"
Orange Cat
Warning : YAOI, Typo(s)
Disclaimers : semua tokoh adalah milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Cerita ini asli milik author.
Main Cast : Xiumin, Chen
.
.
.
Ia melupakan sejenak pernyataan Chen tentang Hyejoon atau tipe yeoja yang Chen sukai.
Figur di depannya begitu sempurna.
Xiumin tidak pernah melihat keindahan ini sebelumnya. Pemandangan pantai malam ini seakan menjadi blur, karena yang jelas hanyalah setiap lekuk wajah Chen.
Ini mungkin berlebihan. Tapi memang itulah yang Xiumin rasakan.
"Xiumin?" Chen mengibaskan tangannya, menyadarkan Xiumin dari lamunannya.
"Ya?"
"Lain kali kau harus pergi ke tempat-tempat yang indah bersamaku!" Ujarnya riang sambil merangkul tubuh Xiumin.
.
.
.
.
Chapter 6
.
.
.
Ini jaketmu." Xiumin melepas jaket Chen setelah mereka sampai di tempat parkir.
Chen menggeleng, "Kau saja yang pakai."
"Ini kan punyamu, lagipula malam ini sangat dingin..." ujar Xiumin.
Chen kembali menggeleng, "Tidak, Xiumin. Pakai saja jaketnya."
Xiumin cemberut. Ini tidak akan berakhir ketika mereka berdua sama-sama keras kepala. "Baiklah baiklah.."
"Nah ayo naik." ucap Chen ketika ia sudah siap diatas motor.
Xiumin segera naik ke atas motor. "Apa kau yakin tidak akan kedinginan?" tanya Xiumin.
Greb
Tiba-tiba saja Chen menarik kedua tangan Xiumin kedepan.
"E-eh?" Xiumin gelagapan.
"Aku tidak akan kedinginan, percayalah." Chen menyatukan kedua tangan Xiumin di perutnya sehingga sekarang posisi Xiumin memeluknya dari belakang.
Xiumin bisa merasakan punggung Chen yang menempel di pipinya. Nyaman. Ia harap dengan ini Chen benar-benar tidak akan kedinginan.
.
"Ah, tidak. Bensinnya habis."
"Hah? Jadi bagaimana?"
"Tunggu disini sebentar ya. Kalau tak salah tadi aku melihat tukang bensin disekitar sini."
Xiumin mengangguk, "Baiklah. Jangan lama-lama ya!"
Chen mengangguk kemudian pergi membeli bensin. Xiumin duduk diatas motor Chen sambil sesekali menggosok-gosokkan telapak tangannya karena malam ini cukup dingin.
"Uh.. Dinginnya.." gumam Xiumin sambil meniup-niup tangannya.
Tap... Tap
Terdengar langkah kaki mendekati Xiumin. Xiumin menengok ke belakang, mencari sumber suara. "Chen? Apa kau sudah beli bensinnya?" ucapnya. "Masa cepat sekali sih?"
Ia melirik ke setiap arah. Dan mendapati seorang yeoja terus mendekat ke arahnya.
"Kau siapa?" heran Xiumin. Yeoja itu terus mendekat sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Xiumin.
"Apa yang?! ARGH!" ronta Xiumin. Entah apa yang yeoja itu lakukan tapi Xiumin merasa sangat sesak. Seperti ada sesuatu yang diambil darinya.
"Arghhh..." Xiumin terus meronta dan memegangi dadanya yang terasa sangat sakit. Ia sampai jatuh berlutut di jalan karena rasa sakit yang tiba-tiba saja mendera. Samar-samar ia melihat yeoja itu dengan telunjuk yang masih teracung ke wajahnya sambil bergumam tak karuan.
"Xiumin!"
Chen datang, dan langsung berlari menuju Xiumin. Ia begitu takut ketika melihat raut wajah Xiumin yang kesakitan. Dan ketika Chen mendekat, tiba-tiba saja rasa sakit di dada Xiumin menghilang. Walau yeoja itu masih melakukan aktivitasnya barusan.
"Xiumin? Apa yang terjadi padamu?" tanya Chen sambil memegangi tubuh Xiumin yang lemas. Belum sempat melihat dengan jelas wajah yeoja yang berada di dekat Xiumin tadi, yeoja itu sudah berlari kencang menjauh dari mereka.
"Siapa kau!" teriak Chen sambil menatap punggung yeoja itu yang semakin menjauh dari mereka.
"C-Chen..." rintih Xiumin.
Chen menatap Xiumin khawatir, "Apa yang terjadi padamu?"
Pluk
Tidak sempat menjawab, Xiumin sudah pingsan di pelukan Chen.
.
.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Chen ketika Xiumin sadar.
Xiumin menggeleng, "Entahlah, yeoja itu menunjuk wajahku dengan telunjuknya kemudian aku merasa dadaku sangat sakit dan sesak. Lalu, begitu kau datang sakitnya hilang."
"Dia pergi saat aku datang. Apa kau tidak mengenalnya?" tanya Chen lagi.
"Tidak, aku bahkan belum pernah melihat wajahnya sebelumnya.."
"Ini aneh.. Kenapa ia bisa menyakitimu secara tiba-tiba?"
Xiumin menggeleng. Terbesit pikiran-pikiran di kepala Chen. Apa mungkin yeoja itu merupakan siluman juga? Mana mungkin seorang manusia biasa dapat melakukan hal seaneh itu?
"Ah, sudahlah.. Lebih baik kau istirahat, ini sudah hampir larut malam." ucap Chen kemudian.
Xiumin mengangguk, "Hu'um, terima kasih Chen, selamat malam."
"Jaljayo."
OOO
Xiumin kembali berkelana saat Chen tidak ada di rumah, tujuan utamanya adalah kopi gratis di café Luhan namun sebuah petshop mengalihkan perhatian Xiumin. Apalagi puluhan anak kucing yang terlihat dari kaca etalase petshop itu membuatnya merasa bertemu kawan.
"Selamat datang." Sapa seseorang—yang sepertinya merupakan pemilik petshop itu—ramah.
Xiumin tersenyum pada orang itu, "Aku mau lihat-lihat kucing."
"Tentu saja, apa kau ingin memelihara—." Tiba-tiba saja perkataan orang itu terhenti ketika melihat sesuatu yang berbeda di sorot mata Xiumin ketika ia menatap kucing-kucing itu. "K-kau? Siluman kucing?"
Xiumin langsung tersentak ketika orang itu mengetahui bahwa ia merupakan siluman kucing, untung saja tidak ada orang lain di petshop itu. "Kenapa kau tahu?"
Orang itu segera mengunci petshop nya dan membalik papan di depannya menjadi tulisan 'TUTUP'.
"Jadi apa yang membuatmu kesini dalam wujud manusia?"
"Kau belum jawab pertanyaanku.. kenapa kau tahu aku ini siluman kucing?" Xiumin menurunkan beberapa anak kucing yang tadi ada di pelukannya.
"Aku ini manusia setengah dewa. Ayahku adalah seorang dewa dan ibuku adalah manusia biasa." Ujarnya sambil tersenyum lembut. "Aku Lay." Ia menjulurkan tangannya.
"Xiumin." Xiumin menjabat tangan Lay.
"Jadi apa yang membuatmu kesini dalam wujud manusia?" Lay mengulang pertanyaannya.
"Aku ingin menjadi manusia. Hmmm, apa kau bisa memberitahuku bagaimana cara agar aku bisa menjadi manusia seutuhnya?"
Lay mengangguk, "Tentu saja, eh.. Memangnya kau belum tahu bagaimana caranya?"
"Waktu itu aku terlalu senang, sehingga aku segera pergi meninggalkan para dewa setelah aku mendapatkan tubuh manusia... Hehehe." Xiumin menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kikuk.
Namja berdimple manis itu tersenyum, "Kau ini lucu sekali, membuatku gemas saja.. Haha.. Hmmm, jadi begini.." Lay membenarkan posisi duduknya. "Ada 3 cara untuk membuat seorang siluman menjadi manusia seutuhnya.
"Yang pertama adalah, membantu seribu orang yang sedang kesulitan tanpa ada perasaan pamrih sedikitpun. Cara ini cukup ribet, apalagi tidak semua bantuan yang kita berikan dapat menjadi salahsatunya.."
Xiumin mengangguk mengerti, "Lalu?"
"Yang kedua adalah cara paling mudah, sekaligus paling buruk."
"Buruk bagaimana maksudnya?"
"Yaitu mengambil separuh nyawa siluman lain..."
Xiumin berekspresi kaget, "Apa itu bisa dilakukan? Lalu apa yang akan terjadi dengan siluman yang nyawanya diambil?"
"Ia tidak akan bisa menjadi manusia, ia akan kembali menjadi wujud asalnya. Namun ini adalah cara yang paling hina, setelah menjadi manusia, siluman yang mengambil separuh nyawa siluman lain ini akan mengalami kehidupan yang hina. Karena ia telah mengambil nyawa siluman lain yang tidak berdosa.."
"Yaampun, itu sangat mengerikan... Apa.. Apa mungkin saja ada siluman lain yang akan melakukan hal itu?" tanya Xiumin agak takut.
Lay mengangguk, "Meskipun ini adalah cara yang hina, dan membuat seluruh dewa membenci siapapun yang melakukannya namun masih ada saja yang melakukan cara itu. Biasanya mereka adalah orang yang berputus asa karena tak kunjung berubah menjadi manusia seutuhnya.."
Xiumin semakin menatap Lay horor, "Apa ini maksudnya... Sekarang aku berada dalam ancaman?"
Lay mengangguk, "Mungkin saja.."
Xiumin teringat dengan kejadian malam itu, disaat seorang yeoja melakukan hal aneh padanya. Apa mungkin...?
"Kurasa aku pernah merasakannya..."
"Merasakan apa?" tanya Lay.
"Seorang yeoja mendekatiku, mengarahkan telunjuknya padaku dan aku langsung merasa sakit yang teramat sangat seperti ada sesuatu yang diambil dariku..."
Kini giliran Lay yang menatap Xiumin horor, ia pun meletakkan tangannya di dada Xiumin. Merasakan apa yang telah Xiumin alami malam itu.
"Kau benar.." ujar Lay lemas, "Ia melakukan ritual itu, kau hampir kehilangan sebagian nyawamu. Sebelum pelindungmu datang."
"Jadi itu benar...?"
Lay mengangguk, "Iya... Untungnya pelindungmu segera datang sebelum ia sempat menyelesaikan ritual hina itu.."
"Pelindungku? M-maksudmu?"
"Ya, pelindungmu adalah seseorang yang-"
Drrrrttt... Drrrrrttttttt...
"Sebentar ya, ada telfon."
Lay mengangguk.
"Yoboseyo.."
"Xiumin! Kau dimana?!"
"Chen? Aku di pet shop.. Ada apa?"
"Ah, kufikir kau diculik.." ucap Chen dengan nada suara yang terdengar panik.
"Ya! Mana mungkin, memangnya aku ini anak kecil apa?"
"Iyaiya, cepatlah pulang. Aku lupa bawa kunci. Aku jadi tidak bisa masuk kan?"
"Yaampun! Kenapa kau bisa lupa bawa kunci sih! Yasudah aku pulang sekarang. Tunggu sebentar aku akan sampai secepat kilat!"
Setelah menutup telfon, Xiumin melirik kearah Lay sambil bangkit dari duduknya. "Lay, terima kasih banyak ya! Aku harus pulang, Chen menungguku. Sampai jumpa lagi!"ia membungkuk sesaat sebelum melesat keluar dari pet shop milik Lay.
Lay tersenyum, "Dasar bocah itu... Eh, aku belum sempat memberitahunya syarat yang ketiga.. Ah, sudahlah.. Lebih baik jika ia tidak mengetahuinya.."
.
Hosh... Hosh..
Xiumin berlari tergesa. Tidak seharusnya ia membuat Chen menunggu. Tapi salahnya sendiri kan? Lupa membawa kunci.
"Ya! Darimana saja kau?" seru Chen ketika Xiumin membuka pagar.
"Hosh... Hoshh..." Xiumin hanya ngos-ngosan sambil merogoh kantungnya. Kemudian menyerahkan kunci rumah pada Chen.
"Aish, aku minta maaf. Seharusnya kau jangan lari-lari, capek kan?" ujar Chen sambil membuka kenop pintu.
Xiumin mengangguk, "Buatkan aku jus jeruk... Hoshh..."
.
Chen menutup pintu kulkasnya pelan, "Jus jeruk habis, lemon bagaimana?"
Xiumin menggeleng, "Tidak mau, mau jus jeruk." entah mengapa ia merajuk.
"Yasudah, ayo kita beli saja kalau begitu."
.
"Chen, aku mau jus apel juga ya?" pinta Xiumin sambil memegang dua botol jus, yang satu rasa jeruk dan satunya lagi rasa apel.
Chen mengangguk, "Iya, teserah."
Kemudian mereka bergegas menuju kasir untuk membayar.
"Semuanya jadi 6.000 won."
Chen mengeluarkan uangnya untuk membayar. "Ini." Sang kasir mengambil uang itu dan memberikan kembaliannya.
"Tidak usah pakai plastik!" seru Xiumin sebelum sang kasir memasukkan dua botol minumannya kedalam plastik.
Kasir itu mengangguk, "Ah baiklah, selamat datang kembali."
"Terimakasih!" ucap Xiumin sambil tersenyum.
.
"Jus apel, kaya akan vitamin C, serat dan.." gumam Xiumin sambil membaca tulisan di botol jus apelnya.
Chen berjalan di depan Xiumin, sampai akhirnya seseorang menelfonnya. "Iya, saem? Ada apa ya?" ujar Chen pada seseorang disebrang sana. Sepertinya ia ditelfon oleh dosennya.
Chen yang sedang menelfon itu terus berjalan sambil terfokus pada pembicaraannya dengan sang dosen. Xiumin tertinggal dibelakang.
Pluk
Entah apa yang terjadi, botol yang Xiumin pegang tiba-tiba saja terjatuh dan menggelinding ke belakang. Xiumin segera mengejar botol itu.
Tuk
Botol itu berhenti tepat didepan yeoja yang Xiumin temui malam itu. Ia mengarahkan telunjuknya untuk menerbangkan botol jus milik Xiumin dan melemparkannya ke dalam tempat sampah.
"K-kau..." Xiumin terbata. Langkah kakinya perlahan semakin mundur untuk menjauh dari yeoja itu.
Yeoja itu menyeringai, kemudian tertawa kecil. "Kali ini aku akan berhasil, kucing." ia melangkah mendekati Xiumin sambil mengarahkan telunjuknya.
Xiumin mulai meronta ketika yeoja itu melaksanakan ritualnya. Kali ini rasanya lebih sakit. Berulangkali tubuhnya diturun-naikkan. Yeoja itu seakan dengan bebas menggerak-gerakkan tubuh Xiumin karena posisi mereka yang berada di sebuah gang sempit.
"Aaarghhhh..."
Penglihatan Xiumin mulai mengabur, hanya terasa kilatan-kilatan di matanya yang menyipit. Menahan sakit. Lidahnya mulai kelu, hanya untuk berteriak pun rasanya sulit. Tenaganya semakin melemah bahkan hanya untuk mengatupkan bibirnya yang terbuka begitu saja.
Brak
Tubuh Xiumin terjatuh di lantai. Xiumin mulai tak sadarkan diri. Sayup-sayup ia mendengar teriakan seorang lelaki. Namun setelahnya kesadarannya telah sepenuhnya hilang.
Semuanya gelap.
.
"Siapa yeoja itu?"
Itulah kalimat pertama yang Xiumin dengar saat siuman. Samar-samar ia melihat Chen yang sedang berhadapan dengan Lay. Ia mengurut pelipisnya. Masih terasa pening.
"Xiumin?" ujar Lay ketika melihat Xiumin sadar. Mengabaikan pertanyaan yang sebelumnya Chen utarakan.
"Xiumin?! Kau baik-baik saja?" dengan langkah cepat Chen menghampiri ranjang Xiumin untuk melihat keadaannya saat ini.
"Yah, aku baik-baik saja. Terimakasih telah menyelamatkanku.."
"Lay, dia yang menemukanmu tadi. Aku minta maaf karena tidak memperhatikanmu barusan,dan membuatmu diserang kembali oleh yeoja itu." jelas Chen, ia menghela nafas. "Dan aku masih tidak percaya bahwa manusia setengah dewa itu benar-benar ada." gumamnya pelan.
"Hey, aku bisa mendengarmu." ujar Lay sambil tersenyum. "Ah, soal yeoja itu. Dia ada di ruangan bawah. Aku terpaksa menghilangkan kesadarannya tadi, karena kalau tidak ia akan mengambil seluruh nyawa Xiumin."
Dahi Chen berkerut. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Mengambil seluruh nyawa Xiumin? Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Jadi begini, yeoja itu namanya Chaerin, dia siluman juga sama seperti Xiumin. Dan ia ingin menjadi manusia dengan cara menyerap sebagian nyawa manusia Xiumin. Kau mengerti?"
Chen mengangguk kecil, walau pernyataan Lay tadi tidak membuatnya benar-benar mengerti dan paham tentang semuanya. Ia beralih melirik Xiumin. Namja itu nampak menyender di ranjang sambil menekuk kedua lututnya. Tubuhnya belum pulih, terlihat dari wajahnya yang masih pucat.
"Xiumin, kau oke?" tanya Chen kemudian.
Xiumin mengangguk lemah, "Yah.. Aku hanya takut." ujarnya sambil mendongak ke arah Chen. Chen dapat melihat sirat mata yang ketakutan dan sedih.
"Apa ia akan terus membahayakan Xiumin?" Chen melirik Lay yang tengah mencari sesuatu di rak bukunya.
"Aku akan meyakinkan bahwa itu semua tidak akan terjadi lagi." ucapnya setelah menemukan apa yang ia cari. "Kalian tunggulah disini, aku akan mengajaknya bicara." kemudian ia keluar dari ruangan dengan tergesa.
Xiumin menenggelamkan wajahnya di lututnya. Ia masih shock. Sentuhan halus di pucuk kepalanya membuatnya mendongak. Menyadari Chen tengah mengelusi kepalanya pelan.
"Jangan takut, ada aku." dengan senyum tipis, Chen berhasil meyakinkan Xiumin.
Bahwa ia akan melindungi Xiumin.
.
.
"Lepaskan aku." geram Chaerin sambil menarik ikatan di tangannya. Lay sengaja mengikat tangan dan kaki yeoja itu di ranjang. Takut-takut ia berlaku nekat dan kembali menyakiti Xiumin.
"Tidak sebelum kau jawab semua pertanyaanku." ujarnya tenang.
"Argh! Apa maumu sih?"
"Harusnya aku yang tanya padamu. Kenapa kau melakukan hal sehina itu?"
"Karena aku ingin jadi manusia." jawab Chaerin singkat. Kembali ia mencoba melepaskan tali yang mengikatnya. "Lepaskan aku!"
"Aku tahu itu.. Tapi kenapa harus dengan cara yang hina seperti itu?"
"Karena tidak ada cara lain!" teriak Chaerin. Lama-lama ia menangis. "Hiks.. Aku, aku hanya ingin menjadi manusia.."
"Kau ingin jadi manusia, Xiumin juga. Apa adil kalau kau sendiri yang menjadi manusia dan membiarkan Xiumin kehilangan kesempatannya untuk menjadi manusia?" kata Lay.
Chaerin menghapus beberapa tetes air mata yang sempat mengalir dari mata sipitnya, "A-aku kalap."
"Kau bisa ceritakan padaku, apa masalahnya?"
Chaerin menggeleng, "Kau tidak perlu mengetahuinya."
"Baiklah,terserah padamu. Aku punya buku yang akan memberimu banyak informasi tentang siluman yang ingin berubah menjadi manusia. Kuharap kau mengerti. Dan, aku tidak akan melepaskan ikatanmu sebelum rencana jahat di otakmu itu benar-benar hilang."
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Hai, saya datang dan merombak habis fic Orange Cat mulai dari chap 6. Baru sadar kalo masih banyak ide yang tersalur buat fic ini. Dan keputusan saya waktu itu buat mempercepat alur agak gegabah kalau saya fikir-fikir. Hm, lanjutannya jadi mulai berbau lebih fantasy dengan kemunculan siluman lain dan manusia setengah dewa.
Gimana menurut kalian? Saya cukup sedih soalnya banyak yang kecewa dengan akhir cerita Orange Cat sewaktu itu yang tiba-tiba saya bikin gs.
Saya minta maaf, semoga cerita rombakan yg sekarang bisa lebih baik...
Terima kasih banyak kalau masih ada yg mau baca ^^
