Meninggalkan Gaara dan Deidara adalah hal terakhir yang ingin dilakukan Ino saat berada di Suna. Ia akan melakukan apapun asalkan dua orang yang paling disayangi Ino itu tetap di sampingnya.

Tapi kini tidak.

Semuanya sudah terlambat untuk Ino menyesal. Satu-satunya penyesalan Ino yang paling mendarah daging hanyalah memberanikan diri menjadi umpan di apartemen Uchiha Sasuke. Bungsu dari dua bersaudara yang baru dipahami Ino merupakan golongan tertinggi dalam pemegang kekuasaan materi serta egois di Konoha.

Parahnya lagi, Ino benar-benar tak belajar mengenai tabiat Uchiha sebelum bertandang ke Konoha. Alhasil, jadilah ia kini yang dibuat bergetar hebat oleh ucapan Sasuke yang seolah meremukkan tubuh Ino hingga ke pusat sumsumnya.

"Kubilang, ganti pakaianmu jika kau tak ingin sesuatu terjadi padamu, Yamanaka."

Demi cintanya ke Gaara, Ino tak akan pernah lagi membangunkan sisi lain Uchiha Sasuke yang benar-benar lain dari yang lain.

Chapter 6 : Hari Berbeda

.

.

.

.

.

Senorita

Semua tokoh milik Masashi Kishimoto

Ide cerita Ayam Rusa

Ino Yamanaka sebagai tokoh utama

.

.

.

.

.

Sudah genap tiga hari semenjak tragedi dorong-banting antara Ino dan Sasuke—dan keadaan mereka semakin memburuk. Jika biasanya Ino akan menunggui Sasuke pulang hingga melupakan makan malamnya, maka kini tidak. Sasuke selalu pulang dengan makanan yang tersaji di atas konter dapur dan menemukan kamar Ino yang terkunci. Begitu pula saat Sasuke bangun. Tak ada lagi sosok berisik yang merecoki paginya. Yang ada hanyalah pintu kamar Ino yang tetap merapat serta sarapan yang tersaji di atas konter dapur.

Satu-satunya hal yang menandai Ino masih seatap dengan Sasuke hanyalah apartemen Sasuke yang selalu nampak rapi dan terawat. Juga masakan Ino yang memang termasuk makanan enak senantiasa tersaji saat pagi dan malam hari.

Seperti pagi ini.

Sasuke Uchiha sudah beranjak keluar dari kamarnya. Manik kelam itu sengaja melirik kamar sempit—bekas gudang—di sebelah kamarnya yang tak menunjukkan tanda-tanda kepemilikan. Mungkin perkataan Sasuke tempo hari memang ampuh, atau bahkan berlebihan? Entahlah ...

Pemuda tampan dengan ekspresi selalu sama itu mengigit potongan roti isinya dengan malas. Beberapa mata pelajarannya sama dengan jam mata pelajaran si Yamanaka. Tetapi gadis itu bersikap seolah-olah mereka bukanlah apa-apa.

Memangnya apanya juga yang apa-apa?

Di saat Ino sibuk merajut hubungan baik dengannya, Sasuke justru dengan wajah angkuh berkata tidak. Bahkan ketika kebisingan itu sedikit banyak mengikis kesepiannya, Sasuke tetap saja bersikeras pada komitmen awalnya untuk tidak menganggap Yamanaka ada.

Lantas kenapa?

Tanpa disadarinya, iris tajam terbalut kacamata itu tak berhenti menatap sosok yang mengerjakan soal di papan dengan pandangan tak terbaca. Terlalu lamat Sasuke memandangnya hingga tak menyadari ia sudah berulang kali menghela napas.

Ya, semenjak hari itu Ino Yamanaka memang tak pernah memamerkan kulit atau lekuk tubuhnya. Pakaian seragamnya bahkan baru. Dengan ukuran lebih besar. Serta kulit mulus porselennya yang tak pernah luput dari stoking hitam. Begitu sempurna ketika ia juga mengenakan masker dan syal ke mana pun.

Oh, ayolah! Bukan mengganti pakaian seperti itu yang dimaksud Sasuke.

Sasuke hanya meminta Ino untuk tidak terlalu memamerkan apa yang dia miliki. Kaus oranye dan bawahan celana selutut yang dipakainya lalu jelas-jelas mempertontonkan bentuk tubuhnya dengan saksama—di hadapan rekan-rekan Sasuke. Lagipula, tanpa memamerkan tubuhnya pun, Yamanaka itu pasti memiliki daya pikat tersendiri.

Setidaknya, untuk pertama kali dalam tujuh belas tahun terakhir, Sasuke Uchiha paham dengan apa yang dinamakan geregetan.

"Teme, nanti pulang sekolah kita mulai latihan futsal lagi." Sasuke hanya mengangguk malas sebelum kembali menekuni soal-soal di bukunya. Tidak ada untungnya pula ia terus menerus memikirkan gadis numpang lewat di apartemennya itu.

Dan ketika bel istirahat berdenting, Uchiha satu ini tak perlu repot-repot berebut jalan untuk keluar kelas—karena tak tahu mengapa, Sasuke tadi memasukkan sisa roti isi ke dalam kotak bekal makan siang. Jadilah sosok paling sensasional nan menawan di Sekolah Internasional Konoha ini mendadak menjadi siswa penurut yang culun.

"Aku duluan, Teme."

"Hn."

Setelah membenahi peralatan menulis serta buku catatannya, Sasuke mengeluarkan kotak bekal berwarna gelap miliknya. Jika semua orang akan bertanya-tanya mengapa seorang Uchiha sudi untuk membawa bekal, maka Sasuke juga akan bertanya; sejak kapan majikan bisa kesal karena diabaikan seorang pembantu?

Ah, mungkin Sasuke tidak paham mengenai kedekatan dengan makhluk berbeda gender. Jadi saat tiba-tiba ia dipaksa dekat dengan seorang gadis, reaksi Sasuke akan berlebihan. Ehm, benar juga! Pasti hanya karena itu. Bukan karena desas-desus atau gelitik rasa yang lain.

"Kau benar-benar menerima tawaranku?"

Sasuke dapat mendengar dengan jelas percakapan Hyuuga Neji dan Yamanaka Ino yang berada di sisi lain kelas—tepatnya di bangku paling belakang ujung. Sepertinya, baik Ino maupun Neji merencanakan sesuatu yang tak diketahui Sasuke.

Dari jarak ini, Sasuke bisa melirik si pirang yang mengangguk. Betapa bersyukurnya Sasuke memiliki model rambut yang membuatnya tidak terlalu mencolok ketika curi-curi pandang.

"Tapi itu akan sangat melelahkanmu, Ino. Anggap saja aku hanya bercanda saat itu."

Bagaimanapun, Neji tetap sahabat baik Ino semasa kecil. Saat semua orang merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Ino, detik itu juga Neji pasti pasang badan untuk Yamanaka bungsu.

"Tidak, Neji. Tidak apa-apa." Mungkin hanya perasaan Sasuke—atau memang manik biru kehijauan jernih itu melirik sadis padanya?

Terdengar helaan napas kasar dari Neji. Hyuuga jenius ini memposisikan dirinya duduk di hadapan Ino. Matanya mengikuti arah pandang Ino dan menemukan si Uchiha di sisi lain ruangan dengan kotak bekal di hadapannya.

Kotak bekal?

"Sejak kapan seorang Uchiha sepertimu mau membawa bekal ke sekolah?" Seketika saja Ino memukul lengan Neji. Sementara Sasuke sendiri tetap dengan posisinya. Hanya saja, kotak bekalnya telah terganti dengan buku fisika.

Sepertinya Sasuke Uchiha tidak sadar jika ia baru saja dicemooh oleh Hyuuga. Keluarga yang konon katanya saingan sukses dengan Uchiha dalam hal pewaris gen keturunan luar biasa. Keturunan Uchiha selalu tampan—beda dengan keturunan Hyuuga yang selalu imut. Mungkin karena belakangan Uchiha Obito yang sedang ramai diperbincangkan di televisi, jadilah Uchiha setitik lebih tinggi dalam hal popularitas.

"Setidaknya aku memiliki seorang yang memasakkan makanan untukku, Hyuuga."

Perkataan Sasuke ini tentu saja menimbulkan perempatan di dahi Ino. Tampang Neji sendiri sudah seperti korban mabuk laut. Apa yang diucapkan Uchiha Sasuke benar-benar terasa asam-pahit-pilu.

Jelas, bukan? Tenten memasak sama dengan akhir dunia.

Lalu jika Neji menganggu kekhusyukan Hinata dan Naruto, maka bisa dipastikan hidupnya yang akan bergilir digentayangi si pirang jabrik.

Sementara Ino? Tidak, tidak! Neji tidak ingin membuat berita yang cukup mengagetkan dalam waktu dekat.

Setelah menemukan kembali suaranya, Neji melipat tangannya di dada, menatap Sasuke sengit, "Kau tidak paham jika Ino terpaksa melakukannya?"

"Terpaksa atau tidak, dia tetap melakukannya." Sasuke berseringai. "Lagipula, keterpaksaan mana yang tertera menunggui seorang hingga pulang?" Dengan pertanyaan yang mutlak pernyataan itu pulalah Sasuke berlalu—meninggalkan Neji yang kini mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Ino.

Ino menghela napas pelan, "Apanya yang salah dengan itu? Aku terbiasa menunggu Dei-nii pulang hingga larut saat di Suna." Ia memainkan ujung rambut kuncir kudanya. "Sebenarnya Uchiha tidak seburuk yang kau pikirkan, Neji." Tiba-tiba saja kalimat ini terlontar dari bibir Ino. Padahal semenjak tiga hari lalu ia perang dingin dengan Sasuke.

Ya, Sasuke tak seburuk kelihatannya, bukan? Ia telah berbaik hati memberi tumpangan tidur dan makan gratis—belum lagi kemurahan hatinya yang membebaskan Ino dari biaya ganti rugi karena merusaki properti apartemennya.

"Kau tahu? Kau semakin membuatku curiga." Neji menatap Ino menyelidik. Sosok pirang cantik itu juga merasa jengah lama-lama ditatap seperti itu.

"Curiga bagaimana? Aku menerima tawaranmu hanya karena ingin cepat kembali ke Suna. Sudah, itu saja." Ino mengembungkan pipinya kesal. Ia rasa, tidak ada yang salah dengan keputusannya.

"Hanya itu? Kau sungguh yakin alasanmu bukan karena kau takut jatuh cinta pada Uchiha?"

Ino menggeleng. Seperti apa yang menjadi prioritasnya, Ino akan mengejar Gaara serta membanggakan Deidara. Menurutnya, semua hal yang terjadi di Konoha hanyalah secuil tambahan kisah di hidupnya. "Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?"

Neji mengendikkan bahu, "Entahlah." Sepupu Hyuuga Hinata ini berdiri, kemudian menampilkan senyum simpul yang penuh arti sebelum berjalan meninggalkan Ino, "Karena asal kau percaya atau tidak, Hyuuga dipercaya memiliki mata yang bisa memandang jauh ke depan." Dan ketika tubuh Neji berdiri di ambang pintu, ia kembali menolehkan kepala pada Ino dari balik bahunya. "Tidak sekarang, Ino. Tapi nanti."

Ino mendengus. Jatuh cinta apanya? Jelas-jelas seluruh manusia juga pasti tahu ekspresi Yamanaka Ino ketika berhadapan dengan Sabaku Gaara adalah ekspresi cinta mati. Lantas mengapa Neji repot-repot memberitahu Ino mengenai ketakutan jatuh cinta pada Uchiha?

Meski Ino harus mengaku jika badan Uchiha Sasuke itu bagus, tapi ia tetap terbentur dengan rasa sukanya ke Gaara. Jadi apapun itu, Sasuke tetap kalah segala-galanya di mata Ino.

Gadis cantik berperawakan boneka ini mengibaskan helai ekor kudanya sebelum bergegas membenahi peralatan sekolahnya. Bermaksud agar ia mendapat tempat duduk yang aman di mata pelajaran berikutnya.

Terkadang Ino merasa dunia ini begitu tidak adil. Disadari atau tidak, selama empat hari dalam seminggu Ino memiliki mata pelajaran yang bertepatan pula dengan Uchiha Sasuke. Belum lagi pertemuan mereka saat di luar sekolah—di apartemen Sasuke.

Hah, kesialan macam apa yang seperti itu?

.

.

.

.

.

"KENAPA KAU TIDAK BILANG JIKA DIA ANGGOTA TIM FUTSAL!"

Naruto menutup sebelah telinganya saat mendengar teriakan maha dahsyat dari gadis berkulit putih susu di hadapannya. Kalau boleh jujur, Naruto ingin sekali menjitak kepala Ino hingga berbentuk segitiga, tetapi putra Namikaze Minato ini masih mengingat pesan Neji padanya—untuk menjaga Ino selama Neji tidak ikut serta mengawasi latihan futsal.

Tentu saja sebagai calon adik ipar (dan bawahan) yang baik, Naruto menurut saja terhadap perkataan menyebalkan Neji. Bisa-bisa anggaran futsal sungguh ditiadakan jika Naruto membangkang. Belum lagi acara kencan malam minggunya dengan Hinata yang terancam mendapat gejolak besar. Oh tidak! Jangan!

Ck, pastilah Naruto bisa mengeruk apa yang ia mau menggunakan embel-embel ayahnya yang seorang Kepala di Konoha. Namun menjadi manja bukanlah Naruto. Jadi yang bisa ia lakukan hanya menjadi patuh dan penurut saja.

Dan destinasi terakhirnya adalah Naruto yang hanya bisa menghela napas keras-keras menghadapi tingkah Yamanaka Ino yang sungguh berwarna. "Kau tidak bertanya, Ino-chan. Lagipula, apa yang salah dengan Sasuke? Dia penyerang kebanggaan sekolah kita."

Ino menghentak-hentakkan kakinya kesal meninggalkan lapangan futsal. Kiba, Lee, Shino—bahhkan Konohamaru dibuat pingsan berdiri dengan aura mengerikan gadis yang konon tercantik (versi terbaru) di Sekolah Internasional Konoha ini.

"Pokoknya aku tak mau menjadi menejermu jika dia tetap bermain di tim inti." Ino membereskan tasnya—tak lupa mengemasi beberapa makanan ringan serta air mineral yang dibelinya dengan uang jajannya hari ini.

Naruto menepuk keningnya keras—setengah berlari menyusul Ino. Tangan kecoklatannya kemudian dengan sengaja menggantung di kantung plastik berisi bekal makanan yang khusus Ino siapkan untuk tim futsal, "Ino-chan, ayolah! Demi Gaara ... bukankah begitu?" Ia memasang wajah menggemaskan seunyu mungkin.

Sementara sang kapten sedang sibuk untuk membujuk calon menejer baru mereka, lima anggota inti lain yang berada di lapangan tengah berdiskusi sembari melirik Sasuke yang tetap terlihat tenang.

"Hoi Sasuke, sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Yamanaka?" kali ini Kiba membuka suara. Diikuti empat pasang mata lain yang menatap Sasuke penuh harap.

Pemilik rambut raven ini tampak tak tertarik, tangan pucatnya memainkan kaleng minuman isotoniknya dengan pandangan penuh, "Tidak ada. Dia pasti kembali ke sini."

Bagai mantra, setelah Sasuke selesai mengucapkan kalimat itu, Naruto telah kembali dengan Ino yang berada dalam genggaman lengannya. Bahkan Shino yang terkenal aneh pun juga tercengang melihat perubahan suasana si Yamanaka.

"Nah, mulai sekarang Ino-chan yang akan menjadi menejer kita," sambut Naruto ceria—yang langsung disahuti dengan tepuk tangan meriah para pemain inti serta beberapa pemain cadangan yang ada di tepi lapangan.

Kapan lagi tim futsal Sekolah Internasional Konoha akan mendapatkan boneka impor sebagai menejer mereka?

Ino menggembungkan pipinya sekilas sebelum tersenyum cerah, "Yamanaka Ino. Panggil saja Ino. Senang bertemu dengan kalian." Ia berojigi singkat. Lalu seperti sebelumnya, manik jernih miliknya kembali beradu dengan netra gelap Sasuke. Buru-buru Ino mengalihkan pandangannya.

Begitulah awal kedatangan Ino di tim futsal Sekolah Internasional Konoha. Sesuai dengan apa yang Naruto katakan, Ino melakukan ini semua agar dirinya cepat pulang ke Suna. Tak peduli mengenai uang jajannya yang habis atau ia yang harus betah berlama-lama dekat dengan Uchiha Sasuke, Ino berusaha tetap tenang.

Maka sepanjang sore itu, hari Ino dipenuhi dengan canda tawa para pemain futsal yang terlalu ramah—terutama kapten mereka. Tak jarang pula beberapa junior menggoda Ino untuk pergi menonton film bersama—yang hanya ditanggapi Ino seadanya.

"Wah, kau pasti lelah, 'kan?" adalah basa-basi Ino ketika ia membagikan handuk kecil serta air mineral pada beberapa pemain yang berlatih. Lapangan yang penuh dengan siswa laki-laki itu nampak cerah tatkala mendapatkan langsung penyegaran dari Yamanaka Ino. Rasa lelah karena pelatihan keras Naruto atau senior lain pun tak menjadi masalah bagi beberapa junior.

Sudah cantik, baik, ramah pula. Kurang apa Yamanaka satu ini?

Bahkan tak sedikit dari mereka berbisik-bisik untuk segera menargetkan jadi pemain inti. Terkecuali Sarutobi Konohamaru, semua junior masih menjadi pemain cadangan. Dan mereka baru sadar betapa beruntungnya menjadi pemain inti. Mendapat perhatian lebih, populer. Dan yang terpenting diperhatikan langsung oleh Ino.

"Ino-nee jangan repot-repot." Meski Konohamaru berucap demikian, ia tetap saja tak mengelak saat Ino dengan senyum menawannya mengusap keringat di dahi Konohamaru dengan handuk kecilnya. Cieh, kapan lagi seorang gadis kelas atas mau mengusap dahi pemuda-pemuda yang bau itu?

"Aih, tidak apa-apa, Konohamaru-kun." Ino tersenyum simpul. "Kau pasti yang paling lelah karena yang paling muda."

Begitu selesai dengan tugas barunya, Ino segera berbenah. Dengan teliti ia memasukkan satu per satu barang-barang tim futsal. Mulai dari seragam kotor yang harus dicuci hingga kain seragam yang akan ia jahit.

Yosh, demi Dei-nii! Untuk kakakku dan suamiku, semangat Ino!

Di tengah acara berkemasnya, Ino melirik seorang yang menepuk pelan bahunya. Ketika aquamarine miliknya menoleh, Naruto tengah menatapnya dengan pandangan aneh. Mau tak mau Ino juga ikut mengernyitkan dahinya bingung, "Kenapa Naruto?"

"Kau tidak memberikan handuk dan air mineral untuk Sasuke?"

Seakan tak peduli, Ino kembali menekuni kegiatannya yang tadi sempat terganggu. "Kau kemari hanya untuk mengatakan itu?" Setengah brutal, Ino melemparkan seragam-seragam kotor itu ke dalam tas.

"Bukan itu Ino-chan ... hanya saja kalian ..."

"Sudahlah, aku mau pulang. Jaa!"

Tanpa menunggu kelanjutan kalimat Naruto, Ino terus saja melangkahkan kakinya menjauhi lapangan futsal. Meninggalkan pemuda pirang cerah yang menatap punggungnya dengan pandangan sendu.

Si pirang jabrik ini kemudian berjalan ke sisi tepi lain lapangan, menyodorkan air mineral serta handuk kecilnya yang belum tersentuh sama sekali pada sosok yang tengah terdiam dengan kegiatannya sendiri.

Tanpa ucapan apapun, Sasuke menerima dua benda yang disodorkan Naruto padanya dengan wajah nihil ekspresi. Sementara karib pirangnya ini mendudukan diri tepat di sebelahnya, ia kembali menekuni berkas-berkas yang tempo hari disodorkan Fugaku padanya.

Begitulah Uchiha, berkata tidak-tidak, ujung-ujungnya pasti akan menghasilkan ya.

.

.

.

.

.

Ialah gelap ketika Ino membuka pintu apartemen mewah Sasuke. Tanpa berniat menyalakan lampu, Ino segera meletakkan sepatunya. Berjalan gontai ke arah kamar dengan beban dua tas besar berisi seragam kotor dan kain seragam baru. Ia sudah hendak membuka kenop pintu, hanya saja ...

"Okaeri, Ino-chan ..."

... tiba-tiba saja seluruh lampu menyala disertai suara melengking seorang yang tiba-tiba menyapa.

Se-sebentar ... suara apa?

"Wah, ternyata kau cantik sekali." Tanpa aba, tubuh Ino ditubruk dengan pelukan kencang. Walau merasa sesak, Ino tetap saja diam saat pelukan hangat itu menimpanya. Setelah beberapa saat, barulah Ino dapat melihat dengan jelas siapa sosok yang tiba-tiba memeluknya.

Wanita yang masih terlihat begitu cantik di usianya itu menatap Ino dengan pandangan berbinar, "Kau benar-benar cantik, Ino-chan," pujinya kembali, lantas memeluk Ino kencang. "Aku dari dulu ingin sekali memiliki anak perempuan. Tapi Kami-sama sepertinya belum mengijinkan."

Dengan bingung, Ino mencoba bertanya, "A-ano ... Anda siapa?"

Wanita itu tersenyum manis—dan Ino harus mengaku jika wanita ini lebih imut dibanding Uzumaki Kushina. Pipinya yang bulat tanpa celah serta rambut raven yang sebagian membingkai kedua sisi wajahnya membuat sosok di hadapan Ino terlihat begitu lucu.

Tunggu, apa tadi? Raven?

"Aku Uchiha Mikoto, Ino-chan. Ibu Uchiha Sasuke."

Matilah, mati!

Ino menganga dengan tidak elitnya mendengar penuturan wanita di hadapannya kini. I-ibu Uchiha Sasuke?

Kenapa begitu?

Bagaimana bisa?

Ini benar?

Ino jelas tak berbohong ketika ditanya perawakan Uchiha Mikoto memang benar-benar mirip dengan Sasuke—ehem setidaknya pemilik rambut pantat ayam itu memiliki akar mengapa ia terlihat menggemaskan.

Tapi orang seperti Mikoto memiliki anak serupa Uchiha Sasuke? Yang benar saja!

"Tadaima."

Mikoto mengedipkan sebelah matanya pada Ino sebelum meninggalkan gadis dengan ketidakpercayaannya itu ke ruang tamu. Seolah dipaksa kembali mengingat-ingat semuanya, Ino hanya menemukan dirinya yang terus menerus tak percaya dengan apa yang terjadi.

Ino pikir hidupnya akan membaik ketika dirinya pura-pura tak menyadari si Uchiha Sasuke dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai pembantu—sesuai dengan perjanjian. Semuanya berjalan dengan lancar, bahkan ketika Uchiha Fugaku dan rekan Sasuke yang lain bertandang ke apartemen Sasuke.

Semuanya lancar, kecuali orang Uchiha lain yang menambah beban mental di hidup Ino saat ini.

Siapa?

Memangnya siapa lagi jika bukan Itachi Uchiha, Shisui Uchiha dan Mikoto Uchiha?

Seperti saat ini.

Suasana di dapur tak ubahnya seperti kekhidmatan resepsi pembaptisan. Jika biasanya Ino akan berdendang, menyumpahi Sasuke—atau bahkan merusaki perabot dapurnya, kini ia hanya bisa bertingkah manis selayaknya pembantu pada umumnya. Pasalnya, Mikoto tengah berada di samping Ino untuk memasak makan malam bersama.

Ingin sekali rasanya Ino membual jika ia melilit karena datang bulan—atau alasan apapun asalkan tidak berada dalam ruang lingkup yang sama dengan para Uchiha. Tapi itu akan semakin membuat reputasi gadis ayu plus rendah hatinya melorot. Jadilah Ino tetap berdiri di sini, menemani Uchiha Mikoto membuat makan malam.

"Ne, Ino-chan ... apa yang sering kau masak untuk Sasuke?"

Ino menutup kran air wastafelnya, "Mungkin makanan yang bisa bertahan di lemari pendingin, Uchiha-sama. Daging atau sup—semacam itu." Ia kemudian mengeringkan tangannya menggunakan handuk.

Mikoto mengangguk singkat, "Sasuke suka sekali dengan tomat, Ino-chan. Mungkin lain kali kau bisa membuatkan sesuatu dengan banyak tomatnya," tuturnya sebelum menyodorkan daging untuk Ino potong.

"Sasuke pasti beruntung sekali memiliki ibu pengertian seperti Anda, Uchiha-sama."

Mikoto tersenyum, "Benarkah? Aku pikir keluargamu juga beruntung memiliki puteri secantik Ino-chan."

Ino tidak tahu. Tapi ia merasa daging yang akan ia potong mulai merabun menjadi beberapa bagian—tanpa perlu memotongnya lagi. Ino jelas tak pernah sempat melihat bagaimana wajah cantik ibunya. Beliau telah tiada—tepat saat Ino lahir ke dunia. Dan satu-satunya keberuntungan yang Ino miliki hanyalah Deidara.

Serta ayahnya yang sering melupakannya.

"Tapi aku tidak seberuntung Sasuke," gumam Ino lirih. Setitik cairan bening merembes melewati pipi kirinya. Serta tanpa disadarinya, Ino menyebutkan Sasuke dengan nama kecilnya.

Walau Ino harus menahan kerinduan mendalam mengenai sosok ibu, namun ia tetap berusaha untuk menutupi di hadapan Mikoto. Wanita kepala empat itu tak henti-hentinya membuat Ino merasakan hal yang tak bisa ia rasakan sebelumnya.

"Uchiha-sama?"

Mikoto menghentikan aktivitasnya. Ia seolah baru sadar jika Ino memanggilnya dengan panggilan yang terdengar rancu. "Kenapa memanggilku seperti itu, Ino-chan? Kau bisa memanggilku Kaasan jika mau."

Ino membulat, "Kaasan?"

Ino Yamanaka hanya tahu kasih sayang ibu sebatas cerita. Ia paham bagaimana ibunya menyayangi Ino karena cerita Deidara tentang bangganya ibu Ino melahirkan anak secantik Ino di dunia. Ino juga tahu jika ibunya bersyukur teramat sangat tatkala mendapati Ino kecil dengan tubuh mungil itu dalam dekapannya.

Sayangnya, itu ibu Ino. Bukan Ino. Pun setitik kenangannya bersama sang ibu sama sekali tak ada.

Untuk hari ini, di tengah badai perang dinginnya dengan Sasuke. Ino seakan diberi secercah fatamorgana mengenai apa yang telah lama ia rindukan. Mengenai kasih sayang yang tak sempat ia miliki.

Mikoto tersenyum manis mendengar panggilan Ino, "Begitu lebih baik, Ino-chan."

"Kaasan ... Kaasan ... Kaasan." Ino tak paham mengenai apa yang ia rasakan. Tetapi bibirnya seolah tak berhenti bergerak melafalkan panggilan baru yang didapatinya untuk Mikoto.

Dan ketika Ino tak kuasa untuk membendung semuanya, ia lantas berhambur memeluk Mikoto. Mikoto yang memang tak siap dengan pelukan di lehernya dari samping itu sedikit terhuyung—sebelum memahami keadaan.

"Aku rindu Kaasan."

Rasanya ... kasih sayang yang berbeda.

.

.

.

.

.

Tangan Yamanaka bungsu ini bergetar. Setelah sesi memasak makan malam dan mengirim pesan singkat untuk Deidara, Ino mendapati dirinya yang hanya bisa mengerjap tak percaya dengan pemandangan yang ada di ruang tengah apartemen Sasuke sekarang.

Meja kecil di depan televisi telah disulap menjadi meja makan kecil dengan berbagai hidangan yang tadi sempat Ino masak sebelumnya. Tak lupa, para Uchiha juga telah berkumpul. Ino tak tahu siapa saja. Yang jelas tiga orang asing itu salah satunya Mikoto, sementara satu yang lain sosok yang menyerupai Sasuke versi tua—dengan rambut panjang serta garis tegas yang membingkai antar tulang hidungnya. Lalu satunya ...

"Ino-chan, ayo!"

Ino tersenyum canggung mendengar ajakan itu. dengan gugup ia mendudukan diri di salah satu tatami—dan tepat bersanding dengan Uchiha Sasuke. Sepertinya para figur di hadapan Ino sama sekali tak peduli mengenai suasana canggung yang terjadi antara Ino dan Sasuke.

"Nah, Ino-chan, kenalkan ..." Mikoto menepuk bahu pemuda yang berada di sebelah kirinya, "Dia kakak Sasuke."

Ino mengerjap tak percaya. Jenius muda Uchiha yang benar-benar menggemparkan dunia tengah berada di dekatnya. Seperti latah, bibir Ino tiba-tiba saja bersua, "Itachi Uchiha ... keren sekali ..."

Pria yang ditepuk bahunya oleh Mikoto itu tersenyum seadanya—benar-benar mengingatkan Ino pada Sasuke. Tangannya menepuk pelan kepala Ino—yang masih tak percaya tengah berhadapan dengan salah satu pangeran idaman. "Terima kasih, Yamanaka. Kau juga cantik."

Mendengar pujian dari seorang (yang mana orang itu terlampau menawan), membuat Ino merona hebat, "Ti-tidak seperti yang Anda bayangkan, Itachi-san."

Pasti Ino mimpi! Pasti! Pasti!

Ino mengalihkan pandangannya ke soosk yang duduk bersebrangan dengan Itachi, "Lalu, Anda pasti Uchiha Shisui, bukan?"

Pemuda yang memiliki bulu mata lentik itu tersenyum ramah, "Ah, apa aku begitu terkenal di Suna, ya?" yang membuat ketiga orang di ruang itu tertawa pelan. Hanya tiga. Sementara kakak-adik Uchiha tetap saja irit.

Mengakhiri sesi perkenalannya, Mikoto mempersilahkan, "Baiklah, sekarang saatnya makan malam. Ino-chan yang tadi memasak."

Ino mengibaskan tangannya anggun, "Anda berlebihan, Uchiha-sama."

Namun tatkala suasana hangat mulai melebur fragmen canggung antara Sasuke dan Ino, pemuda tampan dengan kaus oblongnya itu berdiri—membuat tiga pasang obsidian serta sepasang aquamarine menatapnya dengan pandangan penuh.

"Aku masih kenyang. Permisi."

Selaras dengan langkah pertamanya, Uchiha bungsu ini merasa lengannya ditarik kuat. Dan ketika ia menoleh, Sasuke menemukan Yamanaka Ino yang masih mengenggam lengannya kuat.

"Makanlah. Kau belum makan sejak sore tadi."

Menatap iris jernih itu terlalu lama membuat pertahanan Sasuke goyah. Tapi bukan Uchiha namanya jika ia tak bisa menutupi hal-hal semacam itu. Maka dengan pandangan beku tingkat atasnya, ia menepis tangan Ino kasar untuk kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.

Memang sudah paham mengenai sikap adik semata wayangnya, Itachi memberi senyum menenangkannya pada Ino, "Dia memang seperti itu, Yamanaka." Kemudian bibirnya membentuk senyuman miring yang mengerikan. "Sepertinya kau peduli sekali dengan adikku. Ada apa?"

Bagai denting gong, Mikoto dan Shisui menghujam Ino dengan pandangan selidik pula. Ino bahkan merasa telapak tangan kanannya yang memegang sumpit mulai berkeringat. "Karena kami seatap, mungkin?" akunya yang lebih menyerupai pertanyaan. Ia menyengir seadanya.

Mikoto nampak menghela napas pelan, "Sebenarnya Sasuke bukan tipikal orang yang kaku seperti itu." Air mukanya nampak menyendu. "Mungkin dia memang perlu waktu untuk benar-benar sendiri." Kemudian bibirnya melengkungkan senyuman tipis.

Ino kembali bergetar. Bukan karena gugup—melainkan merasa jika airmatanya pasti benar-benar luruh jika terlalu lama berhadapan dengan Nyonya Besar Uchiha ini. Sasuke Uchiha benar-benar tak tahu apa yang telah ia lewatkan.

"Nah, Ino-chan ..." Ino mengalihkan pandangannya ke arah Shisui. Pemuda itu menyodorkan sekotak sedang hadiah padanya. Membuat Ino mengerutkan keningnya bingung.

"Dari kami, Ino-chan." Seperti mengetahui kebingungan Ino, Mikoto menjawab. Pemuda jenius itu tersenyum arif. "Itu pakaian yang dibuat khusus Geka untukmu."

"Geka?" Ino mengangkat alisnya tak percaya. "Sataya Geka? Designer tunangan Itachi-san?"

Mikoto mengangguk—dan Ino sukses dibuat melongo parah. Namun tak berselang lama, sisi anggunnya mulai mendominasi, "Tolong sampaikan rasa terima kasih saya pada Sataya-san, Uchiha-sama." Ia kembali lagi memanggil Mikoto seperti sebelumnya. "Dan terima kasih untuk Anda serta Itachi-san dan Shisui-san."

Ino tak tahu jika harinya di Konoha akan menjadi seindah ini. Mendapat barang dengan jahitan label GS di sana adalah satu dari sekian keinginan mustahilnya. Belum lagi kesempatan di mana ia bisa mengenal para Uchiha lebih jauh.

.

.

.

.

.

TOK ... TOK ...

Ino dengan sabar menunggu pintu coklat itu terbuka. Tetapi hasil dari sekian menitnya berdiri hanyalah hampa. Pemuda tampan-menyebalkan itu tak jua membukakan pintu untuknya. Jika bukan karena pakaian barunya, pasti Ino sudah melemparkan nampan yang ia pegang sekarang juga.

"Aku tahu kau belum tidur, Uchiha."

Hendak saja ia mengambil ancangan untuk menendang pintu, sosok dengan wajah yang selalu terlihat suram itu membukanya. Yamanaka bungsu ini tersenyum begitu mendapati Uchiha Sasuke yang semakin hari semakin imut dengan kacamatanya.

"Sedang mempelajari apa?" Sepertinya Ino benar-benar membuang emosinya beberapa saat yang lalu—entah karena hadiah dari tunangan Itachi, kedatangan Mikoto atau hal lain.

Sasuke tak menjawab. Tetap dengan rajin mempelajari berkas-berkas yang diberikan Fugaku padanya tempo hari. Bahkan kehadiran Ino yang berdiri di sebelah meja belajarnya pun seolah angin lalu. Besok adalah hari destinasinya. Ia harus terlihat sempurna. Itulah tradisi Uchiha.

Sasuke memang tak acuh dengan keberadaan Ino. Namun itu tak berlaku saat Yamanaka satu ini mengambil dengan paksa beberapa berkas. Tatapan elangnya refleks menghujami Ino. Gadis itu sendiri tak perlu bersusah payah untuk memasang wajah unyunya.

"Besok pertemuannya, 'kan? Aku akan membantumu mempelajari ini." Dan dengan begitu, ia berlalu meninggalkan Sasuke dengan kumpulan napas beratnya.

Sasuke sudah bersumpah akan menggantung Yamanaka Ino di kusen jendelanya besok malam.

.

.

.

.

.

Karena ini hari minggu, pembelajaran serta kegiatan ekstrakurikuler di Sekolah Internasional Konoha ditiadakan. Sasuke sendiri tak perlu merepotkan dirinya untuk mencari kesibukan—sebab berkas-berkas yang ada di meja belajarnya sungguh-sungguh membuatnya ingin sekali mengumpat lalu bersalto dengan emosi.

Apa Fugaku benar-benar ingin membunuhnya?

Serius! Bahkan Einstein sekali pun belum tentu bisa menghafal sedemikian banyak saham serta segala embel-embel yang berkaitan dengan dunia bisnisnya. Mana cabang usaha Uchiha Corp. tidak hanya di Konoha saja. Suna, Kumo, Kiri, Iwa, China—dan entah mana lagi.

Sasuke sendiri lupa jika ia harus segera bersiap untuk ke acara pertemuan peresmian pembagian saham Uchiha. Walau Itachi merupakan pewaris resmi Uchiha, sepertinya Fugaku juga tak ingin membuat putera bungsunya bermuram durja. Ia membagi empat puluh persen saham miliknya untuk Sasuke kelola.

Dan Sasuke baru paham bagaimana rasanya menjadi Itachi.

Pantas saja kakaknya semakin hari semakin terlihat kumal nan peot. Makanan sehari-harinya saja seperti ini. Belum lagi orang-orang yang akan ditemui nanti pakaiannya sama. Tidak menarik. Pemandangan yang tersuguh pun tak jauh-jauh dari hotel, gedung, ruang rapat, peninjauan tempat, serta hal-hal lain berbau seperti itu.

Jika tahu akan jadi begini, Sasuke pasti tak akan repot-repot untuk iri pada kakaknya. Biarlah sang kakak tercintanya itu tetap dengan urusan (yang membuat keriputnya semakin mengendur) itu. Sasuke sendiri juga biarlah tetap tampan dan memiliki wajah kencang.

Tapi itu hanya andai.

Nyatanya ia sekarang tengah bersiap dengan setelah jas armani hitam mahalnya—lengkap dengan jam tangan rolex serta sepatu fantovel hitam mahalnya. Menatap pantulan pakaian resminya di depan cermin. Sasuke tak berbohong jika hatinya berkata ia tampan mengenakan pakaian apapun. Dari hulunya saja sudah tampan.

Baru saja ia memutuskan untuk menghampiri sang pembantu Yamanaka, namun Sasuke mahal mendapati seorang—entah siapa dia—berdiri di depan pintu kamarnya dengan senyuman manis yang mengembang sempurna.

Dengan gaun bermodel a-line mengembang tanpa lengan berwarna aqua dengan gradasi putih di bagian tengah serta sarung tangan yang membingkai telapak tangan hingga sikunya, ia terlihat lebih dari kata indah. Dipermanis dengan mahkota kecil yang singgah dengan manis di atas helaian pirang miliknya. Surai pirang yang sepanjang pinggang itu bergelombang. Tanpa berdandan pun, seorang ini pasti akan menjadi lirikan siapa pun yang menatapnya. Apalagi dengan manik sebening lautan luas miliknya yang penuh dengan kehangatan.

Apa tadi? Sebening lautan?

Sepertinya manik sebening lautan itu sukses menampar Sasuke kembali ke dunia nyata. Ia tak perlu berpikir dua kali untuk mengetahui siapa sosok di hadapannya. Tak ada lagi gadis berambut pirang—blonde pucat di apartemennya selain Yamanaka Ino.

"Sudah siap?"

Kali ini, Sasuke benar-benar paham mengapa sekian banyak siswa Konoha senang dengan kepindahan boneka hidup asal Suna ini. Dan mengapa Neji—yang notabennya seorang dingin itu betah berlama-lama berkarib dengan Yamanaka Ino.

Karena dia ... karena dia begitu indah.

.

.

.

.

.

Begitu pintu besar itu terbuka, semua mata mengalihkan pandangan mereka. Tak satu pun dari tamu di gedung itu melewatkan waktunya untuk kembali duduk. Seperti paralel, seiring langkah demi langkah dua orang itu, senada pula kedipan mata yang dilayangkan untuk mereka.

Merasa sedikit gugup, Ino mengeratkan pegangannya di lengan Sasuke. Puluhan—bahkan ratusan pasang mata menatapnya seolah menilai. Dan Ino harus sungguh berterima kasih pada tunangan Itachi—Sataya Geka yang memberikan gaun maha dewi ini padanya secara cuma-cuma. Dengan ukuran yang benar-benar sesuai, Ino seperti diajak melayang ke dunia dongeng—di mana ia menjadi tokoh utama.

Dari karpet merah yang Ino pijaki, ia bisa melihat tatapan kagum Mikoto serta anggukan singkat Fugaku. Di hadapan podium sana, Itachi tengah tersenyum bangga—didampingi wanita teramat cantik di samping kanannya yang tersenyum ramah menatap Ino dan gaunnya. Itu belum Ino akumulasikan dengan pandangan-pandangan lain.

Tidak hanya bisik-bisik tetangga tentang kecantikannya, desas-desus mengenai siapa dirinya pun sepertinya tak luput. Ino bisa mendengar beberapa bisikan yang bertanya mengenai identitasnya. Ia berharap banyak pada Fugaku—dan semoga pimpinan utuh Uchiha itu memahami kondisi Ino.

Itachi tersenyum ketika Sasuke dan Ino tepat berada di hadapannya. Uchiha sulung itu kemudian turun dari podium untuk menyambut adiknya. Ino bisa mendengarkan beberapa ucapan kaku mereka sebelum Itachi memeluk Sasuke singkat. Tak lupa juga obsidian gelapnya menatap Ino dengan pandangan puas.

Dengan helaan napas pelan, Sasuke berjalan menaiki tiga anak tangga. Ia sudah hendak berjalan menuju podium—tapi tidak jadi. Si tampan bungsu ini membalikkan badannya, menatap Yamanaka Ino di bawah sana—seorang yang menjadikannya benar-benar pangeran malam ini—sebelum mengulurkan tangannya.

Ino terkejut—kentara sekali dengan bahunya yang kian menegang.

Namun bukan Sasuke namanya jika tak bisa meluluhkan siapa pun perempuan yang ada di dekatnya. Dengan kharisma itu pulalah ia tersenyum simpul—terlalu simpul hingga Ino tak tahu berapa nanometer yang naik—tapi sukses membuat jantung Ino maraton.

Ke-kenapa?

Dengan bergetar, jemari tangan kanan Ino bertaut di jemari kokoh Sasuke—sedangkan tangan kirinya mengangkat sedikit gaunnya yang sungguh panjang. Langkah demi langkah anggunnya tertapak, dan Ino telah berdiri tepat di samping Sasuke di podium.

"Saya Sasuke Uchiha, putera bungsu pimpinan Uchiha Corp. Fugaku Uchiha serta adik tunggal Itachi Uchiha selaku pewaris utama yang mengurus seluruh Uchiha Corp. ..." Sasuke mengambil jeda sejenak. Ia belum pernah berbicara sepanjang ini sebelumnya. "... akan memperkenalkan diri sebagai pendamping Itachi Uchiha dalam mengelola dan mengurus perusahaan Uchiha di masa mendatang."

Tepuk tangan meriah bersahut. Sasuke segera turun dari podium untuk membungkukkan badannya seraya tersenyum ramah—tentunya ala Uchiha. Obsidian kelamnya kemudian beralih pada Ino yang menatapnya dengan senyuman manis sembari menggumamkan kau-keren.

"Dengan ini, maka Uchiha Corp. di masa mendatang akan memiliki dua pimpinan yang memiliki peran sama. Baik Sasuke Uchiha ataupun saya sendiri akan berusaha mengembangkan Uchiha Corp. ke arah lebih maju serta lebih baik di masa depan." Itachi—dengan wibawanya yang tak habis-habis berujar. "Oleh karenanya, saya harap semua pihak tidak merasa terbebani dengan adanya dua pimpinan ini."

Sasuke bisa mendengar Ino yang bergumam wow-wow-wow tanpa henti. Gadis berperawakan boneka ini sepenuhnya mengabaikan Sasuke yang jelas-jelas tengah menoleh sekadar menatapnya.

Bungsu Uchiha itu mendekatkan dirinya ke arah Ino—hingga aroma segar manis vanilla late langsung menubruk hidungya. Dengan seringai tertahan, ia mendekatkan bibirkan ke telinga Ino untuk membisikan sesuatu.

"Kau cantik, Yamanaka."

Ino sadar ia sudah sering dipuji mengenai kecantikan. Berapa banyak yang mengatakan hal yang sama pun tak terhitung. Mereka mengatakan kalimat persis dengan nada yang sama pula.

Tapi kenapa ketika Sasuke yang mengatakannya terasa berbeda?

Mungkin ini yang namanya magis.

Ia yang tadi pagi perang dingin hingga membentak Naruto karena satu membuatnya satu ruang lingkup dengan pemuda berambut hitam kebiruan ini kini justru berdiri—dengan tangan yang berpegangan satu sama lain tanpa sadar.

Setelah acara perkenalan singkatnya, Sasuke segera turun. Bersama dengan Ino Yamanaka dalam genggamannya, ia menjawab beberapa pertanyaan dari para relasi bisnis Uchiha.

Untungnya Sasuke memiliki pembantu multi fungsi seperti Ino. Seperti saat ini, ketika si Uchiha bungsu tak dapat menjawab beberapa pertanyaan mengenai dunia bisnis atau mengenai cabang dan prospek Uchiha Corp. ke depan, Ino dengan senyum tertahan akan merapat padanya, membisikkan hal-hal yang Sasuke butuhkan untuk jawaban.

Sepertinya Fugaku benar. Beruntung sekali siapa pun yang akan menjadi suami Yamanaka Ino nantinya.

"Hoi Tuan Muda Uchiha!"

Mendengar sapaan tak elit ini, baik Sasuke maupun Ino segera pamit. Keduanya menatap sosok pirang jabrik yang terlihat asal memakai jasnya—walaupun ia tetap terlihat tampan juga. Naruto menatap Sasuke dan Ino bergantian, lalu pandangannya turun ke arah genggaman keduanya.

"Aduh-duh yang lagi mesra-mesranya!" celutuk Naruto sembari melipat kedua lengannya di belakang kepala. Sontak saja Ino melepaskan genggamannya di tangan Sasuke.

Sadar Ino! Ini hanya peran! Ingat Gaara di sana!

Suasana mendadak canggung. Sasuke membuang muka dengan kedua tangan yang masuk dalam saku celana. Sedangkan Ino sendiri lebih memilih melihati ujung gaun panjangnya. Naruto semakin melebarkan cengirannya menatap Uchiha serta Yamanaka di hadapannya yang nampak salah tingkah.

Sayangnya itu semua tak bertahan lama. Tidak setelah Naruto memastikan dengan benar siapa figur yang baru saja datang terlambat—terlihat jelas dari pintu yang baru saja terbuka. Safir miliknya membulat tak percaya.

Rambut merah bata. Tato di dahi. Serta garis hitam yang melingkari matanya.

Naruto tak perlu berpikir kembali untuk mengingat siapa dia. Refleks, mulutnya menyerukan nama yang membuat Ino hendak terjengkang ke belakang.

"Gaara?"

.

.

.

.

.

To be Continue

.

.

.

.

.

Untuk yang login, balasannya menyusul sabtu ya T_T/ bungkuk dalam minta maap.

Untuk yang non-login, silahkan.

Resdiana : Ini sudah dilanjut sayang. Makasih ya :* :* :*

amay : Hahaha terima kasih komentar panjangnya sayang :* :* :*. Iya ini SasuIno plus GaaIno, wkwk jadi endingnya Gaara nyempil :3. Tapi-tapi semoga saja saya berhasil menemukan kapel untuk endingnya ini XD.

Guest : Ini kurang panjang nggak sayang? Wkwk capek ngetik kalo panjang-panjang :3

xoxo : Kenapa dear? O.o

uchiha ulin : Saskay tidak tertebak oi XD. Wkwk, ambigu memang makna nama Uchiha kok :3

Shiroe Ino : Hahaha, Saskay kan normal lah ya :3. Iya cobaan berat deket sama cewe cantik serupa monster XD/sungkem ke berbi T_T/ makasih loh ya :* :* :*

ai : Hahaha, me-menarik apanya? Nista mah iya XD. Tapi makasih banyak loh sudah mau meninggalkan jejaknya T_T :* :* :*

jelLyFisH : Aduh jan begitulah sayang XD. Gimana-gimana juga Ino naksirnya sama Gaara XD. Tapi saran ditampung :*, duh makasih ya :* :* :*

Untuk yang log in maap sekali saya balasnya hari sabtu (sekalian apdet Childhood) T_T

Karena lagi-lagi saya mungkin tidak bisa memperbaharui fiksi ini hingga akhir Mei, jadi saya lakukan SNS (Sistem Nulis Sewengi). Jadi mohon maaf sebanyak-banyaknya jika lautan typo di sini teramat-sangat-sungguh luas dibanding typo-typo di chapter-chapter sebelumnya T_T /bungkuk dalam.

Lalu saya juga berterima kasih tentang komentar yang luar biasa T_T. Saya janji hari sabtu akan bales panjang (sepanjang yang saya bisa). Terima kasih untuk semuanya :* :* :*

Akhir kata, mohon maaf apabila alur maupun karakter tokoh asli di sini yang saya buat rancu. Karena tuntutan skenario, semuanya jadi dibuat seperti ini :')

Juga, terima kasih banyak untuk yang favorit, follow dan berkomentar. Luvyu.