No pairing

Post-canon

mystery, tragedy, friendship

Reborn, 3 tahun

Tsuna, 16 tahun (1 SMA)

-...-...-...-

Disclaimer: Penulis tidak memegang hak cipta Katekyo Hitman REBORN!

-...-...-...-

AN: Kalian pasti berpikir aku gak ngapa-ngapain selama hampir satu tahun ini. Hahaha kalian salah! Sebenarnya chapter ini sudah lama selesai, tapi aku belum puas dan masih ingin nambah cerita lagi. Tapi, sepertinya chapter yang isinya banyak tidak cocok untuk perfectionist aneh sepertiku. Kalau belum puas nanti malah gak update-update jadi biar ceritaku jalan juga aku harus update apa saja seala kadarnya. Toh kalau jelek banget kalian pasti bilang kan, kan. Setelah beberapa saat AN ini akan dihapus. Terima kasih banyak pada pengikut dan cerita ini dan yang menyukainya juga. Singkatnya, tanpa kalian, cerita ini tidak akan pernah ada ;) Andai saja ada cara untuk membalas kalian (ada kok! cepet update dong bos!) Andai saja ada cara untuk membalas kalian... (jangan pura-pura gak denger!) Jangan lupa cek prolog (mission 0) yang baru ditambahkan.

-...-...-...-

Sebelumnya: Reborn pergi ke dunia paralel lain untuk memeriksa keadaan Tsunayoshi (Tsuna dari paralel lain), meninggalkan Tsuna (dari dunianya) dengan keadaan yang tidak terlalu baik (Gokudera menghilang, Nana masuk rumah sakit, dll), atas permintaan Uni dkk. Saat berdiskusi dengan Tsunayoshi yang saat itu tinggal di Kokuyo untuk kembali ke Namimori, datanglah Ken dan Chikusa yang terluka parah.
-...-...-...-

Biasa = Biasa

Italic/garis miring = kilas balik (flashback)/ kata asing/suara yang ditimbulkan benda mati/hal-hal misterius lainnya

-...-...-...-

#mission 5

-...-...-...-

Reborn dan Tsunayoshi menatap pintu depan yang baru saja dilewati Ken dan Chikusa. Mereka terdiam untuk beberapa saat sampai suara gerusak-gerusuk menghilang dari pendengaran.

Reborn melihat ke arah Tsunayoshi.

"Kukira kau tidak punya teman?"

Tsunayoshi menundukkan kepalanya seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang makan permen saat masih sakit gigi oleh ibunya.

"Mereka bukan temanku," tapi kata-katanya tegas tanpa terlacak setitik pun kebohongan.

Reborn hanya diam sejenak sambil memperhatikan Tsuna, membiarkan kepalanya berpikir sebentar seperti pertapa. Tsuna selalu yakin pada apa yang dia percaya meskipun terkadang kenyataannya tidak selalu sama. Sampai sekarang pun dia masih percaya bahwa Hibari Kyouya bukan temannya, meskipun Hibari selalu ada saat dia paling dibutuhkan. Dan meskipun si aseksual itu sendiri sering mengaku (secara tidak langsung) kalau dia adalah salah satu dari keluarga Vongola-nya Tsuna, dengan banggannya bertarung menggunakan segenap peralatan 'berlogo' Vongola X. Jadi, kenapa Tsunayoshi harus berbeda? Meskipun dia pikir Ken dan Chikusa bukan temannya, tapi kenyataannya dia lebih peduli dari yang seharusnya.

"Tidak khawatir?"

"Tentu saja khawatir! Luka separah itu… uuh," marah Tsunayoshi, tapi ujung-ujungnya dia jadi salting.

Dalam hati, Reborn merasa bangga karena bisa membuat Tsunayoshi memberikan lebih banyak reaksi dari yang biasanya. Dia sungguh tidak bisa berhenti mempermainkan Tsuna!

Tsunayoshi menggeleng-gelengkan kepalanya dan memberi isyarat kalau dia tidak mau melanjutkan pembicaran ini lagi. "Sudahlah."

"Lagi pula apa yang bisa dilakukan. Mereka juga tidak ingin diganggu…" pikiran Tsunayoshi adalah kata-kata bagi Reborn.

Pikirannya sangat jelas terdengar saat Tsunayoshi membalikkan badannya untuk kembali ke dapur, kemungkinan mencari apapun yang bisa dia bersihkan untuk mengalihkan segala pikirannya. Dia mencoba kembali bertindak seperti orang normal di pagi akhir pekan, seakan-akan tidak pernah ada tamu berdarah-darah di sana. Hanya saja, orang normal biasanya bermalas-malasan di kasur saat akhir pekan.

"Mau bagaimana lagi."

'Shoganai', ini adalah tipikal orang Jepang, cara mereka dapat pasrah menerima segala keadaan dengan cepat. Reborn sama sekali bukan orang Jepang. Dia tidak mau menerima budaya semacam ini. Terutama dari muridnya. Belum lagi di saat genting seperti ini.

Reborn mengikuti Tsunayoshi ke dapur, hendak memasukkan Italian's common sense padanya. Tentunya dengan cara yang paling tidak mengenakkan yang bisa dia temukan. Tapi, tiba-tiba Tsunayoshi berlari panik, memperlihatkan balok-balok putih di bantalan merah muda padanya. Ada dua balok yang sebenarnya bukan balok, bentuknya lebih mirip seperti taring.

"I-ini punya Ken, bukan?" tanya Tsunayoshi tidak yakin.

Reborn menaikkan sebelah alisnya, melihat bolak-balik antara gigi palsu itu dan Tsunayoshi yang tidak berpengetahuan.

"Kau tidak tahu?" itulah yang membuat Reborn heran, "Ya, sepertinya itu punyanya."

Setidaknya, meskipun Reborn seharusnya tidak tahu hal itu, seseorang yang bersih dan rapi seperti Chikusa tidak mungkin meninggalkan benda seperti itu di ruang tamu orang lain. Jadi orang biasa pun jelas-jelas bisa menebak kalai itu punya Ken, kecuali kalau Tsunayoshi punya hobi aneh mengoleksi gigi palsu—yang tentu saja tidak mungkin apalagi dengan eskpresinya saat ini.

Mengingat fungsinya yang sangat penting, seharusnya sih Ken juga tidak akan meninggalkannya sembarangan. Apalagi sempat mengeluarkannya. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, melihat semua darah itu…. Ooh! Semua itu menjelaskan segalanya. Tentu saja mereka sedang diserang. Sejujurnya Reborn sudah menyadari hal itu sejak tadi, dia benar-benar sudah menyadarinya meskipun dia juga sibuk menikmati masakan Tsunayoshi…. Bukan, tentu saja bukan begitu.

"Ha-harus dikembalikan," kata Tsunayoshi tanpa mengurangi tingkat kepanikannya, "I-ini penting," dia mengatakan kalimat terakhirnya dengan lemah seakan dia hanya menebak dan tidak yakin pada tebakannya, tapi dia seratus persen benar.

Dia hendak berlari keluar menyusul Ken dan Chikusa yang seharusnya belum pergi terlalu jauh meskipun luka mereka sudah dibalut dengan sempurna oleh duo pertolongan pertama itu (di dunia Reborn, meskipun Ryohei yang punya kekuatan menyembuhkan, entah kenapa kalau soal pertolongan pertama Tsuna jagonya. Reborn juga sempurna, dan karena suatu kejadian, keduanya disebut duo pertolongan pertama). Tapi, keduanya sedangdan kemungkinan masih diserang. Dalam pertarungan, tidak ada keajaiban dua kali sementara yang pertama sepertinya telah menolong mereka dari serangan sebelumnya. Dan satu menit dalam pertarungan—atau lebih tepat pembantaian mengingat luka mereka, Reborn mau tidak mau memikirkan kemungkinan itu—bisa mengakibatkan banyak hal. Bahkan mungkin saat ini mereka tidak dapat tertolong lagi. Meskipun Tsunayoshi pasti tidak mengetahui hal itu, dia bergegas hendak mengejar Ken, masih mengenakan sendal rumahnya. Dipikirannya, dia pasti hanya sedang mencoba melakukan apa yang seharusnya semua orang lakukan, bukannya mengembalikan sebuah senjata kepada dua orang—kemungkinan buronan dunia mafia yang kemungkinan sedang dikejar oleh…

"Tunggu!" Reborn menghalangi jalan keluar Tsunayoshi satu-satunya.

Tsunayoshi segera berhenti tanpa protes. Gerakannya sempurna seakan-akan dia memang berniat untuk berhenti sebelum Reborn menghentikannya. Matanya penuh keragu-raguan. Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan juga, tapi dia tidak berniat untuk segera angkat bicara.

"Ken dan Chikusa sedang diserang," Tsunayoshi tampak kaget, tapi tidak sekomikal Tsuna. Tapi, bukan karena dia lebih kalem, namun karena alam bawah sadarnya pasti sudah menyadari hal itu juga. "Bahaya kalau menyusul begitu saja. Apalagi…"

Reborn menurunkan pandangannya ke kaki Tsunayoshi. Sebenarnya dia hanya perlu berhenti mendongak saja karena tinggi badannya. Tsunayoshi ikut menurunkan pandangannya. Tsunayoshi baru sadar dia masih pakai sendal. Mukanya memerah sementara Reborn tersenyum penuh kepuasan karena bisa mempermalukannya.

"I-ini bukan seperti yang terlihat! A-aku tidak—" Tsunayoshi meraung frustasi. Untuk beberapa detik dia tampak berpikir dengan panik sebelum akhirnya berkata, "A-apa sebaiknya bawa senjata?"

Ide Tsunayoshi ingin melawan seseorang membuat Reborn ingin tertawa terpingkal-pingkal. Tidak aneh jika dia adalah Tsuna yang sudah terlatih dan memiliki teman-teman yang ingin dia lindungi serta berbagai pengalaman bertemu psikopat-psikopat yang ingin melukai mereka. Tapi Tsunayoshi adalah versi Tsuna yang bahkan belum pernah bertemu dengan guru privat sadis seperti dirinya sebelumnya (dia bahkan belum menunjukkan sisi sadisnya!). Kalaupun dia bisa seni beladiri, tetap saja bagi Reborn itu lucu. Tapi, Reborn tidak tertawa. Tidak juga berkomentar karena Tsunayoshi seharusnya tidak boleh selalu disamakan dengan Tsuna. Reborn tahu betul kalau mereka sebenarnya mereka karakter yang berbeda.

"Kalau kau benar-benar berniat mengejar mereka," sebelum Reborn selesai bicara, Tsunayoshi kembali ke dapur. Lalu dengan cepat dia kembali lagi ke pintu depan, sudah menggunakan parka biru bergambar angka dua puluh tujuh-nya.

Reborn bisa terima kalau Tsunayoshi membawa panci, penggorengan, spatula, atau bahkan garpu, meskipun dia benar-benar akan tertawa—atau mungkin facepalm—karenanya (Tunggu, garpu sepertinya lebih masuk akal mengingat pernah ada bos Vongola yang benar-benar menggunakannya dipertarungan, Reborn cepat-cepat menyingkirkan pemikiran itu). Jadi, saat sebilah pisau dapur yang masih baru lengkap dengan sarungnya, terlihat ditangannya, Reborn mengiris dengan sangat sampai-sampai terlihat di eskpresi wajahnya.

Sebenarnya pisau dapur itu cukup sederhana, malah tampak seperti lelucon dimata pembunuh profesional. Tapi, pada kenyataannya, pisau dapur baru adalah senjata paling sempurna bagi orang awam. Selain mudah dibawa-bawa, pisau dapur yang masih baru memotong dengan sangat baik, tapi yang membuatnya lebih baik lagi sekaligus mengerikan adalah kenyamanannya ketika digunakan—seakan-akan pisau itu menyemangati penggunanya. Tangan tidak akan merasa terlalu keberatan untuk mengiris atau memotong makhluk hidup yang sedikit berbeda dari yang biasanya: kentang dan ikan. Ketika otak berhenti berpikir dan insting keselamatan serta kebiasaan mengambil alih, hal yang mengerikan bisa terjadi. Membayangkan seorang Sawada Tsunayoshi memilih benda itu dibadingkan benda konyol lain yang biasa dia pakai(sarung tangan, sendal, kemungkinan dimasa depan gayung)—yang juga berarti dia memilih untuk merasakan perasaan seperti itu sangatlah mengerikan. Meskipun dia tidak tahu apa yang dia lakukan, intensitas kengeriannya tidak jauh berkurang. Itu hanya memberikan lebih banyak tragedi.

Reborn memang akan melatih Sawada Tsunayoshi menjadi bos mafia terbesar di dunia—seharusnya itu otomatis memasukannya ke dalam kategori kriminal kelas kakap—tapi, dia bersumpah tidak berniat merubahnya menjadi semacam pembunuh psikopat. Tsuna sendiri, yang secara teknis telah membunuh tiga orang: 1) Ghost, meskipun mungkin dia sudah bukan lagi manusia saat Tsuna membunuhya; 2) Byakuran di masa depan, bahkan tubuhnya sampai tidak bersisa dan tidak ada yang pernah membicarakannya, meskipun masa depan itu termasuk dunia paralel yang dibuat seakan-akan tidak pernah terjadi; 3) Daemon Spade, meskipun dia sudah berupa hantu, rohnya yang keluar dari tubuh Mukuro berarti sama dengan mati; sampai sekarang Tsuna tidak pernah menggunakan benda tajam.

Sementara Yamamoto itu cerita lain. Dia hampir selalu menggunakan punggung pedangnya, dan lagipula sejak awal pedang memang dimaksudkan untuk membunuh. Belum lagi kenyataan bahwa Yamamoto dilahirkan dengan bakat hitman sejati…

Melihat pandangan tidak nyaman Reborn, Tsunayoshi mengerti. Dia membangunkan Reborn dari lamunannya yang sebenarnya terjadi hanya beberapa detik saja di otak jeniusnya sehingga Tsunayoshi sendiri tidak tahu kalau Reborn sedang melamun.

"Aku berharap tidak akan menggunakannya."

Reborn tidak pernah mengharapkan hal yang sama lebih dari ini sebelumnya. Saat dia melihat Tsunayoshi yang ada di hadapannya, bukan yang ada di lamuannya, sebuah pemandangan terlintas dipikirannya.

"Aku yakin kau tidak akan menggunakannya."

Itu adalah pemandangan yang tidak relavan pada apapun, tapi menenangkannya lebih dari apapun. Di Bayangan itu, Tsunayoshi sedang diserang, dan dia melemparkan pisau dapur itu, bukannya ke penyerangnya tapi ke pinggir jalan. Dia memilih bertaruh dengan kepalan tangannya yang kurus atau meringkuk seperti dirinya. Ya, begitulah dirinya. Tapi, bayangan pemandangan itu justru membuat Reborn bertanya-tanya. Kenapa dia membawa itu kalau begitu juga akhirnya? Itu adalah misteri Tsunayoshi—Tsuna dari dunia lain—yang mungkin tidak akan pernah ia ketahui. Dan hal itu mungkin tidak terlalu penting.

Setelah selesai menggunakan sepatunya—hal yang rupanya ia lakukan sejak tadi—Tsunayoshi bergegas menuju pintu. Dia pergi bahkan tanpa berpikir apakah Reborn akan mengikutinya atau tidak.

Reborn tidak mengikutinya.

Ken dan Chikusa sedang diserang. Dua orang yang kemungkinan buronan dunia mafia. Dengan luka parah yang menceritakan betapa tidak berdayanya mereka berhadapan dengan lawan mereka, kemungkinan siapa—apa—lagi kalau bukan para Vindice. Dan Tsunayoshi sedang mengejar mereka. Tanpa pengetahuan apapun tentang mafia. Dan Reborn tidak mengikutinya.

Reborn menatap ruangan rumah Tsunayoshi disaat pemiliknya tidak ada di situ. Dia seharusnya mengikuti muridnya, berusaha menjaga keselamatannya, tapi sekarang dia punya kesempatan untuk akhirnya memulai rencananya. Reborn pun mengeluarkan kopor ajaib-nya.

UtDS

"Kenapa kita ada di sini?! Kenapa? Kenapa? Kenapa, byon?!" Ken melampiaskan perasaannya pada tembok gedung belakang sekolah. Pertanyaannya nyaris retrotikal, mengingat tidak adanya jawaban untuk pertanyaan tersebut.

"Ken… tanganmu berdarah," saking tidak tahu harus berkata apa, Chikusa menyatakan hal paling tidak penting bagi mereka saat ini. Dia tidak ingin diam saja— berlagak kalem—sementara hatinya tidak kalah berderu dari kawannya itu.

Sementara itu, tembok tetap membisu meskipun retakan mulai terbentuk di sekitar noda warna merah yang awalnya tidak ada di sana.

Chikusa menarik napas dalam-dalam. Jika pemimpin mereka tidak ada, dialah yang harus memikirkan sesuatu. Rasa tanggung jawabnya bukan sekadar karena dia adalah pemakai kacamata di antara mereka—mengingat stereotip bahwa orang berkacamata dalam beberapa anime menjadi pusat koordinasi kelompok—tapi karena Ken memang tidak seberisi dirinya baik di bagian kepala maupun jiwa. Sejak keluar dari nereka itu, meskipun Ken selalu memberi kesan dan mengatakan bahwa dia hanya menghormatinya, Chikusa tahu kalau dalam hatinya Ken selalu berharap banyak pada orang itu, orang yang selama bertahun-tahun ini berhasil memimpin dan melindungi mereka. Sekarang, dia hanya sedikit lebih baik dari anak ayam yang kehilangan induknya. Bukan berarti Chikusa jauh berbeda, namun kekaleman (dan kacamatanya) membuatnya terlihat lebih mandiri dari yang sebenarnya.

"Ken…" Chikusa memanggil nama teman senasib dan seperjuangannya lagi tanpa terdengar adanya perubahan intonasi dari sebelumnya. "Aku yakin Mukuro-sama pasti telah memikirkan semuanya… membawa kita ke sini."

"Apa gunanya?!" erang Ken. "Apa gunanya membawa kita kesini kalau Mukuro-san tidak ada?!"

Dug! Dug!

Merasa kurang puas memakai tinjunya saja, kini Ken membenturkan kepalanya dengan sangat keras ke tembok, meninggalkan tidak hanya retakan lebih dan lingkaran ke dalam, tapi juga beberapa helaian rambut pirangnya yang rontok.

"Ayo kita pikirkan baik-baik dulu," saran Chikusa yang sebenarnya maksudnya adalah, "Biarkan aku memikirkannya dulu," tapi Ken tidak mendengar baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Chikusa hanya dapat menghela napas. Dia akan menunggu Ken sampai dia tenang sebelum memberitahunya mengenai pengamatannya kenapa mereka belum ditemukan.

Sayangnya hal seperti ini tidak pernah terjadi pada mereka sebelumnya, dan dia tidak tahu sampai kapan Ken akan terus panik. Sejujurnya dia sendiri sudah panik, dengan caranya sendiri, tapi mengiktui prinsip cahaya—dimana ada cahaya pasti ada kegelapan—Chikusa menjaga ketenangannya. Lagipula, suasaanya akan makin buruk jika mereka berdua sama-sama panik.

"Cih, ternyata mereka tidak sehebat itu, byon," komentar Ken setelah Chikusa berhasil menenangkannya dengan mengatakan bahwa mereka bisa mencuri daging dengan mudah kapanpun mereka mau dan menjelaskan pendapat singkatnya tentang situasi mereka saat ini.

"Bukan begitu Ken. Tapi—"

"Atau rute pelarian yang Mukuro-san buat benar-benar tidak terkalahkan!" Awalnya Ken tampak lebih bersemangat dan hidup saat mengatakannya, tapi tidak lama setelah sadar bahwa orang yang telah membuat semua ini terjadi justru tidak ada bersama mereka, membuat pandangan matanya kembali ke tanah. "Jadi, kita tidak bisa ditemukan karena ada semacam pelindung di sekitar sini?"

Chikusa mengangguk, sedikit lega karena Ken tidak mulai depresi, "Setidaknya entah kenapa radar Vindice tidak bisa melacak tempat ini. Sebenarnya lebih tepat, Namimori. Mukuro-sama mengatakannya pada kita sebelumnya."

Sekelabat bayangan buah nanas dan mata tidak matching yang tersungkur di tanah terbesit di kepala mereka. Bukanya terlihat tidak berdaya, orang itu malah terlihat seperti menyerahkan dirinya dengan rendah hati meskipun kenyataannya adalah yang sebaliknya. Kata-katanya tegas dan memberi kekuatan, tapi Ken terlalu panik untuk mencernanya — atau dia terlalu pelupa untuk ingat jika dia mengerti. Dengan cepat, bayangan itu dipaksa keluar dari kepala Ken dan Chikusa. Tidak ada yang mengingat saat-saat itu.

"Karena Kokuyo dekat dengan Namimori, jadi kita bisa berlindung dengan aman di tempat ini. Begitu, ya byon?" Ken menyimpulkan.

Sekali dia tenang dan diam sebentar, Ken bisa mengerti banyak hal asalkan dijelaskan dengan sederhana dan tidak terbelit-belit. Kalau dia terlalu bodoh, dia tidak akan pernah tahu channel apa yang harus dia pakai di saat tertentu. Meskipun, mungkin tidak salah kalau berpikir dia hanya ingin pamer, seperti Chikusa.

"Tetap saja kita tidak boleh membuat kekacauan di sini. Tempat ini belum tentu sepenuhnya aman," tapi Chikusa mengingatkan bahwa mereka masih bisa mencuri beberapa makanan di pasar tanpa menjadi terlalu mencolok sebelum dia sadar kalau mereka masih punya banyak uang di akun bank curian mereka.

"Berarti, byon, bukannya lebih aman kita di Namimori saja?"

Chikusa membetulkan letak kacamatanya, "Tapi, Mukuro-sama sudah mempersiapkan identitas palsu untuk kita di sini." Meskipun nama mereka tidak berubah, Mukuro pasti sudah melakukan sesuatu agar mereka—yang bahkan tidak punya akte kelahiran—bisa diterima sebagai murid di SMA Kokuyo. "Mukuro-sama pasti merencanakan sesuatu. Dan dia akan merencanakan sesuatu agar bisa kabur dari Vendicare bagaimanapun caranya, bahkan meski kita tidak melakukan apapun."

Itu adalah fakta bukan opini. Masalahnya, mereka ingin melakukan sesuatu untuk Mukuro yang telah banyak membantu mereka. Dan kenyataan benar-benar pahit. Tidak mungkin mereka bisa melakukan sesuatu untuk membebaskan seseorang dari penjara saat mereka tidak bisa atau tidak tahu harus melakukan apa setelah mereka sendiri bebas dari penjara berkat seseorang yang membebaskan mereka dan ingin mereka bebaskan. Semuanya terdengar sangat rumit. Ken sampai tidak ingat untuk mengomentari Kakippi yang mengatakan sesuatu yang seperti berada diluar karakternya.

Dan apapun yang mereka diskusikan atau bicarakan selalu kembali lagi pada pemimpin mereka yang bernama Mukuro itu. Kini bukan hanya Ken, tapi juga Chikusa merasa ada sesuatu yang menarik di tanah—atau sepatu mereka. Keduanya sama-sama menundukkan kepala mereka. Ken menggertakkan giginya. Kedua taringnya yang terlihat jelas tampak berbahaya. Udara di sekitar mereka terasa berat dan mencekat.

Suasana depresi seperti ini bukan sesuatu yang bisa dipotong dengan gunting atau siswi cantik dan seksi yang kebetulan lewat (bukan berarti ada). Umumnya, suasana seperti ini hanya bisa dipotong dengan line break yang dengan egoisnya dipasang penulis pada cerita-cerita. Oleh karena itu, saat ada sekelabat bayangan sesuatu berwarna cokelat yang tampak halus dan lembut melintas di adegan ini, Ken dan Chikusa merasa kebingungan. Mereka sampai membeku di tempat mereka selama beberapa detik yang bagi mereka, terasa seperti salamanya.

Sesuatu yang rupanya adalah seorang siswa berseragam hijau seperti mereka itu berjalan dengan tenang melewati mereka seakan-akan mereka tidak ada di sana, seakan-akan dia tidak dapat merasakan udara yang berat. Siswa itu mungkin tidak bisa membaca suasana, pikir Chikusa. Seorang KY, Kuuki Yomenai. Sungguh keterlaluan jika dia hanya memilih untuk tidak membaca suasana. Lebih buruk lagi jika dia sudah ada di sekitar situ sejak tadi yang berarti—

"Kau menguping pembicaraan kami barusan, ya, byon?!"

Siswa itu tidak menjawab. Atau lebih tepatnya, dia tidak perlu menjawab saat dia sudah ada beberapa meter di depan Ken dan Chikusa dan mengangkat bak yang dia pegang serta membuang isinya ke dalam bak yang lebih besar di hadapannya. Dia hanya petugas piket, Chikusa berkata pada dirinya sendiri. Masalah terpecahkan.

"Ayo kita pergi, Ken," Chikusa menarik ujung baju Ken, hal yang tidak pernah dia lakukan. Dia tidak ingin Ken membuat ribut saat mereka seharusnya menghindari segala macam konflik.

Jangankan ketakutan, siswa itu bahkan tidak merespon selayaknya makhluk hidup. Dia kembali melewati Ken dan Chikusa dengan pandagan seperti hantu. Hal ini membuat harga diri Ken serasa ditampar dua kali.

"Brengsek, kau yang di sana, byon! Apa kau tidak mendengarku?!" tanpa menunggu lagi, Ken menerjang siswa malang itu.

Dia melepaskan dirinya dari genggaman Chikusa yang loyo. Tapi, saat dia pergi, Chikusa membuka genggaman tangannya dan memperlihatkan sobekan kecil kain berwarna hijau. Seragam Kokuyo yang sangat tidak berkualiatas terdengar jauh lebih masuk akal daripada Chikusa yang mempunyai kekuatan tersembunyi, untuk dijadikan penjelasan atas terjadinya hal gaib tersebut.

Tidak tampak terkejut, dengan cepat, Chikusa mengalihkan pandangannya dari sobekan kain itu menuju kedua teman sekelasnya.

"Nomor absen 27, Sawada Tsunayoshi," dia memperkenalkan orang yang dianggap Ken menguping itu.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku?" Tsunayoshi terdengar nyaris marah.

Cukup puas karena akhirnya mendapat reaksi, Ken melanjutkan, "Apa yang kau lakukan di sini, byon?!"

Tsuna menaikkan alisnya, mukanya hanya sedikit berekspresi, tapi Ken yang terbiasa dengan Chikusa membaca ekspresinya dengan jelas. "Serius, kau bodoh sekal. Masa begitu saja tidak tahu?" eskpresinya yang seperti berkata demikian membuat Ken meraung marah.

"Tenang, Ken," kata Chikusa yang kurang lebih mengerti apa yang Ken pikirkan. Dia membetulkan letak kacamatanya lagi. Sebenarnya dia sudah melakukannya belasan kali sejak tadi saat tidak ada yang melihat.

"... aku bukan byon..." tapi, apa yang Tsunayoshi katakan justru terdengar lebih bodoh.

Kalau Chikusa tidak kehilangan ekspresinya, dia pasti sudah tertawa meskipun tidak terpingkal-pingkal. "Itu hanya cara dia ngomong," jelasnya singkat.

Chikusa sebetulnya tidak banyak omong dan menonjol dibandingkan orang-orang edan disekitarnya, tapi kalau soal Ken dia tidak bisa berhenti mengawasi dan mengomentari setiap tindakan bodohnya. Dia bahkan tidak peduli kalau nanti rahangnya jadi pegal-pegal.

"Uwaaaaaa, byooon!" Ken yang kebingungan antara ingin marah, tertawa mengejek, atau malu memutuskan untuk berteriak seperti tarzan — menurutnya. Tangannya yang masih memegang kuat kerah Tsunayoshi, membuat siswa kurus itu berguncang-guncang.

"Apa maumu?" sembur Tsunayoshi dengan sedikit pedas, namun karena kurangnya ekspresi dan intonasi, dia tampak tidak terlalu kurang ajar.

"Itu kalimatku! Apa maumu?! B-byon!" Chikusa merasa geli mendegar Ken ragu-ragu mengeluarkan 'byon'-nya untuk pertama kalinya, tidak peduli semirip apapun kulit wajahnya dengan manequin dan tidak bisa berekspresi.

"Lepaskan. Aku tidak melakukan kesalahan apapun."

"Kau ini! Lihat aku, byon!"

Ken yang sebenarnya sudah dari tadi menatap mata Tsunayoshi makin memfokuskan pandangannya sendiri ke dalam mata Tsunayoshi, seorang siswa biasa dari dunia tanpa kekerasan yang berani kurang ajar padanya, Ken Joshima, dari dunia mafia yang keras. Ken gatal sekali ingin membuat orang dihadapannya merasakan sedikit saja kekejaman dari dunianya. Ken ingin membungkamnya, mengatakan pada wajahnya yang apatis—sekaligus naif dipandangannya—bahwa orang sepertinya tidak akan bertahan hidup. Dia adalah sampah masyarakat. Ya, lebih dari dirinya, Kakippi, dan Mukuro-san yang baru saja kabur dari penjara meskipun yang terakhir tidak berhasil sampai di sini. Ken tidak ingin melampiaskan kekesalannya hanya pada tembok dingin yang tidak akan merintih. Tapi—

"A-apa-apaan kau…" Ken melepaskan cengkaramannya pada kerah Tsunayoshi.

saat Ken menyadari emosi yang ada di dalam sana, awalnya dia tidak percaya, tapi kemudian dia merasa jijik. Anak bernama Tsunayoshi itu—yang lahir di dunia non-mafia—berani sekali memperlihatkan pandangan mata seperti itu pada dirinya dan Kakippi. Pandangan mata orang yang sudah kehilangan harapannya, putus asa, lebih dari sekadar dunia telah berakhir. Itu adalah pandangan mata yang seharusnya dimiliki mereka bukan seseorang dari dunia yang dapat makan tiga kali sehari tanpa khawatir apa yang harus dilakukan agar tetap bisa hidup.

Tapi, Ken dan Kakippi bahkan tidak akan pernah mau memiliki pandangan mata seperti itu. Itu karena merasa putus asa sama dengan tidak berterima kasih pada Mukuro-san karena telah diselamatkan. Betapapun sulitnya hidup mereka, mereka harus tetap melihat ke depan menyambut hari esok. Selain itu, mata Kakippi yang selalu kosong disebabkan karena dia dipaksa meminum obat yang salah, sehingga hal itu sangat bisa ditoleransi. Tapi, anak dihadapannya ini…

"Mau membodohi kami, byon?! Mengejek kami, byon?!" Ken sudah siap mengepalkan tinjunya. Masa bodo dengan melampiaskan perasaan, meskipun tidak ada hubungannya dengan keadaan Mukuro-san saat ini, anak di hadapannya ini benar-benar harus dipukul. Terutama setelah dia mengatakan, "Apanya?" dengan wajah sedatar Kakippi. Tidak ada yang boleh seperti itu selain Kakippi!

Bug! Pukulan pertama.

Bug! Pukulan kedua.

Tsunayoshi nyaris tidak bereaksi, tapi dia sedikit merintih kesakitan. Kedua kakinya masih menapak tanah dengan baik seakan mengejek kekuatan Ken yang meskipun tidak menggunakan channel-nya berada di atas rata-rata kekuatan anak seusianya.

"Berhenti mengejek, byon! Kau pikir kau adalah anak paling malang di dunia?! Tahu apa soal hidup, byon, hah!" Ken kembali mengepalkan tinjunya sementara tangannya yang lain lagi-lagi mencengkeram kerah Tsunayoshi, kemungkinan pukulan terkuatnya yang akan membuatnya langsung KO.

Pada detik itu, Chikusa belum dan sepertinya tidak akan mengatakan apa-apa. Mungkin dia juga merasakan kekesalan yang sama dengan Ken. Mungkin juga dia hanya tidak sempat apalagi karena kemungkinannya kecil dia melihat apa yang Ken lihat. Tapi, dia pasti akan merasakan apa yang Ken rasakan meskipun ekspresinya tidak dapat berubah.

Lalu, pada detik setelah detik itu, saat Ken siap melayangkan tinjunya, tanpa sadar Ken melihat sekali lagi ke dalam mata Tsunayoshi. Dia mencari rasa takut, penyesalan, kesadaran, apapun itu, yang berteriak meminta ampunan padanya, sebelum dia melanjutkan hukumannya. Dia kan tidak berencana untuk berhenti di situ saja.

Pada detik setelah detik itu juga, ada sesuatu yang melintas di dalam mata Tsunayoshi. Sayangnya itu bukan apa yang secara tidak sadar dicari Ken. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, namun jelas-jelas berbahaya. Seperti sosok bayangan putih tipis yang melintas selama sepersekian detik, namun cukup untuk menakuti semua orang yang melihatnya. Dalam sepersekian detik, Tsunayoshi tampak seperti orang lain dengan kebencian dan jenis kesedihan atau keputusasaan yang berbeda dari sebelumnya. Sepersekian detik itu cukup bagi Ken untuk melihat sinar baru itu bermain-main di dalam mata Tsunayoshi sebelum mencoba mencaplok dirinya.

"Anak paling malang di dunia? Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membungkammu," sosok dihadapannya seakan berkata demikian bagaikan pemburu sebenarnya sementara Ken—bukan, seluruh dunia—adalah mangsanya.

Namun demikian, sepersekian detik itu tidak cukup untuk menghentikan bogemnya yang melayang ke wajah Tsunayoshi. Tapi, itu cukup untuk membuat tenaganya berkurang dan meleset dari sasaran. Dimata Chikusa, pukulan Ken yang terakhir itu sangatlah payah bahkan untuk ukuran anak SD. Ken juga menyadarinya, tapi dia tidak berani untuk berbuat lebih jauh dari itu. Dia hanya ingin enyah dari makhluk di hadapannya. Dan itulah yang dia lakukan.

Ken bukanlah penyiar. Dia tidak punya jiwa sastra. Dia serampangan. Karena itu apa yang dia rasakan saat itu adalah kenyataan baginya bukan sekadar kata-kata yang dia susun belasan menit untuk melebih-lebihkan. Saat dia pergi meninggalkan Tsunayoshi yang memungut tempat sampah yang jatuh di tengah-tengah kekacauan, Chikusa yang sangat pintar untuk tidak berkomentar mengekor di belakangnya.

Chikusa mungkin tahu apa yang Ken pikirkan, tapi Ken mengatakannya juga, "Mana ada binatang buas yang tidak mengenal jenisnya sendiri."