CERITA SEBELUMNYA :
Terdiam sesaat kembali menjadi hening. Pikiran mereka masih bergulat dengan hebatnya.
"Ayo, Inuyasha bicara apa saja. Ini tidak baik, nanti Kageyama-san bisa membencimu!" batinnya merasa gugup untuk berkata.
"Kikyo, mengapa kau tau bicara. Padahal ini waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan!" pikirnya tak tahu harus memulai dari mana untuk melakukan pembicaraan.
"Anu!" jawab mereka berdua, bersemu merah diwajah masing-masing.
"Takasashi-san duluan saja?"
"U-Uhm, aku sedikit bosan disini. b-bagaimana kalau kita latihan musik saja, lagipula aku sedikit ingin berolahraga. Bagaimana?" tawar Inuyasha kepada Kikyo.
"Ide yang bagus. Kalau begitu ayo" jawabnya menyetujui perkataan Inuyasha. mereka pun memutuskan untuk latihan menggunakan studio pribadi milik Kagome.
Sayounara memory
Inuyasha author tidak mengambil keuntungan apapun dari Takasashi Rumiko-san baik itu cerita maupun karya, Saya hanya ingin menuangkan pikiran saja dalam fanfic ini.
Rated : T
Summary : Bagaimana bisa seseorang mencintai kita, jika tidak sepenuh hati, keraguan hanyalah sebuah alasan pelarian kebenaran yang menyakitkan. Meninggalkan bekas luka hati bagi siapapun yang sedang jatuh hati kepada orang yang dikaguminya.
Genre : Angst, Romance, School.
Warning : Gaje, OOC, Typo & Etc.
Do not COPAS
Chapter 6 : Persiapan akhir, lagu baru milik kita bersama yang akan kita mainkan.
Malam yang begitu tenang bagi semua orang untuk beristirahat. Semua orang terlelap untuk aktivitas yang akan dilakukan besok, tidak dengan rumah bermargakan Higurashi. Kedua pemuda insan berlainan gender itu, menyelaraskan irama musik dan lagu yang dimainkan dari alat musik yang berbeda itu, piano sebagai melodi indah yang sangat halus dan tenang, sedangkan gitar sebagai penggiring penambah kesan pendamping isi yang berfungsi mengiringi nada piano itu, beberapa menuju akhir kunci musik. Mereka pun beristirahat sebentar.
"Perkembangan Takasashi-kun, sangat cepat sekali" puji Kikyo kagum terhadap permainan gitar Inuyasha.
"Jangan memuji seperti itu, dibandingkan Higurashi kemampuan musikku ini masih bisa dikatakan payah" merasa malu itulah yang dirasakan pria tersebut.
"Kageyama-san, juga terlihat sangat mahir sekarang dalam bermain piano" puji Inuyasha dengan senyum senang. Kikyo hanya bersemu merona kecil mendapatkan pujian dari dirinya.
"I-Itu karena kita bekerja keras untuk rajin belajar bermain musik bukan!" tukas Kikyo menyembunyikan sifat gugupnya.
Terdiam terenyak dalam pikiran masing-masing yang masih gugup, memulai pembicaraan kembali yang dilakukan pria itu mencairkan suasana.
"Kageyama-san, boleh aku bertanya?"
"T-Tentu, apa itu?
"Sejak kapan, kalian berteman dengan Higurashi, padahal kalian baru berteman sekitar 2 minggu ini, tapi kalian terlihat sangat dekat sekali?"
"Sejak di Taman kanak-kanak, dulu aku selalu bermain dengannya. Dia teman pertamaku pada saat itu, dia orang yang kuat dan penyemangat, pada waktu itu aku pernah diganggu oleh orang lain. dia menolongku dan memarahi orang itu tanpa peduli laki-laki atau perempuan, yang bisa kulakukan hanya menangis saja pada waktu itu" ucapnya terkekeh geli mengingat masa lalunya dengan nada pelan yang lembut, membuat pria itu sedikit terbawa suasana.
"Maaf jadi terbawa suasana seperti ini, Takasashi-kun pasti berpikir aneh tentang masalaluku ya" semu rona merah terlihat dari wajah Kikyo yang sedikit malu menceritakan kisah masa kecilnya.
"I-Iya, maaf jika aku bertanya seperti ini. Kageyama-san memiliki teman yang berharga. Tidak sepertiku teman-teman masa kecilku entah menghilang seperti ditelan bumi" jawabnya
"Oh, Ishikawa-san bagaimana? Dia juga teman berhargamu kan?"
"Sebenarnya, kami ini dulu musuh. Aku merasa malu menceritakannya karena aku ini anak nakal di SMP, yang kulakukan hanyalah membuat onar, sampai ketika kami berkelahi dan akhirnya menjadi teman, pertemanan kami pasti terdengar aneh ya?"
"Tidak sama sekali, setiap orang memiliki jalan alurnya sendiri dalam mendapatkan teman"
"Benar juga. Sudah jam segini, besok kita bisa kesiangan kesekolah"
"Benar, sudah jam 1 pagi ya. Karena terlalu asik mengobrol. Aku akan tidur dikursi saja. Kageyama-san bisa tidur dikamar sebelah"
"Baiklah. Maaf jika aku merepotkan, ini selimutnya. Selamat malam Takasashi-san"
"Terima kasih, ya, selamat malam juga"
Mereka pun, bergegas tidur untuk memulai aktivitas besok hari ini. Perasaan senang bagi mereka berdua yang bisa mengobrol dengan lancar tanpa adanya halangan pikir Inuyasha dan Kikyo masing-masing dalam diruangan mereka. Menutup katup matanya dan mulai tertidur dengan nyenyak.
Pagi hari bagi mereka berdua yang cukup sibuk karena harus mengurus Kagome. Membersihkan tubuh gadis yang masih terlihat lemah itu, Mengganti pakaian kotornya & menyuapi makanan. Rutinitas yang tidak biasa untuk remaja akhir. Rasanya sangat aneh dilihat oleh gadis surai biru legam itu yang penasaran apa yang dilakukan mereka berdua pada saat dia tidak bersama mereka berdua. Perasaan cemas terlihat dari wajah Inuyasha dan Kikyo yang diintimidasi lewat senyum jahil Kagome yang duduk dikasurnya.
"Jangan berpikiran macam-macam! Kami tidak melakukan hal yang aneh kok. Nah sekarang ayo makan buburmu, aaa..." meminta membuka mulutnya, Kagome pun hanya menurut membuka mulutnya dan mengunyah bubur yang sudah disajikan itu secara perlahan, tersenyum senang dan menulis dalam catatannya.
"Begitu ya, syukurlah, tapi bukan aku yang membuatnya, Takasashi-san yang membuatnya" ucap Kikyo. Inuyasha hanya bersemu kecil, karena terlalu malu dipuji oleh Kikyo.
"Syukurlah kalau kau menyukainya" Kagome hanya tersenyum hangat dengan rona semu merah kecil pada wajahnya. Menyuapinya sampai selesai. Sesudah mengurus kagome, gadis itu tertidur kembali setelah mengkonsumsi obatnya, menyuruhnya tidur dan beristirahat cukup.
Mereka berdua pun meminta izin untuk berangkat sekolah. Perjalanan menuju sekolah sedikit risih dan tidak nyaman bagi mereka berdua. Siswa pindahan pendiam anggun dan lembut bagaikan bunga yang menyejukkan hati karena keindahannya harus berjalan bersama siswa biasa pikir beberapa orang disekitar area menuju sekolah.
"Maaf, Kageyama-san. Karena kita berangkat sekolah bersama. orang-orang jadi berbisik yang tidak-tidak tentangmu" mohonnya meminta maaf kepada Kikyo karena tidak enak hati.
"T-Tidak apa-apa kok, walaupun sedikit memalukan sih" ucapnya sedikit bersemu diwajahnya. Sebuah tangan menyergap menyentuh bahu mereka berdua. Membuat mereka berdua bergedik ketakutan sesaat
"Waaa... "
"Jantungku rasanya mau lepas saja" gumam Inuyasha sangat ketakutan.
"Dasar, jangan mengagetkan kami seperti itu Kuwashima-san!" pekik kikyo sebal kepada Sango.
"Maaf-maaf, habisnya tumben Inuyasha-san dan Kageyama-san berangkat lebih siang seperti ini, ada apa memangnya?"
"Itu..."
Bel sekolah sudah berbunyi, menandakan kelas akan dimulai.
"Sudah mau masuk kelas, ayo kuwashima-san"
"Benar-benar sampai jumpa dah" Elak mereka berdua mencari alasan untuk segera masuk kelas, melupakan masalah pribadi tentang merawat kagome.
Pelajaran awal baru dimulai. Mata pria itu terasa berat karena kurang tidur disebabkan merawat temannya. Sebuah panggilan dari seseorang yang memperhatikan anak muda itu bersikap aneh. Memanggil nama marganya. Membuatnya tersadar.
"Takasashi, Takasashi"
"H-Hai' sensei?!"
"Coba jelaskan dihalaman 28 tentang sejarah revolusi meiji jepang, siapa saja tokoh politik yang tewas dalam masa itu!?" tanya sang guru yang memperhatikan sikap aneh inuyasha.
"Aduh... I-itu siapa ya, Gomen Sensei aku tak memperhatikan p-pelajaran ini" ucapnya tertunduk malu, semua kelas menertawakan inuyasha kecuali miroku yang satu kelas merasa aneh dengan sikap inuyasha.
Beberapa saat kemudian.
Kedua orang itu berdiri ditengah lapangan sekolah, tangan kanan mereka menghormati bendera kebangsaan negeri ini. Muka mereka berdua terasa masam satu sama lain. Kedua sejoli itu merasa malu. Karena memperlihatkan keburukan dikelas.
"K-kageyama-san, tidak usah menangis. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti aku bisa dicap pembuat masalah. Kalau orang-orang pada melihat kau menangis seperti itu" mohonnya meminta kikyo untuk tidak menangis. Gadis itu hanya terisak kecil menahan dirinya.
"H-Habisnya, a-aku belum pernah melakukan pelanggaran dikelas, a-apalagi hal yang memalukan seperti tertidur dikelas!" jawabnya merasa malu karena melakukan perbuatan buruk disekolah yang dilakukan baru pertama kali sambil menghapus air matanya.
"Kageyama-san, walaupun kau sedang menangis. Kau tetap cantik" ucapnya membuat kikyo tersenyum geli sambil menangis dan mencubit pria itu dengan kencang.
"Adududuh… sakit tahu!"
"J-Jangan katakan hal yang bodoh, T-Takasashi-san" jawab kikyo menangis sambil tertawa gelo menahan perasaan malunya. Inuyasha hanya menahan sakit akibat cubitan temannya. Pria itu hanya tertawa geli melihat sikap kikyo yang sangat berbeda ketika sedang tidak menangis.
"T-Tapi? Menjadi anak nakal menyenangkan juga" gumamnya sambil menghapus air matanya. Inuyasha yang berada disitu hanya tersenyum hangat, melihat gadis itu yang sudah mulai ceria kembali.
Pelajaran yang berlangsung selama beberapa jam hingga waktu hukuman mereka berdua selesai. Jam yang sudah sore pun mengizinkan Kedua murid itu untul selesai menghormati bendera kebangsaan nasional. Mereka pun akhirnya mengambil tas masing-masing disetiap kelas. Dan pulang menuju kerumah kagome. Berbicara untuk membuka obrolan agar tidak canggung diantara mereka berdua.
"Tanganku benar-benar pegal sekali"gumamnya merentangkan seluruh kaki dan tangannya.
"Kageyama-san, kaya nenek-nenek saja" jawabnya menggoda kikyo yang terus mengeluh. Gadis itu merona malu dan memukul pria disampingnya tersebut.
"Jahat-jahat, Takasashi-san. Berhenti bicara yang memalukan.!"
"Aduh... Aduh... Aku hanya bercanda kok" tertawa geli melihat sikap kikyo yang kekanak-kanakkan karena selalu digoda oleh inuyasha sambil menahan pukulan-pukulan kecil wanita itu. Dua orang memperhatikan kedua sejoli itu.
"Oww... Inuyasha sudah membuat kemajuan yang luar biasa hanya dalam waktu 1 minggu ini, tapi mengapa kita harus menguntit mereka sango?"
"Dasar Miroku-kun, kau ini tidak paham ya. Ada yang aneh dengan mereka berdua. Coba pikirkan mengapa mereka bisa berangkat dan pulang bersama padahal arah rumah mereka berbedakan? Lalu mengapa mereka membawa belanjaan banyak sekali?, coba kau pikir?" ujar Sango ke miroku. Ucapannya pacarnya ada benarnya iuga pikir pria tersebut. Merasa tertarik dan curiga. Miroku pun memutuskan untuk menyelidikinya juga.
Menguntit mengikuti kedua temannya. Mereka pun berhenti dan melihat kedua orang itu masuk kedalam rumah yang dikenalnya dan pada saat akan masuk kedalam, dengan segera mereka menyusul keduanya dan berhenti didepan rumah Kagome, terkejut terdiam karena mereka ketahuan oleh temannya.
"Inuyasha-san, Kageyama-san, apa maksudnya ini? Mengapa kalian ada dirumah Kagome-chan. Lalu dia ada dimana? Kau bilang Kagome-chan, ada dirumah sakit tolong jelaskan ini semua?!" tanya sango penasaran.
"Inuyasha, aku tak mengerti mengapa kami dilarang menjenguk Higurashi-san? Apakah kalian berdua merawat Higurashi-san!" lanjut miroku pun ingin mengetahuinya dan asal menebak ucapnya.
"Itu-... Kageyama-san"
"Aku benar-benar minta maaf karena merahasiakan ini dari kalian berdua. Aku melakukan ini atas kemauan Kagome. Itulah sebabnya aku tidak memberitahu kalian, kalian boleh membenciku atas hal ini, tapi jangan salahkan Kagome akan hal ini-... Hah?"
"Sudah cukup Kageyama-san, aku juga ikut ambil serta dalam hal ini. Sebenarnya aku dan asisten Kakakku yang diminta untuk merawat Kagome karena sudah boleh diizinkan pulang dari rumah sakit. Berhubung orang tua Higurashi tidak ada ditempat dan rumahku dekat sini jadi aku pun bertanggung jawab dalam hal ini sebagai pengawas Higurashi. Maafkan aku, karena tidak memberitahukan ini pada kalian berdua Sango, Miroku"
"Begitu yah, sekarang aku bisa mengerti kejadiannya" merasa lega karena miroku sudah mendengar pernyataan inuyasha dan kikyo.
"Begitulah jadi kami benar-benar minta maaf atas hal ini" memohon maaf inuyasha kepada mereka berdua.
"Aku memaafkan kalian, tapi jangan coba melakukan seperti ini lagi atau aku akan marah pada kalian berdua!" ucap Sango masih kurang suka atas tindakan mereka berdua.
"K-Kami mengerti" jawab kedua sejoli itu sedikit sweatdrop melihat wanita itu melakukan pemanasan dengan membunyikan semua jari-jarinya. Siap untuk memukul menghabisi mereka berdua. Membuka pintu dan melepas sepatu mereka.
"Kami pulang, kagome" Berjalan memasuki ruang utamanya ditemui gadis itu dalam keadaan yang tak terduga diruang studio yang bersebelahan dengan ruang tamu, tubuh mungilnya berada ditanah dengan gitar akustik yang bernasib sama seperti dirinya. Tersungkur dilantai rumahnya dengan keadaan yang sangat berantakkan. Darah segar masih terasa lembab ditempat dingin tersebut. Hal itu membuat keempat temannya khawatir.
"Kagome, Higurashi!" menghampiri gadis itu untuk menyadarkannya dan memangkunya. Dengan segera Inuyasha membawa Kagome kekamarnya dan mengistirahatkannya. Panggilan cepat kepada dokter yang dikenalnya. Kamar itu hanya berisikan 3 wanita dan 1 pria surai putih yang teliti memeriksa Kagome. Merasa sudah melakukan cek up. Dia pun membuat dosis obat untuk pasiennya.
"Aku ingin tanya pada kalian berdua, apakah kalian memaksanya untuk melakukan aktivitas berat beberapa minggu ini, sebelum kejadian ini terjadi?" ucap pria itu dengan ekspresi menahan marah.
"Kalau aktivitas berat tidak ada, paling hanya bermain gitar saja yang dilakukannya. Memangnya ada apa. Sensei?" jawab Sango.
"Mulai sekarang, jangan biarkan dia melakukan aktivitas yang melelahkan bahkan bermain alat musik!" lanjut seshomaru berkata.
"Ada apa sebenarnya sensei? Tanya sango tak mengerti.
"Hidupnya tidak akan lama lagi!" ucapnya dengan ekspresi sendu. Kedua teman Kagome yang mendengar itu hanya terdiam tak mempercayainya.
"Tidak mungkin. Sensei tolong selamatkan Kagome. Aku mohon-"
"Bahkan uang pun tak bisa menyelamatkan nyawa manusia yang akan mati!"
"S-S-Se-nsei" ucapan Kagome yang memohon kepada pria itu untuk tidak memarahi temannya. Tersadar dari pingsannya dan memegang tangan pria itu dengan raut wajah sedih.
"Kau sudah bangun Kagome-san. Maaf apakah aku membangunkanmu?"
"S-S-Sen-sei, j-jan-gan s-sa-lah-kan t-te-man-ku" mohonnya dengan memaksakan diri untuk bicara dengan rasa sakit yang dia rasakan.
"Jangan berbicara dulu untuk saat ini tulis saja lewat catatan seperti biasanya!" ujarnya kepada Kagome, gadis itu menulis dengan lemah lembutnya dalam buku catatannya.
"Baiklah, aku minta maaf atas kekasaranku tadi. aku akan ada diluar. Jika perlu sesuatu panggil " seshomaru pun keluar dari kamar kagome dan memberikan waktu kepada kedua temannya.
"Kagome-chan kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir dan gadis itu pun menulis dibuku catatan dengan sangat pelan.
"Mimpi? Mimpi aneh apa maksudmu itu?" tanya Kikyo tak mengerti.
"Kau selalu saja seenaknya saja untuk memutuskan, apakah kau tidak memiliki niat untuk sembuh dari penyakitmu ini?!" lanjut Kikyo yang mulai tak bisa menahan diri.
"Hentikan kagome-chan, jangan katakan hal itu lagi. Jika kau mengatakan hal seperti itu aku akan menamparmu dan membencimu-..." terkejut karena kedua temannya digenggam oleh tangan Kagome dan menulis kembali dibuku catatannya.
"Permohonan apa?" tanya Sango tak mengerti.
"Baiklah aku mengerti, aku akan melakukan yang terbaik untuk festival musik tahunan nanti. Berjanjilah untuk tetap bertahan sampai hari itu tiba!" memahami apa yang dirasakan oleh Kagome. Keinginan untuk membantunya dengan memberikan semangat dan memohon meminta waktu untuk bicara dengan dokter pribadinya kembali.
Mereka berdua pun, keluar dari kamar Kagome dan menuju keruang tamu untuk berbicara dengan kedua temannya yang berada disitu. Terdiam dalam pikiran masing-masing dilihatlah kedua wanita itu duduk sambil membawa buku bersampul biru tersebut.
"Sango bagaimana keadaaan Higurashi-san?" tanya pacarnya dengan ciri khas gelang perak pada tangan kirinya.
"Dia baik-baik saja, aku ingin berbicara dengan kalian berdua" meminta waktu kepada Inuyasha dan Miroku.
"Ada apa sebenarnya, Sango, Kageyama-san?"
"Miroku-kun, aku ingin bertanya apakah dalam festival musik tahunan besok setiap band hanya diperbolehkan memainkan 2 lagu saja?" tanyanya kepada Miroku.
"I-Iya, memangnya kenapa?" jawab miroku ingin tahu, mengapa sikapnya sedikit dingin.
"Aku sudah membicarakan ini dengan Kikyo-san, kita akan memainkan lagu ini!" ucap Sango dengan iris serius, tak seperti biasanya Sango memanggil nama Kikyo dengan namanya. Membuat Inuyasha dan Miroku tak mengerti.
"T-Tapi kami belum pernah mendengarnya apalagi memainkannya? Lalu mengapa kita harus membawakan lagu ini?" elak Miroku ingin meminta jawabannya
"Aku setuju akan hal itu, lagipula waktu kita hanya tinggal 1 minggu lagi untuk melakukan latihan dengan lagu baru lagi-…" ucap Inuyasha menyetujui ucapan miroku.
"Semuanya akan baik-baik saja! Takasashi-san pasti bisa memainkannya, begitupun aku" sela Kikyo memotong perkataan Inuyasha.
"Aku mohon. Ini permintaan terakhirku untuk mewujudkan keinginan Kagome!" mohonnya meraih tangan Inuyasha dan memegang dengan lembut. Mukanya sudah memerah seperti kepiting rebus bagi pria tersebut.
"Aduh, itu bagaimana ya, aku juga bingung harus berkata apa?" ucapan inuyasha sangat gelagapan karena Kikyo memohon kepada dirinya ditambah tangannya dipegang oleh gadis yang disukainya.
Semua mata tertuju kepada kedua sejoli itu, karena Kikyo cukup berani bertindak lebih awal dalam berkata. Berdeham mereka pun melepaskan kedua tangan masing-masing dan melihat ke Miroku.
"K-Keinginan apa maksudnya Kageyama-san, aku tidak mengerti jelaskan apa maksudmu itu tentang keinginan terakhir, Higurashi-san.?" Terenyak atas perkataan miroku seseorang memotong perkataan Kikyo dan Sango.
"Kagome-san, akan meninggalkan Tokyo. Karena dia akan tinggal dengan tunangannya!" ucapan Seshomaru membuat semua orang terdiam sesaat.
"T-T-Tunangan, Erk?… Tunangan!" terkejutnya mereka berempat karena otak mereka belum bisa berpikir cepat, tak mempercayai apa yang telah diucapkan Seshomaru kepada mereka berempat.
"Apa maksudmu Nii-san?" tanya Inuyasha antusias ingin tahu.
"Kagome-san akan meninggalkan Tokyo dan akan tinggal di Shibuya bersama tunangannya, apa kalian berdua tidak bisa mengabulkan keinginan terakhirnya Miroku, Inuyasha?" tanyanya kepada mereka berdua.
"Kalau aku sih tak masalah, b-bagaimana Miroku kau menyetujuinya?" Inuyasha sih bisa menerimannya, kalau miroku tidak tahu deh. Soalnya dia itu orangnya sangat hati-hati dalam berkata pikir Inuyasha.
"Baiklah aku setuju, lagipula aku pernah berhutang padanya dulu. Aku menyetujuinya!" ucapnya dengan simpul senyum menandakan persetujuan dari mereka berdua.
"Terima kasih Miroku-kun, Inuyasha-san"
"Baiklah aku ingin mendengar mentahan musiknya agar aku bisa mempelajarinya" tanya Miroku, Inuyasha pun juga ingin mendengarkannya juga.
Kikyo yang berada disitu pun menghampiri pria paruh baya itu yang akan segera pulang. Matanya berkaca-kaca kepada pria itu karena sudah mau membantu menyakinkan kedua temannya. Pundaknya dipegang oleh pria itu dan berbisik kepada gadis itu.
"Aku menantikan penampilan terbaik dari kalian berlima difestival musik tahunan nanti" ucapnya tersenyum hangat dan mulai meninggalkan rumah Kagome setelah izin kepada mereka semua, berfokus pada lagu ciptaan Kagome dan mulai mempelajari lirik, nada, instrumen dan irama yang akan dimainkan minggu depan pada festival musik tahunan nanti.
To be continue…
A/N : Sebelumnya author-san meminta maaf karena sering terlambat dalam update fanfic ini, selanjutnya ane mau vakum dulu sementara. Kapan selesainya ini fanfic dilihat dari kondisi saya, jika dirasa sudah tak ada masalah nanti akan saya lanjutkan kembali. Hountoni gomenasai.
Nyuwun tanggapi?
