Part 5 : Dunia Lain
—
[ Chanyeol x Baekhyun x School-life x Romance-Comedy x SMA feels ]
—
.
"Gundulmu amoh."
—
Ini tentang dunia lain. Maksudnya, dunianya Chanyeol. Maksudnya lagi, sudut pandangnya Chanyeol.
Gitu lah pokoknya.
Jadi gini. Chanyeol sebenarnya sadar, amat sangat sadar atas apa yang telah ia perbuat beberapa bulan terakhir ini. Dia sudah mempermainkan hati Baekhyun pun, sebenarnya dia sadar seratus persen. Tentang perasaan Baekhyun padanya, jangan kira Chanyeol tidak tahu apa-apa. Bahasa kerennya mah, Chanyeol itu sebenarnya selalu nge-notice Baekhyun. Mulai dari bagaimana cara pipi Baekhyun memerah samar ketika ia gombali, sampai bagaimana kuping si cantik itu yang gantian memerah marah ketika melihatnya dekat dengan orang lain, tanpa diketahui siapapun, Chanyeol selalu menyadari semua hal tersebut. Bagaikan kernetnya, Chanyeol sadar jika dia sudah mengantar hati Baekhyun untuk naik turun dengan begitu seksinya.
Tapi percayalah, sebrengsek apapun Chanyeol, dia itu sebenarnya tidak pernah punya niatan memainkan hati Baekhyun begitu.
Seperti pada saat dimana Baekhyun mengintipnya dari balik tong sampah, jujur Chanyeol memang sengaja mangabaikannya. Berlagak layaknya orang asing setelah semalam mengucap kata-kata manis, itu memang atas kesadarannya. Tapi ketahuilah, dia tidak bermaksud ingin memperlakukan Baekhyun seperti itu. Dia tahu hati Baekhyun yang lembut seperti bayi itu tersakiti oleh sikapnya. Tapi, ini sebenarnya cuma salah paham. Baekhyun saja yang tidak tahu kalau Chanyeol melakukan hal tersebut semata-mata agar si mungil itu segera melenggang pergi dari tempat persembunyiannya yang kotor dan bau. Karena Chanyeol tahu, jika Baekhyun tetap berada di sana dan mendengar rayuan anak-anak perempuan yang memang sedang gatel padanya, si cantik itu bakal lebih sakit hati lagi. Chanyeol sudah khatam tentang tabiat Baekhyun yang tidak akan melepaskan tungau manapun yang berani-beraninya menyentuh apa yang jadi miliknya. Yaaa, kalau sekarang mah, pernah jadi miliknya. Dan otw jadi miliknya lagi, h3h3. 'Kan bahaya kalau nanti ada sesi jambak-jambakan sepulang sekolah. Kalau itu rambut para siswi yang menggodanya sih, Chanyeol tidak masalah. Toh bagaimanapun juga, secantik apapun, Baekhyun itu tetap laki-laki yang notabene lebih kuat dari perempuan. Chanyeol tidak perlu khawatir Baekhyun akan kenapa-kenapa. Tapi tulung, Chanyeol cuma masih sayang dengan dirinya sendiri. Karena sialnya, bukan rambut perempuan-perempuan itu yang jadi sasaran, tapi punya Chanyeol. Rambut hitamnya yang sudah susah payah diolesi pomade dan disugar ke atas biar manly, masa sih mau dikorbankan demi pelampiasan? Hell, no! Sesayang apapun dia ke Baekhyun, ya nggak gitu juga kali.
Chanyeol 'kan fashionable. Model majalah boke—remaja. Iya.
Dan ada satu hal yang perlu diluruskan di sini. Ini tentang Baekhyun yang menangis beberapa hari lalu di ruang rapat. Sebenarnya, Chanyeol saat itu bukannya ingin pergi atau bagaimana. Serius, si jangkung itu hanya ingin mengambil jaketnya yang disampirkan di salah satu kursi dan memakaikannya pada tubuh Baekhyun yang sedang terisak hebat. Berani sumpah, melihat Baekhyun menangis adalah hal terakhir yang ingin Chanyeol alami dalam hidupnya. Melihat si mungil itu meringis saja rasanya sudah cukup membuat hatinya teriris secara dramatis. Heu. Chanyeol hanya ingin memakaikan kain tersebut di atas tubuh Baekhyun yang menggigil kedinginan, bukannya meninggalkan si cantik itu seperti apa yang dibilang kemarin. Chanyeol tidak pernah menyangka respon si cantik tersebut bakal semengerikan itu. Menghardik dan membentak; hal ini membuat Chanyeol sedikit kaget juga, sih. Ia hanya tidak mengerti, kenapa Baekhyun yang cerdas dan penuh logika bisa-bisanya berbicara ngalor-ngidul tidak jelas seperti itu.
Dan, yah. Chanyeol tidak bisa berbuat banyak mengenai Baekhyun yang sering negative thinking dan gampang sekali cemburu. Chanyeol tidak percaya bahwa hal sesepele bercanda dengan Tiffany, yang katanya suka sama dia itu akan membuat Baekhyun mengamuk dan tidak membalas chat-nya selama beberapa hari. Aduh, salah Chanyeol itu dimana, sih? Apa salah kalau bersikap ramah pada semua orang? Please lah, Chanyeol yakin bahwa Baekhyun pun sebenarnya paham jika ia waktu itu sedang bercanda dan tidak sekalipun serius ketika mengatakan kata demi kata.
Terus, masalahnya itu di mana?
"Ya itu dia. Bercanda dengan semua orang adalah masalah terbesarmu."
"Hah?"
"Duh, otakmu itu benar-benar jarang digunakan, ya? Begini saja tidak mengerti. Tentu saja Baekhyun menganggap apa yang kau lakukan padanya itu juga cuma candaan. Makanya dia marah-marah begitu. Diterbangin abis itu dijatuhin, men. Bayangkan sendiri lah perasaan doi-mu itu jadi bagaimana. "
Senyap beberapa saat.
Chanyeol menahan hasratnya untuk menghajar kepala Sehun karena omongan si ganteng itu sukses menjadi metanoia-nya. Seperti lightsaber, menusuk-nusuk dengan intens hatinya yang jarang tersentuh. Membuka sebuah celah baru yang sampai sekarang belum pernah ia sangka keberadaannya itu ada. Otaknya blank, persis komputer rusak yang error karena termakan virus.
Jadi, gitu ya?
"Jadi, selama ini Baekhyun kira ini cuma candaan, begitu?"
Sehun mengangguk malas. Dan itu sukses membuat Chanyeol terbahak keras.
.
.
.
.
.
.
.
.
Coba ulangin,
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
KUMAHA, HAH? KU MA HA?!
.
.
.
.
.
Please, Chanyeol cuma bisa mendengus geli.
Chanyeol tidak akan pernah bisa paham oleh satu konklusi yang menurutnya tidak masuk akal ini. Bercanda? Heh, gundulmu amoh! Siapa di dunia ini yang bercanda sampai mau melawan gengsi untuk menjalin komunikasi duluan?
Apa kalian pikir, baikan sama mantan itu sebuah lelucon? Gundulmu amoh! (2). Perlu dipahami, bahwa seumur-umur, Chanyeol tidak pernah sekalipun melakukan hal yang namanya berbicara pada mantan. Ketika kata putus telah terucap, biasanya ia benar-benar menganggap itu sebagai sebuah ucapan selamat tinggal dan betulan kata berakhir untuk suatu hubungan. Termasuk hubungan komunikasi verbal; Chanyeol tidak pernah sudi melakukannya. Jangankan bicara, melihat mereka pun si kingkong itu terlanjur malas.
Tapi dengan Baekhyun, entahlah. Chanyeol sendiri juga tidak paham. Setiap kali bau paris can-can yang menguar dari tubuh si mungil itu melewati hidungnya, Chanyeol hampir tidak kuat menahan hasratnya untuk tersenyum dan menghangat. Rasanya ingin sekali menyapa, menanyakan kalimat 'mau kemana?' atau sekedar 'hai' sambil merangkul bahu Baekhyun yang kecil. Kalau perlu, sambil mencuri satu kecupan di pipi atau bibir leh ugha lah. Tapi apa daya, status mantan serta ego yang membumbung tinggi di dalam dirinya telah mengambil alih seluruh kinerja dan metabolisme tubuhnya.
Alih-alih menyapa, biasanya Chanyeol malah mempercepat langkah agar bau itu segera pergi. Seperti manusia tanpa perasaan, Chanyeol melangkahi Baekhyun dengan muka paling bitchy yang ia punyai. Chanyeol memang munafuck, iya, makasih. Tapi jangan salahkan dia juga, karena begitulah bagaimana cara tubuhnya mengendalikan rasa malu. Ini sudah menyangkut refleks di alam bawah sadar, ya mau bagaimana lagi?
Menjelaskan pada Baekhyun kalau dia cuma salah paham? Ya maaf, rasanya itu tidak perlu.
Lagipula, katanya Baekhyun hanya menganggap semua kata yang ia lontarkan itu sebuah candaan, kan? Jadi, gunanya menjelaskan itu buat apa?
Belum lagi, status mereka cuma mantan. Chanyeol ragu dia berhak mengatur jalan pikiran Baekhyun atau tidak. Tidak ada hubungan khusus yang mengikat mereka. Itu artinya, tidak ada kewajiban untuk meluruskan segala hal yang terjadi pula. Tapi lebih dari itu, semua orang 'kan berhak memiliki kesimpulan dan pemikirannya sendiri. Masa Chanyeol mau memaksakan kehendak biar pikiran Baekhyun itu sama dengan pikirannya? Aduh, Komnas HAM gedungnya belum hancur, Pak. Jangan lah.
Tuh 'kan, Chanyeol itu serba salah. Masih mau mengira kalau ada di posisi Chanyeol itu enak?
Hft.
.
.
.
.
.
Sampai lupa, 'kan, kalau mereka ini sedang chatting-an.
(22.15) BBH: ada tugas, sama Kyungsoo. Ke sana(?)
Chanyeol berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu menghela napas secara dramatis. Tubuhnya yang tinggi ia sandarkan tanpa tenaga pada dinding kamar yang dingin. Letih, lemah, lesu. Bukan karena anemia, tapi ini karena ia paham akan sesuatu.
Satu hal; kalau Baekhyun sedang main rahasia-rahasiaan macam ini, alasannya hanya ada dua; pertama, karena si mungil itu tidak percaya pada seseorang. Kedua, karena seseorang itu tidak penting buat Baekhyun.
"…"
Aduh serius, antara tidak diberi kepercayaan atau tidak dianggap penting, keduanya tidak ada yang mending.
Chanyeol mengusak rambutnya frustasi sambil menggeram tertahan. Wajahnya yang suntuk ia usap dengan kasar sambil kepalanya ia kulaikan di atas bantal. Pemuda itu berdecak, merasa kesal oleh hatinya yang tiba-tiba jadi buruk dan butuh penerangan.
Maka dari itu lah, dia menghubungi satu nomor tempat curhat rahasianya. Selain Sehun dan Jongin yang tidak berotak, dia masih punya satu tempat yang kiranya masih punya secuil kewarasan. Walau kejutekan dan kegalakannya lebih mendominasi, sih.
Chanyeol menutup wall chat-nya dengan Baekhyun lalu meng-scroll sedemikian hingga. Ketika telah menemukan kontak yang tepat, dengan cepat jari-jari besarnya segera mengetik di atas layar ponsel. Dia mengecek sekali lagi, lalu menekan tombol send pada ujung kanan bawah.
(22.25) PCY: woy
Chanyeol menunggu dengan sabar. Kawan rahasianya ini memang sedikit lama kalau masalah balas-membalas.
(22.30) DKS: paan sat
Dafuq, belum apa-apa udah dibangsat-bangsatin. Chanyeol memandangnya dengan muka tanpa gairah.
(22.31) PCY: baekhyun kenapa sih? Jutek bgt ke gue
Lima belas menit kemudian, si DKS ini baru menjawab.
(22.46) DKS: kapan sih baekhyun ga jutek
(22.47) DKS: lo jg bilang kn, anak DK kaya anjing semua. Kalo ga galak, ya jutek. Wajar.
Chanyeol memutar bola matanya malas. Hampir saja membanting iPhone-nya yang mahal jika tidak segera mengingat perjuangan keras yang ia lalui untuk mendapat benda persegi itu. Selama tiga tahun menyisihkan uang saku itu tidak segampang menepuk pantat Hyeona seonbae. Atau pantat Soojung. Atau dada Kak Yoona. Walaupun tepos sih. Atau mengintip rok Nana yang lumayan. Atau—SUDAH CUKUP! Kembali ke topik. Chanyeol mendesah kesal. Gini nih, resikonya curhat dengan DKS. Susah paham dengan apa yang ia maksudkan sebenarnya.
(22.47) PCY: anjir bukan gitu mksd gue
(22.47) PCY: dia kaya yang lagi pms. Gue lembutin malah tambah jutek
(22.47) PCY: ah elah salah gue apalagi sih
Chanyeol memandangi layar ponselnya yang masih belum muncul tanda Read, padahal sudah terkirim.
Chanyeol menunggu lagi, sambil menguap lima puluh kali. Ngantuk, men. Dia main PS sampai jam empat sore dan sekarang matanya terasa pedas dan rindu mimpi. DKS itu punya gaya membalas chat macam siput. Lambat, menghayati. Tapi sekalinya membalas, nusuk gitu kata-katanya. Chanyeol juga sangat benci, bukan keahliannya untuk bersabar. Tapi, dia harus tetap bangun. Cuma buat tau Baekhyun kenapa.
Kurang serius apa sih perasaan Chanyeol ke Baekhyun itu?
Bahkan ketika matanya memerah karena mengantuk sekalipun, masih dibela-belain untuk tetap terjaga. Hanya untuk menunggu satu balasan yang sudah diprekdisikan tingkat kegalakannya seberapa. Hanya untuk tahu Baekhyun kenapa, Chanyeol rela menghadapi singa betina.
Baekhyunku sayangku cintaku, apa sih yang enggak buat kamu?
HEUHEUHEU.
Chanyeol menyeringai setengah gila.
.
.
.
.
.
Dua jam berlalu,
.
.
.
.
.
.
Ngomong-ngomong kapan mau di-read sih?
.
.
.
.
.
.
.
Read
Oh, baru saja. Hehe.
.
.
.
.
.
.
Typing…
.
.
.
.
.
.
Typing…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
DKS
—
You have one new message!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(23.00) DKS: tau
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol gila. Memang iya.
.
.
.
.
.
.
.
Dia nunggu selama hampir dua jam, terus cuma dibales sekata doang, gini ya rasanya?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"… dafuq."
Tulung, Chanyeol butuh pistol-pistolan.
—
—
Chanyeol bangun jam setengah tujuh pagi. Lalu berangkat sekolah jam setengah delapan pagi. Lalu sampai di kelas jam sembilan pagi. Terima kasih pada Guru Kang yang memberi hukuman keliling lapangan voli. Terima kasih pada DKS tersayang yang baru memberitahu ke mana Baekhyun akan pergi jam tiga pagi.
Plekgaplekgapleeeeek.
Si kingkong itu mengubur wajah gantengnya yang penuh keringat di dalam meja kelas. Napasnya sudah teratur, tapi bangsat, tubuhnya masih kepanasan karena sinar matahari yang dengan genitnya menemani saat dia lari-lari di lapangan. Dia berdecak, merasa menyesal telah masuk sekolah hari ini. 'Kan dia bisa bolos ke warnet, kenapa harus ke sekolah sih? Kaya yang alim aja.
Yeah, kalau saja motornya tidak sedang berada di bengkel dan dia tidak harus nebeng mobil mamanya, sudah dipastikan Chanyeol sudah bahagia main PES di rental PS sekarang ini.
Hhh.
Mood-nya jelek sekali. Ditambah Baekhyun tidak datang ke sekolah untuk digodai. Chanyeol mengerang. Oh benar, bicara tentang Baekhyun, Chanyeol akhirnya tahu jika si pendek itu tidak ada di sekolah karena dia sedang menjadi panitia LDK Dewan Kedisiplinan di Busan selama tiga hari. Si DKS yang bilang begitu. Setelah disogok pakai duit 50k sih. Entah jujur atau tidak. Semoga saja iya. Kalau enggak, ya awas aja. Pokoknya awas! Chanyeol bakal, bakal…—hm,
Ah tapi intinya, Chanyeol galau sekali.
Ngomong-ngomong, masalah anu ya? Katanya mau ikut Baekhyun kemanapun dia pergi? Hm, niatnya sih gitu. Tapi nggak jadi. Seriusan, bukan niat mau PHP. Tapi maaf, manusiawi. Namanya ngantuk itu memang tidak bisa ditahan-tahan. Chanyeol baru bisa tidur sekitar jam setengah empat pagi dan bangun jam setengah tujuh, sedangkan bus pemberangkatan melaju pukul enam. Mana sempat sih mengantar Baekhyun? Dirinya kalah cepat oleh sopir carter-an, coy. Mau gimana lagi?
Mau ngejar kaya di film-film? Ya sorry, Chanyeol bukanlah superman. Chanyeol juga bisa nangis.
(The fuck, gue ngetik apa.)
Tapi tenang, si DKS sudah berjanji akan jadi mata-matanya, kok. Jadi Chanyeol masih bisa memantau pergerakan Baekhyun, hehe.
Jadi Chanyeol juga tidak terlalu galau juga. Si DKS ini sudah berjanji akan melaporkan seluruh kegiatan Baekhyun sambil terus menyertakan foto sebagai lampiran. Lumayan lah, ya. Walaupun rasanya masih ada yang kurang sih kalau belum lihat wajah Baekhyun secara langsung. Kaya sayur tanpa micin aja. Udah pas, tapi belum enak.
Chanyeol menghela napas.
"Rindu, Dilan itu berat."
—
—
Jika Chanyeol sedang merengut seperti babi, maka Baekhyun sedang tersenyum lima jari.
Baekhyun mengambil napas banyak-banyak dengan hati yang begitu cerah. Udara perkebunan di Busan yang sejuk juga membuat dirinya semakin bahagia saja.
Alasannya? Ya tentu saja karena LDK.
Latihan Dasar Kepemimpinan—satu pelatihan dimana yang menderita adalah peserta. Sedangkan panitia sih, tinggal duduk dan ketawa. Ini ajang balas dendam para senior. Tentu saja. Baekhyun menyeringai setan. Akhirnya dia bisa melampiaskan seluruh uneg-uneg yang selama ini dia pendam ketika sedang mengisi materi pada jam ekstrakulikuler. Aduh, siapa sih yang tidak dendam kalau kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyampaikan informasi, tapi nyatanya pesertanya malah sibuk berbicara sendiri-sendiri? Baekhyun bersumpah akan membuat si brengsek-brengsek itu menyesali perbuatannya!
HAHAHAHAHAHA.
Dan satu poin lagi; ini event yang cukup besar. Dimana yang datang bukan cuma peserta dan panitia; masih ada alumni, guru pembimbing dan instruktur. Rata-rata masih muda dan baru masuk kuliah. College!AU mamen. Tahu sendiri 'kan aura anak kuliah di mata anak SMA? Dewasa. Tenang. Berwibawa. Unch-able. Idaman, bosque. Apalagi kalau mereka sudah pakai kemeja santai sebagai outer. Aduh, Baekhyun bisa pingsan karena terpana. Tapi bohong. Karena Baekhyun nggak se-alay itu. Ah tapi intinya, ini saat yang tepat buat cuci mata secara gratis.
HAHAHAHAHAHA. (2)
Baek, ga mikirin Chanyeol?
Halah persetanan. Baekhyun ke sini buat senang-senang, bukan buat banjir kenangan. Galauin mantannya nanti lagi saja. Baekhyun tidak mau meraung-raung macam yang otaknya kurang sesendok hanya karena ingat mantan. Lagipula, dia juga sedang kesal dengan si ganteng itu. Siapa suruh tidak menepati janji mau jemput? Padahal dia sudah menunggu lima belas menit dan hampir tertinggal bus keberangkatan. Jadi, untuk kali ini saja Baekhyun mau melupakan fakta bahwa ia pernah kenal sesosok kingkong jadi-jadian dengan inisial Park Chanyeol.
HAHAHAHAHAHA. (3)
"Baekhyun?"
Si pendek itu menoleh, kemudian matanya disapa oleh satu postur jangkung yang bagian kepalanya mempunyai wajah sebelas duabelas dengan Cameron Dallas. Ya walaupun bukan, sih.
Itu Choi Minho, instrukturnya.
Baekhyun tersenyum canggung sambil membalas uluran tangan lelaki itu yang meminta bersalaman. "Eh, udah dateng ya, Kak?" Ujarnya sarat akan formalitas. Ditambah canggung tentu saja.
Minho tertawa jenaka dan itu sukses membuat Baekhyun hampir mimisan di tempat. Karena demi Tuhan, Minho itu hawt sekali. Ugh, bagaimana cara menjelaskannya, ya? Keren iya. Ramah iya. Kaya iya. Perhatian iya. Alim iya. Ganteng? Ugh, jangan ditanya. Umurnya juga tidak terpaut begitu jauh dari Baekhyun. Masih dua puluh tahun dan sekarang sibuk menjadi mahasiswa Teknik Penerbangan di Universitas Y. Anak Resimen Mahasiswa juga. Bisa tegas, tapi kalau bercanda juga bisa sampai terjungkal ketawanya. Ah pokoknya, Minho itu boyfriend material sekali.
Dan katanya, Minho itu punya rasa ke Baekhyun. Crush gitu lah. Baru rumor sih, tapi sudah menyebar ke telinga seluruh anggota DK kelas sebelas. Semua tahu tentang rumor ini, termasuk Baekhyun. Si pendek itu hampir meledak karena bahagia saat mengetahui akan hal itu. Ya walaupun rasa malunya lebih mendominasi, sih. Lo punya Chanyeol, Baek. Lo punya Chanyeol. Bodo?amat. Oh ayolah, Baekhyun itu tidak munafik. Disukai oleh hot seonbae macam Minho, siapa yang tidak jejeritan, sih? Kalau disuruh milih secara lahiriah juga, Baekhyun bakal pilih Minho.
Dan ah, Baekhyun sudah bilang 'kan kalau seumpama dia itu awalnya sudah setengah move on? Yah, harusnya sih sekarang sudah berhasil. Kalau saat itu insiden Chanyeol yang mendatanginya dan berbicara yang gitu-gitu di kantin tidak terjadi, mungkin Baekhyun sekarang sudah move on sepenuhnya. Karena, fak. Celah sebesar lubang hidung Taehyung, sepupunya, sudah di depan mata; Choi Minho sudah ada tepat di depannya. Astaga! Kalau saja Baekhyun mau, mungkin Baekhyun akan dengan senang hati memacari Minho yag memang sudah sejak lama mengirim kode-kode. Tapi, ya gitu. Sialnya, Chanyeol selalu muncul di pikiran Baekhyun tiap kali dia hampir memikirkan niat untuk pindah ke lain hati. Hft. Tidak lucu juga kalau si pendek itu pacaran dengan Minho tapi hatinya masih buat Chanyeol.
Ah, gaplek memang.
Kesempatan 'kan tidak datang dua kali.
Tapi, sekarang tidak ada Chanyeol. Tiga hari kedepan akan diisi oleh Baekhyun tanpa kehadiran Chanyeol. Pikiran Baekhyun akan penuh oleh tugas sekretaris, tugas panitia, dan mungkin—juga penuh oleh wajah Minho yang tampan sekali.
Mungkin, ini saatnya untuk benar-benar move on dari Chanyeol. Baekhyun sudah capek menghadapi Chanyeol yang menurutnya eca-eco dan selalu main tarik ulur.
Si pendek itu tersenyum lebar menatap wajah Minho yang sedang tersenyum sama lebarnya dengan dirinya. Astghfirullah, ganteng banget. Yah, mungkin ini lah gambaran asli dari masa depan yang baru. Baekhyun tersenyum kalem. Hatinya melompat-lompat merasakan semangat yang membara. Mereka masih berpegangan tangan; sisa bersalaman tangan. Berdiri mirip sepasang kekasih di tengah tanah hijau perkebunan Busan yang sejuk pagi itu.
Dan tanpa disadari siapapun, satu bola mata dari awal telah mengawasi mereka. Baekhyun bahkan tidak sadar pemilik bola mata itu telah mengambil gambarnya beberapa kali.
—
—
(07.58) DKS: (photo attached)
(07.59) DKS: selamat ya, posisi lo kegeser:)
—
—
Itu di sore hari, ketika satu motor besar diparkiran begitu acuh di samping bus panitia. Baekhyun sedang tertawa karena lelucon yang dilontarkan Minho saat satu tangan besar menariknya; membuatnya berdiri dari posisi duduknya dengan begitu mengejutkan.
Baekhyun terkejut, tentu saja. Dengan cepat dia menoleh ke belakang. Dan saat itu lah dia rasa bola matanya hampir mencuat keluar. Wajahnya memucat, persis pacar yang ketahuan sedang selingkuh diam-diam.
Sosok jangkung, terbalut seragam sekolah yang berantakan telah menunggunya dengan tatapan tajam.
"Kak Chanyeol?"
Baekhyun masih berusaha memroses apa yang terjadi saat dirinya dengan kuat ditarik oleh Chanyeol menjauh dari Minho yang menatapnya heran. Rasanya perih; baik di hati maupun tangan karena si jangkung itu mencengkeram lengannya dengan begitu kuat. Sementara Chanyeol sendiri hanya terus diam sambil sesekali mengeratkan genggamannya yang memang sudah amat sangat kuat; membuat Baekhyun tambah meringis di belakang sana.
Kejadian ini, kok rasanya tidak asing, ya? Apalagi ketika daerah sepi juga dipilih sebagai tempat arena duel mereka, Baekhyun tidak bisa untuk tidak merasa ini pernah dialaminya beberapa bulan yang lalu.
Chanyeol tiba-tiba berbalik, hampir membuat jantung Baekhyun copot saking kagetnya. Si mungil itu menelan berat-berat umpatannya saat tatapan Chanyeol yang tajam langsung menyerangnya. Baekhyun berdehem, menautkan jari-jarinya dibawah dada.
"Jadi gitu, kalo gak ada gue?"
Baekhyun mendongak, menatap Chanyeol dengan ekspresi bingung sekaligus terkejut. Kumaha? Baekhyun semakin pusing ketika menangkap mata Chanyeol yang seakan hampir terbakar saking merahnya.
"Nempel kaya lintah sama cowok lain, gitu ya?"
The fuck?!
Baekhyun mengernyitkan dahinya dalam sambil mulutnya mendesah tidak percaya. Dia sakit hati, iya. Banget! Rasanya dia ingin marah dan mendaratkan bogem matang pada pelipis lelaki itu karena ucapan Chanyeol itu sudah menyakiti harga dirinya.
Ah tapi ngomong-ngomong, kapan sih Chanyeol pernah nggak nyakitin hati dia?
Baekhyun sejujurnya lelah. Capek sama keadaan.
"Biadab. Gue pikir lo anak baik-baik. Ternyata lo di belakang gue malah lebih bejat dari siapapun."
Chanyeol terburu emosi sampai tidak sadar ucapannya itu telah membuat Baekhyun tambah marah sekaligus sakit hati. Dia terus saja mengoceh meluapkan rasa cemburunya tanpa sadar Baekhyun semakin dekat dengan sumbu emosinya.
Baekhyun diam, dan saat itulah Chanyeol baru sadar omonganya merupakan satu kesalahan besar. Si jangkung itu segera menutup mulutnya yang gobloknya minta ampun. Chanyeol berkedip, berdehem, lalu hampir menyentuh rambut arang Baekhyun, sampai pada saat tangannya dengan kasar ditampik oleh si empunya.
Baekhyun tersenyum sinis. Dan Chanyeol bersumpah, si cantik itu begitu menyeramkan dengan ekspresi begitu.
Kok…keadaan jadi berbalik begini?
"Kok Kak Chanyeol marah gitu?"
Chanyeol menunduk supaya bisa bertatap mata langsung dengan iris Baekhyun yang masih sinis. Tiba-tiba saja si kingkong itu merasa sedang berhadapan dengan algojo. Menakutkan, tapi cantik. Tapi bikin hatinya retak juga. Baekhyun yang manis tapi galak, kok bisa jadi galak sepenuhnya begini ke dia?
"Kak Chanyeol deket sama cewek lain aja aku biasa aja, loh."
Bohong banget, Chanyeol membatin. Dikira dia tidak tahu apa kalau Baekhyun sering curhat sampai mewek ke Kyungsoo atau Jongdae? Halaah. Dia diam saja, menanti kata-kata Baekhyun yang selanjutnya.
"Lagipula, memangnya kita ini punya hubungan apa sampai Kak Chanyeol marah begitu?"
Baekhyun melempar senyum mengejek pada wajah Chanyeol yang blank. Si imut itu segera berbalik, berniat meninggalkan Chanyeol dengan segala keretakan hatinya.
.
.
"…"
Ya memang benar, karma itu ada.
.
—
End of Chapter
—
.
Behind the Bar:
Ada yang baca chapter ini sampe kalimat ini ga sih? Karena jujur, yang part ini kok rasanya weirdo bgt-_- kalo ada mah ya syukur lah wkwkwkwkwkwkwkwkwk.
Very late update yeops. Karena saya sendiri sangat susah nemuin mood buat ngelanjut. Rasanya garing bgt ew ew ew. Udah beberpa kali nulis, dapet hampir 700 words, abis itu hapus lagi. 700w, hapus lagi. Gitu terus lol. Bahkan bikin Drúcht itu lebih gampang daripada ini-_- terus lagi, saya kan iseng baca dari prolog sampai part 4 kmrn, kok rasanya gimanaa gitu ya? Saya nemuin banyak bgt yang harus di revisi. Da elah kaya skripsi aja wkwk. Tapi seriusan. Fic ini absurd, bukan dalam arti yang baik. Diksi saya aneh, iya nggak sih? Ini aja sebenernya saya masih mikir-mikir mau update. Tapi yoweslah, kaya saya ga aneh aja dari lahir:(((((
Btw jangan percaya masalah LDK itu pas hari H panitianya pada bahagia dan ketawa-ketawa. ITU. SATU. KEBOHONGAN. BESAR. Panitia itu lebih capek dan ngenes daripada peserta. Hari2 sebelumnya ngerancang jauh-jauh hari, survey sana-sini, terus nanti belum kalau tiba-tiba sekolah nggak nge-acc dana ataupun lokasi di proposal. Rombak lagi, mulai lagi dari awal. Terus masalah pemateri kalau seumpama malah gak bisa atau gimana, dimana lagi cari gantinya, dan aaaaaaaaah banyak lah pokoknya. Saya kasih tau, itu cuapeeeeek! Udah gitu, tar tengah malem waktu peserta tidur panitia masih punya acara dimarahin, diuprek-uprek sama alumni berkedok acara evaluasi. Belum lagi nanti abis penyerahan LPJ, seminggu setelahnha biasanya masih ada acara evaluasi antar panitia yang isinya nangis bombay. BAHAGIANYA ITU DIMANA?! Tapi berhubung buat mudahin saya bikin plot, ya saya bikin santay ajaya panitianya? Anggep aja ekspektasi wkwk.
Btw lagi, itu seriusan, parfum paris can-can itu enak bgt! saya pernah pake itu dan emang baunya manis, soft bgt. Kaya percampuran antara madu, vanila, sama floral gitu kalo kata saya mah. Ini sumpah ga bohong heuheuheu.
.
Last but not least, here you go! Dah lama bgt ya saya ga balesin review heuheuheu.
barampuu sabar ya chan, lo disalah pahamin sama readers gue huhu ByunMafia Kalo mantan kamu itu saya, mau balikan gak? He he he Ranfzhr 00LINE IN DA HOUSE YOOOO! Wadoo alamat nanyain pr fisika ke kamu ini mah. Btw makasih loh dah di follow wp-nya. Padahal gada isi:) yayahunnie AYAAAAH:( yah yah yah maapkeun kalo ada pho:( BaekHill waaaa makasih sangad kak baekhil! Iyaaa ih cuma satu semester biar bisa naikinnya. Tapi lumayan lah, sayanya juga udah meningkat heuheuheu. Iya AAMIIN Ya Allah biar jadi anak farmasi yha:') channiemolly kekuatan reviewmu juga warbyasaaa kim-jin-9047 wadoo kenapa harus tersinggung? Toh kamu bilangny sopan gitu hehe. Tapi boleh tau bagian yang ga penting itu dibagian mana? Biar bisa diperbaikin, hehe chanbyun0506 dikira aing pelawak diketawain:(((( girl404 gue yang tukang angkat perasaan bisa apa sih?:) fujokuu halah hoax ini mah:( ini fic absurd sekali perasaan. Jalan cerita kemana2 lol. Btw makasih loh yaaaa hwhwhw asdfghjkyu ati-ati nabrak di tikungan h3h3 aerismol a6 sasaran nanya pr matematika yha:) tau, coba dibilangin si gantengnya chenma sejujurnya aing juga baper kalo baca dilaan:( kangen juga, sama bi eem tapi, h3h3. Wadoo skinship mengundang syahwat bu, bahaya baekfrappe ah elah anak plosok ternyata punya sinyal buat ngirim review yha:) canda:) iya dek, makasih loh muach hunniehan biasa, namanya juga mantan. Kalo nggak mbaperin gitu namanya manten h3h3. Btw iya ya, muka aing emang kaya yang stress gitu. Baru sadar ㅠㅠ tapi bohong:) ssuhosnet kok saya greget mikir ini ya; EXO KEEP ON DANCEENG! dindinxoxo94 udah kan ya?:( kenlee1412 jangan, nanti lo jadi baperan:( Caya sama gue channiemolly lah saya baru sadar kamu review dua kali. Makasih makasih:'v btw a6 nih. Alamat tanya pr mate pm nih:) Maureen Kim dilan-jutkan reviewnya mau nggak?:( OhSehun's Mom kita beda 10 tahun? MAMAAAAA COME TO BABY! ay udah nih?:( Yana Sehun kamu mau nggak saya baperin kaya baekhyun? parkobyunxo nah tau kaaan sibuknya gimanaaaa? Mana sertijab masih nanti bulan september pula. Allahu Akbar ㅠㅠ SaoryAth waa salam kenal juga, ya! Welcome to the jungle! Bingung juga kenapa sudah suka, padahal ini absurnya kebangetan heheheh nocbnolife bikin 00squad ena kali y:))) ani-kim30 mau sekarang apa besok? Hm hm hm? ByunBi lo gatau perasaan gue ya? Udah diduain sama ty, masih lo ga percayain. Hahh —pcy shinerlight hari baik yang duluuuu, sudah baik padakuuu HAHAHAHA tau gak lirik itu? balbal137 kalo saya yang gituin kamu, baper nggak? BianBaixian614 mau aku apa kamu yang jedotin pala baekhyun biar dia anemia?:( Izahina86 ah bauuuu:( luaalo malem ini bukan sih?:(
.
Thanks a lot for your review,
Sincerely, sciencea.
