Night School

Rated : T (teen)

Pairing : SasuSaku of course

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Genre : Romance, Fantasy.

Warning : Ooc, abal, gak menarik, don't like don't read!

Chapter 6 : Orochimaru?

.

.

.

"Sekarang aku tahu alasanmu selalu tak ingin pulang jika jam pelajaran telah selesai!" Sakura memandang Ino kaget saat gadis itu langsung menghampiri Sakura dan menunjuknya tepat di depan hidung Sakura.

"Huh! Kau mengagetkanku saja Pig! Baru datang langsung saja menghampiriku dengan wajah menyebalkanmu itu!" Sakura menepis tangan Ino, membuat gadis dengan marga Yamanaka itu berkacak pinggang dan menatap Sakura dengan pandangan tajam.

"Kau jahat Sakura!" tudingnya. Sakura memandang sahabatnya itu heran. Dia? Jahat? Sepertinya dia tidak melakukan sesuatu yang jahat padanya?

"Kau tidak memberitahuku bahwa ada makhluk tampan yang bersekolah di sini pada malam hari!" kata Ino dengan nada keras. Membuat Sakura melotot padanya.

"Jangan keras-keras Pig!" ucapnya memasang deathglare. Ino sontak menutup mulutnya.

"Aku bukannya tidak ingin memberitahumu, hanya saja-" Sakura terdiam, mencari alasan yang tepat untuk dia kemukakan pada sahabat pirangnya. "-aku tidak ingin kau pulang larut malam." Alasan bodoh. Sakura mengumpat dalam hatinya, bisa-bisanya alasan tidak masuk akal itu meluncur dari bibir mungilnya. Tidak masuk akal bagi Sakura, namun rupanya masuk akal bagi Ino. Gadis itu kemudian tersenyum terharu.

"S-Sakura… ternyata, perhatianmu padaku memang sebesar jidatmu…" katanya terharu. Sakura yang mendengar itu pun lega sekaligus kesal.

"Ya, aku memang sahabat yang baik, dan aku harap kaupun demikian. Jadi kuharap, kau jangan merebut Sasuke dariku, karena dia cinta pertamaku!" ujar Sakura yang membuat Ino mendengus kesal.

"Memangnya kau punya hak mengaturku, heh?" Sakura mendeathglare Ino. "Dan, cinta pertama? Hahaha… kau membuatku tertawa! Ternyata kau sangat amat telat mengalami debaran asing yang dianamakan jatuh cinta!" lanjutnya yang membuat wajah Sakura memerah mendengarnya. Namun seketika Ino tersenyum.

"Tapi tenang saja, Jidat. Aku mana mungkin tega menyakiti sahabatku sendiri," ujarnya. "Sasuke memang tampan, tapi aku hanya tertarik padanya, tidak membuatku berhasil menyukainya. Perasaanku terhadap Sasuke dan perasaanmu terhadapnya jelas berbeda." Sakura menyunggingkan senyum mendengar penuturan sahabatnya, namun terbesit ide jahil di kepalanya yang terbungkus rambut berwarna langka itu.

"Ya, dan perasaanku terhadap Sai dan perasaanmu terhadapnya juga berbeda," katanya dengan seringai jahil, membuat wajah Ino memanas.

"H-hei! Kenapa kau menyebut-nyebut nama mayat hidup itu!" kesal Ino, yang membuat Sakura semakin menyeringai.

"Memang kenapa? Sai, Sai, Sai, Sai, Sai, Sai, Sai." Ino mendeathglare Sakura. Gadis itu memang jahil tiada dua!

"Huh! Kau menyebalkan jidat!"

"Kau juga, Pig."

"Haaaahh…! Bagaimana reaksi Sasuke saat aku memberitahu bahwa kau menyukainya yah?" Ino menyeringai menyebalkan-dimata Sakura.

"Dan bagaimana kalau Sai tahu bahwa kau menyukainya?!" balas Sakura.

"Hei! Aku tak menyukai mayat itu! Harus berapa kali aku tegaskan, hah?!" teriak Ino kesal sambil mengacak rambutnya, frustasi mungkin? Sakura menjulurkan lidahnya pada Ino.

"Weeekk!" ejeknya. Ino semakin kesal melihatnya.

"Oh ya, Pig, awas saja kalau kau memberitahu Sasuke kalau aku menyukainya!" ancam Sakura.

"Memangnya kenapa? Kan kau memang menyukainya!" tuding Ino.

"Tch, gengsi seorang wanita masih harus dipertahankan Ino-Pig! Kau saja yang telah kehilangan gengsi itu!"

"Enak saja!" Dan dimulailah pertengkaran tidak jelas antar sahabat itu. Sungguh ironis.

~~~0~~~

.

.

.

"Aku tidak menyuruhmu untuk menemaniku menunggu di sini!"

Sakura memandang Ino kesal. Sedangkan Ino hanya cengengesan melihat sahabatnya. Jam pelajaran telah selesai sejam yang lalu, dan Sakura memang berniat menunggu Sasuke. Khawatir katanya. Namun gadis bermahkota pink itu tidak menyangka bahwa Ino juga akan ikut menemaninya menunggu. Jelas saja Sakura kesal, Ino pasti punya maksud lain. Gadis itu terus mengumpat kesal dalam hati, pasti Ino ingin menemui Sasuke! Sahabatnya itu ingin merebut pemuda yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta!

"Wah, kau jahat sekali Jidat, aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja," jawab Ino enteng dengan wajah innocent yang membuat perempatan siku-siku muncul di dahi Sakura.

"Menunggu di sini benar-benar membosankan! Kau tidak bosan menunggu seperti ini setiap hari?!" tanya Ino. Sedangkan Sakura hanya tersenyum-senyam.

"Tidak juga, membayangkan akan bertemu dengan Sasuke membuat waktu seakan berputar begitu cepaaatt~" Ino memandang Sakura dengan tatapan aneh. Sakura sudah gila sekarang! Tidak ada lagi Sakura yang cuek, dia menjelma menjadi Sakura yang dramatis!

"Kita harus menunggu tiga jam lagi untuk bertemu dengannya!" Sakura menunjuk arlojinya yang menunjukkan pukul 06.00 p.m, perkataan itu membuat Ino sukses membelalakkan matanya.

"HEEEEHHH?!"

~~~0~~~

.

.

.

"Sakura-chaaaannn!" Sakura dan Ino menoleh ke sumber suara. Kini, mata emerald dan aquamarine itu melihat tiga orang pemuda berjalan mendekatinya.

"Hah? Kau lagi?" Sai menunjuk Ino, membuat gadis itu menatapnya galak.

"Apa?!" tanyanya. Sai cepat-cepat menggeleng dan kembali memasang senyum palsunya. Sedangkan pemuda di belakang Naruto dan Sai hanya memasang wajah datar seperti biasanya. Sakura menghampiri Sasuke yang berada di belakang.

"A-ano… bagaimana keadaanmu?" tanyanya. Sasuke hanya menatapnya dan memegang perutnya.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."

"Sekali lagi maaf, Sasuke…" lirih Sakura. Sasuke meresponnya dengan menggumamkan 'Hn' andalannya.

"Oh ya, Teme, Sai, ayo kita masuk! Sekarang pelajaran Orochimaru-sensei!" sorak Naruto. Sakura yang mendengar nama itu tersentak.

"Sa-Sasuke, Orochimaru? Bukankah dia-" Perkataan Sakura terputus saat tangan Sasuke menutup mulutnya. Ino, Sai, dan Naruto memandang keduanya bingung.

"Ng? Kau bilang sesuatu, Sakura-chan?" tanya Naruto seraya mengorek kupingnya menggunakan telunjuknya, memastikan bahwa tak ada yang salah dengan telinganya.

"Tidak. Dia tidak berkata apapun." Sasuke menjawab pertanyaan Naruto. Pemuda berkumis kucing itu mengangguk dan kemudian tersenyum cerah.

"Hei! Kalian berdua, bagaimana kalau kalian ikut ke kelas kami?" ajak Naruto, membuat Sakura dan Ino kaget. Ikut di kelas mereka? Berarti… belajar bersama mereka?

"Usul yang bagus," respon Sai dengan senyum palsunya. "Aku rasa nona pirang ini setuju," lanjutnya.

"Hei! Aku bahkan belum berkata apapun!" ucap Ino protes.

"Tapi aku benar 'kan? Aku yakin kau tak keberatan," ucap Sai. Ino memanyungkan bibirnya, tapi kemudian mengangguk pelan. Sakura yang mulutnya masih ditutup juga ikut menangguk pertanda bahwa ia setuju dengan Ino yang setuju dengan Sai yang setuju dengan Naruto(?).

"Baiklah, ayo semuanya!" ucap Naruto memimpin. Ketiganya berjalan, sedangkan Sasuke dan Sakura tetap diam di tempatnya.

"Hoi? Teme? Sakura-chan? Ayo!" ajaknya.

"Kalian duluan saja, aku masih ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya," ujar Sasuke seraya melirik Sakura melalui ekor matanya. Ino mengembangkan senyumnya.

"Kyaaa! Sakura! Ganbatte!" pekiknya. Ganbatte? Untuk apa?

"Akhirnya penantianmu tidak sia-sia!" pekiknya lagi. Sakura membulatkan matanya, ingin membalas perkataan Ino, namun mulutnya masih dibekap Sasuke.

"Ayo! Kita masuuuk!" Ino menggenggam tangan Naruto dan Sai, mengajak mereka berdua masuk.

"Wah, saking cintanya kau padaku, sampai-sampai kau mencuri kesempatan untuk menggenggam tanganku?" Ino memandang Sai kesal dan seketika melepaskan genggamannya dengan kasar.

"Mimpi saja kau, mayat!"

.

.

.

"S-Sasuke? Apa yang mau kau katakan?" tanya Sakura gugup. Perkataan Ino sungguh membuatnya bertingkah seperti sekarang ini. Dan yang membingungkan, Sasuke dari tadi hanya diam membisu, membuat Sakura bertanya-tanya dalam hati. Apa Sasuke hendak merangkai kalimat yang sesuai? Namun Sakura segera menepis bayangannya itu dengan menepuk-nepuk pelan pipinya. Tidak. Tidak mungkin Sasuke menyatakan cinta padanya. Pasti ada hal lain. Tapi… tidak ada salahnya berharap kan?

"Ino soal Orochimaru." Seketika hati Sakura hancur berkeping-keping, namun ia berusaha tersenyum. Sudah ia duga, ia terlalu berharap lebih.

"Ada apa dengannya?" Seakan kehilangan kesadarannya, Sakura tersentak. "Ah! Iya! Aku baru ingat, Orochimaru itu… mengajar di sini saat malam hari?" tanyanya bingung.

"Benar. Dia menyamar sebagai guru di sekolah ini, namun aku tahu maksud dan tujuan sebenarnya, dia hanya ingin mendekati para murid di sekolah ini, dan pastinya mencari target, juga untuk menjadikannya sebagai budak."

"Bagaimana kau tahu?"

"Kakekku. Uchiha Madara. Dia sudah lama bermusuhan dengan Orochimaru, dahulu, Orochimaru hanya mengejar kaum vampir, tapi entah kenapa, sekarang bukan hanya vampir, namun makhluk seperti Naruto dan Sai juga menjadi targetnya." Sakura mendengar dengan seksama penjelasan Sasuke.

"Tu-tunggu sebentar! Mengincar makhluk seperti Naruto dan Sai? Saat itu, aku sedang bersamamu, berarti dia…"

"Ya, dia menduga kau juga seperti kami." Sakura merenung, namun tiba-tiba pertanyaan kembali meluncur di otaknya.

"Tidak masuk akal, Orochimaru mengajar di sekolah ini. Dan kelas malam hanya terdiri satu kelas, tidak mungkin dia tidak mengahafal siapa muridnya dan siapa yang bukan muridnya, bukan?" Sasuke menyunggingkan senyum mendengar perkataan Sakura.

"Orochimaru hanya melaksanakan misinya di sini. Dia tidak perlu menghafal semua muridnya. Lagipula, Orochimaru adalah guru baru. Semenjak dia mengajar, dia selalu menyebut namaku, meminta pendapatku, seakan mengejekku sebagai cucu Madara yang notebane adalah musuhnya. Namun yang lainnya salah mengartikan, mereka mengira bahwa Orochimaru menyukaiku sebagai murid." Sakura merenung kembali. Orochimaru… nama itu melintas di pikirannya, entahlah. Menyebut namanya saja membuat Sakura merinding. Apakah Orochimaru itu orang yang menyeramkan?

"Aku rasa, lebih baik kau dan teman pirangmu itu pulang sekarang. Orochimaru itu berbahaya, dia pasti akan lebih mengincarmu dan kau akan tercatat sebagai targetnya." Sakura tersenyum mendengarnya.

"Kau mengkhawatirkanku?" Sasuke terkejut mendengar penuturan Sakura. Khawatir? Apa dia benar-benar khawatir pada gadis itu?

"Aku tidak akan apa-apa. Percayalah." Sasuke tercenggang mendengar perkataan Sakura.

"Aku… kurang lebih sekarang bisa mengerti sifatmu, Sasuke. Kau memang dingin, tapi kau lebih memperhatikan orang lain dibanding dirimu sendiri." Sasuke mengernyit kebingungan. Apa maksud gadis itu?

"Kau tidak ingin Naruto dan Sai, serta teman-temanmu yang lain tahu bahwa Orochimaru itu menyamar, dan sebenarnya membahayakan. Itu karena kau ingin berjuang sendiri, kau tidak ingin melibatkan orang lain. Kau ingin melawan Orochimaru sendiri. Bukan begitu, Sasuke?" Mata onyx Sasuke sedikit terbelalak. Bagaimana bisa Sakura mengetahui wataknya yang bahkan ia sendiri tak mengetahuinya?

"Tapi kau salah. Meskipun hanya sedikit, tapi kau juga manusia. Manusia ialah makhluk social, bukan individu, tidak akan bisa berjuang sendiri. Aku yakin teman-temanmu bisa membantumu, Sasuke. Cobalah sedikit terbuka dengan orang-orang di sekitarmu." Sasuke tersenyum simpul. Dan kemudian lelaki itu berjalan di depan Sakura.

"Ayo," ajaknya. Sakura yang kebingungan hanya terdiam di tempatnya.

"Ke mana?" Sasuke membalikkan badannya.

"Menemui Orochimaru."

~~~0~~~

.

.

.

Sakura dan Sasuke memasuki kelasnya. Sakura melihat Ino sedang mengobrol dengan gadis tanpa pupil dengan seorang gadis dengan rambut diikat empat. Sakura mengingat-ingat nama gadis manis tanpa pupil itu, kalau tidak salah… namanya… ya! Hyuuga Hinata! Sakura menghampiri Ino yang duduk di sebelah Sai. Entahlah, meskipun tampak saling tidak menyukai, Ino dan Sai seperti pasangan yang kompak.

"Sakuraa!" seru Ino saat melihat Sakura.

"Sa-Sakura-chan." Sakura tersenyum melihat Hinata yang mengeluarkan semburat merah tipis di wajahnya, dan mata emeraldnya bergulir melihat gadis pirang berikat empat dengan kipas besar di belakangnya.

"Temari." Gadis itu memperkenalkan diri tanpa disuruh.

"Sakura," kata Sakura memeprkenalkan diri sembari tersenyum.

"Wah, aku tidak menyangka bahwa ada manusia yang tidak takut pada kami," ujar Temari. Sakura dan Ino tersenyum sumringah mendengarnya. Sebuah kebanggaan disebut seorang 'pemberani' secara tidak langsung.

Seketika suara riuh kelas hening saat seseorang masuk ke dalam kelas itu. Semua murid beranjak kembali ke tempatnya. Sakura bingung sekarang, dia tidak tahu di mana ia harus duduk sekarang.

"Sakura, kemari." Bak seorang pahlawan, Sasuke memanggil Sakura untuk duduk di sampingnya. Naruto yang tadinya duduk di samping Sasuke telah diusir dan terpaksa harus duduk di samping Hinata yang membuat Hinata tak sadarkan diri saking malunya.

Sakura melihat Orochimaru memasuki kelas. Mata Sakura membelalak kaget melihat sosok Orochimaru. Dia… seperti jelmaan ular! Sakura merinding melihat Orochimaru, dari tampangnya saja, Sakura sudah tahu bahwa Orochimaru adalah orang yang berbahaya! Merasa diperhatikan, Orochimaru menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Sakura membuang mukanya. Keringat meluncur di pelipis Sakura, gadis itu tengah ketakutan saat ini.

Sakura melihat lagi ke arah Orochimaru, ular tua itu masih saja memperhatikan Sakura dengan mata tajamnya, membuat Sakura bergidik ngeri. Ada apa dengan Orochimaru? Apa dia sadar bahwa Sakura sudah mengetahui maksud dan tujuannya berada di sekolah ini? Tubuh Sakura bergetar, namun seketika getarannya itu seakan hilang di terjang ombak saat sebuah telapak tangan menyentuh tangannya dan menggenggamnya. Sakura menoleh ke sampingnya, ke arah Sasuke. Sasuke nampak tidak menghiraukan Sakura dan embuang tatapannya ke depan, namun tangannya tetap menggenggam tangan Sakura, seolah pemuda itu ingin menenangkan Sakura. Menyadari bahwa Sasuke tengah menyemangatinya tanpa ada yang tahu, Sakura tersenyum lembut, dan kemudian menatap Orochimaru dengan pandangan menantang. Entah sadar dipandang dengan tatapan seperti itu, Orochimaru membuang pandangannya ke arah lain, membuat Sakura bernafas lega.

.

.

.

"…membuat kita harus mempertahankan diri kita sendiri dari buruan makhluk lain…" Sakura mengernyit heran. Pelajaran apa ini?! Ini bukannya pelajaran biologi, fisika, kimia, ekonomi, ataupun pelajaran lainnya, tapi ini pelajaran bertahan hidup! Sakura melirik Ino, nampaknya gadis itu juga cengo melihat pelajaran kelas malam ini. Sejak Orochimaru menjelaskan, yang masuk di otak Sakura hanya bertahan, memburu, membunuh, menerjang, dan sebagainya!

"…oleh karena itu, kalian harus cerdik mengendalikan kemampuan kalian, bukan begitu, Uchiha Sasuke?" Sakura tersentak saat Orochimaru menyebut nama Sasuke. Sakura dapat mendengar dengan samar siswa-siswi di kelas itu berbisik-bisik 'Sasuke lagi… Sasuke lagi…' Setidaknya itulah bisikan mereka. Sakura menoleh ke arah Sasuke, sedangkan pemuda itu menatap Orochimaru tajam.

Sedetik kemudian, bel berbunyi. 'Istirahat mungkin,' batin Sakura. Dan tebakannya benar, Orochimaru keluar ruangan, sementara para murid keluar kelas.

"Huaa… Sakura, aku akan dimarahi oleh ayahku! Sekarang sudah pukul sebelas malam!" ucap Ino cemas. Sakura juga cemas dalam hatinya, mungkin ibunya sekarang sudah menelpon teman-temannya yang lain untuk mengorek informasi tentang dimana ia berada saat ini.

"Benar juga… bagaimana kalau kita pulang sekarang?" ajak Sakura. Ino mengangguk.

"Butuh antaran Nona?" tawar Sai. Ino yang mempunyai pengalaman buruk atas pertanyaan ini hanya diam saja.

"Tidak perlu Sai," jawab Sakura. Sai hanya tersenyum palsu seperti biasanya.

"Kali ini bukan kau, aku menawarkan kepada seseorang yang telah jatuh cinta padaku sehingga rela duduk berdampingan denganku," ujarnya tenang. Ino menatap Sai tajam. Ke-GR-an sekali dia!

"Tidak perlu! Kalaupun ada yang kutakuti, itu berarti kau!" tunjuk Ino. Sai menunjukkan ekspresi sedih yang baru kali ini Naruto, Sasuke, serta Sakura lihat. Ino yang merasa telah keterlaluan segera meminta maaf.

"Ah, ma-maafkan aku Sai, bukannya aku bermaksud untuk-"

"Sesulit itukah kau jujur dengan perasaanmu bahwa kau ingin diantar olehku yang telah membuatmu jatuh cinta ini?" Dan perkataan itu sukses membuat Ino membalikkan badannya.

"Cih! Sakura! Ayo kita pulang!" ujarnya kesal. Sakura pun berpamitan pada Naruto, Sai, dan Sasuke. Setelah berpamitan, mereka pun berjalan meninggalkan ketiga pemuda itu. Namun di tengah perjalanan, saat ingin menuju ke lapangan, Sakura terjatuh tanpa alasan (baca : jatuh konyol) membuat Naruto dan Ino tertawa kencang melihatnya. Namun seketika mereka berhenti tertawa saat Sakura meringis kesakitan. Gadis itu memegang lututnya. Ino terbelalak melihat darah mengalir di lutut Sakura.

"Sakura!" teriaknya. Sasuke segera menghampiri Sakura dan melihat lututnya. Sasuke melihat beling-beling kaca serta paku payung yang menancap di lutut gadis itu, yang membuat darah mengalir di lutut Sakura. Sakura tetap meringis.

"S-sakit…" rintihnya. Sasuke menggendong Sakura menuju tempat duduk di sekitar lapangan.

"Bagaimana kau bisa seceroboh ini?" gumam Sasuke dan melihat luka-luka Sakura.

"Akh!" Sakura tak kuasa menahan tangis saat Sasuke mencabut salah satu paku payung yang menancap di lutut kirinya. Paku itu menancap cukup dalam. Naruto dan Sai yang daritadi menghilang kini kembali membawa kotak P3K.

"Tahanlah," perintah Sasuke dan mencabut paku payung serta beling-beling kaca dari lutut Sakura. Tangis Sakura semakin pecah, air matanya jatuh membasahi luka-lukanya.

"Semuanya sudah kucabut, aku akan mengoles-" Perkataan Sasuke terputus seketika. Onyxnya membelalak.

"Ada apa, Sasuke?" tanya Ino yang mewakili pertanyaan Naruto dan Sai.

"Sakura, lukamu…" Sakura berhenti terisak. Ia melihat lukanya, ada apa dengan luka itu?

"Kenapa… bekas tancapan beling dan paku payung itu hanya tinggal tiga?" Semuanya memperhatikan lutut Sakura. Benar juga, tadi luka itu ada banyak, mungkin lebih dari lima, tapi kenapa tinggal tiga?

"Sakura, air matamu…" Sakura menutup matanya rapat, membuat sisa-sisa air mata tadi jatuh dan menetes di salah satu lukanya, semuanya terkejut melihat luka yang ditetesi air mata tadi perlahan-lahan menutup, seakan telah sembuh dan seakan tidak terjadi apa-apa di sana.

"A-aku…" Sakura kehilangan kata-katanya, masih shock dengan peristiwa yang dihadapinya saat ini.

"Sakura kau…" Naruto memandang Sakura tak percaya.

.

.

.

"…bukan manusia biasa."
.

.

.

To be Continued

#tepar

Selagi ada waktu, aku pergunakan buat ngetik lanjutan fic ini dan alhasil bisa selesai dalam waktu satu jam… membuat tanganku….#lirik tangan yang bengkok

Oke deh minna, aku harap kalian puas dengan chapter ini. Sorry pendek, aku gak tahu lagi mau ngomong apa…hiks..

Oke, balas review yang unlogin :

Sherlock Holmes :

Hai Sherlock-san!

Penasaran? Buahahahaha!#tawa laknat

Malah aku suka kalau ada yang penasaran!#ditimpuk

Oke deh, thanks reviewnya review lagi yah XD

Koibito cherry :

Hai…

HAHAHAHA!#plak

Inilah review yang aku tunggu! Reviewer yang akhirnya menyadari apa yang aku mau sadarkan(?)

Oke, chap ini sudah jelaskan semuanya?

Soal GaaSaku, mungkin chapter-chapter ke depan deh, karena aku belum mau memunculkan Gaara, tapi aku pasti akan memunculkannya

Oke deh, review lagi yah, thanks reviewnya XD

Sherlock holmes :

Wah, kamu review dua kali?

Haha.. gak apa kok, perkembangan sasusaku? Tidak adakah perkembangan sama sekali soal hubungan mereka berdua?*pundung*

Sekali lagi, thanks reviewnya, review lagi (lagi) XD

SasuSaku Kira :

Kalo Sasuke nikah sama Sakura, eer…-*sulit ngebayangin* #plak

Thanks reviewnya :D review lagi ddoooonngg! :D

Oke deh, udah ya?

Untuk yang login, silahkan masing-masing cek PM kalian :D

Huaaa! Udah ya minna, aku mau belajar untuk persiapan try out besok, doain moga sukses yah XD

Arigatouuuuuu~

REVIEW PLEASEEE!