Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 6: My New World

"Vincent! Bangun!" teriak Gil tepat di telinga Vincent.

"Hnn?" gumam Vincent. Dia membuka matanya sedikit dan tertidur kembali.

"Baka Dormouse!" umpat Gil. Sejak mengikat kontrak dengan Dormouse kemarin malam, Vincent terus tertidur. Padahal sekarang sudah jam 12 siang! Berbagai macam cara sudah Gil lakukan untuk membangunkan adiknya itu, tak ada yang berhasil.

Ada, Elliot, Reo, Oz, Jack, Break, dan Sharon sudah berangkat "kerja", sedangkan Alyss, Alice, dan Echo yang sedang libur tinggal di markas. Gil dan Vincent ikut tinggal di markas karena tidak memiliki sesuatu untuk dikerjakan.

"Haaahh!", desah Gil. Dia menyerah untuk membangunkan Vincent. Merasa bosan dan tidak memiliki hal lain untuk dilakukan, Gil memperhatikan pintu markas.

Pintu yang terbuat dari kayu itu sudah cukup lapuk. Kenop pintunya sudah berkarat, tapi masih cukup mudah untuk diputar. Di bagian tengah pintu itu tertulis sesuatu. Setelah Gil membacanya, dia pun sadar kalau itu adalah daftar nama anggota Pandora. Seseorang pasti telah menambahkan namanya dan nama Vincent disitu, karena nama mereka tertulis di bagian bawah daftar tersebut.

Iris emas Gil menelusuri daftar nama tersebut. Sepertinya daftar nama itu disusun berdasarkan waktu bergabungnya si anggota. Jack, Oz, dan Ada berada di urutan teratas. Kemudian Break. Lalu... Reim? Siapa dia? Gil sudah hafal nama semua anak Pandora, dan dia yakin diantara mereka tidak ada yang dipanggil Reim.

Nama Sharon tertulis setelahnya. Lalu Zwei dan Echo. Lalu ... Phillipe? Siapa lagi dia? Alice dan Alyss tertulis setelahnya. Reo dan Elliot tampaknya juga baru di Pandora, karena nama mereka tertulis sebelum nama Gil dan Vincent.

"Melihat daftar anak-anak Pandora?", tanya seseorang yang tiba-tiba berada di sebelahnya. Gil menoleh dan melihat seorang gadis berambut cokelat panjang dengan dua kepangan kecil berdiri di sebelahnya, Alice.

Gil mengangguk dan menyentuh huruf-huruf yang tertoreh di kayu itu."Ya, tapi kenapa ada nama-nama yang tidak kukenal?"

"Reim dan Phillipe?" tanya Alice untuk memastikan. Gil mengangguk.

Alice terdiam sebentar. "Karena mereka sudah tidak ada, Gil!", akhirnya Alice berkata lembut. "Mereka sudah meninggal."

"Reim adalah sahabat baik Break dan Sharon. Dia meninggal ketika Pandora bertempur dengan Dark Sabrie. Aku dan Alyss belum masuk Pandora pada saat itu, jadi aku tidak terlalu tahu soalnya. Sementara Phillipe,", suara Alice bergetar. "Jack menemukan aku dan Alyss ketika kami berdua sedang diserang oleh Lottie dan Zai. Jack bertempur melawan mereka, tapi dia kewalahan karena tidak memiliki chain dan harus melindungi kami."

"Ketika kami tersudut, Phillipe yang kebetulan lewat menolong kami. Dia tidak mengenal kami, tapi dia bertempur bagi kami. Akhirnya, Lottie dan Zai berhasil kami pukul mundur. Tapi, Phillipe..." bulir-bulir air mata menetes dari kedua iris violet Alice.

"Hei, Alice! Jangan menangis!" Gil menghapiri Alice.

"Trims, Gil! Han..." adegan antara Alice dan Gil terpaksa terpotong karena seseorang mendobrak pintu dengan sangat keras.

Elliot, Reo, dan Ada menghambur masuk. Wajah mereka pucat pasi. Mereka menutup pintu dan langsung bersender disitu.

"Hei, Elliot! Reo! Ada! Ada apa ribut-ribut? Kalian seperti habis melihat hantu saja!" komentar Alyss ketika dia dan Echo menghampiri mereka.

"Razia!" desis Elliot.

Alyss, Alice, Echo, dan Gil langsung siaga. Razia street child adalah salah satu mimpi buruk bagi mereka. "Echo, tutup semua jendela! Sisanya, berbaring dan jangan bergerak!", perintah Alyss dengan suara rendah. Mereka semua dengan sigap menuruti perintah Alyss.

Gil sudah sering mengalami situasi seperti ini bersama Vincent, jadi dia tidak perlu disuruh dua kali untuk berbaring. Echo menutup semua jendela dengan pelan, kemudian dia ikut berbaring. Mereka semua menunggu dalam diam, masing-masing berharap polisi yang mengejar Elliot, Reo, dan Ada tidak datang.

Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki bersepatu bot terdengar oleh mereka. Sepertinya harapan mereka tidak terkabul.

"Hei, kau yakin anak-anak itu kabur kesini?", terdengar suara seorang polisi. Semua anak Pandora minus Vincent membeku ketikamendengarnya. Yang mengejar mereka bukan hanya satu polisi, tapi dua! Mereka lebih memilih mati daripada tertangkap dalam razia. Kalau mereka tertangkap, maka mereka akan dimasukkan ke panti, atau lebih buruk lagi, rumah kerja. Dan tidak ada satupun street child yang mau masuk panti asuhan apalagi rumah kerja! Hidup terikat dengan peraturan jelas-jelas sangat tidak cocok dengan hidup streetchild!

"Aku yakin, Ed! Aku melihat mereka berlari ke sini dengan mata kepalaku sendiri!", semua anak Pandora yang bersembunyi pun mengetahui fakta tak penting bahwa nama polisi kedua adalah Ed.

Dan Vincent memilih saat yang salah untuk bangun.

"Hei, kok gelap, sih? Ap...Hmm!", Echo yang berbaring cukup dekat dengan Vincent langsung membekap mulutnya. Sepasang iris abu-abu, sepasang iris gold, dua pasang iris violet, sepasang iris safir, sepasang iris emerald, dan sepasang kacamata melayang memberikan deathglare masing-masing ke arah Vincent.

"Hei, Simon?", satu lagi fakta tak penting, nama polisi pertama adalah Simon. "Kau mendengar suara tidak? Seperti, 'Hei,kok gelap, sih?'", kalau tadi pandangan Gil, Alice, Alyss, Echo, Reo, Ada, dan Elliot bisa membunuh, sekarang tatapan mereka bisa membangkitkan hantu dari kubur. Vincent nyaris pingsan ketakutan.

"Tidak, Ed! Mungkin hanya bayanganmu saja. Ayo, kita cari mereka di tempat lain!", kata si polisi Simon. Terdengar suara langkah kaki menjauh.

Semua orang tetap berbaring tak bergerak selama beberapa menit, kemudian menarik napas lega.

"Hampir saja!", desah Elliot, yang lain juga ikut mendesah lega. Echo melepaskan bekapan Vincent.

"Ada razia, Vincent! Jadi kalau kau masih mau hidup, diamlah!", bentak Alyss.

"Hei! Aku kan gak tahu!", protes Vincent. Alyss masih terus memelototi Vincent.

Tiba-tiba muncul sebuah lingkaran hitam berpusar di tengah ruangan. Sharon dan Break muncul dari pusaran itu dengan penampilan berantakan, sepertinya mereka juga habis dikejar-kejar.

"Wah! Ada, Elliot, dan Reo juga sudah pulang, ya? Sepertinya ini razia besar-besaran! Aku sampai harus menggunakan Eques!", komentar Sharon. Dia bangkit dan merapihkan bajunya.

"Berarti tinggal Jack dan Oz yang belum pulang!", tambahnya.

Pada saat itu juga, seseorang berusaha mendobrak pintu. "Woi! Siapa pun yang ada di dalam! Buka pintunya!", terdengar teriakan Oz. Elliot mendesah sambil bergumam, "Gak usah sambil ribut-ribut bisa, kali!". Dia bangkit dan membukakan pintu, Oz dan Jack menghambur masuk.

"Hei, Oz! Kau mau memberitahukan keberadaan kita, bukan?", tanya Elliot masam. Oz hanya cengar-cengir tak bersalah.

"Sorry, Elly. Habis, polisi itu mengejar kami terus, sih! Sekali ini, aku berterima kasih pada Dark Sabrie. Tadi kami lihat Fang dan Doug berlari seperti dikejar setan. Kami kira mereka mengejar kami. Ternyata, malah mereka yang sedang dikejar polisi, jadinya kami ikut-ikutan kabur. Tapi entah kenapa polisi itu malah mengejar kami sampai ke sini!", Oz membela diri.

"Jadi Oz, polisi itu ada di dekat sini?", kata Alice curiga. Oz dan Jack mengangguk dengan polos.

"BAAKKAAA OOOZZZ! BAAAKKKAAA JJJAAACCCKKK!", teriak anak-anak Pandora. "Kenapa gak bilang dari tadi! Elliot, tutup pintunya! Yang lain, berbaring kayak orang mati!", perintah Sharon dengan penuh emosi. Semuanya langsung melaksanakn perintah Sharon. Segera setelah Elliot menutup pintu, suasana di dalam ruangan menjadi sepi layaknya kuburan.

"Hei, Ed! Kau dengar sesuatu tidak?" rupanya si polisi Ed dan Simon kembali.

"Suara apa, Simon?"

"Kayaknya ada yang teriak, 'Baka', atau apa?"

"Mungkin hantu! Katanya di daerah sini banyak hantunya! Ayo, kita pergi saja!", seluruh anak Pandora menarik nafas lega. Untung saja yang mengejar mereka itu polisi yang percaya dengan takhayul.

"Akhirnya!", kata semua orang setelah 5 menit berdiam diri.

"Sorry!", kata Oz dan Jack. Semua orang masih memberikan deathglare kepada kedua kakak beradik itu.

"Hei, Gil! Vincent! Tangkap!", setelah beberapa saat terjadi keheningan diantara mereka, Oz memecahkannya. Dia melemparkan sesuatu ke arah Vincent dan Gil.

Vincent dan Gil masing-masing menangkap benda yang dilemparkan Oz. Benda itu terbungkus plastik hitam. Gil mearaba bungkusan itu. Rasanya dia mengenali bentuk benda yang terbungkus itu.

"Eh? Ini kan...", demi memastikan kecurigaannya, Gil membuka bungkusan itu. Vincent melakukan hal yang sama. "Pistol?", kata Gil setelah dia mengenali benda yang terdapat di genggamannya.

"Yup! Kau dan Vincent belum punya senjata. Semua anak Pandora harus punya minimal satu senjata. Plus, kebetulan di Pandora belum ada ahli tembak. Jadi aku dan Jack memberikan pistol itu!", kata Oz santai, seakan-akan memberikan pistol ke orang yang baru dikenalnya selama sehari adalah hal paling biasa di dunia.

"Trims, Oz! Tapi bagaimana caranya kau mendapatkan pistol ini? Bukannya perdagangan senjata api dilarang?", tanya Gil penasaran. Dia mengamati pistol yang berada di tangannya. Pistol itu berat, tapi terasa cocok ditangan Gil.

"Kami punya kenalan dimana-mana!", kata Jack misterius.

"Hei, Ini pistol beneran, kan? Bukan pistol mainan?", tanya Vincent. Dia mengarahkan pistolnya ke arah salah satu dinding.

"Mmm, Vincent?", kata Gil gugup. "Kusarankan kau tid...", terlambat! Vincent sudah menarik pelatuk pistolnya.

"DUUAAARRR", semua orang menutup mata dan telinga masing-masing. Setelah mereka mebuka mata, terlihatlah sebuah "kawah" baru yang terbentuk di dinding.

"Kalau polisi itu masih berada di sekitar sini, mati kita!", Reo yang pertama kali berkomentar. Semua orang memasang telinga, untunglah kedua polisi itu benar-benar sudah pergi.

"Wow! Pistol ini keren!", puji Vincent sambil menyeringai.

"Tentu saja bagus! Tapi Vince, kusarankan kau tidak berlatih di ruangan ini!", saran Jack.

"Tapi disini kan tidak ada ruang berlatih? Dimana kami harus berlatih?"

"Siapa bilang? Kau pikir dimana kami semua berlatih selama ini, eh?", kata Elliot sambil menyeringai. "Omong-omong, kenapa kita tidak berlatih saja sekarang? Tak ada yang bisa kita lakukan selama polisi-polisi itu masih berkeliaran!"

Semua orang mengangguk setuju. Ada membuka pintu tingkap. Mereka semua turun ke ruangan bawah tanah, tempat kotak Pandora berada. Alyss membuka sebuah pintu yang luput dari pengamatan Gil dan Vincent kemarin.

Alice menyalakan lampu ruangan itu. Gil dan Vincent bersiul kagum.

"Lama-lama aku bingung kalian ini street child atau bukan!", komentar Gil.

Break nyengir, "Tentu saja kami street child!"

Ruangan tempat Gil dan Vincent sekarang berada cukup luas. Di dinding sebelah kanan, merapat ke dinding, terdapat sebuah meja panjang. Berbagai macam pedang, belati, dan pisau berada di atasnya. Berseberangan dengan meja itu, terdapat beberapa papan sasaran.

"Ayo, Jack! Kita adu pedang!", tantang Oz. Dia berlari ke arah meja dan mengambil sebuah pedang. Jack mengikutinya. Reo dan Elliot sudah lebih dulu bertarung. Suara dentingan logam segera terdengar di dalam ruangan itu.

Break bertarung melawan Echo. Break memakai pedangnya sedangkan Echo menggunakan pedang pendeknya yang selalu dia sembunyikan di lengan baju panjangnya. Sekilas memang terlihat tidak adil, tapi Echo mahir memainkan pedangnya. Dia bisa menangkis semua serangan Break bahkan dapat menyerang balik.

Sharon menyerang sebuah karung yang penuh berisi kapas yang digantung dengan sebuah tali dari langit-langit dengan menggunakan pisau dan kipasnya. Gil dan Vincent tidak mau tahu terbuat dari bahan apa kipas Sharon ketika melihat kondisi si karung yang langsung robek begitu kipas Sharon menghajarnya.

Alice, Alyss, dan Ada telah mengambil beberapa belati dari meja. Sekarang mereka sedang melempar belati-belati itu ke sebuah papan sasaran secara bergantian. Ujung tajam belati mereka selalu menghunjam tepat di tengah papan sasaran.

"Hei, kalian!", seru Oz. Dia tidak menghentikan adu pedangnya dengan Jack. "Jangan bengong saja! Ikutlah berlatih!", Oz merunduk untuk menghindari tebasan Jack. Dia berusaha menebas kaki Jack, tapi Jack melompat untuk menghindarinya. "Gunakan papan sasaran disana!"

Gil berjalan menuju sebuah papan sasaran, sedangkan Vincent menggunakan papan sasaran yang lain.

'Hidupku tidak akan pernah sama lagi!', pikir Gil ketika dia menarik picu pistolnya. 'Tapi ini pilihanku!', Gil mengamati peluru yang dia tembakkan meluncur ke arah papan sasaran.

Peluru itu menembus papan sasaran, tapi melenceng jauh dari titik tengahnya. Gil mendesah, dia memang harus banyak berlatih.

'Mungkin aku akan mengotori tanganku dengan bergabung di sini.', pikirnya lagi sambil kembali menembakkan sebutir peluru. 'Tapi, apa boleh buat? Aku sudah memilih! Yang bisa kulakukan sekarang adalah menjalaninya!'

Gil menembakkan beberapa peluru lagi, kemudian dia berjalan ke arah papan sasaran untuk mengumpulkan peluru yang tadi dia tembakkan. Pikiran apakah dia memilih pilihan yang benar untuk dirinya dan Vincent dengan bergabung dengan Pandora menyergapnya. Gil mulai meragukan keputusannya kemarin setelah melihat apa yang anak-anak Pandora lakukan.

'Tapi, apakah Pandora seburuk itu?', Gil berhenti mengumpulkan pelurunya. Perkataan Oz tergiang-giang di kepalanya.

"Disini kalian memiliki teman! Keluarga kalau boleh dikatakan seperti tiu. Kami menghadapi semuanya bersama. Saling melengkapi dan melindungi satu sama lain!"

'Tidak! Bergabung dengan Pandora tidak seburuk itu!", Gil tersenyum ketika dia memikirkannya. 'Disini aku memiliki teman! Teman yang tak pernah kumiliki sejak aku bisa mengingat! Aku juga memiliki tugas di sini, sebuah tujuan! Sesuatu yang harus kujaga! Aku telah diberi kepercayaan oleh mereka, dan aku tidak bisa mengkhianati kepercayaan mereka!', Gil kembali tersenyum ketika mencapai kesimpulan itu. Dia kembali meneruskan latihannya.

Hari-harinya sebagai anggota Pandora baru saja dimulai!

End of Arc 1

TBC

A/N:

Yey! Akhirnya seluruh Arc 1 selesai dirombak! Jujur aja, menurut Aoife chapter ini paling sedikit dirombaknya dibandingkan lima chapter pertama dan chapter paling santai di antara chapter-chapter sebelumnya dan sesudahnya. Setelah ini, kemungkinan chapter tujuh dan chapter sembilan ada yang diedit.

So, see ya all in the next arc! RnR, please? *puppy eyes*