FLASHBACK ON

Di Sunagakure, ada keluarga kaya pemilik perusahaan tambang yang merupakan salah satu yang terbesar se-Jepang. Keluarga itu adalah keluarga Inuzuka. Karena sang leader telah meninggal karena serangan jantung 2 tahun yang lalu, anak laki-laki satu-satunyalah yang memimpin perusahaan salah satu pemasok devisa terbesar se-Jepang. Ia bernama Inuzuka Kiba.

Tuan muda yang baru berumur 16 tahun itu sangatlah tegas. Ia sangat disegani oleh rekan kerjanya. Dan orang-orang yang bekerja sama dengan perusahaan Inuzuka sangat menghormati sang pemimpin muda ini.

"Kiba-sama, kami sudah menemukan dimana Hinata-sama bersekolah", seorang yang paling dipercaya Kiba, Aburame Shino, melaporkan hasil pencariannya terhadap Hinata.

Ya, Hyuuga Hinata. Gadis itu telah lama dicari Kiba. Sang leader Inuzuka Corp. itu mencintai anak dari keluarga Hyuuga. Perasaan cinta itu sudah berlangsung bertahun-tahun, hampir 4 tahun lamanya. Mereka terpisah karena Hinata pindah sekolah ketika kelas satu Junior High. Kiba saat itu belum sempat mengungkapkan perasaannya kepada Hinata.

"Dimana dia bersekolah", Kiba yang dari tadi melamun tentang masa lalunya langsung terlonjak. Ia sangat senang.

"Konoha. Di Konoha High. Kota tetangga kita".

"Konoha? Lumayan jauh dari sini. Ah, tapi aku tak perduli. Akan kulakukan apapun agar aku bisa bertemu dengannya lagi", Kiba sangat bersemangat. "Kau urus kepindahan sekolahku kesana, Shino".

"Ta-tapi Kiba-sama-".

"Apa kau membantah perintahku?", Kiba menatap Shino dingin. Hal itu membuat Shino bergidik ngeri.

"Hai', Kiba-sama. Akan aku urus secepatnya", Shino membungkukkan badan dan pergi meninggalkan Kiba.

Beberapa minggu kemudian, Kiba tiba di KonoHigh. Kedatangannya bersamaan dengan dilaksanakannya festival sekolah. Kiba yang baru saja sampai di KonoHigh langsung saja berkeliling, selain untuk mengenal lokasi sekolah ia juga melakukan hal itu untuk mencari Hinata. Namun sayang, hari pertama di sekolah tak semenyenangkan yang Kiba kira. Ia tak menemukan Hinata.

FLASHBACK OFF


NARUTO FANFICTION

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning : Typo and OOC

Pairing: NaruHina maybe others Hinata's pairing

goGatsu no kaze present

-I CHOOSE TO LOVE YOU-

Chapter 6


"Hinata-chan, siapa dia?", mata Hinata membulat. Naruto terpaku karena melihat posisi Hinata dan pria asing yang memeluknya kini.

"Na-Naruto-kun", Hinata langsung menyingkirkan tangan pria asing itu dari pinggulnya. Ia menjaga jarak dengannya.

"Kau tidak mengenaliku Hina-chan?", tanya si pria asing di hadapan Hinata.

"Kau, tahu namaku?", Hinata memiringkan sedikit kepalanya. Bingung.

"Hinata-chan, kau juga tidak mengenalnya? Hey kau, seenaknya memeluk kekasih orang", Naruto kesal. Ia menarik tangan Hinata sehingga gadis itu mendekat ke sisinya. Pria asing tersebut reflek menahan tangan Hinata yang satu lagi. Terjadilah aksi saling tarik tangan Hinata.

"Na-Naruto-kun", Hinata menahan sakit di kedua pergelangan tangannya yang ditarik.

"Go-gomen, Hinata-chan", Naruto yang tak ingin menyakiti Hinata langsung melepaskan tarikannya.

"Kiba-sama!", panggil seorang pria berkacamata hitam bulat pada pria asing di hadapan Hinata dan Naruto. Pria itu melangkah mendekat ke mereka bertiga.

"Kiba", gumam Hinata. Ia berpikir, sejenak kemudian ia rasanya mengenal pria itu. "I-Inuzuka Kiba?", tanyanya.

"Yokatta, kau mengenaliku", Kiba menunjukkan senyum gigi taringnya.

"Kau kenapa ada disini, Inuzuka-kun?".

"Aku akan bersekolah disini mulai semester depan".

"Pindah sekolah? Di Konoha?".

"Benar, Hina-chan".

Naruto yang dari tadi merasa tidak diperhatikan bersuara, "Hinata-chan, aku tak mengerti. Siapa dia?".

"Na-Naruto-kun, di-dia temanku dari Suna. Ka-kami satu Junior High", Hinata mencoba melepaskan genggaman tangan Kiba.

"Hina-chan, dia siapa?", Kiba yang dari awal memperhatikan Hinata mengalihkan pandangannya pada Naruto.

BLUSH

Wajah Hinata merona, Kiba yang melihatnya sedikit terkejut. Ia juga terpana, karena wajah Hinata yang merona membuatnya semakin manis. "Di-dia-".

"Kekasih", potong Naruto. "Aku Namikaze Naruto. Kekasih Hyuuga Hinata", Naruto tak suka Hinata dekat dengan pria lain.

Raut wajah Kiba berubah. Pernyataan Naruto bagaikan silet yang mengiris hati Kiba. Pujaan hatinya yang telah lama ia cari ternyata telah memiliki kekasih. "Kekasih", gumamnya pelan.

"Ehem, gomennasai Kiba-sama", orang keempat diantara mereka yang dari tadi diam saja memecahkan ketegangan yang saat ini telah melanda mereka. "Ada panggilan dari Suna, sebaiknya anda terima", katanya sambil menyerahkan sebuah ponsel.

"Shino, kau tidak lihat aku sedang berbicara dengan Hina-chan?", nada suara Kiba nampak kesal.

"Tapi Kiba-sama , kelihatannya ini sangat penting. Ini dari kakak anda", jelas Shino.

"Nee-chan? Mengganggu saja", Kiba menerima telepon genggam itu dengan malas. "Halo, ada apa nee-chan?". Kiba terlihat berbicara dengan orang di seberang telepon dengan serius, "Apa? Pulang ke Suna? Aku tak mau. Ibu kan bisa kau yang urus, kenapa harus aku. Haah, mendokusai", Kiba menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, membuat rambut coklatnya sedikit berantakan.

Hinata dan Naruto hanya saling tatap. Sedangkan Shino memperhatikan pembicaraan Kiba dan kakaknya. Tak lama kemudian Kiba menyudahi percakapannya dengan kakaknya. "Baiklah, aku akan pulang hari ini. Sampai nanti".

Kiba menyerahkan ponsel kepada Shino, "Kau cepat siapkan mobil. Nee-chan ku yang bawel menyuruhku pulang". Shino membungkukkan badannya sedikit dan meninggalkan Kiba. "Hina-chan, aku pulang dulu. Beberapa hari lagi kita akan bertemu. Tunggu aku", pria bergigi taring itu mencium punggung tangan Hinata. Wajah gadis indigo itu langsung saja merona atas perlakuan Kiba.

"I-Inuzuka-kun". Naruto yang melihatnya hanya bisa melotot, ia kesal sekali kali ini.


-I CHOOSE TO LOVE YOU-


Setelah meninggalkan Naruto dan Hinata di taman belakang sekolah, Sasuke terus mengikuti Sakura yang berputar-putar melihat isi sekolahnya. Para siswi yang memang fans Sasuke melihatnya terkejut. Sang idol boy KonoHigh dengan tenangnya terus mengekor dibelakang gadis berambut soft pink. Bahkan mata onix-nya tak mau lepas dari gadis itu.

Ya, Uchiha Sasuke memang mencintai Sakura Haruno. Sudah dari Junior High ia mengagumi gadis bermata emerald itu. Tapi karena rasa sukanya itu, ia menjadi pribadi yang sekarang. Dingin dan arogan. Padahal dulunya ia adalah orang yang hangat dan murah senyum. Karena Sakura lah Sasuke jadi begini.

Dua tahun lalu ia membuat Sasuke patah hati dengan menjadi kekasih teman dekatnya sendiri, Sasori. Yang membuat Sasuke bertambah sakit adalah kenyataan bahwa kedekatan Sakura terhadapnya adalah hanya siasat agar dia juga bisa dekat dengan Sasori. Maklum, Sasuke dan Sasori adalah teman satu klub, klub baseball.

Ia mendengarnya dari teman-teman sekelasnya. Padahal biasanya ia tak percaya akan rumor murahan yang beredar disekitarnya. Namun, Sasuke yang dibakar cemburu menelan bulat-bulat berita tersebut. Hatinya yang terlalu mencintai Sakura membuat ia buta akan segalanya. Ia merasa dikhianati. Tapi entah mengapa ketika ia melihat gadis itu sekarang, hatinya mulai melunak lagi. Love is blind.

Sasuke terus memperhatikan tingkah laku Sakura yang terlihat berseri-seri menikmati festival sekolah. Semua boot telah mereka kelilingi. Bahkan Sakura juga meminta Sasuke untuk menemaninya berkeliling tiap-tiap kelas.

"Apa maumu sebenarnya", tanya Sasuke dingin.

Sakura menghentikan langkahnya, ia menghadap Sasuke. "Mauku? Ada yang ingin kubicarakan padamu".

"Apa?".

"Ikuti aku", ajak Sakura.

Mereka berdua sekarang berada di ruang kelas yang memang tak ada penghuninya. Kelas itu sepi karena merupakan ruang praktikum, "Ada suatu hal yang ingin kukatakan padamu". Sakura serius, ia menatap Sasuke lekat-lekat.

"Hn".

"Aku mencintaimu", Sakura mengeluarkan semburat merah tipis di pipinya.

Sasuke tersentak dengan pernyataan Sakura. Orang yang sangat ia cintai bertahun-tahun lamanya mengatakan bahwa ia memiliki perasaan yang sama. Tapi mulutnya menolak, walaupun hatinya melonjak kegirangan, "Bohong. Kau suka Sasori".

"Sasori-kun? Kenapa aku harus menyukainya disaat aku menyukaimu? Ne Sasuke-kun, aku ingin kau mengetahui ini juga", Sakura menarik nafas sebentar, "Aku menyukaimu sejak kelas satu Junior High".

Sasuke terdiam, ia mencerna setiap perkataan yang diucapkan Sakura. "Tidak mungkin, kau mengejar Sasori".

"Mengejar? Aku mengejar Sasori? Untuk apa?", Sakura benar-benar bingung dengan perkataan Sasuke. "Bisakah kau jelaskan padaku?".

Sasuke tak tahan ingin mengungkapkan isi hatinya yang ia simpan bertahun-tahun. Isi hati yang tak sempat ia sampaikan ke gadis yang ada di hadapannya sekarang. "Kau mendekatiku hanya untuk mendekati Sasori. Awalnya aku tak percaya, namun itu semua langsung hilang ketika aku tahu kau juga pindah ke Kiri, untuk mengikutinya. Sejak saat itu aku tak mau percaya lagi padamu", jelasnya.

"Aku mengikuti Sasori-kun? Untuk apa? Dan tadi, apa kau bilang? Suka? Aku tak pernah menyukainya. Bukankah sudah kubilang kalau aku mencintaimu? Mencintaimu saja sudah berat bagiku. Aku tak memiliki kekuatan super untuk mencintai dua orang, Sasuke-kun", Sakura berpikir bahwa Sasuke telah salah paham padanya. Mungkin inilah alasan mengapa ia tak bisa menghubungi Sasuke selama ini. "Kau pasti telah salah paham", lanjutnya.

"Salah paham katamu, bukankah sudah ada buktinya. Kau ke Kiri, bukan? Kalau kau merasa ini salah paham, jelaskan padaku".

"Sasuke-kun, memang benar aku ke Kiri. Tapi bukan untuk mengejar Sasori. Apa kau tak tahu kalau ayahku di mutasi kesana?", Sasuke nampak tak percaya dengan Sakura, "Sebelum aku pindah, sudah berkali-kali aku merengek pada orang tuaku untuk membolehkanku tetap tinggal di Konoha. Namun mereka tetap tak membolehkanku. Aku tak bisa berbuat banyak Sasuke-kun".

"Apa kau bisa kupercaya. Aku meragukannya", ucap Sasuke tak percaya.

"Kau bisa bertanya pada orang tuaku kalau tak percaya. Sasuke-kun, kau kelihatan marah sekali. Oh iya, ada satu hal lagi", Sakura mencoba mengingat apa yang ingin ia sampaikan ke Sasuke, "Alasan kenapa aku baru mengatakan perasaanku sekarang adalah kau".

"Hn? Aku? Kenapa?".

"Bukannya kau menyukai Shion? Aku sering melihatmu berduaan dengannya. Kau juga terlihat lebih nyaman jika bersamanya. Aku jadi mengurungkan niatku untuk mengutarakan perasaanku", jelas Sakura.

"Kau sendiri juga sama, dengan Sasori".

"Satu-satunya alasan aku bisa dekat dengan Sasori adalah kau juga", Sakura membela diri.

"Aku lagi?".

"Iya, kau. Aku mendekati Sasori karena ingin tahu semua tentangmu. Yah, walapun aku tahu Naruto adalah orang yang paling dekat denganmu dari kecil. Tapi aku tak mempercayai mulutnya, ia orang bodoh yang sering kelepasan bicara. Aku memilih Sasori karena ia tampak bisa menjaga mulutnya. Kau juga bisa bertanya pada Sasori".

"Aku-"

"Aku tak mengutarakannya padamu karena takut ditolak", potong Sakura sebelum Sasuke berkomentar. "Aku sadar kalau aku hanya sekedar teman buatmu, aku tak mau kita saling menjauh karena perasaanku padamu", Sakura menitikkan air mata, "Setidaknya aku bisa terus dekat dengan orang yang aku sukai. Kau tahu bagaimana perasaanku ketika kau tiba-tiba menjauhiku Sasuke-kun? Sakit disini", Sakura menekan dadanya.

Sasuke tak tega melihat orang yang ia cintai menangis di hadapannya. 'Sekarang aku tahu apa yang si dobe itu rasakan ketika Hyuuga menangis tadi'. Ditariknya tangan Sakura dengan lembut, ia menghapus air mata di pipi Sakura. Sakura terkejut, ia langsung menghentikan tangisannya.

"Bodoh", Sasuke berkata seraya memeluk tubuh Sakura. "Kenapa tak bilang dari dulu kalau kau suka padaku? Aku telah salah paham padamu selama bertahun-tahun", Sasuke mengeratkan pelukannya.

"Sa-Sasuke-kun", Sakura tak percaya apa yang ia alami sekarang. Ini bagaikan mimpi , ia dipeluk oleh orang yang ia cintai.

"Aku juga mencintaimu, baka", Sasuke merona ketika mengatakan ini.

Sakura tersenyum senang, sangat senang. 'Kami-sama, kalau ini mimpi jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini'. Ia membalas pelukan Sasuke.


- I CHOOSE TO LOVE YOU-


"Hinata-chan, orang yang tadi itu siapa?".

"Di-dia temanku ketika di Suna, Naruto-kun. Na-namanya Inuzuka Kiba", jelas Hinata.

"Suna? Kau pernah tinggal di Suna?".

"I-Iya. Se-sebelum aku masuk Konoha High, a-aku bersekolah di Suna Junior High. A-aku pindah ke Konoha ka-karena tou-san ku bilang sekolah di Konoha bagus. Ja-jadi aku menuruti perkataan tou-san. Ta-tapi karena suatu hal terjadi, p-perpindahanku ke Konoha dipercepat".

"Kenapa?".

"Ka-kaa-san ku meninggal karena kecelakaan. A-aku memang tinggal terpisah dengan kaa-san karena menemani tou-san yang bekerja di Suna. Se-sedangkan kaa-san tinggal bersama dengan Neji-nii", Hinata tersenyum sedih mengingat kejadian masa lalunya.

"Go-gomen, Hinata-chan", Naruto merasa bersalah karena telah menyinggung luka lama Hinata. "Aku tak bermaksud untuk-".

"Ti-tidak apa-apa, Naruto-kun. A-aku sudah tidak apa-apa. Ja-jangan pasang muka seperti itu", Hinata tersenyum menghibur Naruto. Ia memang sudah merelakan kepergian ibunya. Ia bahagia dengan kehidupannya sekarang.

"Baiklah, untukmu Hinata-chan. Oh iya, kau tak mau kembali ke kelas?", Naruto sudah melupakan alasannya datang kesana. Ia lupa kalau ingin berfoto dengan Hinata. Dan acara foto berdua pun gagal total.

"Ah, i-iya. Se-sekarang jam berapa, Naruto-kun?".

"Jam satu. Hah, jam satu! Kita belum makan siang. Bagaimana ini. Kau kan akan mengikuti lomba costplay. Pasti membutuhkan banyak tenaga. Gomen, Hinata-chan", Naruto merutuki dirinya sendiri. Ia lupa kalau kekasihnya ini akan mengikuti lomba costplay sekarang.

"Tak apa-apa, Naruto-kun. A-aku makan dikelas saja nanti. Te-teman-temanku akan menemaniku", jawabnya sambil tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu kita ke kelas saja", Naruto jalan mendahului Hinata, Hinata ikut dibelakangnya.


- I CHOOSE TO LOVE YOU-


Lomba costplay dimulai, penilaiannya bersamaan dengan parade tiap-tiap kelas. Hinata menarik perhatian para juri dan penonton dengan keanggunannya. Sedangkan Naruto, ia malah asyik memotret-motret setiap aksi dari kekasihnya tersebut. Bahkan setiap gambar di kameranya hanyalah gambar Hinata. Ia tersenyum senang ketika melihat hasil jepretannya. Berbagai ekspresi yang diperlihatkan Hinata membuat hati Naruto girang sekaligus kesal. Kesal karena tatapan liar dari para siswa pada Hinata.

"Hinata-chan, good job! Penampilanmu memukau semua orang. Tak salah aku memilihmu", Tenten memeluk Hinata. Ia sangat senang.

"Iya, kau membuat setiap orang tak berkedip tadi. Kau tak menyadarinya?", tambah Matsuri.

Hinata yang dari tadi mendengar kata-kata dari temannya itu hanya bisa tersenyum. Mereka tak tahu, kalau orang yang membuatnya mengeluarkan berbagai ekspresi adalah Naruto. Ia menyadari kalau Naruto memotretnya sepanjang parade tadi. Melihat tingkah Naruto yang lucu membuat Hinata tersenyum, tersipu, dan terkejut. Selalu berubah-ubah.

"Nah, sekarang kau istirahat. Kita tinggal menunggu keputusan juri nanti", ungkap Tenten lalu pergi meninggalkan Hinata untuk beres-beres perlengkapan yang tadi digunakan untuk parade.

Hinata mengangguk, ia sendirian dikelas. Sambil menunggu temannya datang, ia melepaskan atribut yang dari tadi pagi dipakainya. Ia melepaskan rangkaian bunga di kepalanya, sayap di punggungnya, dan sedikit mengusap make up yang masih tersisa diwajahnya.

"Kau sudah selesai?", suara dari seseorang membuat Hinata menghentikan kegiatannya tadi. Ia menoleh ke orang tersebut.

"Uchiha-san?".

"Aku ingin bicara denganmu", kata Sasuke singkat.

"Baiklah, silahkan", jawabnya.

"Langsung saja ke inti pembicaraan, aku ingin membatalkan pernikahan kita. Aku rasa ada yang aneh dari status kita sekarang, dan aku mencintai orang lain", kata Sasuke to the point.

Hinata kaget dengan ucapan Sasuke, ia berdiri dari tempat duduknya saat ini, "Tapi Uchiha-san, itu-".

"Bukankah ini aneh", potong Sasuke, "Mendaftarkan pernikahan tanpa kartu identitas kita, itu aneh dan tidak wajar. Akhir-akhir ini aku mencari tahu tentang tata cara pernikahan, tapi mendaftarkan pernikahan kita yang masih di bawah umur itu tidak mungkin. Kita belum memiliki kartu identitas pribadi", jelas Sasuke panjang lebar. "Aku mencium ada kebohongan disini. Pasti ada yang ditutup-tutupi. Lagipula tidak sengaja aku mendengar percakapan orang tuaku mengenai pernikahan kita".

"Aku tak mengerti. Bisa kau jelaskan padaku".

"Kemarin malam ketika tak sengaja lewat depan kamar orang tuaku, aku mendengar percakapan mereka", Sasuke memulai penjelasannya.

FLASHBACK ON

Saat itu Sasuke ingin ke dapur untuk mengambil minum. Letak dapur ada di dekat kamar orang tuanya, jadi mau tak mau ia melewatinya. Sasuke tercengang ketika mendengar percakapan yang dilakukan kedua orang tuanya tersebut.

"Anata, sampai saat ini kita berhasil membohongi Sasuke. Apa kita masih ingin meneruskannya? Aku merasa bersalah kepadanya", Mikoto cemas dengan 'pernikahan' Sasuke dan kebohongannya.

"Yah, aku juga berpikir seperti itu. Namun, kalau kau ingin memberitahunya, beritahu saja. Sasuke itu pintar. Lambat laun ia pasti menyadarinya", Fugaku juga memikirkan hal yang sama dengan istrinya.

"Aku tahu, anata. Tapi rasanya aku tak rela mengkhianati janji antara aku dan Hitomi. Aku terlalu menyayanginya. Dan Hinata, dia mengingatkanku akan sosok Hitomi", Mikoto mulai menangis, ia terlalu menyayangi temannya tersebut.

"Tapi ini juga tak adil untuk Sasuke, Mikoto. Bahkan ia tak diberi kesempatan untuk memilih".

"Ya, aku tahu. Sangat mengetahuinya".

Sasuke yang berada di depan pintu kamar orang tuanya itu hanya bisa terpaku mendengar semuanya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Dengan langkah gontai ia kembali ke kamarnya.

FLASHBACK OFF

"A-apa? Apa benar seperti itu?", Hinata seakan tak mau percaya dengan perkataan Sasuke.

"Hn. Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi aku sudah mendengarnya sendiri. Dan aku juga membuktikannya dengan membaca banyak buku tentang pernikahan".

"Tapi..itu..jahat sekali", lirih Hinata.

"Kau buktikan saja sendiri. Tanya ayahmu", Sasuke menyudahi percakapannya dengan Hinata. Ia melangkahkan kaki keluar kelas. Tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti. "Aku akan bilang kalau yang membatalkannya itu aku, karena aku telah mencintai orang lain. Kau tak perlu khawatir, hubunganmu dengan si baka-dobe akan kurahasiakan. Oh ya satu lagi, maafkan semua perilaku tidak sopanku beberapa waktu yang lalu", Sasuke benar-benar meninggalkan Hinata kali ini.

Hinata hanya terdiam sepeninggalnya Sasuke dari kelas. Ia masih tak percaya dengan yang diucapkan sang idol boy tersebut. Tapi satu hal yang pasti, kesempatan untuk lepas dari hubungan rahasianya dengan Naruto semakin terbuka lebar. Ia akan menanyakan pada ayahnya secepat mungkin, sebelum terlambat.


-I CHOOSE TO LOVE YOU-


Langkah Naruto sangat cepat, ia ingin menemui kekasihnya, Hyuuga Hinata. Dengan hati berbunga-bunga ia menuju kelas Hinata. Namun ketika sampai, orang yang ingin ditemuinya tidak ada. Naruto pergi mengelilingi tiap kelas di lantai dua, namun tetap nihil.

Terdengar suara langkah tergesa-gesa mengarah ke Naruto, mereka berlari sepertinya. "Naruto-sama!", panggil orang-orang yang tadi berlari. Mereka terdiri dari lima orang berjas hitam rapi, di telinganya terselip alat komunikasi kecil dengan kabel yang menjuntai dibalik daun telinga.

"Naruto-sama?", gumam Naruto. Ia melihat orang-orang itu dengan tatapan aneh. Pria blonde itu belum pernah melihat orang dengan tampilan seperti pengawal-pengawal petinggi negara sebelumnya, kecuali di film-film laga yang sering ia tonton.

"Tsunade-sama, kami telah menemukan Naruto-sama", kata seseorang dari pria berjas hitam itu. Ia menggunakan alat komunikasi di balik jasnya untuk berbicara. "Baiklah, kami akan membawanya segera", orang tersebut mendekati Naruto.

Naruto yang merasa didekati langsung memasang kuda-kuda siap menyerang. Ia takut orang-orang dihadapannya ini berbuat sesuatu yang ingin menyakitinya. "Mau apa kalian?".

"Ada perintah dari atasan kami untuk membawa anda, Naruto-sama. Kami tak akan menyakitimu".

Namun, Naruto tidak mempercayai perkataan mereka. Ia langsung saja maju menyerang orang berjas hitam tersebut dengan mengandalkan pengalaman bertarung seadanya.

BUAGH!

Satu pukulan telak di tengkuk Naruto membuat pria blonde itu tersungkur. "Maaf Naruto-sama. Kau terus melawan, jadi kami harus bertindak kasar kepadamu".

Dalam keadaan pingsan Naruto bermimpi. Ia bermimpi berkencan dengan Hinata di taman luas yang penuh dengan bunga. Wajah tersenyum Hinata membuat Naruto hangat. Namun sepertinya kesadarannya lama-kelamaan pulih. Bagian belakang tubuhnya masih terasa amat sakit karena pukulan tadi. "Umm, dimana aku", Naruto memijit-mijit lehernya pelan.

"Kau ada dikamarmu".

Naruto terkejut mendengar suara seorang wanita disampingnya. Wanita ini terlihat masih berumur sekitar 35-an tahun. Rambutnya blonde, sama sepertinya. Rambut itu disanggul keatas dengan anggun. "Kamarku? Kamarku bukan seperti ini".

"Aku ini nenekmu. Kau ada dirumahku", jelas wanita itu.

"Ne-nenek! Kau terlihat sangat muda untuk ukuran nenek-nenek. Jangan membohongiku. Kau pasti wanita kesepian yang suka dengan daun muda kan?", Naruto kaget dengan ucapan wanita di depannya.

BLETAK!

Satu jitakan mulus mendarat di kepalanya. "Kau tidak sopan dengan nenekmu sendiri. Apa Minato tak mengajarimu sopan santun?".

"Kau kenal ayahku?".

"Tentu saja, baka. Dia lahir dari rahimku. Aku ini ibunya", jelas wanita itu. "Kau masih tidak percaya? Baiklah, akan kutunjukkan sesuatu", wanita itu berjalan ke arah meja yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur Naruto. "Ini, lihatlah".

Wanita itu menunjukkan foto-foto dirinya dengan seseorang yang mirip dengan ayahnya. Tunggu, itu memang ayahnya. Naruto bisa mengenalinya lewat warna mata dan senyumannya yang memang mirip dengan dirinya. Ia terlihat bingung, lalu melirik wanita yang disebelahnya sekarang.

"Kau masih tidak percaya? Ini, coba lihat", wanita itu menunjukkan foto pernikahan ayah dan ibunya. Dan memang ia melihat sesosok yang berada disampingnya itu ada di dalam foto.

"Tapi...aku-".

"Tak pernah bertemu denganku? Tentu saja, si baka-Minato itu anak yang nakal. Ia tak mau tinggal dirumah ini setelah menikah. Mereka memutuskan untuk pergi sebulan setelah pernikahan".

"Nenek, aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau tak pernah mangunjungiku?".

"Tentu saja, sudah bertahun-tahun semenjak kakekmu meninggal aku tidak tinggal di Jepang. Aku tinggal di California, mengurus perusahaan keluarga kita".

"Pe-perusahaan?", mata sapphire Naruto terbelalak. Ia tak pernah tahu latar belakang keluarga ayahnya. Ayahnya seakan-akan tertutup untuk menceritakan itu.

"Ya, Senju Corp. Itu nama perusahaan keluarga kita. Dan sebentar lagi, perusahaan itu akan dipimpin olehmu".

"A-aku?", ternyata kejutan untuk Naruto tak sampai disitu saja. Karena terlalu terkejut ia sampai lupa menutup mulutnya yang menganga lebar.


-I CHOOSE TO LOVE YOU-


Hari festival telah berakhir. Para siswa bersama-sama membersihkan sisa-sisa perlengkapan yang masih berserakan di halaman sekolah. Hinata, Tenten, dan Matsuri berada di dalam kelas. Mereka sedang membersihkan kelas saat ini. Ketika sedang asyik bercakap-cakap ponsel Hinata berbunyi.

"Halo Neji-nii. Ada apa?".

"Hinata gawat, keluarga kita sedang terkena musibah", terdengar Neji sangat panik dari seberang sana.

"Mu-musibah", jantung Hinata berdegup kencang.

"Ya, sebaiknya kau pulang saja. Akan aku jelaskan dirumah", Neji mengakhiri pembicaraannya dengan Hinata.

Hinata sangat cemas, ia takut sesuatu terjadi pada keluarganya. Jalannya begitu tergesa-gesa. Bahkan terkesan seperti berlari. Ia menerobos semua yang ada di hadapannya tanpa memperdulikan bentakan orang yang terkena hantaman tubuhnya.

Ketika sampai dirumah ia lihat keadaan seperti biasanya. Tak ada kehebohan apapun, hanya satu yang janggal yaitu pelayan rumah yang tidak kelihatan hilir-mudik mengerjakan tugasnya. Padahal biasanya kalau jam segini para pelayan dirumahnya sedang sibuk-sibuknya. Apalagi tukang kebun, biasanya ia membersihkan daun-daun yang berguguran atau sedang merawat bunga. Tapi halaman di kediaman keluarga Hyuuga kali ini sepi. Daripada berpikir yang macam-macam Hinata langsung masuk kedalam saja.

Ternyata para pelayannya sedang berkumpul di ruang keluarga, mereka sedang serius melihat siaran berita di TV. Penyiar TV pun memberitakan sesuatu yang membuat kaki Hinata melemas.

"Telah terjadi kebakaran besar di hotel bintang di Kota Suna. Hotel Paradiso milik keluarga Hyuuga habis dibakar si jago merah jam 11 siang hari ini. Kebakaran tersebut diduga hubungan arus pendek listrik yang menyebabkan korsleting. Api berasal dari lantai lima. Sampai saat ini api belum bisa di padamkan. Belum ada laporan adanya korban akibat kejadian ini. Kerugian ditaksir mencapai miliyaran ryo. Sekarang kita beralih ke berita selanjutnya-".

Mereka semua terdiam. Sebagian pelayan keluarga Hyuuga menangis, sisanya menampakkan raut kesedihan yang amat sangat. Keluarga Hyuuga memang memiliki bisnis di berbagai bidang, namun pemasukan paling besar berasal dari hotel yang ayah Hinata kelola di Suna. Bahkan nama Hyuuga bisa semakin dikenal karena nama besar hotel tersebut.

"Tou-san. Bagaimana keadaannya?", tanya Hinata pada Neji.

"Tou-san sedang ke Suna. Melihat kondisi hotel, kita diminta jangan panik", ucap Neji. Tapi dari raut mukanya ia terlihat sangat panik.

"Aku akan menyusul tou-".

Ponsel Neji berbunyi, ia nampak terkejut melihat nama dilayarnya. "Ada apa Yuuhi-san? Apa?! Tou-san masuk rumah sakit?", Hinata yang mendengar percakapan Neji langsung panik bukan kepalang. "Ya baiklah, kami akan kesana. Tolong jaga tou-san ku dulu, Yuuhi-san. Terimakasih", Neji mengakhiri percakapannya dengan Yuuhi Kurenai, orang kepercayaan ayah Neji setelah Mitarashi Anko. "Hinata, kita harus segera ke Suna. Secepatnya".

"Iya nii-san. Aku siap-siap dulu", Hinata bergegas ke kamarnya untuk mengepak keperluan yang akan di bawa.

"Lalu aku bagaimana, nii-san?", Hanabi berharap ia juga bisa ikut kedua kakaknya.

"Kau juga ikut, Hanabi", Hanabi juga langsung bersiap-siap untuk ke Suna.

"Asuma-jii, tolong jaga rumah kami selama aku dan adikku pergi. Aku mempercayaimu", Neji mengambil kunci mobilnya dan segera pergi meninggalkan Sarutobi Asuma, kepala pelayan keluarga Hyuuga.

Tiga jam kemudian mereka sampai di Suna. Sesampainya mereka disana, mereka langsung menuju rumah sakit tempat ayah Hinata dirawat. Ternyata disana sudah ada Kurenai dan Anko.

"Neji-sama, Hinata-sama, Hanabi-sama!", panggil mereka bersamaan.

"Bagaimana keadaan tou-san? Apa kami boleh melihatnya?", Neji dengan nafas masih terengah-engah karena setengah berlari, ia sangat cemas dengan kondisi ayahnya.

"Saat ini masih belum bisa, Neji-sama. Tunggu dokter keluar dari ruang operasi", jelas Anko.

"A-apa? Operasi?", Hinata tak percaya apa yang ia dengar. Ia tak pernah melihat kondisi ayahnya selemah ini. Ia pun menangis.

"Jangan menangis, nee-chan. Kau tahu kan kalau tou-san tak suka melihat orang menangis?", hibur Hanabi. Padahal ia juga sedang berjuang agar tak mengeluarkan air mata.

"Otou-san", lirih Hinata, suaranya serak karena menangis.

"Gomen, Neji-sama. Sebenarnya aku tak boleh memberitahu ini kepada kalian", Anko menundukkan kepalanya, "Semenjak kepergian Hitomi-sama, keadaan Hiashi-sama menurun. Ia sering mengeluh sakit di dada bagian kirinya. Suatu hari ketika check up ke rumah sakit, dokter memberitahukan hasil diagnosa yang mengejutkan Hiashi-sama dan juga aku. Hiashi-sama divonis dokter terkena serangan jantung ringan. Namun ini bisa makin bahaya kalau terjadi masalah yang membuat jiwanya tertekan. Hiashi-sama tak membolehkanku untuk memberitahunya kepada kalian semua. Gomennasai", Anko membungkukkan badannya.

"Permisi Neji-sama, ini gawat. Setelah mendengar kerugian yang diderita hotel di Suna, saham kita anjlok", Kurenai mengirimkan kabar yang tidak kalah membuat terkejut, "Aku sudah banyak menerima panggilan dari para penanam modal. Mereka ingin membatalkan kontraknya dengan kita. Bagaimana ini? Rekan kerja kita juga tak bisa dimintai uang untuk dana pemulihan hotel kita. Mereka menjauhi kita, Neji-sama". Neji terbelalak, ia tak pernah menghadapi masalah sebesar ini. Ia belum siap. Ia hanya menundukkan kepalanya, frustasi.

"Bagaimana ini, nii-san? Apa yang akan kita lakukan? Apa yang harus aku lakukan, kami-sama?", Hinata berharap agar kejadian buruk yang menimpa keluarganya hari ini hanya mimpi belaka.

"Aku bisa membentumu. Aku bisa menyelamatkan keluargamu dari semua masalah ini", sesosok pria hadir di hadapan mereka berlima –Neji, Hinata, Hanabi, Anko, dan Kurenai-. Kabar dari pria yang Hinata kenal itu mungkin bisa merubah takdir Hinata dan keluarganya.


-I CHOOSE TO LOVE YOU-


To Be Continue


Fuaahh akhirnya selesai juga chapter 6-nya

Reade-san, Kaze udah nepatin janji nih

Kaze juga seneng banget karena udah ga ada yang nge-flame pairing charaKayanya chapter selanjutnya update- nya bakalan sedikit ngaret

Laptop Kaze lagi bermasalah soalnya

Oh iya, buat semua reader yang udah review arigatou gozaimasu!

Fic ini sepertinya akan panjang, tapi jagan bosen-bosen buat terus baca ya!

Akhir kata, cium sayang buat semuanyaaaahhhh! *tebar-tebar ciuman*

Reader: *ngasih deathglare ke Kaze*

Kaze: *pasang perisai anti deathglare*