"Apa kau yakin Minato ?."

"Ya … Saya hanya ingin menuruti permintaannya semenjak lama."

.

Another Destiny : ZERO

Disclaim : M. Kishimoto

Warning : Typo, OOC, Alur Kecepetan + berantakan, Banyak kekurangan

Genre : Adventure - Family - Romance (sedikit)

Rate : T (semi M)

Pair : ?

Summary : Bagaimana jika Naruto bukan anak dari Minato dan Kushina. Dan juga warga biasa yang memiliki sedikit chakra. Tapi ramalan menyebutkan dia akan membawa perdamaian untuk dunia Shinobi. Bagaimana kisah perjalanan Naruto untuk mencapai perdamaian tersebut … Check This Out

.

.

.

.


Hari ini dan tepat saat ini tengah di adakan ujian kelulusan di Akademi. Yang mana nantinya para murid yang lulus di ujian tersebut akan resmi menjadi Ninja dan menyandang gelar Genin. Untuk tahun ini ada sedikit perbedaan dengan tahun-tahun sebelumya. Dimana sekarang para orang tua dan juga beberapa warga Konoha menyaksikan ujian yang akan di lakukan. Bahkan Yondaime sendiri menyempatkan waktunya untuk melihat bakat dari para calon Ninja di desanya.

Telihat para murid yang berbaris di lapangan, tempat di adakan ujian tersebut. Mereka memasang berbagai macam expresi di wajahnya. Beberapa ada yang tegang dan juga gugup tidak menyangka akan di saksikan orang banyak termasuk orang tuanya sendiri. Ada yang tengah asik mengobrol dan bercanda, ada yang tenang juga memasang wajah datar.

"Baiklah anak-anak … Kita akan mulai ujiannya. Pertama kalian akan melemparkan Kunai dan Shuriken. Kemudian melakukan Henge, Kawarimi, dan Bunshin. Terakhir mengeluarkan Ninjutsu yang kalian kuasai." Ujar Iruka yang berada di depan para murid. "Yang pertama … Uchiha Sasuke.".

Sasuke melangkahkan kakinya maju. Mengambil Kunai yang di sediakan dan memasang kuda-kuda. Melemparakan Kunai tersebut secara bergantian. Kesepuluh Kunai tersebut tepat mengenai sasaran. Begitu pula Shuriken yang ia lempar berikutnya.

Sasuke merapal segel dan melakukan Henge, juga Kawarimi dan Bunshin. Selanjutnya ia merapal segel kembali.

Katon : Gōkakyuu no Jutsu

Sasuke mengeluarkan Ninjutsu andalan klannya, yakni bola api besar yang keluar dari mulutnya.

"Kyaaa … Sasuke-kun hebat." Teriak beberapa fansgirl dari Sasuke.

"Uchiha memang hebat." Beberapa waraga juga mengagumi kemampuan Sasuke.

Sasuke sendiri tidak memperdulikannya dan melangkah menuju tempatnya semula.

(Lainnya seperti di Canon.)

"Namikaze Naruko."

Naruko yang mendengar namanya dipanggil, melangkah maju. "Ganbatte Ruko -chan." Dia mendengar teriakan ibunya yang berada di sisi lapangan bersama ibu Naruto. Tersenyum menanggapi dan mengambil Kunai yang di sediakan. Melemparkannya dan mendapat hasil 8 menancap tepat sasaran. Satu hampir, dan satunya meleset. Begitu pula dengan Shuriken, 9 tepat sasaran dan satu meleset. Dia melakukan Henge, Kawarimi, dan Kage Bunshin yang membuat beberapa pasang mata terkejut.

Kemudian Naruko menangkat tangan kanannya dan menciptakan bola spiral berwarna biru. Berlari dan melompatkan tubuhnya. "Rasengan …" teriak dia dan menghantamkan jutsunya ke tanah.

Duuaaar …

Terjadi ledakan sedikit besar di tempat tersebut. Setelah asap tanah menghilang, terlihat kawah tercipta di tempat Naruko melancarkan jutsunya.

"Wahh … Sugoi." Naruko hanya tersenyum bangga mendengar pujian dari beberapa orang. Dia berjalan kembali ke tempatnya.

"Anak Hokage-sama memang hebat." "Seperti yang di harapkan dari anak Hokage."

Naruko berganti menundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan yang entah dari siapa. Kecewa … Tentu saja. Buat apa dia latihan susah payah jika semuanya hanya akan mengarah kepada orang tuanya.

Naruto yang juga mendengarnya mengarahkan pandangannya kearah Naruko. Melihat sang imotou tersebut menundukkan kepala. Dia tersenyum penuh arti. Hidup dibawah bayang-bayang orang tua tidaklah mudah. Dia mengerti yang tengah di rasakan orang yang ia anggap adik tersebut.

Naruto sudah dekat, bahkan sangat dekat dengan Naruko semenjak ia masuk Akademi. Mengingat sifat Naruko yang supel juga ceria, Naruko sering mengganggunya. Dan tentu saja masih memanggilnya "Nee-chan." Yang padahal sudah dengan jelas bahwa ia laki-laki. Dan karena sudah terbiasa entah kenapa Naruto juga memanggil Naruko dengan sebutan Imotou. Dia merasakan hal yang sama dengan waktunya bersama Nii-sannya dulu.

Naruto berjalan mendekati Naruko, dia menarik salah satu ikatan twintails rambut adiknya. "Kau terlihat jelek Imotou."

Naruko yang tadinya menunduk, seketika mendongakkan kepalanya setelah merasakan tarikan di rambutnya. Bahkan karena mungkin tidak siap dia hampir terhuyung kebelakang. Dia membalikkan badannya menatap orang yang melakukan hal tersebut. Dengan alis yang berkedut kesal "Nee-chan … Kenapa kau suka menarik rambutku hah ?." Teriak dia mengetahui orang tersebut. " … Aku heran kenapa Rika Oba-san tidak pernah marah kau melakukan hal itu kepadanya." Bersedekap dan menggembungkan pipinya kesal. Yang terlihat sangat imut di mata orang.

"Karena dia wanita yang berbeda tentu saja."

Naruko masih menggembungkan pipinya kesal, tapi tidak bisa di pungkiri jika kondisi hatinya sudah membaik. Yaa … hanya lelaki di depannya ini yang bisa membuatnya seperti ini. Lelaki yang lembut juga menyenangkan, yang tidak akan bisa di temukan di manapun lagi. Setidaknya masih ada orang yang benar-benar mengakuinya, pikir dia melihat Naruto. "Orang tuaku memanglah pahlawan … tapi aku akan menjadi pahlawan dengan kekuatanku sendiri. Dan itulah jalan ninjaku." Tekad dia pantang menyerah. "Terima kasih." Ujar dia merubah ekspresi wajahnya.

"Aku tidak memujimu bodoh." Naruto mendorong dahi adiknya pelan dengan jarinya. Dan berjalan maju mendengar namanya di panggil.

Naruko naik pitam sekali lagi dengan perbuatan kakaknya tersebut. Ingin teriak dan menghajarnya tapi ia urungkan mendengar nama kakaknya di panggil. "Ganbatte Nee-chan." Seru dia menyemangati.

"Ahh … Manisnya mereka." Di tempat Kushina, dia melihat putrinya dan Naruto dengan tatapan berbinar. "Ne, apa kita jodohkan saja mereka Rika-chan." Ujar dia sedikit menggoda kapada sahabatnya yang berada di sampingnya.

"Mereka masih kecil Kushi-chan." Rika menanggapi yang entah kenapa malah membuat sahabatnya semakin menyeringai.

"Aahh … Apa kau tidak rela Rika-chan." Kushina semakin menggoda sahabatnya ketika mendapatkan reaksi seperti yang ia kira.

Rika sendiri hanya menghela nafasnya sabar. Tidak memperdulika sahabatnya yang suka menggodanya tersebut. Memandang putranya yang akan memulai ujiannya. Kushina hanya memasang wajah sebal sahabatnya tersebut mengacuhkannya.

Di tempat Naruto, dia tengah bersiap melemparkan kesepuluh Kunai yang berada di sela-sela jarinya. Melemparkan Kunai tersebut serempak dan semuanya menancap tepat sasaran. Dan juga melakukan gaya yang sama ketika melempar Shuriken. Yang membuat beberapa pasang mata terkagum dengan cara melempar Naruto.

Kemudian Naruto melakukan Henge dan Kawarimi. Dan merapal segel kembali untuk membuat Bunshin.

"S-segel itu … " Iruka yang berada di dekatnya terkejut melihat segel yang dibuat Naruto. Dia bukan terkejut jika Naruto bisa menguasainya. Tapi terkejut karena Naruto akan menggunakannya secara terang-terangan.

Muncul satu Bunshin di samping Naruto, dan kemudian Bunshin tersebut berlari ke tengah lapangan. Setelah lumayan jauh, Bunshin tersebut berhenti dan menghadap kearah Naruto. Naruto melemparkan Kunai kearah Bunshinnya.

Duuuarr …

Bunshin tersebut meledak setelah Kunai tersebut mengenainya. Semua orang terkejut melihat Bunshin tersebut meledak. Tidak terkecuali beberapa Ninja yang mengetahiu jika Bunshin tersebut adalah Bunshin Daibakuha. Tidak menyangka jika seorang anak yang akan menjadi Genin menguasai Jutsu Rank-A tersebut.

Minato dan Sandaime sendiri juga terkejut. Bukan … mereka bukan terkejut akn Jutsu yang di buat Naruto. Dia tentu tahu jika Naruto bisa lebih dari itu. Tapi … mereka terkejut dengan chakra yang dimiliki Naruto. Ini adalah pertama kalinya Naruto mengeluarkan chakranya di hadapan mereka. "Chakranya sangat aneh. Meski memang sedikit, entah kenapa chakra Naruto memang aneh dan juga sangat asing." Batin Minato merasakan chakra Naruto.

Naruto sendiri kini nafasnya terengah-engah. Chakranya hampir terkuras habis setelah melakukan Jutsu tersebut. Memang jutsu tersebut tidak apa-apanya bagi seorang Uchiha Itachi, yang katanya bisa memasteri jutsu tersebut. Tapi itu akan berbeda dengan dirinya, dan ditinjau dengan chakra yang di milikinya. Dia sebenarnya tidak suka melakukan hal seperti ini, tapi ia punya alasan yang cukup kuat untuk melakukannya.

Naruto mengambil nafas perlahan, menenangkan dirinya. Memejamkan matanya dan melakukan segel untuk mengeluarkan Ninjutsu. "Katon : Onidōrou" Dia membatin.

Perlahan di sekitar lapangan tersebut muncul bola-bola kecil berwarna orange dari dalam tanah. Naruto memfokuskan dirinya dan bola tersebut diselimuti api biru yang kemudian berubah menjadi orange juga. Bola-bola tersebut berterbangan di tempat tersebut. Menciptakan euforia yang berbeda. Kesejukan dan kehangatan di waktu yang sama.

Terjadi keheningan di tempat tersebut. Bukan … bukan keheningan karena terkejut dengan jutsu yang di keluarkan Naruto. Tapi kerena merasakan kehangatan yang begitu lembut. Bahkan untuk seorang Uchiha Sasuke juga. Sejenak ia melupakan kegelapan di hatinya, sejenak ia melupakan kebenciannya pada sang kakak. Mata yang biasanya penuh akan kebencian kini terganti menjadi lembut, memandang bola orange yang mengambang di atas tangannya. Ia mengangkat kepalanya, melihat Naruto yang merentangkan tangannya. "Kenapa … " batin dia miris.

Rika yang berada di tempatnya juga tidak jauh berbeda. Dia mengangkat salah satu tangannya, perlahan salah satu bola tersebut mendekatinya dan mengambang di atas tangannya. "Naruto … " batin dia dengan tatapan yang sulit diartikan kearah putranya.

Naruto sendiri memanfaatkan keheningan tersebut untuk mengisi chakranya kembali. Jutsu tersebut tidak memakan banyak chakra jika masih di tahap ini. Beda lagi jika sudah mencapai wujud hantu yang di pergunakan untuk menyerang. Jutsu yang bisa menjadi malikat juga iblis tergantung suasana hati. Membuka matanya perlahan dan menurunkan kedua tangannya. Bola-bola tersebut perlahan menghilang. Dan Naruto kembali ke tempatnya. "Kau semakin jelek Imotou." Dia mendorong dahi Naruko yang juga mendongakkan kepalanya seperti lainnya.

"Nee-chan … " Teriak Naruko yang hampir terjungkal. Sontak saja semua orang tersadar setelah mendengar teriakan darinya.

Iruka yang juga tersadar menghadapkan tubuhnya kearah murid-murid. "Baiklah anak-anak … Semuanya sudah menyelesaikan ujian. Dan sekarang kalian boleh pulang. Besok akan diumumkan hasilnya." Dia membubarkan muridnya dan melangkah pergi dari tempat tersebut.

Semua murid membubarkan dirinya, begitu juga dengan warga yang menonton. Para orang tua mendatangi anaknya masing-masing, memberikan selamat atau hanya mengajaknya untuk pulang. Tak jauh berbeda dengan Naruto dan Naruko, "Kau hebat ttebane." Kushina menepuk kepala putrinya bangga. Naruko hanya tersenyum lebar menanggapi.

"Naruto … Apa nama Jutsu yang kau gunakan tadi." Tanya Minato penasaran. Pasalnya dia juga merasakan euforia yang sama dari jutsu tersebut. " … Sepengetahuanku, tidak ada orang maupun scroll yang mengajarkan jutsu tersebut di Konoha." Lanjut dia.

"Itu Katon : Onidōrou Hokage-sama." Naruto menjawab sopan. " … Mungkin memang tidak ada. Saya sendiri diajarkan Shisui-nii. Dia mengatakan mendapatkan jutsu tersebut saat melakukan misi di Kusagakure."

Minato hanya mengangguk mengerti. Memandang putrinya dan menepuk kepalanya. "Baiklah … Aku akn kembali ke kantor dulu." Pamit dia ramah. Kushina dan Naruko hanya mengangguk. Sedangkan Naruto dan ibunya membungkuk hormat menangapi.

"Ne, bagaimana kalau kita merayakannya ?."

"Hasilnya baru akan diketahui besok Kaa-san." Desis Naruko menanggapi usulan ibunya yang tidak masuk akal.

"Siapa tahu jika dirayakan akan berhasil." Kushina menjawab dengan wajah tanpa dosa. Naruko hanya sweetdrop mendengar ucapan ibunya yang semakin absurd.

Rika dan Naruto hanya tertawa kecil melihat interaksi ibu dan anak di depannya ini. "Tidak ada salahnya juga Ruko-chan … Bagaimana denganmu Naru ?."Naruto hanya mengangguk mengiyakan. Tidak ada salahnya juga, pikir dia.

Kushina tersenyum senang, "Bagaimana kalau memasak Ramen di rumahku ?." Naruko yang mendengar kata Ramen wajahnya berubah menjadi antusias. Rika dan Naruto hanya mengangguk menyetujui. Mereka akhirnya berjalan menuju rumah Kushina. Dengan diiringi obrolan yang di dominasi Naruko dan ibunya.

"Untung persediaan bahannya cukup untuk kita berempat." Kushina mengambil bahan-bahan membuat ramen dari dalam kulkas. Seprti biasa, mereka berdua (Kushina & Rika) melakukan pekerjaanya yakni memasak. Sedangkan Naruto dan Naruko tengah duduk di kursi makan.

"Nee-chan … ajarkan aku jutsu yang Nee-chan keluarkan tadi." Pinta Naruko kepada Naruto yang duduk berhadapan. Dia tertarik dan ingin bisa menguasai jutsu tersebut.

Naruto hanya mengernyitkan alisnya. Apa Imotounya ini lupa jika ia hanya mempunyai afinitas elemen angin. Tapi tdak lama akhirnya ia menyetujui. "Baiklah … Segel tangannya seperti ini." Naruto mempraktekkan segel tangan yang akan digunakan, Naruko juga mengikutinya. "… Kemudian teriakkan Katon : Onidōrou."

"Katon : Onidōrou." Naruko berteriak mengikuti. Selang bebearapa menit masih tidak terjadi apa-apa.

"Kau semakin bodoh ne, Imotou." Ejek Naruto menahan tawa. Entah kenapa dia suka sekali menggoda adiknya ini. Bersiap berlari jika adiknya akan mengamuk.

Sedangkan Naruko yang mendengarnya alisnya berkedut kesal. Melotot kearah kakaknya yang mempermaikannya. Padahal dia sendiri juga tahu mana bisa dia menguasai jitsu Katon. Dan bisa-bisanya masih termakan permainan kakaknya. Menarik nafas, "Nee-chan …" Teriak dia dan berdiri mengejar kakanya yang berlari. Kushina dan Rika hanya tertawa kecil melihat kebiasaan anaknya tersebut.

Naruto terus berlari dan menaiki tangga. Membuka pintu kamar adiknya setelah sampai di lantai dua. Mungkin karena membuka pintu memakan waktu sedikit, jadi adiknya bisa menggapai ujung bajunya . "Kena kau." Seru Naruko dan menarik baju sendiri badannya oleng, membalikkan badannya dan dia terjungkal kebelakang jatuh ke ranjang Naruko.

Naruko yang memang awalnya berlari tidak bisa menghentikan badannya, apalagi juga tertarik oleh kakaknya tersebut. Ikut jatuh menimpa tubuh kakanya. Wajah mereka berdua sangat dekat, bahkan bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.

Naruto tersenyum jahil melihat wajah adiknya yang memerah. Melingkarkan tangannya di pinggan sang adik. "N-nee-chan … L-lepas … " Naruko tergagap dengan wajah yang semaikin memerah.

"Ne, Imotou … " jantung Naruko berdegup kencang mendengar suara kakanya yang terkesan merayu.

"Kau semakin berat kau tahu … " wajah memerah yang tadi menahan malu kini digantikan dengan menahan amarah mendengar ucapan kakaknya. Bangkit dar posisinya dan mengambil bantal didekatnya. Menghujankan pukulan-pukulan kepada Naruto.

"Kau menyebalkan … Nee-chan menyebalkan."

Naruto sendiri tertawa dan melindungi kepalanya. "Kau mengharapkan aku menidurimu ne, Imotou." Ujar dia di sela-sela amukan sang adik.

"Kyaaaa … Kenapa kau menjadi mesum hah ?." Naruko semakin kuat memukuli kakaknya. " … Akan kuadukan Oba-san." Dia turun dari acara menindihi dan menganiyaya sang kakak. "Dan akan kuhabiskan jatahmu." Dia memleletkan lidahnya setelah sampai di depan pintu.

"Aaaa jangan … " Naruto sontak berdiri dan berlari menyusul adiknya.

Kushina dan Rika yang tengah menyiapkan peralatan makan di meja makan harus menolehkan wajahnya mendengar suara berisik dari arah tangga. Melihat Naruko turun dengan kaki dihentakkan.

"Ba-san … Nee-chan mesum." Rengek Naruko kepada Rika. Dengan semburat merah yang masih tinggal di pipinya.

Rika sendiri hanya mengernyitkan alisnya bingung. Berbeda dengan kushina yang matanya memancarkan binar yang entah apa itu. "Kyaaaa … aku akan punya cucu -ittai …" Kushina meringis mengusap kepalanya yang ternaya dijitak sahabatnya dengan sendok.

"Apa yang kau bicarakan hah ?." Desis Rika tajam menanggapi teriakan sahabatnya yang nyeleneh.

"Jangan makan ramenku Imotou." Seru Naruto dari arah tangga.

"Apa yang kau lakukan pada Ruko-chan Naru ?."

"Ahh … Aku tidak sengaja membuka lemari yang berisi pakaian dalam milik Naruko. Ya … itu."

Naruko mendelik tajam kearah kakanya yang berbicara bohong. Berniat teriak dan mencekik kakanya, tapi ia urungkan setelah melihat kedipan jahil dari kakaknya. Teriakan yang tadi ingin ia keluarkan entah kenapa tercekat dan di gantikan semburat merah yang muncul kembali.

"Hah … Sudahlah. Ayo makan." Rika menghela nafas dan menyuruh putra putri mereka agar duduk. " … Dan Naru-kun, jangan suka menjahili Ruko-chan." Peringat dia kepada putranya.

"Hai' Kaa-san … " Naruto mendudukkan dirinya di salah satu kursi di meja makan.

Naruko hanya bisa menggerutu dan mengucapkan sumpah serapah dalam hati. Melihat sang kakak yang tidak ada raut penyesalan sama sekali. Dia menyesal kenapa dulu memanggil pemuda di depannya ini dengan panggilan Nee-chan. Jika pada akhirnya mendapatkan kakak yang menyebalkan.

Dan tentunya hatimu berkata lain Naruko …

.


Hari ini Naruto tampak berpenampilan beda. Memkai kaos berkerah tinggi dan berlengan panjang, berwarna cream. Dengan strip putih di sisi lengannya. Dan aksen tomoe putih yang melingkari kerahnya. Bercelana hitam selutut, juga sepatu standard Shinobi. Berjalan santai menuju Akedemi.

"Ittai … " Naruto yang mendengar suara ringisan seseorang mencari dari mana asal suara tersebut. Menajamkan matanya setelah menemukan objek yang lumayan jauh darinya. Seorang anak kecil perempuan memakai jacket cream berhoodie, sedang terduduk jatuh. Dia tersenyum, mengenali anak tersebut. berjalan mendekatinya. "Hai … " sapa dia ceria berjongkok di depan gadis itu.

Gadis yang ternyata bernama Hyuga Hinata tersebut mendongakkan kepalanya. Terkejut mendapati Naruto di depannya. "N-naruto-kun … " gumam dia pelan tergagap.

"Apa kau tidak apa-apa … ?." Hinata hanya mengangguk mengepalkan kedua tangannya, menggengam erat ujung jacket yang di pakainya. Berniat menyembunyikan sesuatu.

Naruto yang tentu saja menyadarinya menarik kedua tangan Hinata lembut. Dan membuka kepalan tangan itu, dia melihat luka gores merah dan sedikit mengeluarkan darah di telapak tangan Hinata. Menghela nafasnya "Sejak kapan kau suka menyembunyikan sesuatu dariku hm ?." menatap lembut kearah gadis di depannya. Tangannya mengeluarkan chakra berpendar hijau, pertanda mengobati luka di tangan Hinata.

"Gomen ne Nii-san … " Hinata hanya mengalihkan mukanya kearah lain menanggapi pemuda yang lebih akrab ia sapa Nii-san tersebut. Dia lebih nyaman jika menganggap pemuda di depannya ini sebagai kakak. Meski terkadang harus memanggil namanya secara langsung jika tidak sadar. Tidak bisa dipungkiri jika memang dia mempunyai perasaan tersendiri kepada pemuda ini.

"Ayo … " Naruto membalikkan badannya sesudah mengobati tangan Hinata. Masih dengan menjongkokkan badannya, menandakan jika ia menyuruh sesuatu kepada Hinata. Dia melihatnya, pegelangan kaki kiri Hinata sedikit membengkak. Mungkin terkilir. Dan tentu saja akan sulit untuk berjalan.

Hinata sedikit tersentak menyadari maksud dari Naruto. "Ahh … Aku tidak apa-apa Nii-san." Dia langsung mendirikan tubuhnya cepat. Mungkin karena terkejut. "Aahh … " Dia terhuyung kedepan merasakan kaki kirinya sakit saat menyangga tubuhnya. Tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan otomatis jatuh menimpa punggung Naruto.

Naruto hanya menghela nafasnya sekali lagi. Menyelipkan kedua tangannya di lipatan lutut Hinata yang terjatuh di punggungnya. Mendirikan tubuhnya juga mengangkat Hinata menggendongnya. "Tentunya bukan Hinata jika tidak keras kepala." Dia melanjutkan perjalanan.

Hinata hanya tergeming, percuma juga membantah jika memang ia membutuhkannya. Dia memegang kedua pundak Naruto, tidak berani lebih dekat lagi. Memandang dalam pemuda yang tengah menggendongnya kini.

Flashback On

Naruto berjalan santai menuju tempat favoritnya. Mungkin ia tidak pulang terlebih dahulu, kerena mungkin hanya sebentar. Dia sedikit melirikkan matanya, merasakan sesorang yang sedang mengikutinya. Dia mengenali ckhara orang itu. Naruto hanya tersenyum melanjutkan perjalanannya.

Setelah sampai Naruto melepaskan ransel di punggungnya dan langsung merebahkan tubuhnya. Memejamkan matanya, menunggu seseorang yang mengikutinya tadi datang kepadanya.

Hinata sendiri yang ternyata mengikuti Naruto sedari tadi memberanikan dirinya untuk mendatangi sang pemuda. Sedikit ragu untuk membuka suara, karena melihat Naruto yang terpejam. "A-ano … Konnichiwa Naruto-kun." Dia memberanikan diri.

Naruto membuka matanya. Pura-pura terkejut dan bangkit duduk menghadap kearah Hinata. "Aahh … Kamu-"

"Watashi wa Hinata desu." Hnata menyela perkataan Naruto.

Naruto yang memang mengetahinya hanya tersenyum. "Kamu anak Hiashi-sama kan ?." Dia mengkonfirmasi.

"Hai' … A-ano maaf saat kau sadar aku tidak bisa datang." Hinata membungkuk meminta maaf. Dia tidak bisa ikut ayahnya menjenguk saat Naruto sudah sadar dari komanya. Mengingat dia sudah masuk Akademi, dan juga waktu yang diambil ayahnya adalah siang hari. Jadi dia tidak bisa ikut.

"Tidak apa-apa, Hiashi-sama sudah menjelaskannya waktu itu." Naruto tersenyum ramah.

"Terima kasih sudah menyelamatkanku waktu itu." Hinata membungkukkan badannya sekali lagi. Sebenarnya ia sudah ingin melakukan ini sehari setelah Naruto masuk Akademi. Tapi setipa dia mengikuti Naruto, Naruto selalu menghilang bak hantu. Hanya hari ini, dia bisa mengikuti Naruto sampai ke tempat ini. (Minato memerintahkan Anbu menggantikan Naruto di Akademi saat naruto sedang misi.)

Naruto hanya tersenyum ramah menanggapi. "Tidak keberatan menemaniku ?." Dia membalikkan badannya memandang matahari.

Hinata tidak menjawab, juga tidak menolak. Mendudukkan dirinya di samping Naruto. Melakukan hal yang sama.

"Kenapa kau tidak pernah bebicara ketika di Akademi ?." Tanya Naruto memecah keheningan. Dia selalu melihat gadis di sampingnya ini hanya terdiam saat di Akademi. Dan selalu tergagap ketika bebicara dengan orang lain, bahkan temannya sendiri.

"Itu memang sifatku." Hinata menjawab lembut, masih memandang langit orange. Tidak sadar jika kebiasaan bicaranya yang gagap sudah hilang.

"Tapi kau menginginkannya kan ?."

Hinata menolehkan kepalnya memandang Naruto. Entah kenapa dia merasakan kehangatan yang menenangkan dari pemuda di sampingnya kini. Dia merasa, dilindungi. "Aku tidak mempunyai keberanian untuk itu." Dia menjawab dan mengembalikan padangannya kearah langit.

"Alasanmu masuk ke Akademi ?." Naruto megintimidasi. Tidak mengalihkan pandangannya.

"Aku ingin menjadi kuat membuat Otou-sama bangga."

"Apa kau punya keberanian untuk itu ?."

Hinata sedikit terhenyak dengan pertanyaan Naruto selanjutnya. Benar … dia tidak punya keberanian. Inilah alasan kenapa dia tidak bisa berkembang. Inilah alasan yang membuat ayahnya kecewa. Tapi mau bagaiman lagi, merubah sifat tak semudah membalikkan telapak tangan. Semua orang tahu itu. Dia ingin … ingin seperti anak lainnya yang bisa bercanda lepas juga tertawa. Dia ingin berani melakukan sesuatu.

"Sifat orang memang berbeda-beda. Tergantung bagaimana orang itu menyikapi sifatnya tersebut. jangan jadikan sifatmu sebagai alasan dalam ketidakberanianmu. Kau tak perlu seperti orang lain jika ingin seperti orang tersebut. Cukup menjadi dan percaya pada dirimu sendiri. Semua orang punya kelebihan juga kekurangan. Bersyukurlah dengan kelebihanmu, dan jangan jadikan kekuranganmu sebagai alasan untuk menyerah. Jika kau ingin kuat, kuatlah dengan caramu. Jika kau ingin membanggakan ayahmu, jadilah dirimu sendiri dan tujukkan padanya jika kau bisa … " Naruto menolehkan kepakanya, memandang Hinata yang juga sedang menatapnya dalam. Tersenyum dan mengngkat tangan kirinya. " … Percayalah, kau lebih dari apa yang kau kira. Hinata." Menepuk kepala Hinata.

Hinata tertegun, meresapi perkatan pemuda di hadapnnya. Tidak menyangka jika dirinya melakukan kesalahan fatal. Kesalahan yang membuatnya menyalahkan takdir, yang hampir membuatnya jatuh. Yaa … dia sadar. Tidak perduli seberapa pelan kau berjalan, asal tidak berhenti melangkah maka kau akan smapai pada tujuanmu. Tidak perduli seberapa dalam kau terjatuh, asal masih mau bangkit maka tidak ada hal yang mustahil. Bukan bagaimana cara kau menjalani hidup yang terpenting, tapi apa keputusanmu dalam menjalani hidup. Maka kau akan tahu pasti bagaimana jalan hidup yang terbaik untukmu. Hinata merasakan matanya memanas, kehangatan yang terpancar dari pemuda di hadapannya sungguh sangat membuatnya nyaman. Dia benar-benar mersa dilindungi.

Naruto mendekatkan wajahnya, meniup pelan mata Hinata. Yang sontak membuat Hinata memejamkan matanya dan sedikit mengalihkan wajahnya. "Aku tidak suka melihat wanita menangis kau tahu."

Hinata terkejut, segera saja mengusap kasar kedua matanya. "A-ahh … a-aku kelilipan. Ya kelilipan."

Naruto tertawa kecil melihatnya. "Souka … Aku merasa di bohongi." Dia mengalihkan pandangannya ke asalnya, kearah matahari. Merbahkan tubuhnya sekali lagi.

Hinata menatapnya dalam. "Nii-san … " gumam dia pelan. " … apa boleh aku memanggilmu begitu ?."

Naruto meliriikan matanya kearah Hinata, tersenyum dan bangkit berdiri. "Asal membuatmu berani terhadapku." Dia tersenyum lembut

Hinata tersenyum. Mendirikan tubuhnya juga. "Aku hanya takut jika kau membenciku."

"Kau akan mengetahuinya jika kau mencoba untuk menyerah Hinata."

"Aku tidak akan menyerah, setidaknya jika kau masih bersamaku."

"Aku tidak akan pergi, setidaknya sebelum waktunya."

"Aku berharap waktu itu tidak pernah terjadi."

"Percayalah … "

"Aku percaya padamu … Nii-san"

Flashback Off

Hinata tersenyum penuh arti mengingat kembali kenangan itu. Sejak saat itu pula ia sering mendatangi tempat tersebut, tidak jarang juga membawakan bentou. Hanya di tempat itu ia bisa merasa bebas, dan tentu dengan pemuda yang kini menggendongnya.

"Kyaaa … " Hinata sontak mengalungkan kedua tangannya di leher Naruto, saat merasakan Naruto sedikit menegakkan badannya yang hampir membuatnya terjungkal ke belakang. Mungkin karena melamun.

"Kau bisa jatuh lagi jika berpegangan seperti tadi Hinata."

Hinata terhenyak, wajahnya kini tepat di samping wajah Naruto. Berniat memundurkan kembali tubuhnya-

"Kau tidak mungkin melakukan itu lagi kan, Hinata ?."

-tapi ia urungkan saat suara Naruto mengintrupsinya. Tidak lama sudut bibirnya terangkat, malah sedikit mengeratkan pegangannya di leher Naruto. Hatinya berdesir, yaa … dia mempunyai perasaan khusus pada pemuda ini. Tapi dia sudah merasa amat sangat nyaman jika menganggap Naruto seorang kakak. Kehangatan dan kedewasaan yang di miliki Naruto membuatnya seperti itu. Dia tidak ingin mengambil resiko Naruto akn meninggalkannya jika ia mengungkkapkan perasaannya. Lagi pula hal tersebut belum tentu lebih baik.

Hinata sadar … jika dia sudah melakukan satu ketidakberanian lagi. Tidak berani menghadapi perasaanya. Tapi ia yakin, ini bukan ketidakberanian. Tapi keputusan.

Dia tidak ingin Naruto pergi, tidak ingin 'waktu' itu akan benar-benar terjadi … hanya pemuda ini yang ia punya,

… dalam artian yang berbeda.

.

"Nii-san … turunkan aku." Pinta Hinata saat sudah sampai di Akademi. Terlihat pintu kelasnya yang sudah dekat.

"Kau masih tidak bisa berjalan Hinata." Naruto menanggapi lembut.

"T-tapi … " Naruto menghentikan langkahnya. Menghela nafasnya, dan menurunkan Hinata pelan. Membalikkan badannya dan menuntun Hinata pelan agar bersandar di tembok.

"Nii-san marah ?." Ujar Hinata menatap takut kearah Naruto.

"Tidak … " Naruto tersenyum lebut. Dia membimbing Hinata agar mendudukkan dirinya. Setelah itu menyentuh kaki kiri Hinata. Tidak lama keluar chakra berpendar hijau. "Ini hanya akan meredakan rasa sakitnya sedikit. Ilmu medis tidak bisa menyembuhkan kaki terkilir dalam sekali pengobatan. Hanya waktu dan terapi yang bisa menyembuhkannya."

Setelahnya Naruto memandang wajah Hinata yang kelihatan sendu. "Aku tidak marah me-chan … " dia mengacak pelan rambut Hinata dan berdiri. "Ayo … Kita sudah terlambat." Dia mengulurkan tangannya.

Hinata masih menatap Naruto dalam. Tapi tidak lama ia tersenyum. Menyambut uluran tangan Naruto. Jika pemuda di depannya memanggilnya seperti itu, berarti sang pemuda memang tidak marah.

Naruto membimbing Hinata berdiri. "Jangan memaksakan diri, ne ?." dia melanjutkan jalannya pelan masih memgangi Hinata.

"Hai' Nii-san." Tegas Hinata ceria. Berjalan sedikit tertatih dengan tangan kanan yang berpegangan pada lengan kiri Naruto.

"Oi oi Naruto … Apa yang kau perbuat pada Hinata ?." Sembur Kiba bangkit dari duduknya di bangku.

"Tentunya tidak seperti yang kau pikirkan Kiba." Naruto hanya menanggapinya ramah. Berjalan ke tempat duduknya, tidak lupa menuntun Hinata ke tempatnya terlebih dahulu.

"Ti-tdak apa-apa Kiba-kun … Aku hanya terjatuh tadi." Perjelas Hinata gugup, tidak ingin ada yang salah faham dengan Naruto.

"Apa kau tid-"

"Selamat pagi anak-anak." Kiba tidak sempat melanjutkan pertanyaannya, dikarenakan guru Iruka sudah memasuki kelas.

"Selamat pagi Sensei." Seru para muruid Serempak.

"Hari ini akan aku umumkan siapa saja yang lulus dan tidak lulus dalam ujian tahun ini … " Semua murid memasang expresi was-was menunggu penuturan gurunya.

"Selamat … Kalian semua lulus."

"YEEEAH … " Teriak semua murid senang, terkecuali bebarapa orang.

"Dan untuk Rookie of the year tahun ini adalah … " Semua murid tampak menimang-nimang siapa orang tesebut.

" … Yoshiaki Naruto." Di dalam kelas tampak hening, tidak tahu kenapa.

Uchiha Sasuke meluruskan pandangannya kearah Naruto. Sungguh ia tidak iri jika orang tersebut memang Naruto. Lagi pula dia tidak menjadi kuat untuk bersaing dengan orang lain. Dia menjadi kuat untuk membunuh seseorang dan menuntut kebenaran tentangnya. Setidaknya setelah kemarin, saat seseorang sudah merubah arah pandangnya. Dan dia akan mencari tahu siapa orang tersebut.

"Aku ucapkan selamat … Hari ini kalian resmi menjadi Ninja Konoha. Dan untuk orang yang aku panggil, silahkan maju untuk mengambil ikat kepala masing-masing." Iruka memecah keheningan, memanggil satu persatu anak-anak dan menyerahkan ikat kepala kepada mereka.

"Baiklah … Setelah ini akan ada pembagian tim. Jadi kalian semua berada di dalam kelas, menunggu Jounin pembimbing masing-masing. Kalian mengerti."

"Hai' Sensei … " Iruka meninggalkan kelas setelah mendapat tanggapan dari muridnya.

Sudah dua jam berlalu, terlihat hanya ada empat anak yang sekarang berada di dalam kelas. Sasuke yang duduk di tempatnya menopang dagu. Naruko yang duduk di atas meja dari bangku yang sama yang diduduki sasuke. Sakura yang berdiri dengan memasang wajah cemberut serta tidak henti-hentinya menggerutu. Dan Naruto yang juga duduk di dekat mereka tapi berada di bangku yang berbeda.

Sasuke menolehkan kepalanya kearah Naruto, sejenak menatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan dia bangkit berdiri menghampiri Naruto. "Yoshiaki Naruto … " Ujar dia datar mendudukkan dirinya di samping Naruto.

"Ahh … Uchiha-san." Naruto tersenyum ramah menggeser tubuhnya sedikit.

"Siapa Kau ?."

Naruto mengernyitkan alisnya bingung denga pertanyaan Uchiha di sampingnya. "Aku … aku hanya adik dari sahabat kakakmu." Jawab dia mengarahkan pembicaraan yang dia mengerti maksud dari Sasuke.

"Apa yang kau tahu tentang kakakku." Sasuke kehilangan aksen datar dari suaranya. Meski begitu hanya mereka berdua yang mendengarnya. Pasalnya Sakura dan Naruko sibuk berceloteh dan menggerutu.

"Aku tidak tahu apa-apa, aku hanya pernah di pertemukan sekali oleh Shisui-nii. Yang aku tahu dia sangat loyal kepada Konoha." Naruto menjelaskan tanpa menatap Sasuke. "Dan dia sangat menyayangimu Sasuke." Dia melanjutkan dalam hati, melirikkan matanya sejenak.

"Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu, tapi yang jelas seseorang akan sangat medendam kepada orang yang membunuh keluarganya. Bahkan jika orang itu dari keluarganya sendiri. Jika kakakmu ingin kau membencinya, maka bencilah dia semampu yang kau bisa. Jika dia ingin dengan itu kau menjadi kuat, maka jadikan dirimu kuat dengan caramu sendiri. Dan jika kau memutuskan untuk membunuhnya, maka lakukanlah setelah kau merasa cukup kuat. Tapi Uchiha Sasuke-" Naruto menatap Sasuke serius.

" … Aku tekankan kepadamu. Yakinlah kepada keputusanmu. Dan yakinlah jika pada akhirnya itu semua kakakmu lakukan hanya demi kebaikanmu."

"Yoshiaki Naruto dattebane …" Teriak seorang Kunoichi wanita membuka pintu kelas. Memakai seragam setandard Jounin berwarna hitam berlengan pendek serta rompi diluarnya. Pelindung dahi pewarna biru dengan rambut merah yang diikat ekor kuda, dengan untaian panjang membingkai wajahnya.

"Kaa-chan … " Seru Naruko terkejut turun dari meja dan berdiri. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia melihat ibunya memakai pakaian Ninjanya. Dia hanya pernah melihat di foto selama ini.

Naruto sendiri tidak kalah terkejutnya. Apa Kami-sama sudah bosan memberi nasib baik kepadanya hari ini, batin dia mendapat Jounin pembimbing yang emm. Dia sendiri memang sudah tidak takut seperti dulu pada wanita ini. Bahkan terkesan seperti ibu dan anak (mungkin).Tapi tidak lama ia tersenyum ramah dan bengkit berdiri. "Sumimasen Uchiha-san … " dia berjalan menuju Kushina.

"Naruto … " Naruto menghentikan langkahnya, membalikkan badan kearah Sasuke yang memanggil namanya.

"Kita teman … "

Naruto tersenyum ramah dan mengangguk kearah Uchiha. Melanjutkan langkahnya, dan meninggalkan kelas bersama Kushina. Meninggalkan keterkejutan bagi Naruko, Sakura, dan juga Kakashi (baru datang) yang sempat melihat sang Uchiha untuk pertama kalinya tersenyum tulus.

"Kita sudah kenal dan aku sudah mengetahui kemampuanmu. Jadi hari ini kita langsung mengambil misi. Apa kau siap ttebane ?." Ujar Kushina semangat dalam perjalanannya bersama Naruto.

"Hai' Kus-"

"Dan panggil aku Sensei ttebane." Potong Kushina.

"Hai' Sensei." Tegas Naruto sekali lagi.

.

"Mana bisa seperti itu Kushina … Ini adalah hari pertama pembentukan tim. Dan biasanya hanya diadakan perkenalan diri terlebih dahulu." Perjelas Minato menanggapi istrinya yang langsung meminta misi di hari pertama. Alasan jelasnya adalah, dia masih belum siap untuk melepaskan Naruto pergi keluarga desa sebagai seorang Genin. Bukan karena khawatir Naruto akan terluka atau apa, tapi takut ada orang yang mengetahui jika jika Naruto seorang Anbu, mengingat kemampuan unik yang di miliki Naruto. Dan itu bisa menjadikan Naruto menjadi incaran lima desa besar. Siapa yang tidak mengenal Anbu Zero yang telah masuk dalam urutan pertama Ninja yang harus dibunuh oleh para Missing-nin.

"Kita sudah kenal ttebane." Kushina memasang wajah sebal. Tetap bersikeras.

"Tidak apa-apa Minato … Kau sendiri yang bilang jika kau percaya pada mereka." Hiruzen menasehati. Bagaimanapun dia tahu, semasa ia menjabat menjadi Hokage dan sampai saat ini. Tak ada seorangpun yang sanggup menantang kekerasan kepala wanita merah di depannya ini.

"Haahh … Baiklah." Minato mengehela nafasnya. Melihat berkas-berkas permintaan misi yang ada di mejanya. "Tim 11 … kalian akan melaksanakan misi Rank-D. Membantu mem-"

"Kau tidak lupa kan suamiku ?, sedang berbicara dengan Red Habanero dan juga Anbu Zero saat ini." Kushina mencondongkan tubuhnya kearah Minato. Berujar manis kepada suaminya.

Minato hanya berkeringat dingin tidak melanjutkan perkataanya. Tersenyum canggung dan gelagapan mencari berkas yang lainnya. Sedangkan Hiruzen dan Naruto hanya sweatdrop melihat tingkah suami instri di hadapan mereka kini.

"A-haha Ba-baiklah … Kalian akan melaksanak misi Rank-C, mungkin jika untuk kalian. Membasmi para bandit di perbatasan Konoha-Suna. Mereka sudah menghambat perdagangan Konoha-Suna. Dan itu akan berdampak buruk bagi kerjasama dua Negara ini. Menurut informasi, ada 5 titik di lingkup yang sama. Dan ada 5-8 bandit di setiap titik tersebut. Tidak di ketahui mereka dalam kelompok yang sama atau bukan. Lebih jelasnya berada dalam berkas ini. Misi ini memang berniat aku berikan kepada Naruto." Minato menyerahkan berkas tersebut kepada Kushina selaku Jounin pembimbing.

Kushina menerimanya dan membacanya sejenak, tidak ada banyak perbedaan dari apa yang di jelaskan suaminya. "Baiklah … Kami akan mengambil misi ini Hokage-sama." Berujar sopan.

Minato hanya sweatdrop mendengar panggilan asing dari istrinya. "Baiklan … Kalian boleh pergi."

"Hai' Hokage-sama." Kushina dan Naruto membungkuk dan meninggalkan ruangan.

"Haah … ini yang kau sebut yakin Minato." Hiruzen menghela nafas sambil menghisap rokoknya.

Minato hanya terkekeh kecil. "Dia sangat memaksa saya Sandaime-sama … Lagi pula dia sudah sangat lama menginginkan menjadi Kunoichi lagi. Dan kebetulan juga dia sahabat dekat dari ibu Naruto. Jadi kita bisa menaruh kepercayaan lebih padanya."

.

.

.

.

TBC

Haahh … Chap yang panjang.

Profil singkat Youshiaki Naruto (Sekarang)

Umur : 12-13 Tahun

Rank : Genin (Anbu & Low Jounin Reality)

Afiliasi : Konohagakure

Elemen & Perubahan chakra : Katon,Yin Yang, Senjutsu (Yang di ketahui)


Reply Some Reviews

riskyuzumaki603 : Haah .. anda berkata benar. Saya benar-benar tidak menyangka, menuangkan ide dalam tulisan sungguh sangat-sangat sulit. Atau karena newbie atau memang saya tidak bakat jadi penulis. Tapi saya harap anda tidak bosan jika saya sulit diarahkan. Saya ingin menyelesaikan fic ini. Terima kasih banyak, dan saya akan sangat berusaha.

Cietrunea Outsutsuki : Terima kasih sarannya, saya akan berusaha. Tapi jika konfilk, mungkin saya tidak terlalu membuatnya berat atau berbelit-belit, saya tidak suka :-D.

elwafa : Terima kasih sarannya, memang itu maksud saya :-D.

Sondankh641 : Disini yang mengambil peran Naruto di shippuden adalah Naruko. Jadi otomatis yang dekat dengan Iruka, Jiraya, Sasuke adalah Naruko. Naruto sendiri menjadi orang baru di sini.

Kyuufi No Kitsune : Hahahah … Saya memang membuatnya seperti itu Fi-san :-D. Tentang pair maaf saya tidak bisa menjabarkannya lebih lanjut. Lebih lengkapnya note di chap 4.

Terima kasih sudah membaca dan menyempatkan Review. Dan juga yang Favs & Follows fanfic saya … Sekali lagi terima kasih.

Maaf atas segala kekurangan.

Jadi selebihnya mohon bimbingannya.

Sampai jumpa di chap berikutnya …