Mata itu membelalak lebar, benar-benar dibuat tak berkutik oleh sang pemilik bermata hijau yang memandangnya dengan lekat dan tajam—seperti menusuk dirinya dari lahir maupun batin
Nggak ding, bercanda. Tapi ini enelan, tidak bisa diajak main-main yang didepan.
Benar-benar membuat bulu kuduk orang ini merinding saat yang mencegatnya melemparkan tatapan tajam yang meminta penjelasan padanya.
Dan Indy Kusuma Maharani tak pernah setakut ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya kepada seorang laki-laki dihadapannya.
.
.
.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I just own the plot of the story, and also this fic.
Warning: Human Name, High School, OC bertebaran di kali (?), OOC yang amat eksklusif mendewa, OOT yang cetar membahana, high posibility of crack pairings, (changing of the name, sorry if anyone mind on this matter.) Nesia = Indy so please no flame, totally randomness.
Pairing:MaleXNesia
Asli dari pemikiran author. Jika iya, itu dikarenakan oleh ketidaksengajaan, mohon dimaklumi. Kalau ada typos tolong bilang ya~ maaf apdetnya lama TvT
Long Live FHI and make the world better for to live for all of us ^_^
Happy reading guys~
P.S: Watch out for hints on this chapter :3
Suka tapi mau review? Yah silahkan review x3
Suka tapi gk mau review? Silahkan Fav~ :D
Gak suka tapi mau review? Ampun jangan flame xC
.
.
.
Berdiri dengan badan yang hampir membeku karena ketakutan, sang gadis berambut setengah ikal bergelombang dan lurus tersebut hampir saja mau pingsan gegara pemuda dihadapannya itu sedang mengancamnya untuk membuka mulut atas tantangan yang adiknya—Lili, dapatkan dari teman-teman perempuannya.
"Jawab pertanyaanku atau aku akan hantam kau dengan bazooka-ku."
Yang begini saja Indy sudah kelabakan untuk menjawab kalau diancam begitu. Bisa dilihat gadis itu bergidik ngeri karena ancamannya.
"...B-Baiklah, akan kujelaskan.. Tapi tolong.." ujarnya pelan, walau suaranya hampir terbata-bata.
"Hm? Apa?" tanyanya singkat padanya.
"Ki-Kita.. terlalu dekat." tambahnya yang sudah melihat ke arah lain dengan muka merona. Dan ia mengedipkan kedua matanya beberapa kali sebelum merona sedikit dan memberi Indy sedikit ruang untuk bergerak.
Indy dalam hati hanya bisa berharap semua ini akan cepat selesai. Ia melihat kepada pemuda berdarah Swiss tersebut.
"Sekarang cepat jelaskan." Ujarnya tak sabar, membuat Indy menghela napas sebelum memberitahukan bagaimana bisa adiknya yang beramput pirang pendek tersebut mendapatkan tantangan seperti itu. Dan setelah Vash mendegarnya, ia sekarang mengerti.
"Jadi begitu ya. Tapi kenapa kau tidak menahannya?" sergah Vash.
"Sudah kubilang, dia yang memaksa untuk melakukannya. Aku dan yang lainnya berusaha merubah tantangannya tapi ia tetap menginginkan tantangan itu daripada tantangan baru maupun pertanyaan yang gampang." Terangnya jelas, membuat sang pemuda berambut pendek tersebut memijat batang hidungnya, dan menghela napas berat. Kepalanya sudah mulai pusing akan hal sesepele ini.
"Astaga, Lili.." gumamnya pelan, membuatmu mencoba menenangkannya. Kau menepuk pundaknya pelan, mencoba menenangkannya.
"Maaf, Vash.. Aku–"
"Tidak. Bukan salahmu. Aku yang salah, membuatnya begitu. Harusnya aku ajari ia untuk tidak meniruku.."
"Aku bisa mengerti perasaanmu itu.." ujar gadis itu, membuat Vash menoleh ke arahnya.
Benarkah?.. Kau punya adik juga?" tebaknya dan Indy mengangguk.
"Ya.. Dan bukan hanya satu, tapi sepuluh–" ujarnya kaget, membelalakkan mata.
"Sepuluh?! Bagaimana orang tua kalian mengurusi kau dan saudara-saudarimu seperti itu?"
"Dengan kasih sayang, tentu saja. Kau bodoh atau apa?" Indy hanya bisa tertawa geli ketika melihat ekspresinya. Lucu, pikirnya.
"Kau pikir lucu, apa?" Vash hampir merasakan malu dan mengalihkan pandangannya dari Indy. Telinganya memerah dan Indy bisa lihat itu.
"Tapi," Vash melirik padanya. "Kami semua senang bersama, dalam suka maupun duka. Dan itu sudah jadi bagian dari hidupku waktu masih tinggal bersama mereka.." Indy memejamkan matanya, tersenyum kecil akan memori yang sekilas terlihat karena sudah direkam oleh otaknya seperti sebuah film. Indah, itulah yang ia bayangkan. Dan juga sedih karena harus menempuh pendidikan yang jauh dari keluarganya.
Vash terdiam sejenak saat melihatnya begitu dan dalam hatinya, ia merasa sependapat padanya.
"..." keheningan memenuhi mereka berdua.
"Ah, kita harus kembali." Indy sudah sadar dari semedinya (?) dan mengalihkan pandangannya pada Vash tapi jadinya berkeringat dingin saat melihat Vash mempunyai aura api sebagai latar belakangnya. "Uhm... Vash?"
"Sepertinya aku akan membunuh Elizabeta setelah ini." Suaranya tertahankan dengan gertakan gigi, menunjukkan bahwa ia sedang dongkol nan mangkel tingkat dewa.
"Sebaiknya jangan." ceplos Indy datar—dengan muka pokerface.
Indy tak menyangka–setelah interogasi oleh Vash berakhir dengan akhir yang lumayan membuatnya lega, sang gadis yang kita ceritakan ini sekarang dalam lautan manusia yang melingkar bak ular.
Kau bertanya kenapa?
Karena sekarang, dia duduk beriringan dengan teman-temannya yang awalnya datang untuk pesta selamat datang baginya, kemudian tiba-tiba berubah menjadi slumber party campuran.
Bagaimana tidak, mereka semua–termasuk yang laki-laki dan perempuan–berada dalam satu kamar yang sama, dan membentuk sebuah lingkaran besar. Untung saja kamarnya luas dan besar, jadi tidak berhimpitan. Untuk memainkan sebuah permainan yang lazim mereka lakukan; tapi tidak bagi Indy, ia tak mengerti apa-apa soal ini. Bahkan walau sudah dijelaskan arah permainannya seperti apa oleh teman perempuannya.
Ia sekarang duduk diapit oleh Arthur–teman semasa kecilnya di Indonesia yang juga kebetulan sekolah di Hetalia Academy; sekolahnya juga. Juga Kiku Honda–pemuda bermuka asia yang biasanya duduk disebelahnya saat di kelas. Dan sisi lain, tepat diseberangnya; juga ada Lili yang disebelah kanannya ada Vash yang berniat untuk mengawasi adik tersayang.
Dan Indy mulai tahu bahwa Vash itu pengidap brother complex akut.
Ludwig bertanya pada mereka, "Semuanya sudah hadir disini 'kan?" tapi Toris–pemuda asal Lithuania; yang Indy juga tak tahu letaknya di Eropa mana–berujar pada pemuda berambut pirang tersebut.
"Ehh.. Itu, Ivan masih dikamar mandi, Ludwig." Dan semuanya menyadari kalau sang pemuda berhidung terlalu mancung tersebut tak ada disamping Yao yang kebetulan duduk disampingnya.
"Iya ya, aru. Aku tidak lihat ia kembali.." ceplos Yao polos. Ludwig menghela napas singkat, "Kalau begitu, kita tunggu dia saja dulu."
Indy berdiri, "Aku akan mencarinya, tunggu sebentar." Sahutnya sebelum ia melangkah pergi dari ruangan kamar laki-laki yang mereka pakai sebagai tempat ritual permainan truth or dare yang akan mereka mainkan.
Gadis bermanik coklat kehitaman tersebut mencari-cari pemuda jangkung berambut platinum blonde tersebut, di kamar mandi.
"Katanya disini, kok gak ada..." ujarnya bingung dalam bahasa Indonesia.
Lalu ia mencari-cari lagi, di ruang tamu, dan dikamar lainnya juga tidak terlihat Ivan.
'Dimana dia–Astaga, aku menyesal menyewa apartemen luas ini dari Fujihara-san kalau begini jadinya,,...' ujarnya dalam hati karena kadang sering kesasar.
Kemudian ia menuju ruang makan, dan saat berniat mencari di ruangan lain, ia mendengar suara dari dapur dekat sana.
"Hm?" ia melangkahkan kakinya perlahan dan mengintip dari sela dinding ruang dapur.
Bingo.
Ivan ada disitu, sedang meminum sesuatu dari botol berbentuk bulat tipis dan duduk diatas counter dapur apatermennya. Indy keheranan akan gerak-geriknya. Dilihat seksama, muka pucat Ivan memerah, hidungnya memerah dan matanya sembab serta badannya hampir saja terlonjak kedepan. Seperti keadaan orang yang mabuk.
Indy mencoba berpikir, hampiri ia atau tidak ya.
Kalau tidak kembali dengannya, nanti permainan yang ditunggu teman-temannya itu ditunda.
'Ah, coba dekati saja dulu. 'Kan biasanya orang mabuk itu pasti ada masalah.' pikirnya polos dan melangkahkan kakinya ke ruangan dapur dan menuju Ivan yang masih meminum minumannya. Dan ia mencium bau menyengat. Astaga, ini bau minuman keras; pikirnya sambil menahan napas agar tidak terpengaruh baunya.
"Ivan.." sahutnya—mencoba memanggil lembut padanya, seraya sang pemuda berdarah Rusia tersebut mendongakkan kepalanya pada Indy dan tersenyum polos dengan muka memerah karena mabuk.
"Ah~.. ternyata Indy toh—hic!.."
Tepat dugaannya, Ivan sedang mabuk.
"Apa yang kau lakukan—hic.. disini?.." tanyanya lemas. "Justru aku yang bertanya padamu dengan kalimat itu, kenapa kau tidak kembali dengan yang lainnya?" tanyanya balik pada Ivan yang tak biasanya menggeleng pelan.
"Aku tidak—hic.. Ingin bermain.." gumamnya pelan, membuat Indy menelengkan kepalanya; penasaran.
"Kau ada masalah? Ceritakan saja, mungkin aku bisa membantu." Ujarnya ramah, duduk disampingnya; diatas counter.
Ivan menoleh padanya dan menatap gadis itu sejenak lalu menunduk sedikit.
"...Semuanya tidak ada yang mau berteman denganku—hic.." ujarnya, membuatmu bingung.
"Kenapa begitu?" tanyanya lagi. Ivan menambahkan, "Kalau aku berusaha untuk mendapatkan teman, mereka malah menjauh dan takut—hic... padaku,"
Ah, iya.. Kau itu kan punya aura yandere, Ivan; pikir Indy saat mengingat kejadian ia beraura begitu ketika Ivan dikelilingi oleh Toris, Eduardo dan Raivis yang gemetaran gegara bersamanya.
"Dan aku tidak suka begitu.. mereka hanya menganggapku sebagai pengganggu saja.. Aku benci, da.. Kenapa aku selalu sendirian.." ujarnya pasrah—mengernyitkan dahi sambil memasang ekspresi sedih. Indy yang melihatnya bertampang melas pun luluh, hatinya terasa tercubit.
'Ivan...' pandanganmu menyendu, menatapnya lalu tak sadar bahwa kau langsung memeluk tubuh besarnya, membuat ia mendongakkan kepalanya yang tertunduk dari tadi dan menoleh pada gadis berkulit eksotis tersebut.
"Indy?.."
"Kau tidak sendirian, Ivan. Percayalah padaku..Kau boleh, kok, jadi temanku..dan Natalia dan Yekaterina juga ada bersamamu..Percayalah, bahwa kau tidak sendirian..." ujarnya lembut pada Ivan, membuat Ivan terdiam dan perlahan membalas pelukannya sebelum membenamkan kepalanya pada pundak sang gadis berdarah Melayu tersebut. Tangan gadis itu menepuk perlahan punggung lebarnya dan kepala Ivan dengan lembut. Seperti menenangkan anak yang menangis.
"Spasibo, Indy.." bisiknya dengan suara serak, dan itu diterima jelas oleh Indy. Mereka berpelukan seperti itu selama beberapa saat. Ivan melepaskan kukungan kedua lengannya dari Indy yang tersenyum kecil dan menghapus air mata yang jatuh dari pipi pemuda bermata violet tersebut.
"Sudah, jangan menangis." Ujarnya, mencoba menenangkannya.
"Apa laki-laki tidak boleh menangis?.." tanyanya pelan. Indy tersenyum kecil saat mendengarnya.
"Tidak. Laki-laki sama seperti perempuan. Disaat yang tepat, mereka akan menangis untuk menghilangkan beban dari dirinya sendiri." terangnya jelas, membuat Ivan mengangguk kecil.
"Kau benar-benar gadis yang baik, Indy. Aku serasa ingin kau bersatu denganmu, da~" ceplosnya pada Indy yang menjadi bingung. "Hah?"
Sementara Ivan mengangkat kedua bahunya dengan santainya. "Tidak, da. Aku hanya bercanda saja. Ayo, kita kembali, mereka pasti sudah tak sabar menunggu kita." Ujarnya seraya berdiri dan membantu Indy turun dari counter dapur dan kedua orang itu berjalan balik ke kamar. Tak tahu kalau botol tadi yang berisi vodka itu masih berada di dapur Indy, berdiri dengan elitnya dengan isi yang sudah kosong.
"Kalian lama sekali, daze~" semprot Yong Soo yang sudah duluan bermain bersama yang lainnya. Karena kelamaan mencari, dan yang lainnya sudah tak sabar untuk bermain—apalagi yang laki-laki, akhirnya Ludwig membiarkan mereka bermain duluan tanpa menunggu mereka berdua. Dan para gadis yang ikut serta anehnya jadi tambah semangat.
Istilah 'makin ramai makin bagus' tertera jelas di dahi mereka semua.
"Giliranku! Haha~" Alfred tertawa keras seraya ia menunjuk Arthur yang mendecik keras; mengatakan kalau ia berisik sekali.
"Arthur, Jujur atau Tantangan?" tanya Alfred mantap padanya yang dibalas Arthur dengan tak kalah seriusnya. Dua orang itu saling bertatapan sengit. Membuat Indy dan yang lainnya merasaan hawa panas yang tak tertahankan.
Aura ingin saling perang; tepatnya.
Wow, suddenly it'll be a battle arena.
"Hmph, Tantangan! Aku pilih tantangan! Dan aku takkan kalah." ujarnya tegas, membuat senyuman lebar dari bibir anak Amerika asli itu merekah dan berteriak 'hore' dengan lagaknya yang aloy (1) nya seperti ketiban durian runtuh. Dan Arthur tidak ingat kalau Alfred suka memberikannya tantangan maupun pertanyaan yang membuat pemuda beralis tebal itu tak sabar menonjok mukanya hingga hancur.
"Hore! Bagus dech kalau kau pilih tantangan karena aku sudah punya satu untukmu!" ujarnya membuat Arthur bergidik, menatap horor orang yang ia jadikan sebagai rivalnya tersebut. Kalian tak tahu? Arthur dan Alfred adalah ketua dan wakil OSIS di sekolah.
"Dasar.. Sudahlah! Langsung saja, apa tantangannya?" sergah Arthur seraya mulai pusing akan tingkah pemuda berkacamata satu ini.
Alfred tersenyum lebar. "Kau harus menari caramelldansen didepan kami semua!" dan hancur sudah harga diri seorang Arthur Kirkland ketika ia mendeklarasikan tantangan yang akan ia jalani.
Mau taruh dimana mukanya yang tampan bak pangeran Kerajaan Inggris—kata dia lho ya—kalau dia benar-benar menari tarian memalukan seperti itu.
Indy berkedip beberapa kali, bersamaan dengan beberapa gadis yang memekik riang dan tertawa kecil, serta para pemuda yang berasal dari Eropa Utara–Nordics Boys– tersebut juga hampir memuntahkan tawa mereka. Francis dan yang lainnya mencoba untuk tidak tertawa, Antonio meminta kantong muntah pada Lovino yang memandangnya najis, Ludwig dan Feliciano yang hampir pingsan, Bella yang hampir saja membuat kakaknya–Nickholas– hampir sekarat gegara dicekik olehnya, dan Gilbert tertawa keras bersama Matthias yang berdarah Denmark.
Indy berbisik pada Kiku. "Psst, Kiku-kun." Bisiknya, membuat Kiku mendekatkan kepalanya pada bibir sang gadis.
"Ada apa, Indy-san?" bisiknya balik, mencoba mendengarkan bisikannya setelah meredakan tawanya yang sempat keluar dari mulutnya.
"Kenapa semuanya terlihat senang, sich? Apa itu caramelldansen? Tarian kah?" tanya Indy penasaran.
"Begini, Indy-san. Caramelldansen itu lagu remix dari band Swedia yang populer akhir-akhir ini, dan cara menarinya juga unik. Jadi wajar kalau semuanya tertawa membayangkan Arthur-san menari dengan tarian itu. Alfred-san juga kadang memberikan tantangan maupun pertanyaan aneh pada orang-orang disekitarnya—"
"Termasuk kau juga?" tebaknya dan Kiku mengangguk pasrah dan selesailah diskusi kasak-kusuk dadakan antara seorang Indy Kusuma Maharani dan Kiku Honda tentang lagu tarian tersebut yang menjadi topik dadakan mereka juga.
Sementara Alfred menanti sang ketua OSIS itu maju ke tengah lingkaran untuk menari, Arthur mencoba untuk menahan malunya karena harga dirinya dipertahankan disini. Indy menoleh padanya, "Kau tak apa?" ujarnya pelan dan Arthur mengangguk sekali padanya dan berkata.
"Ya, hanya saja aku butuh persiapan mental–"
"Itu mah sama saja, tolol."
JLEB
Perkataan dari teman masa kecil itu memang yahudnya itu lho... disini; pikir Arthur yang dalam bayangannya sudah pingsan kena panah imajiner besar yang tembus didadanya.
Arthur hanya bisa menghela napas dan kemudian berdiri dan berjalan ketengah lingkaran sendirian. Ia sudah siap untuk menari. Didalam dirinya; harga diri dipertaruhkan habis-habisan.
Alfred meminjam ponsel merah-hitam milik Matthias dan bersiap untuk memutarkan lagunya.
Lelaki bermata giok gelap itupun menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya sebelum berujar mantap.
"Mainkan musiknya!"
Suara dengkuran terdengar jelas saat jam menunjukkan waktu jam setengah dua pagi di dini hari. Semuanya yang bermain dikamar luas tersebut tertidur pulas. Tak ada lagi tawa keras dan cekikikan layaknya hantu asli Indonesia itu terdengar, hanya ada dengkuran halus dan kasar. Termasuk Indy—yang juga tadi ikut-ikutan tertidur pulas disana—mulai membuka matanya dan terbangun. Ia mendudukkan dirinya dan selama beberapa menit seperti itu. Untuk mengumpulkan nyawa.
Ia melihat ke sekeliling. Semuanya yang tertidur pulas—bahkan Gilbert, Francis dan Antonio mengorok dengan dengkur keras. Disampingnya ada Matthias dan Lukas yang menendang perutnya yang tertidur. Disisi kanan Elizabeta tidur dekat Bella dan Nickholas yang berpelukan karena dinginnya udara dimalam hari, dan yang para gadis lainnya berbagi selimut termasuk Arthur yang dipeluk erat sebagai guling oleh Alfred yang sekenanya mendengkur keras. Lily dan Vash juga berbagi bantal besar. Untung semua sudah pakai piyama masing-masing jadi bakal tak ada yang masuk angin setelah ini.
Lalu Indy merasakan sensasi tubuh bawahnya. Ia harus ke kamar mandi.
Segera ia berangkat dengan perlahan membuka lalu keluar dari ruangan tanpa menimbulkan suara agar tidak membuat mereka terbangun setelah itu ia lari ke kamar mandi utama.
"Ahh.. Leganya.." senyum lega setelah 'bersemedi' di kloset itu memang melegakan hati gadis tersebut. Dan saat itu juga perutnya mulai memainkan konser didalam tubuhnya. Indy menghela napas. "Astaga.. Aku lupa kalau tadi aku tidak makan malam.." ujarnya pada dirinya sendiri sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur–untuk sekedar minum atau membuat susu cokelat kesukaannya. Tapi langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara berisik dari dapur.
"Hm? Kali ini apa lagi.." pikir Indy dengan wajah malas dan berjalan agak cepat untuk masuk ke ruang dapur sebelum membeku ketika gadis itu melihat ke dalam ruangan tersebut.
Seorang pemuda dengan rambut coklat dan keriwil yang mencuat dari rambutnya; yang tengah memungut beberapa buah-buahan yang sepertinya ia jatuhkan dan memasukkannya kembali ke dalam kulkas. Dan disaat itu juga ia membeku karena ketahuan kepergok menyelinap masuk ke dalam sang pemilik dapur.
"L-Lovino?" Kedua matanya berkedip beberapa kali, terlihat bingung kenapa pemuda satu ini langsung bisa berada di dapurnya.
"Basta—Ah! Sedang apa kau disini?" tanyanya agak ketus. "Lha, kamu juga—Sedang apa kau di sini?"
JLEB
Pertanyaan balik ke seorang Lovino Vargas itu sangat menohok. Pemuda berdarah Italia hanya bisa terdiam dan memalingkan mukanya kearah lain.
"A-Aku hanya lapar. Dan mau makan." "Di jam 2 pagi dini hari? Nggak salah tuh?" dan pertanyaan itu tambah menohok dari yang tadi ia ucapkan.
"A-Aku—sudahlah, aku lapar jadi aku mau makan sesuatu. Kau sendiri sedang apa?" tanaynya balik dengan sengit.
Indy berjalan menuju kearahnya sambil membalas dengan santai, "Aku tadi ke kamar mandi, dan pas mau balik ke kamar—eh, tahu-tahunya ada kau di dapur." Dan penjelasan itu hanya di sahut oleh gumaman singkat.
"Begitu." Dan hening sesaat. Indy menatap Lovino yang tengah menyusun buah-buah yang jatuh utnuk dimasukkan kembali ke dalam kulkas.
"Memangnya kau mau makan apa? Biar aku buatkan." Ujar Indy baik-baik—tapi malah disambut ketus olehnya.
"Aku cuma mau minta tomat saja. Aku nggak terlalu lapar. Lagipula, sudah malam." Seraya bangkit dan berdiri sambil menatap kearahnya.
Lah, dia yang lapar tapi malah bersikap begitu.
"Hei, aku serius—"
"Serius soal apa?"
Hah?
Indy tidak mengerti, apa maksud darinya.
"Lovino, aku tidak mengerti—"
"Kau memang tidak mengerti. Tidak mengerti apapun, raggaza." Timpalnya dengan mata memincing tajam—membuat Indy keheranan dan bingung, tapi memilih untuk diam.
Kenapa? Kenapa Lovino berbicara begitu padaku? Bukannya tadi di tidak bersikap seperti ini? Lalu bagaimana persahabatan baru mereka? Padahal mereka mulai berteman baik.
Ada apa dengannya?
"…Lovino, kalau kau ada masalah, ceritakan saja padaku, aku siap mendengar—" ujarnya mencoba untuk menenangkannya.
"Tak ada yang perlu diceritakan. Dan kau takkan pernah bisa mengerti, Indy." Selanya sengit sebelum membuat Indy bungkam dan memilih untuk pergi dari tempat itu—meninggalkan sang gadis seorang diri.
Yang hanya bisa terpaku dan keheranan melihat perubahan teman barunya itu.
Indy berpikir, "Sebenarnya dia punya masalah apa? Apa yang sebenarnya terjadi, sehingga aku juga diikutkan…"
Bukannya keGE-ERan ya, tapi rasanya Indy mulai terlibat untuk hal-hal yang tidak ia ketahui.
Seperti masalah Lovino tadi—yang mengatai bahwa ia tak tahu apapaun.
"Lovino… kenapa…."
Dan Indy hanya bisa berdiam diri ditempat itu saja tanpa bergeming.
.
.
.
To be Continued.
Penjelasan!
Aloy artinya seperti istilah lebay di daerah saya.
Regards,
D.N.A. Girlz
