Shizu: "Very very welcome untuk anda semua yang masih mau membaca fanfic abal ini, kita bales review dolo nyoo~"
Pertama dari Zanpaku nee, hahaha, tenang saja, jawaban dari pertanyaan anda akan diketahui di sini! Arigatou buat Reviewnya ^^
Lalu nenk rukiakate, hahaha tentu saja, saia selalu bisa buat hepi ending, gak bisa sad ending, Arigatou buat Review dan semangatnya! ^^
Kemudian ariadneLacie, hahaha iya seindah pelangi di langit (loh?) hahaha nanti saia bilangin ke ichigo supaya susul rukia ke istana! Arigatou buat Reviewnya ^^

Terakhir Felicia Elisse, TIDAAK! Jangan kasih tau nama asli saia, bahaya! Nanti di terror, wkwkwkwk (lebay), oke gak baca juga gak apa-apa, saia tahu anda gak kuat baca yang begini banyak. Nanti saia buatinnya di buku ajah.

Shizu: "Yah walaupun baru 4 orang yang meReview, saia sudah sangat senang, terimakasih sudah mau setia membaca, dari yang chapter 1 sampe chapter 6 ini, semoga yang ini juga membuat anda-anda sekalian terhibur, dan tidak jenuh. Enjoy!"


Disclaimer: Bleach is owned by Tite Kubo.

Tik, tok, tik, tok, bunyi detik jarum jam terdengar di dalam restoran yang cukup besar itu. Seorang laki-laki berambut orange jabrik bernama Kurosaki Ichigo hanya memainkan sebuah sendok yang diambilnya dari meja pelanggan.

Pagi tadi, kira-kira jam 7 terlewati dengan cepat saat Rukia pergi darinya, tetapi sekarang detik demi detik pun terasa sangat lama.

'Kenapa sih aku tidak bisa berhenti memikirkannya?' batinnya sambil tetap memainkan sendok perak itu di tangannya.

"Ichigo, kenapa kamu dari tadi murung terus sih sejak kembali ke sini? Ada sesuatu?" tanya ayahnya yang dari tadi bingung dengan sikap putra sulungnya ini.

"Tidak… semua baik-baik saja…" Ichigo berbohong, sambil menatap ke luar dari jendela.

"Oh iya, ngomong-ngomong Ruka-chan belum datang?" saat mendengar nama itu, Ichigo langsung menengok dengan cepat, lalu berkata, "Ah… dia sudah tidak akan bekerja di sini lagi…" Ichigo jadi semakin murung. '…selamanya…'

"Benarkah? Sayang sekali, padahal ia sangat cantik," ucap ayahnya dengan tampang ingin menangis

Ichigo hanya mengangguk malas, lalu kembali ke aktivitasnya tadi.

'Kami-sama, apa aku bisa bertemu dengannya lagi? Tolong beri tahu aku jawabannya,' batin Ichigo dengan pasrahnya, lalu ia mengembalikan sendok itu ke tempatnya.

Tiba-tiba datang 2 pelanggan, laki-laki dan perempuan.

"Selamat datang!" seru ayah Ichigo dengan bahagianya.

"Silahkan duduk di sini!"

2 pasang kekasih itu mengucapkan 'terimakasih', lalu kembali bercanda tawa.

"Ichigo, antarkan pesanannya yah!"

Ichigo mengangguk kecil, lalu berjalan ke meja mereka dan mulai mencatat makanan yang dipesannya.

"Hei, hei, kau tahu, kabarnya putri Kuchiki itu kabur dari istana loh," ucap perempuan itu pada kekasihnya.

"Benarkah?"

"Iya, tapi kabar itu mungkin hanya isu saja, aku pun mengetahui kabar ini dari beberapa orang yang tinggal di dekat istana itu. Kasihan ya, pasti Byakuya dan Hisana-sama mencarinya."

Laki-laki itu mengiyakan sambil melahap makanannya yang telah dibawakan oleh Ichigo.

'Ternyata, kabar itu telah beredar luas. Bukankah yang harusnya dikasihani itu Rukia?'


Di perjalanan menuju Istana Kuchiki…

"Rukia-sama kok bisa tahu kita ada di situ?" tanya pengawal Rukia yang pendek, bernama Ggio Vega.

"Ehmm," Rukia berpikir sejenak sambil menaruh jari telunjuknya di dagu, "Ehehehe, rahasia."

"Ahh! Rukia-sama jahatt!"

"Urusai!" bentak pengawalnya yang satu lagi, bernama Grimmjow Jeagerjaques.

"Hahaha, kalian berdua masih sama ya seperti dulu."

"Hehehe," Ggio nyengir kuda, "Ah iya Rukia-sama, anda nanti harus berterimakasih loh pada Hisana-sama, ia yang menyuruh kami menjemput anda. Untung yah bisa ketemu!" serunya.

"Hmm? Kukira ayah yang menyuruh kalian berdua."

"Oh iya soal Kuchiki-sama, kelihatannya akhir-akhir ini dia murung terus. Mungkin karena anda kabur dari rumah, makanya dia jadi begitu," ucap Grimmjow.

"Tenang, setelah ini aku akan meminta maaf padanya, jadi kalian tidak akan di salahin lagi, oke?" tanya Rukia sambil tersenyum.

"Siaaap!" ucap Ggio dengan semangat.

'Ichigo… seandainya kau ada di sini… apa kau juga akan gembira seperti mereka? Aku masih ingin melihat senyumanmu, pancaran matamu yang begitu menghangatkan diriku.

Hahaha… bodohnya aku… kenapa memikirkan itu di saat sekarang? Seharusnya aku memikirkan cara untuk meminta maaf pada ayah…'

"Rukia-sama, kita sudah sampai," ucap Grimmjow membuyarkan lamunan Rukia.

"Ah iya."

Grimmjow dan Ggio membuka pintu yang besar itu, tiba-tiba datanglah seseorang di depan pintu, dan langsung memeluk Rukia.

"Rukia! Kau baik-baik saja kan? Ibu sangat merindukanmu!" ternyata itu adalah ibu kandung Rukia, Kuchiki Hisana.

"Iya bu, maaf sudah membuatmu khawatir," ucap Rukia sambil membalas pelukan hangat dari sang ibu.

Grimmjow dan Ggio segera pergi, agar tidak mengganggu.

"Grimmjow, Ggio, terimakasih ya kalian sudah membawa putriku selamat sampai ke sini," ucap Hisana sambil tersenyum.

"Aah iya! Terimakasih kembali Hisana-sama!" ucap Ggio yang always ceria.

"Oh iya, bu, ayah di mana?" tanya Rukia.

"Ayah ada di ruang tamu, dari kemarin ia menjadi pendiam sejak tidak ada kamu, Rukia," ucap ibunya menjelaskan.

'Hmm, yang diucapkan Grimmjow benar.' "Baiklah bu, boleh aku bertemu dengannya?"

"Tentu." Hisana kemudian mengantarkan putrinya itu kepada Byakuya. Ia ternyata sedang meminum teh hangatnya.

"Ayah…" panggil Rukia pelan, lalu Byakuya langsung menengok ke sumber suara.

"Rukia? Itu kamu?"

"Iya, maaf ayah aku telah kabur seenaknya. Aku tahu ini sangat lah salah, jadi—

"Tidak apa-apa, semenjak kamu pergi, ayah merenungi isi surat yang kau berikan itu," Byakuya mengeluarkan kertas yang ditulisi oleh tulisan tangan Rukia, "Dan itu membuat ayah sadar, seharusnya ayah tidak seenaknya menjodohkan kau dengan orang yang padahal tidak kamu cintai. Jadi… pernikahan itu telah ayah batalkan," jelas Byakuya.

Langsung terlihat senyuman manis di wajah putih Rukia, ia sangat senang sekali. Akhirnya ayahnya yang terkenal angkuh dan dingin itu bisa kembali di buat sadar oleh tulisan tangan Rukia.

"Terimakasih banyak ayah! Terimakasih!" Rukia langsung memeluk ayah tersayangnya, ternyata selama ini tidak salah juga memiliki ayah dingin seperti Byakuya. Karena setiap orang juga pasti punya kehangatan di hatinya.

"Iya, sama-sama, Rukia."

"Jadi, Rukia, apa yang kau pelajari selama di desa itu?" Sang ayah, ibu dan Rukia berkumpul di ruang tamu, membincang-bincangkan pengalaman Rukia selama di desa itu.

"Sebenarnya, aku belajar menjadi pelayan di sebuah restoran. Makanan buatan mereka enak loh! Ayah dan ibu kapan-kapan harus mencobanya!" seru Rukia, sangat asik sekali menceritakan pengalamannya.

"Ok ok, lalu apa lagi?" tanya ibunya.

"Emm… oh iya, sebenarnya aku mempunyai banyak teman loh di sana, bu! Namanya Inoue Orihime, dia gadis yang baik, tapi kasihan dia sudah ditinggal mati oleh kakaknya, dan kedua orangtuanya entah berada di mana."

Rukia terus bercerita, dari mulai ia tinggal bersama Inoue, bertemu dengan Ichigo dan Renji, sampai ia harus kembali lagi ke sini bersama Grimmjow dan Ggio. Kedua orangtuanya pun antusias mendengar cerita anaknya.

"Hehehe, jadi begitulah pengalamanku di sana! Dan aku juga telah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta itu, bu," ucap Rukia sambil menunduk, malu-malu.

"Benarkah? Siapa laki-laki yang kau cintai itu?" tanya ibunya sangat senang.

"Dia bernama… Kurosaki Ichigo… awalnya aku ingin meminta ijin pada ayah dan juga ibu. Bolehkah aku menikah dengannya?"

Hisana dan Byakuya tentu kaget. Padahal tidak biasanya anak mereka satu-satunya ini meminta untuk segera menikah.

Akhirnya karena tidak mau Rukia merasa kecewa lagi, sang ayah memperbolehkannya. Tetapi tentu saja mereka berdua harus melihat bagaimana rupa Kurosaki Ichigo itu?

Apakah ia anak yang baik? Atau berkelakuan buruk?

Sekali lagi, Rukia memeluk kedua orangtuanya. Dan segera ia turun ke desa kembali, tentu diikuti oleh Grimmjow dan Ggio (lagi).


"Kurosaki-kun!" sapa Inoue, tapi kali ini wajahnya tidak seperti biasanya.

"Ada apa, Inoue?"

"Kuchiki-san ke mana? Di rumahku tidak ada, sebenarnya apa yang tadi kalian berdua bicarakan?"

Ichigo baru ingat, semenjak tadi Rukia pergi, tidak ada yang tahu kepergiannya, termasuk Inoue sekalipun.

"Ah, boleh kita omongkan ini di dalam rumahmu saja?" tanya Ichigo sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Inoue mengangguk, lalu mereka berdua masuk ke rumah Inoue. Masuk ke rumah ini serasa membawa Ichigo pada saat dia berbicara berdua dengan Rukia. Pada saat dia bercanda penuh tawa, dengan Rukia dan temannya Renji. Sungguh memang sangat sulit melupakan masa lalu. Apalagi masa lalu itu tentang orang yang sangat kita sayangi.

"Jadi… Rukia itu sudah kembali ke istananya, yang mengetahui ini hanya aku, karena aku yang mengantarkannya pada pengawal yang sudah menjemputnya."

"Apa? Kuchiki-san sudah pulang? Kenapa ia tidak bilang padaku?" tanya Inoue, sedikit kecewa. Karena sekarang ia sendirian lagi, tidak ada teman yang bisa diajak mengobrol saat malam hari.

"Maaf, aku juga baru memberitahu sekarang. Karena kupikir, Rukia juga tidak seharusnya berada di sini, jadi lebih bagus kalau dia pergi," ucap Ichigo. Inoue merasa sejak Rukia pergi, ucapan Ichigo sedikit lebih dingin.

"Kau tidak apa-apa kan, Kurosaki-kun?" tanya Inoue memastikan.

"Tidak, aku baik-baik saja. Baiklah aku kembali dulu, Inoue. Ada yang mau kau tanyakan lagi?"

Inoue menggeleng, lalu Ichigo keluar, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

'Kuchiki-san, aku mohon kembalilah. Kasihan Kurosaki-kun, ia merasa kesepian tanpamu,' batin Inoue sambil menatap ke langit.

Tap, tap, tap, Ichigo berjalan dengan malas menuju ke restorannya kembali. Angin pagi masih bertiup dengan sepoi-sepoi, seolah menyampaikan suatu kabar baik untuk Ichigo. Tapi apa kabar itu?

Saat membuka pintu depan restoran, Ichigo tiba-tiba ditabrak oleh seorang anak kecil yang tengah berlari-lari.

"Aduuh! Maaf kak! Maafkan aku! Aku tidak sengaja!" ucap anak kecil itu memohon-mohon.

Kejadian seperti itu kembali terputar lagi di otak Ichigo, saat ia secara tidak sengaja menumpahkan air ke baju Rukia.

"Tidak apa-apa kok, lain kali hati-hati ya."

"Baik kak, aku permisi."

Ichigo melanjutkan masuk ke dalam, tapi kenapa terasa sangat sepi? Padahal tadi masih ada beberapa pelanggan.

CTEK, lampu pun di nyalakan.

"KEJUTAAAN!"

Ichigo hanya memasang tampang bingung, alisnya semakin berkerut.

"Selamat datang kembali, Kurosaki Ichigo!"

Tak salah lagi, suara yang dirindukan Ichigo, kembali terngiang di telinganya. Bukan. Itu bukan mimpi atau masa lalu, ini adalah kenyataan yang bisa dilihat sendiri oleh kedua mata musim gugur itu.

"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu, Ichigo?" tanya perempuan itu sambil berkacak pinggang.

"Ayolah Ichigo! Jangan malu-malu, hahaha!" ternyata sahabat Ichigo, Renji, juga ada di situ. Ia menjahili Ichigo dengan menyikut lengannya.

"Ru-kia? Itu kau?"

"Tentu! Memang kau pikir aku siapa? Hantu?"

Semua yang ada di situ langsung tertawa terbahak-bahak. Tetapi otak Ichigo masih dalam masa proses.

"Rukia-chan! Kelihatannya Ichigo butuh memori yang lebih yaa!" ucap ayah Ichigo juga, dengan nada jahil. Ternyata ia sudah mengetahui bahwa Rukia itu putri bangsawan. Tentu saja, karena dari awal Rukia sudah merencanakan ini semua.

"Hehehe, kelihatannya kau benar, paman Isshin."

Rukia lalu mendekati Ichigo yang masih diam di tempat, lalu memeluknya.

"Bagaimana? Pasti dengan pelukan ini, kau akan mengingatnya, kan?"

"UWOOOO!" Koor yang sangat kompak langsung menyambut Rukia dan Ichigo. Maklum lah, mereka belum pernah ngeliat adegan-adegan pelukan gitu, karena pada gak punya TV. *Glepaak*

"Tentu saja, Kuchiki Rukia." Akhirnya setelah bermenit-menit diam di tempat, Ichigo pun berbicara juga. Dengan nada yang sangat tenang, ia membalas pelukan Rukia.

"Jadi, itu yang namanya Kurosaki Ichigo?" tanya Grimmjow yang mengintip dari jendela.

"Kelihatannya begitu."


Akhirnya setelah dijelaskan semuanya, Ichigo diundang datang ke istana. Hisana dan Byakuya menyambutnya dengan sangat baik. Ternyata setelah dilihat-lihat, Ichigo itu anak yang baik, hanya saja ia punya kelainan pada rambutnya.

"Hei, jangan bersedih seperti itu ya!" hibur Rukia.

Hari ini adalah momen yang paling membahagiakan, Rukia dilamar oleh Ichigo. Dan 3 hari lagi, mereka akan menikah. Sekarang seluruh pengawal sedang menghias istananya. Karena nanti Rukia akan tinggal bersama Ichigo, di rumah baru mereka.

"Huweee! Nanti gak ada yang mau baca buku di perpustakaan lagi dong, sama aku!" rengek Ggio, seperti anak kecil.

"Kapan-kapan aku akan main ke sini kok!" ucap Rukia, tak lupa dengan senyum di wajahnya.

"Horeee!" Ggio langsung senang bak anak kecil yang baru dibelikan mainan.

Setelah itu mereka mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah. Teman-teman Ichigo, yaitu Renji dan Inoue pun diundang. Tak lupa dengan keluarganya.

"Waah! Tidak terasa ya 3 hari lagi, anakku akan menikah!" seru Isshin berbinar-binar.

"Hentikan yah, kau ini memalukan tahu!" ucap Ichigo sambil menginjak kaki ayahnya.

"Oi Ichigo! Kalau udah menikah, jangan lupa ya sama kita-kita!" ujar Renji sambil nyengir, Inoue hanya tertawa geli.

"Tenang aja, Ren, kapan-kapan pasti aku akan mengunjungi kalian." Dan akhirnya pesta itu berakhir dengan kebahagiaan di hati mereka masing-masing.


3 hari kemudian, seluruh rakyat berkumpul untuk menyaksikan pernikahan sang putri Kuchiki, dengan Kurosaki Ichigo.

"Terimakasih semuanya ya!"

"Hati-hati ya, Rukia." Ujar sang ibu.

"Iya, bu."

"Huwaaa! Aku ditinggal oleh my sooonn!" teriak Isshin gaje.

BUAK, Karin, adik Ichigo langsung menendang mukanya, sehingga langsung menjadi rata.

"Onee-chan, selamat jalan!" ucap Yuzu.

"Terimakasih Yuzu, kalian bertiga juga jaga diri baik-baik ya!"

"Dan Renji, Inoue, kalian juga jaga diri ya!"

"Iya, terimakasih Kurosaki-kun, selamat menempuh hidup baru ya!"

Lalu Ichigo dan Rukia masuk ke dalam kereta kuda yang sangat indah. Walaupun masa depan belum tentu mudah, mereka pasti akan saling melengkapi dan saling membantu. Seluruh rakyat berteriak bahagia, Ggio masih nangis-nangis, Grimmjow hanya tersenyum, melihat kepergian majikan sekaligus sahabatnya.

'Terimakasih Ichigo, berkat kamu, aku bisa merasakan hari-hari yang indah…' batin Rukia sambil menyender di bahu Ichigo.

OWARI~

Shizu: "Yupss! Hepi ending dech! Semoga bahagia ya, Rukia dan Ichigo!" –ngelemparin bunga—

IchiRuki: "Enak aja, di manga kan kagak kayak gini!" –protes—

Shizu: "Ampuuun! Namanya juga Fanfiction, hanya fiksi dan bukan kejadian nyata, tapi nanti saia berharap sih begitu." –Geplaak!—

Shizu: "Weleh-weleh, saia jadi teleng. Oke pertama saia ucapkan terimakasih banyak sudah mau mengikuti episode ini dari awal sampe akhir." –kayak sinetron ajah—

Shizu: "Saia juga mohon maaf, kalau ada Typo, terlalu gaje, dan merusak pemandangan, maklum lah, saia juga ini manusia, yang dilumuri oleh dosa."

Ichigo: "Masa?" –pake nada tengil—

Shizu: "Awas lu ya! Nanti kalo udah selesai nih, rambut lu gue botakin!"

Ichigo: -menjulurkan lidah—

Shizu: " Bodo ah! Jadi keep Review ya, mohon gak yang pedesh-pedesh, saia gak kuat makan yang pedesh-pedesh."

Rukia: "Boong."

Shizu: "Hueee! Kalian jahat banget sama gue! Ya udah deh, sekian dari kami semua, semoga cerita ini bisa membuahkan nilai-nilai kebaikan untuk kita semua, amiiin!"

IchiRuki: "AND SAIYONARAA!"