Harry Potter © JK Rowling

The Standard You Walk Past © bafflinghaze

Alih bahasa oleh neko chuudoku

.

CHAPTER 6

.

Kebisingan dapur berubah sunyi oleh mantra peredam di sekeliling mereka. Draco sedikit memiringkan kepalanya dan memperhatikan Potter melewati rambutnya. Potter sedang sibuk mengerjakan PR, sepiring panekuk terlupakan di atas meja.

Mimpi Potter malam itu sangat buruk; Draco setidaknya mampu mengalami mimpi Potter dalam keadaan lucid. Tapi dia sangat tahu bagaimana rasanya berada dalam mimpi: tak ada kontrol, dan semua usaha yang dilakukan sia-sia belaka. Dia melihat setiap garis ketegangan pada tubuh Potter dalam mimpi—dan lebih buruknya, Potter pernah hidup melalui semua kejadian itu. Sungguh mengherankan bagaimana Potter—Potter yang terbangun—tidak berubah menjadi orang yang pahit, kasar, dan sarkastis.

Potter hampir tak pernah lagi berkelana di malam hari. Draco sudah pasrah Potter tidur di kasurnya; tapi itu berarti dia punya alasan untuk merasa sedikit bangga saat melihat Potter bangun dalam keadaan siaga dan segar.

Tapi Draco masih tak yakin soal Potter menjadi temannya. Dia membiarkan Potter menemaninya di pagi hari, tapi…apa yang akan Mother lakukan selanjutnya? Draco sudah tahu apa yang Father ingin dia lakukan, di dunia setelah-perang ini. Father akan menerima tawaran pertemanan Harry Potter dengan segera dan kemudian menggunakan pertemanan itu untuk meningkatkan reputasi keluarga Malfoy.

Draco rasa Mother juga akan menerima pertemanan itu. Draco tersenyum di dalam. Mother tak akan pernah melakukan sesuatu yang terang-terangan seperti menggunakan pertemanan untuk meningkatkan reputasi. Beliau akan menjadikan Potter teman dekat, sehingga peningkatan reputasi hanya akan tampak seperti efek samping.

Tapi mungkin, Draco harus berteman dengan Harry Potter hanya karena Draco menikmati saat bersama dengannya, tidak peduli betapa bodohnya itu.

Dia mengamati Potter bergelut dengan buku teks dan menulis di perkamen dengan tulisan cakar ayam. Setelah semenit mendengar desah frustasi Potter, Draco merasa kasihan dan membantunya.

xxx

Draco tidak mengira para Slytherin akan menyergapnya, tapi mereka melakukannya. Saat itu Jum'at pagi dan Draco sedang berjalan dari dapur menuju Perpustakaan. Mereka menyudutkannya di salah satu koridor kosong berdebu yang sering dia lewati—yang berarti mereka menguntit, dan Draco harus memperpanjang jarak mantra pendeteksinya. Atau mungkin dia hanya terbiasa ditemani Potter.

Mereka adalah sekelompok anak tahun menengah—ketiga, keempat, dan kelima. Tapi pembicara mereka adalah seorang murid perempuan tahun ketujuh. Dia sama tingginya dengan Draco, kulit sama pucatnya namun rambutnya segelap malam.

"Draco Malfoy." Cara bibir gadis itu melengkung saat menyebut namanya membuat Draco geli. Itu adalah kebiasaan dia dulu. "Apa ada sesuatu yang kau inginkan dari kami? Apa bantuanmu adalah untuk mendapat kemurahan hati kami?"

Draco menatapnya kosong.

Beberapa detik menjadi semenit. Ketika Draco berkedip, si anak gadis tahun ketujuh memalingkan matanya.

"D-dengar." Si gadis berhenti, mungkin ngeri mendengar dirinya sendiri terbata-bata. Dia berhenti sejenak untuk menenangkan diri, tapi matanya terpaku pada daerah di atas mata Draco. "Mengertilah ini, Draco Malfoy, bahwa kami tidak membutuhkan bantuanmu. Setiap bantuan yang kau berikan pada kami tidak akan diperhitungkan sebagai ikatan atau hutang."

Draco mengalihkan pandangannya ke para Slytherin di belakang si gadis. Mereka berdiri hampir seperti Gryffindor dan melawan tatapannya, meski hanya sebentar. Draco menimang untuk mencoba bicara pada mereka, atau menggunakan Legilimency-kelompok. Kutukan itu masih bergetar dibawah tenggorokannya, kenang-kenangan penyihir dari sisi 'Cahaya'. Tekanan sihir bandul yang menenangkan, berisi sihir Father dan sihir generasi keluarga Malfoy, memberi Draco keberanian. Dia memilih untuk menggunakan Legilimency.

Draco mundur selangkah, supaya dia bisa menangkap semua tatapan mereka. Dia menjernihkan pikirannya sejenak dan melingkarkan jari-jari di tongkat sihirnya. Ketika dia mengangkat tongkat sihir dan membentuk gerakan di udara, semua mata tertarik pada tongkat sihirnya, bahkan saat mereka berusaha untuk menarik tongkat sihir mereka sendiri.

Legilimens inverto.

Dengung pikiran para Slytherin muncul seperti garis totol-totol buram pada dasar yang gelap. Draco mengabaikan pikiran mereka—dia tak tertarik untuk mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan. Lagipula dengan mantra yang sudah dimodifikasi ini, dia tak bisa membaca pikiran.

Aku bukan membantu dan tidak akan membantu kalian, Draco memproyeksikan.

Mata mereka membelalak. Yang paling pandai di antara mereka tersentak dan memutuskan kontak mata. Tapi Draco telah menyempurnakan mantra ini sepanjang musim panas, dan bentuk pengiriman pikiran ini tidak membutuhkan kontak mata sekali mantra ini terpasang. Dia sedikit melangkah maju. Pemimpin mereka melangkah mundur. Si gadis masih belum memutuskan kontak mata, dan Draco bisa merasakan perisai Occlumency-nya yang muncul tiba-tiba.

Draco mencengkeram tautan-tautan dalam pikirannya. Kenapa aku harus membantu mereka yang tidak berpikir untuk diri mereka sendiri? Slytherin yang tidak bersikap seperti Slytherin?

Keterkejutan dan amarah mewarnai wajah mereka. Mungkin sekarang mereka cukup pandai dan mulai untuk tak berkeliaran sendiri atau hanya berpasangan. Atau mungkin mereka sadar, bahwa setidaknya, mereka punya pilihan untuk bicara pada McGonagall dan mencoba untuk membuat Kepala Sekolah percaya pada mereka.

Bukan salahku mereka muncul di jalanku. Aku hanya berjalan lewat, Draco mengakhiri, dengan perasaan santai. Dia memotong koneksi, sudah tak ingin bicara lagi.

Saat dia melangkah maju, para Slytherin terbuka seperti air, memberinya jalan.

Itu membuat Draco menyadari bahwa dia sudah tidak mengelompokkan dirinya sebagai Slytherin lagi.

xxx

Harry mengecek Peta Perampok sesering yang dia bisa, tapi dia tak pernah melihat sekelompok besar menghampiri Draco Malfoy lagi.

Meski begitu, ketika jadwal Klub Duel pada Jum'at malam tiba, Harry membuat mereka menunggu sementara dia naik ke panggung. Dia dengan mudah bisa membedakan anak-anak waktu itu—mereka yang berpaling darinya alih-alih menatapnya penasaran. Dia telah bicara pada Profesor Flitwick dan Neville bahwa dia ingin bicara pada para murid, meski tidak memberi tahu msalah apa, sehingga mereka berdua pun menatapnya penasaran.

"Apa semua orang sudah di sini?"

Para murid melirik satu sama lain, dan beberapa menganguk balik pada Harry.

Harry mengangguk pelan. "Telah menjadi perhatianku bahwa beberapa dari kalian tidak mendengarkan kata-kata Kepala Sekolah McGonagall pada Pesta Pembukaan. Ingat? Persatuan antar-asrama? Rekonsiliasi?"

Para murid bergerak-gerak di tempat. Beberapa dari mereka berpaling dan tampak merasa bersalah. Beberapa urung melipat lengan mereka. Harry bertanya-tanya apa mereka berkeliling untuk mengutuk anak Slytherin yang lain juga.

"Jika masih belum jelas, itu berarti dilarang menyerang murid lain. Hanya karena seseorang adalah Slytherin bukan berarti mereka jahat! Hell, Peter Pettigrew adalah seorang Gryffindor, dan aku yakin kalian semua sudah mendengar kisahnya."

Harry menggelengkan kepala, mencoba mengusir amarahnya, tapi yang terjadi amarahnya malah makin meningkat. Dia bolak-balik di panggung, sebelum berjalan ke ujung dan melotot pada beberapa murid tertentu.

"Perang sudah berakhir. Jangan ganggu orang-orang lagi. Aku tak peduli kalau ini terdengar klise—bertemanlah dengan murid dari asrama lain. Dan Draco Malfoy"—beberapa anak tampak tertarik—"dulu adalah seorang Pelahap Maut. Aku tahu. Dia dulu seorang Pelahap Maut. Tapi tidak lagi. Aku memberikan kesaksian pada persidangannya. Dia punya setiap hak untuk berada di sini. Jika kau berpikir sebaliknya, maka lebih baik kau maju dan bicara padaku soal itu." Harry menarik napas dalam-dalam, tapi hal itu tak pernah bisa menenangkannya, dan itu tak bisa menenangkan dia sekarang. "Mengerti?"

"Apa kita bisa mempercayai para Slytherin? Apa kau bisa menyebutkan satu nama Slytherin yang baik?" panggil Zacharias Smith.

"Banyak anak Slytherin yang berjuang untuk kita pada Pertempuran Hogwarts. Aku tak bisa mengatakan hal yang sama tentang kau!" kata Harry kasar.

Smith mencela. "Kau menghindari pertanyaanku, Harry."

"Severus Snape membahayakan nyawanya demi menjadi mata-mata pihak kita. Narcissa Malfoy berbohong pada Voldemort dan menyelamatkan hidupku."

"Pfft." Smith memutar mata. "Sebuah aksi kecil tidak membuat mereka jadi baik. Jelas-jelas mereka cuma berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri."

"Merlin!" sembur Harry. "Merlin sialan dulunya seorang Slytherin. Apa itu cukup bagus untukmu?"

Zacharias terkutuk Smith mengangkat bahu. "Tidak perlu marah. Aku hanya mengatakan apa yang dipikirkan semua orang." Geoffrey Hooper membuat suara persetujuan di sampingnya.

Harry mendelik. "Baiklah. Terserah. Kalau kau punya masalah dengan Slytherin, bicara pada Kepala Asrama, bicara padaku. Aku tidak akan mentoleransi serangan pada mereka, dalam keadaan apapun. Mengerti?"

Murid yang dia pelototi cepat-cepat mengangguk, dan anggukan kepala menyebar bagai ombak.

Harry mengacak rambutnya frustasi. "Bagus. Mari kita mulai," katanya tiba-tiba. Dia melompat turun dari panggung. Jantungnya berdebar, dan dia merasa ingin menonjok seseorang. Mungkin Smith.

Neville menyentuh bahunya singkat. "Tadi itu soal apa?"

Harry menggelengkan kepalanya tajam. "Semacam memergoki hal itu terjadi."

Neville tampak khawatir. "Kalau begitu bukankah kau harusnya lapor McGonagall?"

Harry mendesah, menciut. "Aku tahu—hanya saja menurutku para Slytherin tidak menginginkan hal itu, kau tahu?" Dan tidak pula Draco. "Dengar, lain kali aku memergoki hal seperti ini, aku akan melaporkannya."

Neville mengangguk, dagunya terpasang tegak. "Aku akan berjaga-jaga juga."

"Terima kasih, sobat."

xxx

Harry memperhatikan murid-murid lain dengan seksama. Klub Duel berjalan cukup baik dan tenang, dan para murid tampak cukup menyesal. Dia menyadari bahwa mereka lebih memilih untuk minta bantuan pada Neville atau Flitwick. Apa mereka semua pernah melakukan sesuatu? Harry cepat-cepat menendang dirinya sendiri secara mental. Dia telah mengabaikan para Slytherin, tak pernah menyadari apa yang sedang terjadi, dan bagi beberapa murid, hal itu dianggap sebagai persetujuannya.

Harry menggosok wajahnya. Kenapa sih orang-orang tak bisa hidup bersama dalam damai? Harry sadar bahwa pertanyaan itu bisa dibalikkan padanya. Dia jadi teringat bahwa dia ingin Draco bergabung dengan Klub Duel. Hal itu tak akan pernah terjadi, pikir Harry lelah.

Di akhir pertemuan klub, Profesor Flitwick menghampirinya. "Apakah terjadi suatu insiden, Mr. Potter?"

"Profesor?"

"Pidatomu tadi. Jika kau melihat sesuatu, kau harus melaporkannya," desak Flitwick. "Aku akan bicara pada murid-murid asramaku tentang hal ini."

Harry mendesah. "Tak ada yang terluka disamping si penyerang yang melukai diri mereka sendiri. Saya tak akan mengatakan siapa saja yang terlibat—jika mereka tak maju, pasti ada alasannya."

Flitwick mengerutkan dahi. "Mr. Potter, aku mengerti ketidaksukaan para murid, namun menyerang murid lain adalah kebiasaan yang tak bisa diterima!"

"Saya dan Malfoy selama enam tahun?" sangsi Harry.

Flitwick melipat lengan. "Aku percaya kau telah salah menaruh rasa keadilanmu."

"Tapi pidato Kepala Sekolah McGonagall tidak berhasil, bukan?" kata Harry pasrah. "Bisakah saya kembali ke kamar sekarang?"

"Masalah masih belum selesai," Flitwick memperingatkan, "tapi kau boleh kembali."

"Selamat malam, Profesor."

"Selamat malam, Mr. Potter."

xxx

Pada Jum'at malam, Draco mempelajari bahwa Padfoot adalah Sirius Black. Sepupunya, seseorang yang tak pernah ia kenal. Dia melihat, merasa seperti seorang pengganggu, saat Harry-mimpi tertawa bersama Black. Dia bergidik saat mimpinya berubah gelap.

Dia tak pernah ingin melihat Bellatrix lagi, tapi dia sering melihatnya dalam mimpi Harry. Wajah Bellatrix yang dipenuhi keriangan gelap selalu berhasil memunculkan ketakutan terdalam Draco, dan ketika Black jatuh ke dalam selubung, sebuah pekikan membelah ruang mimpi.

"Tidak! Tidak! Sirius!"

Harry jatuh berlutut sambil terisak hebat. Segalanya meleleh dan lenyap hingga tersisa Harry sendirian dalam kegelapan, menghadap Selubung yang indah menipu.

Air mata mengaliri pipi Harry tak terkontrol. "Maafkan aku, maafkan aku. Semua ini salahku, ini salahku. Kalau bukan karena aku—"

Draco hendak mendekati Harry, namun segalanya miring, dan Draco hampir tak bisa menjaga keseimbangan. Tiba-tiba mereka berada di Menara Astronomi. Draco mendadak mual, dia melihat wajahnya sendiri. Dia menyaksikan Dumbledore jatuh, yang terasa sangat lama dan benturannya mengguncang tanah. Dan setiap kali Draco mencoba mendekati Harry, dia didorong mundur oleh mimpi itu sendiri. Harry berada jauh di luar jangkauan, dan sebuah bisikan pelan meresapi mimpi.

"Maafkan aku, ini salahku, maafkan aku, ini salahku, maafkan aku—"

Bisikan itu melukai Draco, karena dia tahu itu bukan salah Harry. Itu adalah salah Draco. Kematian Snape dan Dumbledore—itu adalah salah Draco. Pelahap maut memasuki Hogwarts—itu salah Draco. Orang-orang terkurung di ruang bawah tanah Manor, Trio Emas berada tepat di depan matanya—dan dia tak bisa melakukan apapun selain menyaksikan mereka yang terkurung itu disiksa. Dan juga menyiksa mereka dengan tangannya sendiri.

Dan…Draco butuh waktu lama untuk mengerti hal ini sepenuhnya, tapi semua itu adalah salah Pangeran Kegelapan.

Draco ingin mendekap Harry-mimpi. Dia ingin berkata—semua ini bukan salahmu, ini salahku. Maafkan aku—tapi dia tak mampu. Atau setidaknya dia ingin berkata—semua ini bukan salahmu, semua kesalahan adalah milik Pangeran Kegelapan—tapi kata-kata tersangkut di tenggorokan. Draco hanya bisa menyanyi, dan kali ini dia menyanyi tentang malam dan kegelapan, sebuah lagu penuh amarah karena Draco terlalu lemah untuk menghadapi rasa takutnya.

Dia ingin Harry (sejak kapan dia mulai memanggilnya Harry?) berhenti merasa bersalah. Dia ingin Harry marah. Marah pada Pangeran Kegelapan, marah pada Draco. Jangan rasa bersalah, karena rasa bersalah tidak seharusnya menjadi milik Harry. Draco ingin mengambil semua rasa bersalah itu. Draco layak mendapat cela. Dan kebencian.

Bukan Harry.

xxx

Harry masih tidur pada Sabtu pagi ketika Draco akan pergi ke dapur, karena itu dia pergi sendiri. Dilihat dari mimpi Harry tadi malam, Draco tidak heran. Tapi dia tak bisa menahan senyum saat Harry tiba satu jam kemudian.

"Pagi," kata Harry saat dia duduk ke kursi di samping Draco. "Pagi? Kau sudah menyia-nyiakan separuhnya!"

Draco menyeringai. Menurut Draco, Harry yang mencoba bicara untuknya sangat menghibur. Awalnya dia sangat kaget. Harry tidak bicara sesuai dengan pikiran Draco, tapi terkadang hampir tepat. Rasanya menenangkan mengetahui bahwa Harry ternyata cukup mengenalnya.

Draco menelan ludah. Setelah insiden dengan para Slytherin lain, Draco mencoba bicara lagi. Dia harap kutukannya sudah memudar. Tapi seperti yang sudah ia duga, kutukannya masih ada. Tak ada yang bisa ia lakukan. Dia harus menunggu kunjungan ke Manor selama Halloween.

Para peri rumah datang untuk menyiapkan sarapan Harry dan lalu mereka kembali ke rutinitas nyaman mereka.

Setelah satu jam mengerjakan PR, Draco bersandar dan merenggangkan tubuh. Jari-jarinya ternoda tinta dari perkamen. Merasa jengkel, dia menarik tongkat sihir dan merapal mantra pembersih non-verbal.

Harry mengangkat kepalanya, bertemu pandang dengan Draco sambil tersenyum. "Malfoy. Mau terbang sebentar untuk mengisi waktu luang?"

Draco terdiam. Dia tak pernah terbang dengan orang lain sejak Fiendfyre. Tapi Harry terus tersenyum.

"Takut aku akan mengalahkanmu? Kau tak bisa mengalahkan seseorang saat terbang untuk mengisi waktu luang, Scarhead. Aha—jadi kau memang takut." Harry mencoba melengkungkan bibirnya mencemooh, tapi gagal dan malah tampak seperti cengiran. "Dalam mimpimu, Potter. Aku akan mengalahkanmu dalam terbang santai!"

Draco memutar matanya. Dia tidak cukup bodoh untuk mengatakan hal semacam itu. Tapi, dia luluh saat melihat senyum Harry yang tampak tak yakin. Draco pun berdiri dengan gusar. Harry melompat dari kursinya sambil nyengir.

"Yes!" lanjut Harry saat Draco melotot, "Kau tak akan seriang itu saat aku mengalahkanmu!"

Mereka membereskan barang-barang dan cepat-cepat kembali ke kamar asrama. Waktu itu masih belum masuk waktu sarapan dan mereka tidak bertemu siapapun dalam perjalanan ke kamar asrama, maupun saat ke lapangan Quidditch. Draco hanya lega dia membawa sapu dan perlengkapan terbangnya. Terbang di pagi hari kedengarannya ide bagus—tanpa tekanan stres untuk menangkap Snitch.

xxx

Harry terkejut pada kata-katanya sendiri saat dia mengajak Draco terbang. Dia lebih terkejut lagi saat Draco menerima ajakannya. Bagaimanapun, Harry tidak menyesalinya.

Draco sangat cocok memakai perlengkapan terbangnya—lebih ringan dan lebih pas daripada perlengkapan standar Quidditch. Harry memalingkan matanya, mencoba mengabaikan rasa tak nyaman karena menatap anak laki-laki. Sebuah bagian lain dalam benaknya mengingatkan tidak membantu, Draco lebih cocok disebut lelaki dewasa daripada anak laki-laki.Harry menggelengkan kepalanya, yang membuat Draco menoleh penasaran padanya.

"Cuma sedang berpikir. Aku tak akan pernah mengira," Harry menyindir balik.

Draco memutar matanya.

Mereka hampir sampai ke lapangan Quidditch. Harry berlari supaya bisa sampai duluan. Sambil melemparkan tatapan menantang, Harry menjejakkan kaki dan mulai terbang. Meski dia sudah menduga, dia tetap kaget saat Draco terbang melewatinya menyebabkan hembusan angin mendadak. Harry benar-benar bermaksud untuk terbang santai, tapi Draco berpacu mengelilingi lapangan.

Tapi lebih dari itu, Draco sangat cepat, dan kelihaiannya terlihat saat Draco terbang rendah di atas bangku penonton. Bayangan blur Draco ketika dia terbang membuat Harry pusing. Draco terbang ke depannya, terbang berputar, dan kembali ke belakangnya. Harry setengah berputar untuk melihat, tapi Draco melesat cepat, dan tornado yang tampak mengikutinya membuat Harry keluar dari lingkaran sempurna yang ia buat di sekeliling lapangan.

"Kalau kau sebut barusan itu terbang santai, maka aku yang menang!" teriak Harry sambil cemberut dan berusaha membenahi diri. Draco memiringkan kepala, dan detak jantung Harry naik saat bibir Draco melengkung menjadi sebuah senyum.

Dan kemudian Draco tertawa, dan Merlin, napas Harry tercekat di tenggorokan. Cahaya matahari pagi menyalakan rambut Draco membentuk lingkarang halo emas di kepalanya, dan ekspresi terbuka Draco—yang Harry sangkal keras dapat muncul pada wajah seorang Malfoy—membuat Draco tampak indah, hampir mirip Veela saat terbang.

Dan Merlin dan Godric, Harry tahu apa arti dari cekat napas dan lompatan jantungnya. Itu berarti bahwa dia—bahwa Harry—

Harry memaksa dirinya untuk berpaling dari Draco. Dia bahkan tak bisa berpikir, hanya merasakannya, mengetahuinya, dan ketakutan. Tak apa, Harry, hanya…abaikan saja. Perasaan ini akan pergi . Perasaan sukamu pada yang lain pun hilang dengan sendirinya, bukan? Kau…merasa suka pada Cho, pada Ginny, tapi sekarang tidak lagi, bukan? Perasaan ini akan pergi. Pasti.

Perasaan 'suka' ini hanya hasil dari sering dekat dengan Draco. Hanya semangat karena punya teman baru. Hanya itu.

Draco terbang melewati dia lagi sambil menyeringai.

Harry menelan ludah, mencoba memutar otak. "Aku benar-benar hanya ingin terbang santai!" teriak Harry pada Draco. Draco hanya nyengir balik dan menjulurkan lidah.

Mulut Harry menganga. "Oh, jadi begitu, ya?" Dan dia membungkuk di atas sapu dan menambah kecepatan, mengejar tawa Draco di sekeliling lapangan.

tbc

.

Ada yang sadar bahwa Draco tak pernah bicara sepatah katapun sejak fic ini dimulai? Di chapter ini ada petunjuk soal alasan kenapa Draco tak bicara.