Yak, telah apdet! ASAP! Tidak kilat! –digorok massal-

Yosh, 'Bales Ripyu' Time~~ :

Rinha sii newbie : Oush! Thanks for ripyu~ Kanji dai? Pokoknya kayak orang telentang deh! *plak* Yak, apdetto~ ^^b

vhy otome : Thanks for repyu~ Yak, masih panjang inih! Oke, apdetto shimashita~ ^^

Youichi Nanase : Oh yah? Masyak? *plaak* Olrait! Apudetto desu yoo~ ^^

Angel's Apple : Dungaren ripyu-mu gak panjang? *plak* Permaisurinya kan dua, yangs. Jadi suka-suka babenya dong mau diangkat jadi putra mahkota sapah? *ngeles* Gak sih, sebenarnya putra mahkotanya Akaba-pyon, tapi disini Hiruma-centric, jadi~ *ngeles maneh* Yak, thanks for repyu yah. *peluk*

Crystall-Green : Thanks for da repyu~ Yosh, apdet!

RisaLoveHiru : Thanks for the review~ Iya tuh, terpaksa. Gara-gara babe jelek itu… *bunuhed* Yak, apudetto~ ^^

chara-chii12 : Iya… jangan-jangan… Akaba menderita Atresia Bilieri? *plak* Yak, apudetto~

Youichi Hikari : Yak, apdet~ kalau ganguro keterangannya bias dibaca di chap sebelumnya, kalau Yankee itu semacam preman. :)

Azalea Yukiko : Apudetto~ Iyah, sepuluh! HP-nya aja banyaaak…

Fun-Ny l0pe HiruMamo : Yak, apdet! Kilat gak yah?o.O

Micon : Ah, hal itu nanti akan dijelaskan. Santai saja lah~ *plak* Yak, apudetto!

Arisu Hiromi-Saekawa : Fufufu… saya akan tetap nyolok mata kamu! UOH! *plak* Yak, apdet~

Yang Lagi nagih Utang Pulsa Akaba : Fufufu…benar… gara-gara pidio nista itu pikiran Sena yang inosen menjadi omes… *buak* Yak, apdet~

Naara Akira : Kemana yah Yamato? Lagi hiatus kalik. *buak* Yossha~ Apdett!

Shield Via Youichi : Fave? Yaa~ Makasih~ *peyuk* yak, apdet!

Dhiasan : Apdett~

The Lord of Lucifer : Yak, apdet shimashita~

Olrait, untuk episot ini juga diharapkan ripyunya.

Warning : OOC-ness maybe.

Ugly Doll ™ Present

An Eyeshield 21 Fanfiction

T-rated

Fantasy/Romance

Diamond of Destruction

Sixth Chapter

Rain

Inagaki-Murata ©

Phantomhive ©

-Normal POV-

Mata pedang pisau tersebut hanya berjarak dua senti dari punggung Mamori yang tertutupi oleh blazer hijau. Hiruma hanya tinggal memberi sedikit gaya pada pisau itu dan benda tajam jahanam tersebut akan menancap dengan sukses pada punggung mulus Mamori. Namun tiba-tiba sebuah bayangan mengerikan terbersit di pikiran Hiruma. Sebuah bayangan yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya, tercetus begitu saja. Bayangan itu memperlihatkan Mamori yang tenggelam dalam lautan darah, terlentang tak berdaya dengan kulit yang sepucat bulan dan sedingin es. Ekspresinya kosong, datar. Hiruma tersentak. Tangannya berhenti bergerak. Kelebatan bayangan menghantuinya lagi, kali ini memperlihatkan Mamori yang sedang tertawa-tawa. Mata birunya berputar jengkel, namun tetap terlihat cantik. Lalu tiba-tiba Mamori meneteskan air matanya didalam pelukannya, menangis untukunya…

Tenggorokan Hiruma tercekat. Ditangannya saat ini terdapat dua pilihan, tidak atau iya. Jika tidak, maka seluruh dunia akan memihaknya, mengelu-elukannya karena telah menyelamatkan harapan seluruh dunia. Namun jika iya, dia menghancurkan harapan seluruh dunia, tapi memberi sebuah kemenangan manis pada keluarganya…

"PRAAKK"

Tiba-tiba terdengar suara pisau terjatuh, memecah hening yang tercipta pada dapur luas itu. Seketika itu juga dinding tebal yang diciptakan Hiruma luluh lantah. Ego-nya mengalahkan semua perintah yang ditimpakan secara sepihak padanya. Sedetik kemudian, tangan panjang Hiruma telah meraih Mamori, memeluknya dari belakang. Dia menenggelamkan kepalanya pada pundak Mamori, menghirup bau vanilla yang berhamburan dari lehernya yang jenjang. Matanya menghangat menyadari Mamori masih nyata, masih terjangkau, dan betapa dirinya sangat sangat menyayanginya…

Mamori tersentak saat Hiruma tiba-tiba menyandarkan tubuhnya yang kekar pada tubuh mungilnya. Centong sayur yang dia pakai untuk mengaduk kare terjatuh ke lantai, menimbulkan debuman yang mengganggu. Dia tak bisa bergerak karena Hiruma telah memeluknya erat sekali. Jantung Mamori berakselerasi dengan sangat cepat. Dia bisa merasakan betapa rapuhnya pemuda ini, yang bergantung pada tubuh lemahnya padahal dia seorang atlet Amefuto. Tenggorokan Mamori tidak bisa menghasilkan suara apapun. Pita suaranya telah tersumbat karena Hiruma. Tangannya yang membeku kemudian bergerak kearah pundak, menggenggam tangan Hiruma yang ada disana. Tangan Hiruma dingin dan kasar, namun tekstur kulit Hiruma membuat Mamori nyaman. Sesaat kemudian, dia merasakan rasa dingin pada pundaknya, rasa dingin yang ditimbulkan oleh air.

"H-Hiruma-kun?" ujar Mamori lemah, disusul dengusan dari bibir Hiruma. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya hati-hati. Hiruma tidak menjawab pertanyaannya yang ini. Dia malah mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya lebih dalam ke pundak Mamori.

"Biarkan aku begini, Anezaki. Untuk saat ini saja…" lirihnya lemah, yang disusul oleh senyuman tipis dari bibir Mamori.

"Baiklah."

~~Phantomhive ©~~

Air menetes dengan kecepatan yang dapat diacungi dua jempol. Derasnya hujan sudah cukup membuat badan menggigil, namun sepertinya alam tidak puas kalau hanya menumpahkan air dari kapas-kapas berterbangan berwarna kelabu itu. Angin yang kencang juga berhembus, menambah kecepatan air turun dan menambah efek derasnya hujan yang otomatis menurunkan suhu udara. Langit kelabu kehitaman, tanpa cahaya sedikitpun. Titik silver juga tak terlihat. Tak ada pemandangan yang menarik dari malam hari yang berhujan seperti ini, tapi gadis berambut auburn itu mengamati pemandangan jendela dengan pandangan mata yang terlihat jelas bahwa dia sedang melamun. Jendela besarnya yang bertirai lavender terbuka lebar, membuat beberapa tetes air hujan berhasil menembus kamarnya.

"Haaah…" gadis itu menghembuskan nafasnya keras-keras, kemudian memutar bola matanya jengkel. Teks buku matematika yang tergeletak didepannya sudah tidak menyita perhatiannya. Kini mata cantik gadis itu tertuju pada HP-nya, yang memperlihatkan fotonya bersama seorang pemuda. Gadis didalam foto tersebut terlihat sangat bahagia, dengan wajah cantiknya dia tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi-giginya yang rapi. Sedangkan pemuda yang disebelahnya hanya tersenyum hambar yang terkesan dipaksakan. Mata hijaunya memandang kamera malas. Dibelakang dua orang tersebut, ada sebuah menara yang terjulang tinggi, Tokyo Tower.

Gadis berambut auburn itu mengambil HP-nya dan mengamati wajah yang diabadikan didalam foto itu. Matanya terfokus pada pemuda berambut keemasan dengan mata hijaunya yang indah. Kemudian, tanpa dia sadari mungkin, bibirnya tertekuk keatas membentuk seutas senyum yang sangat manis. Kemudian pikiran gadis itu terbawa jauh kedalam mozaik-mozaik memorinya, yang tergores sangat dalam menggunakan tinta berwarna emas. Ingatan itu…

Bahwa tangan jenjang pemuda itu telah memeluknya, bahwa kepala pemuda itu telah bersandar pada bahunya…

Dia masih bisa mengingat-ingat detail kejadian itu sampai yang ter-renik sekalipun. Dia masih ingat bagaimana tangan Hiruma merengkuhnya, memeluknya dengan sangat erat. Dia masih bisa merasakan hembusan nafas Hiruma yang tak menentu pada lehernya. Dia bisa merasakan tangannya yang keras dan kekar, namun tekstur kulitnya sangat lembut dan memberikan kenyamanan tersendiri baginya. Masih terpatri dengan jelas bagaimana Hiruma membisikkan namanya tepat ditelinganya, dengan bisikan yang sanggup membuat jantungnya berpacu cepat. Dihidungnya, masih membekas aroma tubuh Hiruma. Pada kulit lehernya masih tersisa setitik kehangatan yang ditimbulkan oleh pemuda pirang tersebut.

Mamori kembali menghela nafas tak lega. Matanya kini berpindah pada jendela besar yang terbuka lebar. Dia membiarkan saja jendelanya terbuka lebar, menikmati udara dingin yang menyeruak masuk memenuhi rongga-rongganya. 'Seandainya saja aku bisa berada disana lebih lama…'

"Mamori! Kau sedang apa?" tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara yang sangat dikenalnya. Lehernya segera berbalik mencari sumber suara. Pemuda itu ternyata telah berdiri dengan senyum lebar dipintu kamarnya yang menjeblak. Yamato Takeru, kakak Mamori sedang berdiri mengumbar senyum manisnya sambil melipat tangannya.

"E-eeeh… Kakak. Ada apa kakak kemari? Ada masalah?" tanyanya gelagapan. Dia sedang melamun dari tadi. Apakah kakaknya yang tampan ini menyadari kalau sedari tadi dia tidak belajar malah melamunkan Hiruma, orang yang… err… dia sukai?

"Aku sudah disini dari tadi dan kau melamun terus sambil memandangi HP-mu. Kenapa? Sedang marahan sama pacarmu?" ujar Takeru to the point. Mamori tersentak mendengar pertanyaan kakaknya. Jadi, dari tadi dia ada disini? Dia tersenyum kecut pada Takeru dan mengutuki dirinya sendiri didalam hati.

"A-aku tidak punya pacar, kak." ujarnya terbata. Mendengar adiknya berkilah, Takeru berjalan mendekati meja belajar adiknya. Masih dengan senyum maut terpatri pada wajah tampannya.

"Ih, Mamori udah pintar bohong. Tuh, di HP-mu ada fotonya…" kata Takeru, yang kemudian merebut HP Mamori dengan paksa. Melihat wallpaper HP Mamori, senyum curiga kembali tertera lebar pada mulutnya, menurunkan derajat ketampanannya sedikit. Mamori menangkap wajah kakaknya yang bertransformasi menjadi wajah mesum skeptis, dan pada perutnya dia merasakan keinginan ganjil untuk marah bercampur tawa.

"Kakak, sudah ah. Wajah kakak jelek banget. Kelihatan mesumnya!" ujar Mamori keras-keras. Takeru menaikkan satu alisnya, dan mengernyit jengkel. Mamori tertawa. Jurus terampuh menghadapi kakak yang merepotkan seperti Yamato Takeru adalah dengan membuka aibnya. Buktinya, Takeru langsung bungkam. Tak lagi menyindiri Mamori yang macam-macam.

"S-sudah deh. Sana minta maaf sama Hiruma kalau kamu memang punya masalah sama dia. Jangan lupa belajar! Awas kalau aku menemukanmu sedang bengong memikirkan Hiruma lagi…" ujarnya sambil mengacak rambut Mamori sambil tertawa ringan.

"Iya deh kak. Aku janji." jawab Mamori sambil menjulurkan lidahnya. Takeru tersenyum, kemudian meninggalkan kamar adiknya. Melihat sang kakak sudah menutup pintu kamarnya, Mamori kembali bergumul dengan buku teks matematikanya, mempelajari dengan sungguh-sungguh rumus maut yang tertera disana.

"Biarkan aku begini Anezaki. Untuk saat ini saja…"

"Kyaa! Apaan sih aku ini?" ujarnya histeris sambil mengacak rambutnya, sebal. 'Duuh… ini semua gara-gara Hiruma-kun…'

~~Phantomhive ©~~

Pemuda berambut keemasan itu kembali terduduk lesu di sofa santainya. Dia sudah mengganti pakaiannya dari piyama hitam kotak-kotak menjadi kaus hitam polos dengan celana jeans butut. Suasana gelap lagi-lagi menghantui rumah tersebut. Yang menjadi satu-satunya penerangan bagi rumah ini adalah api jingga yang berkobar-kobar pada perapian. Hiruma memandang keluar jendela, dimana bulir-bulir airnya menetes dengan sangat cepat. Pikirannya melayang, memaksanya memasang serpihan kaca berupa memori yang tersimpan dalam lokus-lokus otak jenius Hiruma. Dan saat otaknya menemukannya, dia memasang semua serpihan tersebut satu-persatu hingga membentuk sebuah lembaran kaca tipis.

"Baiklah…"

Suaranya yang menyenangkan, aroma tubuhnya yang manis, lekuk tubuhnya yang indah, serta sosoknya yang rapuh. Anezaki Mamori-lah yang kini menyita semua perhatiannya. Dia tak lagi bisa berpikir jernih bila berhadapan dengan gadis itu. Well, mungkin baru akhir-akhir ini setelah dia menyadari ternyata dia menyukainya padahal dia harus melakukan pembunuhan keji padanya. Matanya yang sehijau buah badam memandang penuh arti pada lukisan yang tergantung di ruangan santai itu. Lukisan Hiruma Elise, ibunya. Lama sekali dia menatap lukisan ibunya, berpikir mungkin. Kemudian dengan jengkelnya dia mengepalkan tangannya dan memukul kakinya sendiri.

"Kenapa harus aku? Kenapa selalu aku?" lirihnya frustasi. Tangannya kini mengacak-acak rambut keemasannya yang indah. Nafasnya memburu, detak jantungnya berpacu saking marahnya pada dirinya sendiri. Dia yakin, sangat-sangat yakin kalau pisau itu bisa menembus kulit Anezaki. Tapi kenyataannya? Dia bahkan tak sanggup menancapkannya.

Matanya kemudian menangkap sebuah pigura foto kecil yang terletak dimeja dekat sofa santainya. Disana terabadikan sosok laki-laki berambut merah yang sedang merangkul seorang laki-laki berambut hitam. Mata mereka berkilat penuh kebahagiaan. Fotonya bersama Hayato, kakak beda ibu yang terpaut sepuluh tahun dengannya. Sejak umur delapan tahun, Hayato sudah dipaksa menjadi mata-mata kerajaan, bekerja untuk ayah mereka. Pernah, sejauh yang bisa diingat oleh Hiruma, dia berkata dia muak atas semua ini. Dia ingin bebas, katanya. Namun nyatanya toh, Hayato malah mengekangnya sekarang. Matanya berkilat benci pada sosok berambut dan bermata merah itu, kemudian dilemparkannya pigura foto tersebut hingga pecah berkeping-keping.

Lagi-lagi, dia mengacak rambutnya frustasi. Matanya memandang nanar pada hujan yang sepertinya takkan pernah berhenti. Lalu, tanpa dia sadari, instingnya menggerakkan kakiknya menuju balkon. Tangannya yang panjang dan jenjang menyibakkan tirai yang setengah menutupi jendela besarnya menjadi penghalang antara ruang santai dengan balkon. Setelah tirai tersingkap dan jendela berhasil dibuka, dia melangkahkan kakinya menuju balkon yang tidak terlindungi oleh apapun. Hasilnya, tubuh jangkungnya yang terbalut pakaian hitam basah karena tertimpa air-air yang menetes.

Tanpa merasa kedinginan sedikitpun, iblis ini membuka kaosnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang berotot. Dia menghembuskan nafas lalu menutup matanya. Tangannya yang tadi dia gunakan untuk membuka jendela kini sudah mencengkeram pagar pembatas balkon. 'Ini yang terbaik…' batinnya sembari menghembuskan nafas keras-keras.

"Kalau bukan Anezaki yang mati, biarlah aku saja yang mati. Dengan begini, bebanku akan hilang sama sekali…" ujarnya pelan pada dirinya sendiri. Matanya menatap sedih pada kota Deimon yang tertutupi oleh awan kelabu serta tetesan air hujan. Kemudian, tanpa ada keraguan sedikitpun, dia melepaskan pegangannya pada pagar balkon, terjun bebas dari lantai empat menuju lantai satu yang tingginya lebih dari dua puluh meter.

Saat itulah, sebuah tangan yang besar mencengkeram lengan Hiruma, menariknya keatas. Kontan Hiruma terkaget karena tidak ada orang lain selain dirinya dirumah besar ini. Kepalanya langsung menoleh keatas, mencari orang yang menyelamatkan hidupnya. Atau mungkin yang menghalangi kematiannya.

Hiruma tertegun melihat orang itu. Mata merahnya mengkilat didalam derasnya hujan. Dia terlihat menggeretakkan gigi-giginya, berusaha menahan tubuh Hiruma agar tidak jatuh. Rambut merahnya yang biasanya rapi menjadi berantakan tertiup angin.

"Apa kau bodoh, hah? Psikopat gila!" teriaknya sambil menarik Hiruma keatas. Hiruma hanya bisa pasrah saat tangan besar kakaknya menariknya.

Setelah kakinya menyentuh lantai, Hiruma terduduk lemas. Nafasnya kembali menggila, tempo dan ritmenya berantakan. Sedangkan Akaba hanya bisa memandang adiknya benci. Tangannya yang besar lalu mencengkeram lengan Hiruma, memaksa Hiruma berdiri kembali. Lalu tanpa diduga, telapak tangannya mendarat dengan liar pada pipi Hiruma, menimbulkan bercak kemerahan pada pipinya.

"Dasar setengah manusia kotor tak punya otak! Tak berguna!" dampratnya kasar. Hiruma hanya bisa memegangi pipinya yang tentu saja sakit karena tamparan keras dari kakaknya. Otaknya masih frustasi dan belum sanggup mencerna cercaan dari kakaknya. Melihat adiknya hanya terdiam tak berdaya, Akaba kembali memandang Hiruma dengan tatapan jijik sekaligus benci.

"Apa yang ada dipikiranmu, hah? Kau mau bunuh diri karena tak bisa menyelesaikan misi? Bah. Memang otakmu sudah terkontaminasi oleh si Anezaki itu."cibirnya ganas. Hiruma hanya menghela nafas menanggapi hinaan kakaknya. Kemudian dia memandang mata merah kakaknya dengan pandangan yang tak dapat diartikan.

"Kak. Mungkin kau sudah tahu, tapi aku… tak bisa membunuhnya." akunya, membuat Akaba mendengus kesal.

"Sudah kuduga. Dasar setengah manusia menjijikkan. Itulah akibatnya bila kau tak mendengar kakakmu. Ayah sangat marah atas apa yang kau lakukan. Kau memeluknya alih-alih membunuhnya? Dasar kotor. Sampah. Sama seperti malaikat-malaikat egois yang menjijikkan itu. Asal kau tahu saja, kalau kita gagal membunuhnya tahun ini, kita harus menunggu sepuluh ribu tahun lagi untuk bebas!" Sempotnya, membuat hujan tambahan. Hiruma mengenyit mendapati kakaknya yang marah-marah. Dia menghela nafas lagi.

"Oke. Aku mengerti. Aku memang sampah, kotor dan sebagainya, tapi jangan pernah kau sebut Anezaki sampah dan menjijikkan." Ujarnya, sama marahnya dengan Akaba.

"Huh. Kau sangat bodoh, Youichi. Seperti kata ibuku, kau mengotori sejarah keluarga Hiruma saja." Dengusnya, masih menatap mata hijau Hiruma dengan pandangan mata menghina.

"Tutup mulut sialanmu itu, mata merah sialan. Kau sudah tahu aku tak bisa membunuh Anezaki kan? Nah sekarang kau pergi dari sini. Makan masakan ibumu saja sana. Aku capek. Aku mau tidur." Ujarnya malas sembari menguap lebar. Hiruma tak mau repot-repot menunggu jawaban dari kakaknya. Kakinya yang basah kuyup melewati kakaknya begitu saja. Melihat Hiruma melewatinya begitu saja, tanpa salam atau apapun, gejolak kemarahan dalam perut Akaba kembali bergolak. Dengan cepat dia mencegah Hiruma meninggalkan balkon begitu saja. Urusannya dengan pemuda pirang ini belum selesai.

"Aku belum selesai. Aku tidak akan datang hanya untuk hal remeh seperti ini, Youichi. Aku masih punya urusan lain denganmu." Hiruma lalu mendengus pelan. Dia membalikkan badannya, kembali memandang benci pada kakaknya.

"Urusan apa lagi sekarang? Akhir-akhir ini kau sering sekali mengunjungiku. Kau kangen padaku?" seringainya, menggoda kakaknya yang sangat-sangat cerewet. Akaba mendengus.

"Aku hanya mau bilang padamu kalau aku sudah diizinkan oleh ayah untuk membunuh gadis itu. Jika kau tak bisa membunuhnya, biar aku saja yang membunuhnya." Katanya tenang, menyunggingkan senyumnya yang paling mengerikan. Melihat kakaknya tersenyum maut, Hiruma hanya bisa menelan ludah sambil mengernyit jijik. Sesaat, dia tak bisa mencerna perkataan kakaknya karena senyum menyilaukan itu. Tapi setelah otaknya sanggup mencerna perkataan kakaknya dengan baik, kernyitannya berubah menjadi ekspresi mengerikan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

"Apa? Kau mau membunuh Anezaki dengan tanganmu? Kau mau MEMBUNUH Anezaki dengan tanganmu? KAU MAU MEMBUNUH ANEZAKI DENGAN TANGANMU?" ujarnya kaget, memberi penekanan pada setiap frase. Matanya membelalak kaget dan marah. Darahnya naik ke ubun-ubun mendengar ucapan kakaknya yang seolah tak bersalah padahal dia akan membunuh orang yang disukai oleh adiknya. Akaba hanya bisa tersenyum menanggapi adiknya meledak.

"J-jangan senyum-senyum begitu kau sialan! A-aku takkan membiarkanmu membunuh Anezaki! Pokoknya tidak boleh! Kau tak boleh menyentuhnya seujung jaripun! Akan kubunuh kau kalau kau berani menyentuhnya!" teriaknya dipenuhi oleh amarah yang meledak-ledak. Akaba mendengus lagi.

"Bah. Setengah malaikat lemah menjijikkan seperti Anezaki saja kau tak sanggup membunuh. Apalagi aku, kakakmu ini. Huh. Menggelikan…" cibirnya, menghina Hiruma yang sudah jelas marahnya. Hiruma menggeretakkan giginya, matanya mulai berubah menjadi warna merah darah. Taringnya mucul dan kukunya memanjang. Dia menggeram.

"Kau kira aku tak bisa membunuhmu, hah?" ujarnya yang terdengar seperti menggeram. Akaba hanya menyeringai remeh pada Hiruma.

"Menggelikan. Hanya karena seorang wanita saja kau bisa menggeram begini. Apa kau mencintainya, Youichi?" cibirnya.

"Kalau iya, memangnya kenapa?" jawab Hiruma berang. Akaba, yang mendengar jawaban nista dari sang adik malah tambah menyeringai. Dia tertawa tertahan, mengejek.

"Fuuh. Kau benar-benar menistakan keluarga Hiruma, Youichi. Kurasa darah rendahku kambuh gara-gara dirimu." Seringainya, tawanya masih tertahan dimulutnya. Namun Hiruma tidak menganggap semua ini hanya candaan dari sang kakak. Bagaimanapun juga, kalau benar ini adalah suatu lelucon, ini sama sekali tidak lucu.

"Jangan main-main denganku, mata merah sialan. Tutup mulut sialanmu itu kalau kau tak mau kehilangan satu tanganmu." Geramnya.

"Silahkan. Silahkan. Kalau kau memang bisa membunuhku, Youichi. Tapi kurasa aku tidak sedang ingin membunuh orang. Apalagi dia adalah adikku sendiri." Ujarnya santai. Tapi matanya sungguh memutar balikkan apa yang dikatakannya.

"Kau pengecut. Kalau kau memang punya urusan yang lebih penting daripada ini, katakan sekarang juga." Katanya, masih terlihat sangat marah.

"Begini, aku sudah punya kesepakatan dengan ayah kalau aku akan membunuh Anezaki—"

"SUDAH KUBILANG JANGAN BUNUH ANEZAKI!" kata-kata Akaba terpotong oleh teriakan Hiruma. Akaba, yang tidak suka perkataannya dipotong juga ikut-ikutan naik darah.

"AKU BELUM SELESAI BICARA, YOUICHI!" balasnya, ikut berteriak. Teriakkannya bahkan sanggup menenggelamkan suara hujan yang sedari tadi melatar belakangi pembicaraan empat mata mereka. Hening sejenak, kemudian terjadi perubahan pada fisik Hiruma. Hiruma, yang sedari tadi menggeram marah menjadi bungkam. Mata merahnya perlahan berubah menjadi hijau badam kembali.

"Apa? Cepat katakan sekarang juga. Aku sudah terlalu capek hari ini." Ujar Hiruma lesu.

"Seperti yang kubilang, aku ditugaskan oleh ayah untuk menggantikanmu membunuh Anezaki. Tapi, kurasa kau takkan bisa terima dan malah membangkang. Jadi, kami putuskan untuk menculiknya dan memisahkan jiwanya dengan tubuhnya. Nah, jiwanya itulah yang akan kami bunuh. Jiwanya-lah yang akan ditumbalkan. Toh dia masih tetap akan hidup dan jiwanya itulah yang berperan banyak dalam pertempuran kita berabad-abad lalu." Ujarnya tenang. Hiruma mendengus.

"Lalu? Hanya itu?"

"Tentu saja tidak." Kata Akaba, membuat Hiruma menaikkan sebelah alisnya.

"Kurasa… kau bisa menculiknya dan membawanya ke Neraka, kan?"

~~TEBECE~~

Author's Note : Aaah… Jerman…Dx Aaah… Spanyol… Dx… Aaaah… Korsel…Dx….Ah… Portugal…. Dx … Ah…Indonesia…*plakdhuarprangduak* Hah~ kapan yah Indonesia bisa masuk PD (piala dunia) ? o.O? *tabok, OOT ent curcol*

Penting Brazil :p *duak*

Yak, daripada fic saia tambah GJ, silakan ripyu saja~ XDD