Fallen too Far

By ABBI GLINES

Remake to KiHyun Version

Previous Chap :

"Dia tinggal di sini dia bisa memiliki apa pun yang dia inginkan," jawab Kibum.

Kepalaku tersentak dan matanya tidak meninggalkanku.

"Dia tinggal di sini?" Tanya gadis itu.

Kibum tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku mengerutkan kening padanya dan memutuskan satu saksi kami tidak akan mengingat ini di pagi hari. "Jangan biarkan dia berbohong padamu. Aku tamu tak diharapkan yang tinggal di bawah tangganya. Aku menginginkan beberapa hal dan dia terus mengatakan tidak padaku."

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku membuka pintu dan melangkah masuk. 1-0 untukku.

***KH***

Aku menghabiskan sandwich selai kacang terakhirku dan membersihkan remah–remahnya dari pangkuanku. Sepertinya aku harus segera pergi ke toko makanan dan membeli makanan baru. Sandwich selai kacang ini sudah hampir kadaluarsa.

Aku libur hari ini dan bingung mau mengerjakan apa. Aku berbaring di tempat tidur memikirkan Kibum dan betapa bodohnya aku malam itu. Apa yang dilakukannya untuk meyakinkanku kalau ia hanya ingin berteman denganku? Dia mengucapkan itu padaku lebih dari sekali. Aku harus berhenti berupaya agar ia melihatku lebih dari sekedar teman. Aku melakukan itu tadi malam. Seharusnya itu tidak kulakukan. Ia tidak ingin menciumku. Aku bahkan tidak percaya aku memohon padanya untuk menciumku.

Aku buka pintu pantry dan melangkah ke dalam dapur. Wangi dari bacon menyeruak di hidungku dan jika saja bukan Kibum yang sedang berdiri di depan kompor hanya dengan celana piyamanya saja, aku pasti sudah menikmati aroma kelezatan ini. Pemandangan indah dari punggung telanjang Kibum sudah mengusir aroma bacon.

Dia menoleh dari bahunya dan tersenyum "Selamat pagi. Hari ini pasti hari liburmu."

Aku mengangguk dan berdiri disana memikirkan apa yang seorang teman seharusnya katakan. Aku tidak mau mematahkan aturannya lagi. Aku akan mengikuti aturannya. Lagi pula aku akan segera pergi dari sini.

"Baunya harum," balasku.

"Keluarkan dua piring. Aku membuat bacon yang paling enak."

Sekarang aku berharap aku tidak memakan sandwich selai kacang tadi. "Aku sudah makan, tapi terimakasih sebelumnya."

Kibum menurunkan garpunya dan berpaling menghadapku. "Bagaimana bisa kau sudah makan? Kau baru saja bangun."

"Aku menyimpan selai kacang dan roti di kamarku. Aku baru saja makan itu sebelum aku kesini."

Dahi Kibum berkerut mencerna kata-kataku. "Kenapa kau menyimpan selai kacang dan roti di kamarmu?"

Karena aku tidak ingin teman-temannya yang banyak itu menghabiskan makananku. Tapi, tentu saja, tidak mungkin aku mengatakan itu. "Ini bukan dapurku. Aku menyimpan semua barang -barangku di kamarku."

Tubuh Kibum menegang dan aku berpikir apa yang salah dengan kata-kataku yang membuatnya marah. "Apa kau memberitahuku bahwa kau hanya makan roti dan selai kacang saat kau berada disini? Begitu? Kau membelinya dan menyimpannya di kamarmu dan hanya itu yang kau makan?"

Aku mengangguk, tidak yakin kenapa hal ini dipermasalahkan.

Kibum memukulkan tangannya ke atas meja dapur dan membalikkan wajahnya ke arah bacon sambil memaki pelan.

"Kemasi semua barang-barangmu dan pindah keatas. Ambil kamar mana saja di hall sebelah kiri. Buang selai kacang sialan itu dan makan apapun yang kau ingin makan di dapur ini."

Aku tidak bergerak. Aku tidak yakin dari mana datangnya reaksi ini.

"Kyu, jika kau ingin tinggal di sini, cepat pindahkan pantatmu ke atas sekarang (pindahkan barang-barangmu). Lalu turun ke bawah sini dan makan sesuatu dari lemari es ku sambil aku lihat."

Dia marah. Padaku?

"Kenapa kau ingin aku pindah ke atas?" tanyaku penasaran.

Kibum menjatuhkan potongan terakhir baconnya ke atas kertas tissue dan mematikan kompor gas sebelum menoleh ke arahku.

"Karena aku ingin kau pindah. Aku benci tidur di atas tempat tidurku di malam hari dan memikirkan mu yang tidur di bawah tangga. Sekarang aku punya bayangan kalau kau memakan sandwich selai kacang sialan itu sendirian di sana dan aku tidak tahan lagi."

Okay. Jadi, dia memang peduli padaku, dalam kapasitas tertentu.

Aku tidak membantahnya. Aku kembali ke kamarku di bawah tangga dan menarik kopor ku dari bawah tempat tidurku. Selai kacangku ada di dalamnya. Aku membuka tasku dan mengeluarkan botol selai yang hampir kosong dan tas roti berisi empat helai roti yang tersisa. Aku akan meninggalkan ini di dapur dan kemudian mencari kamar. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang. Kamar ini telah menjadi tempat aman bagiku. Pindah ke atas membuatku keluar dari tempat persembunyianku. Aku tidak akan sendiri lagi di atas sana.

Sembari melangkah keluar dari pantry aku meletakkan selai kacang dan roti di atas meja dapur. Aku menuju ke hall tanpa melakukan kontak mata dengan Kibum. Dia sedang berdiri di bar sambil memegang ujung meja dengan kencang seakan-akan dia sedang berusaha untuk tidak memukul apapun. Apa dia berpikir untuk melemparku kembali ke dalam pantry? Aku tidak keberatan tinggal di dalam sana.

"Aku tidak harus pindah ke atas. Aku menyukai kamar itu," aku menjelaskan dan melihatnya semakin mengencangkan pegangannya di meja bar.

"Kau berhak tinggal di salah satu kamar di atas. Kau tidak berhak tinggal di bawah tangga. Tidak pernah."

Dia ingin aku pindah ke atas. Aku hanya tidak mengerti perubahan hatinya yang tiba-tiba.

"Setidaknya bisakah kau memberitahuku kamar mana yang harus kuambil? Aku merasa tidak berhak untuk memilih salah satunya. Ini bukan rumahku."

Kibum akhirnya melepaskan pegangan mautnya di meja dan berpaling menatapku. "Kamar- kamar di sebelah kiri semuanya kamar tamu. Ada 3. Aku rasa kau akan menyukai pemandangan dari kamar yang terakhir. Kamar itu langsung menghadap ke arah laut. Kamar yang di tengah bernuansa putih dengan aksen pink pucat. Kamar itu mengingatkan aku akan dirimu. Jadi, terserah padamu. Yang mana yang akan kau pilih. Pilih dan turun kembali ke sini dan makan."

Dia kembali ingin aku makan.

"Tapi aku tidak lapar. Aku baru saja makan…"

"Jika kau berkata kau makan selai kacang sialan itu lagi aku akan melemparkannya ke tembok." Dia berhenti dan mengambil napas panjang. "Tolong, Kyu. Makanlah sesuatu untuk ku."

Seperti setiap perempuan di planet ini yang tak dapat menolak permintaan Kibum. Aku mengangguk dan menuju ke atas. Aku akan memilih kamarku.

Kamar pertama tidak terlalu menyenangkan. Kamar itu berwarna gelap dengan pemandangan langsung ke halaman depan. Belum lagi itu adalah kamar terdekat dari tangga dan pasti suara bising dari pesta masih akan terdengar. Aku melangkah ke kamar berikutnya dan terlihat ranjang ukuran king ditutup sprei renda putih dan bantal-bantal cantik berwarna pink. Lampu gantung berwarna pink tergantung indah dari plafon. Benar-benar cantik. Tidak seperti yang aku harapkan akan kutemui di rumah Kibum. Tapi, ibunya tinggal sini untuk waktu yang lama.

Aku buka pintu terakhir di hall sebelah kiri. Ada sebuah jendela yang sangat besar memanjang dari lantai sampai ke plafon, dan memperlihatkan pemandangan yang sangat indah dari lautan. Benar-benar menakjubkan. Warna biru pucat dan hijau yang mendominasi kamar dipercantik dengan ranjang ukuran king yang terbuat dari kayu apung. Setidaknya headboard dan footboardnya terlihat seperti itu. Aku menyukainya. Tidak. Lupakan itu. Aku jatuh cinta pada kamar ini. Aku meletakkan tasku dan berjalan ke arah pintu yang sepertinya kamar mandi pribadi. Kamar mandinya sangat besar dengan handuk putih dan sabun-sabun mandi yang mahal yang menghiasi meja marmer putih. Ada sedikit warna biru dan hijau tetapi warna utamanya adalah putih.

Bak mandinya berbentuk bulat dengan spray jet di dalamnya. Walaupun aku tidak pernah melihat sebelumnya tapi aku tahu kalau ini adalah Jacuzzi. Mungkin aku salah masuk kamar. Tidak mungkin ini adalah kamar tamu. Aku pasti menginginkan kamar ini apabila aku tinggal di rumah ini.

Akan tetapi, ini adalah kamar terakhir di sebelah kiri hall. Ini pasti kamar yang dimaksud oleh Kibum. Aku melangkah keluar dari kamar mandi. Aku akan menemui Kibum dan mengatakan kalau aku memilih kamar ini dan apabila bukan ini maksudnya, ia pasti akan memberitahuku. Aku meletakkan tasku di dinding di belakang pintu dan kembali turun ke bawah.

Kibum sedang duduk dimeja pantry dengan sepiring bacon dan telur orak arik saat aku masuk ke dalam dapur. Matanya langsung menatapku.

"Apa kau sudah memilih kamar?" dia bertanya.

Aku mengangguk dan berjalan memutar untuk berdiri di ujung sebelah meja. "Iya. Aku pikir begitu. Kamar yang kau bilang mempunyai pemandangan indah itu… berwarna hijau dan biru?"

Kibum tersenyum. "Iya. Benar sekali."

"Dan kau setuju kalau aku tinggal di kamar itu? Kamar itu indah sekali. Aku pasti menginginkan kamar itu kalau ini adalah rumahku."

Senyum Kibum melebar. "Kau belum melihat kamarku."

Kamarnya pasti lebih bagus lagi. "Apakah kamarmu ada di lantai yang sama?"

kibum mengambil sepotong bacon. "Tidak, kamarku ada di lantai paling atas."

"Maksudmu kamar dengan semua jendela-jendela itu? Satu satu nya kamar paling besar?" Lantai paling atas seperti terbuat dari kaca kalau dilihat dari luar. Aku selalu berpikir kalau itu hanya sebuah ilusi atau itu adalah beberapa kamar.

Kibum menganguk, "Yep."

Aku ingin sekali melihat kamarnya. Tapi dia tidak menawarkan sehingga aku tidak berani bertanya.

"Apa kau sudah menata barangmu?" dia bertanya, lalu menggigit potongan baconnya.

"Belum, aku ingin bertanya dulu padamu sebelum aku menata nya. Mungkin lebih baik aku tetap menyimpannya di dalam tasku. Akhir minggu depan aku harus siap-siap untuk pindah. Tip yang kudapat dari klub cukup besar dan aku sudah menyimpannya."

Kibum berhenti mengunyah dan matanya menatap tajam ke arah luar. Aku mengikuti pandangannya, tapi tidak menemukan apa-apa kecuali pantai yang kosong.

"Kau boleh tinggal selama yang kau mau, Kyu."

Sejak kapan? Dia pernah berkata aku hanya mempunyai waktu sebulan. Aku tidak menjawab.

"Duduk di sampingku dan makan bacon ini." Kibum menarik kursi di sampingnya dan menyuruhku duduk tanpa membantah. Baconnya tercium sangat lezat dan perutku siap untuk diisi makanan selain selai kacang.

Kibum meletakkan piring nya di depanku. "Makan."

Aku mengambil sepotong bacon dan menggigitnya. Renyah dan sedikit berminyak seperti yang aku suka. Aku menghabiskannya dan Kibum menunjuk ke arah piring lagi. "Makan sepotong lagi."

Aku melawan rasa geliku melihat caranya memerintahku untuk makan. Apa yang terjadi dengannya? Aku mengambil sepotong bacon lagi dan menikmati rasanya.

"Apa rencanamu hari ini?" Kibum bertanya setelah aku menelan makananku.

Aku mengangkat bahu. "Aku belum tahu. Aku pikir aku akan mencari apartemen."

Otot leher Kibum mengencang dan tubuhnya kembali tegang. "Berhenti bicara tentang pindah dari sini, okay? Aku tidak ingin kau pergi dari sini sebelum orang tua kita datang. Kau perlu bicara dengan ayahmu sebelum kau pergi dan memulai hidupmu sendiri. Itu tidak aman. Kau masih terlalu muda."

Saat ini aku benar-benar tertawa. Dia bersikap tidak masuk akal. "Aku tidak terlalu muda. Ada apa denganmu dan usiaku? Usiaku 19 tahun. Aku gadis dewasa. Aku bisa hidup aman sendirian. Lagi pula, aku bisa membidik objek yang bergerak lebih baik dari polisi kebanyakan. Aku sangat hebat dengan pistol. Jadi, hentikan pembicaraan tentang tidak aman dan umurku yang terlalu muda."

Kibum menautkan alisnya. "Jadi kau benar-benar mempunyai pistol?"

Aku mengangguk.

"Aku pikir Micky hanya bersikap lucu. Kadang-kadang humornya suka melewati batas."

"Tidak. Aku menodongkan pistolku ke arahnya saat dia mengagetkan aku di malam pertama aku tiba di sini."

Kibum tertawa kecil dan bersandar di kursi nya sambil menyilangkan lengan di dada bidangnya. Aku memaksakan diri untuk tetap melihat ke arahnya dan tidak melihat ke bawah.

"Aku akan suka sekali menyaksikan itu."

Aku tidak mengatakan apa-apa. Itu adalah malam yang buruk buatku. Mengingat itu kembali bukanlah sesuatu yang kurencanakan untuk hari ini.

"Aku tidak ingin kau tinggal di sini hanya karena kau masih muda. Aku percaya kalau kau dapat menjaga dirimu sendiri, atau paling tidak itu seperti yang kau pikirkan. Aku ingin kau di sini karena.. aku suka kau di sini. Jangan pergi. Tunggulah sampai ayahmu datang. Sepertinya kalian berdua sudah lama tidak bertemu. Setelah itu kau bisa memutuskan apa pun yang akan kau lakukan. Untuk saat ini, bagaimana kalau kau naik ke atas dan menyusun barang-barangmu? Pikirkan berapa banyak uang yang dapat kau simpan selama kau di sini. Apabila kau keluar dari sini, kau akan memiliki tabungan yang cukup banyak."

Dia menginginkan aku untuk tinggal. Senyum konyol tersungging di bibirku tidak bisa ku tahan. Aku akan tinggal dan dia benar soal aku bisa menghemat uangku. Saat ayah datang aku akan bicara dengannya dan setelah itu aku akan pergi dari sini. Tidak ada alasan untuk pergi kalau Kibum ingin aku tinggal disini.

"Okay. Jika kau bersungguh-sungguh soal itu, terima kasih sebelumnya."

Kibum mengangguk dan memajukan tubuhnya ke depan dengan sikunya bertumpu di meja. Pandangan mata tajamnya tepat mengarah kepadaku. "Aku bersungguh-sungguh. Tapi hal itu juga berarti pertemanan di antara kita harus tetap berlanjut."

Dia benar, tentu saja. Kami tinggal bersama dan berhubungan yang lebih dari teman tentu akan menyulitkan. Lagi pula, begitu musim panas ini selesai dia akan pindah ke rumahnya yang lain. Aku tidak ingin patah hati karena itu.

"Setuju," Aku menjawabnya. Bahunya tetap tegang dan tubuhnya tidak juga mengendur.

"Selain itu, kau juga harus mulai makan makanan di rumah ini saat kau berada di sini."

Aku menggelengkan kepalaku. Tidak akan. Aku bukan penjilat.

"Kyuhyun, ini bukan sesuatu yang bisa dibantah. Aku serius soal ini. Makan makananku di sini."

Aku mendorong kursiku ke belakang dan berdiri. "Tidak. Aku akan membeli makananku sendiri dan memakannya. Aku bukan… Aku tidak seperti ayahku."

Kibum menggerutu dan dia mendorong kursi nya ke belakang dan berdiri. "Apa kau pikir aku tidak tahu itu? Kau tidur di kamar sempit di bawah tangga tanpa mengeluh. Kau merapikan rumahku. Bahkan kau makan dengan tidak layak. Aku benar-benar sadar kalau kau tidak sama dengan ayahmu. Kau adalah tamu di rumahku dan aku ingin kau makan makanan dari dapurku dan bersikap apa adanya."

Ini akan menjadi persoalan besar. "Aku akan meletakkan makananku di dapur ini dan memakannya di sini. Apa kau setuju?"

"Jika yang kau beli adalah roti dan selai kacang, tidak akan! Aku ingin kau makan dengan layak."

Aku mulai menggelengkan kepalaku saat Kibum meraih tanganku dan menggenggamnya. "Kyu, aku akan sangat senang kalau kau makan. Mrs. Song berbelanja seminggu sekali dan menyediakan stok makanan di sini beranggapan kalau aku akan menerima banyak tamu. Makanan di sini lebih dari cukup. Tolong. Makan. Makananku."

Aku menggigit bibir bawahku, menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi wajahnya yang penuh harap itu.

"Apa kau menertawakanku?" Ia bertanya dengan senyuman kecil di bibirnya.

"Yeah. Sedikit," Aku mengakui.

"Apa itu berarti kau akan makan makananku?"

Aku menghela napas, "hanya jika kau biarkan aku membayarmu per minggu."

Kibum mulai menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dan aku menarik tanganku dari genggamannya dan berjalan menjauh.

"Kau mau ke mana?" Kibum bertanya dari belakangku.

"Aku sudah selesai berbicara denganmu. Aku akan memakan makananmu jika aku membayarmu sesuai dengan harga makanan itu. Itu kesepakatan yang akan aku setujui. Jadi, terserah kau, setuju atau tidak."

Kibum menggeram, "Okay, baiklah. Kau boleh bayar."

Aku menoleh ke arahnya. "Aku akan merapikan barang-barangku. Lalu aku akan mandi di bath tub yang sangat besar itu, lalu.. aku tidak tahu lagi. Aku tidak punya rencana apa-apa sampai nanti malam."

Kibum terdiam. Lalu dia bertanya, "dengan siapa?"

"Luhan," jawabku singkat.

"Luhan? Cartgirl yang berkencan dengan Stephen?"

"Salah. Cartgirl yang dulu pernah berkencan dengan Stephen. Dia telah berubah lebih dewasa dan dia bisa melewatinya. Malam ini kami akan pergi honky tonky. Dan kami akan memillih pria keren berkemeja."

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku bergegas naik ke atas sambil berlari menaiki anak-anak tangga. Setelah samapi di kamar, aku menutup pintu, kututup mataku dan menghirup napas lega.

***KH***

Aku mungkin tidak punya baju untuk ke pesta-pesta Kibum tapi aku memiliki segalanya untuk pergi ke *honky-tonk. Sudah lama sekali semenjak terakhir kali aku memakai rok jeans biruku. Roknya lebih pendek dari yang kuingat tapi itu masih sesuai. Terutama dengan sepatu bootsku.

Kibum sudah pergi pagi tadi ketika aku sedang mandi dan dia belum kembali hingga saat ini. Aku bertanya-tanya apakah kamarku terlarang untuk temannya jika dia mengadakan pesta disini. Aku tidak suka pemikiran tentang orang asing yang berhubungan seks di ranjangku. Aku tidak suka pemikiran tentang orang selain aku berhubungan seks di ranjang tempat dimana aku tidur. Aku ingin bertanya tapi aku tidak yakin bagaimana menanyakan hal seperti ini.

Pergi sebelum Kibum kembali artinya aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Haruskah aku berencana mencuci spreiku saat aku pulang? Ide itu membuatku ngeri. Ketika kakiku menyentuh anak tangga terbawah, pintu depan mengayun terbuka dan Kibum berjalan masuk ke dalam. Ketika tatapannya menemukanku dia membeku dan perlahan menelusuri penampilanku. Aku tidak berpakaian untuk membuat teman-temannya terkesan tetapi ada sebuah kelompok lain di luar sana yang dimana mungkin aku bisa mendapatkan perhatian.

"Wow," dia bergumam dan menutup pintu di belakangnya.

Aku tidak bergerak. Aku mencoba untuk mencari tahu bagaimana cara menanyakan apakah ada orang asing berhubungan seks di ranjangku.

"Kau, uh, mengenakan baju itu untuk clubbing?" Tanyanya.

"Ini disebut honky-tonking. Aku sangat yakin itu adalah hal yang sangat berbeda," aku mengkoreksinya.

Kibum menjalarkan tangannya ke rambut pendeknya dan mengeluarkan desahan yang terdengar seperti diantara agak frustasi dan agak geli. Jika dia hendak mencemooh penampilanku aku mungkin akan melempar sepatu bootku padanya.

"Bisakah aku ikut dengan kalian malam ini? Aku tidak pernah ke honky-tonking sebelumnya."

Apa? Apa aku baru saja mendengarnya dengan benar?

"Kau ingin pergi bersama kami?" aku bertanya dalam kebingungan.

Kibum mengangguk dan matanya mengamati tubuhku sekali lagi. "Yeah, aku ingin ikut."

Kupikir dia bisa ikut juga. Jika kami berteman maka kami seharusnya bisa bergaul bersama.

"Oke. Jika kau ingin ikut. Kita harus berangkat dalam sepuluh menit. Luhan ingin aku menjemputnya."

"Aku akan siap dalam lima menit," katanya dan melompati dua anak tangga secara bersamaan.

Ini bukan sesuatu yang aku sangka. Terasa aneh.

***KH***

Tujuh menit kemudian, Kibum turun dari tangga dan memakai jeans yang nyaman dan kaus hitam ketat dengan tulisan Slacker Demon pada bagian depan yang dicetak dengan tulisan gotik berwarna putih. Emblem yang terdapat di pundaknya juga menghiasi kausnya. Cincin perak di ibu jarinya juga dikenakan di tangannya lagi dan untuk pertama kali nya sejak aku bertemu dengannya dia punya beberapa jenis anting bulat kecil di telinganya. Dia makin terlihat lebih seperti anak penyanyi rock kelas dunia dari sebelumnya. Bulu mata hitamnya membuat seolah dia memakai eyeliner secara permanen dan itu hanya semakin menambahkan efek yang ada.

Ketika mataku kembali ke wajahnya dia menjulurkan lidahnya untuk memperlihatkan sekilas barbel peraknya padaku dan kemudian berkedip. "Kupikir jika aku akan datang ke honky-tonk dengan pria yang memakai boots dan topi cowboy aku perlu tetap berada pada akarku. Rock and Roll ada di dalam darahku. Aku tidak bisa berpura pura menjadi orang lain."

Aku tertawa saat dia menyeringai padaku. "Kau akan terlihat tidak pada tempatnya malam ini sama seperti saat aku berada di pesta-pestamu. Ini akan menyenangkan. Ayo, rockstar spawn (anak rockstar)," aku menggoda dan menuju ke pintu.

Kibum membukakan pintu dan mundur sehingga aku bisa keluar. Pria ini bisa menjadi aneh ketika dia menginginkannya. "Karena temanmu ingin berangkat bersama kita, kenapa kita tidak memakai salah satu mobilku saja? Kita semua akan lebih nyaman disana dari pada dengan trukmu."

Aku berhenti dan menatapnya."Tapi kita semua akan muat jika memakai trukku."

Kibum menarik remote kecil dan salah satu pintu dari garasi untuk empat mobilnya terbuka. Sebuah Range Rover hitam dengan pelek metalik dan cat sempurna yang mengkilap ada di tempatnya. Aku tidak bisa tidak setuju dengannya. Kami akan lebih nyaman dengan mobil ini.

"Ini luar biasa," ujarku.

"Apakah itu berarti kita bisa memakai mobilku? Aku agak keberatan berbagi tempat duduk dengan Luhan. Gadis itu suka menyentuh sesuatu tanpa ijin." kata Rush.

Aku tersenyum, "Ya, dia memang seperti itu. Dia agak sedikit penggoda bukan?"

Kibum mengangkat salah satu alisnya. "Menggoda adalah ciri khasnya."

"Oke. Baiklah .Kita akan memakai mobil keren Kim Kibum yang garang jika dia memaksa."

Dia memberiku sebuah seringai congkak dan berjalan menuju garasi. Aku mengikutinya dari belakang.

Dia membukakan pintu untukku, perlakuan yang manis sehingga hal ini terasa seperti kencan. Aku tidak ingin dia mengacaukan pikiranku. Aku telah ditekankan olehnya bahwa kami hanya sebatas teman. Dia harus memainkan permainannya dengan benar. "Apakah kau selalu membukakan pintu mobil untuk semua temanmu?" tanyaku, berdiri disana menatapnya. Aku ingin dia melihat kekeliruan dari sikap sangat sopannya.

Senyum santainya hilang dan ekspresi serius mengambil alih wajahnya, "Tidak," jawabnya, melangkah kembali menuju pintu pengemudi. Aku merasa benar-benar seperti seorang yang brengsek. Seharusnya aku cukup mengatakan terima kasih saja dan mengabaikannya. Kenapa harus aku yang mengingatkannya pada aturannya sendiri?

Ketika kami berada di dalam Range Rover, Kibum menyalakan mesin dan mengemudi tanpa berkata apapun. Aku benci kesunyiannya. "Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud bersikap kasar"

Kibum menghembuskan nafas dan bahunya turun. Kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau benar. Aku hanya tidak punya teman wanita jadi aku tidak begitu pandai memilah apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak harus kulakukan."

"Jadi, kau membukakan pintu hanya untuk teman kencanmu? Itu hal yang sangat sopan yang kau lakukan. Ibumu telah membesarkanmu dengan baik."

Aku merasakan sengatan cemburu. Ada beberapa gadis di luar sana yang pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari Kibum. Gadis yang diinginkannya untuk diajak berkencan dan menjadi lebih dari sekedar teman.

"Sebenarnya, tidak aku tidak pernah melakukannya. Aku… kau… kau terlihat seperti gadis yang layak untuk dibukakan pintunya. Itu yang ada dalam pikiranku saat itu. Tapi aku mengerti apa maksudmu. Jika kita akan berteman aku harus membuat garis pembatas dan tetap berada di belakangnya."

Hatiku meluluh lagi.

"Terima kasih sudah membukakan pintunya untukku. Itu manis sekali."

Kibum mengendikkan bahunya dan tidak berkata apa apa lagi.

"Kita harus menjemput Luhan di klub. Dia akan berada di kantor belakang club house di tempat kursus golf. Dia harus bekerja hari ini. Dia akan mandi dan berpakaian disana."

Kibum berbelok menuju ke country club. "Bagaimana kau dan Luhan bisa berteman?"

"Kami bekerja bersama suatu hari. Kupikir kami berdua sedang butuh teman. Dia ceria dan berjiwa bebas. Segala sesuatu yang tidak aku miliki."

Kibum tertawa. "Kau mengatakannya seolah itu adalah hal yang buruk. Kau tidak akan mau menjadi seperti Luhan. Percayalah padaku."

Dia benar. Aku tidak ingin menjadi seperti Luhan tapi dia begitu menyenangkan untuk diajak bergaul.

Aku duduk diam sementara Kibum menyibukkan diri dengan sounds system yang terlihat mahal dan rumit. Kami melalui perjalanan singkat dari rumahnya ke country club. "Lips of an Angel" sebuah lagu milik Hinder mulai mengalun dan itu membuatku tersenyum. Aku hampir menduga akan mendengar lagu-lagu Slacker Demon.

Ketika Range Rover berhenti di samping kantor aku membuka pintu dan melangkah keluar. Luhan tidak akan mencari mobil ini. Dia mencari trukku.

Pintu kantor terbuka dan Luhan berjalan keluar mengenakan celana pendek kulit berwarna merah, tank top cut off warna putih, dan boots kulit selutut berwarna putih.

"Apa yang kau lakukan dengan salah satu mobil Kibum?" Tanyanya, tersenyum lebar.

"Dia akan pergi bersama kita. Kibum ingin pergi ke honky tonky juga. Jadi…"Aku berhenti dan melihat ke Range Rover.

"Hal ini benar benar akan menghambat dirimu untuk mendapatkan seorang pria. Aku cuma mengingatkan," pungkas Luhan saat dia menuruni tangga dan melihat cepat pada penampilanku. "Atau tidak. Kau terlihat seksi. Maksudku, aku tahu kau mengagumkan tapi kau terlihat sangat seksi dengan pakaian ini. Aku ingin punya boots asli seorang cowgirl. Dimana kau membeli nya?"

Pujian nya manis. Aku sudah begitu lama tidak punya teman wanita. Ketika Kuixian meninggal teman teman perempuan berangsur-angsur hilang dari hidupku. Seolah mereka tidak bisa berada didekatku tanpa mengenangnya. Max menjadi satu-satunya temanku.

"Terimakasih, dan boots ini, aku mendapatkannya saat Natal dua tahun lalu dari ibuku. Boots ini miliknya. Aku menyukainya sejak dia membelinya dan setelah dia jatuh, setelah… dia jatuh sakit... dia memberikannya padaku."

Luhan mengerutkan dahi, "Ibumu sakit?"

Aku sedang tidak ingin menyulut kesedihan malam ini. Aku mengangguk dan memaksakan tersenyum cerah. "Yeah. Tapi itu kisah yang lain. Mari kita temukan para koboy kita."

Luhan balas tersenyum dan membuka pintu belakang Range Rover disisiku. "Aku akan membiarkanmu berada di depan karena aku punya firasat kalau pengemudinya menginginkan seperti itu."

Aku tidak punya waktu untuk menimpalinya sebelum Luhan melompat naik ke Range Rover dan kemudian langsung menutup pintu. Aku naik ke dalam mobil dan tersenyum pada Kibum yang sedang menatapku. "Waktunya pergi untuk mendapatkan musik country." kataku padanya.

***TBC***

*Hongky-Tonk: atau disebut honkatonk, honkey-tonk, atau tonk adalah sejenis bar yang menyediakan hiburan musik (biasanya musik country) untuk para pengunjungnya. Bar-bar semacam ini mudah ditemukan di derah selatan dan barat daya Amerika Serikat