Second Bench CH 5
.
Sunday 27th July 2014 (08.28 a.m KST)
Baekhyun menjadi tidak terlalu focus pada ibunya di depan dan malah memerhatikan laki-laki tinggi yang tadi melihatnya. Laki-laki berambut merah yang duduk bersama kedua temannya di barisan bangku kedua.
'Ya Tuhan ada apa dengan ku? Apa ada yang salah dengan laki-laki itu sehingga aku harus aku melihatnya?'
Baekhyun memilih tidak peduli dan melihat sesi tukar cincin yang terjadi antara Tuan Park dan ibunya. Baekhyun tersenyum kala melihat senyuman dari wajah ibunya. Rasanya ia jarang sekali melihat hal yang seperti itu. Mungkin ia akan sering melihatnya setelah pernikahan ini terjadi.
Senyuman laki-laki itu semakin lebar saat melihat Tuan Park mencium dahi ibunya dengan sepenuh hati. Baekhyun merasa bahwa Tuan Park memang pantas untuk menjadi suami ibunya dan sekaligus menjadi ayah tirinya.
Saat semua tamu bertepuk tangan, Baekhyun juga mengikutinya bahkan mungkin ia yang paling keras karena jujur ia sangat bahagia dengan ini semua.
'semoga semua akan berjalan semakin baik'
.
.
(08.45 a.m KST)
Sejak lima belas menit yang lalu Baekhyun dan semua tamu keluar dari gereja menuju ke taman belakang gereja yang luas untuk melaksanakan perayaan dan jamuan untuk para tamu yang hadir.
Baekhyun merasa sangat kenyang karena hampir semua makanan yang disajikan telah masuk ke dalam perutnya. Ia cukup senang setidaknya tidak ada orang yang terlalu memerhatikannya, karena akan terlihat sangat norak jika ia tertangkap basah sedang mengagumi makanan enak yang mungkin saja 99% orang di sini telah bosan dengan makanan seperti itu.
Baekhyun tidak peduli jika sikapnya mungkin terlalu memalukan saat makan, karena Baekhyun pikir ini hal yang langka untuk makan makanan yang enak.
Dan saking semangatnya ia makan, Baekhyun benar-benar teledor dengan membuat dirinya tersedak. Di saat Baekhyun panik untuk segera mencari minum sekedar meredakan batuknya, sebuah tangan beserta air berwarna merah –seperti sirup stroberi– muncul di depan matanya yang sedikit menyipit menahan ganjal di kerongkongannya.
Baekhyun mendongak.
"hei.. ku pikir kau membutuhkan ini-"
Baekhyun menatapnya dengan pandangan bingung.
"aku tak sengaja melihatmu tersedak tadi, dan aku pikir kau tak dapat mencari minuman dengan kondisimu yang seperti itu. Jadi yah, aku memberikan ini padamu. Terima ini." Jelasnya.
Baekhyun hanya mengambil gelas berisi sirup itu untuk meredakan rasa ganjalnya. Sedikit ia melirik ke arah laki-laki itu.
"merasa lebih baik, bukan?" Baekhyun menjawab dengan anggukan. "aku Kim Jongin. Kalau kau tidak keberatan?" Jongin mengangkat sebelah alisnya.
Baekhyun yang mengerti maksud laki-laki bernama Kim Jongin itu tersenyum, "Byun Baekhyun."
Jongin mengulurkan tangannya, "senang berkenalan denganmu, Byun."
Baekhyun menerima uluran itu dengan senang, "aku juga."
Dua laki-laki berbeda tinggi itu melepaskan jabat tangan mereka.
"Omong-omong, aku sangat suka sepatu yang kau pakai. Di mana kau membelinya? Aku ingin sepatu seperti itu sejak satu minggu yang lalu kau tau? Tetapi ibuku selalu melarang ku untuk membelinya karena katanya tidak sampai satu bulan sepatu itu akan rusak. Menyedihkan sekali."
Mendengar Jongin berbicara banyak padanya, membuat Baekhyun berbicara dalam hati tentang laki-laki di depannya kini.
'Jongin type anak yang suka sekali bercerita. Ku pikir ia anak yang baik.'
"Hei kenapa kau tersenyum sendiri seperti itu? Kau tidak gila kan?" Katanya dengan sedikit tertawa di akhir kalimatnya.
Baekhyun ikut tertawa mendengarnya, "tidak Jongin-ssi, aku cukup waras. Jika kau Tanya di mana aku mendapatkan sepatu ini, aku tak bisa menjawabnya-"
"Yak kau pelit sekali? Ayolah.. jika kau ingin ini menjadi rahasia, aku daapat kau percaya untuk menjaga rahasia mu ini. Aku janji."
Baekhyun tertawa sedikit keras dari sebelumnya.
"tidak, aku belum menyelesaikan kalimatku. Kau harus mendengarnya sampai selesai. Mengerti?"
Jongin menggaruk tengkuknya salah tingkah karena malu, ia mengangguk.
"aku tak bisa memberi tau tentang tempat aku membeli sepatu ini, karena sepatu ini pemberian seseorang. Sangat tidak lucu jika kau memaksa ku untuk bertanya pada orang itu." Baekhyun tersenyum di akhir kalimatnya.
"jadi.. begitu. Okay baiklah. Aku minta maaf."
Baekhyun mengangguk, "tidak masalah."
Jongin mengedarkan pandangannya ke hampir seluruh taman itu, setelah beberapa lama ia menoleh kembali kepada Baekhyun di depannya yang sedang menatapnya bingung.
"ku pikir aku harus meninggalkanmu sekarang, aku lupa pada teman ku. Tadi aku meninggalkannya sebentar untuk mengambil minum, tetapi karena aku melihatmu tersedak ku pikir aku sudah terlalu lama meninggalkannya."
"baiklah pergi lah, menunggu sangat tidak enak." Ucap Baekhyun.
Jongin tersenyum dan mengucapkan 'selamat tinggal' kemudian 'sampai jumpa lagi Byun Baekhyun' sebelum akhirnya berbalik dan sedikit berlari menabrak beberapa orang yang sedang berbincang.
Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya lucu saat melihat tingkah Jongin yang sedang tergopoh sampai membuat beberapa wanita bergaun mewah mengumpat karena gaun panjangnya sedikit terinjak oleh Jongin.
Laki-laki kecil itu tersenyum geli saat mengingat sikap Jongin padanya tadi. Sedikit berharap tinggi, ia ingin bertemu dengan Jongin lagi dan mungkin mereka dapat menjadi teman yang baik.
'Jongin tampak lebih baik daripada Daehyun yang brengsek.'
Tiba-tiba ingatan beberapa hari yang lalu muncul dalam memorinya. Baekhyun jadi teringat oleh ibu dan ayah barunya. Di mana mereka? Baekhyun ingin sekali mengucapkan selamat kepada ibunya.
"Baekhyun."
Mendengar namanya disebut, Baekhyun memutar tubuhnya demi menemukan ayah barunya menggandeng lengan ibunya dengan mesra. Baekhyun tersenyum tipis melihatnya.
"selamat Bu. Ibu terlihat sangat cantik dengan gaun putih itu." Baekhyun bergerak ingin memberi pelukan sayang pada ibunya, tetapi ia harus menelan semua harapannya yang ia tahu sangat tinggi dan sangat sulit untuk tercapai.
Taeyeon terlihat mengeratkan tangannya pada tangan suaminya.
Terlihat enggan jika Baekhyun memeluknya.
Baekhyun tersenyum dan mundur satu langkah melihat sikap ibunya. Ia sedikit membersihkan tenggorokannya sebelum mengalihkan pandangannya pada Jungsoo.
Senyumnya semakin lebar, "ayah terlihat sangat keren sekali, aku ingin menjadi sepertimu. Selamat ya ayah."
Jungsoo membalas senyumnya dan melepaskan genggaman istrinya dengan sedikit paksa karena genggamannya yang terlalu erat. Laki-laki paruh baya itu maju dua langkah.
Dan memeluk Baekhyun dengan erat.
Baekhyun kaget dengan hal yang tiba-tiba hadir di dekat dirinya. Matanya sedikit membesar.
Tidak jauh berbeda dengan ibunya.
"terima kasih. Mulai sekarang kau anak ku juga. Jangan pernah sungkan pada ayah mu, mengerti Baek?"
Terlalu sulit menerima sebuah hal istimewa dengan tiba-tiba seperti ini baginya, maka Baekhyun membalas pelukan ayahnya dan memejamkan mata karena ia tau sesuatu akan keluar dari sana.
Dengan cepat ia mengangguk dengan air mata yang keluar dari mata kanannya yang terpejam, "aku mengerti ayah. Aku berjanji akan menjadi anak yang baik. Aku akan membuatmu bangga, aku janji."
Jungsoo mengelus rambut coklat anaknya dengan sayang. Dan hal itu membuat Baekhyun berfikir.
'Ya Tuhan, aku merasakan sebuah pelukan dari ayahku. Tak ada hal yang lebih bahagia dari pada mendapatkan pelukan dari orang yang menyayangiku. Ini pelukan pertama untukku dan aku tak akan melupakan hal ini. Akan lebih bahagia jika ibu juga memelukku.'
"aku bisa melihat dari sikapmu, kau anak yang baik dan kau pasti akan membuat ayah bangga." Jungsoo melepaskan pelukannya yang mana membuat Baekhyun sedikit kecewa.
Dan kekecewaan Baekhyun tak berlangsung lama saat Jungsoo mengelus puncak rambutnya sayang, "kau sudah berjanji pada ayah kan?" ucap Jungsoo dengan nada menggoda.
Baekhyun membuat gerakan hormat dengan tegak, "tentu ayah. Janji dapat dilaksanakan dengan baik."
Jungsoo tertawa bersama Baekhyun dan tidak menyadari dengusan yang dikeluarkan Taeyeon.
"ohh ayah hampir lupa." Laki-laki paruh baya itu membersihkan berdehem sebentar dan melanjutkan kalimatnya. "kau tidak keberatan jika mulai hari ini kau juga akan tinggal di rumah ayah?"
Baekhyun sedikit berpikir dan kemudian menggeleng, "tidak."
"itu lebih bagus karena anak buah ayah sekarang ada di rumah lama kalian untuk mengambil semua barang-barang penting milik mu dan milik ibumu. Jadi lebih baik sekarang kau pulang ke rumah ayah dengan diantar supir keluarga ayah. Kau tidak keberatan?"
Melihat Baekhyun diam tak memberi jawaban, Jungsoo mencoba untuk membujuk anaknya lagi.
"jangan khawatir Baekhyun, anak ayah ada di rumah. Mulai sekarang ia akan menjadi saudara mu. Ia lebih tua satu tahun darimu jadi kau harus memanggilnya hyung. Kau mengerti?"
Mendengar kata saudara atau hyung masuk dalam telinganya membuat laki-laki kecil itu memekik kecil dengan mata yang cerah dengan cepat.
"aku punya saudara? Benarkah?"
Dan anggukan dari ayahnya membuat Baekhyun tidak tau cara apa lagi untuk bersyukur kepada Tuhan.
Ini begitu lebih dari istimewa. Dan mampu membuatnya tersenyum.
"dia hadir tadi, mungkin kau tidak melihatnya karena terlalu banyak orang. Ia datang bersama teman-temannya. Tetapi entah kenapa setelah minum satu gelas sirup dia dengan mengajak teman-temannya itu memilih untuk pulang." Jelas Jungsoo panjang. Ia menanti reaksi Baekhyun sebelum akhirnya melanjutkan
"mungkin mereka berada di rumah ayah sekarang, jadi lebih baik kau pulang sekarang dan berkenalan dengan mereka. Kau terlihat sudah sangat lelah dengan semua makanan yang kau lihat." Dan ucapan itu diakhiri dengan tertawa di antara mereka berdua. Taeyeon semakin dongkol di hari bahagianya melihat suami serta anaknya tertawa bersama tanpa menghiraukan kehadirannya.
"baiklah ayah, aku akan pulang."
"itu Tuan Lee yang akan mengantarmu, beliau adalah supir keluarga ayah. Beliau akan sangat baik kepadamu."
.
.
Sunday 27th July 2014 (09.42 a.m KST)
Baekhyun benar-benar tidak menyangka kenapa ayahnya memilih tempat pernikahan yang lumayan jauh dari rumahnya. Rasa lelah masih hadir dalam punggungnya karena terlalu lama duduk dan berbicara banyak hal dengan Tuan Lee. Baekhyun berpikir bahwa Tuan Lee ini orang yang sangat ramah dan suka sekali membuat lelucon. Baekhyun mungkin bisa berteman dengan Tuan Lee.
Baginya teman itu tidak memandang usia. Asalkan dapat membuat tertawa, kenapa tidak?
"terima kasih Tuan Lee, aku suka sekali dengan leluconmu."
Tuan Lee tertawa dengan sikap polos majika barunya.
"sama-sama Tuan Muda Baekhyun, senang bisa menghiburmu di tengah perjalanan yang panjang."
"jangan memanggilku seperti itu. Panggil saja aku Baekhyun, karena kita sekarang teman. Aku juga akan memanggilmu paman Lee, tidak keberatan?"
Tuan Lee kembali tertawa dengan perkataan Baekhyun, "oke, kita adalah teman Baekhyunnie~"
Baekhyun ikut tertawa dengan perkataan teman barunya –Tuan Lee.
"baiklah Tuan Lee aku harus masuk, sampai jumpa!"
Tuan Lee tersenyum dan melambai padanya, Baekhyun membalasnya dengan semangat sampai mobil yang dibawa Tuan Lee keluar rumah.
Baekhyun mengatur nafas karena gugup, kemudian menatap rumah di hadapannya. Baekhyun melangkah masuk dan setelah dirinya telah sampai ke depan pintu besar yang ia yakini sebagai pintu utama dari rumah super mewah itu, Baekhyun berinisiatif untuk mengetuknya sebelum pintu itu terbuka menampilkan wanita tua sekitar berumur lima puluh tahun mengenakan pakaian seperti pelayan sedang menatapnya.
"Tuan Muda Baekhyun?" tanyanya.
Baekhyun hanya mengangguk.
"silakan masuk, di dalam ada Tuan Muda dengan teman-temannya." Baekhyun melangkah masuk setelah wanita tua itu memberinya cukup ruang untuk masuk ke dalam rumah mewah itu.
Baekhyun dapat melihat semua barang yang berkualitas di sini.
'sangat mewah'
Baekhyun tak sengaja melihat sebuah foto yang lumayan besar, di dalamnya terlihat seorang laki-laki muda yang mengenakan jas hitam dengan dasi merah.
'sangat tampan dan berkelas' batinnya.
"kau siapa?"
Baekhyun terkejut saat mendengar suara husky dari belakangnya, Baekhyun berbalik.
Chanyeol memandangnya dengan pandangan yang tidak bersahabat.
"aku Baekhyun. Aku adikmu hyung"
Baekhyun tersenyum kepada Chanyeol dan matanya menangkap dua sosok laki-laki lain di belakang hyungnya. Dan Baekhyun mengenal salah satu di antara mereka.
Jongin hendak menyapanya sebelum suara Chanyeol kembali berkata.
"aku tak suka dengan kehadiranmu."
Jongin sedikit melebarkan matanya, dan bibirnya kembali tertutup. Jongin tidak jadi menyapa teman barunya.
.
.
.
Tobecontinue
.
a/n : cie update cepet. Ini buat yang minta chanbaek cepet ketemuan dan serumah /uhuk noh udah satu atap hahaha.. tapi lagi-lagi masih seupil ketemuannya hahaha aku emang sengaja kok. Chap depan baru acara besarnya, pada gak sabar kah?
Oiya aku bakal jawab beberapa review yg mungkin akan jadi kejelasan
Baekhyun mimisan itu gak sakit parah kok, cumin kalo dia marah dan dapat tekanan batin secara bersamaan dia bakal mimisan. Dan itu bisa jadi alasan kenapa nanti di sini dia perannya hampir gak pernah marah. Gak lucu dong kalo dia marah mimisan terus. Itulah perbedaan Chanyeol dan Baekhyun. Chanyeol suka marah kalo Baekhyun entahlah :p
Terus yg nanya ibunya Chanyeol kemana, ntar bakal dijelasin di chap keberapa ntah aku gatau yg pasti ntar ada hubungannya kok.
Dan yg gemes karena kty jahat bgt sama Baek, itu karena ada sesuatu yaitu kejutan besar hahaha
Pokoknya aku bakal bikin semua cast di sini saling sambung-menyambung menjadi satu dan bermanfaat kehadirannya.
Jadi yg penasaran terus ikutin yaw hehe..
Makasi yg uda REVIEW/FAVORITE/FOLLOW this story.
Aku seneng cerita aku diapresiasi kayak gitu jadi sebagai bentuk senengnya dan mumpung aku lagi free bgt /uhuk sehabis uas jadi ya aku update fast.
Bye~ review lagi ya.. maaf ga bisa sebutin satu-satu..
