"Hana, dul, set!"
BLITZ…
"Sekali lagi. Hana, dul, set!"
BLITZ…
"Yak selesai!" teriak sang fotografer.
Sang model lelaki yang tadi berdiri tegak layaknya batu, kini tersenyum lebar sampai-sampai matanya menyipit. Rambut hitamnya yang kontras dengan kulit putihnya semakin membuatnya terlihat menawan apalagi kini ia dalam balutan jas berwarna biru gelap dengan motif khas Korea Selatan ber-glitter silver di pundak kiri yang semakin membuatnya terlihat tampan.
Ia membungkuk pada semua kru yang bekerja. Managernya langsung menghampiri ia dan memberikan sejumlah kalimat penyemangat seperti, "Kau bekerja keras hari ini."
"Hyung, aku lapar."
Namun tetap saja jiwa remaja masih tertingal dalam dirinya meski sudah menginjak usia dewasa muda. Ia tetap Oh Sehun yang manja pada orang-orang di sekitarnya.
Rambutnya yang sudah diberi gel hingga kaku kini diacak-acak dengan bringas oleh managernya. "Kau ini. Ingat umur! Dari awal debut sampai sekarang kau tetap saja manja. Kau sudah debut tujuh tahun lalu, Oh Mi Ja! Masih saja merengek. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa menerimamu."
"Karena aku tampan," jawab Sehun dengan kepercayaan diri selangit.
"Kau percaya diri sekali. Teman-temannya jauh lebih tampan darimu."
"Kalau aku tidak percaya diri, aku takkan jadi artis," balas Sehun membuat managernya malas berdebat. "Ayo makan, Hyung. Aku lapar sekali. Sejak siang tadi kau menghilang jadi aku tidak bisa menitip makanan padamu!"
Managernya langsung mendorong ia. "Ganti baju dulu sana!"
"Kau yang traktir, ya?" canda Sehun sambil berjalan mundur. Semoga saja ia tidak menabrak kru-kru yang sedang lalu-lalang membereskan tempat photoshoot tadi.
Helaan napas berat terdengar dari mulut Sang Manager. Sehun pastinya jauh lebih kaya daripada dia, tapi tetap saja lelaki berusia dua puluh enam tahun itu sering sekali minta ditraktir olehnya. Paling mereka hanya berakhir makan di restoran shabu-shabu pinggir jalan atau kedai ramen, karena tidak mungkin dengan gajinya ia membayari Sehun makan di restoran mahal. Ia masih punya anak dan istri yang harus ia beri makan.
"Iya, iya."
.
.
.
Kazuma House Production
Proudly present…
.
.
.
Me Prometa 2 : Years After
® 2013
.
.
.
Sehun ikut masuk dalam mobil mini bus yang dikemudikan oleh managernya. Bukannya ia tidak punya mobil. Masa setelah bekerja selama tujuh tahun, dia tidak punya mobil? Bohong kalau dia menjawab iya. Mobilnya berada di gedung SM. Dia ke tempat pemotretan bersama mobil managernya supaya tidak dikejar fans.
"Mau makan di mana?" tanya Sehun sambil memainkan ponselnya sementara managernya berkutat dengan setir mobil yang saat ini terjebak dalam kemacetan lampu lalu lintas.
"Di mini market sana. Memangnya kau mau makan di mana lagi?" cibir managernya.
"Siapa tahu kau mau mengajakku makan di restoran Prancis," canda Sehun membuat Manager semakin mencibir.
"Ini akhir bulan, Hun. Gajian masih lusa."
Mobil melaju lalu berbelok hingga berhenti di depan sebuah mini market dua puluh empat jam yang terlihat sepi pengunjung. Sehun langsung memakai topinya lalu mengikuti manager masuk ke dalam mini market itu. Sang kasir tampak tidak tertarik pada mereka.
"Berarti lusa makan-makan, dong." Sehun memang suka bercanda. Menjadi managernya selama tujuh tahun tentu saja sudah membuatnya sangat mengenal namja bermarga Oh ini. Ia lebih banyak mengabaikan lelaki itu apalagi kalau niat jahilnya sedang muncul.
Sehun mengambil satu cup ramen instan dan sekaleng susu lalu membiarkan manager yang membayar sedangkan ramen-nya sedang diseduh. Ia duduk di salah satu kursi. Sambil menunggu ramennya matang, ia menonton TV yang kebetulan sedang menyiarkan interview EXO di ArirangTV.
Saat itu sedang giliran Kyungsoo yang diwawancara. Sehun penasaran, ia pun menonton dengan serius sampai-sampai ia sendiri lupa dengan mie-nya kalau saja Sang Manager tidak mengingatkan dia dengan sebuah tepukan manis tepat di punggungnya.
"Bagaimana hubungan kalian sekarang? Masih seperti dulu?" tanya Manager.
Sehun mengaduk-aduk mie-nya, menghirup aroma gurih yang menggoda perut. "Ya begitulah. Aku tidak berani mengajaknya untuk lebih serius. Banyak hal yang menjadi pertimbangan." Sehun memakan mienya. "Kenapa sih umur kami harus berbeda jauh? Kan kalau satu atau dua tahun seperti Kyungsoo Noona masalahnya jadi tidak serumit ini," keluh Sehun.
"Pacaran saja dengan Kyungsoo," celetuk managernya yang sibuk dengan kopi di tangannya.
Sehun melayangkan poker face andalannya. "Kau mau aku dibunuh Kkamjong? Kalau kau rela, ya tidak apa-apa sih. Toh Hyung juga yang kehilangan pekerjaan," jawab Sehun acuh tak acuh.
"Dia tidak pernah meminta padamu?" tanya Manager. "Dulu waktu istriku berumur dua puluh lima tahun, dia sering sekali menanyakan padaku, 'kapan kita menikah?' rasanya seperti dikejar penagih hutang. Masa sih dia tidak bertanya padamu?"
Sehun menggeleng. "Mungkin dia masih suka dengan hubungan seperti ini."
"Kalian rumit. Pacaran bukan—temanpun masih dipertanyakan—tapi kau sering sekali menginap di apartemennya. Kau tidak melakukan sesuatu padanya, kan?" tuduh Manager Hyung. "Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan itu. Toh kalian sudah sama-sama dewasa dan tahu konsekuensinya. Aku khawatir dengan pandangan orang-orang yang melihatmu."
"Kenapa?" tanya Sehun polos dengan mulut penuh mie.
Kedutan muncul di pelipis Manager Hyung. Anak asuhnya ini polos atau sok polos, sih? "Tentu saja orang-orang yang sering melihatmu bolak-balik apartemennya akan beranggapan negatif tentang kalian. Kalau gosip tak sedap muncul, akan sangat sulit memperbaiki citramu di mata publik. Kau kan sudah memegang julukan National Little Brother."
"Aku tidak pernah tahu hal itu," jawab Sehun.
Lalu mereka kembali tenggelam dalam keheningan. Sehun sibuk makan sambil menolehkan kepalanya pada TV yang sedang menyala. Ia menyimak baik-baik tiap dialog yang dilakukan kesembilan orang itu. Kadang ia mencibir dalam hati saat kalimat yang dilontarkan kedelapan member EXO tidak sesuai kenyataan. Ada untungnya juga ia berteman dengan Kai dan Baekhyun. Mereka kadang memberikan info-info yang pastinya akurat tentang EXO.
Omong-omong sudah lama Sehun tidak bertemu dengan Baekhyun. Tentu saja, gadis itu kini sedang sibuk menjalani konser tur dunia keduanya. Terakhir kali Sehun dengar gadis bermarga Byun itu sedang di Australia. Tapi selanjutnya ia tidak tahu lagi. Sehun tidak mengikuti perkembangan beritanya.
"Bacon! Jangan makan es. Suaramu bisa serak!" bentak seorang perempuan berumur tiga puluhan pada seorang perempuan berambut cepak keunguan yang tiba-tiba sudah duduk di samping Sehun dengan memegang se-cup es krim strawberry.
"Hanya satu cup, Eonnie. Lagipula aku tidak ada jadwal sampai Sabtu nanti, kok," rengek gadis itu. Sehun merasa kenal dengan gadis ini, apalagi dagunya yang panjang.
"Baekhyun Noona!" seru Sehun kaget namun ia berusaha mengontrol suaranya agar tidak terlalu kencang. Gadis itu berbalik. Ia sama kagetnya dengan Sehun.
"Sehun-ah!" Gadis itu langsung memukul lengan kanan Sehun untuk mengekspresikan kebahagiaannya. "Sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Ke mana saja kau?"
Sehun mencibir. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Noona. Aku tetap di Seoul. Kau saja yang sering bepergian ke luar negeri sampai-sampai rasanya aneh mendegarmu naik mobil karena kau lebih sering naik pesawat," ledeknya.
Sehun memperhatikan Baekhyun. Tak lama setelah ia debut, setahun kemudian Baekhyun debut sebagai penyanyi solo. Kemunculannya dengan konsep anak sekolahan membuatnya menjadi digandrungi remaja sekolahan yang langsung menjadi fans-nya. Terlepas dari kenyataan bahwa dia adalah salah satu mahasiswi tingkat tiga.
Di album kelimanya, Baekhyun memberikan kesan glamor dalam penampilannya. Bukan lagi gaya anak remaja seperti dulu. Kali ini terkesan sedikit lebih "nakal". Baekhyun sering sekali terlihat tampil dengan balutan mini dress bertaburan glitter dan aksesoris mencolok yang tak kalah blink-blink dari bajunya. Oh ya, jangan lupakan bibir merah yang menjadi trademark-nya sekarang.
"Penampilanmu kali ini…" Sehun berusaha memilih kata. Karena kalau sudah salah bicara dengan Baekhyun urusannya bisa panjang.
"Boyish, eoh?" kata Baekhyun. "Aku hanya sedang dijadikan bahan uji coba untuk kemudian disesuaikan dengan konsep album terbaruku nanti."
Baekhyun lebih senang menjuluki sesi penyesuaian gaya yang dilakukan staff SM padanya dengan sebutan uji coba. Penampilan Baekhyun yang dilihat fans bukanlah penampilan Baekhyun yang sesungguhnya. Ia baru menjadi seorang Byun Baekhyun ketika di dalam dorm, saat ia bebas memakai baju apapun yang ia mau.
"Kau memotong rambutmu?" tanya Sehun.
Baekhyun malah tertawa. "Tentu saja tidak. Ini hanya wig. Kau takkan berpikir aku keluar dari dorm begitu saja tanpa penyamaran, kan?"
Sehun mengangguk mengerti. Baekhyun dalam penyaraman sama dengan Baekhyun tanpa makeup dan tanpa rambut panjang. Rambut panjang seakan menjadi trademark-nya yang lain. Begitu juga eyeliner yang selalu berada di sudut mata sipitnya. Byun Baekhyun belum menjadi Baekhyun Sang Idola sebelum memakai eyelinernya.
"Noona, umurmu sudah dua puluh delapan, kan?" tanya Sehun. Baekhyun mengangguk dengan sendok eskrim dalam mulutnya. "Kau tidak berpikiran menikah?"
"Menikah dengan siapa?" Baekhyun melepaskan sendok merah itu dari mulutnya lalu menancapkan di es krim strawberry yang tinggal setengah. "Menikah untuk seorang idol itu menjadi nomor yang kesekian, kan? Kau tahu itu, Hun-ah," kata Baekhyun lirih sambil memandang es krimnya. "Apalagi kau sedang dipuncak popularitas seperti ini, menikah seakan-akan terlihat seperti sebuah batu sandungan."
"Apa dia juga berpikir seperti itu?" tanya Sehun. "Dia seperti matahari yang tak pernah berhenti bersinar."
"Matahari juga bagian dari bintang," kata Baekhyun, "suatu saat matahari akan kehilangan cahayanya."
"Apa aku harus menunggu sampai cahayanya hilang? Kalau dia benar-benar matahari, maka aku akan dibuat menunggu ribuan tahun lamanya sampai cahayanya benar-benar padam dan aku akan datang menjadi cahayanya yang lain." Sehun menenggak susunya.
Baekhyun menopang kepalanya dengan tangan kanan sambil melirik Sehun. "Dia atau kau yang menunggu?"
Sehun menyerngit bingung, tidak mengerti dengan kalimat Baekhyun. "Maksudmu apa, Noona?"
"Kau pernah berpikir tidak kalau dia sedang menunggumu?" tanya Baekhyun dengan senyum kecil menghiasi bibir tipisnya yang kali ini berwarna sedikit oranye.
Sehun mendengus sambil menunduk. Ia tersenyum miris sambil menggelengkan kepalanya. "Menungguku? Bukannya selama ini aku yang menunggunya. Buktinya dia sama sekali tidak menjawabku tiap kali aku menyatakan cinta padanya."
"Kalau begitu, kenapa dia membiarkanmu menginap di apartemennya?" Sehun terdiam. "Dia bukannya tidak menjawab pernyataanmu. Lebih tepatnya tidak bisa menjawab sekarang." Baekhyun mengaduk-aduk eskrimnya hingga cair. "Kau tahu sendiri, kehidupan sebagai idola bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus dipikirkan. Penggemar, karier, uang, masa depan. Ini bukan semata-mata tentang cinta."
Sehun masih diam. Otaknya sibuk mencerna kalimat Baekhyun.
"Karena hal itu pulalah aku dan Yeollie memutuskan hubungan kami dua tahun lalu," kata Baekhyun. Matanya berubah sendu. Sehun seakan tidak melihat Baekhyun lagi. Yang ada di hadapannya ini seperti sosok Baekhyun belasan tahun lalu yang sering dibully trainee-trainee sirik.
Tiba-tiba Baekhyun menoleh penatap Sehun yang sedang memandangnya dengan tatapan tak percaya. Baekhyun kemudian mendengus menahan tawa. "Ya! Apa-apaan wajahmu?"
"Kalian… selesai? Kenapa?" Hanya tiga kata itu yang berhasil Sehun saring dari otaknya. Ia tak habis pikir dengan Baekhyun dan Chanyeol. Sesulit apapun masa-masa yang pernah ia hadapi dalam kehidupan percintaannya, menurut Sehun perjuangan Baekhyun dan Chanyeol jauh lebih hebat darinya. Mereka berpacaran sembunyi-sembunyi cukup lama. Masa harus sampai berpisah? Sehun tidak dapat memikirkan akhir kisah keduanya.
Baekhyun lagi-lagi tersenyum miris. "Seperti yang kau bilang, mereka berdua sama-sama seperti matahari. Matahari membutuhkan gas-gas seperti hidrogen dan helium untuk bisa dibakar dan menghasilkan cahaya. Begitu pun dia. Bagi matahari sepertinya, hidrogen dan helium adalah fans. Aku tidak termasuk pada salah satunya. Bukan juga oksigen, air, atau karbohidrat dalam hidupnya."
"Kau juga pasti penting baginya, Noona. Kalau tidak, bagiamana ia mempertahankanmu selama itu?" tanya Sehun balik.
"Sudah kubilang, kehidupan idola itu rumit. Kau tidak bisa melihat dari satu sisi saja. Apa yang kau lihat dengan yang dilihat fans dan dilihat petinggi agensi berbeda seratus delapan puluh derajat. Mungkin baginya aku terlihat sebagai sumber penyemangat, namun fans akan menganggapku sebagai saingan mereka, dan petinggi agensi menganggapku sebagai batu sandungan."
"Kalian masih berhubungan?" tanya Sehun ingin tahu lebih jauh.
Baekhyun menggeleng. "Siapa aku sampai kami masih berhubungan?"
"Teman?" tanya Sehun ragu.
"Aku yang sekarang bukan lagi kekasih atau temannya, Sehun-ah. Aku hanya…" Baekhyun menelan ludahnya sendiri, "bagian kecil dari kepingan masa lalunya."
.
.
.
.
.
Hari itu hujan turun dengan sangat lebat. Kedua sejoli itu memutuskan membawa mobil mereka ke tepi jalan yang sepi. Keduanya larut dalam diam. Tidak seperti biasanya. Sang perempuan tidak bergelayut manja di lengan lelakinya. Sang pria pun tak menggoda gadisnya dengan sederet kalimat dan senyum bodohnya. Ekspresi dan mulut mereka sama diamnya dengan mobil ini.
Baekhyun selalu percaya, segala hal memiliki akhir. Begitu pun dengan hubungannya dan Chanyeol yang sudah terjalin lebih dari lima tahun. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah hubungan. Tentu saja mereka sudah tahu kebiasaan pasangan mereka luar-dalam. Dan Baekhyun yakin, mungkin malam ini akan menjadi malam terakhirnya duduk di sisi pria berambut kecoklatan itu sebagai kekasihnya.
"Baek, kau tahu profesi kita seperti apa," kata Chanyeol dengan suara beratnya.
Bahkan Baekhyun lupa kapan terakhir kali Chanyeol memanggilnya dengan nama tengahnya saja tanpa embel-embel lain. Kalaupun namja bermarga Park itu memanggil nama tengahnya, pasti ia akan memanggilnya Baekkie.
Lihatlah sekarang. Park Chanyeol yang sedang ditatap Baekhyun bukanlah Park Chanyeol yang ia kenal. Yang ada hanya sosok Park Chanyeol berwajah datar, dingin, dan ketus yang ada dalam visual Baekhyun. Ia tidak mengenal Chanyeol yang sekarang.
Baekhyun hanya mengangguk menanggapi perkataan Chanyeol. Mereka kembali terbuai dalam keheningan selama beberapa saat. "Kau mau menyelesaikannya sampai di sini?" tanya Baekhyun. "Yeol, lihat mataku."
Chanyeol enggan menatap mata Baekhyun yang menurutnya seperti tatapan memelas kucing peliharaannya yang juga ia namai Baekhyun. Ia tahu, mata itu yang membiusnya pertama kali. Dan senyum itu yang kedua. Kalau ia sampai melihat mata Baekhyun, maka semua pertahanan rapuh yang ia bangun dari kaca akan dengan mudah runtuh.
"Baek," Chanyeol memejamkan mata, "kita idola. Kau punya kariermu, dan aku punya karierku. Kita tidak bisa kucing-kucingan seperti ini selamanya. Suatu hari fans akan mengetahuinya dan kau akan selesai. Kau memiliki karir yang bisa kauraih, jauh lebih tinggi daripada yang bisa kuraih saat ini. Kau bebas. Dan tanpa aku, kau akan semakin bebas."
Air mata Baekhyun tak bisa lagi dibendung matanya. Dulu mungkin Chanyeol akan datang menyeka air matanya dengan jemarinya yang hangat, kemudian mengecup kedua matanya agar ia berhenti menangis. Namun sekarang tidak mungkin Baekhyun berharap hal itu akan terulang lagi.
Baekhyun menguatkan hatinya. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia menarik napas lalu menghembuskannya, hal yang selalu ia lakukan untuk menenangkan dirinya. "Ne," Baekhyun memaksakan senyum membusur di bibirnya. "Terima kasih atas semuanya, Chanyeol-sshi. Annyeonghi kyeseyo."
Baekhyun membuka pintu mobil lalu berjalan dalam hujan menuju gedung apartemennya yang terlihat menjulang dan paling bercahaya di sepanjang jalan ini. Air hujan tak membuatnya berhenti melangkah meski sesekali kakinya hampir terpeleset karena menggunakan heels setinggi dua belas senti meter.
Ia sudah sangat basah kuyup. Ia mendongak ke langit ketika ia berada di tengah jalan bersama pejalan kaki lain yang sedang menyeberang. Air berjatuhan di wajahnya secara frontal. Tidak ada yang tahu apakah itu air hujan atau air mata. Keduanya terlihat mirip.
Jejak air, hanya bisa dihapus dengan air, kan? pikir Baekhyun miris.
.
.
Di dalam mobil biru itu Chanyeol duduk tegap sambil memandang ke depan. Ia melihat gadisnya berjalan cepat dalam hujan. Ingin sekali rasanya ia membawakan payung yang ada di belakang mobilnya untuk gadis itu. Namun ia tidak bisa. Bila ia melakukannya, maka semua akting yang ia lakukan barusan akan jadi sia-sia.
Chanyeol melirik jok mobil di sebelahnya yang sudah kosong. Ia mendapati benda berkilauan di sana. Chanyeol meraihnya. Kilasan masa lalu langsung menghampiri begitu ia memegang gelang kristal yang selalu Baekhyun pakai selama menjadi kekasihnya. Gelang itu pemberian orang tuanya, tanda Baekhyun diterima masuk dalam keluarga besar Park.
Aku berharap kau bisa memakainya lagi suatu saat nanti, Baekkie-ah.
.
.
.
.
.
To Be Continue…
2.424 words
What a great date today~ 131211
Setelah di-PHP-in sama jadwal ujian yang katanya selesai hari Jumat-tapi nyatanya baru selesai hari ini gara-gara klasikal-saya dateng bawa chapter ini. Bahagia banget~!
Thanks to: Kang Hyun Yoo, Eunra Lau, MinSeulELFSparFishy, Heyitsmezifan, EXOST Panda, PutriPootree, ulfarafida, Reezuu Kim, chindrella cindy, luhan8045, dan semua yang udah baca, fave, alert. Gomawo~
Sign,
Uchiha Kazuma Big Tomat
Finished at:
June 25, 2013
06.00 A.M.
Published at:
December 11, 2013
11.55 P.M.
Me Prometa 2 : Years After © Kazuma House Production ® 2013
