Just Be Mine

Warning: YAOI, vulgar words, typo, dll

Rating: M ples ples :v

CHANBAEK AREA ONLY!

DON'T LIKE? DON'T READ

A/N: Sorry for late update. You can read the previous chapter if you forget the story ^^

.

.

.

Pagi ini terasa sangat cerah. Begitu pula perasaan Baekhyun. Ketika cahaya matahari menyapa kulitnya, Baekhyun bangun dari tidur nyenyaknya. Hal pertama yang ia lihat setelah membuka mata adalah wajah tampan seorang lelaki yang dicintainya.

Baekhyun tersenyum manis, perlahan ia memutar tubuhnya hingga wajahnya berhadapan dengan wajah Chanyeol yang sedang tertidur. Tangan ramping Baekhyun merayap ke pipi lelaki itu. Ibu jarinya mengelus pahatan sempurna ciptaan Tuhan. Astaga mengapa bisa Chanyeol sesempurna ini di matanya?

Baekhyun mengelus turun ke rahang tegas Chanyeol, merasakan bagaimana kasarnya kulit lelaki namun terasa jantan. Hidung mancungnya, dan bibir tebalnya yang indah. Sekarang ibu jarinya sudah menyentuh bibir tebal yang sedikit terbuka itu. Bibir yang selalu menjadi candu untuk Baekhyun, memberikan kenikmatan pada seluruh syaraf selnya. Bibir yang sangat ahli mencumbunya, seperti sudah tahu dimana saja titik kelemahannya. Bibir yang selalu mengucap kata manis padanya membuat hatinya meleleh.

Karena tak tahan lagi dan merasa ada magnet yang menariknya, Baekhyun pun memajukan wajahnya hingga bibir tipisnya bertemu dengan bibir tebal Chanyeol. Ia melumat dan menghisap bibir itu pelan, tangannya mengelus-elus sisi wajah Chanyeol. Baekhyun melakukannya dengan lembut dan perlahan dengan maksud agar Chanyeol tak terbangun.

Namun sepertinya siasatnya tak berhasil. Perlahan tangan Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun yang berada di pipinya. Matanya terbuka lebar, menatap mata Baekhyun yang melongo dengan sangat dekat dari wajahnya. Bibir mereka masih menempel hanya saja Baekhyun sudah berhenti melumat.

"Ah.. Chanyeollie.. kenapa bangun?"

Baekhyun berkata dengan nada polosnya, matanya mengerjab-ngerjab imut. Pipinya sedikit memerah karena ditatap sedemikian tajamnya oleh kekasihnya.

"Kau ini, Baek. Nakal sekali, mencium orang yang sedang tidur. Apakah kau sedang melakukan pelecehan terhadapku?" ujar Chanyeol dengan nada bercanda.

"Yak! Aku hanya sedang mengagumi wajahmu kenapa jadi dibilang pelecehan sih? Isssh"

Baekhyun mempout kan bibirnya, memandang kesal kearah Chanyeol dengan wajah merajuknya yang menggemaskan. Chanyeol pun yang melihat wajah kekasihnya yang ia tunggu-tunggu pun tertawa riang. Ia mencubiti pipi gembil Baekhyun sambil menggesekan hidung mereka berdua.

"Aku bercanda sayangkuuuuu."

Kini Chanyeol mulai beranjak dari tidurnya lalu ia beralih menindih tubuh mungil Baekhyun. Tangan Chanyeol dengan sigap menggenggam pergelangan tangan Baekhyun dan membawanya ke samping kepala Baekhyun. Baekhyun pun tertegun, lalu matanya melirik ke depan lebih tepatnya area selangkangan Chanyeol, dan melihat sudah terbentuk tenda yang mencuat disana.

"Jadi daritadi itumu bangun huh?"

"Hm." Chanyeol menjawab sekenanya lalu menunduk untuk menciumi wajah cantik Baekhyun.

"Pagi-pagi adalah saat rawan dimana penis lelaki akan bangun. Ditambah seorang makhluk cantik yang tidur disampingnya lalu menciumnya, dan menggodanya dengan wajahnya yang menggemaskan. Membuatnya semakin tegang. Baby, bagaimana bila aku saja yang melecehkanmu?" Chanyeol menjilat bibirnya, ekspresinya kini telah berubah menjadi seperti serigala tampan yang akan menyantap sajiannya.

"Ishh dasar mesuuum!" Baekhyun menahan wajah Chanyeol yang akan menciumnya kembali.

Chanyeol justru beralih menciumi telapak tangan Baekhyun dan menjilatinya.

"Siapa yang lebih mesum disini? Aku, yang ingin bercinta dengan kekasih sendiri, atau kau, model majalah porno? Hmm?"

Baekhyun bungkam dibuatnya. Tangannya melemas, ekspresinya juga berubah. Mata Baekhyun menyusut sayu, dan mata beningnya mulai berkaca-kaca. Bibir bawahnya ia cebikkan, benar-benar seperti puppy yang hendak dibuang majikannya.

"Jadi Chanyeol tidak suka denganku? Itu hanya pekerjaan yang sudah membesarkanku. Lagipula aku ini seorang professional, tidak pernah terlibat hubungan apapun diluar pekerjaan. Aku hanya mencintai Chanyeol, aku hanya menyerahkan hati dan tubuhku ke Chanyeol! Huweeeee…"

Baekhyun mulai menangis, wajahnya memerah dan tiba-tiba hidungnya mengeluarkan ingus. Chanyeol sendiri pun heran dan terkejut, tiba-tiba Baekhyun nya jadi sesensitif ini. Chanyeol pun merasa mood bercintanya sudah rusak karena melihat Baekhyun menangis.

Chanyeol menangkup wajah berisi Baekhyun yang basah, ia memegangnya dengan lembut dan menyuruh Baekhyun menatap matanya.

"Sayang, dengar, sayang.." Chanyeol memulai dengan suara beratnya untuk menenangkan Baekhyun.

Baekhyun pun mengecilkan isakannya, ia beralih menatap mata Chanyeol dengan sungai air mata yang menumpuk di mata puppynya. Hidung bangirnya semakin memerah, dan kini bibir tipisnya telah basah karena menangis.

"Aku tidak menuduhmu apapun. Aku juga mencintaimu, sangat. Aku tidak menyalahkan pekerjaanmu. Memang aku ini sebenarnya orang yang sangat protektif. Tentu saja aku cemburu padamu, yang memperlihatkan tubuh indahmu kepada semua orang. Tapi aku tahu, yang bisa menikmati dan memilikimu seutuhnya hanyalah aku. Aku lah yang telah memenangkanmu, Baekhyun. Suatu saat nanti tentu aku akan menyuruhmu keluar dari pekerjaan itu, tapi tidak sekarang. Karena aku tahu betapa kau menghargai pekerjaan yang membesarkan namamu itu… Asal kau tidak keluar batas. Jangan pernah terlibat dengan lelaki siapapun yang ingin mendekatimu. Aku tahu kau punya banyak penggemar atau apapun itu, tapi aku tidak akan memaafkan dan memberi ampun bagi siapapun yang merebut milikku. Ketahuilah, aku akan menjagamu selamanya, Baekhyun."

Ucapan manis Chanyeol diakhiri dengan kecupan panjang di kening Baekhyun. Baekhyun terdiam sambil memejamkan matanya. Ah, betapa senangnya ia bila Chanyeol mengecup keningnya. Karena Chanyeol melakukannya dengan penuh perasaan seakan tak akan menyakiti Baekhyun sekalipun.

"Iya aku mengerti, Yeol.. Aku juga sangat mencintaimu. Aku tidak akan berdekatan dengan siapapun, kecuali dirimu. Tapi janji, kau tidak akan pernah meninggalkanku, ya?"

"Hmmm mengapa bertanya seperti itu?" Chanyeol mengusak rambut Baekhyun dengan gemas. "Aku tak pernah sekalipun berpikiran sampai situ, sayang. Yang aku pikirkan bagaimana memperjuangkan dan membahagiakanmu, itu saja. Tentu aku tidak akan melakukan hal paling bodoh di muka bumi untuk meninggalkan separuh jiwaku, kan? Aku akan membunuh perlahan diriku sendiri bila aku melakukan itu."

Baekhyun tersenyum hangat. Setidaknya perasaanya sedikit lega mendengar Chanyeol yang akan terus berada disisinya. Entahlah, walaupun baru berpacaran tidak lama, tapi Baekhyun merasa Chanyeol lah satu-satunya cinta terakhirnya. Baekhyun merasa cinta yang dalam kepada Chanyeol, perasaan yang tumbuh kian hari. Ia selalu bahagia ketika bersama Chanyeol.

"Baik sayang! Kau janji, dan aku janji. Kita akan saling mencintai dan bersama selamanya, arraseo?"

"Hm."

Chanyeol menundukkan wajahnya lalu mengunci bibir Baekhyun dengan bibirnya. Ia mencium bibir itu lembut dan dibalas dengan Baekhyun.

"Cha, itu ciuman tanda perjanjian kita. Aku akan selalu bersamamu, princessku yang cantik."

Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun erat dan mengendus-endus leher wangi Baekhyun. Baekhyun pun terkekeh pelan sambil menciumi pucuk rambut Chanyeol.

"Uggghh pangeran tampankuu!"


Baekhyun menyiapkan sarapan dengan ceria. Ia sudah menata dua roti bakar dan telur di meja, susu strawberry untuknya, dan kopi rasa hazelnut untuk Chanyeol. Tak lama ia duduk di kursi empuk meja makannya, Chanyeol melangkah menuju dapur. Terlihat pria tampan itu lebih segar dan harum sehabis mandi.

Chanyeol mengenakan kemeja semalam yang telah disetrika oleh Baekhyun. Rencananya Chanyeol akan mengganti bajunya nanti ketika sudah sampai kantor, karena di kantor Chanyeol memang mempunyai persediaan kemeja dan jasnya di lemarinya.

Chanyeol duduk di hadapan Baekhyun, ia mengambil roti bakarnya dan makan dengan lahap.

"Hmm dengan suasana begini aku jadi merasa kita seperti pasangan yang sudah menikah, Baek. Seorang istri yang menyiapkan sarapan suaminya. Kau benar-benar calon istri idaman sayangku."

Chanyeol tersenyum sambil menangkup dagunya sendiri dan memandang Baekhyun lembut. Baekhyun pun merona sendiri karena gombalan pagi kekasihnya.

"Kau juga calon suami idaman Yeollie, sudah tampan, tinggi, kekar, dan lagi seorang CEO… umfffff betapa beruntungnya aku!"

Baekhyun memejamkan matanya imut sambil tersenyum manis, Chanyeol pun gemas sendiri dan mencubit-cubit pipi tembam Baekhyun.

"Aigoo calon istriku ini menggemaskan sekali sih, imutnyaaaa."

"Ishh jangan cubit-cubit nanti pipiku meraah!"

Chanyeol pun melepas cubitannya, dan ia tertawa melihat kini pipi putih Baekhyun terdapat ruam merah diatasnya. Warna yang kontras namun justru membuat Baekhyun semakin lucu karena pipinya seperti merona.

"Maaf, maaf sayang.. Ngomong-ngomong Baek hari ini apa kau ada pemotretan? Sepertinya kau cantik sekali pagi ini."

Chanyeol memandang kekasihnya yang kini sedang meminum susu strawberrynya. Pagi ini Baekhyun memang lebih cantik dari biasanya, ia memakai eyeliner andalannya, kemeja biru langit dan celana jeans ketat yang berwarna light jeans membalut kaki seksinya. Chanyeol terpana sendiri melihat model di depannya ini.

"Ya, aku akan melakukan pemotretan untuk edisi bulan depan. Nanti Jongdae akan menjemputku."

"Tidak mau aku saja yang antar?"

"Hmmm.. tidak usah Yeol. Lagipula kan orang-orang belum tahu kau pacarku, aku takut mereka terkejut melihat kita nanti. Biarkan saja berjalan pelan-pelan.."

Chanyeol mengernyitkan keningnya, "Maksudnya kau tidak mau menunjukkan hubungan kita?"

"Aish bukan begitu Yeol.." Baekhyun memijit hidungnya pelan, "Hanya saja semuanya butuh proses, dan perlahan aku pasti akan memberi tahu mereka."

Chanyeol membayangkan yang ditakuti Baekhyun adalah para penggemar Baekhyun. Tapi pasti kan semua penggemar Baekhyun itu laki-laki, dan ia ragu mereka semua melihat Baekhyun dalam perasaan cinta, ia yakin mereka hanya merasakan nafsu ataupun obsesi terhadap Baekhyun. Jadi apakah mereka akan merasakan patah hati yang berlebihan apabila model majalah dewasanya mempunyai kekasih? Chanyeol rasa itu tidak perlu. Lagipula ia tidak peduli dengan perasaan penggemar itu, baginya itu tak ada gunanya.

"Terserah saja, Baek. Yang penting aku tahu tidak akan ada yang berani menyentuhmu."

"Hmmm pasti Yeollie.." Baekhyun sedikit berpikir, lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu yang penting. Sesuatu yang ia ingin tanyakan dari kemarin untuk Chanyeol, hanya saja Baekhyun selalu lupa untuk menanyakannya.

"Ah ya, Yeol, apakah kemarin kau mengirimiku bunga mawar putih?"

"Apa?" Chanyeol mengerutkan keningnya dalam, ia kini terlihat serius dan menurunkan cangkir kopi dari bibirnya.

Baekhyun terperanjat, sepertinya Chanyeol tidak tahu apa-apa.. Tapi ia sudah terlanjur bertanya kepada Chanyeol.

"Kemarin ada yang mengirimku bunga mawar putih.. Namun tidak ada nama pengirimnya. Aku pikir itu kau yang ingin memberi kejutan."

"Tidak, bukan aku.. Tapi jika bukan aku, siapa lagi yang mengetahui alamatmu, hm?"

"Makanya aku bingung.. Tidak ada yang mengetahui alamatku selain kau, orang tuaku, Jongdae, dan Luhan. Aku tidak pernah menyebarkan alamat rumahku. Darimana orang ini tahu alamatku?"

"Apakah ada kartu di dalam bunga tersebut, Baek?"

"Disitu hanya ada pesan 'Untuk Baekkie' dan anehnya dia mengirimku mawar putih, bunga favoritku. Aku tidak pernah memberi tahu itu ke siapapun, bahkan Yeollie pun mungkin tidak tahu."

Chanyeol menukikan alisnya sambil berpikir. Siapa yang beraninya mengirimi kekasihnya buket bunga? Baginya itu sudah merupakan ancaman. Ia tidak bisa tinggal diam melihat kekasihnya didekati manusia yang tidak diketahui namanya.

"Aku akan menyuruh bawahanku untuk mengurusnya. Jaringan perusahaanku sangat luas. Aku akan melacak siapa yang mengirimu bunga, lalu aku akan bertanya apa maksud tujuannya. Apabila dia bertujuan macam-macam kepadamu, aku akan menghajar dan mengancamnya. Tenang saja Baekhyun, aku akan melindungimu."

Baekhyun terdiam, ia sedikit lega karena Chanyeol yang akan selalu menjaganya. Tapi ia tidak bisa melepas rasa penasarannya kepada pengirim itu.

"Terima kasih Yeol.. nanti beritahu aku bila kau menemukannya. Aku penasaran dengan sosok itu."

"Ya, sayang.. tergantung situasinya. Apabila dia berbahaya, tentu aku akan menjauhkannya darimu."

"Hmmm baik Yeollie.."

Tak lama kemudian, terdengar pintu ketukan di apartemennya. Sepertinya itu Jongdae sudah datang. Chanyeol dan Baekhyun pun berdiri, membereskan piring dan gelas mereka. Lalu mereka bersama-sama menuju ke pintu depan.

"Lama banget sih bukanya, Baek, aku.."

Ucapan Jongdae terhenti begitu ia melihat sosok tinggi menjulang di belakang Baekhyun. Pria itu begitu tegap dan berwibawa, dan auranya seperti mengintimidasi.

"A-ah.. Tuan Park.. selamat pagi."

Jongdae membungkukkan badannya, dan Chanyeol hanya terkekeh sambil melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun.

"Tidak usah canggung begitu, Jongdae. Sudah kubilang panggil saja aku Chanyeol. Kau kesini untuk mengantarkan Baekhyun kan?"

"Ya, seperti biasanya. A—aku tak tahu kau disini juga."

"Hmm. Aku habis menginap di apartemen pacarku." Chanyeol mencuri kecupan di pipi Baekhyun. "Bagaimana kalau kita ke basement bersama?"

"Ekhm, baiklah."


Berjalan bersama ke basement, lalu terpisahkan oleh mobil yang berbeda. Rasanya Jongdae merasa menjadi super jomblo disini. Melihat betapa mesranya teman dan direktur sponsornya itu. Sebelum naik ke mobil, dalam keadaan basement yang remang-remang masih sempatnya kedua insan itu berciuman terlebih dahulu, berciuman dengan heboh hingga menjambak rambut pasangan masing-masing, membuat Jongdae menunggu di mobil sambil melihat pasangan mesum itu dari jendela.

Ketika pintu mobil sebelahnya terbuka, dan lelaki manis duduk di sampingnya, Jongdae menegakkan tubuhnya. Ia memegang setir sambil melirik ke samping.

"Sudah ciuman dengan Tuan Parknya, Baek?"

"Hey, kenapa bertanya seperti itu. Wajar jika aku bermesraan dengan kekasihku sendiri. Minta saja kekasihmu bila ingin dicium juga Dae."

"Ckck." Jongdae berdecak sambil melajukan mobilnya, keluar dari apartemen Baekhyun dan bergegas menuju studio pemotretan Malexotic.

"Aku dan Minseokkie pun jarang berciuman di tempat umum, bahkan Minseok akan meninjuku bila aku ingin mengecupnya di tempat umum. Entahlah, kadang aku merasa kesal tapi mau diapakan lagi."

"Hm aku hanya merasa bila bersama Chanyeol dunia milik kita berdua, hehehe. Lagipula yang lain juga belum mengetahui hubungan kami. Aku sejujurnya kelepasan tadi." Baekhyun memajukan bibirnya.

"Yah, yah terserahlah Baek.. ngomong-ngomong kau tau kan tema pemotretan hari ini?"

"Hmm, tema sekolah? Itu tema sangat standar untuk majalah dewasa bagiku."

"Walaupun kau bilang begitu, tapi para pembaca menyukainya dan antusiasnya sangat besar. Kau tahulah, mereka menyukai lelaki cantik dan manis memakai seragam imut, berpose seolah minta digagahi. Ataupun lelaki cantik yang memakai seragam sekolah perempuan yang minim. It's very kinky. Kita lihat saja nanti kau kebagian yang mana."

"Hmm.." Baekhyun menganggukkan kepalanya. "Siapa saja yang akan menjadi model hari ini?"

"Well, tidak banyak. Kau, Luhan, Ren, dan Jeonghan. Kalian berempat saat ini favorit pembaca, sehingga pembaca menginginkan halaman kalian lebih banyak. Aku salut dengan kau sih yang selalu menjadi favorit sejak pertama debut? Karena biasanya bila ada model baru yang lebih cantik akan menyingkirkan model lama."

"Mungkin mereka tahu kecantikan ku itu alami dan tidak membosankan, hehehe."

"Yah.. atau tubuhmu yang memang seksi dan berisi sehingga para pria tak pernah bosan. Selamat untuk Park Chanyeol yang mendapatkan semuanya."


Chanyeol bergerak gelisah di kursinya. Kini telah berlangsung meeting untuk melihat kenaikkan kurs perusahaannya. Namun Chanyeol tak bisa kosentrasi penuh mendengar presentasi di depannya, pikirannya justru melayang kepada pengirim misterius bunga mawar untuk Baekhyun.

Ia telah mengambil bunga mawar itu dari apartemen Baekhyun dan menyuruh bawahannya untuk meneliti siapa pengirimnya. Dengan akses dan kekuatan yang ia punya, tentu ini akan sangat mudah. Ia tinggal memberi tahu kapan bunga itu dikirim, alamat penerima, siapa pengantar paketnya, dari perusahaan apa dia, dan dia akan melacak siapapun yang mengirim bunga itu.

Ngomong-ngomong, Chanyeol merasa ada yang berbeda hari ini. Tidak ada sosok gadis cantik dan seksi yang membuatnya kesal. Entahlah, hari ini Chanyeol belum melihat Jinah dimanapun. Apakah Jinah terlalu sedih dan tak punya muka untuk bertatap dengannya? Mengingat bagaimana kemarin ia menolak Jinah di depan keluarganya. Tapi Chanyeol tak ambil pusing, justru ia senang dengan tidak hadirnya sekretaris itu. Setidaknya harinya jadi lebih tenang.

Sembari menunggu bawahannya memberi kabar atau informasi, Chanyeol memikirkan bagaimana pemotretan Baekhyun hari ini. Apa berjalan lancar? Ugh ia pasti tak bisa mengendalikan dirinya apabila ia di pemotretan itu. Melihat dari majalah saja sudah tegang luar biasa, apalagi aslinya? Sudah dipastikan Chanyeol akan menyerang Baekhyun sama seperti waktu itu. Lihat saja nanti, Chanyeol akan menjadi orang pertama yang memesan majalah edisi bulan depan tersebut.


"Ya! Bagus Baek! Pertahankan! Ya!"

Suara pengarah posenya, Kibum, membahana di studio ini. Kini studio telah disulap jadi berbagai ruangan sekolah. Diantaranya ada kelas, perpustakaan, kantin, dan uks. Baekhyun telah memakai berbagai seragam sejak tadi, ia menjadi siswa nerd imut yang berpose nakal di perpustakaan, siswa badung yang masturbasi di kelas, dan terakhir saat ini ia menjadi dokter seksi di UKS sekolah.

Lihatlah bagaimana Baekhyun memperlihatkan tubuh mulusnya, ia tidak mengenakan apapun selain celana dalam berwarna putih dan jas dokter berwarna biru muda yang tidak dikancing. Sebuah stetoskop mengalungi lehernya. Kini Baekhyun terlihat sebagai dokter UKS sungguhan, namun yah ia lebih seksi dengan tampilannya, rambut acak-acakannya dan wajahnya yang siap menggoda para siswa pria.

Baekhyun terlihat berbaring di ranjang UKS dengan tirai yang disibak. Kakinya ia gesek-gesekan satu sama lain agar menunjukkan paha berisinya. Pose nya sungguh sensual, ia menekan ujung stetoskopnya pada nipple pinknya yang mencuat. Ia menggesekan benda dingin itu sehingga menimbulkan sensasi sendiri yang kadang membuatnya mendesah.

Kibum terus memuji ekspresi natural Baekhyun, ia juga memuji beberapa pose yang diperagakan Baekhyun. Pantas saja bila Baekhyun model nomor satu saat ini, ia begitu menawan di depan kamera.

"Baik! Sudah cukup! Pemotretan hari ini selesai. Kerja bagus, Baek."

Kibum bertepuk tangan, Baekhyun pun bangkit dari ranjang dan ikut membungkukkan badannya. Jongdae langsung menghampirinya dan menyuruh Baekhyun untuk berganti baju.

"Akhirnya pemotretan sudah selesai. Kekasih orang lebih menggoda ya, sekarang? Hm?" Jongdae berbisik kepada Baekhyun dengan nada candanya.

"Hush!" Baekhyun memukul pundak Jongdae dengan nada kesalnya.

"Ini sudah sore, lebih baik kau antarkan aku pulang Dae. Aku tidak ingin kelewatan drama favoritku."

"Hmm yaa ya baiklah. Dasar pecinta drama!"


Chanyeol sudah membereskan mejanya. Ia telah bersiap untuk pulang ke apartemennya karena pekerjaannya kali ini memang cukup menumpuk. Ketika akan beranjak dari kursinya, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Ia pun menyuruh orang itu masuk.

"Selamat sore, Tuan Park."

Seorang laki-laki berkacamata membungkukkan badannya. Penampilannya terlihat rapi dan ekspresinya cukup datar. Laki-laki itu memegang tablet bermerk di tangannya.

"Saya sudah mendapat informasi yang Tuan Park inginkan."

Mendengar itu Chanyeol bernapas lega. Ia menyilangkan tangannya di depan dada dan bersender pada meja kerjanya.

"Oh ya? Baguslah. Kau bisa memberi tahuku sekarang, Leo."

Lelaki yang dipanggil Leo itupun mengecek tabletnya.

"Awalnya ketika saya mengecek ke pusat pengiriman paketnya, mereka menolak untuk memberi tahu siapa pengirimnya karena itu privasi sang pengirim. Tapi begitu saya memberi nominal uang barulah mereka mau memberi tahunya. Tapi sayang, pengirimnya bukanlah sebuah nama. Pengirimnya berasal dari suatu perusahaan."

Chanyeol mengeryitkan keningnya. Ia semakin penasaran dan tak mengerti.

"Perusahaan? Apa nama perusahaannya?"

Leo terdiam sebentar. Ia melihat sekali lagi untuk kebenaran nama yang akan ia sebut. Setelah itu ia menghembuskan nafas, dan menatap ke mata Chanyeol kembali.

"Wu Enterprise."


Baekhyun asik mengemil buah strawberry favoritnya sambil menonton drama favoritnya. Apabila layar lebar TV nya sedang menayangkan iklan, terkadang Baekhyun mengecek handphonenya. Ia tengah membuka social medianya, Instagram. Tadi sore sesudah pemotretan Baekhyun memotret salah satu hasil fotonya untuk ia upload ke instagram. Apabila majalahnya akan mengeluarkan edisi terbaru, Baekhyun memang disuruh oleh manajernya mengupload teaser nya di instagram agar penggemarnya lebih penasaran dan majalahnya bisa lebih laris manis.

Ia mengupload dirinya dalam balutan seragam siswa sekolah dengan kacamata besar yang membingkai mata puppynya. Kemeja putihnya dibuka sampai tiga kancing, hingga menampakkan dada mulusnya yang putih. Belum lagi ekspresi Baekhyun yang menggigit jari telunjuknya, bersikap imut sekaligus menggoda.

Baekhyun menuliskan captionnya, 'Pemotretan untuk hari ini sudah selesai~~ Tema sekolah! Siapa yang suka aku menggoda kalian dengan seragam imut? ;9 Jika kalian ingin melihat yang lebih seksi dari ini belilah majalah edisi berikutnya~ Chu chu:* '

Baekhyun hanya tersenyum geli melihat komentar penggemarnya yang semakin menggila karena dirinya. Tak terkadang komentar negatif pun ia terima, tapi Baekhyun hanya membiarkannya. Apabila komentar negatif itu sampai menyakitkan hati, Baekhyun akan memblokir akun itu dan memikirkan yang senang-senang agar tak terbawa pikiran.

Setelah Baekhyun menguploadnya, tak berapa lama handphonenya bordering. Nama Chanyeol muncul di layar. Ah ia ingat ia sedang terpisah dengan Chanyeol, Chanyeol harus menyelesaikan pekerjaannya jadi ia menginap di apartemennya sendiri.

"Haii~ Chanyeollie" Baekhyun menyapa dengan nada riangnya seperti biasa.

"Baekhyun-ah." Suara Chanyeol terdengar berat dan sedikit marah, membuat Baekhyun bingung. Ada apa dengan Chanyeol? Tumben Chanyeol memanggil nama nya tidak manis seperti biasanya.

"Hm?" Baekhyun bertanya dengan bibir bawahnya yang ia majukan. Ia berusaha bersikap memelas, tapi ia lupa kalau ini sedang di telpon. Bagaimana Chanyeol bisa tau wajah memelasnya, ck.

"Apa kau mengupload foto baru di instagram mu?"

"Ah! Iyaa~ Itu hasil pemotretan hari ini. Bagaimana menurutmu? Aku manis kan?"

"Tentu kau selalu manis, Baek.. tapi tidak tahu kah kau pose itu sangat meggoda, dan wajahmu sangat cantik, apalagi caption mu yang imut begitu. Nanti semakin banyak pria diluaran sana yang mengincarmu. Tak taukah kau itu sangat bahaya?"

"Apa maksudmu, Yeollie? Aku selalu melakukan promosi seperti itu. Kenapa berbahaya?"

"Tidak.." Chanyeol menghela nafas beratnya. "Aku hanya takut bila kau semakin cantik, kau akan direbut oleh seseorang."

"Apa?" Baekhyun terkekeh pelan. "Itu tidak mungkin Chanyeollie, aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Kau tidak mengerti Baek, orang itu.. ah sudahlah, aku akan menceritakannya padamu nanti setelah kita bertemu. Yang pasti untuk sekarang bersikaplah waspada, jangan terima paket sembarangan bila kau tak mengetahui namanya."

"Baik baik.. Apa hanya itu yang ingin kau bicarakan? Aku sedang fokus menonton drama."

"Hei, sayang! Kenapa kau marah begitu?"

"Siapa yang marah, Yeollie? Aku mendengar semua perkataanmu. Aku akan menurutinya."

"Hm, baiklah sayang. Ingat Baekhyun, aku sangat mencintaimu."

Baekhyun merasakan senyumannya tertarik mendengar perkataan Chanyeol.

"Sama Chanyeol.. aku lebih mencintaimu. Jagalah kesehatan, jangan terlalu banyak menumpuk pekerjaan, ya."

"Iya sayang. Terima kasih atas perhatiannya, princess."

"Sama-sama, daddy."

"Baek! Kau mau bermain-main denganku? Ingin aku ke apartemenmu sekarang juga?"

"Haha aku bercanda sayang. Sudahlah lanjutkan pekerjaanmu, nanti aku telfon lagi. Dadah Chanyeollie, muacccchhh"

Baekhyun sengaja membuat suara kecupan dengan keras guna menggoda Chanyeol.

"Aku sayang sekali padamu, cantik. Bila sempat mungkin aku akan mengajakmu keluar untuk makan malam nanti. Dadah, sayang."

Baehyun pun mengakhiri panggilan mereka. Ia kembali fokus menonton dramanya, sambil sesekali memainkan handphone nya.


Jam 8 malam, tak menyangka Chanyeol membuktikan perkataannya. Ia memberi teks kepada Baekhyun, menyuruh Baekhyun untuk bersiap-siap untuk kencan makan malam diluar. Baekhyun pun segera mengganti bajunya dengan baju yang lebih tebal agar ia tidak terkena angin malam. Tak lupa Baekhyun memoles sedikit makeup di wajahnya agar lebih segar.

Terdengar ketukan di pintu apartemen Baekhyun, Baekhyun pun segera beranjak dan membuka pintu. Disana Chanyeol telah berdiri dengan kemeja casualnya yang digulung sampai siku, hingga memperlihatkan jam Rolex mahal miliknya. Dengan tatanan rambutnya yang keatas, membuat Chanyeol semakin tampan. Baekhyun merasa beruntung bisa dijemput oleh orang setampan ini untuk makan malam.

"Hai Chanyeollie sayaaaang,"

Baekhyun menggaet lengan kekar itu erat, lalu menggesek-gesekan pipinya di pundak tegap Chanyeol. Entahlah, melihat Chanyeol setampan ini membuatnya semakin ingin bermanja-manja dengan kekasihnya.

"Hem, princess cantik,"

Chanyeol tersenyum samar sambil mengacak rambut pacarnya gemas.

"Mau kemana kita Yeollie?"

Baekhyun mengadahkan kepalanya untuk menatap mata Chanyeol.

"Well aku sudah memesankan restoran bintang lima untuk private. Kita bisa menikmati makan malam disana tanpa gangguan siapapun, sayang."

"Ah.." Baekhyun membulatkan mulutnya, lalu menaikkan bahunya. "Baiklah, aku ikut saja. Ayo berangkat sekarang!"


Restoran yang Chanyeol pesan, memang sangat berkelas dan bintang lima. Begitu sampai, salah satu pelayan disana menyambut mereka dan menyuruh mereka untuk pergi ke lantai dua. Di lantai dua, tempat khusus reservasi privat. Tempatnya sangat luas, dengan sekat-sekat dinding yang membatasi meja antar satu sama lain. Tempat ini memang cocok untuk sekedar makan malam romantis.

Begitu duduk di salah satu spot terbaik, pelayan memberikan menu mereka. Chanyeol dan Baekhyun memesan makanan yang recommended di restoran itu. Tak lupa Baekhyun meminta buah strawberry sebagai dessertnya.

"Jadi, Chanyeollie? Ada yang ingin kau bicarakan? Sampai mengajakku makan malam di restoran semewah ini."

"Hm.." Chanyeol mengelus dagunya sejenak.

"Aku sudah tahu siapa pengirim bunga itu."

"Ohya?" Ekspresi Baekhyun terlihat sedikit terkejut. "Bagaimana kau bisa menemukannya secepat itu? Daebak."

"Jangan ragukan kemampuan koneksi dan uangku, Baek. Jadi aku jelaskan ke inti saja, ia mengirimnya dari nama perusahaannya. Wu Enterprise. Apa kau mengenali perusahaan itu?"

"Ah, sepertinya aku pernah dengar. Itu perusahaan terkenal yang bergerak di bidang elektronik, kan?"

"Kau benar, sayang. Aku hanya takut seseorang mengincarmu untuk merebutmu. Dan sialnya aku bisa menebak siapa orang tersebut."

"..Siapa?"

"Pemilik perusahaan itu. Kris Wu."

"Kris..Wu?" Baekhyun memiringkan kepalanya. "Aku tak pernah mengenal nama itu."

Percakapan mereka terputus karena tiba-tiba pelayan datang membawa pesanan mereka. Hidangan-hidangan itu terlihat menggugah selera dan sangat lezat. Baekhyun pun merasa tatapannya langsung terpaku kepada makanan begitu pesanannya datang.

"Selamat menikmati, Tuan."

Pelayan itupun membungkukan badannya lalu pergi dari hadapan mereka.

"Makanlah dulu, Baek. Kita lanjutkan pembicaraannya nanti. Aku tahu kau lapar."

Chanyeol tersenyum kecil sambil mencubit pipi tembam kekasihnya. Mereka berdua pun akhirnya mencoba menyantap makanan mereka terlebih dahulu.


"Jadi, Chanyeollie? Siapa dia?"

Makanan utama sudah dihabiskan. Kini di meja mereka hanya ada sepiring strawberry untuk Baekhyun, dan segelas yoghurt untuk Chanyeol.

"Dia adalah direktur Wu Enterprise. Lucunya, dulu kami satu SMA. Dan lucunya lagi dulu kami berteman baik."

"Benarkah? Apa kau yakin dia yang mengirimku paket itu? Yang bekerja di Wu Enterprise kan bukan hanya dia."

"Percayalah Baek, sudah kubilang aku punya agen untuk menyelidiki kasus seperti ini. Mencari siapa pengirim paket adalah perkara mudah. Lagipula, begitu mendengar nama perusahaan itu aku langsung teringat namanya."

"Oh ya..? Berarti kalian saling mengenal? Apa kalian masih berhubungan baik sekarang?"

Chanyeol tersenyum sinis.

"Sama sekali tidak baik. Kini berbalik, ia menjadi saingan utamaku."

Baekhyun menukikan alisnya. "Bagaimana bisa?"

"Kau tahu, dunia perusahaan saat ini cukup kejam bila kau tak berkinerja dengan baik. Aku sudah mendapat jabatan perusahaan ini karena ayahku, jadi aku tinggal meneruskannya dan tidak perlu bersusah payah. Sedangkan Kris, ia berasal dari keluarga sederhana, ibunya bahkan sering sakit-sakitan dulu. Tapi ia mempunyai kecerdasan dan tekad yang luar biasa, sehingga ia mampu membangun perusahaan dengan namanya sendiri dari 0. Sayang perusahaanku dan perusahaannya selalu bersaing, dalam mendapat klien, atau apapun itu. Tapi perusahaanku berdiri lebih lama darinya dan sudah terkenal sejak lama. Entahlah, mungkin itu yang membuatnya kesal, hingga kini ia terus berusaha melawan atau menyingkirkanku agar perusahaannya menjadi nomor satu di Korea. Walaupun kami bertemu dalam meeting atau apapun itu, kami tak pernah bertegur sapa. Ia seolah-olah tak mengenaliku lagi."

Setelah mendengar penuturan panjang Chanyeol, Baekhyun tak tahu harus bilang apa. Ia sebenarnya berada di pihak Chanyeol, karena menurutnya segala sesuatu dalam bersaing itu harus dalam cara sehat dan sportif. Tapi entahlah, ia juga mengerti perasaan Kris ini, mungkin ia trauma dengan kesusahannya di masa lalu sehingga ia begitu berambisi untuk mendapatkan mimpinya.

"Lalu yang ingin kutanyakan, bagaimana ia bisa mengirim bunga itu? Bunga favoritku, ke alamatku yang tidak diketahui siapapun?"

"Aku tidak heran bagaimana ia bisa melakukan itu. Ingat, ia direktur, jabatannya sama sepertiku. Bisa saja ia juga mempunyai suruhan nya yang berguna melacak apapun. Jaringan Wu Enterprise tak kalah luas. Mungkin menemukan alamat model terkenal bukanlah perkara sulit."

"Hmm…" Baekhyun memajukan bibirnya, pandangannya ia alihkan ke lantai dibawahnya.

"Lalu apa tujuannya ia berlaku seperti itu padaku.." Baekhyun menggumam sendiri. Entahlah, ekspresinya terlihat sedikit datar.

"Suka." Chanyeol berucap dengan tegas. "Aku yakin ia tertarik padamu, makanya dia mengirim bunga favoritmu itu. Mungkin dia melihatmu di majalah sama sepertiku, lalu merasakan ketertarikan yang sangat besar untukmu, dan dia mengirim bunga itu sebagai perkenalannya."

"Perkenalan apa? Mana kutahu siapa dia bila dia tak mencantum nama pengirimnya! Ish bodoh!"

Chanyeol beralih menggenggam jari lentik Baekhyun, lalu mengelus-elus permukaan halusnya.

"Apapun itu. Aku minta kau untuk mengabaikannya. Kau sudah mempunyai aku, kekasihmu. Aku tentu cemburu dengan siapapun yang suka padamu. Tapi aku tak bisa memberi mereka pelajaran satu-satu, karena tak terhitung berapa pria yang menyukaimu. Aku hanya minta kau bisa menjaga jarak dari mereka, jangan jatuh ke perangkap mereka, Baekhyun."

Chanyeol mengecup jemari itu erat, mengalirkan rasa sayangnya untuk kekasihnya.

"Tentu, Yeollie.. Kau sudah memperingatiku berkali-kali. Tenanglah, semua akan baik-baik saja."

Baekhyun memberi senyum manisnya untuk Chanyeol. Chanyeol hanya memberi senyum kecilnya.

"Entahlah, tapi aku merasa perasaan tak enak. Apalagi apabila Kris sudah menampakkan wajahnya di depanmu. Dia itu cerdas dan cukup licik. Aku harap aku bisa lebih berwaspada lagi."

"Hm, jangan khawatir lagi ya sayang."

Baekhyun mencondongkan tubuhnya untuk mengecup bibir Chanyeol.

"Semuanya akan baik-baik saja.."


Di satu sisi, seorang pria tampan dan juga tinggi tampak tersenyum gembira. Surai pirang dan mata biru jernihnya menambah poin ketampanan pria belesteran tersebut.

Ia berada di meja kerjanya. Telapak tangannya menopang dagu runcingnya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus bingkai kecil diatas meja kerjanya.

Didalam bingkai tersebut, tampak selca seorang lelaki manis. Lelaki itu begitu cantik, mungil, manis. Dengan senyumnya yang imut dan mata puppy nya yang menggoda ke arah kamera.

Pria tampan tadi kembali tersenyum, ia mengelus-elus bingkai itu seolah-olah ia mengelus pipi lelaki manis yang berada dalam bingkai tersebut.

"Aku harap kau suka bunga dariku, Baekkie."

"..Tunggulah pertemuan kita nanti."

TBC

A/N: Yaampon tbc juga akhirnya. Gatau kenapa nih ya, akhir-akhir ini tuh aku merasa malas ngelanjutin ff /ditodong. Tapi seriuss gatau kenapa mood suka ilang-ilangan. Tapi aku tau perasaan readers yang kesel kalo ceritanya digantung, well karena aku termasuk salah satu list readers kaya gitu HEHE.

Jadi aku berusaha ngelanjutin. Walaupun lama banget, tapi seenggaknya aku mikirin ni ff. Jadilah, berusaha menguras tenaga, waktu, dan pikiran demi ni ff :-)))) Rasanya ngetik satu chap aja berasa seabad huft.

Btw itu konflik satu lagi mau nongol ya. Selamat buat yang nebak itu si naga tonggos/ditabok hehehe yang berhasil nebak dapet peluk cium dari suamiku Sehun :) Jadi deh yha Chanyeol sekarang ada saingannya.

Walaupun udah ga apdet lama binggow, tapi seenggaknya hargailah para author. Yang udah meluangkan waktu dan pikirannya buat melanjutkan ffnya untuk para readers. Caranya gampang banget, tinggal review dan meninggalkan beberapa kata untuk feedsbacknya. Jangan jadi silent reader atuh, apalagi yg fav sama follow cerita ini kan banyak ampe ratusan akun, tapi ga nyampe setengahnya yang review huhu sedih :'(( /ngelap ingus. Saling menghargai dan memberi feedsback kan lebih baik. Tak kenal maka tak sayang :) Apalagi ini udah cape2 nulis /curhat .g

Doain aja yah bisa dapet banyak inspirasi. Biar gercep ngetiknya. Dari kemaren mandet mulu x(

Abis UAS aku liburan tiga bulan, kemungkinan lebih banyak gabut dirumah hore jadi tunggu aja bulan-bulan Juni hehe

Byee, mingguk mau bobok dulu!

C U ^^