Jam menunjukan pukul 05:00 KST ketika alarm pada jam weker Luhan berbunyi.

Gadis tersebut meraba-raba meja disebelah tempat tidurnya untuk mematikan alarm tersebut, setelah berhasil, gadis dengan surai madu itu segera turun dari ranjang dan menuju ke dapur dengan mata setengah terpejam serta piama hello kitty yang masih melekat di tubuh rampingnya. Rambutnya yang panjang ia biarkan terurai berantakan.

Ia melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ke arah dapur. Ya ini memang masih terlalu pagi. Sedangkan sekolah dimulai pukul 07:00 KST. Namun keadaannya yang tinggal sendiri menyebabkan ia harus bangun sepagi ini untuk sekedar menyiapkan sarapan atau sekedar membuat coffee agar perut serta otaknya bisa bertahan menghadapi semua mata pelajaran yang menunggunya.

Ia terus melangkah menuju ke arah kulkas, tanpa menyadari kehadiran orang lain yang kini menatapnya dengan pandangan geli.

Ia tidak menyadari keberadaan orang tersebut hingga saat ia membalikan tubuhnya,

"OH YA TUHAN!"

Luhan membulatkan matanya melihat sosok yang kini sedang duduk di meja makan sambil memegang handphone di tangannya. Sosok tersebut balas memandangannya sambil berusaha menahan tawa.

"Selamat pagi nona Lu, pft—hahahahahahahahahahahahahaha. Kau manis sekali pagi ini," ucap sosok tersebut. Mengejek.

Luhan menutup matanya dan menghela nafas sejenak—berusaha meredam emosinya, "Apa yang membuatmu berada di apartementku sepagi ini, Sehun sunbae?"

Sehun tersenyum miring,"Entahlah, aku terbangun pagi sekaliii—dan entah kenapa, tiba-tiba aku ingin sekali menemui—pacar baruku

Lagipula kau tidak menguci pintu apartementmu. Ck. Kenapa kau ceroboh sekali—sayang."

Luhan memutar bola matanya malas,pria dihadapannya ini memang benar-benar—

"Memangnya kenapa kalau aku tidak mengunci pintu apartementku, itu bukan urusanmu," ucap Luhan sambil mulai menyalakan kompor.

"Tentu saja ada, bagaimana jika ada pria lain yang masuk ke dalam apartementmu? Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada pacarku yang manis ini," ujar Sehun sambil memeluk pinggang Luhan dari belakang.

Tubuh Luhan menegang—ia bahkan kesulitan untuk bernafas, apalagi untuk membalas ucapan Sehun. Otaknya mendadak blank.

"S-sunbae, lepaskan tanganmu. Aku mau masak!"

"Tidak mau," Sehun malah mengeratkan pelukannya dipinggang Luhan.

Entah mengapa ia merasa nyaman saat memeluk Luhan dan menyandarkan dagunya di bahu kecil gadis itu. Sementara Luhan hanya bisa mem-poutkan bibirnya dan berusaha kembali fokus dengan masakannya—masakan yang sederhana, hanya omellete dan nasi goreng namun cukup membuat perut Sehun berbunyi.

Dan sialnya bunyi perutnya terdengar sampai ke telinga Luhan, membuat gadis itu tertawa lepas.

Sehun terpana. Ya, dia tidak mau memungkiri fakta bahwa Luhan terlihat semakin cantik saat tertawa, sangat cantik.

"Sunbae belum sarapan?"

Sehun mengangguk samar, wajahnya sedikit memerah menahan malu.

Luhan kembali tertawa dan entah kenapa Sehun suka melihatnya. Tidak mungkin ia jatuh cinta pada gadis ini kan? Batinnya.

"Jja, kita sarapan bersama," ucap Luhan dan Sehun hanya mengangguk. Kemudian pria tersebut mulai melepaskan pelukan di pinggang Luhan dan berjalan lebih dulu ke meja makan sementara Luhan menyiapkan sarapan.

Setelah selesai menyiapkan sarapan untuknya dan Sehun, Luhan segera menyusul pria itu ke meja makan dengan dua piring nasi goreng omellete di masing-masing tangannya.

Gadis itu meletakan satu piring di hadapan Sehun dan satu piring lainnya dihadapannya.

Selama beberapa menit mereka menyantap sarapan tersebut dalam keheningan, sebelum Luhan mulai membuka suaranya.

"Sunbae—?"

Sehun menatap Luhan,"Apa?"

"Soal kemarin—kau tidak seriuskan?"

"Soal apa?", Sehun mengangkat sebelah alisnya.

"Soal yang kemarin—kita pacaran—?" Luhan bertanya dengan suara yang cukup pelan dan terdengar ragu.

"Tidak."

"Ha—?" Luhan menatap Sehun dengan pandangan bingung. Sehun balas menatapnya,"Aku tidak bercanda," ucap Sehun tenang.

"T-tapi bagaimana bisa—?"

"Sudah kubilang tidak ada tapi-tapian. Pokoknya kita pacaran."

"Kau menyebalkan sunbae."

"Terimakasih, ku anggap itu pujian. Dan berhenti memanggilku dengan sebutan sunbae. Bukankah sudah kubilang sekarang kau pacarku."

Luhan hanya berdecak lidah mendengar ucapan Sehun. Orang dihadapannya ini benar-benar menyebalkan, tapi entah mengapa rasa sukanya pada orang dihadapannya ini tidak berkurang sedikitpun.

Tanpa sadar ia menghela nafas.

"Kenapa?" tanya Sehun. "E-eh tidak apa-apa," balas Luhan. Sehun hanya mengangguk dan kemudian keheningan kembali mengisi ruangan tersebut hingga mereka selesai sarapan dan berangkat ke sekolah.

.

.

.

Sampai di sekolah semua fans Sehun sukses dibuat patah hati saat melihat Sehun kembali datang ke sekolah bersama Luhan, dan parahnya Sehun merangkul pinggang Luhan bahkan mengantar Luhan hingga ke kelasnya.

Dan pagi itu berita bahwa Sehun dan Luhan telah resmi pacaran menyebar cepat ke seluruh penjuru sekolah. Bahkan sampai ke telinga seorang gadis bertubuh mungil dengan mata bulatnya yang berair disebelahnya ada seorang pria berkulit tan yang berusaha untuk menenangkannya.

.

.

.

"Jongin—itu semua bohongkan? Sehun—dia tidak mungkin pacaran dengan gadis itu kan?" tanya seorang gadis dengan tubuh mungil. Matanya yang bulat terus mengalirkan liquid bening—Do Kyungsoo, disebelahnya ada Jongin yang masih setia mengusap punggung kecil gadis itu, berusaha menenangkannya.

Keduanya kini sedang ada di atap sekolah. Setelah mendengar kabar bahwa Sehun dan Luhan pacaran, Kyungsoo langsung berlari meninggalkan kelasnya sementara Jongin yang kebetulan baru saja keluar dari toilet melihatnya dan segera mengikuti gadis itu. Dan disinilah mereka sekarang.

Kalian heran kenapa Kyungsoo bisa berada di sekolah yang sama dengan Sehun dan Jongin? Well selain memutuskan untuk melanjutkan karirnya di Seoul, gadis yang sebenarnya masih duduk di bangku kelas 2 SMA ini juga memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah yang sama dengan kedua sahabatnya.

Dan dihari pertamanya bersekolah dia sudah dikejutkan dengan kabar Sehun dan Luhan pacaran.

Ya seperti yang sudah kalian duga, Kyungsoo memang menyukai Sehun. Bahkan sejak dulu sekali.

"Sudahlah, noona. Bukankah sudah ku bilang sejak dulu, dia itu brengsek,"

"Tak bisakah kau melihatku, noona? Aku bahkan lebih mencintaimu dibandingkan bajingan itu." Batin Jongin.

"Aku tidak peduli hiks. Aku akan merebut Sehun dari gadis itu," ucap Kyungsoo sambil mengusap air matanya, sementara Jongin disebelahnya hanya bisa menatap gadis itu dengan pandangan tidak percaya.

"Kau tidak seriuskan noona!?"

"Aku serius, Jongin. Sangat serius."

.

.

.

"Luhan sudah menjadi kekasihku sekarang. Lalu apa yang harus aku lakukan?" itu pernyataan sekaligus pertanyaan yang Sehun lontarkan pada teman-temannya.

Sekarang mereka berlima sedang berada di gudang sekolah yang sudah mereka sulap menjadi tempat pertemuan mereka berlima sekaligus tempat mereka untuk membolos.

Gudang tersebut sudah lama tidak digunakan, dan letaknya yang dibelakang sekolah membuat tempat tersebut jarang dilewati orang-orang sehingga mereka berlima akan aman bila membolos di tempat tesebut.

"Wah. kau bertindak cepat, Hun," itu suara Hoseok.

Sehun menatap malas sahabatnya yang satu itu," Aku ingin segera menyelesaikan taruhan konyol ini."

"Kau yakin? Apa kau tidak tertarik pada gadis itu? Kulihat Luhan lumayan juga," ucap Kris yang diangguki ketiga orang lainnya minus Sehun.

"Tidak," jawab Sehun cepat—meskipun sebenarnya terselip sedikit keraguan saat menjawab pertanyaan Kris tersebut namun cepat-cepat ditepisnya.

"Baiklah, jadi selanjutnya kau hanya perlu menunggunya sampai ia benar-benar mencintaimu, lalu kau bisa memutuskannya. Itupun kalau kau tidak jatuh cinta pada gadis itu."

"Kalian semua gila!" ujar Sehun menatap tidak percaya keempat orang dihadapannya. Kenapa dia bisa menganggap orang-orang dengan gangguan jiwa tersebut sebagai sahabatnya, tck.

.

.

.

"APA!?"

Hyejin tersenyum canggung ke arah teman-temannya yang kini menatap ke arahnya dan Luhan akibat teriakan yang bisa dibilang sangat mengganggu itu.

"Yak! Jangan keras-keras!" Luhan memukul kepala teman sebangkunya itu.

"Hehe—maafkan aku, lagipula ceritamu itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa Sehun sunbae bisa menjadikan mu pacar dengan cara konyol seperti itu," Luhan menghela nafas mendengar penuturan Hyejin,"Tapi aku serius—dia bahkan tidak memberikan pilihan. Dan buruknya dia bahkan tidak menyatakan perasaannya padaku!" Luhan jadi kesal sendiri. Hyejin menatapnya kasihan.

"Ambil saja sisi positifnya XiaoLu. Sehun sunbae sekarang menjadi kekasihmu! Mungkin selama beberapa hari ini pesona mu itu sudah berhasil meluluhkannya dan—soal kenapa dia tidak menyatakan perasaannya mungkin karena dia malu? Kau tau sendiri Sehun sunbae memegang rekor pria tampan yang belum pernah berpacaran sama sekali," ucap Hyejin menyemangati sahabatnya.

Luhan mengangguk sekilas,"ku harap dia tidak menjadikanku mainan."

.

.

.

Bel pergantian jam baru saja berbunyi. Sehun dan keempat temannya baru saja akan memasuki kelas mereka saat sebuah suara tiba-tiba saja menghentikan langkah mereka berlima.

"Sehun!"

Sehun yang merasa namanya dipanggil menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Tatapannya berubah menjadi dingin dan ekspresi wajahnya menunjukan bahwa ia tidak suka dengan kehadiran gadis itu.

"Hei, bukankah itu Do Kyungsoo? Model cantik yang terkenal di Eropa itu? Dia bersekolah disini?" ucap Taehyung dan diangguki ketiga orang lainnya.

Kyungsoo berjalan—sedikit berlari—ke arah Sehun.

"Apa mau mu?" Tanya Sehun dingin saat gadis itu berada tepat dihadapannya.

"Kau—soal hubunganmu dan gadis itu—tidak benarkan?" tanya Kyungsoo sambil memandang Sehun cemas bercampur takut, takut apa yang dikatakan Sehun tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.

"Bukan urusanmu," Sehun menjawab acuh.

"Tentu saja ada! Bukankah- bukankah kau menyukaiku!? Kau bilang kau juga menyukaiku!" Suara Kyungsoo yang setengah berteriak menyebabkan seluruh isi kelas memperhatikan ke arah Sehun dan Kyungsoo yang kini masih berada di depan kelas, untungnya guru yang akan mengajar belum tiba.

"Kau terlalu percaya diri, Kyung," Sehun baru saja akan memasuki kelasnya saat Kyungsoo kembali bertanya, "Apa ini semua karena Jongin?"

Sehun kembali menatap ke arah Kyungsoo, dia tersentak saat melihat liquid bening keluar dari kedua mata bulat Kyungsoo.

"Dulu kau bilang kau tidak bisa menerimaku karena tidak ingin menyakiti Jongin, jadi sekarang apa kau menjadikan gadis itu sebagai pacarmu karena kau tidak ingin menyakiti Jongin?"

Sehun mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo," Ini tidak ada hubungannya dengan dia. Aku menjadikan Luhan sebagai kekasihku karena—

Karena aku memang menyukainya. "

Selesai mengucapkan kalimat itu Sehun segera pergi entah kemana, tanpa memperdulikan Kyungsoo yang hanya bisa membulatkan matanya dengan air mata yang semakin membanjiri wajah cantiknya serta keempat temannya yang hanya bisa menatap kasihan ke arah Kyungsoo. Mereka berempat tidak tau kenapa Sehun berbohong pada gadis cantik itu.

"Kembalilah ke kelasmu nona."

Sesaat setelah Chanyeol mengucapkan kalimat itu Kyungsoo langsung berlari menjauhi kelas Sehun dengan air mata masih mengalir dari kedua matanya.

.

.

.

Sehun hanya mengikuti langkah kakinya yang entah mengapa malah mengantarnya ke kelas Luhan. Pikirannya kosong. Dia masih belum siap menghadapi Kyungsoo bahkan saat Kyungsoo mengundangnya untuk makan malam ia sebenarnya tidak ingin datang kalau saja Kyungsoo tidak mengirimkannya banyak pesan dan terus meneleponnya.

Jujur Sehun masih menyukai Kyungsoo, tapi dia tidak ingin melukai Jongin lebih dari ini. Lagipula ia merasa bahwa Jongin lebih pantas dan bisa membahagiakan Kyungsoo dibandingkan dirinya.

Sehun mengalihkan pandangannya dari lantai ke arah kelas Luhan. Dilihatnya gadis itu sedang berbicara dengan seseorang yang ia ketahui bernama Hyejin. Tidak ada yang mengajar saat itu membuat semua anak-anak di kelas memilih untuk mengobrol dengan temannya yang lain meski ada juga yang memutuskan untuk membaca buku di tempatnya masing-masing. Sesekali gadis bersurai madu itu tertawa akibat ucapan yang dilontarkan Hyejin, dan tanpa sadar Sehun ikut tersenyum melihatnya.

Ia masih tidak mengerti akan perasaannya. Mengapa ia senang melihat gadis itu tertawa, mengapa ia merasa nyaman saat memeluk gadis itu, dan mengapa kakinya bisa membawa ia kesini? Apa alasan dari semua itu?

Sehun terus memikirkan semua itu, hingga teriakan yang berasal dari kelas Luhan membawanya kembali ke alam nyata.

"KYA SEHUN SUNBAE!"

Sehun kembali menatap ke arah Luhan, dilihatnya Luhan kini juga menatap ke arahnya. Mata keduanya bertemu pandang. Sehun menghela nafas sebelum memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam kelas itu.

Setiap langkah kakinya diiringi teriakan para gadis yang ada disana. Hingga akhirnya Sehun tiba di bangku Luhan. Kelas kembali menjadi hening, semua mata memandang ke arah Sehun dan Luhan.

"Ikut aku," ucap Sehun sambil menarik tangan Luhan.

"Apa? Mau kemana?" tanya Luhan sambil menatap Sehun dengan pandangan bingung.

CUP

Luhan terpaku, Hyejin membulatkan mulutnya—kaget, sementara seluruh gadis yang ada di kelas itu menjerit iri.

Seorang Oh Sehun baru saja mencium bibir seorang Lu Han dihadapan teman-temannya!

"Jangan banyak bertanya, ikut saja," setelah mengucapkan kalimat itu Sehun langsung menarik Luhan yang masih shock akibat apa yang baru saja dialaminya

.

.

.

TBC

Yaampun, cerita ini makin aneh. Huhu maafkan saya ( - _ - )

Yosh saya gamau banyak bacot lagi, langsung saja reviewnya ^^v