Author's Note:
Laporan!
Server masih rusak, kompi saya belum konek selain pake HP-nya Otou-san. Belum bisa review fave fanfic yang panjang kayak Therapy, Secret, dan Unpredictable Love. Belum bisa OL di SG. Belum bisa posting blog di MP. Belum bisa posting di LJ. Belum bisa OL di FB kompi. Belum bisa- Argh! *ditembak*
Review Reply!
Kencana: Tak pernah ada kata terlambat untuk review! XD Dingin sama Jiraiya? Un. Naru di sini emang kejam. –dirasengan-
Alluka Niero: Jangan disumpahin mati, Neji cuma numpang lewat kok! Untuk sementara ini sih… =P –dilempar Niero-senpai-
Nazuki Kyouru: Seme maupun Uke, Sasu dan Naru harus tetap bersamaaaaa!! ALL HAIL SASUNARU!!! XD Challenge? Okeh, okeh, tunggu ajah! *memberi evil grin pada Sasuke* -dichidori-
lovely lucifer: Iya tuh… kenapa juga nguping! Sasu bego! –dichidori lagi- Maafkan aku yang telah membunuh Itachi… tapi Masashi juga udah ngebunuh dia tuh… TT^TT *fan brotherhood ItaSasu mode ON*
FrozenMaiden. DarkHour: Sekarang SMSku yang tak kau balas, Frei… *ngacungin pistol* -dilempar- Ayo anak kelas tiga! Belajar! BELAJAR!! Tapi habis baca fic saya!! XD –dihajar massal-
Nadh: Saya juga suka kalimat itu… Jiraiya kecewa banget anak rubahnya udah hilang… ='( (WTH?! Yang bikin siapa emangnya?!) Nyahaha! Coba Sasu nguping pas KakaNaru juga! Cemburu nggak ya? XD P.S: KSUSSS ditunggu!!
Ardhan Winchester: Nama baru niiih!! X3 Khawatir kenapa ya? Tanya sama Kakashi! XD Yap, ini 4 ribuan kata, mudah-mudahan puasss…. Puassss!! X3
Shia Ryuka: Yap! Err… repiunya kok kayak kepotong gitu ya? O_o
lovely_winda: Udah di-update… update… update…!
NanashiNeko: Hiya, Naru cemburu! Saya suka Naru cemburu! X3 Yang mati bareng Kakuzu… siapa lagi coba kalo bukan partnernya? KakuHidan… mati bersama. Romantisnya… -dirajam-
VongoLa-aI: Adegan lemonnya belum tentu ada lhuooo… Saya udah insaf…! –dijagal- Yang pasti Sasu emang dibawah! Hanya saja, mau dibawah atau di atas, kayaknya di fic ini posisi mereka setara… ya kan?
Sefa-sama: My Narutooooo!! *Sasu datang dengan Chidori dan Mangekyou* A'ah! My Sasukeeee!! –dibunuh-
Hito-kun: Tenggelam? O_o NaruSasu tenggelam dalam cinta maksudnya? –ditembak- Naru yang jadi seme… karena di fic ini Sasu udah nggak virgin! –diamaterasu- Becanda! XP Seperti yang saya ketik, sebenarnya mereka berdua itu setara tempatnya… Hanya saja, Naru lebih 'tegar' ketimbang Sasu, so, why not kalo sekali-sekali Naru jadi seme? XD *alasan gaje* -dilempar- OK. Naru jadi Seme karena di sini Naru NGGAK cengeng. Puas? Naru yang asli sebenarnya cengeng 'kan? Khas Uke banget! –dirasengan-
NakamaLuna: There's always a first from something, dear… Karya pertama saya jauh lebih ancur dari semua fic abal yang ada di FFN! (Makanya udah lenyap ditelan bumi… =__=) Read more, write more… practice makes perfect! Ganbatte! ^^ Lemon? Aduw, nggak janji deeeh… -dibunuh-
Mikazuki Chizuka: Lemonnya disimpan buat bikin ice tea… =P Sabar, mudah-mudahan otak saya bisa diajak nista deh…! (Haduh, yang begini ini ngaku murid Ero Dojo?! Maafkan daku, Niero-senpai!! T^T) Soal hiatus… Hhh, tergantung keadaan yang akan mendatangiku nanti… TT~TT
azahi kisashi: Penulis nyata… *speechless* Amin. Amin… AMIIIIN!!!
Numpang jing!
Panggilan… Panggilan… *ngabsen mode ON*
Panggilan terhadap Double Cha… (Chatryne Bhrysaisz & Charlotte d'Cauchemar) juga sepupuku Ren Uchiha, Ambu dan Aicchan-senpai…
*peluk*
Megu rindu sama kalian semua!! DX –dilempar-
Disclaimer:
I do not own Naruto, nor any of the characters from it. I do not make any money from it too… Kalo saya yang punya Naruto, pasti udah saya lelang sama Geneiryoudan, pasti laku tuh! –dirasenshuriken-
Presentiment… firasat. =)
Hari minggu. Hari minggu sore, yang cerah namun berangin. Angin terus berhembus kencang di luar sana. Dingin, tapi belum bisa menggangu gugat hari yang sempurna ini bagi sang Namikaze untuk beristirahat. Tepat 15.47. Sang Kitsune tengah mengunyah makan siangnya. Celana panjang hitam dan kaos berwarna biru muda berkerah menutupi tubuhnya. Ia terus saja memakan fried buttered potatoes buatan Akamichi Chouji, putra sekaligus asisten chef di rumah keluarga Namikaze, Akamichi Chouza. Makan siang yang terlambat? Ya. Tapi ia tak peduli.
Di hari-hari kerjanya, Naruto lebih sering lagi melupakan jam makan. Sekarang memang bukan hari kerja, tapi ia juga lupa. Tak ada jadwal pekerjaan di hari mnggu, hampir tak pernah ada. Karenanya, ia bisa bangun agak terlambat, menghabiskan waktu yang lebih lama dalam bath up-nya, dan memutar DVD film yang belum sempat ditontonnya. Bukankah itu hari libur yang sempurna? Belum.
Sedari tadi ada perasaan aneh dalam hati pemuda pirang itu. Perasaan tidak enak yang muncul tanpa sebab musabab. Entah karena apa. Dan gara-gara perasaan ini, ia belum bisa menikmati harinya.
Naruto lalu memandang kursi kosong yang ada di seberang meja makannya, tepat di sisi meja itu. Kursi berwarna cokelat tua itu bukanlah satu-satunya kursi kosong di sisi meja makan yang cukup panjang ini. Tapi, hanya kursi itu yang ditatap mata birunya kini. Kenapa? Karena biasanya kursi itu tak kosong. Biasanya kursi itu diduduki oleh satu-satunya orang yang ia biarkan menemani makan siangnya, Hatake Kakashi.
Apa karena Kakashi tak ada, makanya ia jadi merasa tak enak? Ya, bukannya tidak mungkin begitu.
Harus diakui, Naruto memang sudah terbiasa menghabiskan jam makan siangnya bersama Kakashi. Di kantor, pria muda bermasker itu menjadi satu-satunya alasan baginya untuk menunda pekerjaan dan pergi makan siang. Kakashi tidak akan makan jika Naruto tidak. Dan dia tahu persis pemuda itu tidak akan mungkin membiarkannya sakit karena terus-terusan menunggu sang Kitsune. Sungguh cara yang manis untuk memaksa Naruto makan siang. Dia memang tahu persis setiap kelemahan sang Kitsune. Tidak apa-apa 'kan kalau sesekali ia memanfaatkan kelemahan itu untuk kebaikan Naruto sendiri?
Singkat cerita, selama bertahun-tahun ia selalu makan siang bersama Kakashi. Hari libur sekalipun. Karenanya ketiadaan Kakashi mungkin memang bisa memberi rasa tidak enak pada sang Namikaze. Tapi apa mau di kata? Sejak pagi tadi Kakashi telah pergi bersama Izumo untuk membeli sedikit keperluan Kyuubi, dan mereka belum kembali sampai sekarang.
Makanannya belum juga habis. Tetapi Naruto berhenti menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Ia mengambil gelas air mineralnya dan mulai meneguk. Saat itulah, Tuhan seakan menjawab keinginannya untuk bisa makan siang bersama sang sekretaris… hanya seakan. Karena yang ada di depan matanya justru jawaban akan perasaan tidak enak yang dirasakannya sedari pagi.
Kakashi dan Izumo baru saja sampai di kediaman Namikaze, dan mereka langsung menapakkan kaki menuju ruang makan ini. Sayang, sepertinya sang Kitsune tidak bisa langsung menawarinya makan siang. Bagaimana tidak? Keadaaan ini berbeda jauh dari harapan maupun bayangannya. Kakashi dan Izumo datang dengan baju yang terkoyak. Jas hitam Izumo robek di banyak tempat, memperlihatkan kemeja merahnya yang bernasib sama. Luka-luka lebam dan bekas pisau yang menganga ada di sekujur tubuh lelaki muda di sisi Kakashi itu. Sementara di tubuh sang sekretaris sendiri, sebuah irisan katana yang dalam melintang di bahu kirinya. Tentu, masih terus mengeluarkan darah, menyatu dengan warna merah dari sang kemeja. Tak tertutupi oleh jas hitam yang tidak lagi digunakan Kakashi. Akan tetapi, segera setelah tatapan Kakashi bertemu dengan sang Kitsune, pria itu menunduk dan memberi hormat seakan ia tidak datang dengan luka.
"Namikaze-sama," katanya, "kami mendapat informasi-"
"Kenapa bahumu?" potong Naruto. Mata birunya menatap lurus pada Kakashi.
"Ah, ini bukan apa-apa. Ada informasi tentang-"
"Kenapa bahumu?" Sang Namikaze mengulangi pertanyaannya, menuntut sebuah jawaban. Kali ini amarah tak bisa lagi disembunyikan dari kalimatnya itu. Naruto paham benar kemampuan sang sekretaris. Ia tahu persis bagaimana kemampuan dari lelaki muda yang memiliki code name 'Copy Nin' ini. Dan itulah mengapa ia bisa tenang membiarkan Kakashi beraktifitas untuk Kyuubi. Tapi kalau sampai ia terluka seperti ini… mau tidak mau emosi mulai menguasainya.
Orang mana yang berani menyerang Kakashi?
Orang mana yang berhasil melukai Kakashi sampai seperti ini?
Orang mana yang membuat mereka berdua sampai luka seperti ini?
Ia harus mendapatkan balasannya.
Orang-orang itu harus mendapatkan balasannya.
Sang Hatake belum menjawab. Hanya matanya saja yang bisa ia gerakkan untuk menatap lantai kayu, menunduk. Tak berani menatap sang Namikaze. Ia bisa membaca apa yang sedang dipikirkan pemuda itu sekarang. Ia tahu apa yang ada di otak pemuda itu sekarang. Dan ia tidak suka itu. Ia tidak suka… kalau karenanya, sang Kitsune jadi melakukan sesuatu. Sesuatu yang benar-benar buruk. Seperti apa yang ia perintahkan sembilan tahun lalu.
"Tadi kami diserang, Namikaze-sama," lelaki bernama lengkap Kamizuki Izumo itu memutuskan untuk menjawab, menggantikan Kakashi. Naruto segera bangkit dari duduknya dan memberi beberapa perintah pada pelayan, sementara lelaki muda berambut hitam kecokelatan itu terus melanjutkan, "Ada lebih dari 30 orang sekaligus yang menyerang kami berdua. Lalu kami ditolong oleh seseorang. Kalau tidak, mungkin kami sudah-"
"Berhenti, Izumo," dengan dingin Kakashi memotong. Ia tidak mau pria itu memperkeruh masalah yang sebenarnya tidak ada. Bukankah penyerangan seperti ini sudah biasa di dunia hitam? Perselisihan, persaingan ataupun perkelahian antar geng dan organisasi seperti ini bukanlah hal baru bagi mereka. Apalagi untuk organisasi besar dan terkenal semacam Kyuubi. Apalagi untuk orang-orang seperti mereka. Pria berambut silver inipun melanjutkan, "Namikaze-sama, kami mendapatkan informasi dari orang yang menolong kami. Katanya orang-orang itu berasal dari organisasi Hebi."
"Hebi?" Naruto membeo datar, "Hebi yang kau laporkan beberapa hari lalu?" tanyanya. Pemuda pirang ini telah membuka kaos biru mudanya, dan kini sedang mengancingkan kemeja merah yang telah melekat di tubuhnya. Dengan dipakainya seragam Kyuubi itu, Kakashi paham apa yang telah dan akan terjadi. Tapi ia terpaksa memutuskan untuk terus melanjutkan informasi ini. Dengan atau tanpa info ini, bisa dipastikan Sang Kitsune yang biasanya hanya bergerak di belakang layar, kali ini akan turun tangan sendiri. Dan hampir dipastikan pula, itu karena dia.
"Ya. Hebi akan melakukan transaksi senjata petang ini. Setelah transaksi, malam nanti mereka akan menyerang markas kita," jelas Kakashi, "Saya dan Ibiki telah memeriksa, dan benar, ada sekelompok orang yang telah bersiap di tempat yang diinformasikan sebagai tempat transaksi itu."
Naruto lalu beralih pada bawahannya yang lain, seorang pria berjanggut yang sedari tadi berdiri di dekat pintu ruangan,
"Asuma, siapkan orang-orang, kita akan ke sana."
"Baik, Namikaze-sama," balas pria yang tak pernah terlihat tanpa rokoknya itu. Pria berjas hitam dan berkemeja merah itupun pergi meninggalkan ruang tengah di rumah Namikaze ini untuk mengerjakan apa yang telah diperintahkan oleh sang atasan.
"Dimana tempatnya?" tanya pemuda bermata biru langit itu pada Kakashi sambil memasang jas hitamnya, tak mempedulikan dua kancing teratas sang kemeja yang masih terbuka. Ia juga tak mencari keberadaan dasi. Yang penting adalah kemeja merah dan jas hitam… seragam Kyuubi.
"Biarkan saya ikut, Namikaze-sama," balas Kakashi, tak menjawab pertanyaan atasannya itu.
"Tidak," balas sang Kitsune tanpa ragu, "kau tinggal di sini."
Kalimat itu penuh dengan nada perintah, dan ia memang tidak ingin perintahnya ini dibantah. Mata birunya menatap tepat pada mata Kakashi, tajam dan dingin, mungkin juga lengkap dengan amarah. Tapi bukan amarah pada Kakashi… ia justru marah untuk Kakashi.
Pada saat bersamaan, seseorang menyentuh bahu Kakashi. Pria inipun menolehkan kepalanya dan bertemu pandang dengan seorang pria, Dokter Ebisu, dokter keluarga Namikaze sejak dulu. Rupanya tadi Naruto sempat memerintahkan salah satu pelayannya untuk memanggil dokter itu. Ibiki sendiri sudah ditangani oleh asistennya. Pria dengan kacamata hitam itupun pun tersenyum pada Kakashi sambil mencoba mengobati lukanya. Kakashi menghiraukannya dan kembali menoleh pada Naruto.
"Namikaz-" Kakashi mencoba membujuk sang Kitsune lagi.
"Dimana tempat transaksinya?" tanya Naruto tak peduli. Ia tidak mungkin membiarkan orang yang telah dianggap bagaikan keluarganya itu maju menghadapi musuh dengan luka. Ia tidak mungkin membiarkan Kakashi pergi dalam keadaan terluka.
Tidak mungkin, dan tidak akan pernah.
Kakashi membisu sejenak. Hanya sejenak.
"…bekas Pelabuhan Shiyou," jawab Kakashi pada akhirnya, dengan suara pelan, tanpa menatap pada sang Namikaze.
Mendengar itu, Naruto sendiri sempat terpaku selama beberapa detik.
…Shiyou?
Ia tidak mungkin tidak tahu pelabuhan apa itu. Di pelabuhan itulah jenazah ayah dan pembunuhnya ditemukan. Di atas salah satu kontainer di pelabuhan itulah, tubuh sang Namikaze Minato ditemukan telah tak bernyawa. Di tempat itulah, nyawa ayahnya terenggut.
Tempat itu… tempat yang paling tidak ingin didatanginya dari semua tempat di seluruh dunia. Ia memang belum pernah menginjakkan kakinya di sana, dan ia juga tak pernah mengira bahwa ia akan menuju ke sana. Sungguh, Kakashi juga benar-benar memahami perasaan Naruto saat ini. Itulah mengapa ia ingin pergi mewakili sang Kitsune, itulah mengapa ia tak ingin Naruto turun tangan untuk kasus ini. Tapi, seperti yang Kakashi duga, hal ini tak akan menghentikan pemuda itu.
"Namikaze-sama, mereka sudah siap," lapor Asuma yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini.
Sang Kitsune mengambil mantel hitam yang dibawakan oleh salah satu pelayan. Iapun mengenakan mantel hitam panjang itu.
Seragam Kyuubi telah melekat pada tubuhnya. Pistol Heckler & Koch USP kesayangan sang Kitsune juga sudah tersimpan baik di balik jas hitam itu. Mata birunya menatap lurus tanpa ragu. Kaki-kaki jenjang itu pun mulai melangkah pasti.
"Kita berangkat sekarang."
Welcome to the Real World
Chapter 6
"Presentiment"
Naruto meletakkan pena hitam miliknya. Ia mendesah panjang. Peristiwa dengan Kakashi yang terjadi sebelum Kyuubi menghabisi Hebi itu baru saja terputar di otaknya. Sebenarnya itu bukan apa-apa, kalau saja sang Kitsune sedang merasa tenang. Masalahnya, perasaan aneh dan menyesakkan yang sedari tadi bercokol di dadanya ini sama persis dengan perasaannya waktu itu. Dan kalau ia benar, ini mungkin… firasat buruk.
Ia menghembuskan napas panjang, rasanya sesak, sangat sesak, meski ini sama sekali tak ada hubungannya dengan urusan pernafasan.
Pemuda dengan kulit berwarna karamel ini lalu berdiri perlahan meninggalkan kursinya, berniat untuk beristirahat sejenak. Namun, belum juga selangkah ia ambil, pintu kaca ruangannya itu terbuka. Seorang pemuda lain dengan rambut hitam muncul dengan membawa beberapa dokumen.
"Yang terakhir untuk hari ini, Namikaze-sama," lapor Sasuke sambil berjalan menuju meja Naruto, tanpa sedikitpun mempertemukan pandangan kedua mata mereka.
Naruto duduk kembali di tempatnya, mengambil pena hitam miliknya dan bersiap untuk melanjutkan. Dalam diam, tangan dan mata sang Kitsune terus bekerja. Ia memang selalu membaca-baca semua dokumen sebelum menandatanganinya. Itu harus dilakukan, agar mereka tak kecolongan. Bukan ia tak percaya pada sekretarisnya. Laporan dan dokumen-dokumen itu pastilah sudah di-filter oleh bawahannya dari tangan ke tangan. Hanya saja, tak ada salahnya untuk selalu waspada bukan?
Setelah semuanya selesai, iapun menyerahkan dokumen itu pada Sasuke yang sedari tadi berdiri menunggunya. Pemuda bermata onyx hitam itu menerimanya tanpa kata lalu menunduk memberi hormat dan pergi keluar ruangan.
Naruto lalu menyandarkan diri di kursi putarnya dan menghembuskan napas panjang. Agaknya lega karena pekerjaan hari ini telah selesai. Sayangnya rasa sesak itu belum juga hilang… dan sekarang, malah diperparah dengan adanya sesuatu yang mengganjal. Entah apa…
Sang Kitsune lalu sadar… tadi Sasuke tidak menatapnya sama sekali. Sedetikpun tidak.
Mobil hitam itu melaju di atas jalan aspal yang rata dan panjang, seakan tak bertepi. Ini memang sebuah jalan satu jalur panjang yang sepi karena berada di sisi pantai, agaknya jauh dari pusat kota. Penumpang mobil itu hanya tiga orang, termasuk sang supir. Dua penumpang lain duduk di kursi belakang. Sang Kitsune duduk di kursinya yang biasa, di jok penumpang sebelah kanan mobil. Sedangkan sekretarisnya duduk di sebelah kiri, di tempat yang memang biasa diduduki Kakashi. Naruto berpangku dagu di sisi jendela. Membiarkan wajahnya diterpa udara yang mereka belah dengan mobil hitam ini. Naruto lalu mengalihkan pandangannya pada Sasuke. Sepertinya sebelum ia menatap pada pemuda jenius itu, sekretarisnya memang sudah terlebih dulu memandang Naruto. Akan tetapi, saat pandangan mereka bertemu, sang Uchiha terakhir itu malah membuang muka, menatap kembali pada jalanan rapi yang ditempuh oleh mobil ini. Sebaliknya, sang Kitsune tidak langsung menarik pandangannya dari pemuda itu. Dalam hati ia bertanya-tanya…
Ada apa dengannya hari ini?
Naruto lalu memandang sesuatu yang berada di sisi kiri mobil mereka, di sisi jendela Sasuke. Laut. Kumpulan air garam dalam jumlah besar yang selalu dilihatnya setiap kali melewati jalan ini, tapi tidak pernah ia pedulikan sebelumnya.
"Stop," perintah sang Kitsune pada supirnya.
Pria berkemeja merah itupun segera menghentikan mobil dan meminggirkan mobil hitam ini.
Naruto membuka pintu mobil dan berkata,
"Ikut aku, Sasuke."
Ia lalu menutup pintu dan melangkah perlahan, membuat suara ketukan samar sepatu hitamnya dengan aspal dari jalanan panjang yang sepi ini. Ia memutari mobil dan sampai pada teralis besi panjang yang ada di sisi jalan, batas antara jalanan beraspal dan pasir. Meski memang letaknya dua meter lebih tinggi dari pantai pasir berbatu yang ada di bawah sana. Sengaja dibuat agar air laut yang pasang tidak mencapai jalan. Sekaligus juga penghalang agar mobil tidak menyerempet ke sisi jalan dan jatuh ke atas pasir.
Naruto lalu memegang logam itu. Sang sekretaris menyusul, keluar dari mobil dan berjalan mendekat. Dengan ragu, ia memberanikan diri untuk berdiri di sisi sang Kitsune. Jarak mereka tak terlalu dekat, namun sama sekali tak bisa di sebut jauh. Angin laut menerpa wajah-wajah mereka. Cukup sejuk, tapi yang pasti kuat. Angin laut sore memang cukup kencang. Sampai-sampai menimbulkan suara berisik saat partikel-partikel udara tak terlihat itu bertabrakan dengan daun telinga mereka. Juga membuat mata enggan untuk terbuka lebar. Takut ditabrak langsung langsung oleh angin laut yang garang.
Sasuke memandangi atasannya. Rambut pirang sang Kitsune terus bergerak terkena angin. Rambut hitam Sasukepun sama. Sedang mata biru langit Naruto hanya terbuka separuh, tapi mata itu menatap tajam. Memandang jauh ke arah laut dengan rasa tak suka. Telah seharian penuh Sasuke tak menatap langsung pada mata itu. Tepatnya, sejak ia mendengar pengakuan Naruto pada sang kakek, tidak sedikitpun Sasuke mau mempertemukan kedua pasang mata mereka. Ia tak mau… ia tak mau Naruto menggali apa yang ia sembunyikan di balik mata hitamnya ini. Namun Sasuke sendiri tak bisa berhenti, tak bisa berhenti untuk menatap sang Kitsune dengan perasaan campur aduk.
Apa sesungguhnya yang ia rasakan sekarang? Sasuke sekalipun tidak tahu pasti.
Saat pemuda dengan rambut keemasan itu menoleh menatapnya, Sasuke segera membuang muka. Berpura-pura sibuk menatap gelombang laut. Berpura-pura sibuk mendengar suara angin dan ombak. Gelombang demi gelombang terbawa angin menabrak darat. Menimbulkan buih putih yang segera menghilang, tapi segera tergantikan oleh buih ombak yang baru. Ada yang berbeda pada ombak laut di jam-jam seperti ini. Laut tak hanya berwarna biru dan memantulkan sinar mentari yang menyilaukan, tapi juga agak berwarna kemerahan, tertular oleh langit senja di atas sana.
Mata biru ini tak berhenti menatap Sasuke. Kini ia mengerti, pemuda ini memang menghindarinya.
Sang Kitsune kembali melemparkan pandangannya pada laut. Lengkap dengan mentari yang bergerak perlahan ke peristirahatannya. Tanpa memandang pemuda di sisinya, bibir Naruto pun berucap,
"Kalau aku punya kesalahan padamu, katakan saja."
…eh?
Sasuke menatap bingung pada sang Namikaze.
'Mungkinkah ia sudah tahu…?' tanya hatinya.
Saat kedua mata biru itu balas memandangnya untuk mencari jawaban, lagi-lagi Sasuke membuang muka. Menghindar dari pandangannya. Sasuke berusaha keras untuk menyembunyikan semua perasaanya saat ini. Tidak. Bukan. Ia belum tahu. Entah apa yang ia maksudkan, tapi ini pasti bukan itu. Pasti bukan tentang keluargaku.
Ia lalu membalas tanpa menatap Naruto,
"Tidak ada apa-apa, Namikaze-sama." Ya, kau tidak punya kesalahan lain selain menghabisi keluargaku sembilan tahun lalu.
Kumpulan air dan pasir itupun dipandang lagi oleh sang Kitsune. Ia membalas,
"Lalu kenapa kau tidak menatapku? Tidak sedikitpun kau sudi memandangku, Sasuke. Kau sadar itu?"
Tanpa sadar Sasuke menelan ludah.
Memandang sang Namikaze?
Apa kau pikir itu gampang?
Sasuke telah habis-habisan untuk tetap berada dalam stoic mode-nya. Ia sudah berusaha keras untuk tidak melakukan sesuatu yang akan membongkar penyamarannya saat ini. Sampai-sampai ia mencoba memenggal rasa marah, sedih, kecewa dan dendam yang ia rasakan, untuk tetap menjadi Sasuke, Sekretaris Sang Kitsune. Bukan sebagai Uchiha Sasuke, manusia terakhir dari keluarga Uchiha. Dan kalau ia menatap Naruto, entah apa yang akan dilakukannya… ia sendiri tidak tahu. Yang pasti semua perasaan yang telah ia kubur akan tergali sempurna.
Entah ia akan marah, entah ia akan menangis, atau mungkin saat itu juga ia akan membunuh Sang Kitsune. Ia tidak tahu.
Karenanya, ia terus lari dari mata biru itu.
"Tidak, Namikaze-sama. Saya hanya merasa agak capek, itu saja," katanya, lagi-lagi tanpa menatap sang Kitsune. Ia tahu, kalimat seperti itu tak akan cukup sebagai alasan atas kelakuan anehnya hari ini, iapun melanjutkan, "Perasaan saya tidak enak. Sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi…" …sesuatu yang buruk memang telah terjadi, tambahnya dalam hati.
Mendengar jawaban Sasuke ini, Naruto menghembuskan napas panjang lagi.
"…aku juga," balasnya lirih, "dan aku benci perasaan seperti ini."
Saat Sasuke kembali melihat pada atasannya, ia mendapati pemuda itu telah melewati palang besi, melompat turun hingga mencapai pasir pantai. Tanpa disuruh, pemuda berambut hitam inipun mengekorinya. Sasuke lalu berdiri di sana, memandang pada Naruto yang sedang melonggarkan dasi merah tua dari kemeja biru muda di tubuhnya. Pemuda pirang itu lalu menunduk dan memegang bebatuan yang ada di atas pasir, sepertinya sedang mencari sesuatu.
"Aku tidak benci laut. Tapi sejak sembilan tahun lalu, aku tidak pernah tertarik untuk datang ke tempat seperti ini lagi," beber Naruto tanpa memandang pada sekretarisnya. Ia memegang sebuah batu pipih berwarna abu-abu, dan menyelidik benda mati itu dengan tangan kanan dan dua mata birunya. Ia pun melanjutkan, "Ayahku meninggal di pelabuhan. Kau tahu itu, 'kan?"
"…hn," balas Sasuke. Ayahku juga sama, tewas tertembak oleh ayahmu di atas kontainer.
"Gara-gara itu… aku jadi tidak suka berada di dekat pelabuhan ataupun laut," balas Naruto. Tangannya memegang batu abu-abu itu, dan mengambil ancang-ancang untuk melemparnya. Pemuda ini menyambung, "…jadi sudah lama aku tidak melakukan ini."
Batu dilempar. Naruto melemparnya lurus ke arah air. Ini melempar batu, bukan cakram maupun frisbee. Tapi seharusnya sensasinya kurang lebih akan sama. Karena batu yang dilempar itu tak akan langsung tenggelam dalam air. Tiga kali berturut-turut sang batu terpantul di permukaan air, menyentuh permukaan air yang tegang meski bergelombang. Dan setelah itu, sang batu masuk ke dalamnya, menuju dasar laut.
Pemuda bermata biru ini menatap ke laut, seakan masih mencari atau malah bisa melihat kemana batu itu menuju. Angin terus bertiup pada mereka. Dasi merah Naruto menari-nari dibelai angin. Sedangkan sinar mentari senja yang berwarna kemerahan menerpa wajah sang Namikaze. Rambut pirangnya yang masih juga bergerak ditabrak partikel-partikel udara, ikut berkilau di timpa sinar mentari. Sasuke tak mampu untuk membuang wajah dari pemandangan menarik ini… setidaknya untuk sekarang. Kedua mata biru langit yang indah itu pun tiba-tiba beralih tepat pada mata onyx hitam milik pemuda yang masih terus berdiri di sisinya. Kali ini Sasuke belum sempat lari.
"Aku tidak tahu kenapa," ucap Naruto sambil memandang tepat pada dua mata onyx hitam itu, tak hanya berkata lewat mata tapi juga lewat mata dan hatinya, demi menyampaikan apa yang tak bisa ia sampaikan secara verbal. Sedang bibirnya melanjutkan,
"…kalau ada di dekatmu aku jadi banyak bicara."
Sasuke lalu menghindar lagi dari mata itu, ia menatap pada laut dan bergumam pendek,
"Hn."
Ia bersyukur saat ini senja tengah menguasai darat. Kalau tidak, hampir dipastikan secercah warna kemerahan di pipinya akan terlihat oleh sang Kitsune. Ia tahu seharusnya ia tak begini. Seharusnya ia membenci pemuda ini. Tapi… ia tak bisa berhenti, atau setidaknya memang belum bisa. Ia belum bisa mengenyahkan degupan jantungnya yang selalu menjadi lebih cepat saat berada di dekat sang Namikaze. Ia belum bisa berhenti untuk melambatkan laju aliran darahnya saat ini. Dan ia juga belum bisa menahan untuk tidak merasakan perasaan aneh yang menyenangkan, namun juga menyakitkan, yang terus saja berada dalam dadanya ini. Meski ia tak tahu apa alasannya, tetap saja ia belum bisa menghentikan semua ini. Sungguh belum bisa.
Ia lalu mendengar pemuda pirang itu kembali bersuara,
"Tatap aku, Sasuke." Kalimat ini tak bernada perintah, tapi juga bukan kata-kata biasa. Sasuke bisa merasakan, sungguh bisa merasakan, setitik harapan dan permintaan yang terkandung dalam kalimat itu.
Dengan ragu pemuda berkulit putih inipun mengangkat wajah, memberanikan diri untuk ditatap pada pemuda pirang di hadapannya.
"Pandang mataku saat kita bicara," katanya, dengan mata biru yang terus bertemu pandang dengan mata onyx Sasuke,
"Jangan pernah… jangan menatap ke tempat lain."
"…hn," balas Sasuke lirih.
Kali gumaman ini itu bukan berarti 'ya', bukan pula berarti 'tidak'. Hanya berarti 'akan kucoba'.
Saat Naruto akhirnya bisa menggali jauh dalam mata onyx itu, ia bisa merasakan, ia bisa merasakan kegalauan dalam diri Sasuke. Meski ia tak mengerti apa penyebab kegalauan itu, ia juga sadar, perasaan kacau yang sama persis juga tengah menghantui dirinya. Belum lagi firasat ini… firasat buruk ini, sama sekali belum hilang dari hati sang Kitsune.
Naruto mulai melangkah di atas pasir. Kedua tangannya ia telusupkan dalam kantong celananya. Iapun berucap,
"Ayo kita pulang."
"Hn."
Malam telah tiba sejak beberapa jam yang lalu. Meski baju non formal telah melekat pada dua orang ini, namun sang Kitsune dan sekretarisnya belum juga beristirahat. Masih ada beberapa pekerjaan dari Kyuubi yang menuntut untuk diselesaikan. Setidaknya tinggal beberapa lagi sampai mereka boleh berhenti untuk tidur malam ini.
"Seperti yang anda minta, mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk kedatangan Namikaze Jiraiya-san," beber Sasuke.
"Ya," balas Naruto pendek.
Sang Namikaze lain akhirnya akan datang ke rumah ini. Sedikit banyak Sasuke bertanya-tanya, bagaimana sosok kakek sang Kitsune itu. Dari yang Sasuke ketahui, dia adalah satu-satunya keturunan Namikaze yang sama sekali tak tertarik pada urusan Kyuubi. Beruntung, karena dia memang bukanlah anak pertama, yang menjadi penerus Kyuubi generasi ketiga adalah sang kakak, Namikaze Hiruzen. Kyuubi menapak dengan baik di bawah tuntunannya. Akan tetapi, semuanya jadi kacau saat Hiruzen meninggal. Ia tak menikah dan belum punya penerus. Saat orang-orang berpikir bahwa Kyuubi akan mencapai akhir hidupnya, putra Jiraiya malah maju menawarkan diri untuk memegang Kyuubi. Ya, dialah pemimpin Kyuubi generasi keempat, Namikaze Minato. Tak ayal, Jiraiya mati-matian menolak keputusan putranya, tapi Minato tak peduli. Ia mulai memegang Kyuubi, dan bahkan mendirikan Rasengan Corporation sebagai pendukung Kyuubi. Karena itu, sebelas tahun lalu, tepat sehari setelah ulang tahun Naruto yang ketujuh, Jiraiya meninggalkan kediaman keluarga Namikaze.
Sasukepun mengenyahkan pikirannya tentang pria itu dan kembali fokus pada laporannya.
"Transaksi Asuma-san di perbatasan sudah selesai. Dua hari lagi dia akan sampai bersama barang-barang kita," ucap Sasuke, tangannya masih memegang beberapa lembar kertas putih, hasil print dari e-mail Asuma. Agaknya warna kertas-kertas itu serasi dengan kemeja putih lengan pendek dan celana panjang hitam yang dikenakannya sekarang.
Naruto tak menjawab, hanya tangan dan penanya saja yang terus bergerak. Kaos biru tua berkerah dengan garis merah pada kerahnya masih setia melekat pada tubuh sang Namikaze. Begitu pula dengan jins hitam yang dikenakannya.
"Lalu…" Sasuke melanjutkan, mata onyx hitamnya membaca setiap huruf yang tertera di kertas dalam genggamannya itu, "Ada fax dari Hatake-san. Mereka telah mendapatkan alamat markas besar Akatsuki."
Kali ini sang Kitsune menatap pada Sasuke, meminta kertas-kertas itu tanpa kata. Lagi-lagi yang ditatap membuang muka. Sang Uchiha terakhir tetap belum mampu menatap langsung pada kedua mata biru itu. Tentu, Naruto menyadari hal ini. Tapi ia tak bisa memaksa. Toh yang penting ia sudah memberi tahu apa keinginannya pada pemilik kedua mata onyx hitam itu. Dengan bibir yang tetap terkatup Sasuke menyodorkan kertas itu ke atas meja Naruto, dan tangan Naruto sendiri telah mencapai lembar-lembar putih tipis itu. Namun gerakan mereka terhenti saat mendengar sebuah suara. Suara debam pintu yang terbuka tiba-tiba oleh Hagane Koutetsu, salah satu bawahan Naruto di Kyuubi.
"Namikaze-sama!" serunya sambil terengah-engah, agaknya ia telah berlari dari bagian lain di rumah besar ini untuk bertemu Naruto segera, "Ta-tadi ada kabar dari Markas Selatan! Markas Selatan, Markas Selatan diserang!"
Rasa kejut tak bisa disembunyikan dari wajah Naruto kini. Sebenarnya Sasukepun begitu, hanya saja saat ini ia lebih pandai untuk menyembunyikan rasa kejut itu dibalik topeng stoic-nya. Pria dengan rambut hitam kebiru-biruan itupun melanjutkan dengan wajah pucat dan penuh keringat,
"Kata mereka, pemimpin penyerangan adalah seseorang yang mengaku bernama Pain. Dan mereka berasal dari Akatsuki!"
…Akatsuki?
"Markas hancur! Tak banyak yang bisa selamat! Kalaupun iya, mereka terluka parah! Tapi karena ini urusan kita, polisi dan warga tidak-"
"Kakashi?" tanya Naruto, memotong laporan Koutetsu.
"Eh?"
"Bagaimana keadaan Kakashi?" tanya Naruto tanpa menatap wajah bawahannya. Ia takut. Sungguh takut. Takut firasat buruknya seharian ini akan terbukti sekarang.
Lelaki berjas hitam dan berkemeja merah itu menatap lantai. Seakan ragu untuk mengatakan apa yang harus ia laporkan sekarang.
"Dia… dia tak selamat," katanya, "Hatake-san terluka parah. Katanya, dialah yang berhadapan langsung dengan pemimpin Akatsuki. Mereka yang lain sudah berusaha untuk menyelamatkan Hatake-san saat Akatsuki pergi, tapi…" Koutetsu tak melanjutkan kata-katanya. Bukan tak mau, tanpa dilanjutkan pun pastilah Naruto telah mengerti.
Pemuda bermata biru ini tak membalas.
Tidak, ia tak mampu membalas.
Ia juga tak mampu untuk mendengarkan ini lebih jauh.
Koutetsu membuka mulutnya lagi,
"Kami sedang menunggu laporan selanj-"
"Cukup," Sang Kitsune memotong, lagi-lagi tanpa menatap anak buahnya, "Keluar dari ruangan ini."
Lelaki berumur 29 tahun itu terkejut, agaknya tak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari atasannya. Tapi apalah posisinya?
Ia hanya bisa menunduk memberi hormat tanpa kata, sebelum akhirnya keluar dari ruang kerja sang Kitsune.
Sasuke, yang sedari tadi diam di sisi meja Naruto sambil memegang kertas fax itu, menganggap perintah Kitsune barusan juga berlaku untuknya. Pemuda berkulit putih inipun melepas kertas-kertas itu di atas meja mahogani sang Kitsune. Dan ia mulai melangkah, sampai… sebuah tangan dengan kulit berwarna tan menggenggam erat tangan kanannya.
Sang Kitsune menahan langkah pemuda itu.
Sasuke menatap pada sang Namikaze, mencoba mencari tahu maksud dari genggaman tangan itu. Namun pemuda pirang itu masih menunduk, tak memperlihatkan wajahnya, terlebih mata birunya. Meskipun begitu, Naruto seakan tahu tanya hati Sasuke. Pemuda pirang inipun melepaskan genggaman tangannya.
"M-maaf, aku-" ia tak langsung meneruskan kalimatnya saat menyadari getar begitu menguasai suaranya. Pemuda pirang ini terdiam selama beberapa detik, berusaha keras untuk menguasai emosinya sebelum bisa melanjutkan, "…pergilah kalau kau mau."
Setelah itu, Naruto meletakkan kedua siku di atas mejanya. Ia menautkan jari-jemarinya dan memposisikan dahinya untuk bersandar pada jemari yang ditautkan itu. Naruto menunduk ke arah meja. Tak membiarkan Sasuke untuk bisa melihat wajahnya.
Sang Uchiha lalu menatap ke pintu mahogani ruangan sang Namikaze. Bertanya-tanya dalam hati. Mencari tahu apa yang sebaiknya ia lakukan. Ternyata, tanpa perlu jawaban, tubuhnya mulai bergerak sendiri. Ia melangkah, menuju Naruto. Didorongnya kursi putar sang Kitsune hingga tubuh pemuda pirang itu menghadap ke arahnya, bukan lagi menghadap meja. Namun Naruto tak sempat terkejut atas gerakan Sasuke ini. Dua tangan putih menyentuh bagian belakang kepalanya, menarik tubuh itu dalam sebuah dekapan hangat.
Sang Uchiha memeluk erat sang Namikaze. Tanpa kata.
Setetes. Dua tetes. Kemudian bulir-bulir air mata yang sedari tadi ditahannya mulai keluar dari mata biru Naruto. Ia mulai menangis tanpa suara. Tangan kirinya menelusup ke belakang pinggang Sasuke dan memegangnya erat, seakan mencari tempat bergantung agar tak jatuh ke dalam jurang yang dalam. Jurang yang sama yang ia hadapi sembilan tahun lalu. Jurang yang tak pernah ingin ditemuinya lagi. Untuk yang kesekian kalinya, Naruto kehilangan. Lagi-lagi orang yang disayanginya pergi meninggalkan dunia. Tuhan kembali bersikap tak adil padanya.
Sasuke mempererat pelukannya pada sang Namikaze. Luka yang dalam tersirat di wajahnya sendiri. Mata onyx hitamnya menerawang, menatap entah kemana. Alisnya berkernyit dan bibirnya tak menampakkan senyum. Terluka. Ia terluka. Terluka karena tak tahu harus berbuat apa. Terluka karena ia sedang terjebak dalam lorong gelap tak berujung yang disebut kebingungan. Terluka tanpa alasan yang belum diketahuinya. Terluka karena… karena melihat sang Kitsune yang tengah terluka.
Bukankah seharusnya aku membencinya?
Bukankah seharusnya aku membunuhnya?
Bukankah… bukankah aku sudah bersumpah untuk menghabisi siapapun yang telah membunuh keluargaku?
Lalu mengapa aku malah kasihan padanya?
Mengapa aku malah memeluknya?
Mengapa aku tidak bisa menarik pistol dan menembak kepalanya saat ini juga?
Atau mungkin mencekik lehernya?
Atau malah mendorong kepalanya ke meja?
Apapun, asal bisa membunuhnya.
Bukankah ini memang saat yang tepat untuk membunuhnya?
Tapi… kenapa aku tidak bisa?
Tapi kenapa aku malah tak bisa bergerak selain untuk mendekapnya seperti ini?
Jebakan apa yang sudah ia pasang untukku?
Perangkap apa… perangkap apa yang telah ia beri padaku hingga aku terjerat seperti ini?
Sasuke sungguh tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan dirinya menjadi tempat bersandar pemuda pirang itu saat ini. Bajunya telah basah akan air mata pemuda yang menangis dalam bisu itu. Namun ia tak peduli. Kebimbangan yang sama terus saja berputar di dalam otaknya kini. Masih pertanyaan yang sama, namun belum juga belum bisa ia jawab… mengapa ia tak bisa membunuh sang Kitsune? Dan mengapa ia malah ikut terluka melihat sang Kitsune menderita? Sungguh, ini gila.
Naruto lalu menegakkan kepalanya. Melepaskan diri dari tubuh Sasuke. Ia paham benar, ini bukan saatnya untuk menangis seperti bayi. Ini bukan saatnya.
"Hubungi Markas Utara, Markas Timur dan juga Barat," katanya dengan suara yang sedikit parau dan masih agak bergetar, tangisan tanpa suara tetap bisa mempengaruhi suara seseorang. Ia meneruskan perintahnya, "…suruh mereka untuk segera mengirim orangnya masing-masing untuk mengecek keadaan Markas Selatan, jangan biarkan orang-orang yang terluka ikut tewas karena luka mereka."
"Baik," balas Sasuke, kali ini tak ada gumaman seperti biasanya.
"Lalu, minta mereka untuk menyiapkan diri…" kata Naruto lagi tanpa menatap Sasuke. Mata birunya masih basah. Namun kini dendam dan rasa benci mendalam terpancar jelas dari tatapan tajam mata biru sang Kitsune itu. Tatapan tajam yang membuat Sasuke sekalipun bergidik dibuatnya. Pemuda berambut hitam itu tak pernah melihat tatapan ini sebelumnya.
Sang Kitsune meneruskan,
"…kita akan melakukan serangan balasan ke markas utama mereka besok malam."
-
To Be Continued…
-
