Going Home
Disclaimer: The plot is mine. Characters belongs to themselves, God, their parents, their company and whoever they wants.
Warnings: Nonsense, typos, misstypes, yaoi, mpreg, contains time travel, some OOCness, etc.
Mood: A little bit melancholy.
.
.
BAM!
Yoochun mematung, tak mampu berkata apa-apa, bahkan tak terpikirkan mencari ekspresi seperti apa yang harus terpampang di wajah tampannya saat Junsu, namja imutnya yang innocent tersebut dengan kecepatan yang tak terbaca spidometer sekalipun, menghantamkan kepalan tangannya ke arah pria kekar yang sekarang sudah terkapar tak sadarkan diri di tanah.
Benarkan Yoochun tak salah lihat? Itu Junsunya, bukan? SU-IE MILIKNYA YANG MANJA ITU? MENONJOK ORANG BERBADAN BESAR SAMPAI PINGSAN?
"Jae-hyung, gwaenchana?" Junsu serta merta memeluk tubuh sepupunya yang ikut ambruk di tanah karena lemas. Jaejoong terbatuk-batuk dan mengeluarkan beberapa tetes darah dari mulutnya, sementara Junsu memukul-mukul pelan punggung namja cantik tersebut. Matanya berkaca-kaca. "Hyung... daijobuka?"
Jaejoong tidak langsung menjawab, mengeluarkan beberapa patah kata dari bibirnya rasanya sulit sekali. Ia memejamkan matanya sekilas, merasa panas dan sesak di dadanya. Tak apa, ia pasti bisa bertahan. Ia kan pernah melewati yang lebih dari ini.
"Jae-hyuuung... kau baik-baik saja, kan?" Kali ini Junsu berteriak dengan suara khasnya yang melengking, sementara beberapa tetes air mata sudah jatuh ke pipinya yang tembam.
Segera setelah itu Jaejoong membuka matanya dan terkekeh pelan mendengar lengkingan super familiar tersebut. Ia berusaha dengan keras untuk mendudukkan diri di atas rumput, dibantu oleh Junsu yang rasanya sudah mau pingsan saja melihat penampilan Jaejoong dengan darah di mana-mana. Junsu sama sekali tidak suka berkelahi karena ia terlalu ngeri untuk melihat darah, tetapi bukan berarti ia tidak bisa berkelahi. Sewaktu kecil, ia sering ikut Jaejoong berlatih kungfu dengan ayahnya, Kim Hangeng. Dan dengan senang hati pula Hangeng turut mengajari keponakannya tersebut, meskipun pada awalnya Junsu tidak mau.
Tapi saat itu ia terpesona ketika ahjusshinya tersebut berkata pada dua anak kecil di sana bahwa dalam hidup pasti akan ada saat di mana manusia akan terdesak dan hanya memiliki diri sendiri untuk bertahan. Maka Junsu mau belajar dan terbuktilah sekarang, ia bahkan bisa menyelamatkan Jaejoong.
"Kau tahu kan, kau itu sangat berisik," ucap Jaejoong, masih terkekeh sambil menahan sakit. Ia menepuk-nepuk pundak Junsu lemah, namun di matanya tersirat sebuah kebanggaan. "Tidak menyesal sekarang kan, sudah berlatih kungfu dengan appaku? Sepertinya darah yang mengalir di keluarga kita memang darah petarung sejati, hahaha."
"Yaa Hyung, jangan tertawa sambil memegangi dadamu seperti itu! Ayo kita ke rumah sakit!" paksa Junsu sambil mengelap air matanya dengan lengan kaus yang ia pakai. Namun Jaejoong hanya menggelengkan kepalanya.
Mengabaikan teriakan-teriakan penuh paksaan dari Junsu, Jaejoong melayangkan pandangannya ke arah lain sampai akhirnya bertemu dengan tatapan Yoochun yang seperti orang melihat hantu. Ada apa dengannya?
"Chun, kau sedang apa di sana?" tanya Jaejoong heran. Ia menduga-duga mungkin saja Yoochun kaget melihatnya yang babak belur dengan darah di seragamnya, di mana-mana. Yoochun memang termasuk namja golongan elit yang lebih suka tebar pesona dari pada berkelahi, ia bahkan sepertinya sangat menghindari kegiatan yang menurutnya sangat tidak penting tersebut. Wajar mungkin sekarang melihat pemandangan tidak enak di hadapannya.
Masih tak bereaksi. Pada akhirnya Junsu berdiri dan menepuk pundak Yoochun sekilas, membangunkannya dari pikiran alam bawah sadarnya. "Chunnie, ada apa? Kau kaget melihat Jae-hyung?"
Sekonyong-konyong Yoochun melompat mundur ke belakang beberapa langkah saat merasakan tepukan Junsu di pundaknya, seakan-akan itu tepukan maut yang akan mengakhiri hidupnya.
"Chunnie, kau kenapa sih?" Junsu memanyunkan bibirnya, karena Yoochun menjauh sambil terlihat ketakutan saat ia menyentuhnya sedikit saja. Dengan kesal namja imut berpipi gemuk itu menghampiri Jaejoong kembali dan duduk di sampingnya. "Yah, Chunnie menyebalkan!"
Mendengar rajukan itu membuat Yoochun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, tentu saja bukan itu maksudnya. Bibirnya bergerak-gerak tapi tidak kunjung mengeluarkan suara. Ia bingung harus menjelaskan dengan kata-kata bagaimana syoknya dia begitu mengetahui kekasihnya menghajar pria kekar tadi...
Hal itu membuat Jaejoong tertawa. Meskipun sakit, tapi ia benar-benar tidak bisa menahannya. Begitu melihat raut wajah Yoochun yang kaget seperti orang idiot, Jaejoong sadar bahwa mungkin saja namja itu kaget melihat aksi Junsu tadi. Orang awam memang tidak menduga kalau Junsu pintar berkelahi juga... hm, membela diri lebih tepatnya. Junsu tidak suka menyebut kekerasan yang dilakukannya sebagai perkelahian. Ia menyebutnya 'pembelaan diri'.
"Hahaha, Su..." Jaejoong tertawa sambil melirik ke arah Junsu yang masih cemberut, merasa Yoochun menjauhinya tiba-tiba tanpa alasan. "Jangan cemberut, ia hanya kaget melihat kau menyelamatkanku tadi. Iya kan, Chun?"
Yoochun mengangguk-angguk cepat sambil tersenyum lebar. Thanks to Jaejoong, ia peka sekali ternyata.
Junsu menatap ke arah Jaejoong, kemudian mengalihkan pandangannya pada sang namjachingu yang sedang meremas-remas bajunya. Yoochun sedang berpikir, kenapa tiap kali dirinya membuat kesalahan (meskipun itu sangat kecil) Junsu selalu mengancamnya dengan membawa-bawa nama Jaejoong kalau dirinya sendiri ternyata berbahaya juga? Mulai sekarang jangan pernah membuat kesalahan pada Kim Junsu, Park Yoochun.
Beberapa detik kemudian Junsu menghentikan aksi cemberutnya. Ia baru sadar, ini kali pertama Yoochun melihatnya melakukan aksi 'pembelaan diri', wajar saja air muka namjachingunya yang tampan itu jadi kelihatan takut-takut. Haah... Junsu jadi merasa bersalah sendiri.
"Maafkan aku, Chunnie... kau membenciku ya?" tanya Junsu dengan sedih. Yoochun menggeleng cepat dan segera menghampiri kekasihnya yang kini tengah mengaduk-aduk tanah di bawahnya. Merasa sedih.
"Ti-tidak, tidak," respon Yoochun, sedikit gugup saat telah menemukan suaranya kembali. Ia mendekap kedua pipi Junsu dan mengarahkan wajah itu lurus ke arahnya. "Aku tidak membencimu. Aku hanya kaget, ternyata kau cukup err..."
"Mengerikan?" sambung Jaejoong tanpa diminta, terkekeh kembali dengan pelan melihat tingkah sepasang kekasih yang aneh tersebut.
"Yah, bukan itu!" protes Yoochun cepat. Tapi ia cepat memeluk Junsu, mengalihkan rasa penasaran namja berpantat montok tersebut karena sesungguhnya Yoochun memang tidak bisa menemukan kata pengganti yang pas untuk menggambarkan Junsu yang seperti kata Jaejoong tadi. Mengerikan. "Aku menyukaimu apa adanya, Su-ie."
"Aku juga, Chunnie-hyung." Junsu membalas pelukan tersebut lebih erat, membuat Yoochun sedikit kesesakan. Tapi apa daya, ia biarkan. Dari pada berakhir seperti namja kekar yang sudah tak berdaya beberapa meter dari tempat mereka berada.
Awalnya Jaejoong biasa saja, tetapi sekitar sepuluh menit kemudian ia mulai terganggu dengan pemandangan sepasang manusia yang masih saja berpelukan dari tadi. Apa mereka tidak bosan dan tidak lelah? Huh, mau dibiarkan tetap saja tertangkap mata dan mengganggu pandangannya. Bukannya iri, Jaejoong hanya merasa terganggu. Itu saja.
Putra tunggal dari Kim Hangeng dan Kim Heechul tersebut dengan perlahan merebahkan punggungnya yang pegal karena diseret kasar oleh orang sinting utusan orang gila tersebut di atas rumput hijau yang sedikit basah, tidak memedulikan seragamnya yang mungkin akan kotor kena tanah.
Sepasang mata bulat yang selalu membuat yeoja mana saja ingin memilikinya tersebut menatap lurus, sedikit menyipit akibat terangnya langit siang itu. Jaejoong hanya terdiam, membiarkan pikirannya bebas dan melayang-layang kemanapun ingin pergi.
Dengusan pelan meluncur pelan dari bibirnya, saat sapuan angin yang sedikit kencang menerpa wajahnya, merasakan sensasi dingin saat udara yang berlarian tersebut menyentuh luka-luka di wajahnya. Membantu meringankan dan mengeringkannya.
Tenang sekali, bahkan suara cempreng Junsu dan suara berat Yoochun tak terdengar, entah apa yang sedang mereka berdua lakukan. Jaejoong tak peduli, ia merasakan kelopak matanya berat sekali, terlebih ia sudah terbuai rayuan angin yang perlahan membawa rasa sakitnya terbang ke langit.
Ia sudah menutup kedua matanya rapat saat sekelebat bayangan Changmin terlihat jelas di hadapannya. Namja itu terlihat bahagia dan sedih menjadi satu, tersirat di wajahnya. Serta merta Jaejoong membuka kembali matanya lebar-lebar dan mengangkat tubuhnya. Sedikit erangan terdengar mengingat namja cantik itu terlalu memaksakan diri.
"Hyung, jangan bergerak tiba-tiba," raung Junsu yang cemas melihat Jaejoong. Ia menghampiri sepupunya itu segera dan membantu namja itu berdiri. "Kau mau ke mana, Hyung? Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang."
Hanya gelengan kepala yang diterima Junsu, memberikan kekecewaan. "Tidak sekarang Su, kau bisa temani aku ke sekolah?"
"Untuk apa, Hyung?" tanya Junsu penasaran sekaligus khawatir. Tapi tetap dibantunya Jaejoong berdiri dan memapahnya. Yoochun menghampiri mereka dengan cepat dan secara tanggap membantu memapah Jaejoong di bagian yang tidak terjamah Junsu.
"Changmin masih di ada di sana, bersama Yunho. Aku harus menjemputnya dan memastikan semua baik-baik saja," jawab Jaejoong sambil susah payah menggerakkan kakinya.
"Memangnya kenapa, Hyung?" tanya Yoochun. "Ia akan baik-baik saja bersama Yunho-hyung."
Jaejoong mendengus pelan, kemudian menatap Junsu dengan pandangan yang tentu saja sudah diketahui sepupunya itu apa maksudnya. Perasaan Jaejoong pasti sedang tidak baik, kacau mungkin. Ia memang tidak berkata apapun tentang Changmin pada Junsu, tapi sepertinya namja yang lebih muda darinya itu tahu bahwa Changmin adalah orang yang berpengaruh pada Jaejoong.
"Kajja Chunnie, kita antar Jaejoong-hyung."
.
.
Keadaan di lapangan basket tak ubahnya keadaan di halaman depan sekolah Hannyoung beberapa saat yang lalu. Hanya saja kini lain subjek yang sedang melakukan perkelahian tersebut.
Changmin. Yah, namja itu masih sibuk berkutat dengan dua pria yang hendak menculik Yunho tadi.
Yunho tertegun melihat Changmin. Ia merasa jika namja yang lebih muda darinya itu nyaris sempurna dalam melakukan segala sesuatunya. Ia memperhatikan bagaimana gerakan lincahnya saat menghindari serangan, bagaimana serius dan kerasnya hantaman yang ia hadiahkan bertubi-tubi pada dua lawannya. Dan sepanjang pertarungan itu, Changmin sama sekali belum terkena pukulan maupun tendangan dari mereka.
Takjub, dan... gengsi. Melihat Changmin yang masih kelihatan pucat rela membuang-buang tenaganya demi melindungi dirinya, Yunho merasa lebih rendah lagi. Ia mempertanyakan dirinya sendiri, apakah ia benar-benar seorang namja sejati. Bahkan untuk berkelahi saja ia masih berpikir berulang-ulang kali.
Sekali lagi Yunho tegaskan, ia bukannya tidak bisa berkelahi. Hanya saja, ia tidak menyukainya. Melihat orang terluka karena melakukan sesuatu yang tidak penting, sama saja makin mendekatkan diri pada kematian dengan cara yang konyol.
Tapi kali ini ia benar-benar malu, pada Changmin terutama. Mereka belum begitu kenal dekat, dan ia sudah membebani Changmin seperti ini. Di sana Changmin berjuang sendiri, meskipun ia terlihat menikmatinya tapi tetap saja, seharusnya Yunho juga ada di sana kan, bukannya malah berdiam diri di belakang namja tinggi tersebut.
Changmin menggeretakkan kepalan tangannya, menghantamkannya terakhir kali pada wajah salah satu lawannya sampai tersungkur. Ia menyeringai pelan, sementara peluh sudah membanjiri sekujur tubuhnya. Rasanya lelah sekali, tetapi masih ada satu yang belum selesai.
"Ayo maju," tantang Changmin enteng. Seringainya makin melebar melihat lawannya yang tinggal satu tersebut menatapnya dengan was-was karena melihat teman seperjuangannya telah tergeletak di lantai lapangan yang keras, terus bergeming akibat tinjuan Changmin yang jangan ditanya seperti apa rasanya.
Tanpa membuang-buang waktu, Changmin menyerang duluan. Ia mengangkat kakinya dan mengarahkan tepat pada perut lawannya, membuatnya mental beberapa meter dan tak ubahnya nasib sang kawan. Keduanya lemas tak berdaya.
"Hehehe." Terdengar tawa kecil dari bibir Changmin. Tak sengaja ditelannya keringat yang meluncur begitu saja ke mulutnya yang sedikit terbuka, yang sedang mencoba menarik oksigen sebanyak mungkin. Dada namja itu naik turun tidak beraturan. Ia belum pernah merasa cepat lelah seperti ini.
Bruk.
Changmin menjatuhkan diri, merasakan kepalanya sakit. Kedua telapak tangannya digunakan untuk menumpu tubuhnya yang tiba-tiba saja lemas. Ia mendengar derap kaki mendekatinya dari arah belakang.
"Changmin-ah, gwaenchana?"
Suara Yunho terdengar sedikit lemah di telinga Changmin. Namja itu mendongakkan wajahnya dan melihat Yunho memegangi lengannya yang penuh dengan keringat dingin, menariknya hingga ia berada dalam posisi duduk sekarang. Changmin melebarkan matanya, berusaha menangkap sosok Yunho yang semakin kabur dalam pandangannya.
"Astaga, kau terlihat pucat sekali. Sudah kubilang jangan berkelahi ya jangan!" omel Yunho sambil mengambil handuk kecil dari tasnya dan memberikannya pada Changmin. "Pakai itu, keringatmu banyak sekali."
Tidak menjawab, dengan malas diambilnya handuk tersebut dan Changmin mulai mengusap-usapkan ke sekujur tubuhnya yang lemas dan makin berkeringat saja, ditambah efek dari matahari yang sedang dalam titik terpanasnya.
"Uhuk..." Changmin terbatuk pelan, mungkin karena debu yang memasuki rongga pernafasannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, mencoba menghilangkan sakit di kepalanya yang makin menjadi. Sementara Yunho kembali mengaduk-aduk tasnya dan menarik sebotol air minum yang nyaris dilupakannya.
"Minum ini." Yunho menyodorkan air minum tersebut pada Changmin yang wajahnya sudah sewarna dengan butiran salju. Anak itu menggeleng, kemudian terbatuk sekali lagi. "Aiiish, buka mulutmu!"
Kali ini anak itu malah menutup mulutnya dengan menggunakan tangan dan menghalang-halangi sodoran air minum tersebut dengan tangan yang satunya.
"Jangan harap dengan bersikap baik padaku, aku akan mendukungmu untuk mendekati ummaku. Tidak akan!" terang Changmin sambil menjauhi Yunho.
Namja tampan paling digilai di sekolah itu hanya cengo mendengar penuturan terang-terangan Changmin. Apa namja tampan nan jangkung tersebut tidak bisa merasakan kalau pada saat ini Yunho benar-benar sedang mengkhawatirkannya? Masih sempat saja bersikap ketus, dingin, dan terus mencurigainya. Ia bahkan tidak kepikiran sama sekali hendak mengambil keuntungan dari ini semua.
"Ternyata kau menyebalkan juga, aku hanya menolongmu, bocah!" Yunho mendengus pelan, menyodorkan kembali air minumnya pada Changmin yang memendelikinya intens. "Tidak kutaruh racun di minuman ini sama sekali. Ayolah, minum."
Melihat Yunho yang memohon padanya secara tidak langsung seperti itu, dalam waktu sepersekian detik, tatapan Changmin yang tajam perlahan melunak. Raut kesungguhan dalam kecemasan Yunho yang saat ini, membuatnya menyesal. Kenapa Yunho tak pernah menunjukkan raut wajah itu padanya selama tujuh belas tahun mereka hidup bersama di masa depan?
Seandainya, seandainya sekali sekali saja Yunho yang ada di masa depannya begitu perhatian seperti ini mungkin ia tidak akan susah-susah mengorbankan waktu-waktu berharganya untuk menciptakan mesin waktu melalui eksperimen rahasianya, dan berniat kembali ke masa lalu, meskipun tujuan utamanya datang ke sini bukan karena itu.
"Uhuk..." Changmin terbatuk lagi dan tanpa tertangkap olehnya, Yunho sudah menempelkan mulut botol dalam genggamannya ke mulut Changmin yang agak terbuka, membuat namja tersebut harus menyesuaikan dengan cairan yang memasuki paksa tenggorokannya. "Uhuk, uhuk, aahh!"
Yunho tersenyum melihat Changmin yang tersedak akibat ulahnya. Ia menutup botol minum tersebut dan memasukannya kembali ke dalam tas. Dilihatnya anak itu tengah membersihkan air yang tumpah ke bajunya dengan menggunakan handuk Yunho, kemudian melayangkan tatapan tajam sekali lagi.
"Kau mau membunuhku, ya? Seenaknya saja, dasar sok tua!"
Yunho terkekeh mendengar racauan tersebut. "Beraninya kau berkata seperti itu pada appamu."
Pluk.
Changmin melemparkan kasar handuk yang habis dipakainya ke wajah Yunho yang sedang tersenyum lebar.
"Aku tak sudi punya appa sepertimu lebih baik aku punya appa seperti Siwon!"
Mendengar ia dibanding-bandingkan dengan Siwon membuat perasaan Yunho sedikit kesal. Memang sih ia tidak bisa memastikan jika Changmin adalah anaknya, mengingat sifat anak itu dan sifatnya sepertinya jauh berbeda. Tapi hey, ia masih boleh berharap, kan?
"Terus terang saja aku ingin tahu siapa appamu di masa depan," ucap Yunho jujur dan pelan, tidak yakin dengan pertanyaan yang diluncurkannya.
Changmin hanya merespon dengan mengangkat sebelah alisnya ke atas, seperti tak tertarik untuk menjawabnya. "Aku tidak mau memberitahukan padamu, dasar perusak kebahagiaan hidup orang lain."
Oke, cukup.
Kata-kata Changmin cukup membuatnya emosi, dan ia terus bilang bahwa Yunho adalah perusak kebahagiaan. Kebahagiaan apa yang dimaksud tentu saja ia tidak mengerti, lalu kenapa namja itu terus saja memarahinya? Tidak tahu apa kalau Yunho lebih bingung lagi dengan situasi ini!
"Kalau kau tidak mengatakan apapun tentang siapakah aku untukmu di masa depan, dan kesalahan fatal apa yang telah kuperbuat hingga kau menjulukiku seperti tadi, mana bisa aku berpikir bagaimana caranya agar kejadian itu tidak terjadi di masa depan?" cerocos Yunho sambil meletakkan tangannya di pinggang, persis seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya.
Mengedikkan bahunya, hanya itulah yang Changmin lakukan sambil berusaha berdiri... mencoba melarikan diri. Ia berjalan dengan terhuyung, sementara sengatan matahari tidak membuatnya lebih baik. Pandangannya kembali mengabur, sehingga ia harus menutup matanya beberapa saat.
"Kenapa? Kau ingin melarikan diri? Menghindari pertanyaan yang tidak ingin kau jawab? Atau tidak bisa kau jawab? Kalau kau ingin aku mempercayaimu, maka kau harus mempercayai bahwa aku bisa merubah masa depan," tukas Yunho kembali. Ia bangkit berdiri dan mendekati Changmin dengan perasaan kesal yang masih coba ditahannya.
Changmin tak menangkap kata-kata itu dengan baik. Ia masih bisa melihat Yunho yang semakin mendekatinya, tetapi tidak begitu jelas raut wajah namja itu kepadanya. Sampai ia merasakan kerah bajunya dicengkeram kuat-kuat.
Seharusnya ia bisa melawan dengan mudah.
.
.
"Jung Yunho!"
Duak.
Namja tampan itu tak menyadari Jaejoong yang sudah mendekatinya dengan aura kesal dan kemudian memukulnya sampai tersungkur. Changmin terlepas dari cengkeramannya, berjalan terhuyung-huyung ke belakang, menabrak tembok. Ia memegangi kepalanya yang sakit mendadak.
Yunho meringis memegangi pipinya yang kena tonjok. Dan berusaha bangkit dari jatuhnya. Saat ia berhadapan dengan Jaejoong, ia tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Jae, kenapa dengan-"
"Apa yang kau lakukan pada Changmin?" seru Jaejoong dengan nada tinggi. Yunho tidak langsung menjawab, ia terlalu fokus pada penampilan Jaejoong yang mengenaskan. Memar di wajahnya memang tidak menyembunyikan kecantikan namja tersebut, tapi tetap saja.
Rasanya sedikit sakit melihatnya seperti ini.
Junsu yang sedari tadi mengikuti Jaejoong di belakang bersama dengan Yoochun, menarik Jaejoong menjauh dari Yunho sebelum ada perkelahian lagi. Siapa sih yang tidak pusing melihat kekerasan dan kekerasan lagi?
"Hyung, sudahlah..." bujuk Junsu. Ia memberikan isyarat mata pada Yoochun agar menghampiri Yunho, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan sigap Yoochun berjalan mendekati Yunho yang kini pikirannya entah berada di mana. "Hyung, apa yang terjadi?"
Yoochun menyadarkannya kembali ke alam nyata. Yunho terdiam lama. Ia tidak tahu, bahkan untuk menjawab pertanyaan sederhana itu ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, yang berada di luar akal sehatnya. Masa iya ia akan memberitahukannya pada Yoochun sementara dirinya sendiri tidak yakin pada itu semua.
Apa ia harus bilang bahwa ia hendak menghajar Changmin karena anak itu menolak mengakui dirinya sebagai ayahnya? Ia sungguh-sungguh tidak sanggup membayangkan seperti apa ekspresi serta jawaban yang didapatnya dari Yoochun nanti.
"Hyung, ayo kita pulang," ucap Changmin tiba-tiba. Semua yang mendengar langsung menatap ke arahnya, tak terkecuali Yunho. Ia merasa bersalah telah bersikap sedikit kasar pada namja itu tadi.
Jaejoong melepaskan diri dari Junsu yang masih memeganginya dan menghampiri Changmin yang wajahnya sudah lebih pucat dari sewaktu ia tinggalkan tadi. Ia tidak segan-segan akan menghajar Yunho jika semua ini diakibatkan namja sok tersebut.
"Min, kau tidak apa-apa?" tanya Jaejoong pelan sambil mengelap keringat di dahi Changmin dengan telapak tangannya. Sepasang mata namja itu sayu, lelah seperti ingin terpejam.
Di dalam kesamaran tersebut, Changmin menangkap rasa sakit di dalam iris Jaejoong, mungkin ia juga sedang menahan rasa sakit yang sama dengannya. Ia tidak tahu bahwa Jaejoong justru sedang menahan rasa sakit yang datang saat menatap wajah Changmin yang lemas. Changmin pun tahu, meski tidak jelas, tetapi banyak luka di wajah ummanya tersebut.
Ia menyentuhkan telapak tangannya pada pipi Jaejoong.
"Ish, jangan disentuh. Sakit, ppabo."
Changmin terkekeh pelan.
"Oh ya, apa yang Jung Yunho itu lakukan padamu? Kau baik-baik saja, kan?" tanya Jaejoong penuh penekanan. Untuk saat itu Changmin merasa bahagia, karena seolah-olah ia sedang disayang oleh Jaejoong.
Changmin menggelengkan kepalanya dan tersenyum pelan. "Ia tidak melakukan apa-apa padaku, meski tadi aku sempat berkelahi sebentar, tapi bukan dengannya." Anak itu menunjuk dua orang asing yang pingsan di sisi lain lapangan. Jaejoong menatap Changmin tidak percaya begitu mengetahui bahwa makhluk yang tak berdaya itu adalah orang-orang yang membuatnya babak belur sebelum ini. Sedangkan Changmin terlihat tanpa luka luar sedikit pun.
"Kau melakukannya... sendiri?"
Changmin mengangguk.
"Tapi, bagaimana?"
"Sudah kubilang, aku ini anakmu dan mewarisi darahmu. Jadi kalau kau bisa melakukannya kenapa aku tidak?" jawab Changmin sambil tersenyum lebar. Entah mengapa ia selalu ingin menampilkan wajah ceria di depan Jaejoong. Ia ingin selalu bahagia di samping Jaejoong. Segala-galanya memang lebih baik di masa lalu ternyata.
Namja cantik tersebut menghela nafas panjang, kemudian merendahkan wajahnya. Ia tersenyum tipis, tetapi tidak ingin Changmin mengetahuinya.
Jaejoong mengacak-acak rambut 'putranya' dengan kasih sayang yang tersirat dari dua iris teduhnya, kemudian merangkul namja tersebut.
"Ayo pulang, sebelum kau pingsan lagi, terlebih di tempat yang tidak elit ini." Mereka berjalan menjauhi lapangan, membiarkan tiga namja lain yang termenung dengan pikiran mereka masing-masing.
Junsu benci keheningan, ia ingin mengajak Yoochun mengobrol tetapi tidak enak dengan Yunho. Serius, ia tidak tahu apa yang terjadi di sini sama sekali. Dan ia takut menyulut kembali api emosi Yunho jika ia mengatakan hal yang salah.
Ia menatap sekeliling, kemudian terhenyak melihat dua tubuh yang diam tak bergerak di pinggir lapangan.
"Chunnie, ada mayat!" teriak Junsu sambil mendekati Yoochun, bersembunyi di belakangnya. Yoochun yang kaget dengan teriakan sekaligus apa yang diteriakan oleh Junsu segera mundur dan menatap dari jauh benda yang ditunjuk namja cempreng itu.
Benar saja, di tempat yang ditunjuk Junsu terdapat dua manusia dengan kondisi tubuh yang babak belur.
"Mereka tidak mati, cuma pingsan," ucap Yunho tiba-tiba. "Changmin yang menghajar mereka tadi."
"Eh, Changmin?" tanya Junsu balik. Yunho mengangguk meyakinkan. Ia menghampiri dua tubuh yang tergeletak tersebut, memastikan bahwa mereka benar-benar masih hidup tetapi sudah tidak mampu lagi melawan.
Yoochun dan Junsu mengikuti Yunho di belakangnya sambil saling berpandangan diam, tidak tahu harus berkata apa. Sepanjang perjalanan ke sini saja mereka sudah dibuat terkejut dengan cerita yang disampaikan Jaejoong tentang rencana Ahra yang hendak menculik Yunho dengan menggunakan anak buah ayahnya.
Tak terbayangkan seperti apa pengorbanan Jaejoong, meski Junsu tahu sebenarnya Jaejoong lebih suka berkelahi demi kebaikan. Tetapi menolong Yunho sampai seperti ini? Seolah-olah Yunho adalah orang paling penting sedunia. Apa sebenarnya perasaannya selama ini benar tentang Jaejoong yang selalu memandang Yunho dengan pandangan yang lain? Apakah itu pandangan... cinta?
Junsu menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Kemudian pikirannya melayang pada adegan beberapa saat yang lalu, antara Jaejoong dan Changmin. Mereka terlihat lebih dekat dari perkiraannya, apa Jaejoong punya hubungan dekat dengan Changmin? Aaahhh, ia jadi penasaran seperti ini. Sudah lama ia tidak berkunjung ke rumah Jaejoong, ia jadi ingin mengobrol banyak dengan sepupunya itu.
"Su, jangan melamun. Kau hampir menginjak orang di depanmu."
Suara Yoochun menyadarkan Junsu yang tanpa sadar terus berjalan sampai nyaris menginjak kepala seseorang. Ia tersentak dan segera berlari ke belakang Yoochun.
"Ayo pulang, Chun. Orang-orang ini mengerikan," ucap Junsu ketakutan.
Yoochun menatapnya datar. "Orang yang kau pukul sampai pingsan tadi juga sama mengerikannya dengan mereka." Junsu hanya tertawa pelan mendengarnya.
Yunho berdiri, setelah puas berjongkok mengamati keadaan mayat hidup itu satu per satu. Sedikit takut sih, siapa tahu mereka akan bangun lagi. Tapi dilihat dari keadaannya sih sepertinya tidak.
Ia masih merasa tidak enak. Ia berhutang nyawa pada Changmin, dan tadi malah ia hampir saja hilang kendali. Hah, sungguh namja tidak tahu diri sekali dirinya. Hal yang ada di kepalanya untuk saat ini adalah meminta maaf pada Changmin dan Jaejoong, sekaligus mencari tahu tentang apa yang terjadi di masa depan sana.
Apa benar di masa depan nanti ia hanya akan menjadi pengganggu bagi Jaejoong dan Changmin? Tapi kenapa? Ia butuh penjelasan dan Changmin tidak mau memberitahunya. Kalau begitu untuk apa sebenarnya namja itu membuatnya kesal seperti tadi? Agar ia mengikuti kemauan anak itu? Menjauhi Jaejoong? Setelah bertahun-tahun ini bisa sedikit mendekatinya? Yang benar saja!
Tuk.
Yunho menunduk merasakan ada sesuatu benda yang tidak sengaja ditendangnya. Ia melihat sebuah botol obat yang terbuat dari kaca kecil berwarna cokelat dengan label di luar. Segera diambil botol tersebut dan langsung membaca apa yang bisa dibaca di sana.
Thiamine.
Tiamin? Milik siapa? Apa milik kedua penjahat itu?
Namun Yunho tak lagi bertanya-tanya saat diputarnya botol tersebut dan menemukan label lagi di sisi lainnya. Dahinya mengernyit.
Changmin.
Mungkin terlempar ke luar dari kantung atau entah dari mana saat ia berkelahi tadi. Tetapi Changmin menyimpan tiamin? Untuk apa?
"Hyung, kajja pulang. Nanti juga orang-orang itu ada yang menjemputnya!" teriak Yoochun dari kejauhan. Ia rupanya sudah ditarik-tarik Junsu untuk cepat pulang.
"Ya, aku menyusul sebentar lagi!" balas Yunho sambil mengantungi botol tiamin yang ditemukannya. Harinya benar-benar ajaib. Ia melangkahkan kaki meninggalkan lapangan basket, mempercepat langkahnya begitu menyadari tidak ada lagi Yoochun dan Junsu di sekitar sana.
Saat melewati depan ruang rapat, Yunho hanya bisa memasang wajah bingung. Guru-guru sepertinya tidak menyadari bahwa tadi sempat ada keributan, buktinya saat Yunho mengintip, mereka terlihat tenang dan masih serius menjalankan rapat.
Yunho terus berjalan dengan santainya, sampai ia mendengar suara derap kaki yang berat dan terburu-buru semakin mendekat padanya. Ia kaget, kemudian bersembunyi di balik pintu ruang loker yang tumben sekali belum dikunci saat pulang sekolah. Dapat ia lihat melalui celah bawah pintu beberapa pasang kaki yang lewat, kaki-kaki yang menggunakan sepatu macam tentara.
Namja tampan itu bergidik, kemudian secepat kilat keluar dari persembunyiannya setelah suara derap sepatu itu menghilang. Ia berlari dengan cepat sampai ke parkiran dan mengambil sepedanya dengan buru-buru.
"Kenapa mereka lama sekali dasar bodoh, menculik Yunho-oppa saja seberapa sulitnya sih?" dengus Ahra kesal sambil menendangi kerikil-kerikil kecil di depannya. Ia sedang sendiri, dan tidak menyadari Yunho yang sudah berada di belakangnya dan mendengar semua itu.
Tidak sengaja.
"Jadi kau yang ada di balik semua ini?" seru Yunho kesal. Bisa dilihat Ahra yang kaget setengah mati, membalikkan badannya dengan takut-takut dan memasang wajah memelas saat berhadapan dengan Yunho.
Tapi Yunho mana bisa tertipu.
"O-Oppa, i-itu..." Ahra tergagap, sudah ingin menangis saja rasanya tertangkap basah mengatakan sesuatu yang melibatkan namja yang jelas-jelas ada di hadapannya, dan mendengar kalimat terkutuk tadi!
"Sudahlah Ahra, aku tidak menyukaimu. Percuma hidup denganku kau tidak akan bahagia, dan lagi kau tidak tahu apa yang telah kau perbuat! Jangan harap aku akan memaafkanmu," omel Yunho. Ia kesal setengah mati, jadi gara-gara yeoja ini Changmin harus berkelahi untuknya padahal ia baru saja sakit (yang juga disebabkan oleh yeoja ini, lagi-lagi). Mungkin kalau Yunho tahu bahwa Jaejoong juga berkelahi dan mempertaruhkan nyawa untuknya, sudah tidak tahu lagi bagaimana nasib yeoja itu di tangan Yunho.
Ahra mulai menangis, tapi tak diacuhkan oleh Yunho. Ia menjalankan sepedanya pelan, berpura-pura tuli dengan Ahra yang terus memanggilnya.
.
.
"Minnie, jangan lupa minum susunya. Umma mau patroli dulu ke perusahaan appamu mengingat ia sedang di Jepang sampai besok. Cepat sembuh, ne." Heechul mengecup dahi Changmin dengan gemas, yang dibalas dengan anggukan saja oleh Changmin yang mulutnya sedang penuh dengan bubur. Ia melambaikan tangan pada 'umma' atau lebih tepatnya sih 'halmoni' yang dengan kilat menghilang di balik pintu.
Changmin menyuapkan kembali sendokan besar bubur ke mulutnya, tak peduli sakit atau tidak nafsu makannya tidak pernah berkurang. Terlebih bubur buatan ummanya itu sangat enak. Eh tunggu dulu, umma yang mana?
Kim Jaejoong maksudnya. Ia masih berkutat di dapur, sedang mencacah-cacah daging. Terdengar berkali-kali hantaman pisau daging sampai ke dalam kamar di mana Changmin sedang berbaring. Namja itu tersenyum-senyum sendiri.
Sudah tiga hari ini Changmin dan Jaejoong tidak masuk sekolah. Semenjak berkelahi waktu itu, keadaan Changmin memburuk, karena kepalanya makin terasa sakit, penglihatannya makin memburuk, bahkan sempat mengalami sesak nafas. Keluarga Kim sudah panik saja dan berniat membawa Changmin ke rumah sakit, tetapi anak itu menolaknya keras-keras.
Jadilah Changmin dirawat di rumah saja. Bahkan ia tidak mau diperiksa oleh Dokter Hwang, dokter kepercayaan keluarga Kim. Heechul dan Hankyung sangat menghawatirkannya, terlebih malam itu Hankyung harus berangkat ke Jepang untuk mengurus cabang perusahaan yang baru, jadilah tiga hari ini selalu ada saja telepon dari Hankyung yang ingin mengetahui perkembangan kesehatan Changmin. Pasangan seumur hidup tersebut tidak mempedulikan Jaejoong yang saat itu tampangnya babak belur. Toh ia biasa pulang dalam keadaan seperti itu.
Selama tiga hari ini pula Jaejoong tidak berangkat sekolah dan memilih merawat Changmin. Padahal ia sudah dipaksa-paksa Heechul saja untuk bersekolah, tetapi ia bersikeras ingin merawat Changmin.
Untung saja di hari yang ketiga ini keadaan Changmin cukup membaik, tidak seperti kemarin. Malam kemarin Jaejoong nyaris tidak bisa memejamkan matanya karena demam Changmin yang tinggi. Anak itu terus muntah-muntah dan beberapa kali mengeluh sesak nafas.
Yang lebih anehnya lagi, Changmin tidak mau makan obat apapun kecuali Vitamin B1. Heechul dan Jaejoong sempat hendak membawa paksa Changmin ke rumah sakit meskipun namja itu memberontak, tetapi melihat keadaannya yang membaik, akhirnya mereka tetap merawat Changmin di rumah.
Changmin tersenyum-senyum lagi, sendiri, sambil menatap gorden jendela di kamar milik Jaejoong ini yang sekaligus sudah menjadi miliknya, yang mengembang pelan ditiup angin. Ia menyuapkan suapan terakhir bubur pada mulutnya. Pipinya sedikit menggembung akibat bubur overdosis yang dimasukkannya. Ia sedang berpikir, sungguh beruntung ia bisa kembali ke masa lalu dan bertemu dengan keluarga ini. Keluarganya.
Hanya saja, mengingat tidak bisa merasakan yang seperti ini lagi di masa depan membuatnya sedih. Mungkinkah nanti ia bisa merasakan kehangatan dan perhatian halmoni serta harabojinya? Apakah saat ia jatuh dan tumbang seperti ini, sang umma akan ada di sampingnya, terus memberinya kekuatan seperti tiga hari terakhir yang terasa sangat berkesan ini?
Cklek.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jaejoong yang baru saja masuk ke kamar dan mengambil mangkuk kosong bekas bubur di meja. Changmin tak menjawab, hanya tersenyum. "Appa menanyakan keadaanmu LAGI. Sudah ke-19 kalinya ia menelepon sejak pergi dua malam yang lalu. Tak habis pikir, sebenarnya yang anaknya itu aku atau kau?"
Jaejoong menatap segelas susu yang belum disentuh Changmin. Namja cantik itu menggerakkan jarinya, menunjuk gelas tersebut, menyuruh Changmin segera menghabiskannya.
Changmin membentuk tanda 'oke' dari jari tangannya dan segera meraih gelas tersebut, menenggak isinya. Jarang sekali seumur hidupnya ia bersikap manis dan manja. Belum pernah, malah. Tapi ia tidak akan menyia-nyiakan momen ini. Hanya sekali dalam seumur hidup ia mendapatkannya.
Sebuah senyum tercetak di wajah cantik Jaejoong, yang meski sekarang dihiasi beberapa plester untuk membantu menyembuhkan luka-luka kecilnya. Beberapa hari ini ia merasa keadaan Changmin sangat berpengaruh baginya. Ia tak mengerti kenapa tapi... ia akan mencoba menyayanginya. Belum sepenuhnya, tetapi ia akan mencoba.
"Terima kasih," ucap Changmin sambil menyodorkan gelas kosongnya pada Jaejoong.
"Kau pikir aku pembantumu?" ujar Jaejoong datar. Tapi hanya sebentar, setelahnya ia tersenyum dan mengusap pipi anaknya yang masih terasa hangat itu. Ia keluar dari kamar untuk mencuci peralatan makan yang kotor, dan Changmin memutuskan untuk tidur lagi setelah menenggak vitaminnya pagi itu.
Sebelum Changmin benar-benar terlelap, terdengar suara bel rumah yang menggema. Sontak ia membuka matanya dan memutuskan mengintip dari jendela siapa yang datang. Bisa ia dengar suara langkah kaki Jaejoong menuruni tangga, menuju ke pintu utama di lantai bawah.
Changmin berjalan dengan hati-hati sembari memperhatikan langkahnya. Ia menyibak gorden jendela dan menyipitkan mata saat bertemu dengan cahaya matahari. Ia melihat tiga orang namja yang wajahnya tidak begitu jelas kelihatan dari tempatnya, atau mungkin karena pandangannya yang mengabur lagi. Ia kembali ke tempat tidurnya, tidak peduli siapa pun tamu yang datang.
Tapi Changmin yang malang, saat ia hendak menutup kembali matanya, pintu kamar sudah dibuka oleh namja imut yang suaranya langsung membuat gaduh suasana. Di belakangnya Yoochun mengekor, dan yang paling membuat Changmin melebarkan matanya adalah kehadiran Yunho di sana. Namja tampan itu mendekati tempat tidur Changmin dan memandang anak itu dengan tatapan penuh penyesalan.
"Changmin-ah, mianhaeyo..."
Changmin terdiam, selama beberapa saat bibirnya kaku. Ia mencari-cari sosok Jaejoong yang tak kunjung masuk ke sana juga. Entah mengapa ia merasa tidak sanggup menghadapi namja di hadapannya itu sendirian.
.
.
Current Music: Remioromen - Konayuki (Powdered Snow/Butiran Salju) T~T
Author's Note: UAPAA INII? NI FF JELEK BENER! Berasa JaeMin sama HoMin nggak, sih? Wkk. Maafkan Hareth yg lagi galau plus sedih entah kenapa *orang gila*, tetap beri kesempatan buat FF gagal ini tetap eksis paling nggak sampe tamat ya *entah ngomong sama siapa* Hareth nggak bakal re-publish soalnya kalo FF ini dihapus (lagi), karena hanya ini satu-satunya FF di FSPI yang Hareth punya *nyerot ingus*
Special thanks:
Tha626, domo arigatou! Udah bisa kejawab kan pertanyaannya? Belum kepikiran sih mau sad ato happy, semoga yang terbaik ^^!
WidiwMin, domo arigatou! YooSu juga dieksis-in nih, udah terjawab kan pertanyaannya? Yosh, udah update ^^
VoldeMIN vs KYUtie, domo arigatou! Tenang kawan, parasitnya udah musnah. Sudah terjawab kan pertanyaannya ^^?
ecca augest, domo arigatou! Iya say (?) #plak! Going Home: Farewell itu bagian dari ending Going Home, tapi udah tak hapus karena bikin ga surprise lagi endingnya u,u
hyunhyun, domo arigatou! Yg terjadi di masa depan adalah... jeng, jeng, jeng... dunia akan kiamat! #ditonjok#. Ini dah update. Iya, ga papa kok ^^
mikaka, domo arigatou! Ah, Ahra itu kn bisa melakukan apa saja xD sudah terjawab kan pertanyaannya?
all45, domo arigatou! Sudah nggak penasaran kan setelah membaca chapter ini? *.*
umi elf teukie, domo arigatou! Hee, mau tahu? Baca terus FF ini dong xD *dijambak* Ini udah update, cepet kan? Hwaiting too ^^
bw, domo arigatou! yo juga mbaksis(?) iya gpp... oh, nanggung apanya mbak? Kalau ada yg bikin gk enak sampaikanlah, nanti saya perbaiki. Sayang papih Gege ga bisa dateng, u,u fight too~!
Beakren, domo arigatou! Ya bersambung dong, masa mau tamat begitu? Haha, ini udah kilat, ne :D hwaiting too!
minna, domo arigatou! Tonjok aja chingu, gk ada yg marah :D sudah terjawab kah pertanyaannya? Semangat too~!
Han Neul Ra, domo arigatou! Syukurlah kalo lucu... wahaha, tenang aja chingu, Min kan sudah mempertimbangkan segala sesuatunya dan memperhitungkannya secara akurat menggunakan sempoa #duak! Yo, fighting too ^^
Priss Uchun, domo arigatou! Sudah terjawabkah pertanyaannya? Misinya Min itu buat YunJae nggak bersatu di masa depan. Wow, tukeran boleh tuh xD *plak* Yoyoy, semangat too~!
Ririn, domo arigatou! Sudah terjawab dong pertanyaannya? Iya, aku juga nggak rela kalau Yunho harus bersama dengan Ahra ^^v Ini dah kilat, kan?
Jung Happy' Familly, domo arigatou! Iya, sama2 Linz :) huhu, maaf... kalo aku jawabnya blak-blakan sama aja bocorin endingnya dong, nggak seru ntar XD Ini udah sekilat-kilatnya, chingu~
Miyuk, domo arigatou! Wah, kamu satu2nya yg penasaran klo Yunho Ahra nikah xD oh nggak tiap hari update dong, bisa tepar daku u,u
rinda, domo arigatou! Annyeong juga, wah Han appa gak bisa nolong, lagi kondangan #ditabok# cepatkah updatenya, chingu? ^^
Hikari, domo arigatou! Sepertinya itu obsesi, chingu~ He-eh, Min emang rencananya mau mencegah YunJae bersatu, tapi ada alasan lain di sana :) Sudah terjawab semua kan, pertanyaannya?
dinda D, domo arigatou! Misi Changmin itu singkatnya mau bikin YunJae gak bersatu, chingu~ tenang aja, belum kepikiran kok mau happy atau sad ^^ *dicemplungin ke kawah panas*
dan yg udah dibales via PM: mikihyo, Bloody Evil From Heaven, yoyojiji, chidorasen, ChaaChulie247, Qhia503, Choi Kyo Joon, puzZy cat, dandelion dreamless, NaMinra, Henry Park, EvilmagnaeMin, Rosanaru, LawRuuLiet, kucing liar, gdtop, Jung Mingsoo.
Part of silent readers?
Thanks, too. Keep reading yoo, but I'll always wait for your speech ^^,
Maaf untuk salah-salah kata, salah nyebutin yg review, lupa nyebutin yg review, typos, cerita yang membosankan dan ngantukin. Sampai ketemu di chapter berikutnya!
Love, love, love,
Hareth.
