7 Days Love
.
.
.
7 Days Love © dheeviefornaruto19
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Warning(s): AU, OoC, typos?
.
.
.
Happy reading! :)
.
.
.
Hari Keenam: Alasan
.
.
Hari ini semua anak-anak kelihatan lebih santai. Tidak ada anggota OSIS yang menyerukan adanya kegiatan seperti kemarin-kemarin. Bahkan mereka tidak disuruh bangun pagi-pagi, sehingga hari ini banyak yang bangun siang. Walau sebenarnya terlihat menyenangkan, tapi jika hanya duduk-duduk di pantai, jalan-jalan ke mal, atau malas-malasan sampai siang, rasanya bosan juga.
"Daripada kita jamuran di sini, kita ke Arena Game saja!" seru Kiba dengan wajah bosan. Sejak tadi kerjaannya main PSP. Kalau bosan ia akan menjahili Lee yang berbaring di sebelahnya, memainkan bulu mata lentiknya.
"Memangnya hari ini benar-benar nggak ada kegiatan?" sahut Sai sambil menggambar di buku catatannya. Sedangkan Shino tetap kalem di tempatnya, memainkan beberapa serangga kesayangannya.
"Ini sudah siang! Lagipula, ke mana Shikamaru dan Temari? Ayolah, mereka nggak akan tahu!" jawab Kiba frustasi. Bayangkan, tiga jam tanpa melakukan apa-apa! Kiba mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.
"Aku malas. Capek," ujar Sai.
"Iya, panas, tahu. Kau pikir Arena Game itu tidak jauh dari sini?" timpal Lee. Tumben, si hijau penuh semangat itu menjadi malas sekarang.
"Kalian sedang apa?"
Naruto datang menghampiri keempat temannya itu dengan wajah sama bosannya, mengambil tempat duduk di sebelah Shino. Dengan usilnya, ia menaburkan beberapa pasir pantai di dekatnya ke atas serangga-serangga Shino. Shino segera menepis tangan Naruto dengan kesal.
"Aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian," kata Naruto tiba-tiba.
Melihat raut wajah Naruto yang menjadi serius, Kiba dan yang lainnya berhenti dari kesibukan masing-masing dan memandangi Naruto dengan penuh tanda tanya.
"Kalian merasa aneh nggak, kalau ada seorang cewek yang marah pada kalian karena cewek lain?"
"Pertanyaanmu berbelit-belit," jawab Lee, yang dibalas Naruto dengan timpukan di kepalanya.
Sai malah balik bertanya. "Bukannya itu bagus?"
Kini semua perhatian tertuju pada Sai, minus Shino.
"Itu artinya cemburu," lanjut Sai sambil menerawang. Naruto dan yang lainnya memperhatikan dengan seksama. "Cemburu pada cewek lain, dengan kata lain… dia menyukai kita."
Naruto tersentak mendengarnya. Kenapa aku tidak memikirkan sampai ke situ?! batinnya frustasi dalam hati. Kini giliran dia yang mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Kiba dan yang lainnya hanya cengo melihatnya.
"Aaarrrggghhh... Pusing!"
.
.
•xxx•
.
.
Hinata benar-benar sangat bosan kali ini. Sudah siang begini, tapi masih belum ada pemberitahuan kegiatan dari OSIS. Dari tadi ia merasa tidak melakukan kegiatan yang berarti. Pagi tadi Hinata membantu Sakura memasak. Setelah itu ia membersihkan meja makan dan menyapu di sekitar penginapan. Kemudian Hinata dan ketiga temannya pergi ke kafe untuk minum kopi. Tetapi setelah itu, semuanya kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Sakura kencan dengan Sasuke, Tenten ke Arena Game, dan Ino sedang berada di stan ramalannya.
Entah sudah berapa kali Hinata menyusuri pantai untuk menghilangkan bosan.
Debur ombak yang pelan dan burung-burung camar yang berterbangan menghiasi pemandangan laut siang itu. Sinar matahari yang tidak terlalu terik membuat Hinata nyaman untuk berada di tepi pantai. Sembari melangkahkan kakinya, Hinata kembali larut dalam pikirannya. Ia kembali mengingat hari kemarin.
"Jangan pergi… Hinata."
Suara Naruto kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Nada kalimatnya yang putus asa sekaligus merana…
Naruto… ada apa dengannya?
Hinata tidak tahu harus sedih atau malu mengingat pelukan kemarin. Apa maksud Naruto? Sebenarnya itu bukan pertama kalinya Naruto memeluk Hinata, tapi entah kenapa Hinata merasa kemarin itu adalah sesuatu yang berbeda. Hinata yakin kalau kemarin Naruto tulus memeluknya. Tapi... sekali lagi, apa maksudnya? Kalau Naruto hanya ingin menyelamatkanku dari tabrakan kemarin, ia kan tidak perlu memelukku segala, batin Hinata dalam hati.
"Hei, hei. Melamun aja."
Mendengar suara itu, Hinata menolehkan kepalanya dengan kaget. Ternyata Ino. Gadis itu sedang berjalan di sebelahnya.
"Bosan ya nggak ada kerjaan," kata Ino.
Hinata mengangguk. Kata Tenten, Ino sudah menghentikan bisnis ramalannya hari ini. Pantas saja ia kelihatan tidak bersemangat, mengingat betapa besar keuntungan yang didapatnya dari bisnis menjanjikan tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, besok kan mereka sudah kembali ke rumah masing-masing.
Bicara soal ramalan, Hinata jadi ingat kalau Naruto pernah bilang soal takdir 'cinta 7 hari' padanya. Kalau tidak salah, Naruto mengucapkannya saat mereka di hutan.
"Ino… apa Naruto pernah mengunjungi stan ramalanmu?" tanya Hinata.
Ino mengangguk. "Penasaran dengan ramalan Naruto?"
Hinata menghentikan langkahnya, diikuti Ino. Wajahnya menyiratkan rasa penasaran yang amat-sangat. Ino terkekeh geli.
"Well… aku berada di luar stan waktu itu, jadi aku tidak begitu menangkap apa yang dikatakan nenek Chiyo pada Naruto. Tapi aku yakin ia menyebut-nyebut soal mawar putih," jawab Ino seraya mengingat-ingat kembali. "Kalau kau ingin tahu rinciannya, tanyakan saja pada Tenten."
Hinata terus berjalan sambil memandang pasir pantai dengan hampa. Samasekali tidak ada clue. Mawar putih? Di hari ketujuh, apakah gadis itu membawa mawar putih? Entah kenapa Hinata jadi tertarik dengan ramalan itu.
"Aku tidak tahu ada apa dengan kalian," kata Ino sambil memandang ke depan. Tepatnya ke arah seseorang. "Coba kalian bicarakan baik-baik. Jangan dipendam dalam hati," lanjutnya sambil menepuk bahu Hinata. Kemudian gadis itu mempercepat langkahnya, meninggalkan Hinata.
Hinata mengangkat kepalanya dan melihat Naruto sedang berjalan ke arahnya. Ino berjalan melewatinya dan melemparkan senyum pada Naruto, yang dibalas sama olehnya.
Mendadak Hinata merasa tenggorokannya tercekat sesuatu. Langkah kakinya terhenti.
Tak butuh waktu lama bagi Naruto untuk berjalan hingga ke hadapan Hinata. Keduanya saling memandang untuk sesaat, membiarkan deru ombak pantai mendominasi suasana.
Tatapan mereka terkunci.
Hati mereka seperti bertautan.
.
.
•xxx•
.
.
Sakura dan Sasuke sedang berjalan-jalan di taman ketika ponselnya berbunyi.
Mereka berhenti melangkah. "Sebentar, Sasuke. Ada telepon," ujar Sakura. "Halo?"
"Sakura, ini Iruka," jawab orang di seberang sana.
Sakura jadi kaget. "Eh, ada apa, Kak Iruka?" tanya Sakura heran.
"Apa Naruto bersamamu?"
"Tidak, aku sedang bersama Sasuke sekarang. Apa Kak Iruka sudah menghubungi Naruto?"
"Dari tadi aku menelepon ke ponselnya, tapi tidak diangkat. Bisa kau tolong sampaikan sesuatu padanya? Ini agak mendesak."
Berikutnya Sakura terbelalak kaget di tempatnya.
.
.
•xxx•
.
.
Angin pantai berhembus pelan, menerpa kedua remaja yang sedang duduk di bangku pantai itu. Kali ini Sang Waktu terasa semakin cepat berjalan, padahal rasanya baru sebentar mereka duduk diam tanpa sepatah kata pun.
Makin lama keheningan itu makin tidak mengenakkan.
"Aku…," kata Naruto dan Hinata bersamaan. Keduanya langsung menjadi kikuk.
"Kau dulu," kata mereka kembali bersamaan. Kini mereka jadi tambah canggung.
"Kau saja!" Lagi-lagi mereka mengucapkannya bersamaan. Setelah terdiam beberapa saat, mereka hanya bisa tersenyum geli. Baik Hinata dan Naruto lega karena ketegangan itu mulai mencair.
"A-aku… minta maaf soal kemarin," kata Hinata sambil memandang ke laut. "Aku sudah bicara kasar padamu. Aku tidak bermaksud menyakitimu."
Naruto ikut memandangi lautan, kemudian ia menghela napas. "Aku juga minta maaf karena membentakmu. Aku yakin kau pasti punya alasan memarahiku."
Wajah Hinata menjadi murung. "Ya, aku memang punya alasan."
Naruto mengangguk yakin. "Sebenarnya aku juga mau minta maaf untuk kemarin-kemarin, jika aku pernah menyakiti hatimu juga," katanya ragu-ragu. "Kau bukan tipe pendendam kan?"
Hinata tersenyum. Kemudian menggeleng.
"Baiklah, sekarang aku akan mendengarkan alasanmu," kata Naruto sambil memandangi Hinata.
"Aku harap kau tidak menjauhiku setelah mendengarnya," lanjut Hinata masih tetap memandang ke depan.
Naruto tersenyum lebar. "Untuk apa aku menjauhi…"
"Aku suka padamu, Naruto."
Naruto terdiam seketika, begitu juga Hinata. Walau begitu, ekspresi keduanya tetap tidak berubah. Hinata bahkan sangat tenang mengucapkannya. Kali ini wajahnya memang memerah karena gugup, tapi ia benar-benar akan melanjutkan semua ini.
"Aku sudah lama memendam perasaan ini. Tapi aku tidak ingin mengatakannya, sebab aku takut kau akan menjauhiku. Jujur, aku sangat iri melihat Naruto yang sangat perhatian pada Sakura. Andai saja aku berada di posisi Sakura, aku pasti akan senang. Tapi aku bukanlah Sakura. Dan aku tidak ingin melihatmu terus-terusan terluka karena Sakura, Naruto..."
Tangan kekar Naruto melingkari kedua bahunya dari depan, menariknya untuk mendekat. Belum hilang keterkejutan Hinata, Naruto langsung menaruh kepalanya di bahu Hinata dengan kedua tangan memeluk tubuhnya erat.
Hinata tidak tahu harus membalas pelukan itu atau diam saja. Yang pasti, ia merasa sangat nyaman dalam dekapan Naruto.
"Aku tidak ingin membohongi perasaanku lagi," lanjut Hinata dengan pelan. Ia bisa merasakan hembusan napas Naruto di lehernya. Pemuda itu mendekapnya lebih erat dibandingkan pelukan-pelukan sebelumnya.
Naruto bisa merasakan detak jantungnya yang makin kencang saat ini. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Hinata.
"Aku tidak akan memintamu menjawab sekarang," kata Hinata lagi. Ia masih belum membalas pelukan itu. "Bahkan jika kau tidak mau menjawab… aku tidak apa-apa."
"Aku akan memberimu jawaban," kata Naruto kemudian. "Walau bukan sekarang, tapi bisakah kau biarkan saja semua ini?" tanya Naruto sambil membenamkan kepalanya di rambut Hinata. Aroma tubuh gadis itu menyeruak indera penciumannya. "Lima menit saja. Aku ingin memelukmu lima menit saja."
Hinata berharap ini bukan pelukan terakhir dari Naruto.
.
.
•xxx•
.
.
Sakura mencari-cari Naruto dengan kebingungan. Biasanya pemuda itu nongkrong bareng Kiba dan teman-temannya di Arena Game, tapi saat Sakura menanyainya, mereka bilang Naruto tidak bersama mereka sejak tadi.
Tadi Iruka mengatakan padanya kalau paman Naruto, Jiraiya, masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh lagi. Paman Jiraiya adalah satu-satunya keluarga Naruto yang tersisa semenjak kedua orang tuanya meninggal. Jika dilihat dari silsilah, Jiraiya adalah kakak ayah Naruto. Ia dan putranya, Iruka-lah yang mengasuh Naruto sejak itu, dan Naruto telah menganggap mereka sebagai ayah dan kakaknya sendiri. Sebagai teman Naruto sejak SMP, Sakura cukup mengenal kehidupan Naruto. Sakura yakin berita ini pasti akan sangat mengguncang Naruto.
Ketika melihat Naruto berjalan ke penginapan, Sakura cepat-cepat menghampirinya.
"Naruto! Sesuatu terjadi pada pamanmu!" kata Sakura panik.
Alis Naruto bertaut. "Apa?"
"Tadi Kak Iruka meneleponku. Ia bilang kalau Paman Jiraiya masuk rumah sakit! Penyakit jantungnya kambuh lagi!"
Naruto terperangah. "Kenapa Iruka tidak langsung meneleponku, malah meneleponmu?"
Sakura berdecak. "Ia bilang kau tidak mengangkat teleponnya dari tadi pagi. Sudahlah, sekarang kemasi barangmu! Mending kau langsung pulang saja, toh besok kita juga sudah mau pulang!"
Sakura mendorong tubuh Naruto agar berjalan masuk ke penginapan. Gadis itu sangat panik. "Aku tidak bisa ikut, jadi sampaikan saja salamku untuk Kak Iruka dan Paman Jiraiya. Mungkin aku baru bisa menjenguk besok."
"Apa Iruka memberitahu nama rumah sakitnya?" tanya Naruto ikut-ikutan panik seperti Sakura. Keduanya berjalan tergesa-gesa menuju kamar Naruto.
"Ya, Rumah Sakit Senju. Aku akan memberitahu Temari kalau kau pulang hari ini," kata Sakura sambil berjalan ke kamar Temari.
Naruto tersenyum sekilas pada Sakura sebelum masuk ke kamarnya. "Terima kasih, Sakura."
.
.
•xxx•
.
.
Hinata sudah selesai membereskan kopernya. Baju-baju dari lemari sudah ia pindahkan ke kopernya. Peralatan mandi juga sudah ia bereskan, tinggal dimasukkan ke koper. Menurut Ino, besok mereka semua akan kembali pukul sembilan, naik bus menuju SMA Konoha. Setelah itu, barulah semua siswa bisa liburan sepuasnya di rumah.
Setelah mengunci pintu kamar, Hinata berjalan keluar menuju ke depan penginapan. Dilihatnya Tenten sedang kerepotan membawa piring-piring kotor ke dapur.
"Butuh bantuan?" tanya Hinata sambil menghampiri Tenten. Tenten hanya cengengesan sambil menggosok piring-piring itu dengan spons.
"Tentu. Di depan masih banyak piring kotor, bisa kau bawa ke sini?"
Dengan cekatan, Hinata segera mengambil sisa piring-piring kotor di depan penginapan. Dilihatnya meja dan kursi di sana sudah hampir kosong. Mungkin OSIS sudah mengembalikannya. Maklum, besok kan sudah mau pulang.
Ketika pekerjaan mereka telah selesai, keduanya duduk di bangku dapur sambil menyantap sandwich.
"Makasih ya," kata Tenten sambil mengunyah. Mulutnya sampai penuh. "Kalau tidak ada kau, kurasa aku masih belum selesai dari tadi."
Hinata hanya tersenyum. Tiba-tiba ia teringat soal perkataan Ino yang menyuruhnya untuk menanyakan rincian ramalan Naruto pada Tenten.
"Tenten, aku..."
Tiba-tiba Tenten tersentak, "Astaga! Aku belum kasih tahu kamu ya?"
Hinata jadi kaget karena perkataannya tiba-tiba disela Tenten. "Apaan?"
"Naruto sudah pulang duluan!"
Hinata memandang Tenten dengan tidak mengerti. "Kapan?"
"Baru saja," jawab Tenten. "Kurasa dia belum jauh. Kejar dia! Nyatakan perasaanmu padanya!" ujar Tenten bersemangat.
Hinata hanya tersenyum miris. "Sudah kok."
"What?! Terus dia bilang apa?" tanya Tenten super penasaran.
"Dia belum jawab."
Tenten menjentikkan jarinya. "Nah, itu dia. Cepat susul dia! Tanyakan, apa dia menerimamu atau tidak!"
Hinata memandangi Tenten dalam diam. Lagi-lagi perasaannya bergejolak.
.
.
•xxx•
.
.
"Apa?"
"Aku benar-benar harus melakukannya?"
"Baiklah."
Naruto memutuskan pembicaraannya dengan Iruka di telepon. Ia menatap ponselnya dengan tatapan kosong.
Naruto sedang berdiri di halte dengan sebuah ransel di punggungnya. Sesekali ia melihat ke arah pantai, seakan menanti seseorang.
"Aku suka padamu, Naruto."
Naruto menundukkan kepalanya, frustasi. Lagi-lagi suara Hinata terngiang di kepalanya, entah sudah berapa kali.
Apa aku akan pergi begini saja?
Lalu bagaimana dengan Hinata?
Memorinya berputar. Ia ingat saat bertemu Hinata di mal. Gadis itu memperkenalkan namanya untuk pertama kali. Ia ingat saat Hinata mengembalikan jam tangan yang hendak diberikan Naruto pada Sakura. Saat itu Hinata menyuruhnya untuk terus optimis. Bahkan Naruto memeluknya. Ia juga ingat ketika Hinata menggenggam tangannya di dalam saku jaketnya kala Naruto kedinginan di dalam hutan. Tangan mereka yang bertautan. Senyuman manis Hinata. Pandangan tulus darinya.
Tiba-tiba Naruto mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas kalau Hinata sedang berlari ke arah halte. Atau tepatnya, ke arahnya.
Baiklah, kalau aku harus memberinya jawaban.
Gadis itu sudah tiba di hadapan Naruto. Napasnya terengah-engah.
"Kenapa kau... pergi tiba-tiba, Naruto?" tanya Hinata setelah berhasil mengontrol napasnya.
Naruto merasa hatinya terluka, perih sekali. "Kalau maksudmu mengejarku hanya untuk menanyakan jawabanku, aku rasa aku tidak bisa menjawabnya sekarang."
"Aku memang ingin menanyakannya," jawab Hinata. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu pulang secepat ini, tapi aku harap kau mau mengatakan sesuatu padaku sebelum pergi."
Naruto memandangi Hinata lekat-lekat. Kemudian ia menghela napas. "Aku tidak ingin membuat gadis sebaik dirimu terluka lebih dalam lagi. Jadi dengarkan baik-baik."
Hinata hanya terdiam memandangi Naruto.
"Berhentilah menyukaiku."
Ekspresi Hinata menegang.
"Aku bukanlah orang yang pantas untukmu, Hinata. Aku tidak pernah mengerti soal dirimu. Selama ini aku selalu menyakitimu. Malah kau yang selalu perhatian dan baik padaku. Untuk gadis sebaik dirimu, kuharap kau menemukan orang lain yang pantas untuk kau sukai."
Hinata memandangi Naruto dengan tajam. Kini air matanya sudah mengalir perlahan, membasahi kedua pipinya. "Apakah sekarang kau lebih memikirkan siapa gadis dalam ramalan itu? Kalau itu alasannya, kau tidak perlu mengatakan alasan penolakanmu seperti tadi. Kau membuatku muak."
"Saat ini aku tidak sedang ingin memikirkan siapapun. Baik kau atau gadis dalam ramalan itu, aku tidak ingin memikirkan salah satu dari kalian. Aku sudah cukup pusing, tertekan, bahkan terluka dengan semua ini. Aku ingin menenangkan perasaan dan pikiranku. Jadi tolong mengertilah," balas Naruto dengan suara meninggi.
"Apa kau selalu senaif ini?" tanya Hinata dengan sinis. "Baik, aku menerima jawabanmu. Tapi aku tidak akan menyangka kalau kau juga se-egois ini. Kau lebih memikirkan betapa terlukanya perasaanmu dibandingkan aku. Kau tahu tidak, kalau aku juga sama terlukanya sepertimu!"
Naruto terdiam sambil terus memandangi Hinata. Ia rela dimaki-maki, dicemooh, atau kalau perlu dihajar saja sekalian.
"Kuharap kau mau mengerti kali ini. Saat kau memarahiku kemarin, aku yakin kau punya alasan. Aku pun sama. Aku juga punya alasan atas semua yang telah kukatakan dan kulakukan," kata Naruto.
Hinata baru ingin bertanya lagi, tapi sebuah bus berhenti di hadapan mereka. Naruto cepat-cepat menyeka air matanya yang hendak jatuh. Kemudian ia menegaskan ucapannya, "Itulah jawabanku. Selamat tinggal," kata Naruto sedih, "... Hinata."
Naruto melangkah menuju bus itu. Langkahnya terasa sangat berat. Hatinya sangat sakit. Ia segera mengambil tempat duduk, tidak sedikitpun ia menoleh ke arah Hinata.
Sekarang, hanya ini jalan satu-satunya. Ada sesuatu yang benar-benar membuat Naruto harus menjaga jarak di antara mereka. Tapi Naruto memilih untuk tidak memberitahukannya pada Hinata.
Seperti yang ia katakan tadi...
Alasan.
Segala sesuatu pasti ada alasannya.
Kemudian bus itu berjalan pergi.
Keduanya menangis di tempat mereka. Menangisi kenapa takdir begitu kejam terhadap mereka.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Rasanya ceritanya makin angst yaa? Maklum, lagi hobi nulis cerita angst, hehehe, gomennasai... Ohya, tinggal satu chap lagi! Hore!
Btw, jangan kesal dulu pas baca ending chapter 6 ini. Ingat, segala sesuatu pasti ada alasannya. Jadi... semuanya akan terkuak di chapter berikutnya! So, stay tune for next chap!
Akhir kata, mind to review?
Sign,
Devi Yulia
.
.
.
NB: Balasan buat guest :)
Manguni: Wah, kependekan ya? Menurutku udah cukup panjang loh... :)
Guest: Ini sudah dilanjutkan :)
mizz k: Ini sudah di-update :)
aliya-chan: Baguslah kalau keren... Ini sudah di-update :)
U. Dila-chan: Makasiih... Ini sudah di-update :)
NH: Bukannya nggak bertanggung jawab, tapi lagi sibuk soalnya...
*mungkin ada beberapa review dari reviewers yang login yang belum dibalas, gomen, author lagi sibuk buanget soalnya...
