It just to be you chap 6

Title : it just to be you chapter 6
Cast : Oh Sehun, Park Jinri
Author : white2doh

"Aku memang tidak pernah mengalami seperti itu. Aku selalu dihina di sekolahku yg dulu karena aku anak panti asuhan. Jadi, aku tidak punya teman baik sepertimu. Dan, aku tidak punya orangtua!"
"Kita memang berbeda!" Bentak sehun. Jinri terkejut mendengarnya.
"Benar. Kita memang berbeda. Kau kaya aku miskin. Kau dicintai aku dibenci. Bukankah itu berbeda?!" Air mata jinri mulai keluar.
"Kau mau apa?!" Bentak sehun lagi.
"Naega? Maafkan Luhan oppa dan jalani kehidupan dengan bahagia!" "Kau benar-benar… tak bisakah kau mengerti ku? Kau tak tahu bagaimana sakitnya aku." Kata sehun keluar kamar jinri.
Sehun pergi ke dapur untuk minum. Dia bersandar di tembok.
"Seharusnya aku tidak begini."
Luhan yang mendengar perkelahian Sehun dan Jinri pun merasa tidak enak lalu masuk ke kamar jinri.
"Jinri-ya?"
"Luhan oppa?" Jinri buru2 menyeka air matanya. "Ada apa, oppa?"
"Kau menangis?" Luhan duduk di kursi belajar kamar jinri.
"Aniya."
"Kau tidak bisa bohong. Bertengkar dengan sehun, kan?"
"Ah… ne.. ini pertama kalinya kami bertengkar."
"Karena aku?"
"Ani… sehun marah karena aku tidak mentraktirnya kemarin."
"Kau tidak bisa bohong. Sebenarnya.. aku mendengarnya.."
"Oppa… apa tidak seharusnya kau memberi tahu alasanmu berkelahi dengan taemoo?"
"Sepertinya tidak perlu."
"Sehun akan bertindak seperti ini terus padamu."
"Dia tidak mungkin percaya padaku. Dan mengira aku bekerja sama dengan taemoo untuk membunuh joon myeon."
"Katakan pada sehun bahwa kau dan joon myeon berkelahi dengan taemoo saat itu."
Prankkk!
Bunyi gelas pecah. Luhan dan jinri segera keluar kamar dan menemukan sehun pingsan.
"Sehun-ah!"
"Oppa! Bagaimana ini? Sehun kenapa?"
"Ayo kita bawa dia ke rumah sakit. Tolong ambilkan kunci mobil oppa dikamar."
Luhan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Sementara Jinri duduk di belakang dengan sehun yang pingsan.
"Oppa, dia kenapa?"
"Tidak tahu, jinri-ya. Nanti kita tanyakan pada dokter."
"Kau kembali, Luhan-ah?" Sapa dokter ketika keluar dari ruangan sehun.
"Ne, dokter. Sehun bagaimana?"
Dokter itu melirik ke arah jinri. "Ayo kita bicarakan di ruanganku."
"Baiklah." Luhan kemudian berbicara kepada Jinri. "Tunggu disini."
Jinri pov
Luhan oppa pergi bersama dokter itu. Kenapa terasa janggal? Apa ada sesuatu tentang sehun? Apa itu ada hubungannya dengan obat2 yang kutemukan itu?
"Anda kerabat Tuan Oh yang bernama Jinri?"
"Ah ne."
"Tuan Oh mencarimu."
"Gamsahamnida suster."
Aku masuk ke kamar sehun. Sehun terlihat berusaha duduk di ranjangnya namun kucegah.
"Tiduran saja."
"Mianhae. Aku tadi membentakmu."
"Nado. Aku juga membentakmu" jinri duduk di kursi sebelah sehun.
"Hm… mana Luhan hyung?"
"Dia ke ruang dokter. Wae?"
"Ani. Kau pasti mengantuk. Tidurlah."
Jinri mengangguk lalu tidur.
Sehun pov
Ah… sangat bahaya jika hyung tahu keadaanku. Bagaimana ini? Tuhan jangan biarkan Luhan hyung memberi tahu jinri soal penyakitku ini.
Author pov
"Jinri. Jinri-ya? Bangun." Panggil Sehun.
"Ada apa sehun-ah?" Tanya jinri sambil menguap.
"Kau sekolah kan? Pulanglah."
"Sirreo! Aku ingin disini menjagamu."
"Jangan keras kepala. Lagipula ada Luhan hyung disini. Iyakan,hyung?" Kata Sehun pada Luhan yang terduduk di kursi.
"Ah.. itu benar." Kata luhan kikuk
"Arraseo. Aku pulang, ne?"
"Oh… hati hati ne."
"Aku antar ne?" Tawar Luhan.
"Tidak usah."
"Masih pukul 6 pagi tidak ada bus. Ikutlah denganku."
"Baiklah."
"Oppa?" Panggil Jinri.
"Hm?" Tanya luhan masih fokus menyetir.
"Bolehkah aku bertanya?"
"Tentu saja. Ada apa?"
"Ada apa dengan sehun? Dia sakit apa?"
"Dia hanya kelelahan. Jangan khawatir." Kata luhan beralasan. Karena dia tahu sehun pasti tidak ingin jinri tahu tentang penyakitnya.
"Dan… apa kau tahu mengenai obat2 yang sering diminum sehun?"
Luhan terkejut. 'Bagaimana dia tahu?'.Tapi dia cepat2 menstabilkan emosinya. "Obat2an?"
"Aku pernah tidak sengaja ke kamar mandi sehun. Dan menemukan obat2an disana."
"Aku tidak tahu mengenai itu."
"Oh… baiklah."
"Bagaimana Jinri?" Tanya sehun ketika luhan kembali.
"Dia sudah tiba."
"Baguslah… em.. gomawo."
"Baiklah…" luhan duduk di kursi. 'Apa kukatakan sekarang?'
"Bolehkah aku minta sesuatu padamu?" Tanya sehun.
"Eoh? Katakan."
"Jangan beritahu jinri tentang semua ini."
"Tapi dia sudah curiga."
"Apa?"
"Dia melihat obat2mu. Dia menanyakannya padaku."
"Kau bilang apa padanya?"
"Aku tidak tahu. Sepertinya cepat atau lambat kau harus membongkar rahasiamu." Kata luhan.
"Kenapa kau tidak?"
"Apa maksudmu?"
"Kau belum memberitahuku kenapa kau berkomplot dengan taemoo. Dan membunuh… joon myeon hyung."
"Aku tidak berkomplot dengan taemoo."
"Kau masih bisa mengelak?"
"Dan aku tidak membunuh joon myeon."
"Hyung! Berhenti membuat alasan!"
"Bisakah kau mendengarkanku lebih dulu? Kau selalu memotong pembicaraan ku."
Sehun menghela napasnya. "Baiklah."
"Aku sering diteror oleh taemoo. Karena… kau dekat dengan sunmi. Taemoo menyukai sun mi sejak lama. Dia memintaku membuat kalian putus. Namun aku tidak mau. Dia mengajak ku bertemu di gudang itu. Aku tidak tahu… joon myeon ada saat aku menerima telepon dari taemoo. Dan dia.. mengikutiku. Ketika sampai disana. Aku diserang pasukan taemoo. Joon myeon datang.. meskipun dia tahu dia tidak bisa melawan mereka. Dia dan aku diserang. Namun entah kenapa lukanya lebih banyak dariku."
"Sunmi?"
"Dan aku pernah mendengar dari jinri. Sunmi memutuskanmu gara2 taemoo memaksanya."
"Jinri?"
"Sepertinya dia dan sunmi pernah bertemu."
"Mianhae."
"Eoh?"
"Telah menuduhmu. Aku tidak tahu. Ternyata ini semua gara2 ku."
"Ani. Kau tidak salah. Taemoo yang salah."
"Hyung, aku sangat menyesal menuduhmu."
"Gwenchana."
"Tuan Oh?" Panggil dokter Shin.
"Ne?"
"Oh Sehun sshi. Sepertinya kau mulai baikan." Kata dokter Shin menghampiri sehun.
"Kapan aku bisa pulang?"
"Kau harus tinggal lebih lama. Tidakkah kau memikirkan untuk menjalani kemoterapi?"
"Dokter… apakah tidak ada jalan lain?" Tanya Luhan.
"Kanker darah milikmu sudah memasuki stadium parah. -c- kemoterapi akan sedikit membuatmu nyaman."
"Jika begitu, bukankah aku akan tetap mati? Itu akan siasia." Sehun memotong pembicaraan dokter shin. Dia mulai emosi.
"Dokter, aku akan berbicara dengannya." Luhan mengajak dokter shin keluar.
"Kita tunggu sampai di jujur tentang penyakitnya pada seseorang." Jelas Luhan.
"Gadis itu? Dia bahkan belum tahu? Kau belum memberitahunya?"
"Akan lebih baik jika dia mengetahuinya dari sehun sendiri. Terimakasih dokter karena sudah memberi adikku saran."
"Jinri-ya!"panggil Chanyeol.
"Ada apa?"
"Dimana sehun?"
"Sehun… sedang sakit."
"Sakit? Apa anak itu tidak memakan obatnya lagi? Dasar sialan." Umpat Chanyeol.
"Apa kau bilang?" Tanya Jinri.
"Ah.. ani… aku main basket dulu." Chanyeol meninggalkan jinri.
"Hey teman!" Sapa baekhyun pada sehun yang masih terbaring.
"Kalian datang?" Tanya sehun tersenyum. Chanyeol langsung mengutakatik infus sehun. Tapi tangannya dipukul baekhyun.
"Dimana luhan oppa?"
"Luhan?" Tanya jongin, baekhyun, chanyeol, serta kyungsoo terkejut.
"Dia sedang ke luar. Mungkin sebentar lagi akan kembali." Jelas sehun.
"Jinri-ya. Bisakah kau keluar sebentar. Ada sesuatu yang harus kami bicarakan." Bisik jongin pada jinri.
"Baiklah." Jinri keluar dari kamar sehun.
'Apa yang mereka bicarakan? Sampai meminta ku keluar?' Batin jinri.
Jinri bertemu Luhan. "Hey, kenapa kau disini?" Tanya luhan.
"Teman2 sehun datang. Mereka memintaku keluar karena ada yang ingin mereka bicarakan."
"Kalau begitu. Ayo kita minum kopi bersama."
"Oppa, kau kenal dengan teman2 sehun?"
"Ah… aku mengenal mereka."
"Ah…" kata jinri sambil meminum coffee latte miliknya.
"Jinri-ya?" Panggil Luhan. Jinri menatap Luhan. "Aku sudah bercerita pada Sehun. Tentang semuanya."
"Jinjja? Apa dia marah?"
"Ani. Dia meminta maaf."
"Baguslah."
Tiba2 ponsel Jinri berbunyi.
"Yeobseyo? Ne? Aku sedang berada di cafe depan bersama Luhan oppa. Arraseo…"
"Nugu?"
"Sehun. Dia memintaku kembali."
"Ah.. aku akan ."

Di kamar sehun.
"Luhan? Luhan ada disini?" Tanya jongun setelah jinri keluar.
"Benar."
"Lalu?" Tanya baekhyun.
"Lalu apanya?"
"Kau masih bertengkar dengannya?" Tanya baekhyun.
"Aku sudah mengetahui semuanya. Aku menyesal menuduhnya."
"Apa maksudmu?" Tanya kyungsoo.

"Oppa, kau sudah selesai?"
"Iya. Ayo kita ke kamar sehun." Ajak luhan.

"Bagaimana keadaan sehun?" Tanya jinri ketika dia dan luhan berada di kamar sehun.
"Namjachingumu ini memang hebat. Dia bahkan paling banyak bicara." Kata jongin.
"Namjachingu? Kata siapa dia namjachinguku?"
"Jinri. Kau!" Teriak sehun.

"Kenapa kau datang sepagi ini? Bukankah kau akan sekolah?" Tanya sehun ketika jinri datang ke kamarnya.
Jinri duduk lalu tersenyum. "Pabo. Sejak kapan kau seperti ini? Bukankah hari ini hari minggu?"
"Berarti sudah 5 hari."
"Iya."
"Jinri?"
"Ada apa?"
"Maukah kau melakukan sesuatu untukku?"
"Apa itu?"
"Aku ingin ke taman."
"Tapi-"
"Aku mohon."
"Baiklah."

"Ternyata disini sangat indah." Kata jinri.
"Tentu saja. Aku sering melihatnya dari kamar."
"Kau lelah? Aish.. seharusnya kau memakai kursi roda."
"Aku baik2 saja."
"Kau yakin?"
"Sangat yakin. Kenapa kau seperti ini padaku, jelek?" Kata sehun sambil memencet hidung jinri.
"Appo…"
"Ayo duduk." Sehun menunjuk sebuah bangku.
"Kapan kau akan pulang?" Tanya jinri.
"Tidak tahu. Sepertinya…" sehun menggantungkan kalimatnya.
"Ada apa?"
"Jinri-ya. Kau harus tahu sesuatu."
"Apa itu?" Tanya jinri menatap sehun.
"Aku mengalami kanker darah."
"Ap-apa?"
"Maaf baru memberitahumu."
"Kau lelaki jahat, Oh Sehun. Membiarkan aku tahu belakangan. Disaat aku benar2 … mencintaimu. Kau tega?!"
"Aku memang lelaki jahat." Sehun menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau membiarkan aku … tidak tahu apa2 tentangmu?"
"Jika aku beritahu, Kau sedih jika mendengarnya."
"Aku akan lebih sedih jika tidak mengetahui apa2 tentangmu!"
"Maafkan aku… maaf."
"Kau tahu? Hatiku semakin sakit. Sakit sekali. Aku benci ini." Jinri memukuli dadanya. Dia menangis.
"Maafkan aku, Jinri-ya." Sehun membawa jinri dalam pelukannya. "Maukah kau berjanji padaku?" Lanjut sehun.
"Apa itu?"
"Jika nanti… aku tidak ada lagi disampingmu. Maukah kau menyanyikan sebuah lagu. Disetiap saat kau rindu padaku?"
"Apa maksudmu?"
"Kau tahu. Aku pasti akan mati."
"Tidak. Tidak boleh. Oh Sehun tidak boleh mati. Andwae! Andwaeeee!" Teriak jinri.
"Jinri-ya…"
"Andwae.. Oh Sehun tidak boleh mati.. tidak boleh…" jinri semakin menangis di pelukan sehun.

To be continued