Why Love Is Hurt Me ?

***

-Diclaimer-

Bleach : Tite Kubo

***

Kenapa cinta itu itu menyakitiku ??

Padahal aku telah mengorbankan apa pun

Untuknya ..

***

WARNING : Chapter kali ini menampilkan OC bernama Aizen Shaorin dari author bernama Ichimaru Aizen, dan juga di tampilkan bersama chara Bleach jadi, DON'T LIKE DON'T READ.

***

Part 1

"Hei, Kensei," panggil Mashiro. Lelaki berambut putih yang di panggil itu tak juga memalingkan wajah dari koran di hadapannya.

"Kensei!" Tetap tidak berpaling juga.

"KENSEI!!!!!!!!!!!!!!" akhirnya, Mashiro berteriak sekencang mungkin tepat di sebelah telinga lelaki bernama Mugurama Kensei tersebut.

"Mashiro! Tidak perlu berteriak tepat di sebelah telingaku!" ujar Kensei lalu mendorong jauh anak buahnya itu.

"Tapi, Kensei sedari tadi aku panggil tidak menjawab!"

"Memangnya ada apa kau memanggilku?" tanya Kensei.

Tumben sekali Mashiro datang ke ruangannya, biasanya perempuan berambut hijau itu selalu menghilang.

"Aku hanya ingin memberi tahu kalau ada orang baru yang akan menjadi bawahan Kensei," Wajah Kensei terlihat keheranan mendegar jawaban Mashiro.

"Orang baru? Soutaichou tidak memberitahuku sama sekali,"

"Tadi saja aku baru di beri tahu oleh Soutaichou. Lebih baik sekarang Kensei bersiap karena orang tersebut akan datang sebentar lagi!" seru Mashiro.

'Sebentar lagi?' Kensei bertanya-tanya dalam hati.

***

"Hei, Mashiro, mana orang baru itu? Kita sudah menunggu lebih dari 1 jam," kata Kensei dengan nada tidak sabaran.

"Benar juga, bahkan sudah hampir 2 jam kita mematung di sini," tambah Mashiro.

TOK, TOK, TOK !

Tiba-tiba, pintu ruangan itu di ketuk.

"Masuk," sahut Kensei dan Mashiro bersamaan.

KLEK!

Pintu itu terbuka dan terlihat seseorang di balik pintu. Seorang… perempuan?!

"Apa benar ini ruangan taichou divisi 9 Kepolisian Sereitei kota Karakura?" tanya perempuan itu panjang lebar.

Mashiro keheranan mendengar orang tersebut menanyakan sekaligus menyebutkan hal selengkap itu. Padahal dulu saat pertama kali masuk, dia hanya bertanya, "Apa ini ruangan Mugurama Kensei?"

"Ya, benar. Anda siapa, ya?" tanya Kensei.

"Aku orang baru di sini. Namaku Aizen Shaorin," katanya lalu membungkukkan badan tanda hormat. Raut wajah Kensei berubah.

'Kenapa perempuan lagi yang di masukkan Soutaichou ke dalam divisi ku? Padahal masih banyak divisi lain yang kosong!' gerutu Kensei.

"Permisi?" panggil Shaorin.

"Ah, eh, iya… apa benar anda masuk ke sini?" tanya Kensei lagi.

"Tentu saja, anda Mugurama Kensei, bukan? Taichou divisi 9?" Kensei mengangguk.

'Sial, ternyata benar dia orang baru itu!' Kensei kembali menggerutu.

"Yeay! Ternyata orang baru yang masuk di sini perempuan! Perkenalkan, namaku Mashiro Kuna, panggil saja aku Mashiro," seru Mashiro.

"Baiklah, Mashiro, kau bisa panggil aku Shaorin atau Sha,"

***

== Kensei POV == (A/N : Mulai dari sini kata "aku" itu berarti sudut pandang Kensei)

"Baiklah, Sha, pekerjaanmu di sini adalah mengumpulkan berkas data-data kepolisian setiap hari dengan Mashiro atau sendiri saja bila Mashiro menghilang, dan juga membantuku patroli keliling yang bergantian setiap divisi," jelasku, "Mengerti?"

"Ya, aku mengerti, Taichou,"

"Bagus kalau kau mengerti. Dan jangan lupa, jangan pernah terlambat setiap absent pagi dan juga berinteraksilah dengan divisi lain untuk memudahkanmu di sini," ucapku panjang lebar. Shaorin mengangguk mengerti.

"Baiklah, sekarang kau bisa pergi dan mulai bekerja besok," kelihatannya, aku seolah mengusirnya dari sini tapi, ini sudah lewat dari jam kerja sehingga dia baru bisa memulai semuanya besok.

"Hai,"

Kemudian, Shaorin berbalik dan pergi keluar ruangan dan menutup pintu dengan pelan. Hmm, aku merasa orang baru yang satu ini kelihatan pendiam dan berbeda sekali sikapnya dengan Mashiro.

Mungkin aku bisa mengandalkannya.

***

Shaorin berjalan memasuki bangunan pertokoan yang sudah terlihat kumuh dan tidak ada orang sama sekali.

Tiba-tiba, terdengar sebuah suara terdengar di bagian tergelap bangunan itu. "Bagaimana Shaorin, apa semua berjalan lancar?"

"Ya, semua berjalan lancar dan rencana kita sudah sepertiga sukses,"

"Bagus, kau melakukan pekerjaan ini dengan baik. Sekarang, tetaplah waspada, kakek tua pimpinan mereka atau taichou divisi 9 itu bisa saja mengawasimu dan mengetahui semuanya,"

"Hai,"

***

Pagi menjelang, aku sudah sedari tadi diam di ruanganku sambil meminum kopi dan membaca Koran. Maklum saja, hari ini giliran patroli bukan divisiku melainkan divisi 5 yang memiliki taichou bernama Hirako Shinji.

TOK, TOK, TOK !

"Masuk!" seruku. Pintu tersebut terbuka dan terlihat Shaorin memasuki ruangan.

"Cepat sekali kau datang," ungkapku. Shaorin justru memberi senyuman.

"Sepertinya aku terlalu bersemangat sehingga datang terlalu pagi,"

"Hmm… Begitu,"

Aku sedikit melirik bingung ke perempuan berambut coklat ikal itu. Rasanya dia begitu terlihat misterius dan begitu tertutup.

"Taichou, kenapa anda menatapku seperti itu?" tanya Shaorin.

Aku menggelengkan kepala. "Tidak ada apa-apa,"

Shaorin hanya diam, tidak membalas responku tersebut.

Shaorin menerawang ruang kerjaku dengan matanya yang berwarna coklat senada dengan rambutnya itu.

"Di mana Mashiro?" tanyanya.

Aku menghela napas. "Dia memang suka menghilang seperti ini,"

"Taichou tidak menasehatinya?"

"Sudah tapi, dianya saja yang sulit untuk di atur," jawabku dengan nada lesu.

Mungkin sekarang Shaorin berpikir aku gagal mendidik bawahanku sendiri.

"Haha, kalau begitu, yang selanjutnya taichou harus berjuang lebih keras," katanya sambil tersenyum kecil.

Hah?

Maksud?

"Ah, eh, maksudmu?" tanyaku bingung.

"Iya, mungkin taichou kurang keras menasehatinya," jawab Shaorin.

"Tidak mungkin! Aku bahkan merasa sudah kelewat keras!"

Shaorin langsung sweatdrop.

"Haha, taichou jujur sekali," katanya kemudian.

Aku langsung tersadar.

Sekarang mungkin dia mengira aku terlalu keras pada bawahanku.

"Yah, begitulah adanya," jawabku sekenanya.

***

Waktu sudah menunjukkan waktu 12 siang.

Pintu terbuka di saat aku menaruh data terakhir di meja kerjaku.

"Ada apa, Shaorin? Tumben sekali kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu," ujarku.

"Ti-tidak, hanya saja, kenapa kita tidak makan siang bersama di kedai luar?" usulnya.

Aku melirik Shaorin sebentar, tentunya dengan ekspresi datar.

Tapi, terlintas di pikiranku, Shaorin menjadi orang pertama yang mengajakku makan siang bersama. Mashiro yang sudah lama mengenalku saja tidak pernah mengajakku sama sekali.

"Boleh saja, kau tahu kedai yang enak?" tanyaku.

Dia mengangguk antusias. "Tentu saja! Aku sudah mencoba 1 kedai yang katanya enak!"

"Oh, begitu,"

Segera aku bangkit dari kursi dan berjalan ke arahnya.

"Ayo, taichou, jangan lambat," perempuan mungil itu menarikku keluar ruangan dengan wajah lugunya.

Huh, dasar.

***

Aku dan Shaorin memilih kursi kosong di bagian kanan dan duduk di tempat itu. Dengan cepat, seorang pelayan mendatangi kami berdua.

"Konnichiwa, mau pesan apa?" tanya pelayan itu.

"Taichou, di sini kare-nya enak, taichou mau?" tanya Shaorin.

Aku meliriknya dari ekor mataku.

"Bolehlah," jawabku yang lagi-lagi sekenanya.

"Minumnya?" tanya Shaorin lagi.

"Aku teh saja," jawabku lagi.

"Ngg, kalau begitu, 2 kare, 1 lemon tea dan 1 teh," Shaorin mengatakan dengan lambat agar pelayan itu bisa mencatatnya.

"Baiklah, tunggu sebentar," pelayan tersebut pergi meninggalkan Shaorin berdua denganku.

Ok, aku tidak begitu menyukai kata "DENGANKU" itu.

Karena jujur, aku tidak PERNAH makan berdua seperti ini.

"Ada apa, taichou? Kelihatannya kau memikirkan sesuatu?" tanya Shaorin.

Oh, perhatian sekali dia.

Tersanjung aku.

"Tidak ada apa-apa," jawabku datar.

Atau hanya berpura-pura datar.

"Taichou aneh sekali hari ini. Memikirkan Mashiro, ya?" tanya Shaorin.

Kini, pandangan mataku berubah. "Memikirkan Mashiro? Untuk apa?"

"Ya, siapa tahu taichou masih mencarinya, Mashiro tidak terlihat sama sekali hari ini," jawab Shaorin.

"Haha, aku sudah terbiasa dengan hal itu,"

***

10 menit kemudian …

Pelayan yang melayani aku dan Shaorin kembali lagi membawa pesanan kami.

"2 kare, 1 lemon tea dan 1 teh. Selamat menikmati," ucap pelayan itu lalu pergi lagi untuk mengurusi pengunjung lain, mungkin.

"Itadakimasu!" Shaorin melahap nasinya dengan semangat.

Dasar polos, lugu.

"Itadakimasu," aku menyuap sesendok kare langsung ke mulutku.

Hmm, enak! Bahkan kare ini mengalahi enaknya kare langgananku yang berada tak jauh dari rumah.

"Bagaimana? Enak, bukan?" tanya Shaorin.

"Iya, enak!" seruku. Mungkin sekarang aku yang bersemangat makan kare tersebut.

"Pelan-pelan, taichou, nanti keselek," kata Shaorin mengingatkanku.

Aku mengangguk.

Hei, bisa-bisa aku memakai topeng kalau keselek di depan orang baruku ini.

***

"Goushimasuta," ucapku setelah menyelesaikan memakan kareku. Begitu juga Shaorin.

"Taichou, aku bayar dulu, ya," ujar Shaorin yang lalu beranjak dari kursinya.

Tentu saja aku ikut beranjak. "Tidak perlu! Biar aku saja yang membayarnya!"

Shaorin menatapku langsung.

"Ta-tapi…,"

"Sudahlah, kau tunggu saja di luar… biar aku yang membayarnya," ujarku lagi lalu melangkah dengan cepat ke kasir.

***

"Ngg, taichou…," panggil Shaorin.

"Hmm, ada apa?"

Aku lirik dia sekilas. Mukanya terlihat sangat (ehem)… manis.

Ah? Eh? Apa yang aku pikirkan barusan?!

ARGGGGHHH! Aku baru saja berpikir yang tidak-tidak!

"Nggg… terima kasih karena tadi sudah mau makan bersamaku dan juga membayarkannya. Aku merasa tidak enak jadinya," lanjutnya.

"Oh, tidak apa-apa! Lagipula aku juga merasa senang hari ini!" kataku cepat.

Eh? Sepertinya aku merasa mengatakan "Lagipula aku juga merasa senang hari ini!"?

TIDAKKKKKK!

Kenapa aku mengatakan seperti itu?!

"Aku juga merasa senang," kata Shaorin seraya tersenyum padaku, "terima kasih, taichou,"

"Ya, sama-sama… mungkin dari sekarang kau bisa memanggilku Kensei saja,"

Wajah Shaorin memerah secara tiba-tiba saat mendengarnya. Dan entah kenapa, pipiku juga ikut memerah.

"Baiklah… Kensei,"

Oh, pasti sekarang bukannya hanya pipiku yang memerah tapi, SELURUH WAJAHKU!

Sebenarnya, apa yang sebenarnya terjadi padaku?

TBC

***

Rukina : WHAT?! Napa TBC segala?

Author : Udah panjang, jadi q pikir ini bakal jadi 2 chapter … =_="

Rukina : Ya udah deh, di usahain cepat updater yang ini yoo..

Author : Sip! –inner : tumben nih si rukina baek- Jangan lupa REVIEW ya !!