Aku tak ingin merasakan Cinta..

Aku belum cukup umur untuk merasakannya..

Aku belum cukup umur untuk melindunginya..

Disclaimer

Vocaloid (c) Yamaha Corp.

This Story (c) Mine

Please Enjoy.

"A—aku tidak menangis!" teriakku pada Bibi Meiko sambil mengusap airmataku yang tak sengaja keluar.

"Oh begitu, yasudah." Ucap Bibi Meiko sambil berjalan melaluiku.

"..."

"Kalau ada masalah, katakan saja padaku. Kau akan lebih lega nantinya." Ucap Bibi Meiko.

Aku hanya diam, tak bisa bicara. Bibi Meiko memang paling tahu ada apa denganku. Sampai bibi Meiko benar-benar pergi, aku baru melangkahkan kakiku lagi, menuju rumahku.

Sesampainya di rumah, aku lalu mengganti bajuku dan mandi.

.

.

"Ingat, kau tidak boleh dekat-dekat dengan anak laki-laki, ya!" ucap mama di telfon.

"Iya, iya mama. Aku mengerti." Ucapku lagi. Selalu, setiap hari, seperti ini.

"Karna aku jauh darimu, kau tidak boleh seenakmu sendiri, kerjakan PR, cuci bajumu, masak dan makan makanan yang bergizi, jangan makan mie instan terus!"

"Baiklah mama, Aku mengerti!" ucapku lalu mematikan telefon.

Sikap mama membuatku muak, dia tidak pernah mengerti aku, mengerti diriku.

"Mama bodoh!" gumamku sambil menangis, aku tidak tahan!

Saat ini, aku berada di kelas 2 SMA Crypton, kata teman-temanku sewaktu SMP, masa-masa SMA adalah masa-masa paling indah. Kita boleh berpacaran, merajut cinta, berbagi kasih.

Tapi ternyata cerita itu bohong, bohong untukku. Disaat teman-temanku yang lain sedang bersenang-senang dengan yang mereka namakan "cinta", aku masih belum tahu apa itu cinta.

Kau jangan bermain dengan anak laki-laki seumuran atau lebih tua darimu! Lebih muda dua tahun juga tidak boleh ! jangan bermain dengan laki-laki, kau belum bisa menjaga diri!

Urusai! Mama bodoh! Mama tidak mengizinkanku mencintai orang, mama bodoh!

Mama tak pernah di sampingku! Dan mama mengaturku, aku tak tahan! Aku ingin pergi, tapi aku tahu aku masih butuh mama. Aku tak punya siapa-siapa selain mama. Mau tidak mau aku harus menuruti perkataan mama, walau aku tidak mau.

Teng Tong!

Suara bel, siapa?

Aku lalu siap-siap, mencuci mukaku agar tidak terlihat seperti habis menangis. Aku lalu berlari menuju pintu dan membukakan pintu untuk tamu itu.

"Yo, Rin!" ucap tamu itu. Namanya Gakupo Kamui, dia adalah anggota basket kelas tiga. Oh ya, aku adalah manajer tim basket sekolahku. Sewaktu kelas 1 semester 1 aku adalah anggota tim basket putri, tetapi karna tubuhku terlalu lemah aku dikeluarkan. Dan tim basket putra merekrutku jadi manajer, katanya kepandaianku dalam basket akan sayang jika tidak dikembangkan.

"Ah, Kamui-kun. Ada apa?" tanyaku.

"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, boleh kan?" tanya Gakupo.

"Kapan?" tanyaku. Ah aku lupa mengajaknya masuk! "Ah ya, Kamui-kun silahkan masuk dulu!" ucapku sambil mempersilahkan dia masuk.

"Ah tidak apa-apa, lagipula nanti aku akan langsung pergi." Ucap Gakupo.

"Begitu, lalu kapan kau akan mengajakku jalan-jalan?" tanyaku lagi.

"Hari minggu besok, kau tidak ada kegiatan kan?" tanyanya.

"Tidak ada." Ucapku dengan ceria.

"Baiklah, besok minggu aku akan menjemputmu jam 10 pagi, pastikan kau sudah siap ya!" ucap Gakupo.

"Baik!" ucapku, Gakupo lalu pamit untuk pergi dan meninggalkanku lagi.

Apa ini ajakan kencan?

.

.

Normal POV

Di hari dan jam yang ditentukan, Gakupo menjemput Rin dengan memakai mobilnya.

"Ah, Kamui-kun. Kau tidak terlambat." Ucap Rin dengan wajah ceria seperti biasa.

"R—Rin.." ucap gakupo dengan wajah merah padam.

"A—ah? Kenapa?" tanya Rin sambil memiringkan kepalanya.

"Rin! Jangan lakukan itu!" ucap seseorang di belakang kursi Gakupo.

"Ha? Ada siapa?" tanya Rin sambil mendekati mobil gakupo dan melirik ke dalam. "Sh—shion-san.."

"Kenapa kau ada disini?" tanya Rin kepada Shion. "Ha, ada Meito-san juga, Mikuo-san, dan Kagamine-san." Ucap Rin dengan mata garis-garis tipis berlapis-lapis.

"Kamui-kun, bukannnya kita akan berkencan?" tanya Rin dengan polosnya.

"A—ah, aku tidak bilang begitu kan." Ucap gakupo sambil menggaruk belakang kepalanya. Rin merasa malu sekali. Padahal dia sudah berdandan sangat cantik.

"Apa-apaan kau Rin, kau membuat Len nosebleed dengan dandanan seperti itu!" ucap Shion setelah Rin masuk ke dalam mobil gakupo.

"Habisnya aku pikir ini kencan dengan Kamui-san, hehe." Ucap Rin dengan senyumannya.

"Kau curang Rin! Kau memanggil Mikuo dan Meito nama kecil, kau harusnya memanggilku nama kecil juga!" ucap Gakupo.

"Ah, baiklah gakupo-san!" ucap Rin.

"Nah itu lebih baik." Ucap Gakupo.

"Aku juga dong!" ucap Shion.

"Baiklah, Kaito-san." Ucap Rin.

"Len tidak perlu?" tanya Mikuo pada Len.

"Tidak perlu." Ucap Len sambil mendengus.

"Baaka, memangnya siapa juga yang mau memanggilmu nama kecil."

"Baiklah, ayo kita mulai jalan-jalannya." Ucap Gakupo sambil sweatdrop dan menjalankan mobilnya.

Len POV

Ah, Rin cantik sekali! Rambutnya dikuncir dua dan diberi pita warna orange. Bajunya simpel tapi membuatnya cantik, hotpants yang sexy dipadukan dengan sepatu boots tinggi. Rin memang orang yang modis.

Selama perjalanan aku hanya diam. Tidak ada yang spesial sebenarnya.

Normal POV

"Uah, aku tidak tahu kalau sekarang ada festival makanan besar-besaran!" ucap Rin dengan mata blink-blink melihat makanan yang sangat banyak.

"Aku tahu kalau kau suka makanan, jadi aku mengajakmu juga." Ucap Gakupo.

"Wah, terimakasih Gakupo-san!" ucap Rin sambil melihat-lihat makanan yang dijajakan.

"Nikmatilah." Ucap gakupo. Mikuo, Meito, Kaito, dan Len berjalan di belakang Rin dan Gakupo sambil melihat dan mencoba makanan yang dijajakan.

"Len!" panggil seorang perempuan dengan rambut berwarna hijau dan dikuncir ponytail.

"M—miku.." ucap Len gugup. Teman-teman yang lain lalu pergi meninggalkan Len dan Miku.

Sedangkan Rin, mengaku pada teman-teman bahwa dia harus ke tolet.
TBC