"Disana." Jaejoong mengarahkan jari telunjukknya ke tempat Yunho dan Yuri duduk, diikuti oleh sepasang mata Junsu.

"Siapa yang bersamanya eonnie ?"

"Kwon Yuri, seorang sales di Nissan."

"Oh, apa eonnie tidak cemburu eoh ?"

"Cemburu ? Untuk apa ?"

"Eonnie, hati-hati. Bila eoonie terlalu membencinya, aku khawatir eonnie akan mencintainya."

Jaejoong meminum wine-nya dalam sekali teguk, ditaruhnya gelas tersebut agak kasar sehingga menimbulkan bunyi benturan.

"Tidak akan pernah terjadi !"

Junsu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja, percuma saja dia berbicara bila Jaejoong tetap keras kepala. Ia hanya takut Jaejoong termakan perangkapnya sendiri.

Resepsi pernikahan pun berjalan dengan sukses, para tamu undangan sudah pulang termasuk Tuan Jung dan kedua orang tua angkat Jaejoong.

Tinggallah Yunho dan Jaejoong, mereka memasuki sebuah mobil yang dihiasi oleh balon-balon dan tepat dikaca belakang mobil bertuliskan 'Just Married'. Tujuan mereka tentu saja apartement Yunho yang akan menjadi apartement mereka berdua. Awalnya Jaejoong menolak, ia ingin tetap tinggal di apartementnya, tapi apa daya bila ia dipaksa kedua orang tuanya untuk mengikuti kemauan Yunho.

.

.

.

Yunjae's Apartement

Disinilah mereka berdua berada, Jung Yunho dan Kim Jaejoong. Di apartement pribadi milik Yunho. Hari terlihat sudah sangat gelap menandakan bahwa sudah larut malam.

Yunho terlihat sedang mandi di kamar mandi yang berada di kamar utama, terbesit suatu ide gila diotak Jaejoong. Dengan langkah pelan, Jaejoong masuk ke kamar mandi yang ternyata pintunya tidak dikunci oleh Yunho. Terlihat Yunho berada dibawa guyuran shower, tidak menyadari kehadiran Jaejoong yang memeluknya dari belakag dengan tubuh telanjang.

Yunho reflek membalikkan badannya.

"Jae…joongie ?"

Jaejoong menatap Yunho, masih memeluk Yunho. Dia bernapas lebih keras dari biasanya. Yunho menutup matanya merasakan sensasi ini, tubuh mereka berdua bertemu.

"Jaejoongie." Bisik Yunho.

Satu lengan Yunho memeluk Jaejoong, menggenggam tubuh Jaejoong dipelukannya, bersamaan dengan guyuran shower yang tidak berhenti. Ibu jari Yunho menyapu lembut permukaan bibir Jaejoong. Menarik dagunya, hingga bibir mereka bertemu. Jaejoong menutup matanya, merasakan kelembutan bibir Yunho menyapu permukaan bibirnya.

"Aah.."

Jaejoong mendesah seketika, memberi celah bagi lidah Yunho memasuki mulutnya, menjelajahi mulutnya. Jaejoong mencoba membalas, membelai lidah Yunho mengikuti tarian lidah Yunho.

"Kamu sangat manis, Jaejoongie."

Jaejoong membuang muka dikala Yunho menggodanya, ini sudah cukup baginya. Dia tidak ingin melanjutkan lagi keisengannya, namun dia melihat kejantanan Yunho yang menegang, hanya karena ciuman ?

Jaejoong menyeringai dan membisikkan sesuatu kepada Yunho.

"I wanna take a ride on your disco stick."

Yunho merapatkan kembali tubuh mereka, meremas dengan kuat payudara Jaejoong, sehingga Jaejoong mengerang. Jaejoong melepaskan ciumannya, dia berlutut dihadapan Yunho tepat didepan kejantanan Yunho. Sedikit bergidik melihat ukurannya.

Jaejoong sekilas menatap Yunho yang membalas dengan tatapan sayunya. Jaejoong menggenggam kejantanan Yunho dengan tangannya, meremasnya erat,

"Ah…Jaejoongie…"

Yunho mengerang dan menegang, napasnya mendesis melalui giginya yang terkatup.

Jaejoong memasukkan kejantanan Yunho kemulutnya dan mengisapnya dengan kuat.

"Unghh…Jae.."

Yunho memegang kepala Jaejoong dengan lembut dan Jaejoong mendorongnya lebih dalam kemulutnya, mengatupkan bibirnya seketat mungkin, menyelubunginya dengan giginya dan mengisapnya dengan kuat.

Yunho kembali mendesis.

'Dia sudah bergairah rupanya.'

Jaejoong menyeringai seketika, kembali lidahnya berputar-putar diujung kejantanan Yunho.

"Ah…sudah cukup Jaejoongie, aku sudah tidak tahan lagi."

Yunho mencengkeram bahu Jaejoong yang masih bermain-main pada miliknya.

"Jaejoongie, sudah cukup."

Jaejoong berdiri akibat tarikan paksa dari Yunho, Jaejoong mengerti akan maksud Yunho. Tapi tidak semudah itu.

"Aku tidak mau melakukannya dikamar mandi, aku akan menunggumu dikamar."

Jaejoong berjalan keluar dari kamar mandi masih dengan tubuh telanjangnya.

Yunho dengan cepat mematikan shower tersebut, dan mengikuti Jaejoong yang lebih dulu keluar. Ketika ia membuka pintu kamar mandi itu, ia tidak menemukan Jaejoong dimana-mana.

"Yunho-ah, aku berubah pikiran. Selamat tidur."

Yunho melempar ponselnya kelantai, mengakibatkan ponsel tersebut hancur berkeping-keping.

"KIM JAEEJOOONGGGG !"

Yunho berteriak begitu nyaringnya, mengeluarkan kata-kata umpatan. Jaejoong yang telah sembunyi di kamar sebelah tertawa penuh kemenangan.

Yunho yang nafsunya telah berada dipuncak, akhirnya harus menyelesaikan seorang diri. Merutuki kebodohan dirinya yang tidak cepat mengikuti langkah kaki Jaejoong.

"Hahaha…rasakan !" Jaejoong masih tertawa puas, lalu ia mengunci pintu kamar itu dan berbaring diranjang tersebut.

"Selamat tidur Yunho-ah." Gumamnya.

Suatu langkah ekstrim yang diambil Kim Jaejoong untuk seorang Jung Yunho.

To be continued

Give me some review ~

Balikpapan, 07 Juni 2013

ZE.