Disclaimer © Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
Sakura bisa merasakan hembusan nafas Sasuke yang mulai teratur di tengkuknya, ia sangat yakin pria ini sudah tidak tidur berhari-hari, lihat saja kantung matanya yang menghitam. Dibelainya rambut raven milik pria itu agar sang pria tertidur makin lelap. Setelah memastikan pria itu tertidur dengan lelap, Sakura meminta Kakashi untuk membantunya membaringkan tubuh Sasuke. Sakura menarik selimut itu sampai dada Sasuke.
"Nona, apa anda ingin pulang?" tanya Kakashi.
"Sudah ku katakan jangan memanggilku begitu Kakashi-san. Emh, bisakah aku menginap disini saja?" ucap Sakura.
"Saya tidak bisa melakukan itu di depan tuan nona. Tuan pasti senang jika anda menginap, biar aku siapkan kamar untuk nona."
"Baiklah, lakukan itu saat kita berdua saja." Sakura mengedipkan matanya pada Kakashi dan lelaki manapun pasti akan tersipu karena hal itu, sama halnya dengan Kakashi sekarang. "Hahah, tidak perlu disiapkan. Tunjukkan saja dimana kamarnya, biar aku bersihkan sendiri." saat Sakura hendak beranjak dari ranjang Sasuke, tiba-tiba saja tangan pria itu menahan lengannya.
"Eh?" kaget Sakura, ia melihat ke wajah Sasuke, namun pria itu masih terlelap. Ia mencoba melepas tangan Sasuke, tapi entah Sakura yang terlalu lemah atau Sasuke yang terlalu kuat, tangan itu sangat sulit dilepaskan.
"Mungkin anda harus menemani tuan malam ini nona," ucap Kakashi
"Eh? Ta-tapi-"
"Tenang saja nona, tuan tidak akan melakukan apapun. Dia pria yang baik," lanjut Kakashi.
"Baiklah kalau begitu."
"Aku ada di lantai bawah jika nona butuh sesuatu, selamat malam dan selamat tidur." Kakashi bergegas meninggalkan kamar itu, tak lupa sebuah senyum terbit di bibirnya yang terhalang masker itu. Ia sudah sangat mengenal tuannya itu, jadi tak sulit baginya membedakan kapan tuannya benar-benar tidur dan pura-pura tidur. Dan dapat dipastikan kalau tadi tuannya hanya pura-pura tertidur. Dia akan melakukan apapun agar tuan mudanya itu bisa bahagia. Bagi Kakashi Sasuke sudah seperti anaknya sendiri. Tuan mudanya itu pernah memintanya agar segera menikah tapi ia menolaknya. Ia akan menikah hanya saat tuan mudanya itu mendapatkan kebahagiaan yang diinginkannya.
.
.
.
.
.
Sakura merasa sangat canggung saat harus tidur satu ranjang dengan Sasuke. Ia tahu kalau pria ini tak mungkin macam-macam padanya, tapi tetap saja tidak nyaman, apalagi ini adalah pertama kalinya ia tidur dengan seorang pria.
Sakura hanya bisa berbaring terlentang. Dengan tangan kanan yang masih digenggam Sasuke sangat mustahil untuknya berbaring memunggungi pria itu. Kalau pun ada alternativ lain, ia harus berbaring menghadap pria itu. Oh tidak, itu pilihan yang buruk untuk Sakura. Ia memutuskan memejamkan matanya, namun tiba-tiba sebuah lengan kekar melingkar di perut ratanya membuat emerald itu kembali terbuka. Sakura mencoba menjauhkan tangan Sasuke dari perutnya dengan hati-hati. Saat ia memejamkan matanya kembali, kejadian yang sama terjadi lagi.
Ini sudah kesekian kalinya tangan pria yang berada disebalahnya ini hinggap dan melinggari perutnya. Karena rasa kantuk mulai menghantui Sakura, Sakura membiarkan saja tangan itu dan mulai memejamkan matanya. Deru nafas halusnya menandakan ia benar-benar telah memasuki dunia mimpi. Perlahan Onyx pria disampingnya terbuka. Tangan kekarnya menarik tubuh mungil itu perlahan dan hati-hati sampai posisi tidur gadis itu menghadap kearahnya.
Onyx itu bahkan tak sekalipun berkedip saat menatap wajah damai Sakura yang tengah tertidur, gadis itu sama seperti dulu tetap cantik dan begitu mempesona. Rasanya hanya satu jam atau dua jam tak cukup membuatnya puas menatap wajah gadisnya itu, onyx itu tiba-tiba meredup saat mengingat dirinya hampir saja membunuh gadis itu tadi. Rasa bersalah itu kian besar saat onyxnya menangkap warna kemerahan disekitar leher gadis itu. Ia yakin warna itu diciptakan dari cekikannya yang begitu kuat. Ia membawa tangannya yang tadi memeluk gadis itu menuju leher. Mengelus lembut leher itu seolah dengan melakukan itu ia dapat menghilangkan warna kemerahan itu. Sakura menggeliat lemah saat merasakan sesuatu dilehernya. Sasuke langsung menghentikan elusannya takut gadis itu terbangun.
"Terima kasih karena kau kembali padaku, terima kasih sudah mengerti diriku. Aku tahu kau datang karena cerita Kakashi kan? Biarlah saat ini kau mengasihaniku, tapi nanti kau akan selalu disampingku karena mencintaiku. Dan terima kasih Kakashi." onyx itu kembali terpejam.
.
.
.
.
.
Pagi itu burung-burung bercicit dengan indahnya, udara yang sejuk membuat beberapa orang memutuskan untuk lari pagi, termaksud Kakashi. Pagi yang tenang itu tiba-tiba berubah, burung-burung berterbangan kesana-kemari saat suara melengking nan nyaring itu berkumandang di mansion besar Uchiha. Kakashi yang saat itu baru tiba di gerbang mansion dibuat berlari secepat mungkin, dengan segala pikiran buruk yang memenuhi kepala peraknya ia mendobrak begitu saja kamar sang tuan muda. Rahangnya seakan ingin jatuh saat melihat sang tuan muda tertidur dilantai dengan gadis pink yang berada diatasnya dan bibir keduanya yang menyatu.
Onyx dan emerald itu membulat saat melihat onyx lainnya yang tengah menatap mereka tak percaya.
"Maafkan saya tuan, silahkan lanjutkan." Kakashi bergegas kembali menutup pintu itu.
Sakura buru-buru menjauhkan diri saat pelukan Sasuke merenggang.
"KAU." teriak Sakura marah.
"Akibat ulahmu Kakashi-san jadi salah paham. Dia pasti berpikir aku gadis tidak baik." suara itu berubah lirih.
"Ulahku? Siapa yang menendang siapa? Kau, no-na. Jika, kau tak menendangku semua ini bisa dihindari dan lagi ini semua karena kau berteriak kencang sekali." Sasuke mulai bangkit dari posisnya, badannya terasa sakit akibat menghantam lantai.
"Wajahmu terlalu dekat saat itu, aku kaget dan tidak sengaja menendangmu." terlihat bias merah diwajah Sakura.
"Tidak sengaja? Sekeras itu kau bilang tak sengaja? Dasar gadis monster."
"Lalu kenapa kau menciumku, huh?" Sakura menatap Sasuke tajam.
"Kau pikir itu ciuman? Itu hanya cara membungkam teriakanmu." Sasuke memegang pinggangnya saat berjalan menuju lemari, ia mengeluarkan sebuah jins hitam dan kaos biru dari dalamnya.
"Shhh," ringis Sasuke.
"Kenapa? Apa kau kesakitan? Ma-maafkan aku," ucap Sakura. Sasuke bisa melihat raut cemas diwajah cantik gadis itu dan jujur saja itu membuatnya begitu senang.
"Kau akan bertanggung jawab atas sakitku ini nanti!" Sasuke kemudian membawa langkahnya keluar kamar.
"Mau kemana?" tanya Sakura.
"Kenapa? Kau ingin ikut? Mandi bersama kurasa bukan ide yang buruk." Sasuke menyeringai saat mendapati wajah gadis itu memerah.
"TIDAK!"
"Segeralah mandi, Kakashi akan mengantarkan pakaian gantimu nanti."
.
.
.
.
.
Setelah menyelesaikan ritual mandi masing-masing. Sasuke, Sakura dan Kakashi berkumpul di sofa ruang tamu. Tiga cangkir ocha telah tersedia di meja kaca yang terletak di tengah-tengah.
"Kakashi-san."
"Ya, nona?" Kakashi menatap Sakura yang tadi memanggil namanya.
"Itu salah paham. Maksudku soal yang kau lihat tadi itu tidak sengaja. Kami terjatuh saat itu, tolong jangan berpikiran yang buruk," ucap Sakura.
"Aku mengerti, nona."
"Bukan kami tapi aku. Aku yang jatuh saat itu dan kurang-kurang kau juga malah menimpaku," sindir Sasuke.
"Ishh, kau ini. Aku kan sudah minta maaf," omel Sakura.
"Apa maafmu bisa menghilangkan rasa sakit di tubuhku? Kau akan menerima akibat dari ini. Sampai aku membaik, kau akan menjadi asiatenku di kantor mulai hari ini. Tidak ada penolakan! Ayo pergi, Kakashi!" dengan sedikit tertatih Sasuke berjalan mendahului keduanya. Tiba-tiba sebuah tangan mungil melingkar di lengan kirinya. Ia menatap pemilik tangan itu dan terlihat bingung. "Apa?"
"Aku hanya membantumu berjalan, bukan yang lain. Kau bilang ini karenaku kan? Kalau begitu biarkan aku bertanggung jawab," jawab Sakura.
"Bertanggung jawab, eh? Atau kau sebenarnya ingin bergelayutan padaku." Sasuke menyeringai dan itu benar-benar membuat Sakura sebal, tapi ia menahannya mengingat pria itu tengah kesakitan.
"Diam dan jalan saja," balas Sakura
Kakashi yang berada di belakang mereka hanya bisa tersenyum dibalik maskernya saat melihat interaksi antara keduanya. Mungkin keduanya terkesan sering beradu mulut, tapi Kakashi tahu itu semata hanyalah cara keduanya untuk mendekatkan diri.
.
.
.
.
Saat ini ketiganya sudah berada di dalam mobil Sasuke menuju Uchiha Corp. Dan tiba-tiba saja bunyi memalukan itu keluar dari perut sakura.
"Kau lapar?" tanya Sasuke dan hanya dibalas anggukan oleh Sakura.
"Kakashi hentikan mobilnya sebentar!" kakashi langsung menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Sakura dan Kakashi menatap Sasuke bingung saat pria itu keluar dari mobil, dengan sedikit tertatih pria itu berlari menuju sebuah minimarket sebrang jalan. Dan tak berapa lama pria itu keluar dengan dua kantong putih ditangannya. Sasuke pun kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Ini." ia langsung menyerahkan dua kantong itu pada Sakura.
"Apa ini?" tanya Sakura.
"Beberapa roti, biscuit dan cemilan serta air, kau bilang laparkan? Makanlah!"
"Kau berlari hanya untuk membeli ini? Untukku? Terima Kasih," Sakura tersenyum manis pada Sasuke. Pria itu segera saja mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin lepas kendali saat melihat senyum yang baginya sangat manis itu.
"Hn, aku hanya tak ingin ada mayat dalam mobilku," jawab Sasuke.
"Terserah katamu, pokoknya aku berterima Kasih." Sakura langsung mengambil roti dalam kantong dan memakannya dengan lahap.
Sasuke tersenyum tipis saat melihat cara makan gadis itu.
.
.
.
.
Begitu sampai di Uchiha Corp, Sasuke langsung disibukkan dengan beberapa dokumen yang harus dibacanya dan juga ditanda tanganinya. Onyxnya terlihat fokus dengan dokumen itu.
Tok..tok...tok.
Suara ketukan pintu tak membuat onyx Sasuke beralih dari balik dokumen yang dibacanya.
"Masuk," serunya.
"Tuan, ini dokumen kerja sama Uchiha dan Shimura corp yang harus anda baca. Seperti yang kukatakan sebelumnya, ada baiknya anda menolaknya, tuan." Kakashi, pria itu lah yang saat ini tengah bicara pada Sasuke.
"Tidak, Kakashi!" Kali ini Sasuke menatap Kakashi dan mengabaikan dokumen yang tadi tengah dibacanya.
"Aku hanya takut kejadian dulu terulang."
"Itu tidak akan terjadi, karena akulah yang akan menghancurkan orang tua busuk itu." onyx itu berkilat tajam.
"Menghancurkan siapa?" tanya Sakura yang baru saja kembali dari memesan makan siang untuknya dan Sasuke.
Sasuke dan Kakashi saling memandang satu sama lain. "Menghancurkan produk yang sudah kadaluwarsa nona," jawab Kakashi.
"Oh."
"Mana makananku?" tanya Sasuke.
"Akan diantar sebentar lagi," jawab Sakura.
"Buatkan aku kopi!"
"Hei, aku baru saja kembali. Suruh saja OB," omel Sakura.
"Aku mau kau yang buat. Cepatlah!" dengan misuh-misuh Sakura kembali meninggalkan ruangan itu dan membuatkan pesanan Sasuke.
"Jangan bicarakan ini didepan Sakura, " ucap Sasuke.
"Aku mengerti, tuan. Saya permisi untuk mengerjakan pekerjaan lainnya." Kakashi meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
.
Sakura serasa terjebak dengan kata-katanya sendiri. Ia menyesal telah mengatakan akan bertanggung jawab karena menyebabkan tubuh pria itu sakit akibat tendangan refleksnya. Lihat saja apa yang dilakukan pria pantat ayam itu padanya.
"Jangan melamun! Suapi aku lagi!" lihat saja sekarang ia bahkan sudah seperti baby sitter pria itu. Memesankan makanan, membuatkan kopi, memijat lengan dan punggungnya, mengambil ini, mengambil itu, dan sekarang menyuapinya makan. Pria itu berkata tangannya keram karena terlalu banyak dokumen yang harus ditanda tangani, sehingga ia tak bisa makan sendiri dan karena awalnya ini salah Sakura. Sakura pun harus rela menyuapi bayi besar itu.
"Sudah cukup. Sekarang kau makanlah!" ucap Sasuke yang duduk santai disofa ruangannya.
"Apa yang harus kumakan? Kau menghabiskan punyaku juga, Tu-an."
"Ya sudah, tidak usah makan." Sasuke melenggang menuju kursi kebesarannya. Ia mendudukkan dirinya disana dan kembali membaca beberapa dokumen dan sesekali melirik gadis itu yang berwajah kesal. Ia mengetik sesuatu di ponselnya dan kembali berkutat pada dokume. Di tangannya.
Tak beberapa lama pintu ruangannya di ketuk dan disana sudah berdiri Kakashi dengan bungkusan di tangan kanannya.
"Makan siang, nona?" Kakashi menyerahkan bungkusan itu pada Sakura.
Senyum cerah menghias wajah cantiknya ketika melihat bungkusan yang di bawa Kakashi untuknya. Dan dari harumnya Sakura bisa menebak kalau didalamnya adalah ramen. Sudah dari kemarin ia ingin makan ramen dan sekarang kakashi datang bak super hero dengan menyelamatkannya dari rasa lapar. Walau ia sudah makan roti dan beberapa biskuit yang Sasuke beli tadi pagi tapi itu tak cukup mengenyangkan.
"Terima kasih Kakashi-san, kau sangat tahu yang ku inginkan." ia langsung membuka cup ramen itu dan mengepullah asap dari sana.
"Tuan muda, yang meminta saya untuk membelikan ini nona. Jadi berterima kasihlah padanya," ucap Kakashi.
"Tidak mau, dia yang menghabiskan makanan ku. Tidak peduli siapa yang meminta yang pentingkan siapa yang membawa dan kau yang membawa. Jadi, terima kasih untukmu."
Sasuke hanya mendengus kesal mendengar jawaban gadis itu, tapi tak lama senyum tipisnya kembali terukir saat dia memperhatikan gadis yang tengah makan itu. Setidaknya gadis itu sekarang berada di dekatnya dan itu cukup membuatnya Senang.
.
.
.
.
"Dia hanya bocah ingusan bodoh, dengan mudah ia menandatangani dokumen kerja sama itu. Itu bagus. Kita lihat, apa yang bisa kulakukan padanya. Apa sejarah lama akan terulang lagi? Aku sangat menunggu saat itu. Hahahhahah."
"Kau benar, kakek. Mungkin ini akan lebih mudah dari sebelumnya," ucap pria dengan rambut hitam klimis.
"Kau benar, Sai. Kita lihat saja, bagaimana Shimura akan menghancurkan Uchiha untuk yang kedua kalinya," ucap pria tua bernama Shimura Danzo itu.
.
.
.
.
TBC
.
.
Balasan review.
diniavivah1123 : ini dah lanjut.
meisyacherry : udah lanjut :)
Uchiha Cherry 286 : kira-kira romancenya berasa gk ya disini? Gimana ya? Sembuh gk ya? Liat nanti aja ya. :)
Yoshimura Arai : ini udah di next, terima kasih. Semangat. :)
hanazono yuri : ini udah lanjut ya. :)
sofi asat : udah di lanjut. :)
Terima Kasih buat yang sdh review, jangan bosan untuk tetap review ya.
Sampai jumpa di chapter depan.
CherryRyn96
